Tampilkan postingan dengan label Sekumpulan Gambar Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekumpulan Gambar Diri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2015

Nyamannya Berkendara Dengan Vario 125 eSP

“Beneran, Fa, dari Semarang pulang ke Subang bawa motor? Hebat bangeet... Jagoan ih!”

Yuhuu... Selalu begitu respon yang kudapat dari teman-temanku setelah mereka tahu aku pulang bawa motor. Sebenarnya bukan aku yang bawa. Aku sih tinggal bonceng doang. Yang bawa mah Ibank, sahabat yang sekarang jadi suamiku :D

Aku mulai berani pulang-pergi Subang-Semarang pakai motor sejak liburan kuliah semester pertama. Niatnya supaya irit ongkos dan supaya di rumah ada kendaraan sendiri. Akhirnya, jadi ketagihan deh pulang-pergi pakai motor.

Kalau kata teman-teman aku dan Ibank yang jagoan, sebenarnya itu tidak 100% benar. Jagoan yang sebenarnya adalah motorku, si BePink (Beat jadul) dan si Beureum (Vario 125 eSP edisi pertama). Selama 3,5 tahun pulang-pergi Semarang-Subang, aku lebih banyak menghabiskan perjalanan bersama si BePink. Baru di bulan-bulan terakhir kuliah saja aku membawa si Beureum. Apakah ada bedanya? Tentu saja, ya, banyak malah! Bedanya, Vario 125 eSP lebih nyaman dari Beat jadul atau tidak? Tentu saja lebih nyaman dong!
Sejak jaman baheula, sejak aku masih SD, Bapaku selalu memakai Honda. Dari jamannya Honda Legenda, Astrea, motor dinasnya pun Honda Win, hingga kini Honda sudah mengeluarkan motor dengan teknologi pintar, Bapa selalu setia dengan Honda. Bisa dibilang Bapa adalah pecinta motor Honda. Semua motor yang pernah dimiliki Bapa adalah Honda. Akibatnya, aku jadi ketularan cinta Honda juga deh. Beberapa motor Honda yang pernah kujajal sejak aku bisa mengendarai motor adalah: Beat edisi kedua, Vario edisi pertama, Vario CBS, Scoopy dan Spacy edisi pertama, hingga motorku sekarang, Vario 125 eSP edisi pertama. Sempat juga mencoba motor New Beat eSP kepunyaan sepupu. Ya, semuanya motor matic, karena aku hanya bisa mengendarai matic :P

Waktu masih motoran jarak jauh pakai Beat, satu kelemahannya yang paling terasa adalah cepat sakit punggung dan sakit pantat. Akibatnya, badan pun akhirnya pegal-pegal. Minimal sehari setelah menempuh perjalanan jauh, aku harus istirahat total untuk menghilangkan pegal-pegal di badan. Mungkin karena ukuran jok Beat yang mungil jadinya mudah terasa sakit. Selain itu, ukuran bagasi Beat yang juga mungil agak menyulitkanku membawa banyak barang. Di bagasi hanya bisa memuat jas hujan, sedangkan barang lainnya jadi harus disimpan di depan semua. But, si Beat ini cocok banget buat pengendara motor pemula. Ukurannya yang mungil dan beratnya yang ringan sangat membantu para pemula, seperti aku dulu :D Kalau pengendara pemula jaman sekarang sih lebih enak lagi ya, sekarang kan Beatnya sudah dilengkapi dengan teknologi pintar eSP. Bawanya makin mantap tuh, tarikan dan desainnya juga makin oke! Aku sudah coba loh! Lewat jalan berlubang menuju rumahku tidak terasa, joknya empuk sih, tarikannya ngageleser kalau kata orang Sunda bilang mah :)
Dulu, motor Vario dengan motor Beat itu lebih irit motor Beat. Makanya saat ditawari bertukar motor oleh Bapa (dengan Vario 125 eSP), aku agak mikir dua kali. Aku kan memilih pulang-pergi Subang-Semarang pakai motor agar irit. Lah kalau pakai Vario lebih ngorot? Hmm..

Ternyata eh ternyataa.... Setelah dicoba, aku dan Ibank terkejut. Saat perjalanan pulang dari Semarang ke Subang, kami baru ngeuh bahwa ternyata kami hanya isi bensin dua kali Rp 25.000. Jadi, sejalan Semarang-Subang hanya menghabiskan biaya Rp 50.000 (sebelum harga BBM naik) saja. Sesampainya di rumah, bensinnya masih ada 3-4 strip lagi! Uwow! Padahal biasanya waktu pakai Beat, kami menghabiskan biaya bensin sebesar Rp 60.000 (sebelum harga BBM naik), dan sampai rumah sudah skarat di zona merah bensinnya.

Selain pemakaian bahan bakar yang lebih irit, perbedaan lain yang terasa (seperti sudah kuceritakan sedikit di atas) adalah aku tidak lagi gampang pegal, sakit punggung/pantat seperti waktu pakai Beat. Bagasinya yang luas (helm in) juga sangat berguna untuk menampung banyak barang. Tasku kan jadi lebih ringan, barang di bagian depan juga tidak kepenuhan. Dengan kelebihan si Beureum ini, waktu perjalanan Semarang-Subang  jadi lebih singkat 1-1,5 jam dari biasanya karena kami tidak lagi banyak beristirahat akibat pegal. Kami berhenti/istirahat hanya ketika makan dan sholat saja. Sesampainya di rumah, tidak ada istilah motor leg lagi deh. Perjalanan jauhku jadi makin nyaman dengan si Beureum, Vario 125 eSP.
Dulu, aku pernah pinjam motor Bibi (bukan Honda) dari Cikampek hendak pulang ke Subang. Waktu itu aku hanya mengantongi uang Rp 50.000. Di tengah perjalanan, aku sudah ketar-ketir karena bensin sudah mau habis lagi. Uang Rp 30.000 pun habis sejalan hanya untuk bensin (sebelum harga BBM naik). Padahal kalau pakai Honda matic Rp 30.000 – Rp 40.000 (setelah harga BBM naik) itu sudah bisa pulang-pergi Cikampek-Subang. Hoaah, motor matic lain bisa bikin kantong mahasiswa jebol -_-

Sekarang Km si Beureum (Vario 125 eSP) menunjukan angka 45057,8 Km. Dalam waktu kurang dari 2 tahun, walaupun sudah menempuh jarak sejauh itu, performa si Beureum tetap yahud. Yang berbeda hanya bodynya yang sudah tergores sana-sini (korban parkiran umum -_-). Mau tahu si Beureum sudah membawaku kemana saja? Mari sama-sama baca kelanjutan blog post ini ^^

Jogja – Semarang, +/- 124 Km
Semarang - Subang, +/- 433 Km
Subang – Bandung, +/- 51 Km
Subang – Cirebon, +/- 118 Km
Subang – Cikampek, +/- 60 Km
Belum lagi perjalanan dalam kota (antar kecamatan) yang tak jarang jalannya rusak parah atau menanjak dan berkelok.

Oh ya, saking iritnya si Beureum nih ya, sekarang aku jarang sekali isi bensin. Setiap suami belanja ke Bandung, biasanya ia isi bensin Rp 30.000 (setelah harga BBM naik) ketika berangkat. Pulang dari Bandung, tanki bensin masih terisi lebih dari setengahnya. Dan setengahnya itu bisa bertahan sampai seminggu kalau hanya kami pakai ke kecamatan sebelah setiap harinya. Benar-benar deh eSP, si teknologi pintar karya Honda ini sangat membantu penghematan dalam keluarga, hihihi.

Usut punya usut, setelah aku kepoin website welovehonda.com, eSP adalah singkatan dari Enchanced Smart Power, yaitu peningkatan daya tahan, halus, serta lebih bertenaga. Tiga kelebihan utama dari teknologi pintar eSP ini (yang semua orang pasti merasakannya) yaitu ekonomis, ramah lingkungan, dan performa tinggi. Matic yang sekarang sudah ditanamkan eSP di dalamnya diantaranya Vario 125 seperti si Beureum ini, Vario 150 (lagi mupeng ~~), all new Beat, dan all new PCX. Dan beritanya sih, mulai tahun 2015 ini teknologi pintar eSP akan diaplikasikan pada semua motor matic Honda. Kabar gembira tambahan: tidak akan ada kenaikan harga pula! Duileeh enak banget ya... Aku jadi membayangkan Scoopy si unyu-unyu pakai eSP, bakal makin yahud deh tuh! *ngiler :P

Well, sebenarnya masih ada 10 keunggulan lain dari eSP. Tapi tidak bisa aku tuliskan di sini karena aku sendiri tidak terlalu mengerti dengan berbagai nama/sebutan permesinan. Yang jelas, tiga kelebihan utama eSP (ekonomis, ramah lingkungan, performa tinggi) ini sangat-sangat-sangat aku rasakan. *teman-teman pembaca blog bisa kepo sendiri di website welovehonda.com yaa kalau ingin tahu tentang eSP selengkapnya.
Thanks ya, Honda ^^

Gimanaa... Masih ragu buat beralih ke Matic Honda dengan teknologi pintar eSP-nya? ;)

Sabtu, 28 Maret 2015

Dieng Plateau; Surga di Atas Awan

Surga di atas awan; istilah ini identik dengan keindahan di puncak gunung, identik dengan kegiatan mendaki gunung, ketika sudah bercapek-capek ria mendaki, ketika sudah berada di puncaknya, di sana lah surganya. Tapi kini tidak lagi! Surga di atas awan bukan hanya milik para pendaki, yang benar-benar mendaki dengan berjalan kaki. Surga di atas awan kini bisa kita datangi, tanpa harus mendaki dengan kaki. Surga di atas awan itu bisa dikunjungi oleh ibu hamil, bahkan manula sekalipun. Dimanakah surga di atas awan itu?

DIENG PLATEAU (dataran tinggi Dieng); ini lah surga di atas awan itu! Surga yang bukan hanya milik para pendaki.

Tiga hari lagi setelah hari ini, tepat satu tahun yang lalu, aku dan teman-teman melakukan perjalanan ke Dieng Plateau. Hari itu kami berangkat kesiangan, pukul 10.30 WIB, dari rumah kontrakanku di Semarang. Sebenarnya agak berat untuk berangkat, makanya kami jadi kesiangan karena. Tapi karena sudah direncanakan jauh-jauh hari, apalagi teman-teman dari Subang sengaja jauh-jauh ke Semarang, jadi lah kami berangkat. Dengan berbekal cemilan dan sebagian dari kami masih car-leg Subang-Semarang, demi menikmati hidup, Dieng Plateau telah menjadi tujuan!

Jalur berangkat yang kami pilih adalah via Kabupaten Kendal. Lengkapnya Semarang-Kendal-Temanggung-Wonosobo/Banjarnegara-Dieng. Alasan kami memilih jalur ini adalah karena salah seorang dari kami ada yang pernah ke Dieng melalui jalur ini. Kami pikir setidaknya dia bisa jadi penunjuk jalan.

Dari Semarang, ada dua jalur menuju Kendal, yaitu via tol yang keluar di Ngaliyan atau via Kecamatan Gunung Pati. Kami memilih via tol untuk menghindari jalan jelek dan sepi di daerah Gunung Pati. Setelah keluar tol, kami melaju ke arah Selatan. Semakin mendekati perbatasan Kabupaten Kendal, ternyata jalannya semakin jelek dan berlubang. Tiba waktu duhur, kami masih ada di daerah Kecamatan Patean-Kendal. Kami sholat dan makan siang dulu di sana.

Memasuki perbatasan Kabupaten Temanggung, teman kami yang kami anggap penunjuk jalan lupa harus belok dimana. Kami jadi harus meminta bantuan pada GPS. Beruntung GPS masih bisa menyala di tengah kawasan yang sepertinya blacklist, hehe.. Kami pun terus mengikuti petunjuk dari GPS yang bisa bicara itu. Dia bilang belok kiri, kanan, kami menurut saja. Masuk jalan yang super kecil, naik-turun pun, kami hanya bisa menurut padanya.

Akhirnya…. Ketika guide GPS menyuruh kami belok kanan, kami bahagia bukan kepalang karena kami bertemu dengan jalan raya, jalan utama menuju Dieng Plateau. Kami sudah tinggal mengikuti jalan utama saja, GPS pun kami matikan.

Sepanjang perjalanan, semakin mendekati kawasan Dieng Plateau, alam menyajikan begitu banyak keindahannya. Posisi kami semakin tinggi. Jalanan menuju Dieng Plateau naik dan terus naik, berbelak-belok. Bagi teman-teman yang punya penyakit mabuk perjalanan, sepertinya harus sedia selusin kantong kresek *peace :P. Tapi sungguh, bagi teman-teman yang dapat menikmati keindahan alamnya, segala penat di hati dan pikiran akan hilang! Teman-teman tahu? Di sana, di perjalanan menuju Dieng Plateau, semakin kita berada di atas, ketika kita melihat ke bawah, kita akan merasa seperti berada di atas awan. Di bawah kita terhampar kabut-kabut putih yang menyejukkan. Di samping kanan dan kiri kita terhampar luas hijaunya alam. Ah, ini benar-benar perjalanan menikmati hidup.
Setibanya kami di gapura Kawasan Dieng Plateau, kami sudah tidak sabar ingin menikmati indahnya wisata Dieng. Namun, ada yang membuat kami harus bersabar dahulu. Kami terjebak macet selama 2 jam. Well, beruntungnya karena macet tersebut, kami jadi bisa keluar dari mobil untuk menghirup udara Dieng. Kami juga bisa berjalan-jalan di sekitarnya, bisa foto-foto juga. Anggap saja itu sebagai sambutan selamat datang dari Dieng, hihi..

Kurang lebih pukul 16.00 WIB, akhirnya kami sampai di area wisata Dieng. Hari sudah sangat sore, tidak mungkin kami langsung kembali ke Semarang. Kondisi teman kami sang supir juga capek. Akhirnya, yang tadinya kami tidak berencana bermalam di Dieng terpaksa harus bermalam di sana. Yaa, suatu keterpaksaan yang menyenangkan. Kami jadi bisa lebih lama menikmati hidup. Kapan lagi coba bisa ke Dieng bersama teman-teman dekat, hehe.. Walaupun tidak membawa banyak uang dan baju ganti :P

Dengan informasi yang kami peroleh dari penjaga loket tiket, kami mendapatkan home stay seharga Rp 400.000/malam. Harganya mentok, tidak bisa ditawar lagi. Kami lebih memilih home stay daripada kamar penginapan yang harga per malamnya Rp 150.000, kamarnya kecil. Sedangkan untuk tiket terusan wisata Dieng (Candi Arjuna+Kawah Sikidang) adalah seharga Rp 25.000. Penjaga loket bilang, tiket terusan itu juga bisa berlaku untuk Telaga Warna, kita hanya tinggal membayar Rp 3.000 saja, dari harga normal weekday Rp 7.500.

Dieng Plateau merupakan kawasan dataran tinggi yang masuk ke dalam dua kabupaten, yaitu Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara. Letaknya berada di sebelah Barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, sehingga kedua gunung itu dapat terlihat di sepanjang perjalanan Dieng sampai Temanggung. Dieng adalah kawasan vulkanik aktif dan dapat dikatakan sebagai gunung api raksasa dengan beberapa kepundan kawah. Tidak salah jika banyak wisata pendakian gunung di sekitar Dieng, karena Dieng adalah gunung api raksasa dengan beberapa puncak gunung.

Tempat pertama yang kami kunjungi sore itu adalah Telaga Warna. Konon katanya telaga ini warnanya bisa berubah-ubah, makanya dinamai Telaga Warna. Namun yang paling umum kita dapati ya warna hijau. Seperti waktu kami ke sana, warnanya hanya hijau, tidak ada warna lain. Dan pemandangannya subhanalloh luar biasa… Mata kami sungguh dimanjakan.

Selain Telaga Warna, ada banyak telaga lainnya di sekitarnya. Ada sih penunjuk jalannya, namun ketika kami susuri jalan itu, kami terbentur oleh jalanan yang becek. Sepertinya telaga lain di sekitar Telaga Warna belum mendapat perawatan yang baik, tidak seperti Telaga Warna. Jika kalian nekat mendekati telaga lainnya, silakan saja. Berani kotor kan baik ya, hehe..

Selepas menikmati keindahan Telaga Warna, kami langsung pulang ke home stay. Tidak ada acara nongkrong atau ngerumpi malam, apalagi begadang. Kami sudah terlalu capek. Kami semua langsung tidur setelah sholat isya. Bahkan kami yang rencananya ingin ikut pemandu wisata menyaksikan sunrise dari desa tertinggi Dieng, mendadak melupakan rencana itu. Hahaha… Habisnya berangkatnya jam 3 pagi. Jelas kami masih mengantuk. Kami hanya berjalan-jalan di sekitar home stay selepas sholat subuh, hingga akhirnya kaki kami sampai di Kawah Sikidang. Lumayan, olahraga pagi di tempat dingin tidak terasa capek, hihi..

Di perjalanan menuju Kawah Sikidang, kami menemukan Candi Bima. Kami foto-foto sebentar di sana, lalu melanjutkan langkah kami. Mendekati area Kawah Sikidang, kami melihat ada pipa panjang sekali. Di pipa itu terbaca uap panas. Dan memang ada uap yang mengepul keluar dari pipa yang sepertinya sedikit bocor. Kami melewati pipa itu, dan tak lama, di depan kami adalah Kawah Sikidang. Dari jauh, kami sudah bisa mencium bau belerang. Seperti belerang pada umumnya, bau kentut. Hahaa… Siapa hayoo yang kentut pagi-pagii?? :D
Puas berjalan-jalan di sekitar Kawah Sikidang, sempat kami naik mini bukit di sana juga, kami bergegas pulang ke home stay agar bisa segera mengunjungi tempat berikutnya: Candi Arjuna. Di perjalanan pulang dari Kawah Sikidang menuju home stay, kami bisa melihat pohon papaya carica khas Dieng. Pohonnya mini, buahnya lucu. Hihiii… Seperti miniatur pohon papaya normal.

Sesampainya di home stay, kami disuguhi sarapan teh hangat dan gorengan oleh pemilik home stay. Hmm… Enaknya… Hangat-hangat di tengah dinginnya Dieng, benar-benar menikmati hidup :). Kami juga jajan sosis bakar dan es warna-warni dari pedagang yang lewat di sekitar home stay. Jajanan anak kecil. Hihi… Dan rasanya makan es di tengah dinginnya Dieng ituuu, brrrr makin dingin!

Sayangnya, kami tidak bisa berlama-lama di home stay. Kami harus bersegera siap-siap pulang ke Semarang. Masih ada destinasi wisata lain di Semarang yang ingin kami kunjungi, dan juga kami mengantisipasi jika terjebak macet lagi. Lebih baik pulang lebih awal daripada sampai Semarang kemalaman. Kasihan teman kami sang supir satu-satunya, yang tidak ada gantinya.

Sebelum benar-benar meninggalkan Dieng, kami mengunjungi Candi Arjuna dulu. Walaupun hanya sebentar, walaupun rasanya tidak puas, tapi kami anggap perjalanan ini cukup memanjakan kami. Kami bisa menikmati hidup, menikmati masa muda, menikmati indahnya alam Indonesia.

Lalu bagaimana jika aku mendapatkan tiket wisata ke Bali gratis? Apalagi bisa berdua dengan suamiku.. Waah… Sepertinya catatan perjalanannya akan lebih mengasyikan daripada ini. Semoga Tiket.com dan nulisbuku.com berbaik hati memberikan tiketnya padaku, hihi… Aamiin… ^^
Jurnal ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Jurnal Perjalanan dari Tiket.com dan nulisbuku.com #MenikmatiHidup #TiketBaliGratis 

Rabu, 25 Maret 2015

Syifa's Graduation

ki-ka: adikku; Maulana, Mamang Aca, Ghina, Bibi Wiwin, aku, Emih, Sri, Mamang Amin. jangan tanya orang tuaku yang mana. karena mereka gak ada di acara ini :)
Tanggal 4 Agustus 2014 lalu, aku resmi diwisuda sebagai Sarjana Administrasi Publik Universitas Diponegoro. Cieee.... swit, swiiittt :P Bangga? Ya jelas bangga dong. Gak ada salahnya kan bangga pada prestasi diri sendiri. Walaupun hanya sebatas jadi sarjana, tapi tetap ini patut disyukuri :)
best make up & hijab style from Mbak Muti
Rasanya baru kemarin tes UM I Undip di Tennis Indoor Senayan, berangkat dini hari, nyampe sana pas subuh, ngantuk-ngantuk, tetap harus fokus pada soal yang seabreg. Setelah dinyatakan diterima (sebelum kelulusan SMA), aku masih ingat bagaimana bahagianya. Saat teman-teman lain masih mencoba daftar ke sana-sini, aku malah sudah diterima oleh PTN favoritku, PTN incaranku, bahkan sebelum lulus. Rasanya sudah plong deh :)
aku urutan ke-6 IPK-nya, sejurusan yang lulus hari itu.
Rasanya baru kemarin pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Semarang. Diantar Bapa dan adikku untuk verifikasi calon mahasiswa baru, naik kereta Harina eksekutif, kata Bapa sekalian cobain rasanya kereta eksekutif, hihi.. Tempat pertama di Undip yang kukenal waktu verifikasi adalah Gedung Prof. Soedarto. Karena waktu antriannya panjang dan cukup menguras tenaga, akhirnya beres verifikasi, kami langsung pulang naik bus seadanya. Dan benar-benar seadanya, bus ekonomi, sampai Bapa pun kesal karena ngetemnya, haha.. 
teman-teman Administrasi Publik Undip angkatan 2010
Awal-awal kuliah, aku agak kesulitan mencerna mata kuliahnya. Aku harus belajar esktra, lebih rajin dari biasanya. Waktu SMA aku jurusan IPA, dan di Administrasi Publik aku benar-benar banting setir, total semuanya pelajaran IPS :P OMG, pusing deh awal-awal mah. Apalagi sama mata kuliah Pengantar Ilmu Politik dan Pengantar Ilmu Ekonomi. Dapat nilai B juga sudah syukur :P Tapi lama-lama, setelah menginjak tahun kedua di dunia sosial, aku sudah mulai bisa berdamai dan menikmati arusnya :)
Tian, Isna, aku; 3 dari 7 teman main yang wisuda barengan.
Selama kuliah dan tinggal di Semarang, banyak sekali pelajaran hidup yang kudapatkan. Mulai dari mencicipi dunia MLM, jualan buku, jualan batik, tas handmade, jualan tali rambut rajut, belajar bahasa Jawa, hingga menemukan komunitas-komunitas menulis yang membantuku mengasah kemampuan menulisku. Tak hanya itu, selama kuliah, aku juga banyak mengikuti acara kampus dan luar kampus, seminar, talkshow, mulai dari yang berbayar hingga yang gratisan. Terutama yang paling sering sih yang gratisan ya, apalagi kalau gratisan terus dikasih duit. Wkwk :P
with my personal photographer, waktu belum jadi suami :P
Jogja. Tempat ini menjadi rumah singgahku yang kedua setelah Semarang. Awalnya memang karena Ibank aku ke Jogja. Lama-lama, aku justru bertemu banyak teman di sana. Di Jogja juga ada Rini, sahabat Jamnasku -tahun 2006 lalu-, kami dipertemukan lagi di Jogja :') Aku banyak menemukan hal baru dengan Rini. Aku menemukan partner bisnis batikku juga dengan Rini. Semenjak menemukan 'hidup' di Jogja, aku jadi sering ke sana, paling telat 3 bulan pasti aku ke sana. Karena aku butuh Jogja juga, aku jadi memilih Jogja sebagai tempat magangku. Alhamdulillahnya instansi yang kuincar menerima lamaran magangku, hihi.. Selain magang, selama skripsian juga aku tinggal di Turi, Sleman, Jogja, di rumahnya Mbak Dian. Penelitiannya di Magelang sih, tapi tinggalnya di Turi karena Turi lumayan dekat dengan Magelang, 30 menit - 1 jam motoran juga sampai.
with Rini, my partner in crime :D
Sedihnya, waktu wisudaku, Mamah tidak bisa datang. Bapa datang di wisuda univeritas. Kalau yang di foto-foto ini wisuda fakultas. Aku sengaja memilih Emih, Bibi, dan Mamang saja yang datang ke wisuda fakultas, karena menurut informasi dari kakak kelas, wisuda fakultas lebih sakral, lebih untuk keluarga. Ya, daripada Bapa yang datang, lebih baik Emih. Jadi waktu itu dibagi 2 kloter. Kloter pertama (wisuda fakultas) Emih dan rombongan, kloter kedua (wisuda universitas) Bapa dan rombongan. Kenapa aku lebih memilih Emih yang menghadiri momen sakral ini? Yaa daripada aku sedih ingat Bapa dan Mamah tidak lagi bersama, hehe.. Lagian aku kan pernah janji pada diriku sendiri, mau membanggakan Emih di hari wisudaku, seperti yang pernah kutulis di sini --> Emih; More Than Just A Grandma.
best photo ever by Ibank! sayang itu tali toganya gundul, out of check -_-
Yeah, finally aku bisa nulis cerita ini setelah diendapkan sekian lama dalam draft di hati, hehe.. Ceritanya lagi kangen banget sama dunia kuliah. Ceritanya gak sabar ingin lanjut kuliah lagi, ingin merantau lagi, ingin merasakan aroma kota lain lagi, ah pokoknya ingin berpetualang dan menimba ilmu lebih banyak lagi. Bismillah semoga Alloh membukakan jalan-Nya. Aamiin... :)

Eh, jadi inget deh, bulan Maret tahun lalu aku masih sibuk garap skripsi, masih sering tinggal di rumah Mbak Dian. Sekarang, Maret tahun ini, aku sudah bukan mahasiswa Undip lagi ternyata yaa.. Di belakang namaku sudah ada gelarnya, Syifa Azmy Khoirunnisa, S.A.P. Ahaha :D

Waktu begitu cepat berlalu... Betapa banyak lengahnya aku... :') 

by. si Famysa, kangen kuliah :')

Kamis, 26 Februari 2015

Semangat Si Enok

Japanese food pertama Enok :D
Namanya Mira Wati, tapi di kampung dia biasa dipanggil Enok –Enok sama seperti Eneng artinya (panggilan) anak perempuan-. Enok masih duduk di bangku kelas 9 SMP di SMP tempat mamahku mengajar, letaknya dekat dari rumah, sekitar 10 menit jalan kaki santai juga sampai. Enok sudah menjadi bagian dari Sakola Printing sejak sekitar dua-tiga minggu pertama Sakola berdiri. Berarti sudah 4 bulanan Enok membantu bisnisku.

Enok adalah tetanggaku. Rumahnya persis di sebelah (serong) kanan rumahku. Segala aktivitas di rumahku bisa terlihat dari rumah Enok, begitu pun sebaliknya. Enok tinggal bersama kedua orang tua dan 3 saudaranya, 1 kakak dan 2 adik. Sebenarnya kakaknya ada 2, tapi kakaknya yang nomor 2 sejak kecil tinggal bersama uwanya di Indramayu. Mamanya Enok bekerja sebagai tukang ojek (mama: bapak dalam bahasa Jawa Cerbonan-Dermayuan), sedangkan emihnya seorang ibu rumah tangga yang nyambi dagang p*p ice pada waktu-waktu tertentu (emih: Ibu dalam bahasa Sunda).

Kata Enok, penghasilan mamanya dari ngojek per hari Rp 30.000. Kalau sedang ramai penumpang mentok Rp 50.000, tidak pernah lebih dari itu. Bayangkan! Rp 900.000 per bulan harus bisa mencukupi kebutuhan 6 orang: 2 orang dewasa, 1 orang usia 18 tahunan, 1 orang usia 15 tahun, 1 orang usia 8 tahun, dan 1 orang usia 1 tahun. Aku saja waktu masih kuliah di Semarang uang Rp 900.000 itu untuk diriku sendiri, lha ini untuk 6 orang -__-

Hebatnya, Enok tidak pernah mengeluh dengan kondisi ekonomi keluarganya. Walaupun tidak pernah punya baju baru, sepatu baru, tas baru seperti anak-anak lainnya, tapi Enok tetap ceria. Enok justru bisa prihatin. Enok dapat membantu meringankan beban orang tuanya dengan sepenuh hati menjadi marketing Sakola Printing. Selain membantu perekonomian orang tua, Enok juga rajin membantu Emihnya masak dan mengasuh adik bungsunya yang masih 1 tahun. Setiap pulang sekolah, Enok pasti setor sekalian main di kantor Sakola Printing sambil membawa serta adiknya. Begitu ashar tiba, Enok pulang untuk membantu Emihnya masak dan beres-beres rumah.

Selain memasarkan produk barang/jasa Sakola Printing, sekarang Enok juga mempunyai barang jualannya sendiri. Enok jualan basreng (baso goreng) dan cilok buatan Emihnya di sekolah. Tiap pagi, Enok membawa 2 jinjingan besar berisi cilok dan basreng. Belum lagi di tasnya juga penuh dengan pesanan teman-temannya di Sakola Printing.
Enok sebenarnya cerdas. Hanya saja anak sekolah di kampungku sini kurang diasah. Beruntungnya aku punya mamah yang melek pendidikan sehingga aku jadi anak yang berbeda di sini, dari segi akademik. Jadi yaa memang nilainya Enok standar saja. Tapi kata mamah, Enok tergolong anak yang cukup rajin. Terbukti dengan tepat waktunya dia mengumpulkan tugas, tidak pernah lalai seperti anak-anak lainnya. Makanya waktu UAS semester kemarin, kupaksa Enok untuk belajar bakda maghrib sampai jam 9 malam di rumahku. Kuajari sebisaku pelajaran-pelajaran yang akan diujiankan esok harinya. Hasilnya, Enok bilang dia bisa mengerjakan soal, walaupun ada yang tidak bisa. Khusus pelajaran Bahasa Indonesia, Enok berhasil meraih nilai lebih dari 80 di raport. Aku tahu karena aku yang menilainya, mamahku kan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hehe..

Selain kupaksa untuk belajar, Enok juga kuajari cara mengoperasikan laptop. Kemarin baru sempat kuajari Microsoft Word. Setiap aku mengajarkan satu poin, Enok bisa cepat menangkap dan mempraktekkannya. Sering kubuat tes kecil untuk Enok. Dan Enok memang bisa. Enok memang anak yang cerdas. Saat anak-anak yang lain ogah-ogahan kutawari belajar laptop gratis karena malu tidak bisa sama sekali, Enok satu-satunya anak yang antusias. Katanya Enok ingin bisa. Enok tidak pernah malu untuk belajar.

Semenjak membantu Sakola Printing, Enok bilang Enok sudah tidak meminta uang jajan lagi pada orang tuanya. Malah Enok yang sering menjajani adiknya ketika mengasuh, kadang kakaknya juga kebagian dari Enok jika kakaknya sedang tidak punya uang. Bahkan jika masih punya uang lebih, biasanya Enok memberikan uang itu pada emihnya, karena menurut Enok emih lah yang paling tahu uang itu harus dibelikan apa, emih kan yang tahu kebutuhan keluarga.

Suatu hari aku dan Ibank mengajak Enok main ke Subang Kota, sambil jualan pin di acara ulang tahun Viking Subang. Enok sangat antusias. Katanya jarang-jarang Enok bisa main jauh, Subang Kota saja masih asing bagi Enok. Pulang jualan, aku dan Ibank mengajak Enok makan di food court Toserba Yogya Grand Subang. Aku memilih menu bento, sekalian mengenalkan Enok pada makanan asing. Hehe..

Sepulang dari Subang Kota, Enok meminta foto-foto yang ada di postingan ini. Katanya mau Enok tunjukkan ke emih dan mamanya. Enok tadi makan makanan aneh, makannya pakai sumpit, padahal bukan sedang makan mie. Hihihi…
Akhir-akhir ini, karena orderan stiker dan pin berkurang, bahkan tidak ada, Enok jadi jarang kebagian jatah besar dari Sakola. Dan tadi siang saat Enok setor, kuberi dia jatah Rp 11.000. Enok bilang “kok banyak, Teh? Gak kelebihan?”. Lalu kujawab, “karena Enok hari ini setornya banyak, jadi dapatnya juga banyak.” Dan Enok tersenyum riang.

Enok banyak bercerita tentang cita-citanya padaku. Enok ingin sekolah terus, bahkan cita-cita khayalannya sih ingin jadi dokter karena Enok agak suka pada pelajaran Biologi. Hehe.. Tapi kadang semangatnya untuk sekolah surut lagi ketika Enok melihat kakaknya. Enok merasa tidak enak jika dia minta disekolahkan lebih dari SMP, karena kakaknya juga hanya disekolahkan sampai SMP.

Aku hanya bisa menyemangati Enok dengan beberapa kisah motivasi. Terselip harapan di benakku, aku ingin minimalnya Enok sekolah di SMK dekat rumah. Sayang kalau Enok tidak lanjut sekolahnya. Enok anak yang cerdas, Enok punya potensi. Aku yakin anak-anak seperti Enok ini jika diasah dan dikembangkan terus potensinya, kelak dia bisa jadi orang hebat. Selalu kukatakan ini pada Enok, “Enok pinter, Enok harus lanjut sekolah. Enok kan bisa cari uang sendiri. Enok pasti bisa bantu orang tua biayai sekolah Enok sendiri. Malah mungkin Enok bisa sekolah terus tanpa minta biaya dari orang tua. Enok harus yakin, Enok pasti bisa sekolah, Enok pasti bisa jadi orang sukses, Enok pasti bisa membanggakan orang tua dan keluarga Enok, Enok bisa jadi panutan buat adik-adik Enok!”

Perjuangan dan senyum syukur Enok mengingatkanku pada hidupku dulu. Saat aku baru benar-benar prihatin pada kondisi ekonomi keluarga dan baru benar-benar merasakan sulitnya mencari uang ketika duduk di bangku kuliah, Enok justru sudah memulainya sekarang saat dia masih kelas 9 SMP! Subhanalloh…

Lancarkan rizki Enok dan keluarga, Yaa Alloh… Lancarkan juga bisnisku, Sakola Printing dan Famysa Batik & Handmade, agar aku bisa membantu lebih banyak Enok-Enok lain. Aamiin…

By. Si Famysa, bismillaah sukses!

Sabtu, 14 Februari 2015

Duo Syifa

Kalau Maia Estianty punya Duo Maia, aku juga punya doong... "Duo Syifa" ahaha... -sekilas info-

Sekarang aku sedang buntu mau nulis apa. Mau nulis untuk giveaway atau lomba, otak mendadak buntu ide. Padahal sudah ditulis poin-poinnya untuk calon tulisan yang tadinya dijadwalkan ditulis sekarang. Tadinya mencoba untuk bertekad 'hajar saja, tulis saja!', tapi kok rasanya berkali-kali nulis kalimat aneh melulu ya. Satu kalimat, hapus, satu kalimat lagi, hapus lagi. Whoaa ya sudah lah. Mungkin keran di otakku, yang setiap hari kuminta ia untuk mengeluarkan ide sudah mulai lelah untuk hari ini. 
Maklum, kemarin habis gajian di Sakola Printing. Karena personilnya (owner) berkurang satu, jadinya aku harus menghitung-hitung dengan rumus baru. Lalu hari ini aku mendapat setoran dompet kulit (sisa barang jualan waktu masih kuliah) dan Mezora dari Bibiku. Untuk Mezora, aku pun harus setor lagi ke yang punya barangnya. Ditambah lagi aku harus menghitung-hitung uang bulanan yang bisa dibelanjakan -begini yaa kalau jadi IRT ternyata, pusying oge euy :P-. Hitung ini, hitung itu, habis deh dua jam buat hitung-hitungan. Sampai ngebul ini kepala. Duuh, pusying pala balbie deh ah. Haha...

Oh ya, hari ini aku main ke rumah temanku. Jalan menuju ke rumahnya jeleek sekali, tanah basah, becek, licin (padahal salah jalan). Sepanjang jalan itu, aku teriak-teriak pada Ibank minta turun. Ibank malah meledekku, "Syifa mau melahirkan? Kok ngeden-ngeden gitu. Hahaha". Huuu... Padahal kan aku takut. Aku selalu takut kalau lewat jalan jelek. Trauma pernah berkali-kali jatuh di jalan jelek. Hmm ada 4 kali mungkin yaa... Dan itu memalukan, bajuku kotor semua, berpadu dengan tanah yang seperti lelehan coklat.
Aku ke rumah temanku untuk mengantarkan pesanannya, cetak foto kolase 8R. Ngobrol-ngobrol sebentar, tidak sampai satu jam di sana, aku langsung pulang karena Sakola harus tetap buka.
Temanku sudah punya bayi. Baru 9 bulan usia bayinya kalau aku tidak salah hitung. Namanya sama dengan namaku, Syifa. Hihii... Senang sekali rasanya kalau ada orang yang terinspirasi dariku atau dari namaku untuk menamai anaknya. Dulu waktu aku SD juga pernah, wali kelasku menamai anaknya Syifa karena saking dekatnya si ibu denganku. Katanya supaya anaknya berprestasi kayak aku. Haha, gubraks! Padahal sekarang sudah gede mah nakal aku teh, gak sebaik waktu bocah dulu :P
Waktu Syifa junior masih bayi merah, belum ada 2 minggu. Aku takut menggendongnya. Lembek banget ternyata yaa bayi merah mah :O Salah-salah menggendong, bisa-bisa bayinya patah tulang -__- Jadi deh cuma gendong di bawah doang, gak berani ditimang-timang. 
Syifa junior sudah 9 bulan, sudah bukan bayi merah lagi. Hihii... Kenalin namanya Syifaul Hasanah :))
Sudah dulu yaa, aku mengantuk. Dadaah..... ^^

by. si Famysa, kapan yaa jadi mommy? :P

Selasa, 03 Februari 2015

Bertemu BoCir (Bocah Cirebon)

Hari Rabu lalu, Tian alias Bocir (Bocah Cirebon) main ke rumahku. Mmm bukan main sih, mampir lebih tepatnya. Habisnya sebentar sih -_- Jadi ceritanya Tian sekarang sudah jadi auditor di salah satu perbankan. Kantor tempat Tian bekerja sih di Cirebon, tapi karena posisinya sebagai auditor, jadinya Tian menclak-menclok ke sana-sini kerjanya, mengaudit kantor-kantor di desa. Wilayah auditnya sekitaran Cirebon, Indramayu, Majalengka, Subang. Dan dua minggu kemarin Tian tugas di Pusakajaya Subang. Kebangetan kan kalau gak main ke rumahku. Pusaka dan Cipunagara kan dekat, sejam doang. Wkwk... 
Tian adalah teman kuliahku, kami sejurusan dan sekelas. Mari kuperkenalkan yaa: 
Nama: Nurlia Septiani, Jurusan: Administrasi Publik Universitas Diponegoro Kelas A, NIM: 14020110120016
Nama: Syifa Azmy Khoirunnisa, Jurusan: Administrasi Publik Universitas Diponegoro Kelas A, NIM: 14020110120017
Ya, aku dan Tian absennya tetanggaan. Dia 16, aku 17. Dan aku baru tahu kalau di perkuliahan mah absen itu gak mengikuti huruf abjad depan nama kita. Baru pertama kali loh namaku ada di urutan ke-17. Biasanya sih urutan-urutan akhir. Hoho
Waktu kuliah, si Bocir ini ada-ada saja ulahnya. Sering kesiangan, sidang skripsi dengan santainya dia gak datang (karena dia kira dosen pembimbingnya tidak bisa hadir pada hari itu, dia kira jadwal sidangnya diundur, padahal Ibu Sekjur sudah mengupayakan mati-matian agar jadwal sidangnya tidak diundur), di kelas tidur, kalau cerita all out pisan. Hahaa pokoknya amazing deh tingkah bocah ini. 
Tian ke rumahku setelah tugas auditnya di Pusaka selesai. Dia sampai rumahku sekitar jam 4 sore. Sholat ashar, ngemil marshmallow dan pisang celup coklat sebentar, Tian sudah buru-buru ingin pulang. Hmm.. Maklum sih, memang sudah sore. Cuaca selalu mendung, jalan dari Cipunagara menuju Indramayu jelek pula. Kasihan dia kalau aku tahan-tahan pulang. Tian gak mau nginep siih. Keukeuh mau pulang saja ke Cirebon. Katanya besoknya dia harus tugas di Kuningan. Yaah.. mau gak mau deh kurelakan dia pulang. Padahal masih kangen banget.
Sekitar jam 8 malam, Tian mengabariku kalau dia sudah sampai. Katanya dia kapok lewat jalan Cipunagara-Haurgeulis yang bagusnya kebangetan :P, kapok juga motoran di Pantura malam-malam sendirian, kayak orang linglung jeh :D
Oh ya, Sabtu kemarin gantian aku yang main ke Cirebon. Sekalian ada keperluan ke rumah Mbak Dian di Plumbon, sekalian main ke rumah Ayu. Kami saling bercerita, saling mengenang masa-masa kuliah. Padahal baru 7 bulan lulus dari Undip, tapi rasanya kangeeen banget. Kangen sama kampus, kangen sama teman-teman kelas, kangen kehidupan Semarang, kangen kangen kangen semuanyaa deh...

Waktu berlalu begitu cepat. Kehidupan kami sekarang sudah berbeda. Bukan lagi hidup di dunia kampus, tetapi kini hidup di dunia sebenarnya yang butuh perjuangan untuk bertahan lebih keras dari kehidupan sebelum-sebelumnya.

"Tian, mau apa lagi setelah ini" --- "Beli mobil dulu ah yang unyu-unyu." --- "Kalau aku mau daftar haji dulu ah." --- "Aaaaaaamiiiiiin......." 
Begitulah. Obrolan kami sudah berbeda. Bukan lagi mengobrolkan skripsi dan kebaya wisuda. Hihihi... Kita sudah jadi wanita yaa, Tian :D

foto oleh Aa Ibank Sayang :*
lokasi: Jembatan Cipunagara-Subang

by. si Famysa, a woman :)

Sabtu, 10 Januari 2015

Honey Family Moon Trip

Hello, Mblo, selamat malam mingguan! :D *belagu yee Syifa mentang-mentang udah punya pacar (halal) :P --- yee biariin... pan ceritanye ngomporin biar temen-temen pade nikah mude juge kayak kite. bhahaha
look at the photo! payungnya gak karuan bentuknya -_-
Sehari setelah 'sah', kami pergi piknik ke Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu, Subang-Jawa Barat. Kenapa cepat-cepat piknik, padahal baru saja kemarin nikah, kan pasti masih ada tamu yang datang tuh? Karenaa... Niatnya piknik itu memang mau mengajak Mbak Muti plesiran di Subang. Masa Mbak Muti jauh-jauh dari Semarang buat dandanin aku, akunya gak menyuguhkan Subang pada Mbak Muti :). Sebelum Mbak Muti balik ke Semarang, sebelum Mbak Muti masuk kuliah lagi, mumpung masih libur, jadi deh hari Sabtu kami langsung cusss plesiran. Oh ya, FYI nih ya, Mbak Muti yang kemarin jadi MUA nikahan aku itu masih mahasiswa semester 5 di jurusan peternakan Undip looh.. Iya, semester 5! Tapi S-2. Rada-rada gak nyambung memang, kuliah di bidang A, keahlian di bidang Z. Ya sama kayak aku ini :P :D Kali saja ada yang mau kenalan sama Mbak Muti, nih aku kasih link FBnya lagi --> Nur Meutia <-- dan ini link FPnya --> Salon Jilbab Annisa <--.
foto ini berhasil bikin iri teman-teman yang belum menikah. haha peacee :D
Pagi itu, perasaanku agak aneh, agak risih, tiba-tiba saja ada laki-laki yang tinggal serumah denganku. Ya, belum tidur sekamar saja sudah merasa aneh. Haha -selama ada Mbak Muti, aku tidur dengan Mbak Muti, Ibank tidur dengan adikku :P-. Ah pokoknya aneh deh. Canggung kali ya... Walaupun dari SMP Ibank itu teman main bareng, tapi yaa ini mah posisinya sudah jadi suamiku. Jadi yaa tetap saja canggung, tetap saja tidak bisa disamakan dengan ketika jadi teman main :D.
Untungnya ada kakak sepupuku, Ace datang. Ace yang memang tidak hadir di acara akad nikah kami karena bekerja, menyempatkan datang pada hari Sabtu. Katanya subuh-subuh sudah start dari Cikampek. Hasilnya, pagi-pagi sudah nongol di pintu rumah deh. Lumayaan... Jadi bisa mencairkan suasana, rasa canggungku lumayan berkurang. Hehe..
Setelah sarapan dan bersiap diri, sekitar jam 11 kami berangkat dari rumah menuju Tangkuban Parahu. Sebenarnya kami bertujuh, berdelapan dengan supir. Ada aku, Ibank, Mbak Muti, Ace, A Ryan, Teh Nenden, dan baby Resty. Tapi di lokasi, A Ryan beserta istri dan anaknya malah memisahkan diri. Katanya sih mau ke tempat saudaranya Teh Nenden yang punya lapak di Tangkuban Parahu. Eeh sampai akhir malah pisah terus. Jadi gak ada foto bertujuh deh.
Ada yang menarik dalam perjalanan kami. Ketika kami memasuki wilayah kecamatan Ciater, hujan deras turun. Memang sih cuaca sudah mendung ketika kami masih di rumah juga. Sebelum Ciater pun, gerimis sudah mulai turun, langit selalu gelap. Kami pun galau dibuatnya. Yakin mau ke tempat outdoor di tengah cuaca begini? Kalau sampai di sana hujan tetap deras gimana? Mau berteduh dimana? Ah pokoknya berbagai pertanyaan yang membuat galau muncul. Sampai akhirnya muncul ide dariku untuk berganti tujuan, ke Capolaga! Supaya bisa berteduh dulu di rumah orang tua Teh Nenden yang memang dekat sekali dengan Capolaga. Ide itu muncul ketika kami sudah sampai perempatan Ciater. Ke kiri ke Pemandian Air Panas Ciater, lurus ke Tangkuban Parahu, kanan ke Capolaga. Jelas dong aku mendadak dangdut bilang ke supir belok kanan. Entah lah itu pak supir menyalakan sein tidak. Untung saja sedang agak macet, jadi tidak terlalu membahayakan. Hhoho *jangan ditiru.
Di jalan menuju Capolaga, muncul lagi ide untuk meneruskan rencana semula ke Tangkuban Parahu. Ada yang bilang, masa iya mau hujan terus, kalaupun hujan masa iya gak ada tempat berteduh, setidaknya sampaikan dulu langkah kita di sana, sudah di sana ya gimana di sana saja, mau diam berteduh saja kek, mau hujan-hujanan kek. And theen, mendadak dangdut kami belok kiri (ada jalan menuju jalan utama Ciater). Surprise! Di tugu pertigaan menuju jalan utama, ada mobil yang menabrak tugu, barusan! Kata pak supir, untung kita tadi belok kanan, kalau kita tetap lurus, bisa saja kita jadi penyebab mobil itu menabrak tugu, atau mungkin kita yang tabrakan dengan mobil itu. Aku jadi berkata, "alhamdulillah ya tadi Alloh ngasih kita galau dulu, ternyata mau ada musibah di depan kita. Ajaib memang ya Alloh itu :)". 
dikerjain sama cowok-cowok ini. disuruh fotoin aku sama Mbak Muti, malah fotoin payung & selfie -______-
Jalan menuju Tangkuban Parahu dari gapura masuk sampai lokasi maceeett banget. Maklum deh waktu itu hari Sabtu bertepatan dengan libur panjang natal dan liburan anak sekolah. Maju tak gentar lah! Macet pun hajar!
Di sepanjang jalan sambil macet-macetan, banyak sekali yang menjual jas hujan plastik warna-warni yang biasanya sekali pakai robek itu. Hoho.. Kami penasaran berapa yaa harganya. Biasanya kan cuma Rp 3.000 sampai R 5.000. Kalau mereka jual di sini Rp 10.000, wuiiih banyak sekali untungnya. Dan surpriseee! Sesampainya kami di lokasi, kami jadi tahu, ternyata harganya Rp 12.000, pemirsa. Gak tanggung-tanggung ya. Haha... Panen rejeki deh mereka :D Ace jadi terpikir untuk buka lapak 'ojek payung', karena kebetulan kami punya 4 payung; 1 payung pengantin (yang bahkan baru dibuka bungkus kadonya di mobil :|), 3 payung tersedia di mobil pinjaman kami. Alhamdulillah ya, yang punya mobil pengertian sekali. Hihii
hasil foto setelah ngomelin cowok-cowok
Hujan tidak terlalu deras. Kami bisa jalan-jalan ke sana-ke mari dengan berpayung ria. Tapi yaa tetap saja tidak bisa luwes, dinginnya itu loh yang membekukan langkah kami. Bandrek saja gak berarti apa-apa. Gak rekomen deh ya piknik ke Tangkuban Parahu di tengah hujan. Foto-foto juga jadi gak bebas, tangannya kaku sih. Hehe.. Payung pengantinku juga rusak karena terkena angin dari Kawah Ratu. Itu pas kami baru mau foto-foto di dekat pagar Kawah Ratu yang dekat tulisan Gunung Tangkuban Parahu, anginnya tiba-tiba wuuussh kencang banget. Payungku sampai terbalik. Jadi bengkok deh besinya, dan payungnya jadi lepek. Huhuu.. 
ki-ka: Ace, Mbak Muti, Ibank, aku
Besok harinya, aku update status di BBM begini 'payung pengantin rusak diterjang angin Kawah Ratu'. Lalu kapan hari, aku lupa, aku baca kabar Kawah Gunung Gunung Tangkuban Parahu aktif lagi. Dan kemarin, temanku, Aulia bilang sekarang status Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu waspada. 
Pantas saja waktu itu anginnya besar sekali ya. Bukan cuma payungku saja sih yang terbalik. Pengunjung lain juga banyak yang payungnya terbalik saat mereka mendekati pagar Kawah Ratu. Padahal di tempat yang agak jauh dengan pagar kawah, anginnya biasa saja, tapi begitu mendekati pagar, wuusssh anginnya swear deh menghempaskan cakrawala. 

Alhamdulillah Yaa Alloh, kami diberi kesempatan ke sana sebelum dia aktif. Semoga sekarang dia sudah tidur lagi ya. Aamiin :)    

by. si Famysa, a happy wifey :)

Rabu, 07 Januari 2015

Just Married; Cerita di Balik Layar

Kali ini aku sepakat dengan apa kata orang mengenai 'ujian menjelang nikah'. Katanya akan ada ujian yang luar biasa menguras emosi jiwa menjelang hari pernikahan. Ujiannya akan terasa berbeda dengan ujian di kala masih pacaran. Ujiannya kalau gak kuat-kuat amat menghadapinya mah bakal bikin pernikahan batal. Benarkah? -tanyaku, dulu-. Dan setelah aku melewati fase pranikah itu, dengan segala kejujuran dan kerendahan hati, aku menyatakan bahwa aku mengalami ujian itu.

Persiapan pernikahanku memang bisa dibilang express. Kira-kira di minggu ketiga bulan November, aku baru membicarakan tentang nikah dengan Bapaku. Entah ada angin apa, tiba-tiba Bapa mengijinkanku menikah, padahal sebelumnya terkesan menunda-nunda, mungkin maksudnya menunggu aku mapan secara finansial dulu. Aku langsung menyahut tawaran Bapa dengan menantang balik, 'oke kalau gitu nikahin Neng aja' --- 'Boleh. Kapan?' --- 'Bulan depan, Desember!' Dan Bapa, skakmat! 
Singkat cerita minggu depannya aku langsung meminta jadwal kosong Bapa untuk acara lamaran. Lalu tanggal 13 Desember lamaran sekalian menentukan tanggal pernikahan, dan langsung diputuskan tanggal 26 Desember sebagai hari pernikahannya. Kilat ekspres kan? Ada gak sih yang lebih kilat dari aku? Hhehe... Alhamdulillaaah niat baik kami dilancarkan jalannya oleh Alloh. Alhamdulillaah mimpiku untuk menikah maksimal di usia 23 tahun terwujud di usia 22 tahun :)
Di tengah kesibukan Sakola Printing yang memang sedang ramai-ramainya oleh anak sekolah yang mengerjakan tugas UAS & remedial, kami mencuri-curi waktu untuk mengurus persyaratan nikah. Mulai dari hari Senin tanggal 15 Desember, kami mendatangi KUA untuk menanyakan alur mengurus persyaratannya. Informasi yang kami dapat dari KUA adalah: urus surat pengantar nikah dari desa calon pengantin pria --> urus surat pengantar nikah ke KUA kecamatan tempat tinggal calon pengantin pria --> masukkan surat pengantar nikah calon pengantin pria ke desa calon pengantin wanita --> bawa berkas yang sudah siap ke KUA tempat menikah. 
Beres bertanya ke KUA, Ibank langsung ke kantor desa. Tapi, Pak Lurah tidak di tempat. Besoknya, Ibank ke kantor desa lagi. Surat sudah beres. Tapii... Biaya administrasinya sebesar Rp 150.000, setelah lempar tanya ke sana-ke mari antarpetugasnya. Ibank memutuskan akan mengambil surat itu besoknya lagi dengan alasan tidak membawa uang sebanyak itu. Hari Rabu, Ibank ke kantor desa lagi dengan bapaknya, dengan harapan akan dikasih murah kalau datang dengan bapak yang lumayan dikenal di desanya. Namun hasilnya? Apa coba tebak? Jadi Rp 100.000, berkurang Rp 50.000 doang.
Mungkin karena kesal pada pelayanan desa yang kebanyakan pungli, Ibank lantas update status di facebook, isinya kurang lebih pernyataan kekecewaannya, membandingkan antara seharusnya namun pada prakteknya tidak sama seperti yang seharusnya, dengan menyebutkan nama desanya. Maklum lah yaa namanya juga baru kelar Juni kemarin jadi mahasiswa, jadi yaa aura-aura kritis mahasiswanya masih nempel. Haha -Sayangnya status itu sudah dihapus jadi gak bisa aku capture-. Banyak sekali yang berkomentar di status Ibank itu, baik yang menyatakan sepakat, tidak sepakat, maupun yang memberi saran. 
Parahnya, kakaknya Ibank berkomentar menjelek-jelekkan desa tersebut dengan menyebutkan nama lurahnya pakai awalan 'si'. Tanpa disangka-sangka, muncul deh komentar yang katanya dia itu anaknya Pak Lurah, dia tidak terima bapaknya dijelek-jelekkan, apalagi di media sosial. Perang dunia deh tuh di statusnya Ibank. Zzzz...
Perang tidak berakhir di status. Orang yang katanya anak Pak Lurah mungkin melaporkan hal ini pada Pak Lurah. Sore harinya, kira-kira setelah maghrib, ada dua orang perwakilan desa Ibank yang datang ke rumahku untuk mengambil surat pengantar nikahnya Ibank. Katanya sih lupa dicopy. Waktu itu aku tidak mengerti apa-apa, aku belum tahu bahwa status itu membawa kericuhan sejauh ini. Kubilang saja pada dua orang itu, surat pengantar nikah sudah masuk ke desaku, sedang diproses. Dua orang itu keukeuh ingin mengambil suratnya, mereka bilang mereka mau ke Pak Amil desaku untuk mengambil lagi surat itu. Hmm... Aku yang belum mengerti iya saja lah, sambil keheranan.
Aku baru tahu permasalahan ini setelah keesokan harinya Ibank cerita padaku. Orang tua Ibank juga memarahi Ibank dan kakaknya. Aku juga sempat kecewa pada Ibank. Kubilang "nanti aja update statusnya kalau urusan kita udah kelar. Kalau gini ceritanya takutnya kita nanti malah dipersulit loh." -dan saat itu aku baru mengerti maksud dua orang perwakilan desa kemarin. bukan mau mengcopy, tapi memang mau menarik lagi surat itu-. 
Malam harinya, berbarengan dengan kunjungan mamahku ke rumahnya Ibank, ada orang utusan desa datang ke rumahnya Ibank. Orang itu membawa amplop berisi uang Rp 100.000 (uang bayaran administrasi surat pengantar nikah Ibank). Orang itu menyampaikan bahwa Pak Lurah tidak terima dengan status dan komentar Ibank dan kakaknya. Ibank sekeluarga harus minta maaf secara pribadi pada Pak Lurah jika ingin surat pengantar nikah diberikan lagi. Ulalaa... Gimana gak stres aku, segala ada kejadian begini -__-
Akibat kejadian ini, berkas surat nikah kami jadi lama sampai ke KUA. Sampai saat ini pun, kami sudah seminggu lebih menikah, buku nikah kami belum beres. Padahal kan biasanya pas nikah itu ya langsung tanda tangan buku nikah. Muehehe... Pengantin hebring lah ini mah :P
with my MUA, Mbak Muti
Oh ya, ada lagi yang sempat jadi masalah terkait urusan pendaftaran nikah. Biaya pendaftaran ke KUA di sini sebesar Rp 1.200.000 (terima beres, semua diurus oleh amil). Katanya sih untuk transportasi, konsumsi, ijin RT/RW, begituan deh. Padahal kata Ibank harusnya cuma Rp 600.000 kalau lokasi nikah di luar KUA, itu sudah termasuk transport, konsumsi, dll (sesuai UU perkawinan -aku gak tau UU nomor berapa tahun kapan. hehe :P-), malah kalau nikah di KUA itu bebas biaya alias gratis. 
Well, well, menurutku pribadi sih terserah lah berapa pun juga. Mungkin karena masyarakat di sini sudah terbiasa terima beres, jadinya ya angka segitu sudah lumrah, seolah sudah menjadi kesepakatan bersama. Setelah aku tanya kakak sepupu yang menikah di Cikampek-Karawang Oktober lalu pun, biayanya sama, Rp 1.200.000. Bagaimana di tempat kalian, Cems?

Ujian lain datang lagi, ada kesalahpahaman antara mamah, aku, dan orang tua Ibank. Ditambah Bapaku juga, masa Bapa lupa tanggal pernikahanku. Sekitar H-3, Bapa bertanya tanggal berapa acaranya. Dan H-2, Bapaku masih sibuk perjalanan dinas di Jogja, sedangkan hal-hal yang harus diurus itu banyak. Tenda, kursi, makanan belum pesan, susunan acaranya belum fixOMG! Ini sungguh pernikahan luar biasa. Hahaha... 

Alhamdulillaah Yaa Alloh... Kami bisa melewati berbagai ujian pranikah ini. Semoga ini adalah pertanda baik, semoga ini adalah suatu bentuk kasih sayang-Mu pada kami agar kami senantiasa mengingat-Mu kapanpun, dimanapun. Aamiin :)
NB buat para calon pengantin: Kritis lah di saat yang tepat dan di tempat yang tepat ;) :P

MUA & Bride Gown Set: Salon Jilbab Annisa by Nur Meutia
Photo Editing: Sakola Printing

by. si Famysa, a wifey ^^

Mijn Vriend