Tampilkan postingan dengan label Semarang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Semarang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Maret 2015

Syifa's Graduation

ki-ka: adikku; Maulana, Mamang Aca, Ghina, Bibi Wiwin, aku, Emih, Sri, Mamang Amin. jangan tanya orang tuaku yang mana. karena mereka gak ada di acara ini :)
Tanggal 4 Agustus 2014 lalu, aku resmi diwisuda sebagai Sarjana Administrasi Publik Universitas Diponegoro. Cieee.... swit, swiiittt :P Bangga? Ya jelas bangga dong. Gak ada salahnya kan bangga pada prestasi diri sendiri. Walaupun hanya sebatas jadi sarjana, tapi tetap ini patut disyukuri :)
best make up & hijab style from Mbak Muti
Rasanya baru kemarin tes UM I Undip di Tennis Indoor Senayan, berangkat dini hari, nyampe sana pas subuh, ngantuk-ngantuk, tetap harus fokus pada soal yang seabreg. Setelah dinyatakan diterima (sebelum kelulusan SMA), aku masih ingat bagaimana bahagianya. Saat teman-teman lain masih mencoba daftar ke sana-sini, aku malah sudah diterima oleh PTN favoritku, PTN incaranku, bahkan sebelum lulus. Rasanya sudah plong deh :)
aku urutan ke-6 IPK-nya, sejurusan yang lulus hari itu.
Rasanya baru kemarin pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Semarang. Diantar Bapa dan adikku untuk verifikasi calon mahasiswa baru, naik kereta Harina eksekutif, kata Bapa sekalian cobain rasanya kereta eksekutif, hihi.. Tempat pertama di Undip yang kukenal waktu verifikasi adalah Gedung Prof. Soedarto. Karena waktu antriannya panjang dan cukup menguras tenaga, akhirnya beres verifikasi, kami langsung pulang naik bus seadanya. Dan benar-benar seadanya, bus ekonomi, sampai Bapa pun kesal karena ngetemnya, haha.. 
teman-teman Administrasi Publik Undip angkatan 2010
Awal-awal kuliah, aku agak kesulitan mencerna mata kuliahnya. Aku harus belajar esktra, lebih rajin dari biasanya. Waktu SMA aku jurusan IPA, dan di Administrasi Publik aku benar-benar banting setir, total semuanya pelajaran IPS :P OMG, pusing deh awal-awal mah. Apalagi sama mata kuliah Pengantar Ilmu Politik dan Pengantar Ilmu Ekonomi. Dapat nilai B juga sudah syukur :P Tapi lama-lama, setelah menginjak tahun kedua di dunia sosial, aku sudah mulai bisa berdamai dan menikmati arusnya :)
Tian, Isna, aku; 3 dari 7 teman main yang wisuda barengan.
Selama kuliah dan tinggal di Semarang, banyak sekali pelajaran hidup yang kudapatkan. Mulai dari mencicipi dunia MLM, jualan buku, jualan batik, tas handmade, jualan tali rambut rajut, belajar bahasa Jawa, hingga menemukan komunitas-komunitas menulis yang membantuku mengasah kemampuan menulisku. Tak hanya itu, selama kuliah, aku juga banyak mengikuti acara kampus dan luar kampus, seminar, talkshow, mulai dari yang berbayar hingga yang gratisan. Terutama yang paling sering sih yang gratisan ya, apalagi kalau gratisan terus dikasih duit. Wkwk :P
with my personal photographer, waktu belum jadi suami :P
Jogja. Tempat ini menjadi rumah singgahku yang kedua setelah Semarang. Awalnya memang karena Ibank aku ke Jogja. Lama-lama, aku justru bertemu banyak teman di sana. Di Jogja juga ada Rini, sahabat Jamnasku -tahun 2006 lalu-, kami dipertemukan lagi di Jogja :') Aku banyak menemukan hal baru dengan Rini. Aku menemukan partner bisnis batikku juga dengan Rini. Semenjak menemukan 'hidup' di Jogja, aku jadi sering ke sana, paling telat 3 bulan pasti aku ke sana. Karena aku butuh Jogja juga, aku jadi memilih Jogja sebagai tempat magangku. Alhamdulillahnya instansi yang kuincar menerima lamaran magangku, hihi.. Selain magang, selama skripsian juga aku tinggal di Turi, Sleman, Jogja, di rumahnya Mbak Dian. Penelitiannya di Magelang sih, tapi tinggalnya di Turi karena Turi lumayan dekat dengan Magelang, 30 menit - 1 jam motoran juga sampai.
with Rini, my partner in crime :D
Sedihnya, waktu wisudaku, Mamah tidak bisa datang. Bapa datang di wisuda univeritas. Kalau yang di foto-foto ini wisuda fakultas. Aku sengaja memilih Emih, Bibi, dan Mamang saja yang datang ke wisuda fakultas, karena menurut informasi dari kakak kelas, wisuda fakultas lebih sakral, lebih untuk keluarga. Ya, daripada Bapa yang datang, lebih baik Emih. Jadi waktu itu dibagi 2 kloter. Kloter pertama (wisuda fakultas) Emih dan rombongan, kloter kedua (wisuda universitas) Bapa dan rombongan. Kenapa aku lebih memilih Emih yang menghadiri momen sakral ini? Yaa daripada aku sedih ingat Bapa dan Mamah tidak lagi bersama, hehe.. Lagian aku kan pernah janji pada diriku sendiri, mau membanggakan Emih di hari wisudaku, seperti yang pernah kutulis di sini --> Emih; More Than Just A Grandma.
best photo ever by Ibank! sayang itu tali toganya gundul, out of check -_-
Yeah, finally aku bisa nulis cerita ini setelah diendapkan sekian lama dalam draft di hati, hehe.. Ceritanya lagi kangen banget sama dunia kuliah. Ceritanya gak sabar ingin lanjut kuliah lagi, ingin merantau lagi, ingin merasakan aroma kota lain lagi, ah pokoknya ingin berpetualang dan menimba ilmu lebih banyak lagi. Bismillah semoga Alloh membukakan jalan-Nya. Aamiin... :)

Eh, jadi inget deh, bulan Maret tahun lalu aku masih sibuk garap skripsi, masih sering tinggal di rumah Mbak Dian. Sekarang, Maret tahun ini, aku sudah bukan mahasiswa Undip lagi ternyata yaa.. Di belakang namaku sudah ada gelarnya, Syifa Azmy Khoirunnisa, S.A.P. Ahaha :D

Waktu begitu cepat berlalu... Betapa banyak lengahnya aku... :') 

by. si Famysa, kangen kuliah :')

Selasa, 17 Maret 2015

Demi Mamah, Pak Sulaiman Al-Kumayi pun Kudatangi

SEE! Ini draft dari jaman kapan? 12 Januari 2012. Bertahun-tahun yang lalu. Haha :D

Ceritanya sih dulu belum sempat ditulis karena aku mau nampilin foto buku dan tanda tangannya juga. Sedangkan bukunya sudah ada di tangan mamah di Subang, akunya kan di Semarang, dan bukunya belum sempat kufoto. Dulu aku janji tidak akan pernah menghapus draft ini waktu bersih-bersih draft lain yang kuanggap tidak terlalu penting untuk ditulis. Aku janji suatu saat nanti aku akan menuliskan cerita perjuanganku mendapatkan buku ini, walau entah kapan. Dan terbukti deh, baru sekarang aku bisa menuliskannya, setelah tadi kufoto dulu bukunya. :P
Suatu hari, mamah sms aku minta dicarikan buku yang berjudul ‘Anak Luar Nikah’. Mamah bilang penerbit dan penulisnya di Semarang, siapa tahu aku bisa dapatkan buku itu karena aku di Semarang. Soalnya mamah cari di Subang tidak ada. Mamah bilang penulisnya itu penulis favorit mamah, mamah punya koleksi bukunya yang lain. Makanya mamah keukeuh ingin dicarikan buku itu. Disamping memang mamah tergerak baca buku itu karena fenomena MBA di kampungku semakin marak.

Sulaiman Al Kumayi. Kata mamah beliau penulisnya. Aku tanya ke Mbah Gugel, akhirnya nemu FBnya beliau. Langsung aku add friend, tapi belum juga diapprove. Akhirnya aku kepoin biodata beliau di FBnya. Satu informasi penting yang kudapat, beliau adalah dosen di IAIN Walisongo Semarang. Aha! Di sana kan banyak teman-temanku dari FLP Semarang. Aku tanya saja di grup FB FLP Semarang. Lalu ada salah seorang yang menjawab katanya Pak Sulaiman adalah dosennya Kak Azis, ketua FLP Semarang. Tapi Kak Azis tidak juga nongol di grup. Aku sms saja dia. Akhirnya… aku mendapatkan nomor hp Pak Sulaiman dari Kak Azis. Hihiii

Tanpa tunggu lama, langsung kuhubungi nomor hp Pak Sulaiman. Aku sms dulu. Dan alhamdulillaaah, beliau membalas smsku. Baiiiik sekali kata-katanya. Beliau juga memintaku langsung datang saja ke kampusnya besok.

Keesokan harinya, sekitar pukul 9 pagi, aku meluncur ke kampus IAIN Walisongo dengan temanku. Kami naik bus. Sempat nyasar dan berputar-putar dulu di kampus I IAIN Walisongo. Maklum, waktu itu baru pertama kalinya aku mampir ke IAIN Walisongo, jadi tidak tahu kalau kampusnya ada di beberapa tempat. Dari kampus I, aku harus naik bus lagi menuju kampus II (eh apa III ya? Lupa. Haha :P).

Ada pengalaman menggelikan ketika aku dan temanku sampai di sana. Sepanjang jalan kami berjalan kaki mencari ruang dosen fakultas (apa yaa? Lupa juga *hajaar! -_-), banyak yang memperhatikan kami. Banyak juga mahasiswa laki-laki yang sepertinya menggoda kami. Hmm… Aku dan temanku jadi agak risih. Kami jadi bertanya-tanya, apa yang salah pada kami? Oh, apa karena kami berjalan pakai jeans diantara akhwat-akhwat kampus yang pakaiannya jilbaber? Hoho..

Sesampainya di depan ruangan beliau, beliau mempersilakan kami masuk dengan ramahnya. Beliau agak heran, katanya ‘kok ada yang cari-cari buku ini sampai mencari saya?’. Haha.. Kuceritakan saja itu karena amanat mamahku. Lalu beliau bercerita juga, katanya buku itu bukan beliau yang menulis, beliau hanya editornya saja. Kebetulan penulisnya itu adalah mahasiswanya. Ketika beliau baca tesis mahasiswanya tersebut, katanya isinya bagus dan belum banyak yang menulis mengenai tema anak luar nikah ini. Karena beliau seorang penulis, lalu beliau sarankan tesis tersebut untuk dikirimkan ke penerbit saja, siapa tahu bisa jadi buku. Dan eeh, ternyata iya, tesis itu sekarang sudah jadi buku. Keren yaa!

Pak Sulaiman juga banyak bercerita tentang buku-bukunya yang lain. Salah satunya buku yang dimiliki mamahku (tentang Asmaul Husna). Katanya buku tersebut sudah tidak terbit lagi di Indonesia, sekarang terbitnya di Malaysia. Wow! Memang keren sih bukunya. Cuma kalau untuk ukuranku, buku beliau dan buku yang beliau sebagai editornya terlalu berat. Berasa lagi penelitian skripsi lagi deh kalau baca. :P

Beruntuung sekali, aku bisa mendapatkan buku Anak Luar Nikah ini dari Pak Sulaiman. Aku bisa sekalian minta tanda tangannya untuk menyenangkan hati mamah. Hihiii.. Mamah yang ngefans sama karyanya, eh aku yang ketemu sama beliaunya ya. Hehe.. Pak Sulaiman juga memberiku harga murah. Katanya pakai harga untuk beliau saja, bukan harga dari toko buku. Cuma Rp 15.000. Kata beliau, itung-itung itu hadiah buat mamahku. Waaah… Aku senang sekalii…. :D Rasanya bangga gitu.. Bisa melaksanakan amanat mamah, meski harus berjuang mencarinya.

Soal isi bukunya… Aku belum sanggup membacanya.. Aku minta mamah saja yang menjelaskannya padaku :P Mungkin lain kali yaa, kalau tiba-tiba ingin baca tesis, baru aku baca buku itu. LOL

by. si Famysa, :)

Senin, 02 Juni 2014

In Front of Chocolate Eiffel

Berawal dari iseng, hari Jumat, 30 Mei kemarin akhirnya sampai juga kaki-kaki mungil ini di Paragon Mall Semarang. Niat awalnya sih mau nemuin teman SMA yang lagi liburan di Semarang. Eeh tapi gak jadi karena si temannya bilang gini, "kalian kalau mau ke sini bawain makanan ya.. kita lapar, di sini gak ada yang jual makanan." Gubraks! Sisi jahat aku dan Khaslinda berkata 'ya udah gak usah jadi nemuinnya ah. kita hangout aja ke Paragon.' Hahaha... :P
Ide untuk hangout ke Paragon tiba-tiba saja terpikir karena aku ingat ada pameran coklat cookies di sana. Agak-agak penasaran seperti apa, makanya kuhasut Khaslinda dan Ayu untuk ke Paragon. Hehe.. Ekspektasi pertama aku dan Ayu mengenai pameran itu mungkin sama seperti pameran semacam kue sebelumnya. Dulu hanya aku dan adikku, Ulfah yang melihat. Ceritanya pernah kutulis di postingan ini -> Garden Cupcake.
Penyelenggara pameran chocolate cookies ini sepertinya sama dengan penyelenggara Garden Cupcake dua tahun lalu, yaitu Fortune. Nama acaranya juga sepertinya sama. Dulu jelas-jelas terpotret olehku, nama acaranya Fortune Baking Festival. Tapi kemarin aku tidak sempat memotret lebih banyak, karena acara sudah akan segera usai. Hanya saja di belakang background 'The Stiries of 10000 Chocolate Cookies' terlihat ada logo bertuliskan FBF 2014. FBF mungkin singkatan dari Fortune Baking Festival. Hehehe banyak mungkin dan sepertinya nih ah. Payah :P Hampura sim kuring nyaa :D  
by. si Famysa, :)

Rabu, 23 Oktober 2013

Naik-naik ke Watu Gunung

tanggal 4 Oktober 2013 lalu, aku dan teman-teman SC ditambah Ayu naik-naik ke Watu Gunung. eh aku belum ngenalin SC sama teman-teman blogger yaa, kelupaan. hehe
SC ituuu... entah sejenis kawanan makhluk apa. aku menemukan kawanan ini beberapa bulan yang lalu. kami ber-13 orang berkesempatan tinggal di tempat yang sama selama 35 hari. you know laah kami ngapain ajaa selama 35 hari itu. hahaha #KKN : Ketawa Ketiwi Ngakak (Ayuni's version). next time insya Alloh aku ceritain SC ini yaa... biarkan sekarang menjadi rahasia dulu. hihii
Watu Gunung bertempat di Desa Lerep Ungaran. selain Watu Gunung, di Desa Lerep ada juga tempat-tempat wisata lainnya, seperti Kampung Seni dan curug (seingatku). Desa Lerep tidak jauh dari Alun-alun Ungaran, ke arah Barat sedikit, menanjak, sampai deh di Desa Lerep.
see... di sana terlihat padatnya kota Semarang!
Watu Gunung ini sendiri sebenarnya merupakan villa keluarga yang sengaja dijadikan untuk tempat wisata. konon katanya Mpin aka Vinna, dulunya villa ini berjasa banget sama warga sekitarnya. villa ini membantu warga sekitar mengatasi masalah kekeringan dengan danau-danau buatan yang ada di villa. entah gimana caranya lah itu pokoknya.. aku gak tanya-tanya terlalu detail. hehe
di sana ada beberapa villa dengan desain rumah Joglo, pepohonan beragam jenis yang hijau nan rimbun, air mancur, danau, taman, aaaaaa mupeng deh pengen punya rumah kayak gitu nanti *aamiiin....
begitu melihat keindahan pemandangan di sanaa... satu hal yang aku pikirkan adalah "bagus juga nih buat pemotretan Famysa". tapi sayangnya di sana ada peringatan dilarang mengambil foto dengan kamera profesional tanpa ijin. hahahaa gubraks deeh :D itu berarti kalau mau pemotretan di sana ada tarifnya yaa... *mungkin. heuu 
iklan hape sama Diaz --"
suasana menenangkan di Watu Gunung cocok banget buat elu-elu kite-kite pade yang lagi menggalau, mencari inspirasi, atau sekedar ingin menanangkan diri dari hiruk-pikuk kota. saking tenangnya itu tempat, kemarin kami gak sengaja nemu sepasang bocah SMA yang lagi pasalan. uhuk-uhuk lama-lama mereka kabur juga karena kehadiran kami yang menggodai mereka terus. hahaa *jahat yaa :D
ki-ka: aku, Siska Kasur, Vinna Mpin, Ayunchan, Ayu 
kata Mpin lagiii, kelak Watu Gunung akan dijadikan tempat camp juga. buat mahasiswa atau pelajar yang mau ngadain acara-acara organisasi seperti upgrading, makrab, atau apalah sejenisnya, mungkin nanti bisa di sana. sekarang saja Watu Gunung rencananya akan membangun gedung/sarana prasarana baru.
sekarang, setiap kali aku galau, aku pasti teringat Watu Gunung. enak kayaknya berkontemplasi di sana. sendiri. sepi. sejuk. angin semilir. lama-lama tidur. gubraks!!
pulang dari Watu Gunung, kami makan mie ayam dan wedang ronde dulu di Alun-alun Ungaran. pulang lagi ke Tembalang malam deh. hehe
#gak jadi ke Dieng, Watu Gunung pun jadiiii... hahaha #oops :P
sudah dulu yaa... aku sedang agak malas menulis nih gaswat --" sampai ketemu di lain waktu dan postingan! ^^

by. si Famysa, zzzz

Kamis, 19 September 2013

Campus Style ;)

akhirnyaaaa si aku bisa ngeblog lagi. setelah sekian lama vakum oleh kesibukan yang dibuat-buat oleh diri sendiri. hehehe...
maafkan aku yaa teman-temaan.... kumohon terima aku kembali di dunia yang menyenangkan ini... big pleaseee :))

ceritanya postingan ini untuk pemanasan... supaya aku tidak terlalu kaku untuk menulis yang lebih banyak ke depannya. ibarat kita mau olahraga gitu loh... kalau tidak pemanasan dulu kan nantinya bisa-bisa kram. hehehe *alasan mulu nih --"

dan kali ini, dalam rangka welcome party atas kembalinya aku ke dunia blog, aku mau menyuguhkan yang fresh-fresh buat teman-teman semua... sekalian promosi yang terbaru dari Famysa :D
kenapa kali ini Famysa menyuguhkan batik untuk Campus Style?
karena di bulan September ini merupakan bulan masuknya mahasiswa baru di hampir semua perguruan tinggi negeri maupun swasta. bukan begitu? ;)
sebenarnya pemotretannya siiih sudah lamaa sekali. sudah 3 bulan yang lalu. tepatnya setelah selesai tes SBMPTN. adikku dari pagi sampai siang hari panas mengerjakan soal, sore harinya langsung pemotretan. hihihi
oh ya, kenalan dulu yuuk sama model-modelnya....
yang sebelah kiri (dress hijau) namanya Litha Anistya, mahasiswa Universitas Diponegoro jurusan Peternakan angkatan 2010. dan yang sebelah kanan (dress kuning) namanya Maria Ulfah, dia adikku, dia baru aja jadi mahasiswa di STIKes Guna Bangsa Jurusan Keperawatan :)
biasanya kalau di Undip ada hari pakai batik, yaitu hari Jumat. nah, biasanya juga masih banyak mahasiswa yang tidak mengenakan batik. boleh lah yaa kalau misalnya tidak mengenakan batik pada hari Jumat, tapi pernah pakai di hari lain, setidaknya dalam satu minggu itu ada deh ke kampus pakai batik. lah terus apa kabar yang gak pernah ngampus pakai batik sama sekali?? 
oleh karena ituu... si aku jadi terinspirasi ingin mengangkat tema Campus Style. semoga saja teman-teman jadi terinspirasi juga dengan gaya berbatik yang aku suguhkan di sini :)
dalam pemotretan ini aku tidak sendirian looh... *baru kali ini kan yaa aku gak jadi model berbatiknya. hehehe
di sini aku kerja sama dengan Salon Jilbab Annisa. makanya ada dua model dengan beda gaya *walaupun dengan dress yang sama. model berdress kuning (Ulfah) dari Famysa, dan model berdress hijau (Litha) dari Salon Jilbab Annisa.
yang mau berkenalan, yang mau tanya-tanya, monggo langsung aja diklik Salon Jilbab Annisa, atau bisa langsung ke ownernya, Mbak Siti Mutmainah (Muti). doi jago banget dalam hal rias-merias looh.... pelanggannya juga sudah banyaak... mulai dari yang wisuda sampai yang nikahan. hasil riasannya bisa teman-teman intip di Salon Jilbab Annisa. cakep-cakep deeh... sudah halal, syar'i lagi...
ki-ka: Litha, aku (Syifa), Mbak Muti, Ulfah
dan buat teman-teman yang kepincut sama dress batiknya, langsung aja meluncur ke Famysa yaa... atau sms/whatsapp langsung ke 08997185407 :D selain warna kuning dan hijau yang dipakai model, ada juga warna merah dan ungu. gak kalah cakep deeh... apalagi kalau sudah sampai ke tangan teman-teman, makin cakep deh.. hihihi

sudah dulu yaa.... selamat beraktivitas teman-temaan... semoga bermanfaat ^^

make up & hijab stylish: Salon Jilbab Annisa
busana: Famysa 
kode busana: Dr.Febiola-K, Dr.Febiola-Hj
fotografer: Ibank
lokasi: Gedung Widya Puraya Undip

Rabu, 03 April 2013

'Forgot' at Festival Jajanan Bango

hari Minggu tanggal 31 Maret 2013 kemarin ada Festival Jajanan Bango di Semarang. tempatnya di Stadion Diponegoro. entah kabar baik atau kabar buruknya, Festival Jajanan Bango ini hanya berlangsung satu hari saja, dari jam 9 pagi sampai jam 10 malam *kalau tidak salah di reklamenya begitu. aku dan Ayu pun sudah menjadwalkan harus datang ke sana dari jauh-jauh hari. dan begitu tiba waktunya, sengaja kami mengosongkan perut untuk menampung makan siang di sana, kemudian meluncur lah kami ke tempat tujuan.

tebak apa yang terjadi?? jalan menuju ke sana muaceeett.... semakin dekat dengan lokasi Festival Jajanan Bango, jalanan semakin dipenuhi buanyaak orang. sudah seperti Ancol waktu musim liburan saja deh. mendadak Stadion Diponegoro dipenuhi oleh orang-orang yang kelaparan *lapar perut dan lapar mata. hahaa...
sesampainya di Stadion, kami kebingungan mencari tempat parkir. dan ketika sudah mendapat tempat parkir pun, aku khawatir meninggalkan helmku di sana. tidak ada tempat penitipan helm pula. huaah... helmku kan baruu, dari someone special pula. kalau sampai hilang aku pasti digorok. wkwk *suatu saat nanti aku ceritakan tentang helm itu yaa :)
ah, sudahlah. lupakan helm, dan ingat perut. yang terpenting sekarang adalah bergegas masuk dan hunting makanan. aku sudah lapar ternyata :D. namuun... ada yang terlupakan. masuknya bayar tidak yaa?? kalau bayar dan mahal, lebih baik pulang lagi saja. wkwk... kami berjalan mengendap-endap. sampai ke gapura Festival Jajanan Bango, kami tidak melihat ada pembelian tiket masuk. langkah kami teruskan. kami mengendap-endap lagi sampai ke pintu masuk stadion. dan ternyataaaa..... it was freeee alias gratis masuknya mah. hehehe... that was our first experience visited Festival Jajanan Bango.
eh ada yang kelupaan. sebelum kami masuk ke stadion, Kak Adi, temanku di FLP Semarang menelpon. kubilang aku sedang berada di Festival Jajanan Bango, di Stadion Diponegoro. mendengar kata Festival Jajanan Bango sepertinya Kak Adi langsung tertarik. dugaanku itu diperkuat dengan statement Kak Adi yang kurang lebih seperti ini, "ya sudah Kakak sekarang ke sana juga ya.. kebetulan belum makan siang nih. hehe".
aku dan Ayu segera masuk dan melihat-lihat jajanan yang ada, tanpa menunggu Kak Adi datang *peace, Kak :P. jajanannya sungguh menggiurkaaan... tapi setiap stan jajanannya itu antrinya panjaaang sekali... seperti sedang mengantri wahana permainan di Dufan. *weks, hiperbola. ditambah cuaca yang panas dan debu yang berseliweran membuatku lemas dan malas mengantri. aku sudah lapar, malah kelewat lapar. sampai-sampai sebelum berangkat aku harus menjejalkan obat maag ke perut dulu. ahh... perjuangan yang panjang untuk bisa jajan di Festival Jajanan Bango. mungkin ini efek samping dari acara yang hanya berlangsung satu hari kali ya... euforia orang-orang jadi tumpah ruah pada satu waktu itu. *strategi pemasaran yang bagus, Bango :)
beruntung aku membawa bekal segelas air minum dari kontrakan sehingga aku tidak pingsan di tempat akibat dehidrasi. namun walaupun begitu, tetap saja kurasa air minum yang kubawa tidak akan cukup. aku dan Ayu memutuskan untuk membeli minuman dulu sebelum membeli makanan. kami ikut mengantri bersama para pengunjung lain demi mendapatkan segelas es teh. ketika giliran kami sudah semakin dekat, kami mendengar 'esnya habis'. ah, tak apa lah tanpa es juga... yang penting minum. 
kami sudah berada di antrian paling depan, berhadapan dengan si penjual es teh. kami tidak keberatan jika memang tidak ada esnya. tapi... teh melati yang kuinginkan sudah habis. yang masih tersedia hanya teh susu. baiklah... teh susu pun tak masalah. yang penting minum. tapi... ada tapi lagi nih... kami mendapat kejutan lain. teh susu yang kami pegang ternyata HOT alias panas meeen!! *gubraks. sambil tertawa getir, teh susu pun kami sedot sedikit demi sedikit.
and finally, setelah mengelilingi stan-stan jajanan yang ada, aku memilih lontong tahu Blora (Rp 12.000), dan Ayu memilih mie Aceh (Rp 15.000). harga jajanan di Festival Jajanan Bango sepertinya memang seragam, mulai dari Rp 10.000 sampai Rp 15.000. tadinya aku juga mau mie Aceh, tapi antriannya panjang. perut ini lapar pula. sepertinya tidak akan kenyang jika hanya diisi oleh mie, lebih mahal pula :D 
rasanya lontong tahu Blora dan mie Aceh ituuuu.... enak! haha... di dalam lontong tahu Blora ada semacam pangsit gitu, tapi ada isinya, isinya udang. kenyang juga makan lontong tahu Blora. padahal awalnya kukira masih akan ada jajanan-jajanan berikutnya yang masuk ke perut. hehe..
nah loh, lalu bagaimana kabar Kak Adi? dia baru datang ketika aku hampir menghabiskan makananku (Ayu sih sudah selesai dari kapan :P). terpaksa setelah aku selesai makan dan merilekskan perut, kami harus duluan pulang. karena ada place list lain yang menanti untuk dikunjungi :D

ada lagi yang terlupakan ternyata. padahal sebelum aku berangkat, aku sudah meniatkan untuk itu, untuk bertemu mba Rahmi, si empunya blog Desperate houseWife. sebelum berangkat aku sempatkan untuk mencatat nomor hapenya mba Rahmi. kuniatkan nanti di jalan aku akan mengsms mba Rahmi. namun yang terjadi adalah.... LUPA *plaaak!! aku baru teringat akan hal itu saat di jalan pulang, sudah sampai Ngesrep. hahaha... dua kali hampir bertemu, gagal maning, gagal maning. ya sudah lah... mungkin belum berjodoh dengan mba Rahmi. "iya gak, Mba? :D salam yaa buat Thifa.. lain kali kita pasti bertemu, insya Alloh :)"

NB: siapkan fisik, perut, dan finansial anda saat akan mengunjungi Festival Jajanan Bango *kidding, *eh, seriusan loh :P

by. si Famysa, mumpung network bersahabat :)

Jumat, 12 Oktober 2012

Penyusunan Naskah Media & NSPK with Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

tanggal 25 dan 26 September lalu, aku, Kak AdiKak Wawan, dan Mbak Silvi berkesempatan untuk menghadiri diskusi penyusunan naskah media dan NSPK (Nilai, Standar, Prosedur, Kriteria *CMIIW) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. acaranya bertempat di Hotel Santika Semarang. kami hadir di acara tersebut mewakili organisasi Forum Lingkar Pena (FLP) Semarang. 
agenda hari pertama adalah pemaparan dan diskusi tentang Rencana Naskah Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Media 2012-2015. dan agenda hari kedua adalah pemaparan dan diskusi tentang NSPK Ekonomi Kreatif Berbasis Media. ada 6 objek yang dibahas di dalamnya, yaitu komik, film animasi, karya fiksi dan nonfiksi, karya kreatif iklan, serta karya audio dan karya video.
di seminar kit yang kudapat, aku tidak menemukan apa itu NSPK, singkatan apakah itu. kutanya Kak Adi, katanya NSPK itu Nilai Standar Prosedur Kriteria. tapi sepertinya Kak Adi juga kurang mantap menjawabnya. makanya CMIIW ya, maaf bangeet :P
inti dari acara tersebut bertujuan untuk membuat kebijakan baru mengenai naskah media. berhubung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga merupakan kementerian baru, makanya diadakan diskusi seperti ini dengan para pemangku kepentingan (stakeholder) agar aspirasi kami dapat tersalurkan. oh ya, pemangku kepentingan yang dimaksud di sini adalah para pekerja seni. banyak sekali undangan yang hadir dari berbagai komunitas pekerja seni. seperti kami dari FLP (fiksi & nonfiksi), lainnya ada dari Alegori (periklanan), Histeria (konsultan komunitas), fotografer, pembuat film animasi, dll.
ada beberapa diskusi menarik dari beberapa undangan yang hadir, akan kurangkum sedikit di sini. siap menyimak yaa?? agak tegang soalnya nih. hehehe *lebay
kita sebagai pekerja seni tidak melulu membutuhkan kreativitas, tetapi kita juga butuh ekonomis. mengapa kreasi yang kita ciptakan tidak dijadikan lahan bisnis agar menghasilkan 'uang'? kemudian ada yang menimpali pendapat tersebut seperti ini, yakini saja visi kita dalam berkarya sudah benar. jika memang sudah benar, maka sisi ekonomis pun akan mengikuti. hmm... bapak yang menimpali pendapat tersebut sepertinya agak beraliran Jabariyah deh. qonaah banget. hehe.. padahal bukannya segala sesuatu harus diusahakan dulu? sebelum tawakal, manusia kan wajib berikhtiar dan berdoa dulu. ikhtiar di sini bisa jadi dengan cara lebih pandai mencari peluang yang bisa menghasilkan sisi ekonomis. tidak hanya terus berkarya dan meyakini bahwa visi kita sudah benar, tapi kita juga harus aktif mencari peluang dan kesempatan agar kita bisa maju. well, sebenarnya aku kurang paham dan kurang berpengalaman dalam hal diskusi dalam forum formal -sangat formal- seperti itu. makanya aku hanya bisa diam dan menyaksikan. :D
seni VS birokrasi, akhirnya pekerja seni Indonesia lebih banyak melirik LSM luar yang lebih banyak peduli pada seniman Indonesia. pekerja seni Indonesia merasa ditelantarkan oleh pemerintah. tahu sendiri lah bagaimana birokrasi di Indonesia. berbelit-belit dan harus melalui banyak meja, bahkan banyak gedung. repot bukan? mungkin ini yang menjadi salah satu alasan mengapa pekerja seni Indonesia kurang terdengar eksistensinya. seharusnya pemerintah bisa memfasilitasi kita. memfasilitasi kan tidak hanya dengan uang, tapi bisa juga dengan ruang. and then, can we?
data/arsip kesenian budaya dan pekerja seni terkadang diabaikan, padahal data ini bisa menjadi investasi bangsa. misalnya ada pihak luar yang menginginkan data tersebut untuk suatu kepentingan yang baik, maka kita bisa memberikan data dengan tidak cuma-cuma. tentu saja ada imbalannya, baik berupa uang, sarana promosi, pertukaran data, dan lain sebagainya. waah... menarik ya? :D kalau suatu hari aku diminta untuk mengumpulkan data ini dalam bentuk fiksi atau nonfiksi, aku mau deeh... apalagi kalau ada 'tidak cuma-cuma'nya itu. hihihi... kan lumayan.. daripada lumanyun mulu :P
menu vegan ala Syifa :D
bicara tentang hak cipta di Indonesia sepertinya agak risih. boro-boro yang belum mempunyai hak cipta, yang sudah memiliki hak cipta pun masih dibajak seenaknya. buku difotokopi, CD dibajak, mau lagu atau film baru carinya di situs download gratis. hadeehh --" dan sepertinya saya juga sering melakukan praktek pelanggaran hak cipta tersebut. ampuuun :O untuk mengatasi hal ini, ada undangan yang menyarankan agar hak cipta dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan formal. mungkin bentuknya bisa menjadi satu pelajaran/mata kuliah khusus, atau diselipkan di pelajaran/mata kuliah lain. ide bagus tuh.. hanya yang perlu diperhatikan adalah follow up dan aplikasinya. tidak melulu disuarakan di dalam kelas, tapi juga harus disertai dengan aksi nyata.
foto bareng peserta lain, dari perwakilan organisasi/komunitas yang berbeda pula
ketidaknyamanan pekerja seni di tempat wisata yang akan dijadikan lokasi dalam karya mereka. misalnya untuk pemotretan, pameran seni, pembuatan film, dll. menurut salah satu undangan, harga sewa tempat wisata/budaya di Semarang (baca sambil diraba-raba: l*wa*g *e*u) sangat mahal. mungkin mahal atau murah itu relatif ya.. bagi sebagian orang, bisa saja harga sewa sejumlah itu tergolong murah. tapi bagi sebagian orang lainnya, harga sewa sejumlah itu sangat mahal. lantas kenapa tidak dibuat murah menurut ukuran kalangan menengah ke bawah saja. kan jadi bisa terjangkau oleh semua kalangan tuh. atau tetapkan saja diskriminasi harga seperti untuk pengunjung lokal dan pengunjung dari luar negeri. hmm... lalu undangan lain (wakil dari Dinas Pariwisata Kota Semarang) berpendapat bahwa mengenai harga, akan mereka komunikasikan lagi dengan pihak pemilik tempat wisata/budaya tersebut. semoga berhasil ya :) 
menu vegan ala Syifa juga :D
regulasi perpajakan film indie (independen) jangan disamakan dengan mainstream. jika harga diseragamkan, maka dikhawatirkan produsen/pekerja seni film indie akan gulung tikar. padahal film indie dan mainstream jelas berbeda (padahal aku sendiri yo ndak tau opo bedonya). kemudian pembahas menanggapi dengan memberi saran, mungkin film indie bisa mencari sponsor atau mengikuti lomba-lomba yang diadakan pemerintah, dengan begitu film indie tersebut akan terfasilitasi. 
terakhir, ada hal yang lucu. perbedaan persepsi antara Kak Adi dan pembahas mengenai skenario. pembahas keukeuh bahwa skenario tidak masuk ke ranah fiksi. skenario adalah proses lanjutan dari fiksi, tetapi tidak dapat digolongkan ke dalam fiksi. padahal kata Kak Adi, skenario juga seharusnya masuk ke fiksi loh, di dalam fiksi juga kan ada drama. nah loh.. jadi piye? :D
Kak Wawan remang-remang :D
ketika berada di meja makan dan berbincang-bincang mengenai diskusi yang sudah kami lewati, aku menangkap ada suatu ketidakpercayaan pada pemerintah. "jangan sampai diskusi tadi cuma dijadikan formalitas saja, padahal sebenarnya mereka (pemerintah) sudah punya rencana sendiri. percuma saja kita berpendapat tetapi pendapat kita tidak ditampung ke dalam kebijakan tersebut. diskusinya sama saja bohong." hmm... entahlah... no comment. orang Indonesia kebanyakan di-PHP-in (baca: Pemberi Harapan Palsu) sama pemerintah sih ya. jadinya ya suudzon mulu deh. hehe...
pengalaman yang kudapat kali itu sangat-sangat berharga. aku jadi tahu secuil dari proses pembuatan kebijakan. ternyata memang tidak mudah. sejatinya kebijakan memang tidak mungkin bisa sesuai dengan keinginan semua orang. pasti ada pro dan kontra, pasti ada masalah di dalamnya. entah itu dalam perumusan, pelaksanaan, maupun evaluasinya. 
jadi policy maker memang sesuatu deh :) insya Allah itu akan menjadi pekerjaanku kelak. ahahaa... aamiiin...

note: diskusi ini diadakan di 4 kota besar; Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya

by. si Famysa, calon pembuat kebijakan yang adil :)

Jumat, 03 Agustus 2012

Garden Cupcake

di sela-sela kesibukan UAS kemarin, aku dan adikku, Ulfah, menyempatkan diri untuk bersenang-senang sejenak. pada tanggal 8 Juli, kami pergi ke Mall Paragon untuk melihat Garden Cupcake yang hanya tersisa satu hari lagi.
lucunya, aku mendapat info tentang Garden Cupcake ini dari temanku, Maya, yang ada di Jakarta. padahal aku yang tinggal di Semarang, kok malah aku yang ndak tahu ya. hehe *kurang gahol nih saya --" Maya mention aku di twitter, menanyakan tentang kebenaran Garden Cupcake. kubilang aku tidak tahu, tapi nanti akan kubuktikan kalau sempat. dan alhamdulillah sempat juga ternyata.. :D
begitu kami turun dari bus dan menginjakkan kaki di Mall Paragon, kaki-kaki yang lain pun tampak berseliweran memadati bagian depan Mall Paragon. tumben sekali. tidak biasanya Mall Paragon sepadat itu. apalagi ketika kami masuk, orang-orang semakin banyak, berkerumun di sekeliling cupcake yang telah ditata sedemikian rupa sehingga menjadi garden itu. ternyata adanya Garden Cupcake berhasil menarik perhatian pengunjung ya.. Mall Paragon mendadak penuh -_-
saking banyaknya orang yang lalu lalang nih, mau difoto di depan pintu masuknya saja kami jadi harus beberapa kali gagal maning gagal maning. foto Ulfah saja tuh yang bagus dan pantas mejeng di sini, sedangkan fotoku.. viewnya gak banget, akibat buru-buru dan asal jepret.
ketika melihat 4200 cupcake yang disulap menjadi garden itu, aku mengkhayalkan bahwa diriku hidup di sana, di dunia Garden Cupcake. warna-warna dan hiasannya saja seperti dunia dongeng yang sering nongol di TV. colourful and cheerful. unyu-unyu pisan deh pokoknya..
garden yang tersusun oleh 4200 buah cupcake ini juga mendapat rekor MURI loh. hebat ya.. idenya ada-adaa saja. tepuk tangan dong buat Fortune sebagai empunya hajat.. :)
selain pajangan Garden Cupcake, ada juga acara talkshow bersama pihak penyelenggara dan pameran kue buatan murid-murid Fortune. lihat tuh wedding tartnya! sungguh sesuatu lah.. bikin ngiler ingin mencicipi dan ingin segera menikah *eh :S
lama aku memperhatikan dan mengingat-ingat, aku jadi teringat sesuatu. Garden Cupcakenya mirip dengan taman Telletubbies yaa... hijaau terhampar luas.. ada jembatan, ada gula-gula, ada pohon-pohon yang unik, orang-orangnya juga unik. hihihi... yang agak aneh, kok di sana ada labu besar tanpa pohon, tergeletak begitu saja di tengah hijaunya garden. hmm... aku tidak tahu filosofi, maksud, dan tujuannya si labu itu -_-
aku jadi teringat sesuatu lagi.. nuansa hijau dan pink yang ada di tengah Garden Cupcake mengingatkanku pada Lina. Lina si pecinta hijau dan aku si pecinta pink sepertinya akan kegirangan jika datang ke Garden Cupcake bersama-sama. bagaimana tidak.. wong di sana warna yang mendominasi sepanjang mata memandang hanya pink dan hijau. kalau pun ada warna lain, paling-paling cuma sebagai figuran saja. pemeran utamanya tetap si pink dan si hijau. heheh 
di dalam foto di atas ini nih, noh di reklame sebelah Ulfah tertulis 'decorating with Jonathan Frizzy'. jadi maksudnya?? :O keren juga Mas Ijonk ya.. sekolahnya apa sih kamu, Mas, kok bisa mendekor cupcake-cupcake jadi garden yang cantik?
jika dilihat dari dekat, aku sedikit meragukan keaslian cupcake-cupcake itu. beneran gak sih semuanya itu cupcake dan bisa dimakan?? dicolek-colek pun teksturnya keras. bayangkan saja kue yang kelamaan ada di dalam kulkas. nah kerasnya seperti itu tuh.
karena penasaran, tanganku jadi iseng nyomot sedikit deh. sedikiiiit kook... lagian yang isengnya tanganku, bukan akuu. bwahahah alibi loo... :P lalu kucicipi deh. hmm... ternyata enak. manisnya pas. enak deh pokoknya. mungkin cupcake-cupcake itu sengaja dibuat keras karena harus tahan selama beberapa hari ketika pameran berlangsung.   
kue-kue yang dipajang di stand pameran sungguh menggiurkan, pemirsa... bentuk dan warnanya lucu-lucu sekaliiii... sayangnya kami hanya berhasil mengambil gambarnya beberapa saja. kalau semuanya sih ya repot juga, kebanyakan. :P
itu Borobudur makanan loh, cems.. bukan patung :D

by. si Famysa, PW banget di rumah :D

Mijn Vriend