Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 April 2014

Valentine Kelabu yang Telah Berlalu

Oke, fix maximal! Bulan Maret tidak ada postingan satu pun di blog ini. Skripsiku memang sudah selesai kutulis. Tapi saat ini aku masih menunggu eksekusi dosen pembimbingku yang amat sibuk. Mohon doanya yaa teman-temaan :)

Masih ingat bencana yang melanda Indonesia pada tanggal 14 Februari 2014 lalu?
Letusan Gunung Kelud yang abunya menyebar hampir ke seluruh Pulau Jawa.
Saat itu, subuh-subuh aku dibangunkan oleh Mbak Dian. Agak mengagetkan. Aku yang masih tertidur pulas langsung membuka mata dan sikap sempurna. "Syif, Kelud meletus. Kata temanku hujan abu. Coba lihat ke depan rumah yuk!"
Setelah melihat keadaan di luar rumah, memang, semuanya kelabu. Berjalan-jalan ke depan rumah harus payungan. Kalau tidak, kerudung dan bajuku akan penuh abu.
Kami mencoba bersembunyi di dalam rumah. Hujan abu masih berjatuhan deras disertai angin yang lumayan kencang. Pemandangan yang kami lihat dari dalam jendela rumah terlihat putih seperti tertutup kabut, padahal tertutup abu yang masih berjatuhan. Jujur, kami agak ketakutan. Takut hujan abu semakin deras. Takut dalam rumah tidak akan aman dari abu. Padahal hanya di dalam rumah lah kami berlindung.
Hari sudah menjelang siang. Hujan abu sepertinya sudah berhenti. Akhirnya kami bersih-bersih rumah, memasak, lalu sarapan. Sekitar jam 11 siang, karena kelelahan bersih-bersih rumah, aku tertidur di kasur angin di ruang TV. Pulas. Hingga kemudian Mbak Dian membangunkanku lagi dengan nada panik. "Syif, hujan abu lagi, Syiif..." Ya sudah lah, rumah yang sudah dibersihkan terkotori lagi. Di luar rumah terlihat pekat. Abu yang menumpuk di tanah, atap, dedaunan semakin tebal. Kami pasrah.

Sore harinya, orang-orang sudah mulai terlihat ramai beraktivitas lagi. Tetangga-tetangga juga sudah mulai membersihkan bagian depan rumahnya. Kami pun tak mau kalah. Halaman lapang di samping rumah Mbak Dian menjadi sasaran utama kami. Abunya tebal sekali. Sampai-sampai terkumpul sekitar kurang lebih 50 bak! Kupikir andai itu semen, bisa kaya mendadak lah kami, menjual semen 50 sak. 
Hingga beberapa hari kemudian, hujan abu masih terus turun meskipun intensitasnya mulai berkurang. Jogja masih kelabu. Penelitian skripsiku waktu itu juga sempat terhenti 1 minggu karena bencana Kelud tersebut. Antara tidak kuat menempuh jalanan Turi-Magelang yang penuh abu dan pastinya badan yang sedang kuteliti juga sedang sibuk menangani bencana ini. Banyak agenda yang terpaksa dibatalkan. Beruntungnya kami sudah membeli stok makanan cukup banyak sehingga kami tidak terlalu kesusahan dalam mencari makan.

Kami sempat bertanya-tanya, kenapa bencana itu datang bertepatan dengan hari Valentine?
Dan berturut-turut setelah bencana Kelud, bencana-bencana lain datang silih berganti. Gunung-gunung lain juga sepertinya sedang ingin bangun berbarengan. Lalu beberapa waktu yang lalu, Gunung Merapi, gunung yang dekat dengan tempat tinggalku sekarang (di Turi, rumah Mbak Dian) dan gunung yang menjadi lokus penelitian skripsiku mulai menampakkan keaktivannya lagi. Merapi sempat erupsi, bahkan setiap hari sepertinya ada abu yang dikirim dari Merapi. 
Sekarang cuaca Jogja sedang sangat amat panas. Aku jadi ingat kata Mbak Dian dan kata Mbak Erna (penduduk KRB III Merapi), kalau Merapi aktif, cuaca di sekitarnya akan panas sekali. Ah, semoga panas ini hanya pertanda akan turun hujan. Bukan pertanda Merapi bangun lagi. Mohon doanya teman :))

by. si Famysa, agak sakit :')

Rabu, 22 Januari 2014

Wisata Mangrove dan Teluk di Pantai Cirewang

This is it... Subang proudly present: Cirewang Beach :)
wisata mangrove di river trip menuju Pantai Cirewang
Di tengah duka cita pemberitaan media tentang kampung halamanku yang tergerus banjir, ijinkan aku yang berada nun jauh di Semarang sini mempersembahkan salah satu keindahan alam yang dimiliki Subang. Salah satu keindahan alam yang mungkin saat ini tertutup keindahannya oleh luapan air. Pray for Subang, pray for Indonesia... Semoga banjir cepat berlalu.. Semoga segala bencana cepat berlalu.. Aamiin...
Teluk Cidaon
Pantai Cirewang; namanya pertama kali aku baca di salah satu akun twitter yang berisi pemberitaan mengenai Subang. Katanya doi adalah pantai baru. Yaa memang aku juga baru mendengar namanya akhir-akhir ini. Karena setahuku di Subang cuma ada dua pantai, Pantai Pondok Bali dan Pantai Patimban. Dan beberapa waktu yang lalu, tepatnya hari Kamis, 26 Desember tahun lalu -hohoho- aku, IbankWelly, dan Syiha mendadak mendamparkan diri di Pantai Cirewang.
Pantai Cirewang
Jadi ceritanya setelah hunting foto Ki Tambleg di Perum Sang Hyang Seri Ciasem, mengingat hari masih cukup terang, sekitar pukul 14.30-an WIB, tiba-tiba saja di perjalanan pulang terpikirkan untuk main-main dulu. Main kemana? Itu yang kami pikirkan sepanjang perjalanan pulang ketika masih berada di Jalur Pantura. Setelah diskusi singkat, mempertimbangkan ini-itu, akhirnya kami memutuskan untuk main ke Pantai Pondok Bali. Dari Pamanukan, kami banting setir ke kiri jalan, ke arah Pantai Pondok Bali. Sambil meraba-raba jalan, kami terus mendekati Pantai Pondok Bali.
ki-ka: pantai, teluk - hanya dipisahkan oleh daratan kecil
Di perjalanan menuju Pantai Pondok Bali, sekilas aku melihat ada baligho bertuliskan Pantai Cirewang. Tapi awalnya aku tidak bisa membaca dengan jelas apa yang tertulis di baligho itu. Kemudian aku ingat, aku pernah membaca info mengenai pantai baru di dekat Pantai Pondok Bali. Eeh setelah aku menceritakan pantai baru yang aku lupa namanya itu, aku menemukan baligho yang bertuliskan Pantai Cirewang lagi. Kali ini terbaca jelas. Kubilang, "Naah itu tuuh, Pantai Cirewang!" Mobil terus melaju... Hingga akhirnya di suatu pertigaan. Lurus: Pantai Pondok Bali, 4 Km, kanan: Pantai Cirewang, 7 Km.
dermaga Teluk Cidaon
Kami mulai galau. Ke Pantai Pondok Bali sesuai dengan rencana awal atau banting setir ke Pantai Cirewang. Dengan keputusan kilat, akhirnya Pantai Cirewang lah yang kami pilih. Alasannya karena aku tahu bahwa Pantai Cirewang ini adalah pantai baru yang konon katanya belum terjamah, tidak seperti Pantai Pondok Bali yang sudah kotor di sana-sini, tidak terawat. Belok kanan lah kami... Menempuh 7 Km perjalanan selanjutnya. Yang kemudian disuguhi oleh indahnya jalan becek, rusak, setapak, dan berlumpur. Maknyus deh jalannya. Hehehe...
mangrove di Pantai Cirewang
Sesampainya di Kampung Cirewang, kami kebingungan. Pantainya manaa? Selidik punya selidik, ternyata untuk menuju ke pantai harus ditempuh dengan perjalanan menggunakan perahu menyusuri sungai. Pantas saja... Kupikir kami tersasar :D Biaya perahunya Rp 15.000/orang (PP, unlimited time, ditunggu sepuasnya). Lumayan kan, murah biayanya.. Apalagi setelah tahu dengan perahu itu kami akan diajak berwisata mangrove dan wisata teluk. Beuuhh 15.000 itu mah gak ada apa-apanya. Wisata pantai yang unik, harus naik perahu dulu melewati sungai. Belum lagi pemandangan mangrovenya di sepanjang sungai sampai pantai yang memanjakan mata. Sejauh yang pernah kualami, mana ada pengalaman seperti ini di pantai lain... ;)
mangrove di Pantai Cirewang
Sepanjang perjalanan menyusuri sungai, kami disuguhi oleh pemandangan mangrove yang berjejer cantik. Makanya kukatakan ini adalah wisata mangrove. Sungai yang harus kami lalui lumayan panjang. Kami membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit menggunakan perahu untuk sampai ke Pantai Cirewang. Aku jadi dejavu, ingat waktu KKL ke Bali dan Lombok bulan Mei tahun lalu, setiap hari perahu-perahuan mulu, jadinya rada enek sama perahu *eh *oops :P But it was different! Ini adalah pengalaman berbeda di tempat dan waktu yang berbeda. Karena sejatinya manusia memang tidak bisa mengulang sejarah kan ;) Kecuali kalau kamu penganut paham reinkarnasi.
Sungai pun berlalu. Di hadapanku sudah tersaji hamparan air yang luas membentang. Kupikir kami akan berujung di muara, kemudian ke pantai. Ternyata di sana kami dipertemukan dengan teluk. Lucunya, aku dan Welly sempat ketakutan, "dimana inii?" Hahaha... Padahal teluk, bukan laut. Pantas saja airnya tenang :D Teluk itu bernama Teluk Cidaon. Dari teluk, kami mendarat langsung di pasir Pantai Cirewang. Konon pasir pantai itu adalah tanjung yang dulunya belum terbentuk. Dulunya tidak ada daratan itu. Jadi antara pantai dan teluk dulunya bersatu, dulunya mereka adalah laut, bukan pantai dan teluk. Daratan itu mulai terbentuk sejak tahun 2000-an. Waah keren yaa, subhanallah :))
Teluk Cidaon
Oh ya, Pantai Cirewang ini terletak di Kampung Cirewang, Kecamatan Legonkulon, Subang. Jadi sudah bukan termasuk wilayahnya Pamanukan lagi. Pantai Cirewang terletak di antara Pantai Pondok Bali dan Pantai Patimban, yang kesemuanya berada di tiga kecamatan berbeda.

Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di sana karena langit sudah mulai mendung. Dan iya saja, di perjalanan pulang, kami kehujanan, deras sekali. Aku dan Welly bukannya sibuk menyelamatkan diri dari hujan, malah sibuk menyelamatkan kamera. Hahaha :P 
Dadaah Cirewang... Kami harus pulang... See you next time ;)

Jadi... Gimanaa? Apa kabar Pantai Cirewang dan Teluk Cidaon? Semoga kalian diselamatkan dari bencana banjir yang menghampiri. Doakan sama-sama yuuk untuk Subang dan Indonesia....!! Al-Faatihah...  ^^

by. si Famysa, amateur traveller

Senin, 30 Desember 2013

Ki Tambleg, Ikon Konservasi Kabupaten Subang

Sudah lihat ki tambleg sebelumnya? Kalau belum mangga diklik dulu yang ini :) --> ki tambleg di Wisma Karya dan ki tambleg di Desa Manyingsal.

Nah yang di sini niiih ki tambleg di Perum Sang Hyang Seri Ciasem. Di sana juga ada tiga pohon. Pertama masuk ke area perum, mataku langsung tertuju ke sebelah kanan, itu ki tambleeeg!! Letaknya ada di belakang rumah, di dekat kebun bercocok tanam. Besaaaar sekali. Lewatnya saja merinding, itu pohon raksasa bener. Hahaa... Aku juga sampai bingung harus mengambil foto dari sudut mana. Akhirnya aku meminta izin pada bapak pemilik kebun, dan blusukan demi mengambil foto ki tambleg. Hehe...

Kata bapak pemilik kebun, pohon yang di dekat kebunnya lah yang paling besar. Penduduk setempat menyebutnya pohon asem buta. Karena buahnya yang asam dan pohonnya yang sebesar buta (mungkin buta ijo). Dari jauh, buahnya terlihat seperti buah campedak. Kata bapak pemilik kebun lagi, buahnya sebesar pepaya. Sayang kamera tidak bisa menangkapnya karena letak buahnya terlalu tinggi. Sejak dilakukan penelitian terhadap ki tambleg, jadi banyak orang rebutan buah dan benih ki tambleg loh.. Katanya ki tambleg berkhasiat dari ujung akar sampai ujung daun.

Pohon yang kedua berada di dekat lapang perum, di belakang puskesmas perum. Pohonnya cantik, benar-benar seperti bonsai. Andai itu memang bonsai sudah pasti kan kubawa pulang deh :D Pohon kedua ini dipagari, dan di sana ada batu pengesahan ikon konservasi dari Universitas Indonesia. Difoto dari berbagai sudut pun, pohon yang kedua tetap cantik. View pohon kedua memang yang paling enak untuk foto-foto.

Pohon yang ketiga tidak sengaja aku temukan. Ketika aku sudah akan pulang sambil mengitari sekeliling perum, eeh di salah satu sudut perum ada lagi ki tambleg. Beruntungnya aku... Di pohon ketiga aku bisa melihat bunga ki tambleg. Bunganya... Aah, cantik dan besar sekalii. Bunganya seperti bunga jambu air tapi yang ini versi raksasa. Atau mirip juga dengan ubur-ubur :)
the biggest ki tambleg in Perum Sang Hyang Seri & the biggest i ever seen
pohon kedua
pohon ketiga
bunga ki tambleg, dengan background batang ki tambleg
Mohon doanya yaa temaan... Ketiga postingan Ki Tambleg, Ikon Konservasi Kabupaten Subang ini diikutsertakan dalam #LombaFotoKiTambleg :)

Ayo siapa yang mau bertemu ki tambleg di Subang? Yuk wisata ke Subang dong ah! ;)

Lokasi: Perum Sang Hyang Seri, Ciasem, Subang
Waktu pengambilan foto: Kamis, 26 Desember 2013 / +/- pukul 13.00-14.00 WIB
Kamera: digital camera Nikon & SLR Nikon

Fotografer: Syifa Azmy Khoirunnisa
Alamat: Sakurip Desa Tanjung RT 07/03 Kecamatan Cipunagara Kabupaten Subang
No. Hp: 08997185407
Status: Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik Universitas Diponegoro
Twitter: @famysa_

Ki Tambleg, Ikon Konservasi Kabupaten Subang

Setelah hunting ki tambleg di Wisma Karya, perburuan selanjutnya adalah ke Perum Sang Hyang Seri Ciasem. Dan keesokan harinya ke Desa Manyingsal. Nah kali inii, di postingan kedua ki tambleg, aku akan berbagi foto di Desa Manyingsal terlebih dahulu. Ki Tambleg di Perum Sang Hyang Seri diskip dulu untuk ditampilkan di postingan berikutnya, biar surprise :)

Pertama kali memasuki Desa Manyingsal, aku disambut oleh tiga pohon ki tambleg yang berjejer cantik di pinggir jalan. Ketiganya besar-besar. Namun sayangnya ada satu pohon yang tidak bisa kutampilkan fotonya di sini karena di satu pohon itu ada tukang bakso yang sedang mangkal, ada sampah, dan ada banyak bekas tebangan di sana-sini. Pohon yang ketiga jadi terlihat kecil dan kotor. Selain pohon ketiga, pohon pertama dan kedua juga ditempeli oleh poster-poster caleg. Aduuh, Pak, Bu.. kampanye mbok yo di tempatnya thoo... Ki tambleg kan sudah jadi ikon konservasi Kabupaten Subang, masa iya dipakai space untuk kampanye.
 
ketiga pohon ki tambleg berjejer cantik

Oh ya, nama bahasa Indonesianya pohon ki tambleg adalah baobab. Nama latinnya adalah adonsonia digitata. Pohon ini berasal dari Afrika dan Australia. Di Indonesia banyak tumbuh, terutama di Kabupaten Subang. Makanya dijadikan ikon konservasi Kabupaten Subang. Bahkan, ki tambleg yang di Universitas Indonesia juga dibawa dari Subang loh. Hebat yaa, Subang... kudu bangga yeuh jadi urang Subang boga ki tambleg! :) Jika dilihat sekilas, ki tambleg ini mirip dengan pohon oak. Tinggi, besar, bentuk daunnya seperti bunga, rimbun, seram, eksotis. Tapiii... kalau dilihat lagi ya jelas beda. Epidermis batang ki tambleg halus, tidak bersisik seperti batang pohon oak. Daun pohon oak juga lebih besar dari daun ki tambleg.

Sudah puas atau masih penasaran dengan ki tambleg berikutnya niiih? :D Masih ada satu postingan ki tambleg looh.. Yang paling besar bakal ada di sana. Simak terus yaa! ;)

Lokasi: Desa Manyingsal, Cipunagara, Subang
Waktu pengambilan foto: Jumat, 27 Desember 2013 / +/- pukul 11.00-12.30 WIB
Kamera: digital camera Nikon & SLR Nikon

Fotografer: Syifa Azmy Khoirunnisa
Alamat: Sakurip Desa Tanjung RT 07/03 Kecamatan Cipunagara Kabupaten Subang
No. Hp: 08997185407
Status: Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik Universitas Diponegoro
Twitter: @famysa_

Sabtu, 28 Desember 2013

Ki Tambleg, Ikon Konservasi Kabupaten Subang

Begitu tahu ada lomba foto ki tambleg yang dipublikasikan oleh @inposbg, aku langsuuung bertanya ke Mbah Google bagaimana wujud si aki tersebut. Aku berselancar ke sana-ke mari mencari kediamannya. Setelah tahu siapa itu ki tambleg dan dimana saja ia tinggal, rencana mendadak pulang pun segera diagendakan. Padahal baru seminggu sebelumnya aku pulang, eeh hari Rabu kemarin aku nekat pulang lagi hanya demi ki tambleg yang membuatku penasaran.

berbekal foto ki tambleg yang kudownload dari internet, informasi kediamanannya yang sudah kucatat, kamera digital & SLR pinjaman, serta tekad yang sekuat baja, meluncur lah aku ke Subang. 
Sebelumnya kuceritakan dulu niat hunting foto ki tambleg pada mamah. Mamah bertanya-tanya, siapa itu ki tambleg? Mamah tidak pernah mendengar nama pohon itu sebelumnya. Namun setelah kuceritakan ciri-cirinya, mamah bilang mungkin mamah pernah melihatnya di Perum Sang Hyang Seri Ciasem dan di Desa Manyingsal. Bingo!! Pas seperti informasi yang kudapat dari internet, dan mamah sendiri pernah melihatnya. Maka tidak usah diragukan lagi, di dua tempat itu pasti akan kutemukan ki tambleg. Lalu bagaimana dengan Wisma Karya? Di sebelah mana ki tamblegnya berada? Aku dan mamah tidak pernah melihatnya di sana.

Daripada terus memendam penasaran, lebih baik aku membuktikannya sendiri. Lokasi pertama yang menjadi target perburuan adalah Wisma Karya Subang. Dan ini lah hasilnya... Ki tambleg anak-anak ada di sana. Hihihi...
 
Benar kata mamah, pohon ki tambleg memang mirip dengan pohon randu/kapuk. Bedanya, daun ki tambleg lebih bulat dan gemuk, sedangkan daun randu/kapuk panjang. Serta batang pohon ki tambleg berkali-kali lebih gemuk dari pohon randu/kapuk. Epidermis batang pohon ki tambleg juga halus, tidak kasar dan bersisik seperti pohon lainnya. Warnanya abu kehitaman. Gagah sekali. Apalagi kalau sudah besar, sepertinya ki tambleg yang di Wisma Karya akan menyeramkan nan eksotis. Kata mamah juga, pohon ki tambleg seperti bonsai raksasa. Indah dan nyeni.

Mau tahu pohon Ki Tambleg lainnya? Mau tahu yang lebih besar? Simak terus postingan berikutnya yaa :D

Lokasi: Wisma Karya, Subang
Waktu pengambilan foto: Kamis, 26 Desember 2013 / +/- pukul 10.00-10.30 WIB & Sabtu, 28 Desember 2013 / +/- pukul 09.45-10.10 WIB
Kamera: digital camera Nikon & SLR Nikon

Fotografer: Syifa Azmy Khoirunnisa
Alamat: Sakurip Desa Tanjung RT 07/03 Kecamatan Cipunagara Kabupaten Subang
No. Hp: 08997185407
Status: Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik Universitas Diponegoro
Twitter: @famysa_

Kamis, 12 Desember 2013

Dramatis; Sungai Oya & Ojek Wisata :)

draft lawas banget nih. sebulan lebih yang lalu. hahaha... biasa laah mahasiswa tingkat akhir galaunya ngalahin apapun. sampai kegiatan ngeblog pun dijadikan sampingan terus. sampingan kalau ingat dan sempat. zzzz.... maaf yaa kawan blogger semuaaa... aku memang kebiasaan seperti ini. menulis draft dari jaman kapan, dipostingnya jaman kapan pula -____-

sudah, sudah... sekarang kita senang-senang saja yuk sama cerita dan foto-foto jalan-jalanku pada tanggal 3 November 2013 lalu ;) 
happy reading all ^_^
nooh sudah kebaca kan kami semua sedang ada dimana. ya, Goa Pindul. hihiii
kami berangkat dari kosan Rini sekitar jam 10.30an. katanya sih mau berangkat jam 8.00 gituu... tapii apa kabar, cowok-cowoknya kecapekan, kesiangan, dan kejebak macet :P aku dan Rini menunggu mereka di kosan sampai sudah keringatan lagi. hehe
ketika mobil sudah mendarat di Kabupaten Gunung Kidul, rintik-rintik gerimis mulai turun membasahi kaca mobil. jalan berkelak-kelok dan mendaki, disertai rintik gerimis tak diundang membuat mataku sayup-sayup ingin tidur *plaak! ya gimana nggak, cuaca dan hijaunya alam mendukung banget buat tidur. hahaha...
di pertigaan jalan menuju Goa Pindul, di sana ada banyak ojek wisata yang bisa mengantarkan pengunjung ke lokasi Goa Pindul. namun karena kami sudah membawa guide sendiri yang sudah hafal jalan ke sana, yaitu Rini, jadi kami tidak memakai jasa ojek tersebut. tapi eh tapiii.... ada satu ojek yang mengikuti kami terus dan menawari kami jasanya. kami sudah menolak dengan baik. tapi tetap saja diikuti. akhirnya niat buruk pun muncul kan dari cowok-cowok. mau mengerjai bapak ojeknya begini dan begitu. higs.. padahal aku dalam hati kasihan juga sih sama bapak ojeknya :( maafkan kami ya, Pak...
ternyata, ojek tadi memang terus membuntuti kami. mungkin nanti di lokasi, dia akan melapor pada pengelola Goa Pindul bahwa seolah-olah kami memakai jasanya, agar kemudian ojek tersebut bisa menerima bayaran dari pengelola. memang begitu lah sistemnya, pengelola yang akan membayar ojeknya, sesuai dengan tamu yang dibawanya. tapi kata Rini ada juga sih ojek yang meminta bayaran pada pemakai jasa juga. kalau yang begini jadi dapat jatah dobel dong ya :P
bapak ojek benar-benar membuntuti kami sampai kami keluar dari parkiran dan berjalan menuju loket tiket. akhirnya niat buruk muncul lagi. kami mengelak dengan berkata akan solat duhur dulu. setelah kami selesai solat, bapak ojek pun menghampiri kami lagi, dia bertanya, "Mas, ini tadi yang saya antar ya? sudah beli tiketnya belum?", salah satu diantara kami menjawab, "bukan, Pak. sudah kok." lalu bapak ojek pun pergi. namun tak lama, bapak ojek kembali lagi dan bertanya, "Mas, ini tadi yang saya antar, yang bilang mau solat dulu ya?" lagi-lagi kami tidak memedulikannya. cowok-cowok keukeuh berpendapat kami jangan berbaik hati pada bapak ojek itu. bapak ojek pun pergi lagi.
tidak kehabisan akal, ternyata bapak ojek kembali menghampiri kami dan bertanya, "Mas, ini tadi yang bawa mobil AVP ya?" skakmat! dan baru lah kami menjawab "iya, Pak." lalu akhirnya salah satu diantara kami diminta bapak ojek untuk ikut dengannya ke loket tiket. entah apa yang dibicarakan di sana. sebelum perwakilan kami mengikuti bapak ojek ke loket tiket, ada yang berkata seperti ini, "awas ya diladeninnya pake otak, jangan pake hati. orang kayak gitu mah gak usah dikasih hati." Oooh my Goood.... aku hanya bisa membatin. aku hanya tamu diantara mereka. aku tidak punya hak untuk bersuara kala itu. maafkan saya, bapak ojek... maafkan saya, teman-teman...
well, pelajaran berharga yang dapat kuambil dari peristiwa ojek tersebut adalah pelajaran tentang BERBAGI. apa ruginya sih kita berbagi dengan orang lain yang membutuhkan.. toh pekerjaan ojek wisata itu halal. pekerjaan itu pun tidak merugikan kita. yang bayar jasanya kan pihak pengelola. pun kalau kita diminta membayar jasanya, ya sudah tidak apa-apa, itung-itung sedekah. atau kita bisa juga benar-benar menggunakan jasa ojek tersebut untuk mengetahui cerita tentang Goa Pindul. membayar 10-20ribu doang rasanya tidak akan rugi untuk kita. dibanding kita menghabiskan uang 10-20ribu itu untuk hal yang tidak bermanfaat.
yaa memang sih siapa yang tahu hatinya orang lain. tapi sepertinya akan lebih baik jika hati kita terlebih dahulu yang berniat baik dan berbaik sangka. dunia pasti akan terlihat lebih indah, sekitar kita pasti akan terasa lebih nyaman :) setujuuu, sob!!? :D
bapak ojek's story are done. mari lanjut ke cerita berikutnya :D
Goa Pindul beralamat di Karangmojo, Gunung Kidul, Yogyakarta. di sana ada tiga tiga wahana keren yang bisa kita coba. yaitu cave tubing Goa Pindul, cave tubing Goa Sriti, dan rafting Sungai Oya. nah kemarin kami memilih rafting Sungai Oya karena kami pikir kalau cave tubing ya gitu-gitu doang, tidak menantang.
sambil menunggu giliran, kami duduk-duduk sambil foto-foto dan melihat-lihat foto yang terpajang di tempat tunggu. mataku tertuju pada foto rafting Sungai Oya. oh my God! apa-apaan ituu... masa rafting pakai ban pelampung juga sih, bukannya memakai perahu rafting. kalau aku terpisah dari rombongan gimana dong? kalau aku hanyut terbawa arus gimana dong? whuaa.... selama menunggu, hatiku jadi tak tenang. kupikir rafting kali ini pasti bakal ekstrem. -_-
dan tiba lah giliran kami diantar ke lokasi rafting Sungai Oya. mobil pick up yang akan membawa kami ke lokasi. selama perjalanan, beuuhh... jalannya ekstrem ternyata. kami seperti sedang dibawa offroad. kanan-kiri kami kebun kayu putih, jalannya tanah bergerinjal-gerinjul, hanya cukup satu mobil lewat pula! kami sempat merasakan perjuangan mobil-mobil pick up yang silih membantu jika ada yang terjebak 'berhadapan'. hahaa seruuu!
sesampainya di Sungai Oya.... ternyata... hahahaa..... aku ingin tertawa sepuasnya... ini rafting atau cave tubing? sungainya sudah penuh dengan manusia. itu manusia-manusia di atas ban pelampung mau pada ngapain coba? penuh berdesakan.. hahaa.... agak speechless juga deh jadinya :P
dan ternyata juga... kita tidak akan dibiarkan bermain sendiri. setiap kelompok pasti akan didampingi oleh satu guide yang akan membawa kita mengarungi Sungai Oya. guidenya kami keren deeh... gokil abiiis... diajak foto oke, diminta fotoin mau, direpotin mulu dengan kami yang sering melepaskan pegangan noblem, dan dia juga yang membuat kami berani terjun gak pakai payung dari jembatan ke sungai. byuuurr....!!! gilaaa... itu kalau gak pakai pelampung yaa selamat tinggal dunia deh aku :P
ki-ka: Ibank, Welly, Manda, Rini, aku (Syifa), Dika, Aldo, Galih. yang hurufnya warna ungu: Kacrut Timeless :P
aku akan selalu bilang, selalu ada pelajaran dari setiap perjalanan :)

apa kesanmu setelah melihat foto-foto Sungai Oya ini sob? :)
bubyeee and CU in the next post.... ^_^

by. si Famysa, love travelling 

Senin, 11 November 2013

Cileat Waterfall [part 2]

Markijut nyok cyiiin... Mari kita lanjut... Lanjutin cerita Cileat WTF, masih bersama Timeless *jari menyibakkan rambut, tssaaah! :P
Pascabencana Neng Syifa pundung *hahaha mentang-mentang skripsinya tentang Pascabencana yee :P, aku masih bad mood. Sebenarnya aku masih ingin menangis. Cakung (cuaca mendukung) banget kan nangis di tempat sunyi sepi jauh dari peradaban. Eeh tapi Kokom malah sudah menghampiri. Aku kan jadi gak konsentrasi lagi sama nangisnya. Ya sudah akhirnya aku berjalan duluan. Niat hati jalan duluan sih supaya gak kelihatan masih nangis :D
Eeeh tapi lima kacrut lain, diawali oleh Kokom malah keukeuh mengejarku. Maka terjadilah adegan yang tidak sepantasnya dilakukan *hush, bukan mesum loh ya. Adegan minta-minta maaf *minta duit kek gitu biar lebih keren :P. Padahal, really i don’t angry to you guys.. Namun karena kalian memaksa berjabatan tangan, ya sudaah kujabat saja uluran tangan Aab. Hahaa 
Cuy, murni bad attitudeku kemarin bukan karena aku marah pada kalian. Aku hanya sedang mellow, sedang ingin menangis karena my personal problem. Tidak ada sama sekali sangkut-pautnya sama kalian. Maaf yaa... :’)
Hmm... Tuh kaan jado OOT (out of topic). Apa kabar pendakiannya? Hihiii :D Lanjuut nyoook!
Langkah kakiku terasa lebih ringan ketika mulai mendaki lagi dari Curug Citorok. Hiking track selanjutnya terasa lebih mudah jika dibandingkan dengan hiking track dari tempat start ke Curug Citorok. Tanjakannya tidak seekstrem sebelumnya. Hanya saja, jalanan setapaknya lebih licin. Kanan-kiri kami masih sama, gunung dan jurang.
Curug Cimuncang pun berhasil kami lalui dengan mulus. Hmm... Agak-agak tidak mulus juga sih. Si aku masih malas berfoto-foto ria. Efek bad mood karena nangisnya gak keluar semua jadinya gitu deh tuh. Difoto juga bisanya manyun atau buang muka :P *alibi.
Di setengah perjalanan, kami bertemu dengan sawah lagi. Kami melihat ke belakang, kami kebingungan. Entah dari mana kami memulainya, tak sadar sekarang kami sudah berada di sawah yang seperti memisahkan dua pegunungan. Ada dataran yang cukup lapang juga di tengah sawah itu. Sepertinya cocok untuk mendirikan tenda di sana. 
Welly mulai meracau, “tuuh heh coba kalau kita camping, di sini bisa nih.” Aziz tak mau kalah, “bisa sih bisa... tapi sumber airnya dari mana, bro.. penting banget ituu air. Lagian di sini gak ada yang jualan juga. Repot dong kita ntar.” Dan Aab pun membalas, “ya udaah Ziz, besok kita buka lapak nasi kuning di sini *nasi kuning emaknya Aziz. Hahaha...” Pada gilaa deeh... Belum lagi adegan telponan Aziz dan pacarnya. Ditambah kehebohanku yang menyusul Aab turun lagi, padahal Aabnya mau pipis. Sumpah yaa... kenapa gak bilang dulu ‘mau pipis’ gitu loh, Ab.. Kan bikin khawatir. Aku kira kamu kenapa. 
Di tanah datar itu, sekalian kami juga membongkar ulang barang bawaan kami. Oper sana, oper sini, tukar-tukaran tas, sampai akhirnya berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Timbangan dirasa sudah pas. Dan kami pun melanjutkan perjalanan.
Baru satu-dua langkah kaki, kami terhenti oleh sebuah pemandangan. Di kejauhan kami melihat ada yang seperti curug, tapi tidak ada airnya. Kami memperdebatkan hal itu. – itu curug! – bukan, itu bekas longsoran! - eaaa... apa aja boleh deh, daripada ada pertumpahan darah. :D
Tebak apa yang kami temukan dalam perjalanan semakin mendekati tujuan utama kami, Cileat WTF? Monyet-monyet bergelantungan di pohon. Wiw! Agak takut deh. Maklum aku punya kenangan buruk dijambak oleh monyet waktu aku masih SD dulu. hahaha... Selain monyet, kami juga bertemu dengan seekor ular tanah. Whuaa... deg-degan akuuw! Ampun deh sama yang namanya ular, ular jenis apapun. Jijik asliii... that’s so scary, hiiiyy... Kata Aab, ular tanah diam-diam menghanyutkan. Dia seperti sudah mati, tak bergerak, padahal bisanya mematikan juga. Uh, aku makin takut. Terpaksa kutelan deh takutnya.
“suara airnya udah kedengeran, cuy..” – “dari tadi juga kedengeran kali suara air mah. Ituu orang di bawah sana ada sungai yang alirannya deras.” – “oh, gitu ya.. Tapi ini semakin jelas suaranyaa..” Hihihi... Kacruut, kacruut :D
Tanpa terasa, kami sudah mendaki selama kurang lebih tiga jam. Akhirnya kami sampai juga pada tujuan utama kami. Cileat WTF! Yeaaay... alhamdulillaaah senangnyaaa :D
Kami berhasil menginjakkan kaki di Cileat WTF kurang lebih jam 12 siang. Hal pertama yang dilakukan adalah mencari tempat untuk makan. Dan tanpa babibu lagi, bekal makanan yang kami bawa langsung dilahap habis. Padahal tadinya sangsi, apa iya bekal sebanyak itu bakalan habis? Kayaknya kebanyakan deh bawa bekalnya. Hihihi padahal habis ya ternyata. Benar kata Aab, “habiiih deeh habiis, aku yakin bakalan habis ini makanan.”
Selesai makan, kami lanjut foto-foto. Tidak terlalu banyak juga sih. Karena cuaca sudah mulai tidak bersahabat. Rintik-rintik air sudah mulai berjatuhan ke bumi. Setelah foto-foto, kami mengambil wudhu ke dekat curug. Brrr airnya maknyuuus, suegeeer tenan.. Tapi, tapii eeh... Baru saja aku mau solat, hujan deras turun. Rupanya rintik-rintik sudah tak sabar mengajak teman-temannya turun. Pastinya itu adalah panic time. Belum solat, bagaimana kami pulang. Hhh... Sampai akhirnya aku dan semuanya solat sambil duduk di sebuah bangunan (entah bangunan apa), sambil saling berdekatan, dan sambil diguyur hujan.  
penampakan terakhir -- kolor mania :P
Kami turun sekitar jam 1 siang, nekat menerobos hujan. Sepanjang perjalanan turun kami hujan-hujanan. Ketika semua sudah terjadi, baru lah teringat semua hal. Kenapa kita tidak membawa jas hujan, kenapa tidak membawa senter, kenapa tidak membawa alas duduk, dan bla bla bla. Memang, kami mendaki dengan sangat alakadarnya. Aku sendiri pun sudah lupa dengan perlengkapan mendaki yang biasanya harus dibawa. Walaupun begitu, tetap saja, selalu ada pelajaran pada setiap perjalanan :) Keputusan untuk menerobos hujan cukup tepat sepertinya. Daripada harus menunggu hujan reda, yang entah kapan redanya. Setelah sampai di tempat start lagi, kami bergegas ganti baju dan solat ashar, membeli P*p Mie, lalu pulang.

I love you guys... thanks a lot for our friendship, for all moment, for our togetherness, and for everything smile to cry :)

Notes:
Di dokumen foto kami cuma ada dua curug sebelum Cileat WTF. Lalu yang mana Curug Cimuncang Pasir? Apakah kami lupa mengambil fotonya? Atau yang dimaksud Curug Cimuncang Pasir itu adalah curug yang bersebelahan persis dengan Cileat WTF? Open discuss please :)
Sepanjang perjalanan, mulai dari rumah Welly sampai turun dari Cileat WTF, si Aab kayaknya promosi Alf*m*rt terus tuh. Katanya sih nasionalismenya tinggi. Dia terlalu mendalami peran dalam pekerjaannya. Hahaa
Big thanks to Syiha *namanya mirip namaku, Syifa, makanya sering kusebut ‘kembaran’. Haha maksa :P, yang rela minjemin kameranya. Big thanks to Ibank, yang rela jadi tukang foto lima kacrut, jadinya jarang ada foto Ibank deh. Hehe.. Big thanks to Welly plus Mang Wanco, selaku seksi transportasi. Hihiih.. Big thanks to Aziz, selaku pemimpin pendakian. Big thanks to Kokom, selaku seksi konsumsi. Big thanks to Aab, selaku salesman Alf*m*rt. Hahaha... joking, Ab! Peacee :P

By. Si Famysa, love u guys :’) 
salam kacrut dari Semarang, Jogja, Subang, Cikarang, Jakarta, Tangerang :* 

Mijn Vriend