Tampilkan postingan dengan label buku-buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku-buku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Maret 2015

Dia yang Memanggilku Teteh

Ada lagi yang memanggilku 'teteh'. Aku pernah mengalaminya dulu. Sama persis. Ini seperti sedang bernostalgia pada kehidupan 8 tahun yang lalu. Andai bisa lebih lama dan perlahan... Apa ini? Siapa dia? Aku ragu untuk meneruskan ide gila dengan masa laluku. Aku rindu dia yang memanggilku 'teteh'.
Oh dear... kamu benar-benar mengingatkanku padanya 8 tahun yang lalu. kamu mendengar, kamu penyayang anak-anak, kamu mudah dekat dengan wanita, kamu selalu membuatku cemburu. kamu itu dia....
Lalu, apakah kamu memang seperti dia? jika iya, beruntung sekali wanitamu. Oh, apakah wanitamu sepertiku juga? Mengapa kita sama?
Klik.
Kurasa cukup untuk hari ini. Aku sudah tidak berminat menuliskan resah gelisahku lebih jauh di catatan harian digitalku yang bernama blog. Benda ajaib yang tak bisa diraba itu lah yang menyimpan segala isi hatiku, bak tempat sampah. Ia selalu mendengar dengan khidmat. Namun tidak pernah ada respon. Ah.. Mungkin itu lebih baik daripada bercerita pada benda bernama manusia yang jago merespon, namun juga jago bermulut besar. Hari ini bercerita ke satu orang, esok hari seluruh dunia bisa tahu. Blogku jauh lebih baik sepertinya. Hanya sepertinya.
--o--
Oh, hey, Dung... Kamu masih ingat beberapa waktu yang lalu aku pernah bilang kalau aku sedang jatuh cinta pada sosok yang mirip kamu? Kamu salah jika kamu mengira aku sedang bercanda. Kamu juga salah jika kamu mengira aku sengaja mengarang cerita untuk membuatmu cemburu. Aku memang sedang jatuh cinta lagi padanya, Dung. Pada orang lain yang mirip kamu. Sosoknya memang ada. Dan itu bukan kamu.
Kamu terlalu jauh meninggalkanku. Sepertinya waktu tiga bulan cukup untukmu mengubur semua kenangan tentangku. Tiga bulan berlalu tanpa kehadiranku mampu membuatmu lupa pada cintamu padaku. Tidak ada lagi ucapan sayang, tidak ada lagi ucapan kangen, tidak ada lagi rasa membutuhkan diriku. Semudah itukah?
Sedangkan aku sebaliknya. Tiga bulan tanpa kehadiranmu justru membuatku semakin mencintaimu. Segala upaya yang kulakukan pasti sambil mengingatmu. Tidak ada sedetik pun aku melupakanmu, Dung. Bahkan sebelum aku tidur pun, namamu selalu terucap dalam doaku. Semoga aku dan kamu dipertemukan dalam mimpi... Semoga kita bisa saling menjaga cinta kita, menjaga hati kita masing-masing...
Ah, Dung, maafkan aku. Aku juga yang salah. Aku terlalu munafik. Aku menangis menyalahkan diriku sendiri. Kamu begitu karena kekeliruanku juga. Padahal aku tahu kamu selalu ingin bersamaku. Maaf.
--o--
 “Teh... Teteh... Teh Isah.. Aku mau manggil kamu Teteh aja ya.. Teh Isah. Gak apa-apa kan?”
Tetehnya sih gak apa-apa. Tapi itu Isah-nya please deh, Ndi, norak banget. Nama bagus-bagus Annisa kok jadi Isah.”
Namanya Andi Satria Gunawan. Sama-sama mengandung awalan huruf “A”, dan “awan” di belakang namanya, seperti kamu, Dung. Ardiansyah Hendrawan.
Aku sama sekali tidak menyadari sejak kapan aku mulai menyukainya. Aku juga tidak mengerti, apa alasan aku menyukainya. Rasa ini tiba-tiba datang setelah dua bulan aku mengenalnya. Kurasa ini terlalu cepat. Ah, bukannya sama, padamu dulu juga aku begini.
Aku benar-benar seperti sedang bernostalgia, Dung. Nostalgia dengan bayangmu lewat sosok orang lain. Mungkin aku hanya sedang amat merindukanmu. Mungkin. Namun kamu menjauh dan terus menjauh, sengaja menjauh. Padahal selalu ada rasa rindu di sini. Rindu yang tidak pernah berkurang kadarnya. Rindu yang terkadang sanggup membuat aku dan kamu hidup.
Bayanganmu berkelebatan dalam benda penting di kepalaku. Benda yang disebut otak. Benda yang akan membuatku mati jika ia juga mati. Silih berganti, tidak hanya ada bayanganmu. Tapi juga bayangannya. Muncul kamu yang pertama kali memanggilku “teteh”. “Mulai sekarang aku mau manggil kamu teteh ya..” Lalu muncul dia dalam sketsa yang sama. Memanggilku teteh.
--o--
“Kak, kakak pacarnya Kak Andi ya?” tanya seorang bocah perempuan berpita pink di sebelah kanan kepalanya seperti Hello Kitty, bocah itu anggota Klub Taman Pelangi –sebuah klub baca anak-anak yang mempertemukanku dengannya-.
“Looh.. siapa yang bilang, Dik? Bukan.. Kakak sama Kak Andi nggak pacaran. Pacarnya Kak Andi kuliahnya jauh, di Jakarta.”
“Aah Kak Icha bohong... Kalau gitu kayaknya Kak Andi suka deh sama Kakak. Sering banget Kak Andi salah manggil nama kakak-kakak yang lain, manggilnya ‘Icha” terus. Terus tatapannya Kak Andi sama Kakak itu loh Kaak... Hihihi,” bocah itu cekikikan. Kali ini teman-temannya juga ikut cekikikan. Dasar bocah jaman sekarang, ngebully orang yang lebih tua berani ya. 
Entah terprogram atau tidak, sejak mendengar perkataan bocah itu, hati ini juga ikut berkata bahwa ia memang sedang jatuh hati. Terungkapkan atau tidak, hati ini tetap merasakannya. Terlebih jika orang yang dijatuhi hatinya menebar umpan yang sama, dan menelan umpan yang sama pula. Sama-sama mengumpan dan terumpan.
“Kamu boleh memanggilku teteh, atau apapun yang kamu mau. Tapi jangan sampai memanggil dengan panggilan itu di depan teman-temanku ya.. Kan malu nantinya. Takut mereka jadi gosipin kita.”
“Iya, Teh. Siap,” katamu dulu dalam sebuah sms pengantar tidur.
Dan dia seperti mendengar permintaanku dalam sms padamu 8 tahun lalu. Seperti kamu yang berkata ‘siap’, namun dalam versi yang lebih dewasa, tanpa diperingatkan dia sudah mengerti.
Adegan demi adegan di setiap episodenya membuatku dejavu. Seolah aku pernah memerankan peran ini sebelumnya. Dengan skenario yang sama, namun dengan lawan main berbeda. Dengan judul yang hampir sama dengan drama kehidupan sebelumnya. Hanya saja kali ini dipoles lebih apik dan menyenangkan dengan dihadirkannya sosok nyata dan sosok bayang. Siapa yang nyata? Siapa yang bayang? Bahkan aku tidak mengetahuinya.
--o--
Hatiku masih terluka. Andai saja di apotek dijual obat untuk hati yang terluka, aku tentunya adalah orang yang paling banyak membeli obat itu. Bukan karena sering terluka. Tapi karena sekalinya terluka langsung dalam. Luka hatiku akut. Luka hatiku sanggup menghentikan anggota organisasi dalam tubuhku untuk serempak tidak kompak menjalankan perintahku. Kubilang “move ooon!!”, mereka menolak. Kubilang “semangaaat!!”, mereka malah malas-malasan, mengajakku terus berbaring dan meneteskan bulir-bulir lembut dari pelupuk mataku.
“Hey, Cha, kamu salah kalau kamu mau curhat ke Andi. You know that you have something special for him. Jangan main api lah, Cha. Kalau kamu butuh tempat berbagi cowok untuk mengerti sudut pandang cowok, kamu kan bisa curhat pada teman cowokmu yang lain. Dan bukan Andi. Tapi kalau kamu tetap keukeuh mau curhat pada Andi, terserah. Aku sudah mengingatkan. Kita lihat saja nanti, Ardi manakah yang akan menjadi partner hidupmu. Ardi asli, atau Andi yang kau bilang mirip dengan Ardi.”
Berdengung terus perkataan Riya dalam mimpi dan sadarku. Riya, sahabatku satu-satunya yang kuceritakan tentang Andi. Riya, sahabatku satu-satunya yang mengerti perasaanku padamu dan padanya. Riya benar. Tapi.... Aku tetap penasaran. Kupikir dengan berbagi dengan Andi, aku bisa mendapat jawaban atas segala tanyaku. Karena Andi dan Ardian sama. Karena kali ini hanya Andi yang bersedia kutumpahkan segala keluh-kesahku. Karena hanya Andi yang sanggup menggantikan sosokmu.
Apakah ini yang dinamakan selingkuh? Tapi aku tidak menjalin hubungan apa-apa dengannya. Aku dengannya hanya berteman. Tidak lebih dari sekedar teman.
Apakah ini yang disebut sebagai orang ketiga? Tapi aku dengannya sama sekali tidak memperkenankan ada orang ketiga yang masuk ke dalam hubungan kami. Aku tetap milikmu. Dan dia tetap milik dia, belahan jiwanya.
--o--
“Dia gak akan pernah lupain kamu. Kamu percaya aja sama dia. Dia bukannya lupa. Dia hanya sedang teralihkan. Sifat orang gak akan pernah berubah. Sekarang hanya pola pikirnya aja yang berubah. Dan kamu kaget dengan semua perubahannya karena selama tiga bulan ini kamu tidak bersamanya, kamu tidak mendampingi perubahannya. Dia begitu bukan berarti dia tidak menginginkanmu. Walaupun kalian berbeda, tapi aku yakin kalau kalian punya tujuan yang sama. Dia juga pasti punya tujuan untuk bareng-bareng sama kamu suatu hari nanti.”
Laki-laki ini...
Aku seolah sedang bersamamu setiap kali aku bersamanya. Sebenarnya aku rindu atau benar-benar sedang jatuh cinta? Tak adil rasanya jika aku jatuh cinta pada bayangan. Pun tak adil jika aku rindu padamu yang bahkan mengingatku saja tidak.
Teh, aku gak pernah loh ngobrol sama pacarku seserius ini,” lanjut Andi.
“Sama. Aku juga. Aku dan pacarku gak pernah bisa ngobrol serius.” Mungkin ada nada mengeluh dari perkataanku ini.
LDR membuatku kadang nyari kesenangan di tempat lain. Termasuk dengan obrolan malam kita ini. Kadang juga muncul keinginan untuk selingkuh. Tapi aku milih untuk gak selingkuh, apapun yang terjadi. Karena aku juga gak mau dia di sana selingkuh dengan laki-laki lain. Rasanya jahat jika pacarmu menyuruhmu selingkuh dengan alasan demi kebahagiaanmu. Itu hanya akan melukai lebih banyak orang. Aku gak akan selingkuh, Teh.. Walaupun ketika aku tahu aku menyukaimu.”
“Ta... Tapiii... Perasaanku tidak sama denganmu. Aku hanya ingin dia.”
“Ya, aku juga tahu itu. Karena aku juga hanya ingin dia. Lalu pertanyaannya sekarang, kamu mau nggak nungguin dia? Kalau kamu mau, sudah, semuanya selesai. Semua keputusan ada padamu, Teh.”
Kurasa sudah cukup. Ungkapan perasaannya seketika menyadarkanku. Tidak seharusnya aku berlama-lama dalam kebahagiaan semu.
Lebih lama bersamanya hanya akan membuat aku dan dia semakin larut dalam bayang-bayang yang aku dan dia cintai. Dia adalah bayanganmu. Dan mungkin aku adalah bayangan kekasihnya.
--o--
Dia yang memanggilku teteh... Kamu lah orangnya. Kamu yang pertama. Kamu yang selalu ada di hati ini. Kamu yang sanggup menggetarkan denyut jantungku secara tak beraturan. Kamu yang tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun.
Aku hanya mencintai bayang. Padahal kamu yang memiliki bayang itu. Kamu dan bayangmu seutuhnya, aku selalu mencintaimu. Apapun yang terjadi, temani aku bersabar menantimu. Apapun yang berubah saat ini, apapun yang kini tak sama lagi seperti dulu, aku akan selalu di sini, menantimu.
Maafkan aku, Dung... Aku hanya sedang amat merindukanmu.

Dung, ingatlah satu hal, aku akan selalu setia. Aku menemukan jalan buntu di hatimu dan aku terjebak di sana. aku tidak bisa berbalik untuk mencari hati lain lagi. Hanya padamu, aku akan selalu setia.
postingan ini adalah salah satu tulisanku yang dimuat di antologi cerpen Dia Dia Dia - Penerbit Pucuk Langit
by. si Famysa...

Kaptenku, Imamku

Tak terasa sudah 17 tahun kita bersama ya, Pa.. Padahal rasanya baru kemarin Papa melamar Mama. Lalu kita menikah, mengontrak rumah ke sana - ke mari, merintis usaha, hingga sekarang ada tiga bidadari kecil di sekitar kita, Kak Nur, Kak Shofa, dan Dek Putri.
Waktu awal menikah, Mama agak merasa sedikit useless gara-gara Papa yang kerajinan. Urusan beres-beres rumah, Papa baweeel banget. Ada debu sedikit saja yang ketinggalan, Papa membersihkan ulang. Sampai bagian atas lemari yang gak pernah Mama sentuh pun Papa bersihkan. Hari Minggu, waktunya bersantai, Papa malah bangun lebih pagi untuk merawat tanaman dan beres-beres rumah. Padahal Mama saja masih ingin tidur, Pa. Papa ini sebenarnya nahkoda atau office boy sih? Hehehe...
Pa, tahu gak... Anak jaman sekarang pacaran LDR sama anak kecamatan sebelah saja galaunya ampun-ampunan. Lha kita, 17 tahun menikah LDR-an terus ya, Pa. Papa di laut A sampai Z, Mama di darat, masih setia dengan Indonesia. Waktu kita berjauhan lebih lama dari waktu kita berdekatan. Papa perginya setahun, pulangnya tiga bulan doang.
Pa, walaupun watak kita sangat berbeda, tapi justru itu yang membuat Mama makin cinta sama Papa. Ternyata memang ada orang seperti Papa ya. Hidup tanpa cita-cita, tanpa ambisi. Apa yang dijalani itu lah yang akan menjadi cita-citanya. Mengalir bagai air, tanpa tahu akan bermuara dimana. Tidak usah terlalu pusing dengan urusan besok, yang penting hari ini tetap berusaha dan bersyuk ur.
Mama ambisius, Papa santai. Mama agak pelit, Papa lebih royal. Mama kadang judes, Papa baiknya baik banget. Mama punya banyak cita-cita, Papa justru gak tahu cita-cita Papa apa, yang penting lakukan saja yang ada ya, Pa. Unik ya, kita sangat berbeda. Tapi perbedaan itu justru membuat kita bisa saling menguatkan. Mama merasa sempurna karena ada Papa. Subhanallah... Hanya Kuasa Allah yang sanggup mempersatukan kita.
Papa pernah cerita pada Mama, Papa tidak pernah membayangkan apalagi mencita-citakan Papa kelak akan menjadi nahkoda, berlayar ke mancanegara, meninggalkan anak dan istri, mempunyai penghasilan berkecukupan. Tapi pada kenyataannya sekarang Papa justru sangat mencintai pekerjaan Papa. Mama dan anak-anak bangga pada Papa, kita punya kapten yang gagah berani nan baik hati.
Ingat gak, Pa, dua tahun yang lalu, Papa bilang begini, “Papa capek, Ma. Papa di rumah saja ya.. Gak usah pergi berlayar lagi.”
Papa soleh... yang sabar ya, Pa... Usaha kita kan baru berdiri, belum cukup berkembang. Nanti kalau sudah berkembang, baru kita bisa menikmati hasilnya dengan diam di rumah, tanpa Papa harus capek cari modal lagi. Sekarang mah hasilnya masih mepet buat sehari-hari dan sekolah anak saja, Pa.. Belum ada tabungan untuk menjamin kita ke depannya.
Sekarang Mama tahu Papa capek. Tapi bukannya Papa sangat cinta pada pekerjaan Papa ya? Buktinya, selama ini Papa sanggup jauh dari Mama dan anak-anak demi loyalitas pada pekerjaan. Kenapa gak Papa pertahankan rasa cinta itu, Pa? Nanti, kalau usaha kita sudah maju, kita bakal punya banyak waktu untuk bersama. Sekarang Papa percayakan saja pada Mama, Mama pasti bisa menjaga modal dari hasil kerja keras Papa. Papa juga pasti bisa semangat dan betah kerja lagi. Iya kan, Papa soleh? J
Pa, soal si sulung, Kak Nur, Mama mohon ikhlaskan dia tinggal di pesantren. Kalau pun Papa mau Kak Nur ditarik dari pesantren dan disekolahkan di dekat rumah saja, boleh... Mama juga senang bisa kumpul terus sama anak-anak. Mama juga kan sebenarnya sedih, Pa lihat Kak Nur nangis terus minta pulang dari pesantren. Tapi ada syaratnya. Papa tinggal di sini! Bantu Mama mendidik anak-anak. Mama jujur, Pa, Mama angkat tangan kalau harus mendidik mereka sendiri. Mama sadar kalau Mama ini orangnya gak sabaran, gak kayak Papa. Mama bukan ibu yang cukup pintar yang bisa ngajarin anak-anak kalau ada PR sekolah. Mama juga baru mulai serius ngaji kemarin kan, Pa. Mama gak pede mendidik mereka seorang diri. Makanya Mama milih lebih baik Kak Nur pesantren saja. Biar adik-adiknya juga bisa nyontoh kakaknya. Papa yang sabar... Jangan cengeng gitu gara-gara lihat anaknya gak betah di pesantren.
Pa, Mama masih ingat betul kata-kata Papa dulu, sebelum kita berangkat ibadah haji. Mama juga masih ingat kelakukan Papa yang aneh. Papa memang selalu ke masjid setiap waktu shalat tiba. Tapi bukan Papa kalau tidak langsung pulang setelah selesai shalat. Mama kira Papa berlama-lama di masjid untuk beribadah. Ternyata Papa hanya menangis di sana. Setiap hari, setiap waktu, Papa menghabiskan waktu dengan menangis. Sampai hati Mama ini pilu melihat tangisanmu, Pa.. Padahal biasanya setiap Papa pulang Papa pasti menghabiskan waktu dengan anak-anak. Biasanya waktu pulang jadi hiburan buat Papa. Papa sendiri yang bilang gitu kan. Kata Papa, pulang itu... Papa bisa ketemu Mama, ketemu anak-anak, liburan bareng, belanja bareng, nonton film, makan, semuanya selalu bisa kita lakukan berlima.
“Ma, Papa pengen nikah lagi. Sama yang masih gadis, yang langsing, yang cantik,” begitu katamu dulu, Pa. Mama bakal selalu ingat kata-kata Papa itu.
Papa tahu gimana perasaan Mama waktu Papa berkata seperti itu sambil terntunduk dan menangis? Mama seperti sedang menghadapi rengekan Dek Putri yang sedang demam tapi keukeuh minta eskrim. Bahkan lebih dari itu. Hati Mama sakit sekali rasanya, Pa. Langit seperti rubuh di hadapan Mama sendiri.
Papa sayang... Maafkan Mama ya, Pa... Mungkin selama ini Mama memang kurang merawat diri. Mama kurang perhatian sama Papa yang berada jauh dari Mama. Mama sekarang gendut dan jauh sekali dari kesan modis seperti ibu-ibu tetangga. Mungkin Mama terlalu asyik sendiri. Papa kerja jauh, Mama jadi lupa kalau Mama harus mempercantik diri.
Papa yang sabar ya... Sekarang biarkan cukup Mama saja yang menjadi gadis itu. Siapapun gadis yang berada dalam bayangan Papa, ijinkan Mama untuk berusaha menjadi sosok itu. Papa yang sabar... kalau memang Papa berjodoh dengan gadis, mungkin nanti Mama yang meninggal duluan. Terus Papa bisa nikah lagi dengan gadis deh. Gak usah maksa buat poligami, Pa. Meskipun itu halal, tapi hati Mama gak siap menerima kehadiran orang lain selain Mama yang menemani Papa. Mama gak sekuat Teh Ninih yang rela suaminya menikah lagi dengan wanita yang lebih cantik darinya.
Biar bagaimana pun, Mama bahagia hidup sama Papa. Papa tenang saja, walaupun kita berjauhan, Mama gak akan pernah berhenti cinta sama Papa. Mama gak akan pernah bosan sama Papa. Kalau Papa bosan sama Mama, terserah Papa, yang penting Mama gak akan pernah bosan sama Papa. Mau Papa ubanan, gendut, kurus, hitam, atau apapun, Mama gak akan bosan, Pa.
Berbagai masalah yang lewat silih berganti selama 17 tahun ini, Mama selalu yakin kita akan bisa melaluinya dengan selamat. Karena Mama gak sendiri. Ada Papa, kaptenku, imamku yang paling soleh. Ada Kak Nur, Kak Shofa, dan Dek Putri, bidadari-bidadari kecil kita. Dan tentunya karena ada Allah, Sang Maha Pembolak-balik Hati, Dia Yang Kuasa yang mengijinkan Mama hidup dengan suami sesoleh Papa.
Pa, ijinkan Mama berbakti pada Papa sampai Mama menutup mata... Hanya Mama....
postingan ini adalah tulisanku yang dimuat di antologi Dear Suamiku - Diva Press dengan nama @famysa_ 
by. si Famysa...

Selasa, 17 Maret 2015

Demi Mamah, Pak Sulaiman Al-Kumayi pun Kudatangi

SEE! Ini draft dari jaman kapan? 12 Januari 2012. Bertahun-tahun yang lalu. Haha :D

Ceritanya sih dulu belum sempat ditulis karena aku mau nampilin foto buku dan tanda tangannya juga. Sedangkan bukunya sudah ada di tangan mamah di Subang, akunya kan di Semarang, dan bukunya belum sempat kufoto. Dulu aku janji tidak akan pernah menghapus draft ini waktu bersih-bersih draft lain yang kuanggap tidak terlalu penting untuk ditulis. Aku janji suatu saat nanti aku akan menuliskan cerita perjuanganku mendapatkan buku ini, walau entah kapan. Dan terbukti deh, baru sekarang aku bisa menuliskannya, setelah tadi kufoto dulu bukunya. :P
Suatu hari, mamah sms aku minta dicarikan buku yang berjudul ‘Anak Luar Nikah’. Mamah bilang penerbit dan penulisnya di Semarang, siapa tahu aku bisa dapatkan buku itu karena aku di Semarang. Soalnya mamah cari di Subang tidak ada. Mamah bilang penulisnya itu penulis favorit mamah, mamah punya koleksi bukunya yang lain. Makanya mamah keukeuh ingin dicarikan buku itu. Disamping memang mamah tergerak baca buku itu karena fenomena MBA di kampungku semakin marak.

Sulaiman Al Kumayi. Kata mamah beliau penulisnya. Aku tanya ke Mbah Gugel, akhirnya nemu FBnya beliau. Langsung aku add friend, tapi belum juga diapprove. Akhirnya aku kepoin biodata beliau di FBnya. Satu informasi penting yang kudapat, beliau adalah dosen di IAIN Walisongo Semarang. Aha! Di sana kan banyak teman-temanku dari FLP Semarang. Aku tanya saja di grup FB FLP Semarang. Lalu ada salah seorang yang menjawab katanya Pak Sulaiman adalah dosennya Kak Azis, ketua FLP Semarang. Tapi Kak Azis tidak juga nongol di grup. Aku sms saja dia. Akhirnya… aku mendapatkan nomor hp Pak Sulaiman dari Kak Azis. Hihiii

Tanpa tunggu lama, langsung kuhubungi nomor hp Pak Sulaiman. Aku sms dulu. Dan alhamdulillaaah, beliau membalas smsku. Baiiiik sekali kata-katanya. Beliau juga memintaku langsung datang saja ke kampusnya besok.

Keesokan harinya, sekitar pukul 9 pagi, aku meluncur ke kampus IAIN Walisongo dengan temanku. Kami naik bus. Sempat nyasar dan berputar-putar dulu di kampus I IAIN Walisongo. Maklum, waktu itu baru pertama kalinya aku mampir ke IAIN Walisongo, jadi tidak tahu kalau kampusnya ada di beberapa tempat. Dari kampus I, aku harus naik bus lagi menuju kampus II (eh apa III ya? Lupa. Haha :P).

Ada pengalaman menggelikan ketika aku dan temanku sampai di sana. Sepanjang jalan kami berjalan kaki mencari ruang dosen fakultas (apa yaa? Lupa juga *hajaar! -_-), banyak yang memperhatikan kami. Banyak juga mahasiswa laki-laki yang sepertinya menggoda kami. Hmm… Aku dan temanku jadi agak risih. Kami jadi bertanya-tanya, apa yang salah pada kami? Oh, apa karena kami berjalan pakai jeans diantara akhwat-akhwat kampus yang pakaiannya jilbaber? Hoho..

Sesampainya di depan ruangan beliau, beliau mempersilakan kami masuk dengan ramahnya. Beliau agak heran, katanya ‘kok ada yang cari-cari buku ini sampai mencari saya?’. Haha.. Kuceritakan saja itu karena amanat mamahku. Lalu beliau bercerita juga, katanya buku itu bukan beliau yang menulis, beliau hanya editornya saja. Kebetulan penulisnya itu adalah mahasiswanya. Ketika beliau baca tesis mahasiswanya tersebut, katanya isinya bagus dan belum banyak yang menulis mengenai tema anak luar nikah ini. Karena beliau seorang penulis, lalu beliau sarankan tesis tersebut untuk dikirimkan ke penerbit saja, siapa tahu bisa jadi buku. Dan eeh, ternyata iya, tesis itu sekarang sudah jadi buku. Keren yaa!

Pak Sulaiman juga banyak bercerita tentang buku-bukunya yang lain. Salah satunya buku yang dimiliki mamahku (tentang Asmaul Husna). Katanya buku tersebut sudah tidak terbit lagi di Indonesia, sekarang terbitnya di Malaysia. Wow! Memang keren sih bukunya. Cuma kalau untuk ukuranku, buku beliau dan buku yang beliau sebagai editornya terlalu berat. Berasa lagi penelitian skripsi lagi deh kalau baca. :P

Beruntuung sekali, aku bisa mendapatkan buku Anak Luar Nikah ini dari Pak Sulaiman. Aku bisa sekalian minta tanda tangannya untuk menyenangkan hati mamah. Hihiii.. Mamah yang ngefans sama karyanya, eh aku yang ketemu sama beliaunya ya. Hehe.. Pak Sulaiman juga memberiku harga murah. Katanya pakai harga untuk beliau saja, bukan harga dari toko buku. Cuma Rp 15.000. Kata beliau, itung-itung itu hadiah buat mamahku. Waaah… Aku senang sekalii…. :D Rasanya bangga gitu.. Bisa melaksanakan amanat mamah, meski harus berjuang mencarinya.

Soal isi bukunya… Aku belum sanggup membacanya.. Aku minta mamah saja yang menjelaskannya padaku :P Mungkin lain kali yaa, kalau tiba-tiba ingin baca tesis, baru aku baca buku itu. LOL

by. si Famysa, :)

Rabu, 04 Februari 2015

Never Ending Inspiring; Merry Riana

Aku baru selesai melahap buku Mimpi Sejuta Dolar-nya Merry Riana yang ditulis oleh Alberthiene Endah. Kemana saja ya aku selama ini sampai-sampai baru sempat membaca tuntas dan memiliki bukunya setelah masuk cetakan ke-14 (cetakan pertama versi poster filmnya) -_- Mmm... sebenarnya sudah sejak lama aku ingin memiliki buku ini. Namun apadaya, uang tak ada. Wkwk.. Aku cuma bisa baca sekilas-sekilas dari bukunya temanku kalau main ke kosannya.

Berkat menikah, alhamdulillaaah akhirnya aku bisa memiliki buku ini. Hasil malakin Aa Ibank Sayang nih. Aku minta buku ini dan dua buku lainnya wajib ada di hantaran nikah. Hahaha... Malah tadinya aku ingin minta maskawinnya seabreg buku. Tapi sieun piomongeun alias takut jadi bahan pembicaraan orang.
photo by Ibank - Sakola Photograph. lokasi foto: jembatan Cipunagara - Subang
Merry Riana; aku mulai mendengar namanya beberapa tahun lalu, waktu aku awal-awal jadi mahasiswa yang masih unyu-unyu, dan waktu aku aktif berbisnis MLM berinisial Tns. Nama Merry Riana dan Bong Chandra kala itu sering diceritakan oleh upline-uplineku. Namun yang paling mereka rekomendasikan bukunya untuk dimiliki hanya Bong Chandra. Karena penasaran sama si cantik ini, aku intip-intip saja bukunya setiap kali ke Gramedia, berharap suatu saat aku bisa memiliki semuanya. Alhamdulillah sekarang sudah punya yang Mimpi Sejuta Dolar.

Merry Riana; aku mulai mencari-carinya di twitter, aku mengikuti twit-twitnya, dan belakangan aku baru mengikutinya di instagram. Orangnya memang sangat menginspirasi. Cantik dan inspiratif; sepertinya cocok untuk memberikan kesan itu pada seorang Merry Riana.

Merry Riana; aku sangat penasaran bagaimana dia bisa mendapatkan satu juta dolar di usianya yang masih muda. Karena sepertinya aku belum pernah mendengar di media, apa perusahaannya atau bisnis yang digelutinya. Dan di buku ini, di akhir-akhir bab, aku baru mengetahuinya. Ternyata Merry Riana bisa jadi manusia satu juta dolar dengan menjadi seorang sales produk asuransi. Wow! Keren sekali semangat dan tekadnya! Sesaat aku jadi mengingat masa lalu saat aku berbisnis MLM, kenapa aku menyerah ya? Hhoho

Membaca buku Mimpi Sejuta Dolar seolah memberikanku teman berjuang. Merry Riana menceritakan masa-masa perjuangannya saat kuliah. Dan aku teringat masa-masa kuliahku juga. Sedikitnya aku bisa merasakan menjadi seorang Merry Riana. Tidak punya cukup uang, mau minta ke orang tua takut membebani, akhirnya ingin mempunyai uang sendiri dari hasil keringat sendiri. Bedanya, Merry Riana mendapat uang dari beasiswa -hutang- dari bank (tersisa sedikit untuk kebutuhan sehari-hari), sedangkan aku mendapatkan uangnya dari orang tua (namun porsinya sedikit sekali, bahkan pernah tidak diberi uang bulanan sama sekali). Sama seperti Merry Riana, kondisi keuangan juga membuatku terus berpikir, "harus bagaimana aku agar bisa punya uang sendiri?". Bedanya lagi, Merry Riana kuat bekerja pada orang lain dengan target yang begitu keras, sedangkan aku tidak bisa. Aku sangat tidak menyukai bekerja pada orang lain, apalagi harus menjalankan target-target dari orang lain. Akhirnya aku memutuskan untuk berwirausaha, menjadi bos untuk diri sendiri.

Aku mendapat semangat baru dari buku Mimpi Sejuta Dolar. Aku harus bisa menerapkan target untuk diriku sendiri. Jika tidak ingin ditarget oleh orang lain, lebih baik menargetkan diri sendiri bukan? :) Aku juga punya mimpi-mimpi luhur. Aku juga ingin mempunyai kebebasan finansial dan kebebasan waktu di usia muda. Dan aku sadar, itu tidak akan kudapatkan jika aku bekerja sebagai karyawan. Sebonafit apapun perusahaannya, sebesar apapun gajinya, sepertinya aku tidak akan bisa mencapai kebebasan finansial dan waktu di usia muda. Maka dari itu tekadku bulat untuk menjadi seorang wirausahawati. Walau perih, walau harus keluar modal banyak, walau harus ditertawakan dan disepelekan oleh banyak orang, kukatakan bahwa aku tetap akan berwirausaha. Aku yakin, 2-3 tahun ke depan, aku membuktikan pada semua orang bahwa aku akan sukses dengan jalan yang kupilih.

Merry Riana tidak pernah menyesal kuliah di NTU di jurusan teknik. Baginya ilmu dari perkuliahannya akan tetap berguna sampai kapanpun. Merry Riana memutuskan untuk menjadi wirausaha hingga akhirnya jadi sales produk asuransi bukan karena dia tidak layak diterima oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang ilmu kuliahnya. Tetapi karena hidup adalah sebuah pilihan yang harus diputuskan. Dan keputusannya untuk berwirausaha bukan tanpa alasan. Dia berwirausaha karena mimpi-mimpi luhurnya. Dia sadar bahwa mimpi-mimpi luhurnya hanya akan dapat diwujudkan jika dia berwirausaha. Ya, aku pun sama. Aku tidak pernah menyesal kuliah di Jurusan Administrasi Publik hingga akhirnya bergelar S.A.P. Ilmu yang kupelajari semasa kuliah sangat berguna bagi kehidupanku, terutama bagi pola pikirku. Aku menjadi idealis macam begini justru karena ilmu-ilmu kuliahku. Toh dari dulu aku memang meniatkan kuliah untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari pekerjaan. Toh dari dulu aku sudah punya mimpi, bahwa pekerjaanku adalah hobiku, passionku, dan mimpiku.

Aku tak berhenti takjub pada semangat Merry Riana. Two thumbs up for Merry Riana's spirit!

Ada kisah menarik lainnya di buku Mimpi Sejuta Dolar. Bahwa partner hidup itu sangat lah penting. Merry Riana tidak akan bisa meraih semuanya jika tanpa cinta. Dari awal perjuangannya selalu ada Alva (suaminya) yang setia menemani. Aku seolah merasakan getar-getar cinta dan perihnya perjuangan mereka. Aku pun memiliki suamiku yang sedari dulu setia menemaniku. Saat tidak ada seorang pun yang percaya pada mimpi-mimpiku, ajaibnya, Ibank percaya! Ibank tidak pernah bosan berbagi mimpi denganku. Dan sekarang, aku sedang berjuang bersamanya memajukan usaha kami. Ah, kuharap aku dan Ibank bisa segera mencapai kesuksesan seperti Merry Riana dan Alva.

Aku sangat senang, akhirnya aku punya teman dalam berjuang. Aku punya Ibank, seperti Merry punya Alva. Dan aku pun punya buku Mimpi Sejuta Dolar, yang senantiasa akan menjadi bahan motivasiku.

Terima kasih, Merry Riana.. Atas kisah yang dibagikan pada kami. Terima kasih karena telah menginspirasi. Teruslah berbagi dan menginspirasi... Semoga kelak aku juga bisa semakin banyak berbagi dan menginspirasi sepertimu. aamiin :))

Jurus-jurus Sukses Merry Riana: Siapapun berhak untuk sukses - Jangan pernah takut gagal - Seberapa penting arti uang? - Berusahalah menjadi berbeda - Jeli mengamati konsep kerja anda - Menghargai proses, dan lihatlah hasilnya! - Kebebasan finansial, visi yang jelas - Disiplin, sebuah keharusan - Miliki passion! - Peka pada peluang - Berhemat dan menabung - Kekuatan iman. 
Serahkan segalanya pada Tuhan, dan Dia akan memberikan petunjuk selangkah demi selangkah. Semua akan indah pada waktunya.
Tak ada yang tidak mungkin jika kita mau bekerja keras. 
by. si Famysa, bulat! pengusaha!

Kamis, 17 Mei 2012

Membangun Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Politik Dengan Pendidikan Moral

Partisipasi penting bagi pembangunan, bahkan menjadi tujuan pembangunan itu sendiri. Yakni terlibatnya, tergeraknya seluruh masyarakat dalam suatu proses pembangunan berencana sesuai dengan arah dan strategi yang telah ditetapkan melalui suatu bentuk partisipasi dalam sistem politik. Tiga hal penting lainnya yang mendapat perhatian administrasi pembangunan dalam rangka partisipasi tersebut adalah masalah kepemimpinan, komunikasi, dan pendidikan. 
Pendidikan tersebut dapat berupa pendidikan formal maupun pendidikan informal. Di dalam pendidikan formal dan informal ini lah pendidikan moral perlu dimasukkan. Karena saking pentingnya pendidikan moral sehingga dalam banyak hal kemajuan peradaban suatu bangsa dapat diukur dari sejauh mana individu-individu dalam bangsa tersebut dapat menjunjung tinggi nilai-nilai moral.
Pendidikan moral dapat juga dimasukkan dalam kurikulum sekolah dan Perguruan Tinggi dengan porsi yang agak besar. Atau dapat juga dicontohkan dengan sebaik-baiknya oleh para guru, dosen, politisi, pejabat publik, pemimpin bangsa, pemimpin daerah, dll (mengajar dan memimpin dengan teladan).
Moral adalah hal-hal yang mendorong manusia untuk melakukan tindakan-tindakan yang baik sebagai “kewajiban” atau “norma". Moral juga dapat diartikan sebagai sarana untuk mengukur benar tidaknya tindakan manusia (Wahyudi Kumorotomo, 2007).
Walaupun pada kenyataannya justru masyarakat menjadi korban contoh yang tidak benar dari mereka tersebut di atas. Dewasa ini masyarakat sering menyalahartikan partisipasi pembangunan. Mereka lebih suka melakukan demonstrasi anarkis daripada mengawasi dengan benar jalannya pembangunan di Indonesia. Parahnya lagi, mereka bahkan ada yang tidak mengerti tujuan dari demonstrasi mereka untuk apa dan dilatarbelakangi apa. Tanpa tahu ilmunya, mereka serta-merta ikut-ikutan berdemo karena kurangnya pendidikan moral. Sebagai contoh beberapa waktu yang lalu ketika peringatan tujuh tahun pemerintahan SBY dan wacana kenaikan harga BBM, teman saya mengikuti demo yang dipimpin oleh salah satu himpunan yang diikutinya. Ketika saya bertanya apa yang melatarbelakangi demo tersebut, dia tidak mengetahuinya. Dia sekedar ikut untuk meramaikan suasana, terlebih lagi karena ada bayarannya. Pada contoh ini, dia melakukan hal yang benar (demonstrasi) tetapi dengan alasan yang salah (just be a follower), yang berarti telah menyalahi moral.
Contoh lainnya ketika ada pencalonan kepala desa di desa saya, para warga desa menyalahkan kedatangan calon kepala desa A ke rumah-rumah mereka karena calon kepala desa A tersebut tidak membawa bingkisan apa-apa. Dan mereka sepakat tidak akan memilih calon kepala desa A tersebut. Pada contoh ini juga warga desa telah menyalahi moral karena tidak berlandaskan atas kebenaran.
Dalam dua contoh yang telah diuraikan sebelumnya terlihat jelas bahwa masyarakat Indonesia masih sangat berpendidikan moral rendah. Mereka masih sangat mudah dirayu dengan ‘uang’. moralnya berUANG! Bagaimana bisa pembangunan di Indonesia, terutama pembangunan politik berjalan dengan baik jika segala sesuatunya harus berdasarkan dengan sogokan?
Dengan pendidikan moral yang sebaik-baiknya, diharapkan Indonesia dapat mencapai pembangunan politik yang bersih, transparan, dan dapat dipercaya. Tidak hanya berlandaskan ‘uang’ tetapi memang berlandaskan hati nurani dan dengan melihat kemampuan yang ada.
Pendidikan moral dapat diaplikasikan dengan melihat unsur-unsur berikut:
  1. Harus diarahkan kepada konflik moral dan menstimulasi pertimbangan moral tingkat tinggi;
  2. Harus diarahkan kepada pengambilan peranan moral dan tumbuhnya empati moral;
  3. Harus diorientasikan kepada pilihan moral dan tindakan moral;
  4. Harus diarahkan kepada norma-norma yang sudah diterima secara umum dan kepada moral komunitas;
  5. Harus diarahkan kepada analisis terhadap situasi moral dan sistem nilai;
  6. Harus diorientasikan kepada penalaran pribadi peserta didik, perubahan sikap, dan aspirasi psikologis    (menguasai dan mempertahankan);
  7. Harus diarahkan kepada pengetahuan moral teoritik yang dimiliki seseorang (misalnya psikologi moral,   filsafat moral, dan lain sebagainya).
Setidaknya dengan pendidikan moral pasti akan ada dampak positifnya, karena tidak semua masyarakat Indonesia mengabaikan pendidikan. Masih banyak masyarakat Indonesia yang bertindak berdasarkan pendidikan dan ilmu yang dimiliki. Diharapkan walaupun tidak semua unsur dapat terealisasi, setidaknya masyarakat mengetahui mengenai mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk sehingga dapat bertindak sesuai dengan yang seharusnya.

acuan:
Tjokroamidjojo, Bintoro. 1974. Pengantar Administrasi Pembangunan. Jakarta: LP3ES
Siagian, S.P. 2001. Administrasi Pembangunan. Jakarta: Gunung Agung
Kumorotomo, Wahyudi. 2007. Etika Administrasi Negara. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Haricahyono, Drs. Cheppy. 1995. Dimensi-dimensi Pendidikan Moral. Semarang: IKIP Semarang Press

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bangkit di BlogCamp

by. si Famysa, calon birokrat bermoral :D

Kamis, 12 April 2012

Jejak Si Miaw :-) #1 Giveaway

seperti yang sudah aku janjikan sebelum-sebelumnya, alhamdulillah pada detik ini aku bisa membayar janjiku. maka dengan ini aku nyatakan 'Jejak Si Miaw #1 Giveaway' dibuka!! :D prokprokprok...
kenapa aku memilih bulan April sebagai waktu giveaway ini? alasannya karena:
1. 8 Maret adalah hari wanita 
2. 9 Maret adalah hari ulang tahunku dan Bepink (motorku :P)
3. 7 April adalah hari didirikannya Semur The Owls -> like ya! :D
4. 21 April adalah hari Kartini
5. 27 April adalah hari ulang tahun bapakku
6. 28 April adalah hari ulang tahun PinkQ (netbook)
7. 7 Mei adalah hari ulang tahun Ibank dan hari ketika aku memulai bisnis batikku
dan hmm... makanya dipilih lah bulan April sebagai tengah-tengah antara Maret dan Mei. hehehe

okay, mari sekarang kita fokus!
lihat apakah yang berbeda diantara beberapa alasan di atas!
sudah ketemu belum??
ahh lamaaaa..... :P jawabannya yaitu --> hari wanita dan hari Kartini dicetak tebal dan berwarna pink. kenapa?? karena salah satu hal yang menjadi rule dari giveaway ini adalah -giveaway ini diperuntukkan hanya untuk WANITA!- so, bagi para pria harap jangan esmosi dulu yaa... tunggu saja giveaway Jejak Si Miaw :-) berikutnya. hihihi
nah loh kok hanya wanita, Syif? jawabannya simple saja, yaitu karena wanita teramat istimewa :)

giveaway theme:
FOTO EKSIS DENGAN BATIK

the rules are:
1. anda adalah wanita
2. memiliki facebook
3. memiliki blog (apapun)
4. semua umur (tua, muda, orok juga boleh-boleh saja, asal memenuhi rule 1, 2, 3 :P)
5. sudah berteman dengan Syifa Azmy Khoirunnisa (Famysa Collections) di FB
6. sudah jadi followers blog Jejak Si Miaw :-) ini
7. memiliki alamat di Indonesia (untuk pengiriman hadiah) 
8. memasang giveaway banner di blog, dengan menautkan pada link postingan ini
giveaway banner
warning!! pastikan anda sudah memenuhi rules di atas jika tidak ingin didiskualifikasi.

alur giveaway:
1. mendaftarkan diri dengan langsung mengirimkan foto anda bergaya dengan batik --hanya 1 foto!-- ke email miawazmy@yahoo.com dengan subjek 'Foto Eksis Dengan Batik' (boleh foto bersama orang lain, yang penting ada anda di dalamnya)
2. sertakan pula nama lengkap, nomor hape, alamat facebook, dan alamat blog anda di badan email
3. foto yang sudah masuk ke emailku akan langsung diupload ke FB 'Syifa Azmy Khoirunnisa (Famysa Collections)' di album Foto Eksis Dengan Batik
4. PENJURIAN:
  • 2 peserta dengan likers (FB) terbanyak akan dinobatkan sebagai peserta terfavorit pemirsa dan berhak mendapatkan hadiah. makanya buruan segera kirim foto kalian supaya memiliki banyak waktu untuk mengumpulkan likers :D -aku kira ini cukup adil yaa.. hehe-
  • 3 peserta dengan foto terbaik pilihan juri (all of Famysa Collections Crew) akan dinobatkan sebagai peserta terbaik dan berhak mendapatkan hadiah. so, silahkan bergaya dan membuat fotomu sebagus mungkin yaa :) 
  • penjurian likers dilaksanakan mulai dari foto pertama diupload sampai dengan tanggal 3 Mei 2012  (sekaligus penutupan pengiriman foto)
  • penjurian oleh all of Famysa Collections Crew dilaksanakan mulai tanggal 3 - 6 Mei 2012
  • keputusan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
5. pengumuman pemenang insya Allah akan dipublish di blog ini pada tanggal 7 Mei 2012

hadiah kenang-kenangan:
 untuk foto terbaik 1
sarimbit: wanita ukuran L, pria ukuran M
untuk foto terbaik 2
kaos oblong couple Caping Jogja: wanita ukuran M, pria ukuran L
untuk foto terbaik 3
kaos oblong couple Caping Jogja: wanita ukuran M, pria ukuran M
untuk foto terfavorit 1
kemeja batik: ukuran M --> monggo dihadiahkan lagi pada pria spesial di sekitar anda :)
untuk foto terfavorit 2
novel Seharusnya Cinta Seperti Secangkir Kopi --> monggo bagi yang gak suka baca boleh menghadiahkan novel ini pada orang spesial di sekitar anda yang demen baca :)


~ hadiahnya aneh-aneh ya?? hihihiii ~

contoh Foto Eksis Dengan Batik bisa dilihat di sinidi sinidi sini, dan di sini ;)
jika ada pertanyaan seputar giveaway ini silahkan komen di postingan ini, atau via message FB, atau sms ke 08997185407 (Syifa) ;)

selamat ngeksis dengan batik, selamat memilih hadiah, dan selamat mengikuti giveaway! ;D

by. si Famysa, ;)

Sabtu, 07 April 2012

Kado Untuk Syifa, Si Manusia Berkepala 2

ini merupakan pertama kalinya aku menulis postingan setelah tampilan dasbor blogspot berubah. hahh.. padahal sudah dari kapan coba. kemana saja aku yaa... hhh T___T blogwalking tidak pernah, posting saja baru mau mulai lagi sekarang. padahal angka di kalender sudah menunjukkan angka 7 di bulan April. huftt... postingan yang seharusnya berada di bulan Maret ini pun harus mendekam selama hampir satu bulan dalam memoriku. but tidak apa lah... mari kita sudahi intro menggalau ini. hahahaa...

nyaris sebulan yang lalu, tepatnya tanggal 9 Maret 2012, alhamdulillah umurku semakin tua. aku sudah berkepala dua, tapi masih saja belum bisa menghasilkan karya dan bakti apa-apa pada orang tua dan sekitarku :'(. mulai dari jam 12 teng -tengah malam-, sudah banyak sms berdatangan menghampiri hapeku. ah aku kira paling-paling itu sms ucapan selamat ulang tahun *tsaaah pede banget gue --". karena aku mengantuk dan mengingat keesokan harinya aku harus ke Jogja, sms-sms itu pun tidak aku hiraukan. aku hanya ingin tidur untuk menabung tenaga.
selepas solat subuh, ritual biasa yang aku lakukan adalah mendengarkan Al-Matsurat di laptop sambil cek FB barangkali ada pemberitahuan. dan ternyata memang banyak pemberitahuan, yang bukan sekedar pemberitahuan biasa. banyak yang mengirim ucapan selamat ulang tahun dan doa untukku. alhamdulillah Yaa Alloh... masih banyak yang peduli akan hari lahirku walau kadang aku tidak pernah peduli dengan hari lahir orang lain (terutama teman-teman FB).
singkat cerita, sekitar jam 1 siang aku meluncur ke Jogja bersama Bepink. ketika masih sampai Ungaran, hujan lebat berdatangan mengeroyokku. aku kalah. dan akhirnya aku menurut pada hujan untuk berhenti dulu di sebuah pom bensin. setelah kurang lebih 15 menit menunggu hujan reda, namun sang hujan tak jua kunjung reda. aku pun memutuskan untuk melawan hujan dan terus melanjutkan perjalanan. tanggung sudah kepalang basah deh -pikirku-.
sesampainya di Magelang, hujan sudah menghilang. tetapi aku malas untuk membuka jas hujan yang kupakai. mungkin orang yang melihat heran bin aneh kali yaa, panas-panas kok pakai jas hujan. hehehe.. dengan bermuka badak, aku bisa bertahan dengan jas hujan di tengah terik matahari hingga akhirnya sampai di kosan Rini. *eh, Rini juga kemarin ulang tahun looh.. yuk ucapkan selamat ulang tahun dan kirimkan doa untuk Rini. hehe :).
malam harinya aku dan Rini ke Jogja Tronik untuk membeli kamera baru. ceritanya waktu liburan semester kemarin kan aku merayu mamah agar membelikanku kamera. aku bilang beli saja yang murah juga tidak apa-apa, yang 550ribu juga ada, warnanya pink pula. tapi mamah tidak menanggapinya. padahal kan aku sangat membutuhkan kamera, aku rasa mamah juga tahu itu. kameraku terdahulu sudah rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi. huhuu... dan eh.. eeehh... ternyata mamah sengaja menunda ACC kamera tersebut sampai hari ulang tahunku. pagi harinya (sekitar jam 10, sebelum aku berangkat ke Jogja), mamah sms begini, "Neng, mamah sudah kirim uang 500ribu buat beli kamera baru. semoga bermanfaat ya kameranya. blablabla..." whuaaa... ya aku langsung ketawa-ketiwi kegirangan dong. hihi :D
tapiii... setelah sampai di Jogja Tronik, kamera yang aku maksud tidak ada di sana. memang sih dulu aku lihatnya di Bandung Electronic Center (BEC). aku kira di Jogja Tronik juga bakal ada. hhh... masa iya harus ke Bandung dulu cuma untuk membeli kamera murah itu. dan keputusannya adalah tetap membeli kamera dengan harga di bawah 1juta. kekurangan uangnya akan aku tambahi dengan uangku sendiri. alhamdulillah memang jodohnya sama kamera yang ini kali yaa... harganya 950ribu (lengkap dengan kantong kamera, adaptor, USB, charger, dan batre), kualitas dan merk lumayan bagus dan terpercaya laah.. lagi promo pula, makanya murah. hehe.. padahal aslinya (kalau bukan promo) di atas 1juta.
ini nih kameranya.... :D
mari kita lihat lebih dekat :D
terima kasih mamah hadiah kameranyaa :D

pada tanggal 10nya, aku mendapat hadiah juga dari Ibank. dia mengajakku jalan-jalan ke Pantai Parangtritis -cerita dan foto-fotonya sudah aku posting di sini-. dan ketika aku menggeledah tasnya, aku menemukan sebuah novel yang aku yakin itu hadiah untukku. bwahahaaah BD habisnya untuk siapa lagi kalau bukan untukku. dia kan tidak suka membaca novel. hehe.. langsung saja kuambil novelnya dan berteriak "yee... novel baruu... makasiih aa :D". bagaimana reaksi Ibank?? dengan datarnya dia berkata, "yaah Syifa mah ah, gak rame dong. malah udah ketemu duluan hadiahnya. padahal kan tadinya mau Ibank sembunyiin dulu." --- hehehe *peace, Dung :)
ini dia novelnya, kado dari Ibank :)
sebuah novel -gabungan kisah 3 wanita legendaris- Cleo (Cleopatra) karya Bernard Shaw, Layla (Layla Majnun) karya Nizami, dan Juliet (Romeo Juliet) karya Shakespeare.
entah dia dapat bisikan dari mana sehingga novel ini yang terpilih sebagai kado ulang tahunku :)
adakah diantara kalian yang sudah pernah membaca novel ini??
sayangnya sampai detik ini aku belum sempat membaca novel ini euy. masih banyak antrian buku yang harus kubaca sih. wkwkwk
novel ini adalah novel hard cover pertama yang aku miliki looh. hihihi
terima kasih Dungdung hadiah novelnya ^^

sekian dulu curhatan kali ini. jangan lewatkan postingan Jejak Si Miaw :-) selanjutnya yaa... ada kejutan untuk kalian semua -sesuai yang sudah aku janjikan sebelumnya- ^^

by. si Famysa, gila buku

Kamis, 09 Februari 2012

Me and FLP Books

hari Minggu kemarin aku dan Kokom sengaja ke studio foto untuk pemotretan dengan buku-buku Forum Lingkar Pena (FLP). setelah sebelumnya, pada hari Sabtu malam kami datangi studio foto terdekat dari rumah yang ternyata ketiga-tiganya tidak bisa diandalkan. dua diantaranya sudah tutup, dan satunya tidak memiliki properti pemotretan yang memadai. padahal kami sudah repot-rept dandan looohh. bwahahaa jadi lucu kalau ingat pengalaman itu. maka pada keesokan harinya kami memutuskan untuk ke studio foto di Subang kota. jadinya sekalian juga pemotretan untuk iklan batik deh. hehehe...
kenapa kok dengan buku-buku FLP? karena ceritanya kami akan mengikuti lomba foto aku gila buku dalam rangka milad FLP yang ke-15. sudah beranjak remaja ya, FLPku sayang :)
nah kriteria lombanya itu kan harus memperlihatkan koleksi buku-buku FLP dengan pose segila, senarsis, dan sekeren-kerennya, jadilah aku kelabakan mencari-cari koleksi buku FLPku. setelah kucari-cari di deretan koleksi bukuku, aku hanya menemukan 5 buku FLP di sana. higs.. soalnya kebanyakan ada di Semarang buku-buku FLPnya. sedih dehh :( tapi... karena saking ngebetnya ingin ikut lomba tersebut, kami tetap berangkat ke studio foto. gaya banget ya buat lomba mesti ke studio foto... wkwkwk... padahal bukan gaya, cuuuyy... melainkan karena kamera digital si akunya rusak siih, kamera hape juga rusak, kamera hape mamah butut. pilihan terakhir ya ke studio foto. hehe.. niat banget ya? :D
semoga sajaaa aku bisa memenangkan lomba itu. minimalnya juara 1 lah. hihihii :) 
ini dia foto-fotonya... mau pamer niiih BD
foto ini dijadikan PP FB looh. hehehe
coba hitung ada berapa bukunya? satu buku dapat pinjam tuh. hihii
wadduh.. judul bukunya ngeri juga ya. hihi
pusing milih buku atau kupingnya gatal ya? hhoho
baca bareng-bareng :)
waaa bukunya jatuh, Neng :O
oh iya, sebelum foto-foto dimulai, kami sempat melakukan tawar-menawar dulu dengan fotografernya. kami kan butuh foto-foto dalam bentuk softcopynya saja. sedangkan si Aa fotografernya bilang di studionya belum pernah melayani hanya foto saja tanpa cetak. sedangkan kami tidak butuh mencetak foto. kami hanya butuh filenya untuk ikutan lomba yang dikirimnya via email. akhirnya setelah agak lama, tercapailah kesepakatan foto saja, tanpa cetak, tanpa edit, seharga 40ribu / jam. fiuuh... akhirnya kami bisa bernafas lega. daripada harus sepakat harga paket biasa (foto, edit, cetak) seharga 75ribu plus masih harus menunggu selama 3 hari. masih mending 40ribu deh, fotonya kan jadi banyak. urusan edit mah bisa sendiri. urusan cetak bisa kapan-kapan kalau mau. hehehe
dan dengan susah payah akibat koneksi internet di rumah lemotnya amit-amiiit, akhirnya fotoku terkirim juga ke email yang dituju untuk perlombaan. balasan pun sudah diterima. itu berarti fotoku sudah terdaftar sebagai peserta lomba. hihi senang deh.. #padahal kurang sreg juga sih sama fotonya. bukunya sedikit siih. wish me luck, Robb...

kemarin pagi, temanku, Ovi mengajakku ke kampusnya. katanya sedang ada bazar buku di sana. terang saja hatiku terpancing untuk datang ke sana mendengar ada bazar buku. hehehe... biasa deh ratu diskon lagi muncul ke permukaan :D
setelah aku sampai di kosan Ovi, aku melihat ada banyak buku FLP yang sudah dia beli di bazar. aku penasaran dan langsung ke kampus Ovi (STKIP Subang). ternyata di sana banyak buku dari Mizan dan FLP. apalagi untuk buku-buku FLP banyak yang diskon 50%. whuaaa.... kenapa gak dari kemarin-kemarin ini bazar sebelum aku mengirimkan fotoku ke pihak lomba. kan bisa borong buku FLP dulu supaya buku di fotonya banyak. huhuhu... alhamdulillah yah.. aku sangat beruntung deh T__T
monggo deh bagi teman-teman yang ada di wilayah Subang, yang demen sama buku bisa langsung datangi saja kampus STKIP Subang. lumayan looh diskonnya 10 sampai 50% :D

oh ya hampir saja lupa...
monggo bagi yang mau ikut berpartisipasi meramaikan milad FLP ke-15, bisa lihat saja langsung info perlombaannya di sini! ada banyak perlombaannya loh. ada lomba foto (seperti yang sedang aku ikuti), lomba esai, lomba blog, lomba resensi buku, dan lomba musikalisasi puisi. bagi yang berminat, bagi banci-banci lomba *peace :D langsung saja klik linknya yang tadi di atas. hadiahnya juga gede-gede looh... ayoo ah ikutaaan :D si aku saja mau ikut 3 kategori lomba. insya Alloh.. hihii

by. si Famysa, FLPers :)

Mijn Vriend