Minggu, 15 Maret 2015

Korban Bullying Harus Move On! (Part 1)

Tahu kan bullying itu apa? Itu looh semacam perlakuan kasar, kejam, perlakuan tak enak, hinaan, cacian, dan semacamnya yang dilakukan oleh satu orang atau lebih pada satu orang atau lebih lainnya. Sebut saja orang yang suka melakukan bullying itu pembully. Biasanya para pembully itu membully dengan tujuan agar targetnya merasa tertekan, merasa kecil, dan merasa tidak berdaya. Entah itu disadari atau tidak oleh para pembully, tapi pasti deh ada walaupun sedikit niatan itu di benak para pembully. Biasanya juga para pembully doyan banget membully targetnya karena target tidak melakukan perlawanan apapun. Targetnya nrimo bahkan pasrah dibully dalam bentuk apapun oleh pembully walau dalam hatinya tidak berkenan.

Siapa di sini yang pernah menjadi korban bullying?

Aku mau ikutan jawab ahh… Aku ngacung nih...

Ya, aku pernah menjadi korban bullying selama hampir 5 tahun. Dari kelas 1 sampai kelas 5 SD. Wow banget kan?! :P Dan sebagian besar teman-teman yang kuceritakan mengenai pengalamanku dibully tidak percaya bahwa aku pernah dibully, apalagi selama itu. Haha… Kata teman-teman, “Masa sih Syifa yang strong begini dulunya korban bully? Berarti dulunya lemah banget dong. Aku gak percaya kayaknya. :P”

Tapi yaa begitulah kenyataannya. Aku memang pernah menjadi korban bullying. Pembullyku 2 orang, mereka adalah tetanggaku, teman sekampungku, teman sekelasku, mereka perempuan sama seperti aku. Aku lupa kapan pertama kali mereka membullyku. Seingatku sih, waktu pertama kali aku pindah ke kampung ini (tadinya aku tinggal di kampung sebelah, maklum pindah-pindah kontrakan) mereka baik-baik saja padaku. Mereka menyapaku dan berteman baik denganku. Aku juga tidak tahu apa yang memotivasi mereka untuk membullyku. Apa karena aku terlihat lemah ya dulu? Hoho..

Bagaimana bentuk bullying yang aku terima?

Pertama. Selama 5 tahun itu, dari kelas 1 sampai kelas 5 SD, aku harus memberikan mereka contekan pekerjaan sekolah, pekerjaan rumah, sampai ulangan harian dan ulangan semesteran. Oh, aku juga harus membantu mereka mengerjakan tugas prakarya, seperti menggambar, kesenian, dan semacamnya. Bahkan tidak jarang juga mereka mengambil hasil karyaku begitu saja untuk mereka kumpulkan. Bukan itu saja, mereka juga merasa memiliki barang-barangku seperti pensil warna, buku cerita, dll. Mereka mengamcamku akan melakukan ini-itu jika aku sampai melapor pada orang tuaku. Bodohnya aku waktu itu, aku diam saja. Diancam oleh mereka, aku malah menurut, karena takut.

Kedua. Selama 5 tahun itu, dari kelas 1 sampai kelas 5 SD, aku selalu dijadikan ‘penjaga’ atau ‘kucing’ di setiap permainan apapun. Pokoknya peran babu deh. Misal kalau main loncat tali, aku paling hanya diberi kesempatan sekali untuk main. Selebihnya, mereka bilang aku lebih baik jaga saja (jadi yang pegang talinya) karena aku selalu kalah bermain. Atau kalau main rumah-rumahan, aku selalu dijadikan pemain figuran bahkan pembantu oleh mereka. Atau kalau main kucing jongkok (semacam permainan kejar-kejaran, si kucing mencari mangsa yang jika kena maka mangsa itu yang menjadi kucing berikutnya lalu mengejar mangsa lain), aku selalu dijadikan kucingnya. Kalaupun aku memenangkan mangsa, tidak lama kemudian aku akan menjadi kucing lagi karena mereka bekerja sama (merajuk teman-teman lain) untuk menjadikanku sebagai kucing lagi. Makanya aku lebih memilih untuk pura-pura tidur jika sepulang sekolah mereka mengajakku bermain. Sedih kan? :’))

Ketiga. Selama 5 tahun itu, dari kelas 1 sampai kelas 5 SD, aku bukan hanya menjadi babu dalam permainan, tapi juga dalam kenyataan. Ya, aku menjadi jongos mereka. Botol minum, tempat makan, bahkan tas mereka tidak jarang aku yang membawakannya. Aku waktu itu selalu jalan di belakang mereka dengan membawa banyak barang. Barang-barangnya mereka. Tidak tahu deh kenapa dulu aku sepenurut dan selemah itu. :’)

Keempat. Selama 5 tahun itu, dari kelas 1 sampai kelas 5 SD, aku harus memberikan uang jajanku pada mereka. Padahal uang jajan mereka jauh lebih besar dariku. Waktu itu aku hanya diberi uang jajan Rp 200. Sedangkan mereka sudah mengantongi uang jajan Rp 500. Uang jajanku Rp 200 itu mereka ambil, masing-masing mengambil Rp 100. Lha aku jajan dari mana? Aku hanya jajan dari sedikit jajanan yang mereka berikan padaku. Bahkan seringnya aku tidak diberi. Padahal mereka jajan pakai uangku :’). Lama-lama, akhirnya kuputuskan untuk sekalian tidak meminta uang jajan saja pada mamah. Karena pada waktu itu memang kondisi ekonomi keluarga sedang berada di bawah. Untuk uang jajanku Rp 200 saja kadang terasa berat.

Kelima. Selama 5 tahun itu, dari kelas 1 sampai kelas 5 SD, aku selalu menjadi sasaran kemarahan mereka. Misal mereka sedang marah atau kesal pada orang tua mereka, maka aku lah yang dibantai oleh mereka dengan berbagai perkataan menyakitkan. Atau marah pada teman, atau pada siapapun, aku pasti yang akan kena getahnya. Begitu pun kalau mereka dimarahi oleh kakak kelas, aku juga yang akan mereka salahkan, dan aku yang akan mereka omeli karena sudah pasti mereka tidak akan berani membalas kakak kelas.

Keenam. Selama 5 tahun itu, dari kelas 1 sampai kelas 5 SD, tidak jarang mereka juga menyakiti fisikku. Kejadian terparah, yang selalu aku ingat sampai detik ini, dan mungkin sampai kapanpun.. Waktu itu hujan rintin-rintik, di perjalanan pulang sekolah, kami becek-becekan, nyeker. Aku yang membawakan sepatu dan botol minum mereka. Lalu mereka berkata, “Kayaknya enak nih kalau kita pukul kamu pakai kaos kaki. Pasti gak akan sakit kan ya? Apalagi ini kan sedang hujan.” Mereka memaksaku untuk berkata ‘iya’. Dan mereka pun langsung melancarkan aksi mereka. Satu kaos kaki mereka yang basah dimasukan ke satu kaos kaki lainnya sehingga ada gumpalan di ujung. Lalu mereka memutar-mutarkan kaos kaki itu ke udara dan memukulkannya ke pipiku. Berulang kali. Dan aku hanya bisa diam. Aku hampir menangis, tapi mataku yang berkaca-kaca tersamarkan oleh rintik hujan. Kadang jika mereka mengajakku bermain sepulang sekolah dan mamahku berkata aku sedang tidur, mereka tetap masuk ke kamarku. Mereka menampar-nampar pipiku sambil berkata “heh, bangun! Aku juga tahu kok kamu gak tidur. Ayo bangun! Gak usah pura-pura lagi.”

Sakit kan bacanya?

Bayangkan bagaimana jika mamahku dulu tahu bahwa mereka membullyku? Hati ibu mana yang tidak akan hancur jika anaknya diperlakukan seburuk itu.

Tapi aku memilih untuk tetap diam. Aku memilih untuk tetap sabar. Hingga suatu hari, kesabaranku dihadiahi hal manis oleh Alloh. Kira-kira di semester 2 kelas 5 SD, sahabat kecilku, yang sudah kuanggap sebagai kakak sendiri, namanya Absori (ada foto aku dan Aab di postingan ini --Timeless; Friendship Never End--) secara heroic memisahkanku dari kedua pembullyku itu. Sebenarnya Aab sudah tahu dari dulu. Aab hanya baru menemukan waktu yang tepat, dan keberaniannya baru terkumpul saat semester 2 kelas 5 itu. Aab dengan tegas melarang mereka bermain denganku lagi. Sejak saat itu aku selalu bermain dengan Aab dan teman-temannya, di sekolah maupun di luar sekolah. Terima kasih ya, Ab.. Moga calon bayinya Aab seberani dan sebaik Aab nantinya :)

Waw, tidak terasa ceritanya panjang juga ya. Hehehe…

Mau tahu kisah selanjutnya? Nantikan besok yaa… Hari ini segini dulu. *sengaja biar besok teman-teman mampir ke sini lagi. Hahaa :P

by. si Famysa, dulunya korban bullying :')

6 komentar:

  1. Haaa...?? Hampir 5 tahun Mbaak dibully sama teman SD-nya? Untungnya aku gak pernah ngerasain... tetapi para keponakanku pernah semua di-bully... Ada yg bisa diatasinya sendiri, ada yg mesti campur tangan ortu dan guru hingga temannya gak mem-bully lagi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bunda :D dan ga ada campur tangan ortu atau guru sama sekali. hehe

      Hapus
  2. Wow..
    what a strong female

    Aku juga pernah sih. pas SMP
    tapi setahun aja
    mulai dari dimintain duit jajan, dicekek, dipukul kalo gak ngasih, dll.

    abis itu ketahuan sama ortu dan langsung dikasuin ke sekolah
    anaknya kena hukum
    kapok

    gak berani bully lagi deh :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. hohoo kalo aku sih ga sampe bawa2 ortu :D
      mereka ditegasin sama temen2ku yang baik juga udah keok :P

      Hapus
  3. Kita sama deh, move on cara terbaiknya :)

    BalasHapus

hatur nuhun kana kasumpingannana :) mangga bilih aya kalepatan atanapi aya nu bade dicarioskeun sok di dieu tempatna..

Mijn Vriend