Tampilkan postingan dengan label Vacation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vacation. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Maret 2015

Dieng Plateau; Surga di Atas Awan

Surga di atas awan; istilah ini identik dengan keindahan di puncak gunung, identik dengan kegiatan mendaki gunung, ketika sudah bercapek-capek ria mendaki, ketika sudah berada di puncaknya, di sana lah surganya. Tapi kini tidak lagi! Surga di atas awan bukan hanya milik para pendaki, yang benar-benar mendaki dengan berjalan kaki. Surga di atas awan kini bisa kita datangi, tanpa harus mendaki dengan kaki. Surga di atas awan itu bisa dikunjungi oleh ibu hamil, bahkan manula sekalipun. Dimanakah surga di atas awan itu?

DIENG PLATEAU (dataran tinggi Dieng); ini lah surga di atas awan itu! Surga yang bukan hanya milik para pendaki.

Tiga hari lagi setelah hari ini, tepat satu tahun yang lalu, aku dan teman-teman melakukan perjalanan ke Dieng Plateau. Hari itu kami berangkat kesiangan, pukul 10.30 WIB, dari rumah kontrakanku di Semarang. Sebenarnya agak berat untuk berangkat, makanya kami jadi kesiangan karena. Tapi karena sudah direncanakan jauh-jauh hari, apalagi teman-teman dari Subang sengaja jauh-jauh ke Semarang, jadi lah kami berangkat. Dengan berbekal cemilan dan sebagian dari kami masih car-leg Subang-Semarang, demi menikmati hidup, Dieng Plateau telah menjadi tujuan!

Jalur berangkat yang kami pilih adalah via Kabupaten Kendal. Lengkapnya Semarang-Kendal-Temanggung-Wonosobo/Banjarnegara-Dieng. Alasan kami memilih jalur ini adalah karena salah seorang dari kami ada yang pernah ke Dieng melalui jalur ini. Kami pikir setidaknya dia bisa jadi penunjuk jalan.

Dari Semarang, ada dua jalur menuju Kendal, yaitu via tol yang keluar di Ngaliyan atau via Kecamatan Gunung Pati. Kami memilih via tol untuk menghindari jalan jelek dan sepi di daerah Gunung Pati. Setelah keluar tol, kami melaju ke arah Selatan. Semakin mendekati perbatasan Kabupaten Kendal, ternyata jalannya semakin jelek dan berlubang. Tiba waktu duhur, kami masih ada di daerah Kecamatan Patean-Kendal. Kami sholat dan makan siang dulu di sana.

Memasuki perbatasan Kabupaten Temanggung, teman kami yang kami anggap penunjuk jalan lupa harus belok dimana. Kami jadi harus meminta bantuan pada GPS. Beruntung GPS masih bisa menyala di tengah kawasan yang sepertinya blacklist, hehe.. Kami pun terus mengikuti petunjuk dari GPS yang bisa bicara itu. Dia bilang belok kiri, kanan, kami menurut saja. Masuk jalan yang super kecil, naik-turun pun, kami hanya bisa menurut padanya.

Akhirnya…. Ketika guide GPS menyuruh kami belok kanan, kami bahagia bukan kepalang karena kami bertemu dengan jalan raya, jalan utama menuju Dieng Plateau. Kami sudah tinggal mengikuti jalan utama saja, GPS pun kami matikan.

Sepanjang perjalanan, semakin mendekati kawasan Dieng Plateau, alam menyajikan begitu banyak keindahannya. Posisi kami semakin tinggi. Jalanan menuju Dieng Plateau naik dan terus naik, berbelak-belok. Bagi teman-teman yang punya penyakit mabuk perjalanan, sepertinya harus sedia selusin kantong kresek *peace :P. Tapi sungguh, bagi teman-teman yang dapat menikmati keindahan alamnya, segala penat di hati dan pikiran akan hilang! Teman-teman tahu? Di sana, di perjalanan menuju Dieng Plateau, semakin kita berada di atas, ketika kita melihat ke bawah, kita akan merasa seperti berada di atas awan. Di bawah kita terhampar kabut-kabut putih yang menyejukkan. Di samping kanan dan kiri kita terhampar luas hijaunya alam. Ah, ini benar-benar perjalanan menikmati hidup.
Setibanya kami di gapura Kawasan Dieng Plateau, kami sudah tidak sabar ingin menikmati indahnya wisata Dieng. Namun, ada yang membuat kami harus bersabar dahulu. Kami terjebak macet selama 2 jam. Well, beruntungnya karena macet tersebut, kami jadi bisa keluar dari mobil untuk menghirup udara Dieng. Kami juga bisa berjalan-jalan di sekitarnya, bisa foto-foto juga. Anggap saja itu sebagai sambutan selamat datang dari Dieng, hihi..

Kurang lebih pukul 16.00 WIB, akhirnya kami sampai di area wisata Dieng. Hari sudah sangat sore, tidak mungkin kami langsung kembali ke Semarang. Kondisi teman kami sang supir juga capek. Akhirnya, yang tadinya kami tidak berencana bermalam di Dieng terpaksa harus bermalam di sana. Yaa, suatu keterpaksaan yang menyenangkan. Kami jadi bisa lebih lama menikmati hidup. Kapan lagi coba bisa ke Dieng bersama teman-teman dekat, hehe.. Walaupun tidak membawa banyak uang dan baju ganti :P

Dengan informasi yang kami peroleh dari penjaga loket tiket, kami mendapatkan home stay seharga Rp 400.000/malam. Harganya mentok, tidak bisa ditawar lagi. Kami lebih memilih home stay daripada kamar penginapan yang harga per malamnya Rp 150.000, kamarnya kecil. Sedangkan untuk tiket terusan wisata Dieng (Candi Arjuna+Kawah Sikidang) adalah seharga Rp 25.000. Penjaga loket bilang, tiket terusan itu juga bisa berlaku untuk Telaga Warna, kita hanya tinggal membayar Rp 3.000 saja, dari harga normal weekday Rp 7.500.

Dieng Plateau merupakan kawasan dataran tinggi yang masuk ke dalam dua kabupaten, yaitu Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara. Letaknya berada di sebelah Barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, sehingga kedua gunung itu dapat terlihat di sepanjang perjalanan Dieng sampai Temanggung. Dieng adalah kawasan vulkanik aktif dan dapat dikatakan sebagai gunung api raksasa dengan beberapa kepundan kawah. Tidak salah jika banyak wisata pendakian gunung di sekitar Dieng, karena Dieng adalah gunung api raksasa dengan beberapa puncak gunung.

Tempat pertama yang kami kunjungi sore itu adalah Telaga Warna. Konon katanya telaga ini warnanya bisa berubah-ubah, makanya dinamai Telaga Warna. Namun yang paling umum kita dapati ya warna hijau. Seperti waktu kami ke sana, warnanya hanya hijau, tidak ada warna lain. Dan pemandangannya subhanalloh luar biasa… Mata kami sungguh dimanjakan.

Selain Telaga Warna, ada banyak telaga lainnya di sekitarnya. Ada sih penunjuk jalannya, namun ketika kami susuri jalan itu, kami terbentur oleh jalanan yang becek. Sepertinya telaga lain di sekitar Telaga Warna belum mendapat perawatan yang baik, tidak seperti Telaga Warna. Jika kalian nekat mendekati telaga lainnya, silakan saja. Berani kotor kan baik ya, hehe..

Selepas menikmati keindahan Telaga Warna, kami langsung pulang ke home stay. Tidak ada acara nongkrong atau ngerumpi malam, apalagi begadang. Kami sudah terlalu capek. Kami semua langsung tidur setelah sholat isya. Bahkan kami yang rencananya ingin ikut pemandu wisata menyaksikan sunrise dari desa tertinggi Dieng, mendadak melupakan rencana itu. Hahaha… Habisnya berangkatnya jam 3 pagi. Jelas kami masih mengantuk. Kami hanya berjalan-jalan di sekitar home stay selepas sholat subuh, hingga akhirnya kaki kami sampai di Kawah Sikidang. Lumayan, olahraga pagi di tempat dingin tidak terasa capek, hihi..

Di perjalanan menuju Kawah Sikidang, kami menemukan Candi Bima. Kami foto-foto sebentar di sana, lalu melanjutkan langkah kami. Mendekati area Kawah Sikidang, kami melihat ada pipa panjang sekali. Di pipa itu terbaca uap panas. Dan memang ada uap yang mengepul keluar dari pipa yang sepertinya sedikit bocor. Kami melewati pipa itu, dan tak lama, di depan kami adalah Kawah Sikidang. Dari jauh, kami sudah bisa mencium bau belerang. Seperti belerang pada umumnya, bau kentut. Hahaa… Siapa hayoo yang kentut pagi-pagii?? :D
Puas berjalan-jalan di sekitar Kawah Sikidang, sempat kami naik mini bukit di sana juga, kami bergegas pulang ke home stay agar bisa segera mengunjungi tempat berikutnya: Candi Arjuna. Di perjalanan pulang dari Kawah Sikidang menuju home stay, kami bisa melihat pohon papaya carica khas Dieng. Pohonnya mini, buahnya lucu. Hihiii… Seperti miniatur pohon papaya normal.

Sesampainya di home stay, kami disuguhi sarapan teh hangat dan gorengan oleh pemilik home stay. Hmm… Enaknya… Hangat-hangat di tengah dinginnya Dieng, benar-benar menikmati hidup :). Kami juga jajan sosis bakar dan es warna-warni dari pedagang yang lewat di sekitar home stay. Jajanan anak kecil. Hihi… Dan rasanya makan es di tengah dinginnya Dieng ituuu, brrrr makin dingin!

Sayangnya, kami tidak bisa berlama-lama di home stay. Kami harus bersegera siap-siap pulang ke Semarang. Masih ada destinasi wisata lain di Semarang yang ingin kami kunjungi, dan juga kami mengantisipasi jika terjebak macet lagi. Lebih baik pulang lebih awal daripada sampai Semarang kemalaman. Kasihan teman kami sang supir satu-satunya, yang tidak ada gantinya.

Sebelum benar-benar meninggalkan Dieng, kami mengunjungi Candi Arjuna dulu. Walaupun hanya sebentar, walaupun rasanya tidak puas, tapi kami anggap perjalanan ini cukup memanjakan kami. Kami bisa menikmati hidup, menikmati masa muda, menikmati indahnya alam Indonesia.

Lalu bagaimana jika aku mendapatkan tiket wisata ke Bali gratis? Apalagi bisa berdua dengan suamiku.. Waah… Sepertinya catatan perjalanannya akan lebih mengasyikan daripada ini. Semoga Tiket.com dan nulisbuku.com berbaik hati memberikan tiketnya padaku, hihi… Aamiin… ^^
Jurnal ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Jurnal Perjalanan dari Tiket.com dan nulisbuku.com #MenikmatiHidup #TiketBaliGratis 

Selasa, 10 Februari 2015

Surga di Atas Pantai Kuta

Surga di atas Pantai Kuta; rasanya ungkapan ini tidak berlebihan. Memang ada surga di sana. Surga dunia. Surga bagi penikmat wisaha bahari, surga bagi penikmat tempat romantis, surga bagi penikmat tropisnya pantai Lombok.
Awalnya kukira pemandu wisata keliru menyebutkan "sekarang kita akan menuju Pantai Kuta." Namun ternyata aku yang keliru. Pantai Kuta tidak hanya ada di Bali. Di Lombok pun ada, tepatnya di Desa Kuta, Kecamatan Pajut, Kabupaten Lombok. Pantai Kuta Lombok bahkan berkali-kali lipat jauh lebih indah dari Pantai Kuta Bali. Suasananya benar-benar masih asri. Pantai Kuta terlihat lebih tenang dan lebih hangat. Tidak seperti Pantai Kuta Bali yang ramai dan sesak oleh manusia.
Pasir putih Pantai Kuta berbeda dengan pasir putih di Gili Trawangan. Jika disentuh, seperti bukan pasir, tidak halus seperti pasir biasanya. Melainkan seperti serpihan-serpihan kecil batuan karang. Bulat-bulat kecil seperti mute. Tidak usah takut bermain pasir di Pantai Kuta karena pasir seperti mute itu tidak akan mengotori tangan dan kaki kita. Sekali dikibaskan, pasir itu akan langsung luruh dari tangan kita. Pun jika menempel di kaki, kita cukup mengusapnya saja, pasir seperti mute itu akan berjatuhan. Pasir itu mengingatkanku pada pasir di Pantai Kukup, Gunung Kidul Yogyakarta. Mirip-mirip seperti pasir Pantai Kukup.
Bebatuan yang terhampar di Pantai Kuta bak wahana permainan bagi para pengunjung. Para pengunjung dapat menikmati sensasi berjalan di bebatuan dengan pijatan air Pantai Kuta yang menyapa. Terus berjalan sampai hamparan bebatuan paling ujung, para pengunjung dapat berpose cantik di sana dengan latar belakang laut lepas dan pulau-pulau kecil yang terlihat, kemudian mengabadikannya dengan kamera. Atau sekedar berpose di depan bebatuan yang tinggi. Apapun latar belakangnya, foto pasti terlihat indah.
Ada yang menarik waktu berkunjung ke Pantai Kuta. Anak-anak penjual gelang-gelangan. Mereka menawarkan dagangannya dengan cara yang agak tidak biasa. Bisa dibilang seperti agak mengemis. Bahkan kata-kata penawaran mereka terdengar seperti sarkasme. "Mbak, beli gelangnya, Mbak.. Satu saja.. Buat uang jajan saya." Kemudian jika kita lama tidak merespon atau bahkan menolak, anak-anak itu akan menjawab, "Oh gitu ya.. Jalan-jalannya ke Kuta tapi beli oleh-oleh gelangnya di toko ya." Hmm... Mungkin panasnya cuaca di Lombok mempengaruhi tumbuh kembang mental anak-anak juga ya.
Satu pertanyaan yang ada di benakku, mengapa namanya sama-sama Kuta seperti pantai di Bali? Dengan magnet yang dimiliki Bali, tentu saja orang awam sepertiku akan lebih familiar dengan Pantai Kuta Bali yang sudah tersohor ke mancanegara.

Diluar dari anak-anak penjual gelang-gelangan dan nama yang sama, Pantai Kuta Lombok tetap sangat indah. Keindahannya tidak akan berkurang sedikit pun walaupun ada lebih banyak anak-anak penjual gelang-gelangan itu, atau bahkan ketika tidak ada seorang pun yang tahu bahwa di Lombok juga ada Pantai Kuta. Biarkan Pantai Kuta Lombok tetap menjadi surga. Surga yang hanya akan dikunjungi oleh orang-orang yang bertakdir dengan surga.

NB: artikel ini dan artikel Gili Trawangan; Maldives-nya Indonesia aku tulis untuk lomba Copa de Flores - Adira Faces of Indonesia, setahun yang lalu. alhamdulillah lolos sebagai 24 besar dari ribuan peserta :) 

by. si Famysa, beach lover!

Minggu, 08 Februari 2015

Gili Trawangan; Maldives-nya Indonesia

"Sekarang aku sudah tidak berkeinginan bulan madu ke Maldives. Ternyata di sini juga ada tempat seindah Maldives," ujar temanku ketika kami baru saja sampai di Gili Trawangan, Lombok. Semilirnya angin, hangatnya matahari, birunya laut dan langit, hamparan pasir putih, semua keindahan bahari Indonesia terangkum di sana.
Gili Trawangan terletak di sebelah Barat Laut Lombok. Berjejer cantik dengan dua gili lainnya, yaitu Gili Meno dan Gili Air. Berdasarkan bahasa penduduk setempat,  gili itu sendiri artinya pulau kecil. Jadi kita tidak perlu lagi menambahkan kata 'pulau' di depan Gili Trawangan. Seperti ketika kita menyebutkan Fuji Yama, kita tidak perlu lagi menambahkan kata 'gunung' di depannya. Karena 'yama' berarti gunung dalam bahasa Jepang.
Diantara Gili Meno dan Gili Air, Gili Trawangan merupakan gili yang terbesar. Fasilitas wisata di sana cukup lengkap. Berbagai penginapan dan restoran, tempat ibadah, fasilitas selam, snorkeling, perahu wisata, kapal bermotor antarpulau, semuanya ada. Disediakan juga persewaan sepeda dan cidomo -semacam delman- untuk wisatawan yang ingin berkeliling Gili Trawangan. Sedangkan kendaraan bermotor tidak tersedia di sana, karena tidak diijinkan oleh aturan lokal. 
Berbeda dengan Maldives yang bentuk pulaunya memanjang, Gili Trawangan bentuk pulaunya membentuk sebuah lingkaran. Sehingga jika dilihat dari udara, Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili air terlihat seperti tiga titik bulat yang berjejer cantik di tengah lautan.
Banyak sekali turis asing di Gili Trawangan. Sekilas terlihat lebih banyak turis asing daripada turis lokal di sana. Mereka sekedar berjemur sambil mengobrol santai, bersepeda sambil bersenda-gurau, atau menikmati pemandangan sambil menyantap hidangan di restoran.
Penduduk Gili Trawangan kebanyakan adalah pendatang dari Sulawesi, bukan orang Lombok atau NTB asli. Konon katanya dulunya Gili Trawangan ini dihuni oleh narapidana. Karena penjara waktu itu sedang penuh, maka Gili Trawangan menjadi tempat pembuangan narapidana. Waah, enak sekali ya narapidana jaman dulu, dibuangnya ke Maldives versi Indonesia. Sepertinya semua orang juga mau jika dibuang ke tempat seindah Gili Trawangan. Apalagi jika sudah mempunyai pasangan, serasa bulan madu setiap hari. Tempat seromantis Gili Trawangan, siapa yang tidak ingin ke sana?

NB: artikel ini aku tulis untuk lomba Copa de Flores - Adira Faces of Indonesia, setahun yang lalu. alhamdulillah lolos sebagai 24 besar :)) Sebenarnya ada 2 artikel yang aku kirimkan waktu itu. Satu laginya kapan-kapan nyusul. Hehe

by. si Famysa, traveler wannabe

Sabtu, 01 Februari 2014

Lorong Itu & Kain Tenun Lombok

Hola, February! How are you? Do you still with your color, pink? :)
And how are you too, friends? Do you still with your hobby, reading and blogging? :)
in this post i will show you my new creation with kain tenun Lombok. Are you ready open your eyes in this morning to read this guys? Hihihi *tumben ini teh si aku lagi kerajinan, pagi-pagi begini sudah buka PinkQ buat ngeblog.
Tebak-tebakan yuuuk! Dimana lokasi foto-fotoku ini hayoo? Yang bisa nebak dan tebakannya benar, aku kasih kue keranjang rasa coklat deh. Tapi syarat dan ketentuan berlaku, ambil sendiri sini kue keranjangnya :P *pagi-pagi nyebelin gini ya. Hahaa 
Jadi ceritanya hari Selasa kemarin (28 Januari 2014), aku ke Magelang untuk mengurus surat ijin penelitian skripsweet diantar oleh Ibank. Kami berangkat dari Jogja, karena memang dari hari Minggu kemarin aku sudah berada di Jogja. Padahal niat awalnya sih aku akan ke Magelang sendiri pas hari Senin. Tapi batal gara-gara akunya asyik main sama Dea yang sedang liburan di Jogja dengan rombongan kantornya. Kan waktu yang langka banget bisa main lagi sama Dea setelah terpisah pasca lulus SMA, dan memang baru bisa bertemu lagi kemarin! Aku jadi kesiangan ke Magelangnya deh. Hehehe
Ya sudaah jadi lah aku ke Magelang diantar oleh Ibank, kebetulan hari Selasa adalah jadwal libur kerjanya. Padahal sih niat awalnya hari Selasa mau dijadikan quality time main sama Ibank saja. Main seharian sambil foto-foto. Eeh batal lagi gara-gara hari Selasa harus menggantikan hari Senin. Daripada batal juga foto-fotonya, akhirnya aku mendapat ide untuk sekalian foto-fotonya di Magelang saja. 
Di perjalanan menuju Kantor Kesbang Kabupaten Magelang, aku tengok kanan-kiri untuk mencari tempat yang pas buat foto-foto. Ada siih, nemu. Tapi lagi-lagi batal. Hihihi... Karena surat perijinan sudah beres sebelum masuk waktu lohor, akhirnya aku memutuskan untuk langsung pulang ke Jogja saja, foto-fotonya di Jogja saja. Lalu Ibank mengajakku ke tempat ini. Dimana hayoo inii? :D
Sudah sejak lama aku ingin ke tempat ini. Namanya sudah lama nangkring di sticky notenya PinkQ. Bahkan aku hampir melupakannya. Ibank tiba-tiba mengajakku ke sini. Ah dasar jodoh ya. Walaupun sempat terlupakan juga tetap saja akan dipertemukan *edisi curhat pagi-pagi :P Dan setelah aku menginjakkan kaki di tempat ini, aku tersenyum ketika melihat must visit listku di sticky note. Ada daftar yang akan kuhapus. Dia adalah Taman Sari Jogja :)
Kami sampai di Taman Sari sekitar pukul setengah tiga sore. HTMnya Rp 4.000/orang. Pertama memasuki benteng, aku disambut oleh kolam yang dulunya adalah tempat pemandian keluarga kerajaan. Persis seperti yang kulihat di foto-foto koleksinya Mbah Google. Sayangnya karena kami datang kesorean, kami jadi tidak sempat kembali lagi ke kolam itu untuk berfoto di sana. Awalnya mau berkeliling dulu sambil mencari titik yang bagus untuk foto. Tapi apa daya, waktu yang kami punya tidak cukup lama.
Dulu kukira di Taman Sari hanya ada kolam dan lorong, seperti yang sering kulihat gambarnya. Ternyataa... Taman Sari adalah desa wisata. Komplek Taman Sari luas sekali. Tidak cukup untuk mengelilinginya dalam waktu dua jam saja. Aku banyak melihat rumah-rumah di komplek Taman Sari sebagai rumah seni. Ada yang sedang membatik, ada pajangan batik, lukisan, kaos-kaos Jogja handmade, dll. Betah deh mata memandangnya. Andai saja kemarin waktuku lebih lama. Hmm...
Saking singkatnya waktu yang kami punya, kami bahkan tidak bisa menemukan lorong yang sering kulihat di Mbah Google ituu.. Iya lorong yang itu looh... Duuh susah menjelaskannya. Pokoknya yang itu saja lah. Hahaa... Semoga lain waktu aku bisa ke sana lagi untuk mengeksplor Taman Sari lebih banyak. Dan tentunya untuk menemukan lorong itu :P Kan kurang asyik nih cuma bisa foto-foto di beberapa titik doang ~.~

Rok yang kupakai berbahan kain tenun Lombok. Karena tenun jadi agak mahal dari harga batik Famysa biasanya ya :D
Harganye Rp 200rebu (free ongkir daah buat sobat yang di Indonesia :))
Modelnya sengaja kubuat sederhana agar ongkos jahit tidak terlalu mahal. Kainnya kan sudah mahal. Bisa-bisa tambah mahal kalau modelnya yang agak rame. Hehehe
Mauu? Sms/line kemari aja yaa --> 08997185407, atau mention twitterku --> @famysa_ ;)
Dan gak ketinggalan, di Famysa, sobat bisa #SambilOrder #SambilBeramal. Agar belanja tidak hanya mengeluarkan uang untuk belanja, tetapi juga mengeluarkan uang untuk beramal ^^

See you guys... Tunggu foto-foto Famysa selanjutnya yaa :)

fotografer: Ibank
lokasi: Taman Sari, Yogyakarta
Need review for your product in this blog? Call me as soon as possible... ;)

by. si Famysa ;)

Rabu, 22 Januari 2014

Wisata Mangrove dan Teluk di Pantai Cirewang

This is it... Subang proudly present: Cirewang Beach :)
wisata mangrove di river trip menuju Pantai Cirewang
Di tengah duka cita pemberitaan media tentang kampung halamanku yang tergerus banjir, ijinkan aku yang berada nun jauh di Semarang sini mempersembahkan salah satu keindahan alam yang dimiliki Subang. Salah satu keindahan alam yang mungkin saat ini tertutup keindahannya oleh luapan air. Pray for Subang, pray for Indonesia... Semoga banjir cepat berlalu.. Semoga segala bencana cepat berlalu.. Aamiin...
Teluk Cidaon
Pantai Cirewang; namanya pertama kali aku baca di salah satu akun twitter yang berisi pemberitaan mengenai Subang. Katanya doi adalah pantai baru. Yaa memang aku juga baru mendengar namanya akhir-akhir ini. Karena setahuku di Subang cuma ada dua pantai, Pantai Pondok Bali dan Pantai Patimban. Dan beberapa waktu yang lalu, tepatnya hari Kamis, 26 Desember tahun lalu -hohoho- aku, IbankWelly, dan Syiha mendadak mendamparkan diri di Pantai Cirewang.
Pantai Cirewang
Jadi ceritanya setelah hunting foto Ki Tambleg di Perum Sang Hyang Seri Ciasem, mengingat hari masih cukup terang, sekitar pukul 14.30-an WIB, tiba-tiba saja di perjalanan pulang terpikirkan untuk main-main dulu. Main kemana? Itu yang kami pikirkan sepanjang perjalanan pulang ketika masih berada di Jalur Pantura. Setelah diskusi singkat, mempertimbangkan ini-itu, akhirnya kami memutuskan untuk main ke Pantai Pondok Bali. Dari Pamanukan, kami banting setir ke kiri jalan, ke arah Pantai Pondok Bali. Sambil meraba-raba jalan, kami terus mendekati Pantai Pondok Bali.
ki-ka: pantai, teluk - hanya dipisahkan oleh daratan kecil
Di perjalanan menuju Pantai Pondok Bali, sekilas aku melihat ada baligho bertuliskan Pantai Cirewang. Tapi awalnya aku tidak bisa membaca dengan jelas apa yang tertulis di baligho itu. Kemudian aku ingat, aku pernah membaca info mengenai pantai baru di dekat Pantai Pondok Bali. Eeh setelah aku menceritakan pantai baru yang aku lupa namanya itu, aku menemukan baligho yang bertuliskan Pantai Cirewang lagi. Kali ini terbaca jelas. Kubilang, "Naah itu tuuh, Pantai Cirewang!" Mobil terus melaju... Hingga akhirnya di suatu pertigaan. Lurus: Pantai Pondok Bali, 4 Km, kanan: Pantai Cirewang, 7 Km.
dermaga Teluk Cidaon
Kami mulai galau. Ke Pantai Pondok Bali sesuai dengan rencana awal atau banting setir ke Pantai Cirewang. Dengan keputusan kilat, akhirnya Pantai Cirewang lah yang kami pilih. Alasannya karena aku tahu bahwa Pantai Cirewang ini adalah pantai baru yang konon katanya belum terjamah, tidak seperti Pantai Pondok Bali yang sudah kotor di sana-sini, tidak terawat. Belok kanan lah kami... Menempuh 7 Km perjalanan selanjutnya. Yang kemudian disuguhi oleh indahnya jalan becek, rusak, setapak, dan berlumpur. Maknyus deh jalannya. Hehehe...
mangrove di Pantai Cirewang
Sesampainya di Kampung Cirewang, kami kebingungan. Pantainya manaa? Selidik punya selidik, ternyata untuk menuju ke pantai harus ditempuh dengan perjalanan menggunakan perahu menyusuri sungai. Pantas saja... Kupikir kami tersasar :D Biaya perahunya Rp 15.000/orang (PP, unlimited time, ditunggu sepuasnya). Lumayan kan, murah biayanya.. Apalagi setelah tahu dengan perahu itu kami akan diajak berwisata mangrove dan wisata teluk. Beuuhh 15.000 itu mah gak ada apa-apanya. Wisata pantai yang unik, harus naik perahu dulu melewati sungai. Belum lagi pemandangan mangrovenya di sepanjang sungai sampai pantai yang memanjakan mata. Sejauh yang pernah kualami, mana ada pengalaman seperti ini di pantai lain... ;)
mangrove di Pantai Cirewang
Sepanjang perjalanan menyusuri sungai, kami disuguhi oleh pemandangan mangrove yang berjejer cantik. Makanya kukatakan ini adalah wisata mangrove. Sungai yang harus kami lalui lumayan panjang. Kami membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit menggunakan perahu untuk sampai ke Pantai Cirewang. Aku jadi dejavu, ingat waktu KKL ke Bali dan Lombok bulan Mei tahun lalu, setiap hari perahu-perahuan mulu, jadinya rada enek sama perahu *eh *oops :P But it was different! Ini adalah pengalaman berbeda di tempat dan waktu yang berbeda. Karena sejatinya manusia memang tidak bisa mengulang sejarah kan ;) Kecuali kalau kamu penganut paham reinkarnasi.
Sungai pun berlalu. Di hadapanku sudah tersaji hamparan air yang luas membentang. Kupikir kami akan berujung di muara, kemudian ke pantai. Ternyata di sana kami dipertemukan dengan teluk. Lucunya, aku dan Welly sempat ketakutan, "dimana inii?" Hahaha... Padahal teluk, bukan laut. Pantas saja airnya tenang :D Teluk itu bernama Teluk Cidaon. Dari teluk, kami mendarat langsung di pasir Pantai Cirewang. Konon pasir pantai itu adalah tanjung yang dulunya belum terbentuk. Dulunya tidak ada daratan itu. Jadi antara pantai dan teluk dulunya bersatu, dulunya mereka adalah laut, bukan pantai dan teluk. Daratan itu mulai terbentuk sejak tahun 2000-an. Waah keren yaa, subhanallah :))
Teluk Cidaon
Oh ya, Pantai Cirewang ini terletak di Kampung Cirewang, Kecamatan Legonkulon, Subang. Jadi sudah bukan termasuk wilayahnya Pamanukan lagi. Pantai Cirewang terletak di antara Pantai Pondok Bali dan Pantai Patimban, yang kesemuanya berada di tiga kecamatan berbeda.

Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di sana karena langit sudah mulai mendung. Dan iya saja, di perjalanan pulang, kami kehujanan, deras sekali. Aku dan Welly bukannya sibuk menyelamatkan diri dari hujan, malah sibuk menyelamatkan kamera. Hahaha :P 
Dadaah Cirewang... Kami harus pulang... See you next time ;)

Jadi... Gimanaa? Apa kabar Pantai Cirewang dan Teluk Cidaon? Semoga kalian diselamatkan dari bencana banjir yang menghampiri. Doakan sama-sama yuuk untuk Subang dan Indonesia....!! Al-Faatihah...  ^^

by. si Famysa, amateur traveller

Jumat, 17 Januari 2014

National Conference on Disability Awareness

See! Ini draf jaman kapan? Hehehe... Bahkan ketika teman-teman blogger berlomba-lomba menuliskan resolusi 2014nya, aku malah sama sekali mengabaikannya. Ucapan happy new year pun cuma kulakukan di twitter :P Tapi bukan berarti aku tidak punya resolusi atau melupakan gegap-gempita tahun baru ya... Aku hanya... Hmm... Bisa dibilang agak sedikit sibuk. Maap, maap :))
Dan sekarang, mumpung masih ada di detik-detik terakhir hari ke-17 di tahun 2014, gak ada salahnya kan kalau aku mengucapkan SELAMAT TAHUN BARUUU 2014!! Semoga segala harap dan mimpi yang belum sempat terwujud di tahun-tahun sebelumnya dapat terwujud di tahun 2014 ini. Dengan begitu berarti kita tergolong ke dalam orang-orang yang beruntung. Aamiiin... ^-^  
Yuk mari kembali ke laptop!
Jadi, tanggal 7-8 Desember 2013 lalu, aku melancong ke Jakarta untuk mengikuti acara ini, NCDA; National Conference on Disability Awareness, bersama Azizah si bocah Priuk. Sebelumnya aku sempat menuliskan cerita perjalanan tersebut di postingan ini --> Lika-liku Anak Gaul Jakarta --> monggo dibaca :)
Latar belakang aku mengikuti acara ini adalah karena ajakan Zizah. Karena mager di Semarang, sedangkan revisian skripsiku mangkrak di meja dosen pembimbing, otomatis aku langsung mengiyakan tawaran Zizah. Alhamdulillahnya formulir pendaftaranku diterima oleh penyelenggara acara. Padahal entah aku suka atau tidak mengenai disabilitas, entah bagaimana acaranya, yang penting aku bisa pergi dari Semarang, pikirku waktu itu. Pun kalau formulirku tidak diterima, aku akan tetap ikut pergi ke Jakarta untuk pulang ke Cikampek. *devil mind, Hahaha... 
Aku masih belum tahu apa yang aku ingin dapatkan dari acara NCDA itu bahkan ketika aku sudah sampai di Jakarta. Aku sama sekali tidak belajar, sama sekali tidak mempersiapkan apapun mengenai acara tersebut. Apa yang akan dibahas dalam konferensi, ikuti saja lah.. Aku berjodoh dengan paralel (diskusi) mengenai pekerjaan pun, ikuti saja lah. Yang penting ilmunya. Aku tidak menggebu-gebu harus bertanya, harus aktif atau apa lah seperti biasanya. Ckckck :P
Begitu jumpa dengan hari pertama acara NCDA di kampus Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI), kesan pertamaku adalah "ini kampus keren bener, acaranya juga pasti bakalan keren". Terlebih lagi karena ada sarapan yang sudah tersaji di meja prasmanan. Eh, jauh-jauh ke Jakarta, ketemunya sama tahu bakso juga. Itu mah makanan khasnya Ungaran Semarang. Hahahaa... but it was delicious tabax i ever ate in Jakarta :D
Sabar Gorky, pendaki
Ini bukan kali pertama aku berinteraksi dengan penyandang disabilitas (pendis). Sebelumnya aku pernah berbaur bersama pendis dalam acara Blogger Nusantara --> Stories Behind the #BN2013 dan dalam acara Writing Super Camp FLP Semarang --> Sahabat Mata. Bahkan nenekku sendiri adalah pendis, kelainan jiwa dan cacat fisik. Hidup bersama nenek yang pendis ternyata belum mampu membuatku benar-benar bisa berbaur dengan pendis. Tetap saja aku merasa ada sekat antara aku dan mereka. Bukan aku underestimate pada pendis, tetapi sebaliknya. Aku merasa aku penuh kekurangan jika bersanding dengan mereka. Ah begitu lah pokoknya, mungkin diantara kalian juga ada yang feeling same with me when you meet them.
Baru di acara NCDA saja aku benar-benar berinteraksi dengan pendis. Suatu pengalaman yang luar biasa bagiku. Suatu kemajuan juga bagiku. Aku belajar banyak hal, dan aku dapat mengetahui banyak hal mengenai pendis di acara NCDA itu. Berdiskusi dengan pendis, berbaur dan berinteraksi dengan pendis, merumuskan suatu kebijakan mengenai pekerjaan pendis, belajar bahasa isyarat bagi tuna rungu, dan banyak lagi. Ternyata suatu keputusan asal ikut daripada gabut ada manfaatnnya juga ya. Hihihi... Thanks to Zizah yang sudah berbagi informasi :*
Ada dua hal menarik yang kucatat. Pertama, pemberitaan mengenai disabilitas dianggap kurang seksi/kurang menjual oleh media. Makanya tidak banyak berita yang mengulas mengenai disabilitas. Padahal sebenarnya disabilitas perlu disuarakan. Karena setiap manusia di negeri ini pasti akan mengalami disabilitas, hanya tinggal menunggu waktu. Tetapi pada realitanya, Indonesia belum bisa ramah terhadap pendis. Di saat negara-negara lain sudah ramah pada pendis, Indonesia kapan? Sedangkan media pun menganggap berita mengenai disabilitas kurang seksi. Pertanyaan lanjutannya adalah; apakah memang kurang seksi atau belum dibuat seksi? Sedangkan media itu sendiri lah yang bisa membuat suatu berita menjadi seksi. Maka tugas kita sebagai blogger/penulis adalah membantu menyuarakan kebutuhan-kebutuhan dan pemberitaan mengenai pendis. 
ki-ka: penerjemah, Ibu Penny (dosen), Ibu Christie (arsitek)
Kedua, pekerjaan maupun fasilitas yang layak untuk pendis berbenturan dengan pemerintah yang masih berorientasi bisnis. Dalam pembangunan apapun, pemerintah pasti lah harus bisa seefektif dan seefisien mungkin. Belum lagi karena praktek KKN dimana-mana. Ini yang menyebabkan pendis agak sedikit diabaikan kebutuhannya. Padahal pada kenyataannya pendis bisa bekerja. Pendis hanya membutuhkan akses yang mudah agar mereka dapat bekerja sebagaimana orang non pendis. Namun karena Indonesia belum sepenuhnya menyadari hal ini, atau mungkin belum menjadikan pembahasan mengenai disabilitas sebagai prioritas, maka tugas pendis adalah terus berusaha dan jangan manja. Non pendis pun harus membantu pendis semaksimal mungkin agar pendis dapat hidup bersama-sama dengan non pendis.
Fina, bocah Malang-melintang :P
Perlu kita ketahui, pendis sebenarnya adalah aset bangsa. Mungkin sama seperti TKI dan TKW sebagai pahlawan devisa, pendis pun dapat berguna lebih dari itu bagi bangsa ini. Tuna netra bukan berarti tidak dapat diandalkan. Tuna netra banyak yang bisa bernyanyi dan bermain alat musik. Tuna daksa juga bukan berarti hanya bisa merepotkan keluarga. Tuna daksa tetap bisa berkarya, banyak sekali tuna daksa yang menjadi seniman terkenal dengan karya seninya yang bernilai tinggi. Dan yaa... begitu pun yang lainnya. Dibalik kekurangan, Tuhan pasti menitipkan kelebihan pada tiap insan, bukan? :)
Aku rasa sekarang bukan saatnya kita memandang pada perbedaan. Melainkan harus bersatu dengan perbedaan untuk menuju kesempurnaan. Aku dan kamu bisa! Kita semua bisa! Mari kita tunjukkan pada dunia bahwa kita sanggup memberi banyak kebermanfaatan bagi lingkungan dan sesama.
kiri: Habibie, pengusaha
motivation notes:
Menerima, mengakui diri punya keterbatasan adalah penting, untuk menyadari kemampuan/kelebihan kita. Pada titik tertentu, tiap orang pasti akan mengalami disabilitas. Ini bukan kutukan, tapi nature. ~Prof. Irwanto~
Kalau sulit atau susah, berarti bisa! It's your jobl to create awareness. Doing nothing means discrimination. ~Indonesia Disabled Care Community (IDCC)~
Sukses itu kita yang tentukan, apapun keadaannya. Liburan itu hadiah untuk kemanusiaan. Sukses itu tentang pola pikir. Bukan hanya bekerja keras, tetapi juga bekerja dengan cerdas ~Artajasa~
Aku bisa karena aku luar biasa! ~Sabar Gorky~
Bermimpi dan terus bermimpi, disabel atau tidak! Jangan terus salahkan Tuhan, tapi terus berkarya! ~Ibu Christie~ 
note:
- foto sebagian nyomot dari FBnya Mbak Maisa Ulfah. thanks a lot, Mbak cantik :) :*
- kamu sadar, peduli, dan mau berbagi bersama penyandang disabilitas? join @idcc_official

by. si Famysa, sadar, peduli & berbagi ;)

Minggu, 22 Desember 2013

Lika-liku Anak Gaul Jakarta

Perjalanan menuju Ibukota dua minggu yang lalu benar-benar menguras bak mandi *eh, emosi maksudnya. Berbekal tekad ngebolang yang sangat tinggi, walaupun tak ada cukup bekal (baca: duit deeh -_-) dan persiapan, aku tetap keukeuh pergi. Sebenarnya perjalanan kala itu berawal dari ajakan temanku, Azizah untuk mengikuti acara NCDA (next post insya Alloh akan kuceritakan). Tapi yang terpikirkan olehku justru perjalanannya, bukan acaranya. Hahaha dasar cah gemblung :P Bahkan kubilang pada Zizah, "lolos atau pun tidak, aku akan tetap ikut ke Jakarta." weks.. Sampai Zizah bertanya, "yakin, Cip? Emang ada dananya?" Hahaha sangsi gitu deh Zizah... Dan ternyata aku lolos! aku diterima menjadi peserta NCDA itu. Aaah senangnya... Setidaknya akan ada sangu dari bapak untuk acara tersebut :D Alhamdulillah niat ngebolangku diridhoi oleh Alloh. Ngebolangku kan tidak sekedar hura-hura, tapi ngebolang yang harus mendatangkan ilmu baru.
nasgor di KA Tawang Jaya
Kami berangkat hari Kamis, 5 Desember lalu naik kereta ekonomi AC Tawang Jaya (sing murah-murah wae.. sing penting nyampe di tempat tujuan dengan selamat :D). Hari yang penuh emosi. Bukannya bersiap packing, siang harinya aku masih sempat-sempatnya ke kampus untuk mengambil revisian skripsi dan Zizah juga akan menghadap dosen pembimbing magangnya. Ditongkrongin di depan ruang jurusan sampai jam tiga sore lebih, dosen pembimbing magang Zizah tak juga datang. Akhirnya kami pun pulang dan packing. 
Langit sudah mendung pertanda akan segera turun rintik-rintik air dari langit. Kami yang tadinya mau berangkat jam lima sore, harus mengulur waktu karena Ayu yang akan mengantarkan kami ke stasiun belum juga pulang kuliah. Hingga akhirnya Ayu baru pulang ketika aku selesai solat maghrib plus isya (dijamak). Aku sudah posisi siap di motor. Eh lalu Isna (yang mau nganterin juga) bilang dia ingin pulang ke kosannya dulu. Baah.. Karena panik, aku langsung terpikir untuk pergi duluan ke stasiun dengan Zizah. Nanti Ayu dan Isna menjemput motor di stasiun. Kunci, STNK, dan tiket parkirnya akan kutitipkan pada satpam. Dan berangkat lah aku dengan Zizah. Wuuusss..... 
Sesampainya di Stasiun Poncol, kami masih punya waktu 15 menit untuk menunggu Ayu dan Isna. Tik tok tik tok, 10 menit berlalu. Mereka belum juga tampak batang hidungnya. Kereta kami akan segera lepas landas lima menit lagi! Niat awal akan menitipkan kunci, STNK, dan tiket parkir ke satpam tidak jadi kulakukan. Entah kenapa aku ragu. Terlebih karena sorot mata Zizah yang sepertinya berkata, "jangaan.. jangan dititipkan ke satpam. Itu motor orang (motor Ayu yang kubawa). Taruhannya jutaan duit." Hehe...
Dalam keadaan hati dag-dig-dug tak karuan, antara takut terlambat kereta atau takut motornya hilang, tiga menit sebelum kereta berangkat, Ayu pun datang. Whuaa... Adegan yang dramatis. Kunci, STNK, dan tiket parkir kuserahkan pada Ayu. Tidak ada ciuman perpisahan antara kami. Aku hanya mengucapkan terima kasih dan dadaah sambil tergesa-gesa masuk ke antrian penumpang.
sok-sokan vegetarian dinner at d'Cost , padahal ngirit :P
Beberapa saat di kereta, ada yang membuat kami merasa terganggu. Bapak yang duduk di sebelahku mengambil jatah bangku terlalu luas. Bapak itu membuatku terdesak ke Zizah. Saking luasnya jatah yang diambil si bapak, sampai ada bapak lain yang lebih kurus duduk di sebelah bapak itu! Bangku jatah tiga orang terisi empat orang dong, woow!! Aku dan Zizah yang menderita. Huahuaa :'( Zizah pun berusaha menegur bapak-bapak itu. Setelah teguran, bapak yang kurus kembali lagi ke bangkunya yang dipakai tidur oleh anaknya. Bapak sebelahku pun agak bergeser. Aah... Lumayan legaa... 
Tapii... terguran itu tidak bertahan lama sepertinya. Si bapak kembali mendesakku lagi. Perlahan namun pasti ia bergeser terus ke arahku sambil pura-pura tidur pulas. Kami benar-benar merasa terganggu. Kenapa si Bapak cenderung bergeser ke arahku? Padahal sebelah kirinya masih ada space tersisa. Dalam keadaan tak nyaman kami terus mencari ide. Menegur sudah, menyindir sudah, bergerak tak nyaman sudah, kultwit juga sudah *eh :P. Sampai akhirnya Zizah punya ide 'baca Al-Quran'. Hahaa... Dan karena Zizah sedang berhalangan, jadi hanya aku yang membaca. Keras-keras kubaca, sekeras yang kubisa. Ketika sampai di lembar ketiga surat Al-Kahfi, si bapak pun pergi, dan tak pernah kembali lagi. Bwahaha... berasa ngusir setan gak sih? *oops :D Alhamdulillaaah kami senang sekali bisa duduk dengan layak.
Kami sampai di Stasiun Pasar Senen Jakarta sekitar pukul empat pagi. Lalu kami naik taksi ke rumah Zizah di Tanjung Priuk. iya, si Zizah emang anak Jekarteh :) Sesampainya di rumah Zizah, setelah solat subuh, kami langsung tiduuurrr untuk menyiapkan tenaga. Sore harinya kami akan ke Kuningan, ke lokasi acara NCDA. 
Sekitar pukul setengah lima sore, kami sudah siap berangkat ke Kuningan. Kami berjalan menyusuri gang, melewati jalan tikus agar cepat sampai ke jalan raya, lalu kami naik metro mini sampai ke halte Trans Jakarta (TJ) terdekat, dan naik lah kami ke TJ. cerita baru pun dimulai di sini. 
Dalam penuh sesak di TJ, aku mencoba untuk tetap menyeimbangkan tubuhku. Lama-lama, entah sejak kapan aku kurang sadar, ada bapak-bapak yang gelagatnya mencurigakan di belakangku dan Zizah. Si bapak berdiri di antara kami. Tangan kirinya pegangan ke pintu TJ, seperti sedang berusaha mencari posisi agar bisa merangkulku. Lama-lama si bapak makin mencurigakan. Padahal dia bisa pegangan ke pintu TJ yang terdekat dengan tubuhnya, tapi ia maksa pegangan ke arah samping depannya, ke arahku! Sekarang aku tidak bisa tinggal diam. Belum hilang rasa tak nyaman di kereta, eh ini sudah ada lagi bapak yang cabul di TJ --" Aku mengambil jarum pentol di tasku, kupegang jarum itu erat-erat untuk jaga-jaga. Jika bapak itu berusaha merapatkan tubuhnya ke tubuhku, aku tak akan segan-segan menusuknya. Hahaha... *otak iblisnya keluar. Habisnya si bapak cabul banget, busnya goyang saja tidak, tapi si bapak cari-cari posisi seolah terdesak terus. Huh!
Sebelum aku berhasil menusuk si bapak, sepertinya si bapak sudah sadar duluan kalau aku memegang jarum. Akhirnya tangan kiri si bapak menjauh dariku. Si bapak bergeser ke sebelah kanan. Dan ooohh... Ia berganti mangsa... Kali ini ke Zizah. Duuh aku jadi semakin tidak nyaman. Perasaan tak karuan. Pegalnya kaki menahan beban tubuh yang terus berdiri dan macet-macetan tidak seberapa dibanding ketidaknyamanan hati ini :'(
Tiga jam perjalanan Priuk-Kuningan telah kami lalui. Transit sana transit sini, jalan dari satu halte ke halte lain di tengah guyuran hujan, pergulatan hati yang tak menentu. Oooh... so dramatical journey... 
Di Kuningan, kami menginap di kosan Rizka, di daerah Menteng Atas, tetangganya Rasuna Zone. Keluar dari halte TJ, kami langsung disambut oleh semacam mall. Berbagai macam tempat makan yang agak mahal (bagiku) berderet di sana. Baah.. Langsung saja aku membayangkan bagaimana kerasnya kehidupan Rizka di sana. Di tengah gedung-gedung pencakar langit, di tengah tempat ngehedon, ckck... apa jadinya kalau aku yang kuliah di daerah sana. Kecekik kayaknya aku. hahaaa *lebay.
Di perjalanan menuju kosannya, sambil berjalan kaki, Rizka bilang, "Kak, nanti jangan kaget ya.. Kita ini masih di surga, mau jalan ke neraka." Awalnya sih aku tidak terlalu mengerti apa yang Rizka maksud. Tapi setelah kami melewati pintu kecil setelah apartemen-apartemen parlente itu, taddaaa.... di sana lah Menteng Atas. Sangat jauh berbeda dengan kondisi tetangganya. Haduuh... Begitu yaa Jakarta. Seperti yang kulihat di foto-foto. Dan kemarin aku melihatnya langsung. Hmm... Suatu ketimpangan yang menarik untuk dipandang :)
Satu gedung yang membuatku tak berhenti takjub di kawasan Rasuna adalah Bakrie Tower. Katanya sih itu gedung tertinggi di Jakarta, kurang lebih 60an lantai. Tapi bukannya mau ada yang menyaingi yaa... Pertamina Tower :P Desain luar Bakrie Tower itu meliuk-liuk, berwarna abu tua, seperti ular raksasa. Aaaak.... Lama-lama diperhatikan seram juga aku melihatnya. Dia gagah berdiri. Aku tak berhenti ingin melihatnya. Keren! Tapi seram karena seperti ular, meliuk-liuk dan bersisik. Hiiiyy... Di Semarang mah boro-boro ada gedung setinggi dan sekeren itu. Hotel tertinggi saja 30 lantai doang. Maklum nih eike anak kampung, biasanya main ke sawah, laut, atau hutan, kali ini main ke Ibukota, Rasuna Said pula! Gimana mata ini mau berkedip coba... Ckck... 

Selama dua hari di Kuningan, aku dan Zizah harus berjalan kaki berkilo-kilo meter dari kosan ke halte, dari halte ke halte, dari halte ke USBI (tempat berlangsungnya acara NCDA), dan begitu pun sebaliknya. Akhirnya... apa yang terjadi? Hari Senin, di Priuk, sepulang dari Kuningan, rencana awalnya sih aku ingin berkeliling Jakarta, ingin merasakan jadi Anak Gaul Jakarta (AGJ) gituu, tapi itu batal blasss akibat kami kecapekan. Hahaha... 

Hari Senin sore, Welly datang menjemputku di rumah Zizah. Jauh-jauh dari Slipi Jakbar ke Priuk Jakut doong Welly, hanya demi aku :P *eits Welly itu koncone aku, konco Timeless, bukan TTM seperti sangkaan umminya Zizah yaa :D Welly mau mengantarku membeli oleh-oleh kaos Jakarta di Monas, sekalian mengantarku ke Stasiun Pasar Senen. Dan kereta Tawang Jaya pukul 22.10 WIB akan membawaku kembali ke Semarang :)
akhirnyaa bisa difoto dengan background Bakrie Tower :D
Perjalanan kemarin menyisakan bekas yang teramat melekat. Lemnya terlalu kuat, jadinya terus melekat deh. Mulai dari awal perjalanan sudah tak terlupakan. Terlebih lagi pengalaman di kereta dan TJ, berjalan kaki berkilo-kilo meter, merasakan ganasnya nyamuk Priuk, motoran di Jakarta sama Welly -nyelip sana, nyelip sini, whuaaa...-, towaf di Monas -hahaha :D-, menginjakkan kaki dan menghaturkan sujud sembahku pada-Nya di Masjid Istiqlal. That all was my first time be AGJ! 
Ada banyak pelajaran yang kudapatkan dari sana. Pelajaran yang tidak akan pernah kudapatkan jika aku tidak menempuh perjalanan itu. Bahwa belum semua laki-laki menghargai wanita, dan ternyata ibu tiri sama sekali tidak lebih kejam dari Ibukota. Hahaha... 

Jakarta; angkutan massal, rawan pelecehan terhadap wanita. kendaraan pribadi, macet dan polusi. Jakarta; di kanan surga, di kiri neraka. Rasuna Said dan Menteng Atas. Jakarta; begitu banyak orang yang tergoda mengecupnya. Entah pahit atau manis, yang penting mencicipi. Jakarta; apa yang akan terjadi padamu di akhir cerita. sad ending? atau happy ending? atau open ending? Jakarta; jika aku boleh meminta pada-Nya, aku tidak ingin berjodoh denganmu. Cukup gemerlap cahayamu saja yang kurasai. Jakarta; well, it's truly amazing city in this world. It's my country, Indonesia! 
dalamnya Masjid Istiqlal
Ngebolang bukan berarti menghambur-hamburkan uang. Karena banyak hal yang kita dapatkan dari ngebolang, hal yang lebih dari sekedar uang. Setiap kali ngebolang, aku pasti mendapat teman baru, mengukir kenangan baru, mengantongi pengalaman baru, menjumpai tempat baru, menemukan ilmu baru, mendengarkan obrolan baru, dan tentunya aku bisa lebih banyak menulis dan bercerita pada orang-orang di sekelilingku. Semua hal yang kudapat dari ngebolang tidak bisa dibeli dengan uang. Satu kali terlewatkan ngebolang tidak bisa digantikan oleh ngebolang yang lain, karena pasti momen dan ceritanya sudah berbeda. 

Aku ingin menciptakan banyak momen. Aku ingiiiin mendapatkan banyak-banyak-banyak hal dari setiap perjalanan. 
Agar seimbang bermain sepeda, kita harus terus mengayuhnya bukan? ;)

Semoga Tuhan mengijinkan kaki ini untuk terus melakukan perjalanan tanpa kenal lelah dan menyerah :)


si Famysa, tukang ngebolang :D

Mijn Vriend