Kamis, 17 Mei 2012

Membangun Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Politik Dengan Pendidikan Moral

Partisipasi penting bagi pembangunan, bahkan menjadi tujuan pembangunan itu sendiri. Yakni terlibatnya, tergeraknya seluruh masyarakat dalam suatu proses pembangunan berencana sesuai dengan arah dan strategi yang telah ditetapkan melalui suatu bentuk partisipasi dalam sistem politik. Tiga hal penting lainnya yang mendapat perhatian administrasi pembangunan dalam rangka partisipasi tersebut adalah masalah kepemimpinan, komunikasi, dan pendidikan. 
Pendidikan tersebut dapat berupa pendidikan formal maupun pendidikan informal. Di dalam pendidikan formal dan informal ini lah pendidikan moral perlu dimasukkan. Karena saking pentingnya pendidikan moral sehingga dalam banyak hal kemajuan peradaban suatu bangsa dapat diukur dari sejauh mana individu-individu dalam bangsa tersebut dapat menjunjung tinggi nilai-nilai moral.
Pendidikan moral dapat juga dimasukkan dalam kurikulum sekolah dan Perguruan Tinggi dengan porsi yang agak besar. Atau dapat juga dicontohkan dengan sebaik-baiknya oleh para guru, dosen, politisi, pejabat publik, pemimpin bangsa, pemimpin daerah, dll (mengajar dan memimpin dengan teladan).
Moral adalah hal-hal yang mendorong manusia untuk melakukan tindakan-tindakan yang baik sebagai “kewajiban” atau “norma". Moral juga dapat diartikan sebagai sarana untuk mengukur benar tidaknya tindakan manusia (Wahyudi Kumorotomo, 2007).
Walaupun pada kenyataannya justru masyarakat menjadi korban contoh yang tidak benar dari mereka tersebut di atas. Dewasa ini masyarakat sering menyalahartikan partisipasi pembangunan. Mereka lebih suka melakukan demonstrasi anarkis daripada mengawasi dengan benar jalannya pembangunan di Indonesia. Parahnya lagi, mereka bahkan ada yang tidak mengerti tujuan dari demonstrasi mereka untuk apa dan dilatarbelakangi apa. Tanpa tahu ilmunya, mereka serta-merta ikut-ikutan berdemo karena kurangnya pendidikan moral. Sebagai contoh beberapa waktu yang lalu ketika peringatan tujuh tahun pemerintahan SBY dan wacana kenaikan harga BBM, teman saya mengikuti demo yang dipimpin oleh salah satu himpunan yang diikutinya. Ketika saya bertanya apa yang melatarbelakangi demo tersebut, dia tidak mengetahuinya. Dia sekedar ikut untuk meramaikan suasana, terlebih lagi karena ada bayarannya. Pada contoh ini, dia melakukan hal yang benar (demonstrasi) tetapi dengan alasan yang salah (just be a follower), yang berarti telah menyalahi moral.
Contoh lainnya ketika ada pencalonan kepala desa di desa saya, para warga desa menyalahkan kedatangan calon kepala desa A ke rumah-rumah mereka karena calon kepala desa A tersebut tidak membawa bingkisan apa-apa. Dan mereka sepakat tidak akan memilih calon kepala desa A tersebut. Pada contoh ini juga warga desa telah menyalahi moral karena tidak berlandaskan atas kebenaran.
Dalam dua contoh yang telah diuraikan sebelumnya terlihat jelas bahwa masyarakat Indonesia masih sangat berpendidikan moral rendah. Mereka masih sangat mudah dirayu dengan ‘uang’. moralnya berUANG! Bagaimana bisa pembangunan di Indonesia, terutama pembangunan politik berjalan dengan baik jika segala sesuatunya harus berdasarkan dengan sogokan?
Dengan pendidikan moral yang sebaik-baiknya, diharapkan Indonesia dapat mencapai pembangunan politik yang bersih, transparan, dan dapat dipercaya. Tidak hanya berlandaskan ‘uang’ tetapi memang berlandaskan hati nurani dan dengan melihat kemampuan yang ada.
Pendidikan moral dapat diaplikasikan dengan melihat unsur-unsur berikut:
  1. Harus diarahkan kepada konflik moral dan menstimulasi pertimbangan moral tingkat tinggi;
  2. Harus diarahkan kepada pengambilan peranan moral dan tumbuhnya empati moral;
  3. Harus diorientasikan kepada pilihan moral dan tindakan moral;
  4. Harus diarahkan kepada norma-norma yang sudah diterima secara umum dan kepada moral komunitas;
  5. Harus diarahkan kepada analisis terhadap situasi moral dan sistem nilai;
  6. Harus diorientasikan kepada penalaran pribadi peserta didik, perubahan sikap, dan aspirasi psikologis    (menguasai dan mempertahankan);
  7. Harus diarahkan kepada pengetahuan moral teoritik yang dimiliki seseorang (misalnya psikologi moral,   filsafat moral, dan lain sebagainya).
Setidaknya dengan pendidikan moral pasti akan ada dampak positifnya, karena tidak semua masyarakat Indonesia mengabaikan pendidikan. Masih banyak masyarakat Indonesia yang bertindak berdasarkan pendidikan dan ilmu yang dimiliki. Diharapkan walaupun tidak semua unsur dapat terealisasi, setidaknya masyarakat mengetahui mengenai mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk sehingga dapat bertindak sesuai dengan yang seharusnya.

acuan:
Tjokroamidjojo, Bintoro. 1974. Pengantar Administrasi Pembangunan. Jakarta: LP3ES
Siagian, S.P. 2001. Administrasi Pembangunan. Jakarta: Gunung Agung
Kumorotomo, Wahyudi. 2007. Etika Administrasi Negara. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Haricahyono, Drs. Cheppy. 1995. Dimensi-dimensi Pendidikan Moral. Semarang: IKIP Semarang Press

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bangkit di BlogCamp

by. si Famysa, calon birokrat bermoral :D

16 komentar:

  1. harap dimaklum ya.. ini buat ikut ngontes & males nulis ulang, jadi langsung copast dari dokumenku. hihihi

    BalasHapus
  2. keren ikh.. :D
    ikut komen deh, 1. soal demo..rada gimana gitu..saya suka demo c..hahhaha:D
    menurut saya demo dilakukan karena saluran-saluran politik dianggap sudah tidak berjalan sebagai mana mestinya.
    apakah partai melakukan fungsi agregasi dan artikulasi kepentingan dengan baik?
    apakan parlemen atau DPR sudah berfungsi dengan baik sebagai wakil rakyat? berapa banyak anggota yang benar2 turun mendengar dan bekerja untuk rakyat? berapa banyak anggota DPR yang " mewakili rakyat menikmati uang negeri ini??"
    saya rasa demo adalah salah satu bentuk partisipasi yang dianggap sangat paling efektif, ditengah fungsi media yang kini telah dikuasai kepentingan pemiliknya masing-masing.
    dengan catatan, ketertiban umum selalu dijaga..
    jangan hanya ambil data dari media...tidak semua aksi itu anarkis kok...:D

    yang kedua masalah politik uang, kalo boleh saya bicara, sesungguhnya politik uang adalah kesalahan dari para birokrat dan calon birokratnya, kenapa masyarakat mengharap politik uang?1. sudah jadi tradisi dan dianggap sebagai sumber rezeki musiman..(musim pemilu dan pemilukada..kaya musim buah yang silih berganti,...hahaha). 2 contoh yang pemimpin berikan pada rakyat lebih buruk dari apa yang mereka (rakyat) lakukan, korupsi, kolusi, nepotisme, saling suang, pungutan luar dan semacamnya..
    kalo boleh jujur, saya rasa belum pantas sistem demokrasi langsung secara bebas seperti ini silakukan di Indonesia. kenapa?
    1. masyarakat Indonesia(yang nyalon atau yang milih) yang sangat banyak memiliki tingkat disparitas yang tinggi dalam hal pendidikan, ekonomi yang tidak dapat dipungkiri inilah celah utama penyebab kolusi dan nepotisme.
    maka sebelum masalah ini terpecahkan (ekonomi dan pendidikan) dapat diatasi..maka ya...demokrasi langsung hanya jadi ajang jual suara antara calon dan pemilih...

    BalasHapus
  3. maaff..lagi semangat..komennya jadi kebanyakan..hahhahha

    BalasHapus
  4. Saya telah membaca dengan seksama artikel diatas.
    Akan segera saya daftar
    Terima kasih atas partisipasi sahabat
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  5. wah syifa ikutan juga ya, semoga suksesnya

    BalasHapus
  6. degradasi moral di masyarakat kita memang mulai sering dan mudah ditemukan, mulai dari korupsi hingga subur makmurnya budaya sogok menyogok. Sudah saatnya kita bangkit, perbaiki bangsa ini mulai dari diri sendiri dan saat ini.

    Semoga sukses di kontes, Mbak.

    BalasHapus
  7. @Khanif: uwaah bicara sama sesama anak sospol mah jadi manjang deh. wkwkwk
    bener banget, Nif.. aku setuju sama komenmu! untuk masalah demo yg kumaksud bukan anarkis enggaknya, tapi arti dari demo itu sendiri, si pendemonya ngerti gag tujuannya untuk apa, dan apakah dia punya solusi untuk masalah tersebut. kalo gag ngerti & gag punya solusi sih,, menurutku mending gag usah sok2an ikut demo deh. :P

    @Pakde: booking jadi pemenang ya, Pakde. hehehe

    @mom Lid: aamiin :)

    @Abi: yup, yuk mari bangkit ahh! :D
    aamiiin...

    BalasHapus
  8. mantaps nih, reportasenya hehe. moga menang yah :)

    BalasHapus
  9. aamiin.. makasih jay :)

    BalasHapus
  10. halo gan,
    tetap semangat tinggi ya untuk jalani hari ini ! ditunggu kunjungannya :D

    BalasHapus
  11. Hadehhh kaya baca diktat kuliah. banyak sekali definisi yg mengandung kata "adalah"...coppy paste dr tugas kuliah bnrankah, mbak? hehe

    BalasHapus
  12. @outbond di malang: semangaat!! :D
    nanti kalo ada waktu ane berkunjung gan :D

    @luce.rachma: yup, benar sekali. hihihi
    kebeneran aja ada yang cocok buat ngikut kontes. kenapa tidak dicopast saja, toh ini karyaku. hehe

    BalasHapus
  13. Tulisan yang apik Syifa, acuannya mantap. Kayaknya bakal menang nih :)

    Sekarang banyak orang demo karena dibayar. Ada juga yang sekadar "berpartisipasi" padahal mereka tak tahu mereka sudah bikin masyarakat muak karena menghalangi lalu-lintas.

    SUkses yah Syifa :)

    BalasHapus
  14. aamiiin :D emang ngarepnya sih menang tante. hhehe
    yup bener banget. mending kalo demonya sehat ya..

    BalasHapus
  15. salam gan ...
    menghadiahkan Pujian kepada orang di sekitar adalah awal investasi Kebahagiaan Anda...
    di tunggu kunjungan balik.nya gan !

    BalasHapus

hatur nuhun kana kasumpingannana :) mangga bilih aya kalepatan atanapi aya nu bade dicarioskeun sok di dieu tempatna..

Mijn Vriend