Tampilkan postingan dengan label Love Sastra :-*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love Sastra :-*. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Maret 2015

Sebongkah Batu Berdarah

“Ka, gue takut. Gue pengen pulang. Sekarang!”
“Tika, lu tenang dulu deh ya.. Kita semua juga pengen pulang. Lu jangan kayak gini dong! Nambah panik kita semua kalau elunya kayak gini.”
Tidak ada yang bisa menahan tangisan Tika. Bahkan Barka, pacarnya sendiri terlihat kesal karena rengekan Tika yang tiada henti meminta pulang.
Semua gemetaran, semua kedingininan, semua tegang. Tidur di mushola kecil, kotor, dan penuh dengan jejak kaki anjing itu ternyata tidak lebih baik dari tidur di tenda walau harus bergelut dengan hujan yang mengguyur deras. Dari tangan ke tangan, semoga bisa sedikit memberi kehangatan dan ketenangan pada malam hari itu, malam Jumat Kliwon.
Runi sebagai orang yang disebut pemimpin perjalanan diminta untuk mencari tahu siapa sebenarnya sosok itu. Manusia kah? Atau manusia jadi-jadian? Atau malah semuanya sedang dibuat berhalusinasi oleh alam? Dengan berbisik dari telinga ke telinga, akhirnya semua memilih Willy yang akan menemani Runi keluar mencari tahu.
Dengan perasaan tak karuan karena diliputi rasa takut, Runi dan Willy permisi pada sosok itu. Dan sosok itu hanya berdehem dengan suaranya yang berat, “ehmmm...” Runi dan Willy segera pergi, tanpa sempat memperhatikan sosok itu.
Hujan semakin deras. Angin dan petir pun bersahutan. Mereka seperti sedang mengejek. Mereka seperti sedang menertawakan Runi dan Willy yang hanya bercahayakan lilin dan mempunyai sedikit keberanian.
Runi dan Willy berjalan dalam gelap. Cahaya senter yang mereka bawa tidak cukup bisa melawan kelamnya malam. Derasnya hujan membawa cahaya senter mereka pergi. Derasnya hujan pun menembus jas hujan yang mereka pakai. Jalanan yang licin, berbatu dan berlumut, serta guyuran hujan memperlambat langkah mereka menuju warung yang sekaligus rumah bagi pemiliknya. Berjalan turun 500 meter saja seperti sedang berjalan naik berkilo-kilo meter. Terasa lama dan payah.

--o--

“Ehmmm.... Kalian jangan berani macam-macam di sini. Apalagi berani macam-macam dengan saya. Saya ini bukan manusia. Tinggi saya tujuh meter. Saya tidak akan segan-segan menceburkan kalian ke dalam aliran curug jika kalian berniat buruk. Saya juga tidak akan segan-segan membunuh kalian jika kalian tidak memercayai kata-kata saya ini. Bahkan kalau kalian tidak percaya, silahkan buktikan saja. Hahahaha....” 
Tertawanya bak di film-film horor ketika dukun sedang beraksi. Suaranya berat namun dapat menelan suara-suara sekitarnya. Suaranya seolah tak terkalahkan. Sekali pun enam orang siswa-siswi SMA di mushola itu berteriak, suara sosok itu pasti akan lebih keras mencabik-cabik mereka. Mereka hanya bisa diam sambil memegang jantung masing-masing. Syukurlah jika jantung mereka masih berada di tempatnya...
Entah kapan datangnya sosok itu. Diantara mereka tidak ada yang menyadarinya. Tiba-tiba saja sosok itu ada di tengah-tengah mereka yang baru saja akan tertidur lelap. Mulanya Runi memang kaget. Tapi Runi pikir paling itu penduduk sekitar yang sedang berkeliling area curug, kehujanan, dan berteduh di mushola, sama seperti Runi dan teman-temannya. Namun ketika sosok itu mulai tertawa dan meracau segala hal, baru semuanya terbangun dan sepenuhnya tersadar. Sosok itu terus meracau. Kadang nada bicaranya turun sampai tak terdengar. Tapi kebanyakan nada bicaranya tinggi seperti sedang menghantui.
“Dulu saya pernah mendorong muda-mudi yang datang ke curug. Saya tahu niat mereka buruk. Mereka melecehkan apa yang saya katakan. Mereka tidak percaya segala hal tentang Curug ini. Tengah malam, mereka ingin membuktikan kebenarannya. Aaahhh.... anak-anak muda seperti itu tidak tahu diuntung! Saya bunuh saja mereka, dua-duanya. Hahahaaa....”
Sosok itu seperti tahu apa yang mereka pikirkan. Semakin mereka ketakutan, sosok itu semakin meracau tak tahu arah. Pun ketika terlintas di pikiran Runi... Bagaimana bisa tinggi aslinya tujuh meter? Kapan dia berubah menjadi wujud aslinya?
“Saya tidak main-main dengan perkataan saya. Bahkan wujud lain saya adalah harimau. Saya berteman dengan Ratu Penguasa Pangandaran dan Dewi Sri. Kalian tahu Dewi Sri? Dia pemilik semua nasi yang kalian makan!” sentaknya membuyarkan pikiran Runi.
Mungkin sosok itu manusia jadi-jadian. Ah, tidak. Mungkin sosok itu sedang kerasukan makhluk lain.
Barka terus merapalkan semua doa yang ia bisa. Tika terus menangis. Awan mencoba mencairkan suasana dengan berusaha masuk dalam obrolan sosok itu. Runi dan Willy akan mencari sebait kalimat dari penduduk yang dapat menenangkan mereka. Sedangkan Ria, Yodha, dan Lita tetap dalam posisi mereka dengan gemetar ketakutan.

--o--

“Wil, sepertinya kita tersesat. Perasaan gak sejauh ini deh jarak dari mushola ke warung penduduk.”
“Kamu juga ngerasa gitu, Ni? Aku kira aku yang terlalu ketakutan, sampai jalan ke warung aja kerasa jauh banget.”
Runi dan Willy saling menangkap raut kekhawatiran di wajah masing-masing. Tersirat tanda tanya besar di wajah mereka. Namun siapa yang bisa menjawab pertanyaan mereka? Selain angin yang terus berhembus kencang dan penguasa kegelapan yang mempermainkan.
“Lalu sekarang kita harus kemana? Balik ke mushola atau lanjut ke warung?”
Willy menyibakkan lengan jas hujan untuk melihat jam tangan. Senter yang kian redup cahayanya ia arahkan ke jam tangannya.
“Parah! Sejam lebih kita jalan, warungnya belum kelihatan juga. aku gak yakin kita bakal nemuin warung-warung penduduk itu, Ni. Lebih baik kita balik aja. Kasihan teman-teman lama menunggu kita.”
Runi dan Willy balik badan putar haluan. Mereka kembali menyusuri jalan yang tadi telah dilewati. Mereka kembali bertarung melawan dingin dan ketakutan. Mereka terus berjalan, bahkan setengah berlari. Niat hati ingin cepat sampai di mushola untuk kembali berkumpul bersama teman-teman. Kenyataannya.... Sesampainya di mushola, tak ada seorang pun di sana! Sosok itu pun tidak ada! Kemana perginya Awan, Ria, Lita, Yodha, Tika, dan Barka?

--o--

“Gue gak mau matiiiii!! Tolongin gueee! Gue gak mau mati! Please jangan bunuh gue! Gue masih mau hidup. Gue gak mau matiiii!!!!!! Gue takuuut!”
Jeritan Lita menciptakan lolongan panjang. Tangisan yang menyelimuti lolongan itu membuat suaranya semakin lama terdengar semakin parau. Hingga teriakannya sama sekali tidak terdengar lagi. Lenyap diguyur derasnya hujan. Hilang bersama angin yang bertiup semakin kencang.    
“Ha..Ha..Ha... Dengan jasad dan darah segarmu, aku akan hidup lebih lama lagi. Ha..Ha..Ha.... Kau bukan manusia baik, kau selalu berniat buruk, sama sepertiku. Lebih baik aku meminum darahmu, lalu kita akan bersatu. Ha..Ha..Ha...”
Tangannya menggenggam sebongkah batu. Sambil terus tertawa mengerikan.

--o--

“Litaaa.....”
“Litaaaa.....!!”
“Lita, lu dimana?”
“Litaaa!”
“Lit, lu jangan tinggalin guee! Lu dimana, Lit??”
Tidak ada siapa-siapa lagi di tengah hutan selain mereka berlima. Kecuali sebongkah batu yang berlumuran darah dan tetesan darah di sepanjang jalan setapak. Lalu tetesan darah itu menghilang di tepian sungai yang menjadi tempat mengalirnya air curug.  

by. si Famysa, nostalgia :)

Sesal, Rindu, Lalu Hilang

Benar kata orang, penyesalan selalu datang di akhir. Penyesalan seperti tokoh hero yang selalu muncul di episode-epidose terakhir. Bedanya, tokoh hero datang di akhir untuk menumpas kejahatan, sedangkan penyesalan datang di akhir untuk memberi pelajaran. Dan seringnya pelajaran dari penyesalan itu disertai rasa sakit. Seperti yang kurasakan saat ini. Sesal dan sakit.
Apapun yang kulakukan, dimana pun, kapan pun, ingatan tentangnya kerap kali muncul. Bahkan segala benda dan manusia yang kulihat selalu bisa mengingatkanku padanya. Segala hal tentangnya, mengapa begitu jelas sekarang? Segala hal tentangnya mengapa justru selalu mengikuti ketika sosoknya sudah tak bisa lagi kugapai?
Beberapa pasang muda-mudi berlalu-lalang di hadapanku. Dari yang muda hingga yang tua. Sekelompok siswa SMP yang terdiri dari empat orang laki-laki, di tengahnya terselip seorang perempuan. Dia yang paling cantik, karena dia perempuan satu-satunya di kelompok itu. Sepasang siswa dan siswi SMA sedang mengobrol malu-malu di bangku taman sebelahku. Mungkin mereka sepasang kekasih yang baru jadian. Atau mungkin mereka sedang dalam tahap pedekate. Ada juga sepasang muda-mudi di bangku taman tepat di depanku yang sedang asyik menyantap eskrim cone. Mereka terlihat akrab sekali. Mungkin mereka masih kuliah. Yang jelas sepertinya mereka sudah bukan anak sekolahan lagi. Atau mungkin juga mereka sudah menikah. Jika iya, sungguh pasangan muda yang menyenangkan dipandang mata.
Bersantai di taman kota rupanya bukan keputusan yang cukup tepat untuk menghilangkan rasa sakit. Hatiku malah makin teriris. Segala pemandangan yang kulihat ada saja yang bisa memunculkan ingatanku tentangnya. Kuputuskan untuk pergi sesegera mungkin dari taman kota.
“Apa yang harus kulakukan sekarang pada hubungan kita?”
“Nggak ada. Aku cuma lagi ingin sendiri. Terserah kamu sekarang mau gimana. Pokoknya aku cuma lagi ingin sendiri. Tinggalin aku.”
“Tapi kamu mau aku nungguin kamu kan?”
“Nggak! Kamu boleh punya pacar lagi kalau memang kamu mau. Kecuali yaa kalau nanti aku sudah siap, dan kamu masih sendiri, aku mungkin bakal balik lagi sama kamu,” tegasku mantap. Menutup obrolan kita yang semakin memanas.
Lalu untuk yang ke sekian kalinya, dia mengatakan bahwa aku jahat, dan aku menyetujuinya. Iya, aku memang jahat. Termasuk jahat pada diriku sendiri, yang bodohnya baru kusadari saat ini.
Pertengkaran hari itu, pertengkaran yang selalu dibumbui oleh tangisannya, pertengkaran yang ternyata membawaku pada ruang sesal ini. Bahkan kini aku rindu menyeka air matanya dengan jari-jemariku, aku rindu memberinya sehelai tisu, aku rindu mengusap pipinya yang masih dibanjiri air mata. Padahal aku selalu inginkan dia. Namun kenyataannya waktu itu aku sama sekali tidak peduli pada tangisannya yang merajuk. Kenapa aku diam? Kenapa aku malas mendengarkan dan menatapnya? Kenapa aku justru menutup telingaku dan berpura-pura tertidur?
Sesal yang kukira tidak akan pernah menghinggapi hari-hariku kini justru paling menyita emosiku. Sesal yang kukira akan cepat berlalu seperti aku yang dulu mudah berlalu darinya kini justru semakin dekat dan melekat. Sesal ini memaksaku untuk membenci diriku sendiri.

--o--

Jalanan hari ini begitu lengang, senyap, dan sepi. Tidak seperti biasanya. Padat dan terkesan menegangkan karena mobilitas tinggi penduduknya. Kini hanya ada satu-dua orang saja yang lewat. Kemana perginya orang-orang? Ah, apakah mungkin aku saja yang tidak memperhatikan sekitar. Aku terlalu lama jalan sambil menunduk. Seperti pengemis yang sedang mencari-cari recehan, mungkin saja aku bisa menemukan recehan di sepanjang jalan yang kupijak. Ya, semoga recehan itu ada.
Pantas saja jalanan ini ditinggalkan oleh penggemar setianya. Angin di awal bulan Januari terlalu menusuk. Belum lagi rintik-rintik yang dihasilkan oleh awan yang menangis. Kemarilah... Temani aku menempuh perjalanan ini. Setidaknya sampai aku tiba di rumah dan dapat terpejam. Ini yang dulu biasa dilakukan olehnya. Bersembunyi dalam rintik hujan untuk menyembunyikan hujan lain di wajahnya. Tangisnya. Diam-diam aku merasakan apa yang mungkin dulu dia rasakan. Hangat. Namun perih.
“Kamu benar-benar gak mau aku nungguin kamu?”
“Harus berapa kali lagi aku bilang, gak usah! Aku belum mau menikah. Aku masih ingin sendiri. Tanpa kamu, tanpa perempuan manapun.”
“Iya, aku ngerti. Aku bisa nungguin kamu... Sampai kamu siap menikah. Aku mau kita bareng-bareng lagi kayak dulu. Gak usah bahas pernikahan. Tunda dulu obrolan tentang nikah sampai nanti, sampai kamu mau membahasnya.”
“Percuma. Aku gak cinta lagi sama kamu.”
Kata-kata pemungkas itu yang menghadirkan sesal hingga kini. Aku keliru. Aku berbohong besar pada diriku sendiri. Egoku waktu itu sanggup menyembunyikan rasa hatiku yang terdalam. Bodohnya lagi, kenapa aku membiarkan ego itu tetap ada. Seolah justru aku lah yang menghadirkan dan memelihara ego itu. Lalu membakar, membakar, dan menghanguskan kehadirannya.   
Lebih baik kerasnya hidup kemarin bersamanya. Daripada hidup tanpa tantangan seperti yang sedang kujalani saat ini. Tidak ada dia, tidak ada tujuan. Aku terus berjalan tanpa tahu kapan saatnya aku harus beristirahat, berhenti, atau berlari. Bak layang-layang putus, terhempas ke sana-sini oleh angin, tanpa bisa menolak, tanpa ada keinginan untuk menolak. Oh, selinglung itu kah aku?
Duduk di bangku taman kota, berjalan sendirian, menghujani diri sendiri dengan tangisan awan, semuanya bukan ide yang tepat kurasa. Aku semakin merasakan kehadirannya begitu berarti untukku. Aku semakin merasakan ngilu karena kehilangan ketika aku sadar bahwa dia yang berarti tidak lagi ada di sisiku.
“Kita akan baik-baik saja dengan belajar mengerti satu sama lain. Bukan saling menuntut, tapi saling memberi yang terbaik. Aku yakin kamu punya banyak kejutan untuk membahagiakan aku. Aku sayang kamu, dan kamu beruntung. Kamu tahu... Ini semua untukmu. Bahkan aku hidup juga untukmu.”
Hanya kata-katanya dulu yang terngiang-ngiang dalam rekaman ingatan. Rekaman ingatan yang memaksaku untuk selalu memutar ulang. Replay, replay, replay. Padahal itu hanya rekaman. Dan aku tahu bahwa setiap rekaman tidak akan bisa terulang kembali dalam kehidupan nyata. Andai saja kata-kata itu terucap sekarang...
Aku yang salah. Aku yang bodoh. Aku menyia-nyiakannya. Sialnya sesal ini kenapa harus muncul semakin kuat. Setiap aku mencoba menepis ingatan tentangnya, setiap kali itu juga sesal ini menyeruak semakin kuat.

--o--

Bus Trans Jakarta sore ini sama seperti kemarin, sama seperti saat sebelum ada dia, saat ada dia, dan saat dia kulepaskan. Selalu penuh berjejalan manusia. Ah, ternyata memang tadi selama berjalan kaki aku saja yang sedang kacau. Mungkin banyak manusia yang berlalu-lalang di sekitarku. Akunya saja yang sedang kacau. Saking kacaunya benang kusut pun kalah olehku.
Lalu biasanya aku akan selalu mengeluh padanya ketika sudah sampai di rumah. Keluhan merajuk agar tangan dan kakiku dipijiti sebelum dia pulang ke rumahnya yang berada di kanan depan rumahku. Kali ini semua berbeda. Rumah di kanan depan rumahku, aku sudah tidak mengenalnya. Rumah itu kini terlihat sepi. Pintu rumah yang dulu sering terbuka kini selalu tertutup. Tidak ada lagi sosoknya. Aku benar-benar telah kehilangan.

--o--

Klik. Halaman yang kusimpan ini telah menjadikanku candu. Setiap kali membukanya, membaca kalimat demi kalimatnya, hati ini semakin perih. Namun tangan tak sanggup untuk menghapusnya. Pun jika dihapus, aku pasti akan membuka dan membacanya lagi, langsung dari buku harian digitalnya yang dia sebut blog.
“Aku bingung dengan hubungan kita. Bersama, saling menyakiti. Berpisah, tetap akan tersakiti. Bukan kamu yang membuatku bingung. Tapi cinta lah yang membingungkanku. Kita harus memperlakukan cinta seperti apa dan bagaimana? Beritahu aku. Kalau saja cinta bisa memilih, aku pasti tidak akan memilih kamu. cinta memainkan hati, bukan otak. Cinta datang begitu saja, bahkan tanpa kita sadari. Kupikir kita bisa saling melengkapi. Tapi kadang ego kita muncul berbarengan. Tidak ada yang mau mengalah walau sudah diberi jalan keluar lain. Aku egois, kamu pun tak kalah egois.”
Aku selalu terhenti di kalimat itu. Dia benar, nyatanya sekarang aku tersakiti, mungkin dia juga sama. Bukan dia yang egois, tetapi aku. Bahkan ketika dia rela menungguku, dengan sombongnya aku menolaknya. Rasakan akibatnya sekarang! Sesal yang tiada berujung.
“Kamu sayang aku. Aku butuh kamu. tapi cinta membuat kita tak bisa jadi satu. Selalu saja ada beda. Beda itu mencuat, begitu tajam. Aku khawatir. Aku butuh kamu. Kamu sayang aku kan? Tolong tetap bersamaku. Perkuat yakin kita dengan selalu bersama, tanpa ada jalan pintas lain.” 
Melepasnya tidak semudah yang kubayangkan dulu. Sesal semakin menjerat ketika tahu betapa tidak pedulinya aku padanya dulu. Sesal terus datang berbarengan dengan bayangannya. Kulihat dia yang mengucap maaf. Kulihat dia yang mengucap terima kasih. Kulihat dia yang berjalan menjauh dariku setelah menjabat tanganku dengan penuh getar yang dibuat tegar. Kulihat dia yang diam-diam menitikkan air mata. Kulihat dia yang berjalan beriringan dengan laki-laki yang kutahu mencintainya dengan segenap hati, berbalut gaun putih layaknya putri kerajaan. Tidak sepertiku. Aku mencintainya hanya dalam rasa, tanpa menunjukkannya, tanpa mempertahankannya. Ketika aku kehilangan, hanya ada sesal yang menjalar.
Ah, rumah di kanan depan rumahku tidak menyimpan sosok nyatanya lagi. Di sana sepi, sama seperti di sini, di dalam hatiku.

Aku merindukannya.

by. si Famysa, lagi ubek-ubek tulisan lama :P

Minggu, 06 Oktober 2013

18 Tahun Sebuah Bahtera

Perempuan mana yang ingin dinikahi oleh laki-laki yang sudah beristri tanpa sepengetahuannya? Perempuan mana yang tidak sakit hati ketika tiba-tiba ada ibu hamil yang mendatanginya, dan berkata bahwa bayi yang dikandungnya adalah anak suaminya? Perempuan mana yang mau mengakui ‘anak tiri’ dari asal-usul yang menyakitkan seperti itu?

Penasaran? Masih sanggup lanjut membaca tulisan ini? Yang sanggup silahkan diteruskan... Yang tidak sanggup silahkan lambaikan tangan dan angkat bendera putihmu!

23 tahun yang lalu, hari bahagia itu datang. Keluarga, sanak saudara, karib kerabat, semua berkumpul dalam satu tempat. Panasnya wilayah Pantura tak sedikit pun menyurutkan kebahagiaan dari semua yang hadir kala itu. Apalagi bagi pengantin wanita. Ini merupakan pernikahan pertamanya. Berbeda dengan pengantin pria, dia sudah pernah menikah sebelumnya. Ya, perawan dapat duda.
Prosesi pernikahan berlangsung dengan adat Sunda. Sungkeman, siraman, memecahkan kendi, menginjak telur, membasuh kaki suami, rebutan bakakak (ayam panggang utuh, belum dipotong-potong), suap-suapan bakakak, lagu-lagu Sunda, saweran, salam-salaman, dan lain sebagainya. Alangkah indahnya jika kita yang membaca bisa melihat momen itu juga :)

Pengantin wanita hanya ‘kosong’ satu bulan. Tuhan telah menitipkan amanah kepadanya. Alangkah bahagianya pasangan suami-istri itu ketika mengetahui mereka akan menjadi ayah dan ibu.

“Semoga kamu tumbuh menjadi anak yang membanggakan ibu dan ayah, Nak..” seringkali kata-kata ini terucap dari pengantin wanita, sambil ia mengelus perutnya yang belum terlihat seperti sedang mengandung.

Langit gelap. Jalanan Pantura sepi dari kendaraan. Dalam senyap kilat menyayat mega yang sedang mendung. Gelegar mengikuti seolah tak mau kalah berlomba dengan kilat. Rintik perlahan turun. Rintik datang bersama teman-temannya menyerbu bumi. Tidak lagi perlahan, tetapi berlarian, berkejaran tak beraturan. Dan bumi pun basah. Ia tak kuasa membendung rintik. Pasrah...
“Demi Tuhan! Bayi yang saya kandung ini adalah anaknya suami kakak Anda.” Wanita itu menyalak sambil menangis. Suaranya terdengar agak kabur, namun menakutkan.
“Bu, kakak ipar saya bilang bahwa dia sudah bercerai dengan Ibu. Tidak mungkin Ibu mengandung anak kakak ipar saya.” Takut-takut adik pengantin wanita berkata. Dia juga tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Wanita itu cantik, seksi, kulitnya putih bersih, ia seperti keturunan China. Apa benar wanita itu lah mantan istrinya pengantin pria? Pengantin pria tidak ganteng, juga tidak kaya. Orang yang memandang pasti akan sangsi seperti adik pengantin wanita.

aku bisa melihat kepedihannya dalam album itu. "pengantin al-munafiqun", "bagus luarnya saja, dalamnya busuk", "kedok!" 
Oh Dear... Mengapa aku masih saja bertanya.

Pengantin wanita bertahan demi bayi yang ada dalam kandungannya. Percuma minta cerai pun, karena wanita hamil tidak boleh diceraikan.
Dalam diam ia bertahan. Dalam diam ia menyembunyikan perih. Pengantin pria tetap suaminya. Suami yang harus ia percayai. Suami yang akan selalu dibelanya melebihi keluarganya sendiri.

“Kamu adalah obat hati Ibu. Kamu yang membuat Ibu bertahan. Kamu akan menjadi wanita yang sangat tabah, menjadi wanita yang terpilih, menjadi wanita yang baik...” Terselip doa dalam tangisnya ketika pertama kali ia menggendong sosok mungil, bayinya. Doa itu akan selalu hidup selamanya, menemani setiap tumbuh kembang bayinya hingga kelak ia menjadi dewasa dan tiada. Doa itu bersemayam dalam nama bayinya.

Enam tahun kemudian setelah pengantin wanita dan suaminya hijrah ke kecamatan lain...
“Iiiihh anak laki-laki itu kok mirip banget sama anaknya tetangga saya ya... Hidungnya, hitam-hitamnya, matanya, cara jalannya, pemalunya, semuanya deh.. Siapa sih anak itu?” rumpi ibu-ibu di warung.

18 tahun. Seharusnya di usia ini, seorang remaja sudah mulai menginjak dewasa. Dewasa dalam bersikap, bertutur kata, berpikir, dewasa dalam menjalani hidup. Film-film tertentu yang bertanda 18+ pun sudah bisa ditontonnya. Namun sayang, terkadang remaja lepas dari bimbingan dan pengawasan orang tua. Ia bukannya menjadi dewasa, tapi malah berantakan dan hidup tak karuan.
18 tahun. Bahtera yang dari awal memang sudah keropos, lambat-laun ia lapuk. Isinya tidak sepenuhnya hilang. Tetapi menjadi puing berserakan yang mungkin dapat mencelakakan banyak orang.
18 tahun.

Teramat pedih. Dadaku sesak menuliskan ini. :’(

“Ya, anak laki-laki itu memang mirip sekali denganku. Kami bagai pinang dibelah dua.”
“Subhanallah.... Allah memang akan menampakkan apa yang tersembunyi. Percuma dulu pengantin pria mati-matian tidak mengakuinya. Akhirnya rumah tangganya hancur tidak dapat diperbaiki. Tapi kalian tidak lagi bisa dipungkiri. Allah memang Maha Hebat. Dengan kehendak-Nya, dua orang yang berbeda jenis kelamin, berbeda rahim, tapi bisa seperti anak kembar... Dunia pun akan bisa melihat kebenarannya tanpa harus diteriakan,” ujar adik pengantin wanita.
Kisah pernikahan ini diikutsertakan pada Giveaway 10th Wedding Anniversary by Heart of Mine 

Mak Uniek... Semoga kisah ini dapat menjadi pelajaran bagi Mak Uniek khususnya, serta bagi semua pembaca pada umumnya...
Semoga Mak Uniek dan suami TIDAK AKAN mengalami hal menyakitkan seperti ini. Semoga pernikahan kalian selalu langgeng dan penuh barokah. Biarlah hanya maut yang berhak memisahkan kalian. Aamiiin....

By. Si Famysa, gue mewek. Asli.

Kamis, 26 September 2013

Mencintai Dengan Doa

Ini kisah orang terdekatku. Ini kisah sebuah keluarga yang menginspirasiku. Ini kisah lama. Kisah ini masih berlangsung. Dan akan terus berlangsung sampai akhir hayat mereka. Bahkan sampai akhir hayat manusia di bumi.

Sekitar 17 tahun yang lalu, ada sepasang muda-mudi yang mengikat janji suci mereka dalam bahtera pernikahan. Aku ada di sana. Aku turut menyaksikan senyum yang teramat manis dari mempelai wanita. Langkahnya anggun nan menawan. Sesekali ia tersipu malu dibalik kebaya dan kerudung putihnya. Sebentar lagi ia akan menjadi pendamping hidup kekasih hatinya.
Ada kisah lain yang mengawali perjumpaan mereka. Waktu masih duduk di bangku SMA, sang pengantin wanita pernah pacaran dengan teman sebayanya. Namun pacarnya ternyata berhati dua, menduakan sang pengantin wanita dengan temannya sendiri. Sang pengantin wanita tak pernah ambil pusing tentang pacarnya yang berhati dua. Ada pacar, ada juga fans. Sang pengantin wanita juga sempat memiliki fans berat yang selaluuu memberi perhatian padanya. Namun fans hanya sekedar fans, tidak lebih. Karena jelas sang artis memiliki kisahnya sendiri. Selain ada pacar dan fans di sekitar sang pengantin wanita, dia juga sedang dekat dengan seorang pria. Singkat cerita, di akhir kisah, menikahlah sang pengantin wanita dengan seorang pria itu. 

“waktu kami menikah, kami mulai semuanya dari minus, bukan dari nol,” kata sang pengantin wanita.
Pernikahan mereka bisa dibilang nekat. Hanya ridho dan pertolongan Alloh yang bisa membawa mereka sampai pada titik ini, mungkin. Sang pengantin wanita bekerja sebagai buruh pabrik. Sang pengantin pria, dia baru saja lulus sekolah pelayaran. Menjadi lulusan sekolah pelayaran bagi sang pengantin pria bukan sebuah hal yang bisa membuatnya tertawa lebar. Namun tetap saja itu merupakan sebuah prestasi baginya. Prestasi karena dia akhirnya bisa lulus sekolah dengan uang pinjaman dari sana-sini. Ketika menikah, belum bekerja, ada hutang di depan. Apa yang akan terjadi??
Mereka memulai hari mereka sebagai suami-istri seperti pasangan pengantin kebanyakan. Menumpang di rumah orang tua sang pengantin wanita. Meski belum mapan, mereka tetap berencana untuk memiliki anak tanpa menundanya. “anak dulu, atau kerja dulu ya, Pah? Hmm... apa aja dulu yang datang duluan deh ya.. segimana Alloh ngasihnya apa dulu,” kata sang pengantin wanita pada suaminya.
Sang pengantin pria tak henti-hentinya mencari pekerjaan dengan penghasilan yang layak untuk kebutuhan rumah tangga dan mencicil hutang. Penghasilan dari pelayaran dalam negeri waktu itu dirasa tidak cukup untuk memenuhi semuanya. “Mah, Papah berlayar ke Malaysia aja deh ya...” canda sang pengantin pria. “Kalau memang itu jalan yang diberikan Alloh, ya udah, Pah, gak apa-apa Papah pergi jauh juga.”
Paspor, visa, perijinan, dan segala tetek-bengek keperluan berlayar ke luar negeri sudah dilengkapi. Baru saja mereka mencicipi manisnya madu, kini mereka harus terpisah oleh jarak yang terbentang jauh. Sang pengantin wanita mengantar kepergian suaminya demi mencari nafkah. Di Bandara Soekarno-Hatta, ini lah awal segalanya.
--o--
Tergopoh-gopoh sang pengantin wanita menuju rumah tetangganya yang memiliki telepon rumah. Katanya ada kabar dari negeri seberang untuknya, dari suaminya. “Mah, Papah harus pulang dulu. Ada berkas yang belum Papah lengkapi. Papah harus bawa surat keterangan sehat dari tempat asal. Besok Papah pulang, diberikan ijin dua minggu untuk mengurus ini. Diongkosin pulang-pergi juga sama perusahaan. Sudah ya, Mah... wasalamu’alaikum.”
Alloh memberi kemudahan bagi hamba-Nya yang senantiasa berdoa pada-Nya. Mungkin ini jawaban dari kerinduan sang pengantin wanita. Suaminya akan pulang. Alhamdulillah tanpa biaya sepeser pun. Allah memudahkan segalanya.
Dua minggu berlalu. Sang pengantin pria harus kembali lagi ke Negeri Jiran.
Dua bulan berlalu. Sang pengantin wanita memberi kabar gembira pada suaminya. Sambil terisak penuh doa.. “Pah, Mamah hamil...”
Aku takjub mendengar setiap detail kisah ini. Setiap anak di bumi ini memang membawa rizkinya masing-masing. Pada akhirnya kerjaan dapat, anak pun dapat. Mereka semakin hari semakin mapan. Tadinya sang pengantin wanita ingin menamai anak pertamanya “Rizki Ananda”, tapi tidak jadi karena sudah terlanjur diberi nama lain, nama yang sama indahnya dengan Rizki Ananda.

“untung kamu nikahnya sama suamimu yang sekarang ini ya.. bukan sama fansmu dulu, yang dulu tajir tiada tara, sekarang hidupnya gak jelas” ~testimoni seorang kawan sang pengantin wanita terhadap fansnya dulu~
Hutang terbayar, tiga bidadari penyejuk hati, rumah mewah, mobil, motor, gadget, usaha dan pekerjaan, pergi haji, pendidikan anak, piknik keluarga, rohani islam yang semakin kuat, sekarang mereka memiliki semua itu. Dari dua, menjadi lima. Dari dua, bisa merangkul satu, dua, tiga, empat, lima orang, dan banyak lagiii... Karena sejatinya hidup memang untuk berbagi kebahagiaan. Ini lah yang sedang mereka lakukan sepanjang hidup mereka.
Cinta memang bisa mengubah segalanya. Air menjadi api. Pahit terasa manis. Lelah sirna menjadi canda tawa. Batu pun bahkan melunak. Mungkin benar kata ilmu pasti, matematika. Minus (-) dapat menjadi plus (+) ketika minus dikalikan dengan minus ((-)x(-)). Lalu ditambah oleh rumusan cinta, sehingga satu plus (+) bisa berubah menjadi banyaaak sekali plus (+), plus (+), plus (+). 

“seayem-ayemnya rumah tangga terayem yang pernah aku lihat, ternyata dibalik sana tidak seayem luarnya” ~Famysa~
Sang pengantin pria tampaknya mulai jenuh. Pulang bukan membuatnya sumringah. Dia malah terus merenung dan pergi ke masjid lebih sering dari biasanya, hanya untuk menangis. Setiap rumah tangga pasti pernah atau akan melalui fase ini. Ketika jenuh melanda... “Mah, Papah ingin menikah lagi dengan gadis yang masih cantik,” jujur sang pengantin pria pada istrinya. “Papah gak usah nikah lagi. Mamah yang akan menjadi gadis itu.”
Mulai dari belly dance, senam, aerobik, diet makanan, suntik vitamin C, semua dilakukan sang pengantin wanita. Semata-mata demi suaminya yang sedang dilanda kejenuhan. Cukup lama meredakan kejenuhan itu. Hampir satu tahun. Hingga iman dan takwa mengembalikan segalanya. Bahtera yang hampir terbawa gelombang besar bisa menemukan kembali ketenangan laut lepas. Bersama, berlima, mereka melanjutkan perjalanan hidup....

“Rumah tangga kami pernah nyaris di ujung tanduk. Waktu itu aku sudah tidak bisa apa-apa. Aku hanya berdoa, berdoa, dan berdoa. Aku hanya mengajak suamiku untuk istighfar memohon ampun dan berdoa. Jika memang takdir Papah menikah lagi dengan gadis, bisa saja Mamah meninggal lebih dulu, lalu Papah bisa menikah lagi dengan gadis, tidak usah pakai poligami atau bercerai segala,” tutur sang pengantin wanita padaku...

Ini kisah nyata. Mereka adalah orang terdekatku. Mereka adalah keluarga yang sangat aku sayangi. Barakallah untuk keluarga yang senantiasa menginspirasiku ini... :’)
Kisah pernikahan ini diikutsertakan pada Giveaway 10th Wedding Anniversary by Heart of Mine 

barakallah pernikahannya, Mbak Uniek & suami... semoga tetap menjadi keluarga yang samara... semoga langgeng sampai kakek-nenek, biarlah maut menjadi satu-satunya hal yang bisa memisahkan... semoga dari tangan-tangan kalian tumbuh generasi pembela agama dan negara... puokoke sing apik-apik semoga selalu menyertai keluarga Mbak... aamiiin ya Robbal 'aalamiin... :))
doakan juga semoga diriku ini cepat mendapat jodoh yang terbaik ya, Mbak... hihihii :D

By. Si Famysa, :’)

Selasa, 29 Mei 2012

Sundanese Poem

mulai dari postingan ini sampai dengan dua postingan ke depan, aku akan bercerita tentang sesuatu yang terjadi di tanggal 19-20 Mei lalu. 
hoyaa ada apakah pada hari itu?? 
mari kita simak! ;)

tanggal 19 Mei malam, aku ditodong oleh salah satu seniorku di FLP dengan secarik kertas kecil. "Dek, besok kamu baca bagian ini ya. kamu giliran baca ketiga. diterjemahkan ke bahasa Sunda," ujar si Mbak lalu pergi sambil menyeringai *oops maksudnya nyengir kuda. hehehe... 
kenapa aku bilang aku ditodong? karena belum sempat aku bertanya dan berpendapat, si Mbak langsung meninggalkanku. ckck... 
langsung saja kubaca potongan puisi yang ada di secarik kertas dalam genggamanku. kucoba menerjemahkan satu persatu kata ke dalam bahasa Sunda. tapi baru saja aku memulai, aku justru diam seketika. aku mendadak lupa euy sama beberapa kata bahasa Sunda yang harus kugunakan. garuk-garuk kepala deh gue. mana itu malam hari, masih banyak rangkaian acara berikutnya, masih belum mengerjakan desain sertifikat. hmm... semangat kakaks!! --"
aku sempat selesai menerjemahkan puisi itu. tapi kurasa masih ada yang kurang. aku merasa tidak pede membacakannya di depan semua panitia dan peserta Writing Super Camp. takutnya ada diantara mereka yang Sesundaan juga. kan berabe jika bahasa Sunda yang kugunakan dalam puisi itu keliru. malu nanti saya..
beruntungnya aku teringat pada mamahku. mamah bukan saja guru bahasa Indonesiaku di sekolah SMP dulu, dia juga merangkap sebagai tentor bahasa Sundaku. hihihi... lalu ku-sms saja mamah. to the point, minta tolong terjemahkan puisi ke dalam bahasa Sunda. hahahaa *anak nakal merepotkan orang tua *jangan ditiru!
mamah baru balas smsku pagi-pagi. dan ini lah hasil terjemahannya...
anjeun teh kumaha? 
anjeun nyarita yen Pangeran teh deukeut. anjeun sorangan ngageroan Pangeran make sapeker unggal waktu
anjeun nyarita yen anjeun resep akur. anjeun unggal poe ngajakan pasalia 
kuring kudu kumaha?
anjeun nitah kuring ngawangun. kuring ngawangun, anjeun ngarusak
anjeun nitah kuring nyengcelengan. kuring nyengcelengan, anjeun nu meakkeun
anjeun teh kumaha?
anjeun nitah kuring ngagarap sawah. kuring ngagawap sawah, sawah kuring ku anjeun dipelakan imah
anjeun nyarita kuring kudu boga imah. kuring boga imah, anjeun ngaratakeunna jeung lemah
ketika tiba giliranku membacakan puisi bagianku, tebak apa yang terjadi?
semua orang tersenyum *entah geli atau kenapa, bahkan ada yang tertawa juga. why deeh? padahal kakak-kakak yang lainnya tidak ada yang mendapat respon semeriah respon padaku. -,-
aku curhat saja pada mamah. "Mah, puisinya udah dibacain. kok semua penonton pada ketawa ya, Mah?" --- "loh kok ketawa sih?" --- "makanya itu yang aku pertanyakan. kenapa mereka ketawa waktu aku baca puisi bahasa Sunda? padahal waktu yang lain baca mah biasa aja tuh." --- "bisa jadi mereka ketawa gak ngerti atau ketawa karena cara kamu membacanya." --- "hmm iya kali ya, Mah. ada orang Sunda nyasar di tengah-tengah orang Jawa, ya diketawain lah logatnya --a"
oh ya, sebelum mendapat hasil terjemahan mamah, aku juga sudah mencoba menerjemahkannya. nah tapi ternyata bahasa terjemahanku terlalu halus, tidak cocok lah untuk puisi yang berisi kritikan dan keluhan seperti ini. hhoho... untuk yang kesekian kalinya aku acungkan 4 jempolku untuk mamah deeh :D terima kasih mamah :*
oops... ada yang tahu arti puisi di atas? pasti hanya yang bisa bahasa Sunda yang mengerti ya? hehehe *ya iya laahh... :O
baiklah akan kuberi versi bahasa Indonesianya khusus untuk teman-teman pembaca semuanya :) ini dia...
poem by Gus Mus
for full version, click here
sudah dulu yaa cerita malam ini. ikannya belum mereeem *loh :S

by. si Famysa, bobo yuk! :)

Kamis, 26 Januari 2012

For My Mum

Mamah
Jika dunia beserta seluruh isinya dapat kubeli, akan kuhadiahkan semuanya untukmu mah..
Hatimu setegar batu karang, bahkan lebih dari itu
Lembutnya embun pagi tak dapat menandingi kelembutan hati, air mata dan belaianmu
Cinta Illahi ada dalam senyumanmu
Betapa mulianya engkau di mata Tuhan
Harus dengan apakah aku membalas semua jasamu mah??
Harus dengan apa???
Nyawaku saja tak cukup untuk itu

Mah, tak lelahkah kau mengasuhku?
Tak inginkah kau membunuhku disaat aku mendurhakaimu?
Aku mencintaimu mah...

19 tahun aku bersamamu, tak pernah sekalipun aku melihat air mata dukamu
Tanda apakah senyummu itu mah?
Bahagiakah kau bersamaku mah?
Atau dukakah yang ada selama ini?
Entahlah...
Yang jelas kebahagiaanku yang terbesar adalah ketika aku dapat melihat sebuah senyuman dari wajahmu

Mamahku wanita hebat
Mamahku wanita perkasa
Mamahku tak akan meneteskan satu titik air mata pun untukmu
Aku sayang mamah
Aku butuh mamah
Tetaplah kau disampingku mah..
Aaaaahhh.....
....Menangislah kau cengeng! Teruslah menangis. Karena walau sampai kering air matamu tak akan mampu membalas secuil dari jasa mamahmu

Astaghfirullaaah....
Aku ingin bersimpuh di hadapannya Ya Allah!!
Aku ingin memeluknya dan menangis dalam dekapannya
. . . . . . . . . . . . . .

~Famysa - 2012~

"Ungkapan Anti Biasa, Ungkapan Dengan HTML"

by. si Famysa, love mamah

Jumat, 20 Januari 2012

Panggil Dia Kakak!


Oleh: Syifa Azmy Khoirunnisa

“Gung, sini... salam dulu sama Kakakmu.” Kata Nenek di tengah pelajaran IPS yang sedang berlangsung. Ya, Nenekku merangkap sebagai guruku di Sekolah Dasar. Bahkan Nenek adalah wali kelasku di kelas 4.
Aku maju dengan langkah enggan menghampiri orang yang Nenek sebut sebagai kakak. Kucium tangannya, juga kucium tangan laki-laki yang ada di sampingnya. Laki-laki itu adalah suaminya kakak.
-o-
Kini aku menyadari betul apa kesalahan terbesarmu. Aku... aku lah kesalahan terbesarmu. Dan aku begitu salah hingga aku tak pantas memiliki seorang ibu. Aku begitu salah hingga cap keturunan narapidana melekat padaku. Aku juga begitu salah karena aku lebih memilih tinggal di tengah-tengah tumpukan sampah yang menggunung. Semua kesalahanku aku anggap lebih baik daripada aku harus menerima kehadiranmu.
Kau mau memberiku apa lagi? Setelah sepetak tanah, sebongkah rumah, sebuah motor, mobil, harta melimpah, jaminan hidup dari asuransi. Apa lagiii? Dulu aku masih bodoh, aku begitu polos sehingga mau saja menerima semua pemberianmu sebagai penyumpal mulutku. Sungguh aku menyesal karena baru menyadarinya kini.
-o-
“Dian! Jangan pernah kau datangi lagi si pemulung itu. Ayah dan ibu sampai kapan pun tidak akan merestui hubungan kalian.”
“Tapi, Bu.. aku sangat mencintainya. Dan dia juga sangat mencintaiku. Aku akan hidup bahagia jika bersamanya, Bu. Tolong restuilah hubungan kami.. izinkan kami menikah.”
“Tidak! Lebih baik kau pergi dari kehidupan Ibu dan Ayah jika kau tetap ingin hidup bersama pemulung yang tidak memiliki masa depan itu.”
“Baik, Bu. Aku rasa aku akan memilih untuk pergi.”
“Kau boleh kembali ketika kau sudah tidak bersama pemulung itu lagi, Nak.”
“Terima kasih, Yah.. Tapi aku akan selalu bersamanya. Maafkan aku.”
-o-
Dengan atau tanpa restu kedua orang tuanya, Dian tetap bersikukuh untuk menikah dengan Hadi. Mereka kawin lari! Setelah itu mereka tinggal di rumah susun milik Hadi, di tengah lingkungan kumuh pemulung.
-o-
Sekilas info:
Sekawanan perampok mini market 24 jam berhasil diciduk oleh tim kepolisian daerah Bandung Barat. Mereka terdiri dari 5 orang. 2 diantaranya wanita, dan 3 diantaranya pria. Identitas perampok tersebut dapat diketahui dengan mudah setelah polisi menggeledah barang curian mereka, menggeledah barang bawaan lainnya, hingga ditemukannya KTP dari salah satu perampok. Satu orang diketahui identitasnya, tentunya dia membongkar identitas rekan-rekannya juga karena tidak mau malu sendirian. Dan berikut identitas para perampok itu agar pemirsa mengetahui dan dapat berantisipasi.
Klik!
TV dimatikan.
-o-
“Mas, kenapa kamu tega melakukan ini padaku?”
“Maafkan aku, Dian. Aku terpaksa melakukannya. Aku sudah tidak tahu lagi harus memberimu dan calon bayi kita makan dari mana. Sedangkan aku hanya seorang pemulung. Kau tahu sendiri bagaimana susahnya kita. Apalagi sebentar lagi dia akan terlahir ke dunia. Aku semakin bingung. Aku terpaksa merampok. Maafkan aku karena aku telah membohongimu, aku berpura-pura bekerja pada temanku padahal aku melakukan pekerjaan tercela. Maafkan aku, Istriku...”
“Aku akan menunggumu. Meskipun tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Aku akan setia menunggumu pulang, Mas..”
Tidak ada lagi kata yang terucap dari seberang. Hadi justru meninggalkan Dian tanpa mengucap kata perpisahan sedikit pun. Keduanya menangis. Dian pun tahu jika sebenarnya Hadi, laki-laki, perampok, pemulung yang dicintainya menangis ketika dia membalikkan badan dan pergi meninggalkan Dian seorang diri di ruang jenguk tahanan.
-o-
“Mama... Mamaa... Papa kapan puyangnya, Ma?”
“Sebentar lagi, Agung sayaang... lebih baik Agung sekarang tidur siang yuk! Nanti kalau Papa pulang mama kasih tahu, nanti Agung mama bangunkan deh.”
“Aciik.. aciiiik.... benelan ya, Maa...”
Agung kecil tidur dengan pulasnya. Agung tak pernah tahu bahwasannya Dian, ibunya selalu menangis di kala Agung sedang tertidur. Sudah tiga tahun lebih berlalu. Bahkan nyaris empat tahun Hadi tak kunjung datang. Dian tersiksa oleh perasaan rindunya pada Hadi. Semenjak pertemuannya dulu di ruang jenguk tahanan, Dian tidak pernah bertemu lagi dengan Hadi karena Hadi selalu menolak kunjungan Dian. Ketika itu Dian datang hanya untuk mengabari dan memperlihatkan bayi mungil buah cinta mereka yang sudah lahir ke dunia. Namun Hadi menolak. Dian datang lagi ketika Hadi berulang tahun, Hadi tetap menolak. Begitu pun seterusnya. Entah itu hari ulang tahun Dian, hari ulang tahun pernikahan mereka, hari ulang tahun si kecil Agung, Hadi selalu menolak tanpa alasan dan tanpa sepatah kata pun.
Lama-lama Dian sadar. Hidupnya berada dalam kehampaan. Hanya Agung, putra semata wayangnya yang dapat dia peluk di kala sepi melanda. Hanya Agung juga yang selalu mengisi hari-harinya di tengah rumah susun kumuh pemberian Hadi.
Dian sangat terpukul. Dian kecewa. Tubuhnya kini mengurus, sangat kurus. Wajahnya tak lagi secantik dulu. Yang tampak dari sinar bola matanya kini hanya tatapan sayu, pandangan kosong akan masa depan.
-o-
Bersimpuh Dian di hadapan kedua orang tua yang telah tiga tahun lebih dia tinggalkan, tanpa kabar, tanpa berita. Wajah Dian dibanjiri air mata. Sedangkan Agung yang masih kecil tidak mengerti mengapa ibunya menangis, juga tidak tahu siapa yang ada di hadapannya sekarang.
“Dia meninggalkanku, Yah.. dan kini aku kembali. Aku sudah tidak bersamanya lagi.”
“Kau pantas menerimanya, Dian. Karena kau telah mendurhakai kedua orang tuamu sendiri demi si pemulung itu. Dan apa kau sadar, bocah ingusan yang kau bawa ini sengaja ditinggalkan si pemulung untuk menambah berat beban hidupmu. Tapi syukurlah kini kau kembali. Walaupun Ayah dan Ibu tidak akan menerimamu secara serta-merta.”
“Katakan aku harus melakukan apa agar aku dapat kembali bersama kalian, Yah.. Bu.. Aku sudah tidak kuat hidup di tengah harapan semu, dan bahkan harapan itu kini benar-benar melebur bersamaan dengan menghilangnya Hadi dari hidupku. Aku akan mematuhi segala titahmu, Yah.. Bu.. Ampuni aku.”
“Tinggalkan bocah ini bersama kami di sini. Pergilah kau ke kota untuk melanjutkan sekolahmu. Dengan begitu kau akan kami ampuni.”
-o-
Hari ini Dian diwisuda oleh Sekolah Pariwisata Aryati, Bandung. Segera setelahnya Dian langsung ditempatkan dinas di pelayaran dalam negeri PT Hegar sebagai operator di kantor.
Tak lama berselang, datanglah seorang polisi berpangkat Ajun Komisaris Polisi ke dalam kehidupan Dian. Dan cinta yang telah lama dikubur Dian dalam-dalam kini mulai merekah kembali. Tetapi bukan lagi kepada Hadi, melainkan pada Nugroho.
-o-
“Agung sayaang... hari ini mereka akan menikah. Dan Nenek minta sama Agung mulai hari ini Agung panggil dia Kakak ya.. jangan panggil Mama lagi. Nanti Nenek belikan coklat kesukaan Agung kalau Agung mau nurut kata-kata Nenek.”
“Iya, Nek.. Agung mau coklat. Agung sekarang mau manggil Mama, Kakak..”
“Pintarnya cucu Nenek...”
-o-
“Aku ingin tinggal dengan Papa!”
“Agung! Jangan bandel kamu ya.. tetap tinggal di sini sama Mama dan Papa Nugroho. Kamu tidak sepantasnya tinggal bersama ayah kandungmu di tengah tumpukan sampah itu. Sekarang papamu adalah dia, Papa Nugroho. Bukan si pemulung dan si perampok itu.”
“Biarkan aku pergi!”
-o-
Satu lagi kesalahan terbesarmu, Ma.. Kau mengaku perawan sewaktu polisi itu melamarmu. Aku harus mengaku sebagai adikmu. Aku harus memanggilmu kakak. Kau membayarku dengan tanah itu, dengan rumah itu, dengan setumpuk uang itu. Aku tidak membutuhkan itu semua. Yang kubutuhkan hanya cinta.
Kini kau mengaku pada suamimu bahwa sebenarnya aku ini anakmu, bukan adikmu. Tapi semuanya sudah terlambat. Aku memilih hidup dengan papaku. Ambil lagi semua harta benda yang telah kau berikan padaku. Bila perlu kau bisa menjual semuanya agar kau bisa menghapus jejakku. Aku benci kau, Ma..
-o-
“Dian, maafkan aku. Aku menghindar karena aku malu. Aku telah mengecewakanmu. Aku telah membawamu ke dalam derita yang seharusnya hanya aku sendiri yang merasakannya. Aku malu karena tidak bisa menjadi laki-laki terbaik bagimu. Aku malu karena aku miskin, aku hanya pemulung, aku perampok, aku narapidana. Aku malu. Aku sengaja menjauh darimu, dari anak kita agar kau kembali pada orang tuamu. Semoga kini kau bahagia dengannya, Dian... Aku akan tetap mencintaimu hingga akhir hayatku.” Lirih Hadi dalam hati sembari menatap Dian yang sedang tertawa dengan suaminya dari kejauhan...
Hadi dan Agung pun kembali mengerjakan tugas mereka. Memulung sampah.

by. si Famysa, deg2an buka perban ><

Kamis, 22 Desember 2011

Syifa Bagi Ibunda

Oleh: Syifa Azmy Khoirunnisa

Langit sudah tak lagi berwarna biru. Jingganya memantul di jendela rumahku, membias ke seluruh ruangan. Rumahku terasa seperti istana yang sangat luas, hingga derap langkahku dapat terdengar oleh indera keseimbanganku. Tiba-tiba jingganya langit pergi entah kemana. Datanglah hitamnya malam ditemani semilir angin yang juga mengundang bulir-bulir pembuka pintu rejeki menyambangi rumahku. Kami hanya berdua bertemankan televisi mungil kesayangan kami. Hanya ada aku dan mamahku.
Hujan di luar semakin deras. Tak jarang kilatan cahaya pun datang mendahului gelegar petir yang dapat menggetarkan jendela rumahku. Akhirnya televisi dimatikan oleh mamahku agar aman dari sambaran petir.
Seketika gelap.......
“Maaah... gelaaap... mati lampu...”
Dan, cekrees... Dua lilin kecil pun ikut menyaksikan kebersamaan kami.
Mamah sudah hampir terlelap di kursi panjang di ruang tengah. Sedangkan mataku belum saja dapat terpejam. Aku takut pada hujan kali itu. Apalagi tanpa kehadiran bapak di tengah-tengah kami karena alasan sibuknya pekerjaan. Hening dan sunyi yang tercipta memancingku untuk memulai pembicaraan.
“Mah, kenapa namaku Syifa Azmy Khoirunnisa? Kan kebagusan, Mah. Diantara teman-temanku yang lain tidak ada yang punya nama sebagus namaku.”
“ooh.. sebenarnya nama itu Mamah tiru dari nama anak seorang teman mamah. Namanya Syifa Khoirunnisa. Jadi Mamah tambahin saja Azmy di tengah-tengahnya. Hehe..” jawab mamahku dibarengi tawanya.
“loh memangnya apa alasannya kok Mamah niru nama itu?” tanyaku keheranan.
“karena artinya sangat indah. Syifa berarti obat, Khoirunnisa berarti wanita yang baik. Yaa... Mamah sih berharapnya kamu bisa sesuai dengan namamu.”
“ooohh...” aku mengangguk kecil.
Ketika aku baru akan benar-benar memejamkan mata, mamah justru kembali berbicara. Kuurungkan niatku untuk tidur. Kudengarkan mamahku tercinta bercerita.
“dulu waktu teman Mamah mengandung anaknya yang dia namakan Syifa Khoirunnisa itu, tadinya dia sudah mau minta cerai pada suaminya. Eh tapi ternyata dia sedang hamil. Waktu dia tahu dia hamil, dia gak jadi deh minta cerainya. Akhirnya selama kehamilannya, kondisi dia dan suaminya membaik. Hingga lahirlah seorang bayi perempuan. Nah, karena bayi itu dia anggap sebagai pemersatu dia dan suaminya, maka dia namakan bayinya Syifa yang berarti obat bagi hatinya yang sempat terluka. Dan Khoirunnisa yang dia anggap dapat menjadi mantra agar obat hatinya itu kelak dapat menjadi wanita baik. Wanita baik yang bisa lebih baik darinya, lebih baik dalam membina hubungan dengan suaminya.”
Lagi-lagi aku berkomentar, “oooohh..... loh.. loh.. lalu Azmy itu apa dong artinya?”
“Azmy itu diambil dari kata Ulul Azmi, julukan bagi para Rasul yang telah teruji keimanannya. Karena saking kuatnya mereka dalam menjalankan perintah-Nya, lebih kuat dari nabi-nabi lain makanya Allah memberi keistimewaan predikat Ulul Azmi bagi mereka.”
Aku pun tertidur lelap. Tidurku kala itu dihiasi oleh senyum yang sangat indah. Sungguh tak kusangka arti dari namaku sedahsyat itu.
Kemarin telah menjadi waktu yang lampau bagiku. Kemarin telah menjadi sejarah dan kenangan manis maupun pahit dalam memori dan hatiku. Esok aku tak tahu akan seperti apa. Yang kutahu kini mereka sedang mengurusi segalanya di meja hijau. Entah berkas apa saja yang mereka bawa aku sungguh-sungguh tak mengerti.
Nilaiku hancur. Prestasiku menurun. Dari angka 5 menjadi angka 27. Bayangkan saja betapa sangat terbebaninya hati dan pikiranku. Kehidupan sosialku berantakan. Sering mondar-mandir ke ruang BK. Bahkan sering pula guru BK mengunjungi tempat kosku. Aku jatuh sakit hanya karena menangis. Aku lemas. Aku lemah tak berdaya apa-apa untuk mengembalikan semuanya pada suasana baik-baik saja.
...if i was invisible... and i could just watch you in your room.. if i was invisible...
Telpon genggamku berdering tanda ada panggilan masuk. Ternyata dari bibiku.
Teh, kamu jangan menyalahkan mamahmu karena meminta cerai pada bapak. Mungkin cerai dari bapak memang hal yang bisa membuat mamahmu bahagia, Teh. Teteh gak tahu kan gimana kelakuan bapak teteh sebenarnya selama ini? Bapak teteh terlalu pintar bohong, dia jago bersandiwara. Bahkan sekarang sampai Teteh saja bisa menyalahkan mamah atas semuanya. Padahal tidak, Teh. Ya mungkin mamah Teteh memang salah. Tapi bapak teteh juga salah. Biarkan mamah Teteh bahagia. Kalau memang sudah tidak ada jalan lain kecuali cerai, ikhlaskan, Teh. Asal Teteh tahu ya, dari sebelum ada Teteh juga mamah Teteh itu sudah tidak kuat hidup bersama bapak. Dia selalu mengeluh pada keluarga ‘apa cerai saja ya?’. Tapi mamah Teteh selalu berusaha untuk diam dan mengalah. Walaupun bapak egois, walaupun bapak sering meninggalkan mamah, dan asal Teteh tahu juga... walaupun bapak berbohong bujangan ketika menikah dengan mamah padahal dia duda yang meninggalkan istrinya yang sedang hamil muda, mamah Teteh tetap bertahan. Dia menganggap dia bisa memperbaikinya. Dia menganggap sabar dan diamnya itu bisa menyelesaikan masalah. Padahal tidak. Itu hanya menjadi bom waktu bagi mamah teteh. Dan bom itu ternyata sekarang lah waktu meledaknya.”
Tangisku meledak seketika. Aku bahkan hampir tak sadarkan diri dibuatnya. Kupingku panas, hatiku panas, otakku panas, jiwa dan ragaku panas. Aku roboh. Ruangan berukuran 3 x 3 meter itu menjadi saksi linangan air mata terperihku.
Terima kasih, Mamah atas segalanya... atas nyawa dan cinta yang kau pertaruhkan untukku... atas kasih sayang yang tak kan pernah sanggup aku balas...
Kini aku tahu, Syifa Azmy Khoirunnisa dalam anganmu adalah aku.

Selamat hari ibu....  J

by: si Famysa, love mom :*

Kamis, 08 Desember 2011

Sebab Ku Kasihi Dia


Oleh: Syifa Azmy Khoirunnisa

Awal bulan November setahun silam di rumah tanteku...
“Sitiiiii......” teriak Enek sangat kencang dan mengkhawatirkan dari kamarnya.
Ternyata Enek terjatuh di kamar mandi ketika hendak buang air kecil.
Tak ada yang bisa mengembalikan luka menjadi suka. Tak ada yang bisa mengembalikan sesal menjadi putusan. Semua telah terjadi. Kini tubuh renta yang acapkali mencoba untuk pergi hanya bisa terbaring kaku di atas kasur merahku. Usahanya untuk terbang mengejar rajawali ternyata sia-sia, karena kini dia tertahan dalam sebuah penjara diri. Bukan... penjara diri bukanlah penjara tempatnya orang-orang kriminal. Penjara diri hanyalah sekat tipis antara dunia nyata dan tidak nyata.
Sempat kusesali mengapa harus kamarku yang dijadikan kamar Enek. Meskipun hanya sementara, tapi tetap saja itu membuat keadaan kamarku berubah. Ahh... tak ada guna. Biarkan saja hatiku yang mencoba berkompromi dengan akalku.
Enek kini entah hidup di dunia mana. Antara dunia nyata dan tidak nyata, adakah dunia itu?
Tawanya kadang mengajakku untuk ikut tersenyum. Lucu memang. Seperti bayi yang tiba-tiba tersenyum ketika bermimpi indah. Kupikir lebih baik dia tenggelam dalam tawa. Setidaknya sedikit tawa itu dapat memperlambat sel-sel sarafnya terputus dan membantu asam lambungnya membaik.
Namun tawanya tak pernah lama. Selepas tawa, seperti datang gemuruh ombak menyapu setiap kecantikan bibir yang merekah indah. Enek kembali bergulat dengan bayangan-bayangan yang ada dalam dunianya. “pergi kamu, Setan! Pergi jauh-jauh dariku. Jangan pernah kau datangi aku lagi. Aku muak padamu. Anjing!”
  Aku malu. Aku benci. Aku prihatin. Malu karena dia adalah nenekku. Benci karena dia menjadi orang yang setengah waras-setengah gila, walau pada kenyataannya prosentase kegilaannya jauh lebih tinggi ketimbang kewarasannya. Prihatin karena dia tak kunjung dijemput Aki untuk hidup kekal bersamanya. Ya.. mati. Aki telah mati. Dan kupikir hanya mati lah yang dapat membebaskan Enek dari belenggu penjara diri.
Rasa benciku mulai menjalar pada ibu dan adikku. Mereka pergi. Apalagi ibuku. Dia sepertinya memang sengaja pergi dan tak pulang hingga malam. Tinggallah aku berdua dengan Enek di rumah. Satu hal yang sangat tidak aku inginkan terjadi.
Dengan sangat amat terpaksa, aku harus memberi Enek makan. Itupun demi melaksanakan perintah ibuku. Aku bingung dengan pesan ibu, ‘tolong beri Enek makan. Makanannya ada di meja.’ Meja manakah yang dimaksud? Asumsiku hanya terpaku pada meja makan tua peninggalan ayahku itu. Kubuka tutup saji, namun tak kulihat apa-apa kecuali goreng pisang yang sudah layu. Inikah makanan Enek? Hanya goreng pisang selama berhari-hari.
Kutengok kamarku yang dipinjam oleh Enek. Tak kudengar lagi Enek mengoceh dengan bayangan-bayangan dalam dunianya. Enek tetap terbaring. Mungkin dia tidur. Lantas aku tak tahu harus kuapakan pisang goreng ini. Sempat aku bergetar dibuatnya. Aku bergetar takut melihat Enek seperti mayat hidup. Kutanya ibu, katanya sediakan saja di sampingnya nanti juga dimakan. Baik, akhirnya dengan tutup hidung aku mendekati Enek. Semakin dekat, uh! Baunya semakin tidak karuan. Antara bau makanan yang sudah membusuk dikerumuti semut, bau Enek yang semakin menua, bau pampers adult tempat Enek mengeluarkan segala isi perutnya. Aku muak, mual, sedih.
Salahkah indera penciumanku jika aku mencium bau tak sedap? Lalu salahkah refleks mulutku yang mengeluh ‘uh bau...’ ketika indera penciumanku mengirim data pada otak dan memutuskan bahwa itu adalah bau. Oh sepertinya selama Enek masih tetap tinggal di sini aku tak akan ada henti-hentinya mengeluh dan mengeluh.
Enek terbangung ketika aku tepat berada di sampingnya untuk menyimpan makanannya. Dia menyadari keberadaanku makanya dia terbangun. Yaa Tuhan, apa yang harus kulakukan? Aku tak mau menyuapinya. Aku hanya ingin membiarkan dia makan sendiri tanpa harus kusuapi.
“Dah.. Odah... Odah bukan?” tanya Enek. Mungkin dia melihat sosok yang mirip dengan Odah –ibuku- namun dia ragu apa benar sosok itu adalah ibuku –anaknya-.
“bukan, Nek. Ibunya kan sedang kerja. Ini Nyai Uni.” Jawabku sekenanya.
“oh iya ya.. Odahnya kan kerja.”
Dia bahkan tidak memperhatikanku. Dia tidak ingat padaku, cucunya yang dulu menjadi cucu emasnya. Dulu Enek bangga kepadaku karena aku selalu ranking satu di kelas. Enek bangga karena aku mewarisi kecerdasannya. Enek merasa tidak sia-sia menyekolahkan ibuku hingga perguruan tinggi, karena aku –cucunya- juga menjadi anak yang cerdas. Aku pun kerap dibawa Enek ke kondangan-kondangan. Dia ingin menunjukkan pada semua teman-temannya bahwa inilah cucu dari anaknya yang berhasil menjadi sarjana. Memang hanya ibuku yang kuliah. Pamanku –kakaknya-, tante dan omku –adiknya- tidak ada yang kuliah. Jadilah aku menjadi cucu emas Enek. Namun kini... satu-satunya yang dia ingat di rumah ini hanyalah ibuku.
Tangisku pun membuncah. Aku tak bisa menahan bulir-bulir itu berjatuhan. Lelah aku memaksa untuk bertarung, pada akhirnya aku memang harus menyerah. Kubiarkan air mataku mengalir perlahan. Melewati pelupuk mataku, pipiku, hidungku, bibirku, dan jatuh..
Aku keluar walau tetap mengintip untuk mengawasi. Kubiarkan Enek menggapai makanannya sendiri. Dengan tangan kirinya dia mengambil satu buah goreng pisang yang tadi kutaruh di sampingnya. Enek terlihat sangat riang ketika melahap segigit demi segigit goreng pisang. Entah apa lagi yang tergambar dalam benaknya sekarang.
Aku masih mengingat hari itu. Hari pertama Enek dipindahkan ke rumahku karena om dan tanteku harus bekerja di luar negeri.
“Sitiiiii........” panggil Enek.
“Sitinya gak ada, Mak. Kan lagi di luar negeri sama suaminya.” Jawab ibuku.
“ooh emang ini Emak dimana?”
“di rumah Odah, di Bandung.”
“Emak kira Emak masih ada di Karawang sama Siti.”
Selesai bertanya, Enek kembali sibuk dengan dunianya. Dia mengobrol entah dengan siapa, entah membicarakan apa, kadang terbahak-bahak, kadang mengumpat, kadang seperti sedang dikejar-kejar ketakutan. Enek sepertinya bahagia dengan dunianya sendiri. Mungkin di sana dia bisa berjalan, bahkan berlari. Mungkin juga di sana dia mempunyai banyak teman yang kini telah mendahului Enek menghadap Yang Maha Kuasa. Tak jarang pikiran ingin masuk ke dunia Enek melintas di depan mataku. Tapi itu tidak mungkin karena dunia kami berbeda. Dunia kami terhalang oleh ruang. Aku nyata, Enek hanya berkhayal.
Ibu pernah memintaku untuk mengelap badan Enek dan menggantikan popoknya. Jelas saja aku menolak. Mengurus bayi mungil yang lucu pun aku tidak mau, apalagi mengurus nenek jompo lumpuh seperti itu.
Kudengar dari luar kamar Enek ketika ibu sedang menyuapinya makan bakso..
Oh ya, awalnya aku heran kenapa ibu memberi Enek makan bakso, bukannya nasi. Ternyata kata ibu, sekarang Enek sudah tidak mau lagi makan nasi. Aku hanya mengangguk-angguk kecil.
“Odah.. si Engkus sih mana? Kok jarang kelihatan.”
Ibu menjawab lirih, “dia lagi sibuk-sibuknya kerja, Mak. Jadinya gak sempat pulang untuk ketemu Emak.”
Enek. Andai dia tahu. Ibu dan Engkus –ayahku- sudah lama berpisah. Ayahku kini telah bahagia bersama yang lain. Aku benci Enek jika sampai Enek melukai perasaan ibuku. Terlebih lagi ketika Enek memanggil adikku dengan nama Mahmud. Mahmud bukan nama adikku, Nek! Dan dia sekarang sudah kelas 1 SMP, bukan bayi lagi. Aku hanya bisa berharap agar Enek bisa segera menghentikan kegilaannya. Dia terlalu terbuai oleh dunianya. Oh dadaku terlalu sesak.
Dan untuk yang kesekian kalinya, lagi-lagi ibu membiarkanku berduaan dengan Enek di rumah. Ibu sok romantis ingin mendekatkan aku dengan Enek. Aku tak suka.
Aku hendak mengambil baju yang ada di lemariku di kamar Enek. Bersamaan dengan suara decit pintu lemari, sayup-sayup kudengar ada suara yang memanggilku. ‘Nyi Uni’. Aku berbalik. Ternyata Enek yang memanggilku. Enek mengingatku. Enek tidak lagi memanggilku Odah.
Mataku berkaca-kaca, tapi aku tidak boleh menangis. Perasaan aneh bercampur takjub dalam hatiku meluap-luap tidak terbendung. Enek sedang mengajakku bicara. Aku harus bisa mengalahkan perlawanan air mataku yang ingin terbebas dari sangkarnya. Aku harus tetap berbicara dengan Enek.
Hanya lima menit aku berbicara dengan Enek sebagai Nyi Uni. Biasanya aku harus berdusta, berpura-pura bahwa aku adalah Odah. Dan aku terlalu muak. Kini setelah tak lebih dari lima menit Enek mengingatku, Enek kembali larut dalam dunianya. Ahh...
Suatu malam ketika aku sedang duduk berdua dengan ibuku.. Hening yang tercipta dibuyarkan oleh umpatan Enek yang semakin keras. “Goblok, Sialan, Bangsaaat!! Pergii... pergiii!!”
“Bu, tidakkah Enek capek mengumpat, menyumpah-serapah setiap hari? Aku saja sampai capek mendengarnya. Bukannya kata dokter juga penyakit Enek menjadi semakin parah karena kesempitan hatinya. Kerjaannya tiap hari saja begitu. Gimana mau sembuh. Sudah lumpuh, maag, terus nanti penyakit apa lagi yang akan muncul coba, Bu.”
Ibuku hanya tersenyum tanpa menjawab dengan satu kata pun.
Tanpa sadar senyuman ibu telah membuatku takut. Yaa Tuhaaan... tidak! Jangan biarkan pikiran buruk yang sesaat melintas di benak ini terjadi. 

by. si Famysa, banyak PR

Mijn Vriend