Tampilkan postingan dengan label other P. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label other P. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Maret 2015

Kaptenku, Imamku

Tak terasa sudah 17 tahun kita bersama ya, Pa.. Padahal rasanya baru kemarin Papa melamar Mama. Lalu kita menikah, mengontrak rumah ke sana - ke mari, merintis usaha, hingga sekarang ada tiga bidadari kecil di sekitar kita, Kak Nur, Kak Shofa, dan Dek Putri.
Waktu awal menikah, Mama agak merasa sedikit useless gara-gara Papa yang kerajinan. Urusan beres-beres rumah, Papa baweeel banget. Ada debu sedikit saja yang ketinggalan, Papa membersihkan ulang. Sampai bagian atas lemari yang gak pernah Mama sentuh pun Papa bersihkan. Hari Minggu, waktunya bersantai, Papa malah bangun lebih pagi untuk merawat tanaman dan beres-beres rumah. Padahal Mama saja masih ingin tidur, Pa. Papa ini sebenarnya nahkoda atau office boy sih? Hehehe...
Pa, tahu gak... Anak jaman sekarang pacaran LDR sama anak kecamatan sebelah saja galaunya ampun-ampunan. Lha kita, 17 tahun menikah LDR-an terus ya, Pa. Papa di laut A sampai Z, Mama di darat, masih setia dengan Indonesia. Waktu kita berjauhan lebih lama dari waktu kita berdekatan. Papa perginya setahun, pulangnya tiga bulan doang.
Pa, walaupun watak kita sangat berbeda, tapi justru itu yang membuat Mama makin cinta sama Papa. Ternyata memang ada orang seperti Papa ya. Hidup tanpa cita-cita, tanpa ambisi. Apa yang dijalani itu lah yang akan menjadi cita-citanya. Mengalir bagai air, tanpa tahu akan bermuara dimana. Tidak usah terlalu pusing dengan urusan besok, yang penting hari ini tetap berusaha dan bersyuk ur.
Mama ambisius, Papa santai. Mama agak pelit, Papa lebih royal. Mama kadang judes, Papa baiknya baik banget. Mama punya banyak cita-cita, Papa justru gak tahu cita-cita Papa apa, yang penting lakukan saja yang ada ya, Pa. Unik ya, kita sangat berbeda. Tapi perbedaan itu justru membuat kita bisa saling menguatkan. Mama merasa sempurna karena ada Papa. Subhanallah... Hanya Kuasa Allah yang sanggup mempersatukan kita.
Papa pernah cerita pada Mama, Papa tidak pernah membayangkan apalagi mencita-citakan Papa kelak akan menjadi nahkoda, berlayar ke mancanegara, meninggalkan anak dan istri, mempunyai penghasilan berkecukupan. Tapi pada kenyataannya sekarang Papa justru sangat mencintai pekerjaan Papa. Mama dan anak-anak bangga pada Papa, kita punya kapten yang gagah berani nan baik hati.
Ingat gak, Pa, dua tahun yang lalu, Papa bilang begini, “Papa capek, Ma. Papa di rumah saja ya.. Gak usah pergi berlayar lagi.”
Papa soleh... yang sabar ya, Pa... Usaha kita kan baru berdiri, belum cukup berkembang. Nanti kalau sudah berkembang, baru kita bisa menikmati hasilnya dengan diam di rumah, tanpa Papa harus capek cari modal lagi. Sekarang mah hasilnya masih mepet buat sehari-hari dan sekolah anak saja, Pa.. Belum ada tabungan untuk menjamin kita ke depannya.
Sekarang Mama tahu Papa capek. Tapi bukannya Papa sangat cinta pada pekerjaan Papa ya? Buktinya, selama ini Papa sanggup jauh dari Mama dan anak-anak demi loyalitas pada pekerjaan. Kenapa gak Papa pertahankan rasa cinta itu, Pa? Nanti, kalau usaha kita sudah maju, kita bakal punya banyak waktu untuk bersama. Sekarang Papa percayakan saja pada Mama, Mama pasti bisa menjaga modal dari hasil kerja keras Papa. Papa juga pasti bisa semangat dan betah kerja lagi. Iya kan, Papa soleh? J
Pa, soal si sulung, Kak Nur, Mama mohon ikhlaskan dia tinggal di pesantren. Kalau pun Papa mau Kak Nur ditarik dari pesantren dan disekolahkan di dekat rumah saja, boleh... Mama juga senang bisa kumpul terus sama anak-anak. Mama juga kan sebenarnya sedih, Pa lihat Kak Nur nangis terus minta pulang dari pesantren. Tapi ada syaratnya. Papa tinggal di sini! Bantu Mama mendidik anak-anak. Mama jujur, Pa, Mama angkat tangan kalau harus mendidik mereka sendiri. Mama sadar kalau Mama ini orangnya gak sabaran, gak kayak Papa. Mama bukan ibu yang cukup pintar yang bisa ngajarin anak-anak kalau ada PR sekolah. Mama juga baru mulai serius ngaji kemarin kan, Pa. Mama gak pede mendidik mereka seorang diri. Makanya Mama milih lebih baik Kak Nur pesantren saja. Biar adik-adiknya juga bisa nyontoh kakaknya. Papa yang sabar... Jangan cengeng gitu gara-gara lihat anaknya gak betah di pesantren.
Pa, Mama masih ingat betul kata-kata Papa dulu, sebelum kita berangkat ibadah haji. Mama juga masih ingat kelakukan Papa yang aneh. Papa memang selalu ke masjid setiap waktu shalat tiba. Tapi bukan Papa kalau tidak langsung pulang setelah selesai shalat. Mama kira Papa berlama-lama di masjid untuk beribadah. Ternyata Papa hanya menangis di sana. Setiap hari, setiap waktu, Papa menghabiskan waktu dengan menangis. Sampai hati Mama ini pilu melihat tangisanmu, Pa.. Padahal biasanya setiap Papa pulang Papa pasti menghabiskan waktu dengan anak-anak. Biasanya waktu pulang jadi hiburan buat Papa. Papa sendiri yang bilang gitu kan. Kata Papa, pulang itu... Papa bisa ketemu Mama, ketemu anak-anak, liburan bareng, belanja bareng, nonton film, makan, semuanya selalu bisa kita lakukan berlima.
“Ma, Papa pengen nikah lagi. Sama yang masih gadis, yang langsing, yang cantik,” begitu katamu dulu, Pa. Mama bakal selalu ingat kata-kata Papa itu.
Papa tahu gimana perasaan Mama waktu Papa berkata seperti itu sambil terntunduk dan menangis? Mama seperti sedang menghadapi rengekan Dek Putri yang sedang demam tapi keukeuh minta eskrim. Bahkan lebih dari itu. Hati Mama sakit sekali rasanya, Pa. Langit seperti rubuh di hadapan Mama sendiri.
Papa sayang... Maafkan Mama ya, Pa... Mungkin selama ini Mama memang kurang merawat diri. Mama kurang perhatian sama Papa yang berada jauh dari Mama. Mama sekarang gendut dan jauh sekali dari kesan modis seperti ibu-ibu tetangga. Mungkin Mama terlalu asyik sendiri. Papa kerja jauh, Mama jadi lupa kalau Mama harus mempercantik diri.
Papa yang sabar ya... Sekarang biarkan cukup Mama saja yang menjadi gadis itu. Siapapun gadis yang berada dalam bayangan Papa, ijinkan Mama untuk berusaha menjadi sosok itu. Papa yang sabar... kalau memang Papa berjodoh dengan gadis, mungkin nanti Mama yang meninggal duluan. Terus Papa bisa nikah lagi dengan gadis deh. Gak usah maksa buat poligami, Pa. Meskipun itu halal, tapi hati Mama gak siap menerima kehadiran orang lain selain Mama yang menemani Papa. Mama gak sekuat Teh Ninih yang rela suaminya menikah lagi dengan wanita yang lebih cantik darinya.
Biar bagaimana pun, Mama bahagia hidup sama Papa. Papa tenang saja, walaupun kita berjauhan, Mama gak akan pernah berhenti cinta sama Papa. Mama gak akan pernah bosan sama Papa. Kalau Papa bosan sama Mama, terserah Papa, yang penting Mama gak akan pernah bosan sama Papa. Mau Papa ubanan, gendut, kurus, hitam, atau apapun, Mama gak akan bosan, Pa.
Berbagai masalah yang lewat silih berganti selama 17 tahun ini, Mama selalu yakin kita akan bisa melaluinya dengan selamat. Karena Mama gak sendiri. Ada Papa, kaptenku, imamku yang paling soleh. Ada Kak Nur, Kak Shofa, dan Dek Putri, bidadari-bidadari kecil kita. Dan tentunya karena ada Allah, Sang Maha Pembolak-balik Hati, Dia Yang Kuasa yang mengijinkan Mama hidup dengan suami sesoleh Papa.
Pa, ijinkan Mama berbakti pada Papa sampai Mama menutup mata... Hanya Mama....
postingan ini adalah tulisanku yang dimuat di antologi Dear Suamiku - Diva Press dengan nama @famysa_ 
by. si Famysa...

Sabtu, 14 Maret 2015

Proudly Present: Camilan Mih Anih

Dulu, waktu pertama kali berikrar akan menceburkan diri sepenuhnya ke dalam dunia bisnis, rasa-rasanya aku sendirian, tidak punya teman. Mamah, sangat penuh pertimbangan, ujung-ujungnya ya enggan berbisnis. Bapa, yang padahal orang bisnis, entah kenapa bersikeras melarangku terjun ke dunia bisnis dengan berbagai alasan. Ibank, paling hanya mendengarkan ceritaku saja, tapi dia lebih memilih kerja jadi karyawan daripada bisnis. Kokom, dan teman-teman lainnya, seperti hanya menyimak tapi tidak ikut merasakan gejolaknya. Hmm… Pokoknya aku seperti tersasar sendirian ke dunia yang baru dan penuh tantangan.
ini dia sahabatku, partner bisnisku, Kokom Komariyah
Sekarang, semua keadaan berbalik. Alloh memang Maha Pembolak-balik hati yaa.. Bisa jadi yang tadinya tidak kau sukai, jadi teramat kau sukai, pun sebaliknya :). Mamah, sedikit demi sedikit mulai mendukung bisnisku. Cara kecil yang mamah lakukan adalah memberiku suntikan modal walau tidak seberapa, bahkan memberikan pinjaman. Bapa, walau masih setengah hati, tapi sepertinya Bapa agak berdamai dengan keputusanku ini. Ibank, laki-laki ini berubah 180 derajat. Sekarang semangat dan inovasi bisnisnya hampir menyaingiku :P. Dan satu lagi, sahabat karibku yang satu ini, Kokom, dia juga ikut terjun ke dunia bisnis, 100% nyemplung! Hebat kan?! :D

Kisah berawal dari kehidupan dunia kerja Kokom di kantoran yang mulai tidak nyaman. Yang berkuasa di kantornya sudah mulai main sikut kanan-sikut kiri. Kokom adalah salah seorang karyawan yang kena sikut itu. Padahal, sudah lebih dari 4 tahun Kokom mengabdikan dirinya pada kantor itu. 100% loyal, 100% all out, 100% Kokom lakukan apapun demi kantornya lah ibaratnya. Tapi apa yang terjadi? Akhir November tahun lalu Kokom dengan berat hati memutuskan resign dari kantornya karena alasan tidak nyaman lagi.
Camilan Mih Anih. brand design by Sakola Printing
Detik-detik menjelang hari resignnya, Kokom masih sering curhat padaku. Dia tidak tahu mau apa selanjutnya. Kalau harus kerja lagi, kerja dimana? sedangkan Kokom tidak bisa tinggal jauh dari keluarganya. Kalau pun mau bisnis, bisnis apa? Kokom belum punya gambaran apapun mengenai bisnis. Awal mulanya semua peluang bisnis dia ceritakan padaku. Mulai dari meneruskan MLM, bisnis make up artist, sampai bisnis makanan.

Setelah resmi resign, Kokom baru benar-benar memantapkan idenya. Dia mengambil keputusan untuk berbisnis camilan. Satu hal yang jadi motivasi Kokom berbisnis camilan adalah karena ibunya bisa masak aneka camilan. Waktu itu, Kokom bolak-balik ke rumahku untuk mengirim tester camilannya. Hihihi, ya enak aja sih aku mah dikasih camilan gratisan mulu :P Selanjutnya, Kokom juga banyak berdiskusi denganku dan Ibank untuk desain brand produknya dan konsep bisnisnya.
beberapa produk Camilan Mih Anih. semuanya enyaak!!
Tanpa ba-bi-bu alias tanpa menunggu lama, sahabatku yang satu ini langsung action! Dengan kuantitas produk seadanya, Kokom sudah mulai gencar melakukan pemasaran ke sana-sini. Ke warung-warung, ke Enok, ke rumah makan, ke kosan, ke pabrik-pabrik, ke mini market, hingga kini sudah mulai dipasarkan online.

Sekali ditolak, Kokom langsung bergerak lagi. Dua kali ditolak, Kokom semakin banyak gerak dan bergerilya. Sekarang, luar biasa sekali, produk Kokom sudah menajmur di sekitar kampungnya dan di kalangan teman-temannya. Bahkan, sudah banyak orang yang baru kenal pun pesan online produk Kokom.

Oh iya, hampir lupa.. Nama produk camilannya Kokom adalah “Camilan Mih Anih”. Camilannya bermacam-macam, yaitu rangginang terasi, peyek kacang ijo, peyek kacang tanah, peyek abon, keripik bayam, keripik pisang manis, keripik pisang asin, dan yang terbaru adalah keripik pisang coklat (khas Lampung itu looh). Sekarang reseller Camilan Mih Anih sudah cukup banyak. Pemasarannya sudah makin luas karena terbantu oleh media sosial. Harganya? Murah meriah… Ada harga khusus lagi yang lebih murah meriah untuk reseller. Barangkali teman-teman pembaca semua ada yang berminat bisnis camilan juga, bisa dong jadikan Camilan Mih Anih sebagai supplier. Hehehe…
produk terbaru; keripik pisang coklat. ini juga enyak loh, asli!
Satu poin penting dalam berbisnis yang sudah dibuktikan Kokom adalah semangat. Asal ada semangat, niat yang masih setengah-setengah pasti akan jadi bulat. Asal ada semangat, segala hal yang mulanya kita anggap tidak mungkin, semua akan menjadi mungkin. Asal ada semangat, Alloh pun akan bergerak untuk membantu kita.

Tidak percaya? Yaa, yaa… Kalian tidak akan pernah percaya sebelum membuktikannya sendiri. Sama seperti Kokom. Dulunya dia sangsi pada dunia bisnis. Katanya Kokom lebih memilih jadi karyawan yang aman karena bergaji. Tapi sekarang, setelah ketidaknyamanan di dunia kerja yang dialami Kokom, lalu dia memutuskan untuk berbisnis, yang terjadi adalah mentalnya semakin terbentuk. Semangatnya semakin menyala-nyala, tidak ada matinya seperti api abadi.

Pokoknya kalau mau bisnis mah, bismillah saja, semangat saja! ;)

Suatu hari kita akan buktikan pada dunia ya, Kom, kalau kita memang orang gila yang bisa mewujudkan mimpi-mimpi kita lewat bisnis kita. Hihihi.. Aamiin…

Next project, bismillaah.. Rencananya Famysa Batik & Handmade, Sakola Printing, dan Camilan Mih Anih akan menggelar giveaway di blog ini. Tunggu saja tanggal mainnya yaa :D

Need us?
Famysa Batik & Handmade : 08997185407 / 7d07cfde
Sakola Printing : 089655141507 / 76476992
Camilan Mih Anih : 089675194098 / 7ed16f00

by, si Famysa, tukang dagang :D

Kamis, 26 Februari 2015

Semangat Si Enok

Japanese food pertama Enok :D
Namanya Mira Wati, tapi di kampung dia biasa dipanggil Enok –Enok sama seperti Eneng artinya (panggilan) anak perempuan-. Enok masih duduk di bangku kelas 9 SMP di SMP tempat mamahku mengajar, letaknya dekat dari rumah, sekitar 10 menit jalan kaki santai juga sampai. Enok sudah menjadi bagian dari Sakola Printing sejak sekitar dua-tiga minggu pertama Sakola berdiri. Berarti sudah 4 bulanan Enok membantu bisnisku.

Enok adalah tetanggaku. Rumahnya persis di sebelah (serong) kanan rumahku. Segala aktivitas di rumahku bisa terlihat dari rumah Enok, begitu pun sebaliknya. Enok tinggal bersama kedua orang tua dan 3 saudaranya, 1 kakak dan 2 adik. Sebenarnya kakaknya ada 2, tapi kakaknya yang nomor 2 sejak kecil tinggal bersama uwanya di Indramayu. Mamanya Enok bekerja sebagai tukang ojek (mama: bapak dalam bahasa Jawa Cerbonan-Dermayuan), sedangkan emihnya seorang ibu rumah tangga yang nyambi dagang p*p ice pada waktu-waktu tertentu (emih: Ibu dalam bahasa Sunda).

Kata Enok, penghasilan mamanya dari ngojek per hari Rp 30.000. Kalau sedang ramai penumpang mentok Rp 50.000, tidak pernah lebih dari itu. Bayangkan! Rp 900.000 per bulan harus bisa mencukupi kebutuhan 6 orang: 2 orang dewasa, 1 orang usia 18 tahunan, 1 orang usia 15 tahun, 1 orang usia 8 tahun, dan 1 orang usia 1 tahun. Aku saja waktu masih kuliah di Semarang uang Rp 900.000 itu untuk diriku sendiri, lha ini untuk 6 orang -__-

Hebatnya, Enok tidak pernah mengeluh dengan kondisi ekonomi keluarganya. Walaupun tidak pernah punya baju baru, sepatu baru, tas baru seperti anak-anak lainnya, tapi Enok tetap ceria. Enok justru bisa prihatin. Enok dapat membantu meringankan beban orang tuanya dengan sepenuh hati menjadi marketing Sakola Printing. Selain membantu perekonomian orang tua, Enok juga rajin membantu Emihnya masak dan mengasuh adik bungsunya yang masih 1 tahun. Setiap pulang sekolah, Enok pasti setor sekalian main di kantor Sakola Printing sambil membawa serta adiknya. Begitu ashar tiba, Enok pulang untuk membantu Emihnya masak dan beres-beres rumah.

Selain memasarkan produk barang/jasa Sakola Printing, sekarang Enok juga mempunyai barang jualannya sendiri. Enok jualan basreng (baso goreng) dan cilok buatan Emihnya di sekolah. Tiap pagi, Enok membawa 2 jinjingan besar berisi cilok dan basreng. Belum lagi di tasnya juga penuh dengan pesanan teman-temannya di Sakola Printing.
Enok sebenarnya cerdas. Hanya saja anak sekolah di kampungku sini kurang diasah. Beruntungnya aku punya mamah yang melek pendidikan sehingga aku jadi anak yang berbeda di sini, dari segi akademik. Jadi yaa memang nilainya Enok standar saja. Tapi kata mamah, Enok tergolong anak yang cukup rajin. Terbukti dengan tepat waktunya dia mengumpulkan tugas, tidak pernah lalai seperti anak-anak lainnya. Makanya waktu UAS semester kemarin, kupaksa Enok untuk belajar bakda maghrib sampai jam 9 malam di rumahku. Kuajari sebisaku pelajaran-pelajaran yang akan diujiankan esok harinya. Hasilnya, Enok bilang dia bisa mengerjakan soal, walaupun ada yang tidak bisa. Khusus pelajaran Bahasa Indonesia, Enok berhasil meraih nilai lebih dari 80 di raport. Aku tahu karena aku yang menilainya, mamahku kan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hehe..

Selain kupaksa untuk belajar, Enok juga kuajari cara mengoperasikan laptop. Kemarin baru sempat kuajari Microsoft Word. Setiap aku mengajarkan satu poin, Enok bisa cepat menangkap dan mempraktekkannya. Sering kubuat tes kecil untuk Enok. Dan Enok memang bisa. Enok memang anak yang cerdas. Saat anak-anak yang lain ogah-ogahan kutawari belajar laptop gratis karena malu tidak bisa sama sekali, Enok satu-satunya anak yang antusias. Katanya Enok ingin bisa. Enok tidak pernah malu untuk belajar.

Semenjak membantu Sakola Printing, Enok bilang Enok sudah tidak meminta uang jajan lagi pada orang tuanya. Malah Enok yang sering menjajani adiknya ketika mengasuh, kadang kakaknya juga kebagian dari Enok jika kakaknya sedang tidak punya uang. Bahkan jika masih punya uang lebih, biasanya Enok memberikan uang itu pada emihnya, karena menurut Enok emih lah yang paling tahu uang itu harus dibelikan apa, emih kan yang tahu kebutuhan keluarga.

Suatu hari aku dan Ibank mengajak Enok main ke Subang Kota, sambil jualan pin di acara ulang tahun Viking Subang. Enok sangat antusias. Katanya jarang-jarang Enok bisa main jauh, Subang Kota saja masih asing bagi Enok. Pulang jualan, aku dan Ibank mengajak Enok makan di food court Toserba Yogya Grand Subang. Aku memilih menu bento, sekalian mengenalkan Enok pada makanan asing. Hehe..

Sepulang dari Subang Kota, Enok meminta foto-foto yang ada di postingan ini. Katanya mau Enok tunjukkan ke emih dan mamanya. Enok tadi makan makanan aneh, makannya pakai sumpit, padahal bukan sedang makan mie. Hihihi…
Akhir-akhir ini, karena orderan stiker dan pin berkurang, bahkan tidak ada, Enok jadi jarang kebagian jatah besar dari Sakola. Dan tadi siang saat Enok setor, kuberi dia jatah Rp 11.000. Enok bilang “kok banyak, Teh? Gak kelebihan?”. Lalu kujawab, “karena Enok hari ini setornya banyak, jadi dapatnya juga banyak.” Dan Enok tersenyum riang.

Enok banyak bercerita tentang cita-citanya padaku. Enok ingin sekolah terus, bahkan cita-cita khayalannya sih ingin jadi dokter karena Enok agak suka pada pelajaran Biologi. Hehe.. Tapi kadang semangatnya untuk sekolah surut lagi ketika Enok melihat kakaknya. Enok merasa tidak enak jika dia minta disekolahkan lebih dari SMP, karena kakaknya juga hanya disekolahkan sampai SMP.

Aku hanya bisa menyemangati Enok dengan beberapa kisah motivasi. Terselip harapan di benakku, aku ingin minimalnya Enok sekolah di SMK dekat rumah. Sayang kalau Enok tidak lanjut sekolahnya. Enok anak yang cerdas, Enok punya potensi. Aku yakin anak-anak seperti Enok ini jika diasah dan dikembangkan terus potensinya, kelak dia bisa jadi orang hebat. Selalu kukatakan ini pada Enok, “Enok pinter, Enok harus lanjut sekolah. Enok kan bisa cari uang sendiri. Enok pasti bisa bantu orang tua biayai sekolah Enok sendiri. Malah mungkin Enok bisa sekolah terus tanpa minta biaya dari orang tua. Enok harus yakin, Enok pasti bisa sekolah, Enok pasti bisa jadi orang sukses, Enok pasti bisa membanggakan orang tua dan keluarga Enok, Enok bisa jadi panutan buat adik-adik Enok!”

Perjuangan dan senyum syukur Enok mengingatkanku pada hidupku dulu. Saat aku baru benar-benar prihatin pada kondisi ekonomi keluarga dan baru benar-benar merasakan sulitnya mencari uang ketika duduk di bangku kuliah, Enok justru sudah memulainya sekarang saat dia masih kelas 9 SMP! Subhanalloh…

Lancarkan rizki Enok dan keluarga, Yaa Alloh… Lancarkan juga bisnisku, Sakola Printing dan Famysa Batik & Handmade, agar aku bisa membantu lebih banyak Enok-Enok lain. Aamiin…

By. Si Famysa, bismillaah sukses!

Minggu, 15 Februari 2015

Sedekah Mengangkat Derajatku

Kisah berawal dari pertemuanku dengan sosok abstrak yang bernama ketidakadilan, kedzoliman, ketidakberdayaan, dan kehinaan. Kala itu aku merasa sangat kecil, sangat rendah, dan sangat hina di mata mereka. Posisiku sangat sulit, aku adalah orang yang berbeda di tengah kekacauan lingkungan tempat kerjaku. Bukan orang baik yang dicintai, malah justru orang baik yang dihindari.

Tak ada yang bisa kulakukan selain diam dan tak membalas omongan mereka, terutama satu orang itu, yang selalu berkata sinis padaku. Apa saja yang kulakukan selalu dia komentari, dengan komentar buruk tentunya. Seolah dia tahu keseharianku, seolah dia adalah personal CCTV yang selalu merekam gerak-gerikku kemana pun aku pergi.
Apapun perkataan negatif yang mengarah kepadaku sebisa mungkin tak kuhiraukan. Aku hanya fokus pada tugasku untuk mengajar anak didikku. Ya, aku adalah seorang guru honorer di sebuah SMK swasta dan SMP negeri yang lokasinya berjauhan. SMK tempatku mengajar lebih dekat dari rumahku, sedangkan SMP tempatku mengajar berada di kecamatan tetangga.
Sebagai seorang guru honorer, satu hal yang pasti sangat kuharapkan adalah bisa menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Harapanku ini mungkin sama dengan para guru honorer lainnya. Memang sudah bukan rahasia umum lagi jika tujuan kami, para guru honorer ngehonor adalah untuk bisa menjadi PNS yang lebih menjanjikan masa depannya.
Sayangnya, di kabupaten tempat tinggalku ini terlalu banyak oknum yang menawarkan dan mengandalkan lolos PNS dengan memakai ‘uang titipan’. Bukan main nominalnya, bisa sampai ratusan juta! Padahal ini hanya PNS di kabupaten.  
Melihat rekan-rekan kerjaku sibuk mempersiapkan diri demi lolos PNS dengan 3D (deukeut, duit, dulur – dekat, uang, saudara), aku merasa semakin kecil. Aku tidak punya 3D yang mereka andalkan. Relasi maupun saudara pejabat atau panitia PNS, tidak punya. Uang, apalagi! Aku tidak punya sepeser pun uang untuk melancarkan PNS-ku seperti mereka-mereka.

Punya apa aku untuk mengharapkan PNS?
Aku hanya bisa berdoa pada Yang Maha Kuasa. Melalui long time dhuha dan tahajud, aku selalu memohon padanya, “Tuhan, kalaulah niatku ini baik bagi kehidupanku dan anak-anak, maka jadikan lah aku naik derajat jadi PNS agar aku tidak dipandang sebelah mata lagi.” Doa-doa yang sama selalu kupanjatkan selama kurang lebih dua tahun terakhir sebelum waktunya tes PNS-ku. Aku juga semakin rajin membaca buku agama, aku semakin rajin menggali ilmu agama. Hingga akhirnya aku mempraktekkan sedekah”.
Aku mengkhususkan sedekahku untuk mengharap kelulusan PNS-ku. Biarlah sedekah untuk mengharapkan sesuatu dari Tuhan, daripada aku harus berharap pada 3D ala manusia. Bukan kah Tuhan pemilik 3D itu? Pikirku, kenapa aku tidak mendekati pemilik 3D-nya langsung saja. Bahkan Dia adalah pemilik seluruh jagad raya ini. Meluluskanku menjadi PNS, apa susahnya bagi Tuhanku?

Hari itu, agak jauh dari waktu tes PNS, aku menghabiskan honorku mengajar untuk membeli mukena beberapa buah. Hanya kusisakan Rp 50.000 untuk kebutuhanku. Sambil berdoa semoga uang Rp 50.000 cukup untukku satu bulan, dan semoga mukena-mukena ini bernilai sedekah yang dapat membawa keajaiban untukku.

Semakin mendekati hari tes PNS, aku kerap kali bermimpi ada bayi laki-laki lucu di atas ranjangku. Beberapa kali mimpi itu terulang. Kata orang yang ahli tafsir mimpi sih, katanya itu pertanda baik. Aamiiin, batinku. Sambil terus berdoa memohon pada Tuhan, aku juga terus berusaha berpikir positif. Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya.

Orang itu –rekan kerjaku- yang kuceritakan di awal (yang selalu berkomentar negatif padaku), ocehannya semakin menjadi-jadi. Dia menertawaiku. Dia bilang aku tidak akan bisa lolos PNS jika tidak punya 3D. Dia mungkin menganggapku gila karena aku hanya mengandalkan Tuhan di saat yang lain berlomba-lomba menyediakan uang banyak. Bahkan ketika dia memergoki aku memberikan banyak mukena pada mushola sekolah, dia meledekku, “Aduuh lagi pengen apa nih ngasih mukena banyak banget?”, kemudian berlalu sambil tersenyum meledek.

Sehari sebelum tes PNS, aku main ke rumah temanku sesama guru honorer yang besok tes bersamaku. Masuk ke rumahnya, di ruang tengahnya banyak bertebaran buku-buku tes PNS, lengkap dari mulai psikotes sampai tips dan triknya. Sesaat aku merasa pesimis pada diriku sendiri. Aku tidak menyiapkan buku selengkap dia. Bahkan aku hanya belajar dari satu buku, itu pun buku mengenai undang-undang, bukan buku soal-soal PNS. Bisa kah aku menghadapi tes besok? Sainganku banyak, sainganku telah menyiapkan segala sesuatunya dengan matang. Sedangkan aku, hanya bisa berserah diri pada Tuhanku.

Pada hari tes, aku terus berdoa sambil memandangi pensil dan kartu tesku. Lucunya waktu itu aku berdoa semoga malaikat menunggangi pensilku agar malaikat membantuku mengisi soal. Hehe.. Terdengar konyol sepertinya ya. Tapi ya itu lah yang terlintas di pikiranku saat itu. Aku belajar, tidak. Mengandalkan 3D, tidak. Walau rasa pesimis terus mendera hatiku, aku tetap berdoa dan menyerahkan segalanya pada Tuhanku.

Satu bulan berlalu. Tiba saatnya pengumuman PNS tahun 2013.

Di sana tertulis….

AKU LULUS!

Aku setengah tidak percaya membaca pengumuman itu. Alhamdulillah, alhamdulillaah… Syukurku tiada terkira pada Alloh, Tuhan Semesta Alam. Ini keajaiban dari-Nya.. Ini jawaban dari semua doaku selama ini. Ini bukti bahwa sedekah di jalan-Nya memang dapat mendatangkan rejeki yang tiada terkira. Padahal jika dipikir-pikir, nominal yang kukeluarkan untuk sedekah mukena sangat jauuuuh berkali-kali lipat dari nominal yang rekan-rekanku keluarkan untuk memuluskan PNS mereka. Bahkan ‘orang itu’ yang selalu meledekku dan membuatku merasa terhina, dia tidak lolos! Setelah dia dengan penuh percaya diri dengan 3D-nya akan lolos, ternyata Tuhan tidak meloloskannya. Sedangkan aku yang tidak bermodal 3D dan tidak belajar mati-matian lolos. Rekan-rekan kerjaku pun keheranan, mereka banyak yang tidak percaya bahwa aku lolos PNS murni tanpa 3D seperti mereka.    

Sejak saat itu hingga sekarang, aku semakin percaya pada-Nya. Aku semakin percaya pada keajaiban sedekah. Aku semakin ingin berusaha berserah diri padanya. Karena kita semua tidak ada yang tahu bagaimana cara kerjanya. Tugas kita hanya berserah diri, meminta apapun pada-Nya, dan berharap pertolongan hanya pada-Nya.

Alhamdulillah…. Segala puja dan puji hanya untuk-Mu Yaa Alloh..
Yuk tulis cerita tentang sedekah lainnya agar bisa menginspirasi lebih banyak orang, dan ikutan giveaway ini; FadevMother's First Giveaway ;)

* based on true story; kisah guruku yang sudah (kurang lebih) 7 tahun mengabdi sebagai honorer, akhirnya pada tahun 2013 lolos sebagai PNS. ~DL~

By. Si Famysa, belajar sedekah bareng-bareng yuk! ;)

Rabu, 07 Januari 2015

Just Married; Cerita di Balik Layar

Kali ini aku sepakat dengan apa kata orang mengenai 'ujian menjelang nikah'. Katanya akan ada ujian yang luar biasa menguras emosi jiwa menjelang hari pernikahan. Ujiannya akan terasa berbeda dengan ujian di kala masih pacaran. Ujiannya kalau gak kuat-kuat amat menghadapinya mah bakal bikin pernikahan batal. Benarkah? -tanyaku, dulu-. Dan setelah aku melewati fase pranikah itu, dengan segala kejujuran dan kerendahan hati, aku menyatakan bahwa aku mengalami ujian itu.

Persiapan pernikahanku memang bisa dibilang express. Kira-kira di minggu ketiga bulan November, aku baru membicarakan tentang nikah dengan Bapaku. Entah ada angin apa, tiba-tiba Bapa mengijinkanku menikah, padahal sebelumnya terkesan menunda-nunda, mungkin maksudnya menunggu aku mapan secara finansial dulu. Aku langsung menyahut tawaran Bapa dengan menantang balik, 'oke kalau gitu nikahin Neng aja' --- 'Boleh. Kapan?' --- 'Bulan depan, Desember!' Dan Bapa, skakmat! 
Singkat cerita minggu depannya aku langsung meminta jadwal kosong Bapa untuk acara lamaran. Lalu tanggal 13 Desember lamaran sekalian menentukan tanggal pernikahan, dan langsung diputuskan tanggal 26 Desember sebagai hari pernikahannya. Kilat ekspres kan? Ada gak sih yang lebih kilat dari aku? Hhehe... Alhamdulillaaah niat baik kami dilancarkan jalannya oleh Alloh. Alhamdulillaah mimpiku untuk menikah maksimal di usia 23 tahun terwujud di usia 22 tahun :)
Di tengah kesibukan Sakola Printing yang memang sedang ramai-ramainya oleh anak sekolah yang mengerjakan tugas UAS & remedial, kami mencuri-curi waktu untuk mengurus persyaratan nikah. Mulai dari hari Senin tanggal 15 Desember, kami mendatangi KUA untuk menanyakan alur mengurus persyaratannya. Informasi yang kami dapat dari KUA adalah: urus surat pengantar nikah dari desa calon pengantin pria --> urus surat pengantar nikah ke KUA kecamatan tempat tinggal calon pengantin pria --> masukkan surat pengantar nikah calon pengantin pria ke desa calon pengantin wanita --> bawa berkas yang sudah siap ke KUA tempat menikah. 
Beres bertanya ke KUA, Ibank langsung ke kantor desa. Tapi, Pak Lurah tidak di tempat. Besoknya, Ibank ke kantor desa lagi. Surat sudah beres. Tapii... Biaya administrasinya sebesar Rp 150.000, setelah lempar tanya ke sana-ke mari antarpetugasnya. Ibank memutuskan akan mengambil surat itu besoknya lagi dengan alasan tidak membawa uang sebanyak itu. Hari Rabu, Ibank ke kantor desa lagi dengan bapaknya, dengan harapan akan dikasih murah kalau datang dengan bapak yang lumayan dikenal di desanya. Namun hasilnya? Apa coba tebak? Jadi Rp 100.000, berkurang Rp 50.000 doang.
Mungkin karena kesal pada pelayanan desa yang kebanyakan pungli, Ibank lantas update status di facebook, isinya kurang lebih pernyataan kekecewaannya, membandingkan antara seharusnya namun pada prakteknya tidak sama seperti yang seharusnya, dengan menyebutkan nama desanya. Maklum lah yaa namanya juga baru kelar Juni kemarin jadi mahasiswa, jadi yaa aura-aura kritis mahasiswanya masih nempel. Haha -Sayangnya status itu sudah dihapus jadi gak bisa aku capture-. Banyak sekali yang berkomentar di status Ibank itu, baik yang menyatakan sepakat, tidak sepakat, maupun yang memberi saran. 
Parahnya, kakaknya Ibank berkomentar menjelek-jelekkan desa tersebut dengan menyebutkan nama lurahnya pakai awalan 'si'. Tanpa disangka-sangka, muncul deh komentar yang katanya dia itu anaknya Pak Lurah, dia tidak terima bapaknya dijelek-jelekkan, apalagi di media sosial. Perang dunia deh tuh di statusnya Ibank. Zzzz...
Perang tidak berakhir di status. Orang yang katanya anak Pak Lurah mungkin melaporkan hal ini pada Pak Lurah. Sore harinya, kira-kira setelah maghrib, ada dua orang perwakilan desa Ibank yang datang ke rumahku untuk mengambil surat pengantar nikahnya Ibank. Katanya sih lupa dicopy. Waktu itu aku tidak mengerti apa-apa, aku belum tahu bahwa status itu membawa kericuhan sejauh ini. Kubilang saja pada dua orang itu, surat pengantar nikah sudah masuk ke desaku, sedang diproses. Dua orang itu keukeuh ingin mengambil suratnya, mereka bilang mereka mau ke Pak Amil desaku untuk mengambil lagi surat itu. Hmm... Aku yang belum mengerti iya saja lah, sambil keheranan.
Aku baru tahu permasalahan ini setelah keesokan harinya Ibank cerita padaku. Orang tua Ibank juga memarahi Ibank dan kakaknya. Aku juga sempat kecewa pada Ibank. Kubilang "nanti aja update statusnya kalau urusan kita udah kelar. Kalau gini ceritanya takutnya kita nanti malah dipersulit loh." -dan saat itu aku baru mengerti maksud dua orang perwakilan desa kemarin. bukan mau mengcopy, tapi memang mau menarik lagi surat itu-. 
Malam harinya, berbarengan dengan kunjungan mamahku ke rumahnya Ibank, ada orang utusan desa datang ke rumahnya Ibank. Orang itu membawa amplop berisi uang Rp 100.000 (uang bayaran administrasi surat pengantar nikah Ibank). Orang itu menyampaikan bahwa Pak Lurah tidak terima dengan status dan komentar Ibank dan kakaknya. Ibank sekeluarga harus minta maaf secara pribadi pada Pak Lurah jika ingin surat pengantar nikah diberikan lagi. Ulalaa... Gimana gak stres aku, segala ada kejadian begini -__-
Akibat kejadian ini, berkas surat nikah kami jadi lama sampai ke KUA. Sampai saat ini pun, kami sudah seminggu lebih menikah, buku nikah kami belum beres. Padahal kan biasanya pas nikah itu ya langsung tanda tangan buku nikah. Muehehe... Pengantin hebring lah ini mah :P
with my MUA, Mbak Muti
Oh ya, ada lagi yang sempat jadi masalah terkait urusan pendaftaran nikah. Biaya pendaftaran ke KUA di sini sebesar Rp 1.200.000 (terima beres, semua diurus oleh amil). Katanya sih untuk transportasi, konsumsi, ijin RT/RW, begituan deh. Padahal kata Ibank harusnya cuma Rp 600.000 kalau lokasi nikah di luar KUA, itu sudah termasuk transport, konsumsi, dll (sesuai UU perkawinan -aku gak tau UU nomor berapa tahun kapan. hehe :P-), malah kalau nikah di KUA itu bebas biaya alias gratis. 
Well, well, menurutku pribadi sih terserah lah berapa pun juga. Mungkin karena masyarakat di sini sudah terbiasa terima beres, jadinya ya angka segitu sudah lumrah, seolah sudah menjadi kesepakatan bersama. Setelah aku tanya kakak sepupu yang menikah di Cikampek-Karawang Oktober lalu pun, biayanya sama, Rp 1.200.000. Bagaimana di tempat kalian, Cems?

Ujian lain datang lagi, ada kesalahpahaman antara mamah, aku, dan orang tua Ibank. Ditambah Bapaku juga, masa Bapa lupa tanggal pernikahanku. Sekitar H-3, Bapa bertanya tanggal berapa acaranya. Dan H-2, Bapaku masih sibuk perjalanan dinas di Jogja, sedangkan hal-hal yang harus diurus itu banyak. Tenda, kursi, makanan belum pesan, susunan acaranya belum fixOMG! Ini sungguh pernikahan luar biasa. Hahaha... 

Alhamdulillaah Yaa Alloh... Kami bisa melewati berbagai ujian pranikah ini. Semoga ini adalah pertanda baik, semoga ini adalah suatu bentuk kasih sayang-Mu pada kami agar kami senantiasa mengingat-Mu kapanpun, dimanapun. Aamiin :)
NB buat para calon pengantin: Kritis lah di saat yang tepat dan di tempat yang tepat ;) :P

MUA & Bride Gown Set: Salon Jilbab Annisa by Nur Meutia
Photo Editing: Sakola Printing

by. si Famysa, a wifey ^^

Rabu, 06 Juni 2012

Sahabat Mata

mereka tidak bisa melihat, tetapi mereka bisa mendengar dan merasakan. mereka tidak bisa melihat dengan mata mereka, tetapi mereka bisa melihat dunia dengan hati mereka. mereka tidak bisa melihat, tetapi mereka bisa terus berkarya, bahkan mengalahkan kita yang bisa melihat.
kekurangan tidak justru membuat mereka meratapi nasib. namun justru membuat mereka bangkit dan berusaha agar bisa berbuat seperti orang normal kebanyakan. mereka adalah Tim Sahabat Mata, salah satu sahabat FLP Semarang dari Mijen, Semarang.
lihat mereka! mereka bisa jadi pembicara, mereka bisa jadi motivator, mereka bisa jadi penyiar radio, mereka bisa membawakan musikalisasi puisi yang indah, mereka bisa bernyanyi, mereka bisa bermain alat musik, mereka bisa menjadi relawan... dan semua itu mereka bisa lakukan dengan satu kekurangan mereka, tidak adanya indera penglihatan.
bagaimana dengan kita? sudah bisa apakah kita?
lihat mereka! dengan kekurangan mereka sungguh tidak menjadikan mereka kufur nikmat. mereka justru mensyukuri kenyataan bahwa mereka tidak bisa melihat warna-warni dunia lagi. "dengan menjadi tidak bisa melihat, salah satu pintu neraka telah ditutup oleh Allah. karena kami tidak lagi akan melihat apa yang seharusnya tidak kami lihat yang akan menimbulkan dosa."
subhanallah...
bagaimana dengan kita? sudahkan kita banyak-banyak mengucap syukur, memanjatkan hamdalah dan senantiasa mengagungkan Allah?
lihat mereka! senyum tetap mengembang di bibir mereka. langkah mereka pun tetap tegap. wajah mereka selalu ceria. dengan kekurangan mereka, mereka masih tetap bisa menghibur dan memotivasi kita. sedangkan kita... bagaimanakah?
kita terlalu banyak mengeluh dan mengeluh padahal belum berusaha dan berdoa secara maksimal. terkadang kita justru menyalahkan Allah atas semua ketidaksesuaian harapan dan kenyataan yang kita terima. kita terlalu banyak meminta tanpa mau memberi yang terbaik untuk Allah. lantas masih pantaskah kita menerima semua rezeki dari Allah, apa pun itu? 
kesehatan pandangan, kesehatan pendengaran, kesehatan perasa, kesehatan pengecap, kesehatan seluruh tubuh kita terkadang justru membuat kita lalai dan kurang bersyukur. lantas haruskah Allah memberi kita cacat dulu baru lah kita sadar akan segala kesalahan kita?
kita... artinya kamu, termasuk aku... sudah saatnya untuk menggali potensi diri kita dengan menghadirkan Allah di setiap langkah kita. aku yakin bahwa aku bisa lebih baik dari mereka dengan segala kekurangannya. pasti! bagaimana denganmu?
"masalah tidak untuk didiamkan dengan alasan seiring dengan berjalannya waktu maka masalah tersebut akan hilang dan dapat teratasi. tetapi masalah tersebut harus dihadapi!"
"adakah harga yang lebih mahal dari surga Allah? bagaimana caranya agar kita dapat dibeli oleh Allah?"
~Sahabat Mata~

by. si Famysa, yakin Beswan Djarum!

Kamis, 30 Juni 2011

Munah

Oleh: Anah Rohanah dan Syifa Azmy Khoirunnisa

Setiap melewati gang ini aku selalu tertarik pada sebuah bangunan di dalam sebuah kebun dengan pohon-pohon besar dan rindang. Kukatakan tertarik bukan karena bangunan itu indah, mewah, bermodel mutakhir, atau gaya arsitekturnya terkini, tapi bangunan itu adalah sebuah rumah berdinding anyaman bambu   tanpa cat atau pun kapur, ukurannya kira-kira 4x5 meter, beratap alang-alang, tampak kontras dengan rumah-rumah di sekitarnya, rumah-rumah modern penuh warna-warni. Dan penghuninya…. Seorang nenek tua renta, tampaknya ia hidup sendirian di rumah itu. Yang lebih mengesankan adalah kebersihan sekitar rumah itu, seakan tak pernah ada selembar daun pun diizinkan tergeletak di tanah pekarangan rumah itu.
Memang sering kulihat nenek tua renta itu getol menyapu halaman rumahnya tiap pagi dan sore. Dia tak pernah absen menyapaku jika aku kebetulan lewat di depan rumahnya. Seharusnya yang muda yang menyapa, tapi ini terbalik. Ada sedikit perasaan malu sesungguhnya aku.
Sayangnya, karena kesibukanku selama ini sangat menyita seluruh waktuku, baru hari ini aku melewati lagi gang ini dan melihat kembali rumah itu. Ada yang berbeda, pekarangannya tampak tak terurus, penuh dedaunan kering berserakan dan penghuninya tak kelihatan. Pemandangan ini tampak sangat berbeda dengan pemandangan yang biasanya terlihat olehku. Kukayuh lagi sepedaku dengan santai sambil menghirup segarnya udara sekitar, menyusuri pelosok kampung sekedar berolah raga ringan dan mencari keringat.
Namun belum berapa jauh aku beranjak dari gang tadi, terdengar teriakan seorang perempuan mengabarkan sesuatu,
“Munah ninggal Munah ninggal …!” aku menoleh ke arah suara itu, kemudian beberapa orang tampak mendekati sumber suara.
Ninggal? Mati, maksudmu?”
“Iya, mati!”
“Tapi kemarin lusa saya lihat dia sehat-sehat saja tuh….”
“Iya, benar, ayo kita melayat dan membantu-bantu apa yang bisa kita lakukan.”
Tak lama terlihat orang-orang semakin banyak keluar dari rumahnya menuju rumah…. Dan ternyata tujuan mereka adalah rumah kecil –lebih tepatnya gubuk- yang selalu menarik perhatianku setiap melewati gang itu. Gubuk nenek tua renta.
Karena masih penasaran, kucoba bertanya pada seorang ibu muda yang baru keluar dari rumah itu,
“Jadi,  nenek penghuni rumah ini sudah meninggal ya, Bu?”
“Iya, kebetulan tadi saya mau minta daun pisang buat mepes ikan, dipanggil-panggil tak ada sahutan. Karena penasaran, saya ketuk rumahnya, sepi. Akhirnya saya dorong saja pintunya, ternyata Munah terbaring di dipannya, saya pegang badannya, sudah kaku!” jelas ibu muda itu.
“Emang Ibu ini siapanya si nenek?”
“Saya bukan siapa-siapanya, cuma kebetulan saja rumah kami dekat, tuh rumah saya,” katanya sambil menunjuk sebuah rumah tak jauh dari tempat kami berdiri.
“Mari, saya mau pulang dulu, mau ambil beras dulu,” pamitnya dengan senyum ramah.
“O, iya, silakan, Bu.”
Sebagai manusia yang berperikemanusiaan, aku turut melayat meskipun tidak membawa beras seperti kebiasaan orang kampung, dengan beberapa rupiah yang ada di saku trainingku mungkin aku juga bisa turut menyatakan bela sungkawa. Kulihat wajah sang mayat yang keriput namun bersih. Kupanjatkan doa agar Sang Kholik mengampuni dosa-dosanya. Hanya itu yang dapat kulakukan, kemudian aku keluar rumah itu karena mulai banyak orang yang masuk ke dalam rumah.
Sambil kupandangi pepohonan di sekitar rumah kecil ini, kuperhatikan   orang-orang  mulai berbicara  ini-itu,  tapi  dengan  volume suara  rendah. Ada  yang bersungut-sungut jengkel, ada yang mengusap-usap dadanya, ada juga yang mengeleng-gelengkan kepalanya.
Sebagai manusia yang memiliki rasa ingin tahu tinggi, penasaranlah aku. Akhirnya aku mencoba menyadap pembicaraan mereka.
“Anaknya hidup jongjon-jongjon aja di rumah bagus, ibunya gak diperhatikan, dibiarkan tinggal sendirian, huh… Kalau saya gak bakalan membiarkan ibu saya begitu!”seorang pelayat wanita menggerutu.
“Aih, ari Bu Neni, atuh puguh, sayah oge kasihan ka indung mah, sudah tua, lagian kita juga masih mampu atuh kalau cuma nampung dan memberi makan satu orang mah, apalagi ibu kita sendiri….”
“Iya, kasihan sekali Nek Munah ya, buat makan mencari sendiri, tinggal di kebun orang, untung saja masih ada orang yang mau meminjamkan tanahnya untuk ditinggali,” timpal seorang yang lain.
“Dulu si nenek tinggal di pekarangan anaknya, kan?”
“Pernah, sangat singkat sekali. kemudian diusir gara-gara si nenek tidak mampu membayar listrik. Padahal cuma satu gantungan lampu lima watt saja,” jelas seorang bapak ikut merumpi dengan ibu-ibu.
“Emm…. Ada ya, orang setega itu pada orang tuanya! Padahal jika dibanding dengan jasa seorang ibu dari sejak mengandung, melahirkan, menyusui, merawat dan membesarkan, masalah bayaran listrik yang sepele tidak akan bisa menggantikan segalanya, seujung kotoran kuku yang melekat pun tidak.
Ibu-ibu yang lain tak kalah ingin menimpali juga. “Kok bisa gitu ya? Ckckck... amit-amit jabang oroook..... Anak-anak kita kelak semoga tidak seperti itu kelakuannya ya...”
“Iya, Bu... Iya, Buuu....” timpal yang lainnya.
Gerutuan semakin banyak, melebar kemana-mana, baik di kalangan ibu-ibu pelayat, maupun di kalangan bapak-bapak.
Ketika muncul seseorang, tiba-tiba suara-suara itu mereda, lalu berganti topik pembicaraan.
“Tuh, anak-anaknya mulai datang!” bisik seorang ibu dengan mengisyaratkan supaya diam.
Dari rundingan beberapa tetua dan keluarga almarhumah, akhirnya si mayat dibawa ke rumah salah seorang anaknya yang paling dekat.
Si mayat telah berpindah tempat, namun masih banyak orang berada di tempat itu, masih banyak gerutuan dan komentar bernada kecewa terhadap anak-anak almarhumah.
“Kalau sudah jadi mayat, baru deh diampihan,” kata ibu yang disebut Bu Neni.
“Iya, diampihan, kan sebentar lagi juga akan dikebumikan, tambah era weh eta mah, nya?! Atau emang dasar mereka tidak punya malu, ya.
Eh.. Eh... Eeehh... Ayo, Ibu-ibu... Kita bersihkan dulu rumah dan halamannya biar agak bersih kelihatannya, mbok ya dari tadi kok menggerutu saja… Sambil kerja, kita juga masih tetap bisa ngobrol,” seorang ibu yang lebih tua di antara mereka memimpin ke arah kebaikan.
“Coba tidak kesal bagaimana, Bu RT, sebel saya lihat anaknya, terutama yang rumah itu tuh…” ibu itu menunjuk pada sebuah rumah bercat biru muda.
“Iya, benar, biarlah Alloh saja yang memperhitungkan semuanya. Semoga almarhumah mendapat balasan yang terbaik dari-Nya, almarhumah orang yang baik, sabar, tidak mau merepotkan siapa pun. Walaupun dia hidup serba kekurangan, dia selalu tabah, dan yang terpenting… Dia juga salehah, tadi saya lihat, wajah almarhumah begitu bersih… Begitu pasrah… Sepertinya dia bahagia di akhir hayatnya,” jelas Bu RT.
Cukup sudah kupingku menyadap obrolan mereka dari mulai obrolan yang pedas, sinis, nyinyir, sampai yang bijak. Kulanjutkan lagi perjalanan dengan sepedaku, tapi bukan ke rute biasanya, aku harus pulang karena terik matahari sudah terasa cukup panas.
Oh... Perjalanan manusia… Bagaimana pun adanya, harus kembali, kembali pada-Nya. Kalau Nenek Munah telah pergi dengan wajah pasrah dan bening, seperti apa nasib kepergianku nanti?

Baiti jannati, Mei 2008
Finishing Yogyakarta 13 Mei 2011

Mijn Vriend