Tampilkan postingan dengan label My Creation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Creation. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Maret 2015

Sebongkah Batu Berdarah

“Ka, gue takut. Gue pengen pulang. Sekarang!”
“Tika, lu tenang dulu deh ya.. Kita semua juga pengen pulang. Lu jangan kayak gini dong! Nambah panik kita semua kalau elunya kayak gini.”
Tidak ada yang bisa menahan tangisan Tika. Bahkan Barka, pacarnya sendiri terlihat kesal karena rengekan Tika yang tiada henti meminta pulang.
Semua gemetaran, semua kedingininan, semua tegang. Tidur di mushola kecil, kotor, dan penuh dengan jejak kaki anjing itu ternyata tidak lebih baik dari tidur di tenda walau harus bergelut dengan hujan yang mengguyur deras. Dari tangan ke tangan, semoga bisa sedikit memberi kehangatan dan ketenangan pada malam hari itu, malam Jumat Kliwon.
Runi sebagai orang yang disebut pemimpin perjalanan diminta untuk mencari tahu siapa sebenarnya sosok itu. Manusia kah? Atau manusia jadi-jadian? Atau malah semuanya sedang dibuat berhalusinasi oleh alam? Dengan berbisik dari telinga ke telinga, akhirnya semua memilih Willy yang akan menemani Runi keluar mencari tahu.
Dengan perasaan tak karuan karena diliputi rasa takut, Runi dan Willy permisi pada sosok itu. Dan sosok itu hanya berdehem dengan suaranya yang berat, “ehmmm...” Runi dan Willy segera pergi, tanpa sempat memperhatikan sosok itu.
Hujan semakin deras. Angin dan petir pun bersahutan. Mereka seperti sedang mengejek. Mereka seperti sedang menertawakan Runi dan Willy yang hanya bercahayakan lilin dan mempunyai sedikit keberanian.
Runi dan Willy berjalan dalam gelap. Cahaya senter yang mereka bawa tidak cukup bisa melawan kelamnya malam. Derasnya hujan membawa cahaya senter mereka pergi. Derasnya hujan pun menembus jas hujan yang mereka pakai. Jalanan yang licin, berbatu dan berlumut, serta guyuran hujan memperlambat langkah mereka menuju warung yang sekaligus rumah bagi pemiliknya. Berjalan turun 500 meter saja seperti sedang berjalan naik berkilo-kilo meter. Terasa lama dan payah.

--o--

“Ehmmm.... Kalian jangan berani macam-macam di sini. Apalagi berani macam-macam dengan saya. Saya ini bukan manusia. Tinggi saya tujuh meter. Saya tidak akan segan-segan menceburkan kalian ke dalam aliran curug jika kalian berniat buruk. Saya juga tidak akan segan-segan membunuh kalian jika kalian tidak memercayai kata-kata saya ini. Bahkan kalau kalian tidak percaya, silahkan buktikan saja. Hahahaha....” 
Tertawanya bak di film-film horor ketika dukun sedang beraksi. Suaranya berat namun dapat menelan suara-suara sekitarnya. Suaranya seolah tak terkalahkan. Sekali pun enam orang siswa-siswi SMA di mushola itu berteriak, suara sosok itu pasti akan lebih keras mencabik-cabik mereka. Mereka hanya bisa diam sambil memegang jantung masing-masing. Syukurlah jika jantung mereka masih berada di tempatnya...
Entah kapan datangnya sosok itu. Diantara mereka tidak ada yang menyadarinya. Tiba-tiba saja sosok itu ada di tengah-tengah mereka yang baru saja akan tertidur lelap. Mulanya Runi memang kaget. Tapi Runi pikir paling itu penduduk sekitar yang sedang berkeliling area curug, kehujanan, dan berteduh di mushola, sama seperti Runi dan teman-temannya. Namun ketika sosok itu mulai tertawa dan meracau segala hal, baru semuanya terbangun dan sepenuhnya tersadar. Sosok itu terus meracau. Kadang nada bicaranya turun sampai tak terdengar. Tapi kebanyakan nada bicaranya tinggi seperti sedang menghantui.
“Dulu saya pernah mendorong muda-mudi yang datang ke curug. Saya tahu niat mereka buruk. Mereka melecehkan apa yang saya katakan. Mereka tidak percaya segala hal tentang Curug ini. Tengah malam, mereka ingin membuktikan kebenarannya. Aaahhh.... anak-anak muda seperti itu tidak tahu diuntung! Saya bunuh saja mereka, dua-duanya. Hahahaaa....”
Sosok itu seperti tahu apa yang mereka pikirkan. Semakin mereka ketakutan, sosok itu semakin meracau tak tahu arah. Pun ketika terlintas di pikiran Runi... Bagaimana bisa tinggi aslinya tujuh meter? Kapan dia berubah menjadi wujud aslinya?
“Saya tidak main-main dengan perkataan saya. Bahkan wujud lain saya adalah harimau. Saya berteman dengan Ratu Penguasa Pangandaran dan Dewi Sri. Kalian tahu Dewi Sri? Dia pemilik semua nasi yang kalian makan!” sentaknya membuyarkan pikiran Runi.
Mungkin sosok itu manusia jadi-jadian. Ah, tidak. Mungkin sosok itu sedang kerasukan makhluk lain.
Barka terus merapalkan semua doa yang ia bisa. Tika terus menangis. Awan mencoba mencairkan suasana dengan berusaha masuk dalam obrolan sosok itu. Runi dan Willy akan mencari sebait kalimat dari penduduk yang dapat menenangkan mereka. Sedangkan Ria, Yodha, dan Lita tetap dalam posisi mereka dengan gemetar ketakutan.

--o--

“Wil, sepertinya kita tersesat. Perasaan gak sejauh ini deh jarak dari mushola ke warung penduduk.”
“Kamu juga ngerasa gitu, Ni? Aku kira aku yang terlalu ketakutan, sampai jalan ke warung aja kerasa jauh banget.”
Runi dan Willy saling menangkap raut kekhawatiran di wajah masing-masing. Tersirat tanda tanya besar di wajah mereka. Namun siapa yang bisa menjawab pertanyaan mereka? Selain angin yang terus berhembus kencang dan penguasa kegelapan yang mempermainkan.
“Lalu sekarang kita harus kemana? Balik ke mushola atau lanjut ke warung?”
Willy menyibakkan lengan jas hujan untuk melihat jam tangan. Senter yang kian redup cahayanya ia arahkan ke jam tangannya.
“Parah! Sejam lebih kita jalan, warungnya belum kelihatan juga. aku gak yakin kita bakal nemuin warung-warung penduduk itu, Ni. Lebih baik kita balik aja. Kasihan teman-teman lama menunggu kita.”
Runi dan Willy balik badan putar haluan. Mereka kembali menyusuri jalan yang tadi telah dilewati. Mereka kembali bertarung melawan dingin dan ketakutan. Mereka terus berjalan, bahkan setengah berlari. Niat hati ingin cepat sampai di mushola untuk kembali berkumpul bersama teman-teman. Kenyataannya.... Sesampainya di mushola, tak ada seorang pun di sana! Sosok itu pun tidak ada! Kemana perginya Awan, Ria, Lita, Yodha, Tika, dan Barka?

--o--

“Gue gak mau matiiiii!! Tolongin gueee! Gue gak mau mati! Please jangan bunuh gue! Gue masih mau hidup. Gue gak mau matiiii!!!!!! Gue takuuut!”
Jeritan Lita menciptakan lolongan panjang. Tangisan yang menyelimuti lolongan itu membuat suaranya semakin lama terdengar semakin parau. Hingga teriakannya sama sekali tidak terdengar lagi. Lenyap diguyur derasnya hujan. Hilang bersama angin yang bertiup semakin kencang.    
“Ha..Ha..Ha... Dengan jasad dan darah segarmu, aku akan hidup lebih lama lagi. Ha..Ha..Ha.... Kau bukan manusia baik, kau selalu berniat buruk, sama sepertiku. Lebih baik aku meminum darahmu, lalu kita akan bersatu. Ha..Ha..Ha...”
Tangannya menggenggam sebongkah batu. Sambil terus tertawa mengerikan.

--o--

“Litaaa.....”
“Litaaaa.....!!”
“Lita, lu dimana?”
“Litaaa!”
“Lit, lu jangan tinggalin guee! Lu dimana, Lit??”
Tidak ada siapa-siapa lagi di tengah hutan selain mereka berlima. Kecuali sebongkah batu yang berlumuran darah dan tetesan darah di sepanjang jalan setapak. Lalu tetesan darah itu menghilang di tepian sungai yang menjadi tempat mengalirnya air curug.  

by. si Famysa, nostalgia :)

Sesal, Rindu, Lalu Hilang

Benar kata orang, penyesalan selalu datang di akhir. Penyesalan seperti tokoh hero yang selalu muncul di episode-epidose terakhir. Bedanya, tokoh hero datang di akhir untuk menumpas kejahatan, sedangkan penyesalan datang di akhir untuk memberi pelajaran. Dan seringnya pelajaran dari penyesalan itu disertai rasa sakit. Seperti yang kurasakan saat ini. Sesal dan sakit.
Apapun yang kulakukan, dimana pun, kapan pun, ingatan tentangnya kerap kali muncul. Bahkan segala benda dan manusia yang kulihat selalu bisa mengingatkanku padanya. Segala hal tentangnya, mengapa begitu jelas sekarang? Segala hal tentangnya mengapa justru selalu mengikuti ketika sosoknya sudah tak bisa lagi kugapai?
Beberapa pasang muda-mudi berlalu-lalang di hadapanku. Dari yang muda hingga yang tua. Sekelompok siswa SMP yang terdiri dari empat orang laki-laki, di tengahnya terselip seorang perempuan. Dia yang paling cantik, karena dia perempuan satu-satunya di kelompok itu. Sepasang siswa dan siswi SMA sedang mengobrol malu-malu di bangku taman sebelahku. Mungkin mereka sepasang kekasih yang baru jadian. Atau mungkin mereka sedang dalam tahap pedekate. Ada juga sepasang muda-mudi di bangku taman tepat di depanku yang sedang asyik menyantap eskrim cone. Mereka terlihat akrab sekali. Mungkin mereka masih kuliah. Yang jelas sepertinya mereka sudah bukan anak sekolahan lagi. Atau mungkin juga mereka sudah menikah. Jika iya, sungguh pasangan muda yang menyenangkan dipandang mata.
Bersantai di taman kota rupanya bukan keputusan yang cukup tepat untuk menghilangkan rasa sakit. Hatiku malah makin teriris. Segala pemandangan yang kulihat ada saja yang bisa memunculkan ingatanku tentangnya. Kuputuskan untuk pergi sesegera mungkin dari taman kota.
“Apa yang harus kulakukan sekarang pada hubungan kita?”
“Nggak ada. Aku cuma lagi ingin sendiri. Terserah kamu sekarang mau gimana. Pokoknya aku cuma lagi ingin sendiri. Tinggalin aku.”
“Tapi kamu mau aku nungguin kamu kan?”
“Nggak! Kamu boleh punya pacar lagi kalau memang kamu mau. Kecuali yaa kalau nanti aku sudah siap, dan kamu masih sendiri, aku mungkin bakal balik lagi sama kamu,” tegasku mantap. Menutup obrolan kita yang semakin memanas.
Lalu untuk yang ke sekian kalinya, dia mengatakan bahwa aku jahat, dan aku menyetujuinya. Iya, aku memang jahat. Termasuk jahat pada diriku sendiri, yang bodohnya baru kusadari saat ini.
Pertengkaran hari itu, pertengkaran yang selalu dibumbui oleh tangisannya, pertengkaran yang ternyata membawaku pada ruang sesal ini. Bahkan kini aku rindu menyeka air matanya dengan jari-jemariku, aku rindu memberinya sehelai tisu, aku rindu mengusap pipinya yang masih dibanjiri air mata. Padahal aku selalu inginkan dia. Namun kenyataannya waktu itu aku sama sekali tidak peduli pada tangisannya yang merajuk. Kenapa aku diam? Kenapa aku malas mendengarkan dan menatapnya? Kenapa aku justru menutup telingaku dan berpura-pura tertidur?
Sesal yang kukira tidak akan pernah menghinggapi hari-hariku kini justru paling menyita emosiku. Sesal yang kukira akan cepat berlalu seperti aku yang dulu mudah berlalu darinya kini justru semakin dekat dan melekat. Sesal ini memaksaku untuk membenci diriku sendiri.

--o--

Jalanan hari ini begitu lengang, senyap, dan sepi. Tidak seperti biasanya. Padat dan terkesan menegangkan karena mobilitas tinggi penduduknya. Kini hanya ada satu-dua orang saja yang lewat. Kemana perginya orang-orang? Ah, apakah mungkin aku saja yang tidak memperhatikan sekitar. Aku terlalu lama jalan sambil menunduk. Seperti pengemis yang sedang mencari-cari recehan, mungkin saja aku bisa menemukan recehan di sepanjang jalan yang kupijak. Ya, semoga recehan itu ada.
Pantas saja jalanan ini ditinggalkan oleh penggemar setianya. Angin di awal bulan Januari terlalu menusuk. Belum lagi rintik-rintik yang dihasilkan oleh awan yang menangis. Kemarilah... Temani aku menempuh perjalanan ini. Setidaknya sampai aku tiba di rumah dan dapat terpejam. Ini yang dulu biasa dilakukan olehnya. Bersembunyi dalam rintik hujan untuk menyembunyikan hujan lain di wajahnya. Tangisnya. Diam-diam aku merasakan apa yang mungkin dulu dia rasakan. Hangat. Namun perih.
“Kamu benar-benar gak mau aku nungguin kamu?”
“Harus berapa kali lagi aku bilang, gak usah! Aku belum mau menikah. Aku masih ingin sendiri. Tanpa kamu, tanpa perempuan manapun.”
“Iya, aku ngerti. Aku bisa nungguin kamu... Sampai kamu siap menikah. Aku mau kita bareng-bareng lagi kayak dulu. Gak usah bahas pernikahan. Tunda dulu obrolan tentang nikah sampai nanti, sampai kamu mau membahasnya.”
“Percuma. Aku gak cinta lagi sama kamu.”
Kata-kata pemungkas itu yang menghadirkan sesal hingga kini. Aku keliru. Aku berbohong besar pada diriku sendiri. Egoku waktu itu sanggup menyembunyikan rasa hatiku yang terdalam. Bodohnya lagi, kenapa aku membiarkan ego itu tetap ada. Seolah justru aku lah yang menghadirkan dan memelihara ego itu. Lalu membakar, membakar, dan menghanguskan kehadirannya.   
Lebih baik kerasnya hidup kemarin bersamanya. Daripada hidup tanpa tantangan seperti yang sedang kujalani saat ini. Tidak ada dia, tidak ada tujuan. Aku terus berjalan tanpa tahu kapan saatnya aku harus beristirahat, berhenti, atau berlari. Bak layang-layang putus, terhempas ke sana-sini oleh angin, tanpa bisa menolak, tanpa ada keinginan untuk menolak. Oh, selinglung itu kah aku?
Duduk di bangku taman kota, berjalan sendirian, menghujani diri sendiri dengan tangisan awan, semuanya bukan ide yang tepat kurasa. Aku semakin merasakan kehadirannya begitu berarti untukku. Aku semakin merasakan ngilu karena kehilangan ketika aku sadar bahwa dia yang berarti tidak lagi ada di sisiku.
“Kita akan baik-baik saja dengan belajar mengerti satu sama lain. Bukan saling menuntut, tapi saling memberi yang terbaik. Aku yakin kamu punya banyak kejutan untuk membahagiakan aku. Aku sayang kamu, dan kamu beruntung. Kamu tahu... Ini semua untukmu. Bahkan aku hidup juga untukmu.”
Hanya kata-katanya dulu yang terngiang-ngiang dalam rekaman ingatan. Rekaman ingatan yang memaksaku untuk selalu memutar ulang. Replay, replay, replay. Padahal itu hanya rekaman. Dan aku tahu bahwa setiap rekaman tidak akan bisa terulang kembali dalam kehidupan nyata. Andai saja kata-kata itu terucap sekarang...
Aku yang salah. Aku yang bodoh. Aku menyia-nyiakannya. Sialnya sesal ini kenapa harus muncul semakin kuat. Setiap aku mencoba menepis ingatan tentangnya, setiap kali itu juga sesal ini menyeruak semakin kuat.

--o--

Bus Trans Jakarta sore ini sama seperti kemarin, sama seperti saat sebelum ada dia, saat ada dia, dan saat dia kulepaskan. Selalu penuh berjejalan manusia. Ah, ternyata memang tadi selama berjalan kaki aku saja yang sedang kacau. Mungkin banyak manusia yang berlalu-lalang di sekitarku. Akunya saja yang sedang kacau. Saking kacaunya benang kusut pun kalah olehku.
Lalu biasanya aku akan selalu mengeluh padanya ketika sudah sampai di rumah. Keluhan merajuk agar tangan dan kakiku dipijiti sebelum dia pulang ke rumahnya yang berada di kanan depan rumahku. Kali ini semua berbeda. Rumah di kanan depan rumahku, aku sudah tidak mengenalnya. Rumah itu kini terlihat sepi. Pintu rumah yang dulu sering terbuka kini selalu tertutup. Tidak ada lagi sosoknya. Aku benar-benar telah kehilangan.

--o--

Klik. Halaman yang kusimpan ini telah menjadikanku candu. Setiap kali membukanya, membaca kalimat demi kalimatnya, hati ini semakin perih. Namun tangan tak sanggup untuk menghapusnya. Pun jika dihapus, aku pasti akan membuka dan membacanya lagi, langsung dari buku harian digitalnya yang dia sebut blog.
“Aku bingung dengan hubungan kita. Bersama, saling menyakiti. Berpisah, tetap akan tersakiti. Bukan kamu yang membuatku bingung. Tapi cinta lah yang membingungkanku. Kita harus memperlakukan cinta seperti apa dan bagaimana? Beritahu aku. Kalau saja cinta bisa memilih, aku pasti tidak akan memilih kamu. cinta memainkan hati, bukan otak. Cinta datang begitu saja, bahkan tanpa kita sadari. Kupikir kita bisa saling melengkapi. Tapi kadang ego kita muncul berbarengan. Tidak ada yang mau mengalah walau sudah diberi jalan keluar lain. Aku egois, kamu pun tak kalah egois.”
Aku selalu terhenti di kalimat itu. Dia benar, nyatanya sekarang aku tersakiti, mungkin dia juga sama. Bukan dia yang egois, tetapi aku. Bahkan ketika dia rela menungguku, dengan sombongnya aku menolaknya. Rasakan akibatnya sekarang! Sesal yang tiada berujung.
“Kamu sayang aku. Aku butuh kamu. tapi cinta membuat kita tak bisa jadi satu. Selalu saja ada beda. Beda itu mencuat, begitu tajam. Aku khawatir. Aku butuh kamu. Kamu sayang aku kan? Tolong tetap bersamaku. Perkuat yakin kita dengan selalu bersama, tanpa ada jalan pintas lain.” 
Melepasnya tidak semudah yang kubayangkan dulu. Sesal semakin menjerat ketika tahu betapa tidak pedulinya aku padanya dulu. Sesal terus datang berbarengan dengan bayangannya. Kulihat dia yang mengucap maaf. Kulihat dia yang mengucap terima kasih. Kulihat dia yang berjalan menjauh dariku setelah menjabat tanganku dengan penuh getar yang dibuat tegar. Kulihat dia yang diam-diam menitikkan air mata. Kulihat dia yang berjalan beriringan dengan laki-laki yang kutahu mencintainya dengan segenap hati, berbalut gaun putih layaknya putri kerajaan. Tidak sepertiku. Aku mencintainya hanya dalam rasa, tanpa menunjukkannya, tanpa mempertahankannya. Ketika aku kehilangan, hanya ada sesal yang menjalar.
Ah, rumah di kanan depan rumahku tidak menyimpan sosok nyatanya lagi. Di sana sepi, sama seperti di sini, di dalam hatiku.

Aku merindukannya.

by. si Famysa, lagi ubek-ubek tulisan lama :P

Sabtu, 21 Maret 2015

Dia yang Memanggilku Teteh

Ada lagi yang memanggilku 'teteh'. Aku pernah mengalaminya dulu. Sama persis. Ini seperti sedang bernostalgia pada kehidupan 8 tahun yang lalu. Andai bisa lebih lama dan perlahan... Apa ini? Siapa dia? Aku ragu untuk meneruskan ide gila dengan masa laluku. Aku rindu dia yang memanggilku 'teteh'.
Oh dear... kamu benar-benar mengingatkanku padanya 8 tahun yang lalu. kamu mendengar, kamu penyayang anak-anak, kamu mudah dekat dengan wanita, kamu selalu membuatku cemburu. kamu itu dia....
Lalu, apakah kamu memang seperti dia? jika iya, beruntung sekali wanitamu. Oh, apakah wanitamu sepertiku juga? Mengapa kita sama?
Klik.
Kurasa cukup untuk hari ini. Aku sudah tidak berminat menuliskan resah gelisahku lebih jauh di catatan harian digitalku yang bernama blog. Benda ajaib yang tak bisa diraba itu lah yang menyimpan segala isi hatiku, bak tempat sampah. Ia selalu mendengar dengan khidmat. Namun tidak pernah ada respon. Ah.. Mungkin itu lebih baik daripada bercerita pada benda bernama manusia yang jago merespon, namun juga jago bermulut besar. Hari ini bercerita ke satu orang, esok hari seluruh dunia bisa tahu. Blogku jauh lebih baik sepertinya. Hanya sepertinya.
--o--
Oh, hey, Dung... Kamu masih ingat beberapa waktu yang lalu aku pernah bilang kalau aku sedang jatuh cinta pada sosok yang mirip kamu? Kamu salah jika kamu mengira aku sedang bercanda. Kamu juga salah jika kamu mengira aku sengaja mengarang cerita untuk membuatmu cemburu. Aku memang sedang jatuh cinta lagi padanya, Dung. Pada orang lain yang mirip kamu. Sosoknya memang ada. Dan itu bukan kamu.
Kamu terlalu jauh meninggalkanku. Sepertinya waktu tiga bulan cukup untukmu mengubur semua kenangan tentangku. Tiga bulan berlalu tanpa kehadiranku mampu membuatmu lupa pada cintamu padaku. Tidak ada lagi ucapan sayang, tidak ada lagi ucapan kangen, tidak ada lagi rasa membutuhkan diriku. Semudah itukah?
Sedangkan aku sebaliknya. Tiga bulan tanpa kehadiranmu justru membuatku semakin mencintaimu. Segala upaya yang kulakukan pasti sambil mengingatmu. Tidak ada sedetik pun aku melupakanmu, Dung. Bahkan sebelum aku tidur pun, namamu selalu terucap dalam doaku. Semoga aku dan kamu dipertemukan dalam mimpi... Semoga kita bisa saling menjaga cinta kita, menjaga hati kita masing-masing...
Ah, Dung, maafkan aku. Aku juga yang salah. Aku terlalu munafik. Aku menangis menyalahkan diriku sendiri. Kamu begitu karena kekeliruanku juga. Padahal aku tahu kamu selalu ingin bersamaku. Maaf.
--o--
 “Teh... Teteh... Teh Isah.. Aku mau manggil kamu Teteh aja ya.. Teh Isah. Gak apa-apa kan?”
Tetehnya sih gak apa-apa. Tapi itu Isah-nya please deh, Ndi, norak banget. Nama bagus-bagus Annisa kok jadi Isah.”
Namanya Andi Satria Gunawan. Sama-sama mengandung awalan huruf “A”, dan “awan” di belakang namanya, seperti kamu, Dung. Ardiansyah Hendrawan.
Aku sama sekali tidak menyadari sejak kapan aku mulai menyukainya. Aku juga tidak mengerti, apa alasan aku menyukainya. Rasa ini tiba-tiba datang setelah dua bulan aku mengenalnya. Kurasa ini terlalu cepat. Ah, bukannya sama, padamu dulu juga aku begini.
Aku benar-benar seperti sedang bernostalgia, Dung. Nostalgia dengan bayangmu lewat sosok orang lain. Mungkin aku hanya sedang amat merindukanmu. Mungkin. Namun kamu menjauh dan terus menjauh, sengaja menjauh. Padahal selalu ada rasa rindu di sini. Rindu yang tidak pernah berkurang kadarnya. Rindu yang terkadang sanggup membuat aku dan kamu hidup.
Bayanganmu berkelebatan dalam benda penting di kepalaku. Benda yang disebut otak. Benda yang akan membuatku mati jika ia juga mati. Silih berganti, tidak hanya ada bayanganmu. Tapi juga bayangannya. Muncul kamu yang pertama kali memanggilku “teteh”. “Mulai sekarang aku mau manggil kamu teteh ya..” Lalu muncul dia dalam sketsa yang sama. Memanggilku teteh.
--o--
“Kak, kakak pacarnya Kak Andi ya?” tanya seorang bocah perempuan berpita pink di sebelah kanan kepalanya seperti Hello Kitty, bocah itu anggota Klub Taman Pelangi –sebuah klub baca anak-anak yang mempertemukanku dengannya-.
“Looh.. siapa yang bilang, Dik? Bukan.. Kakak sama Kak Andi nggak pacaran. Pacarnya Kak Andi kuliahnya jauh, di Jakarta.”
“Aah Kak Icha bohong... Kalau gitu kayaknya Kak Andi suka deh sama Kakak. Sering banget Kak Andi salah manggil nama kakak-kakak yang lain, manggilnya ‘Icha” terus. Terus tatapannya Kak Andi sama Kakak itu loh Kaak... Hihihi,” bocah itu cekikikan. Kali ini teman-temannya juga ikut cekikikan. Dasar bocah jaman sekarang, ngebully orang yang lebih tua berani ya. 
Entah terprogram atau tidak, sejak mendengar perkataan bocah itu, hati ini juga ikut berkata bahwa ia memang sedang jatuh hati. Terungkapkan atau tidak, hati ini tetap merasakannya. Terlebih jika orang yang dijatuhi hatinya menebar umpan yang sama, dan menelan umpan yang sama pula. Sama-sama mengumpan dan terumpan.
“Kamu boleh memanggilku teteh, atau apapun yang kamu mau. Tapi jangan sampai memanggil dengan panggilan itu di depan teman-temanku ya.. Kan malu nantinya. Takut mereka jadi gosipin kita.”
“Iya, Teh. Siap,” katamu dulu dalam sebuah sms pengantar tidur.
Dan dia seperti mendengar permintaanku dalam sms padamu 8 tahun lalu. Seperti kamu yang berkata ‘siap’, namun dalam versi yang lebih dewasa, tanpa diperingatkan dia sudah mengerti.
Adegan demi adegan di setiap episodenya membuatku dejavu. Seolah aku pernah memerankan peran ini sebelumnya. Dengan skenario yang sama, namun dengan lawan main berbeda. Dengan judul yang hampir sama dengan drama kehidupan sebelumnya. Hanya saja kali ini dipoles lebih apik dan menyenangkan dengan dihadirkannya sosok nyata dan sosok bayang. Siapa yang nyata? Siapa yang bayang? Bahkan aku tidak mengetahuinya.
--o--
Hatiku masih terluka. Andai saja di apotek dijual obat untuk hati yang terluka, aku tentunya adalah orang yang paling banyak membeli obat itu. Bukan karena sering terluka. Tapi karena sekalinya terluka langsung dalam. Luka hatiku akut. Luka hatiku sanggup menghentikan anggota organisasi dalam tubuhku untuk serempak tidak kompak menjalankan perintahku. Kubilang “move ooon!!”, mereka menolak. Kubilang “semangaaat!!”, mereka malah malas-malasan, mengajakku terus berbaring dan meneteskan bulir-bulir lembut dari pelupuk mataku.
“Hey, Cha, kamu salah kalau kamu mau curhat ke Andi. You know that you have something special for him. Jangan main api lah, Cha. Kalau kamu butuh tempat berbagi cowok untuk mengerti sudut pandang cowok, kamu kan bisa curhat pada teman cowokmu yang lain. Dan bukan Andi. Tapi kalau kamu tetap keukeuh mau curhat pada Andi, terserah. Aku sudah mengingatkan. Kita lihat saja nanti, Ardi manakah yang akan menjadi partner hidupmu. Ardi asli, atau Andi yang kau bilang mirip dengan Ardi.”
Berdengung terus perkataan Riya dalam mimpi dan sadarku. Riya, sahabatku satu-satunya yang kuceritakan tentang Andi. Riya, sahabatku satu-satunya yang mengerti perasaanku padamu dan padanya. Riya benar. Tapi.... Aku tetap penasaran. Kupikir dengan berbagi dengan Andi, aku bisa mendapat jawaban atas segala tanyaku. Karena Andi dan Ardian sama. Karena kali ini hanya Andi yang bersedia kutumpahkan segala keluh-kesahku. Karena hanya Andi yang sanggup menggantikan sosokmu.
Apakah ini yang dinamakan selingkuh? Tapi aku tidak menjalin hubungan apa-apa dengannya. Aku dengannya hanya berteman. Tidak lebih dari sekedar teman.
Apakah ini yang disebut sebagai orang ketiga? Tapi aku dengannya sama sekali tidak memperkenankan ada orang ketiga yang masuk ke dalam hubungan kami. Aku tetap milikmu. Dan dia tetap milik dia, belahan jiwanya.
--o--
“Dia gak akan pernah lupain kamu. Kamu percaya aja sama dia. Dia bukannya lupa. Dia hanya sedang teralihkan. Sifat orang gak akan pernah berubah. Sekarang hanya pola pikirnya aja yang berubah. Dan kamu kaget dengan semua perubahannya karena selama tiga bulan ini kamu tidak bersamanya, kamu tidak mendampingi perubahannya. Dia begitu bukan berarti dia tidak menginginkanmu. Walaupun kalian berbeda, tapi aku yakin kalau kalian punya tujuan yang sama. Dia juga pasti punya tujuan untuk bareng-bareng sama kamu suatu hari nanti.”
Laki-laki ini...
Aku seolah sedang bersamamu setiap kali aku bersamanya. Sebenarnya aku rindu atau benar-benar sedang jatuh cinta? Tak adil rasanya jika aku jatuh cinta pada bayangan. Pun tak adil jika aku rindu padamu yang bahkan mengingatku saja tidak.
Teh, aku gak pernah loh ngobrol sama pacarku seserius ini,” lanjut Andi.
“Sama. Aku juga. Aku dan pacarku gak pernah bisa ngobrol serius.” Mungkin ada nada mengeluh dari perkataanku ini.
LDR membuatku kadang nyari kesenangan di tempat lain. Termasuk dengan obrolan malam kita ini. Kadang juga muncul keinginan untuk selingkuh. Tapi aku milih untuk gak selingkuh, apapun yang terjadi. Karena aku juga gak mau dia di sana selingkuh dengan laki-laki lain. Rasanya jahat jika pacarmu menyuruhmu selingkuh dengan alasan demi kebahagiaanmu. Itu hanya akan melukai lebih banyak orang. Aku gak akan selingkuh, Teh.. Walaupun ketika aku tahu aku menyukaimu.”
“Ta... Tapiii... Perasaanku tidak sama denganmu. Aku hanya ingin dia.”
“Ya, aku juga tahu itu. Karena aku juga hanya ingin dia. Lalu pertanyaannya sekarang, kamu mau nggak nungguin dia? Kalau kamu mau, sudah, semuanya selesai. Semua keputusan ada padamu, Teh.”
Kurasa sudah cukup. Ungkapan perasaannya seketika menyadarkanku. Tidak seharusnya aku berlama-lama dalam kebahagiaan semu.
Lebih lama bersamanya hanya akan membuat aku dan dia semakin larut dalam bayang-bayang yang aku dan dia cintai. Dia adalah bayanganmu. Dan mungkin aku adalah bayangan kekasihnya.
--o--
Dia yang memanggilku teteh... Kamu lah orangnya. Kamu yang pertama. Kamu yang selalu ada di hati ini. Kamu yang sanggup menggetarkan denyut jantungku secara tak beraturan. Kamu yang tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun.
Aku hanya mencintai bayang. Padahal kamu yang memiliki bayang itu. Kamu dan bayangmu seutuhnya, aku selalu mencintaimu. Apapun yang terjadi, temani aku bersabar menantimu. Apapun yang berubah saat ini, apapun yang kini tak sama lagi seperti dulu, aku akan selalu di sini, menantimu.
Maafkan aku, Dung... Aku hanya sedang amat merindukanmu.

Dung, ingatlah satu hal, aku akan selalu setia. Aku menemukan jalan buntu di hatimu dan aku terjebak di sana. aku tidak bisa berbalik untuk mencari hati lain lagi. Hanya padamu, aku akan selalu setia.
postingan ini adalah salah satu tulisanku yang dimuat di antologi cerpen Dia Dia Dia - Penerbit Pucuk Langit
by. si Famysa...

Kaptenku, Imamku

Tak terasa sudah 17 tahun kita bersama ya, Pa.. Padahal rasanya baru kemarin Papa melamar Mama. Lalu kita menikah, mengontrak rumah ke sana - ke mari, merintis usaha, hingga sekarang ada tiga bidadari kecil di sekitar kita, Kak Nur, Kak Shofa, dan Dek Putri.
Waktu awal menikah, Mama agak merasa sedikit useless gara-gara Papa yang kerajinan. Urusan beres-beres rumah, Papa baweeel banget. Ada debu sedikit saja yang ketinggalan, Papa membersihkan ulang. Sampai bagian atas lemari yang gak pernah Mama sentuh pun Papa bersihkan. Hari Minggu, waktunya bersantai, Papa malah bangun lebih pagi untuk merawat tanaman dan beres-beres rumah. Padahal Mama saja masih ingin tidur, Pa. Papa ini sebenarnya nahkoda atau office boy sih? Hehehe...
Pa, tahu gak... Anak jaman sekarang pacaran LDR sama anak kecamatan sebelah saja galaunya ampun-ampunan. Lha kita, 17 tahun menikah LDR-an terus ya, Pa. Papa di laut A sampai Z, Mama di darat, masih setia dengan Indonesia. Waktu kita berjauhan lebih lama dari waktu kita berdekatan. Papa perginya setahun, pulangnya tiga bulan doang.
Pa, walaupun watak kita sangat berbeda, tapi justru itu yang membuat Mama makin cinta sama Papa. Ternyata memang ada orang seperti Papa ya. Hidup tanpa cita-cita, tanpa ambisi. Apa yang dijalani itu lah yang akan menjadi cita-citanya. Mengalir bagai air, tanpa tahu akan bermuara dimana. Tidak usah terlalu pusing dengan urusan besok, yang penting hari ini tetap berusaha dan bersyuk ur.
Mama ambisius, Papa santai. Mama agak pelit, Papa lebih royal. Mama kadang judes, Papa baiknya baik banget. Mama punya banyak cita-cita, Papa justru gak tahu cita-cita Papa apa, yang penting lakukan saja yang ada ya, Pa. Unik ya, kita sangat berbeda. Tapi perbedaan itu justru membuat kita bisa saling menguatkan. Mama merasa sempurna karena ada Papa. Subhanallah... Hanya Kuasa Allah yang sanggup mempersatukan kita.
Papa pernah cerita pada Mama, Papa tidak pernah membayangkan apalagi mencita-citakan Papa kelak akan menjadi nahkoda, berlayar ke mancanegara, meninggalkan anak dan istri, mempunyai penghasilan berkecukupan. Tapi pada kenyataannya sekarang Papa justru sangat mencintai pekerjaan Papa. Mama dan anak-anak bangga pada Papa, kita punya kapten yang gagah berani nan baik hati.
Ingat gak, Pa, dua tahun yang lalu, Papa bilang begini, “Papa capek, Ma. Papa di rumah saja ya.. Gak usah pergi berlayar lagi.”
Papa soleh... yang sabar ya, Pa... Usaha kita kan baru berdiri, belum cukup berkembang. Nanti kalau sudah berkembang, baru kita bisa menikmati hasilnya dengan diam di rumah, tanpa Papa harus capek cari modal lagi. Sekarang mah hasilnya masih mepet buat sehari-hari dan sekolah anak saja, Pa.. Belum ada tabungan untuk menjamin kita ke depannya.
Sekarang Mama tahu Papa capek. Tapi bukannya Papa sangat cinta pada pekerjaan Papa ya? Buktinya, selama ini Papa sanggup jauh dari Mama dan anak-anak demi loyalitas pada pekerjaan. Kenapa gak Papa pertahankan rasa cinta itu, Pa? Nanti, kalau usaha kita sudah maju, kita bakal punya banyak waktu untuk bersama. Sekarang Papa percayakan saja pada Mama, Mama pasti bisa menjaga modal dari hasil kerja keras Papa. Papa juga pasti bisa semangat dan betah kerja lagi. Iya kan, Papa soleh? J
Pa, soal si sulung, Kak Nur, Mama mohon ikhlaskan dia tinggal di pesantren. Kalau pun Papa mau Kak Nur ditarik dari pesantren dan disekolahkan di dekat rumah saja, boleh... Mama juga senang bisa kumpul terus sama anak-anak. Mama juga kan sebenarnya sedih, Pa lihat Kak Nur nangis terus minta pulang dari pesantren. Tapi ada syaratnya. Papa tinggal di sini! Bantu Mama mendidik anak-anak. Mama jujur, Pa, Mama angkat tangan kalau harus mendidik mereka sendiri. Mama sadar kalau Mama ini orangnya gak sabaran, gak kayak Papa. Mama bukan ibu yang cukup pintar yang bisa ngajarin anak-anak kalau ada PR sekolah. Mama juga baru mulai serius ngaji kemarin kan, Pa. Mama gak pede mendidik mereka seorang diri. Makanya Mama milih lebih baik Kak Nur pesantren saja. Biar adik-adiknya juga bisa nyontoh kakaknya. Papa yang sabar... Jangan cengeng gitu gara-gara lihat anaknya gak betah di pesantren.
Pa, Mama masih ingat betul kata-kata Papa dulu, sebelum kita berangkat ibadah haji. Mama juga masih ingat kelakukan Papa yang aneh. Papa memang selalu ke masjid setiap waktu shalat tiba. Tapi bukan Papa kalau tidak langsung pulang setelah selesai shalat. Mama kira Papa berlama-lama di masjid untuk beribadah. Ternyata Papa hanya menangis di sana. Setiap hari, setiap waktu, Papa menghabiskan waktu dengan menangis. Sampai hati Mama ini pilu melihat tangisanmu, Pa.. Padahal biasanya setiap Papa pulang Papa pasti menghabiskan waktu dengan anak-anak. Biasanya waktu pulang jadi hiburan buat Papa. Papa sendiri yang bilang gitu kan. Kata Papa, pulang itu... Papa bisa ketemu Mama, ketemu anak-anak, liburan bareng, belanja bareng, nonton film, makan, semuanya selalu bisa kita lakukan berlima.
“Ma, Papa pengen nikah lagi. Sama yang masih gadis, yang langsing, yang cantik,” begitu katamu dulu, Pa. Mama bakal selalu ingat kata-kata Papa itu.
Papa tahu gimana perasaan Mama waktu Papa berkata seperti itu sambil terntunduk dan menangis? Mama seperti sedang menghadapi rengekan Dek Putri yang sedang demam tapi keukeuh minta eskrim. Bahkan lebih dari itu. Hati Mama sakit sekali rasanya, Pa. Langit seperti rubuh di hadapan Mama sendiri.
Papa sayang... Maafkan Mama ya, Pa... Mungkin selama ini Mama memang kurang merawat diri. Mama kurang perhatian sama Papa yang berada jauh dari Mama. Mama sekarang gendut dan jauh sekali dari kesan modis seperti ibu-ibu tetangga. Mungkin Mama terlalu asyik sendiri. Papa kerja jauh, Mama jadi lupa kalau Mama harus mempercantik diri.
Papa yang sabar ya... Sekarang biarkan cukup Mama saja yang menjadi gadis itu. Siapapun gadis yang berada dalam bayangan Papa, ijinkan Mama untuk berusaha menjadi sosok itu. Papa yang sabar... kalau memang Papa berjodoh dengan gadis, mungkin nanti Mama yang meninggal duluan. Terus Papa bisa nikah lagi dengan gadis deh. Gak usah maksa buat poligami, Pa. Meskipun itu halal, tapi hati Mama gak siap menerima kehadiran orang lain selain Mama yang menemani Papa. Mama gak sekuat Teh Ninih yang rela suaminya menikah lagi dengan wanita yang lebih cantik darinya.
Biar bagaimana pun, Mama bahagia hidup sama Papa. Papa tenang saja, walaupun kita berjauhan, Mama gak akan pernah berhenti cinta sama Papa. Mama gak akan pernah bosan sama Papa. Kalau Papa bosan sama Mama, terserah Papa, yang penting Mama gak akan pernah bosan sama Papa. Mau Papa ubanan, gendut, kurus, hitam, atau apapun, Mama gak akan bosan, Pa.
Berbagai masalah yang lewat silih berganti selama 17 tahun ini, Mama selalu yakin kita akan bisa melaluinya dengan selamat. Karena Mama gak sendiri. Ada Papa, kaptenku, imamku yang paling soleh. Ada Kak Nur, Kak Shofa, dan Dek Putri, bidadari-bidadari kecil kita. Dan tentunya karena ada Allah, Sang Maha Pembolak-balik Hati, Dia Yang Kuasa yang mengijinkan Mama hidup dengan suami sesoleh Papa.
Pa, ijinkan Mama berbakti pada Papa sampai Mama menutup mata... Hanya Mama....
postingan ini adalah tulisanku yang dimuat di antologi Dear Suamiku - Diva Press dengan nama @famysa_ 
by. si Famysa...

Tak Lebih Dari Sampah!

Kau bilang demi sejahtera rakyatmu
Nyatanya kantongmu yang semakin tebal
Kau bilang demi masa depan bangsamu
Nyatanya istanamu semakin megah
Kau bilang mau mengabdikan diri
Kau bilang kau akan melayani tanpa ingin dilayani
Kau bilang segudang kata-kata manis
Nyatanya secuil pun dari kata-katamu tak terbukti
Nyatanya kau bak kaisar dengan permaisuri dan selir-selirmu yang molek aduhai
Nyatanya kau seperti kerbau yang dicocok hidungnya

Kau bilang akan menampung aspirasi rakyatmu
Kau bilang akan bersama rakyat mewujudkan mimpi dan harapan mereka
Nyatanya kau justru membawa pergi keinginan luhur rakyatmu
Nyatanya kau membakar hangus mimpi dan harapan mereka
Nyatanya ketika rakyatmu meraung kesakitan kau justru terbahak merasa menang
Nyatanya rakyat kau anggap budak

Kau bilang uang pajak untuk pembangunan bangsa
Nyatanya pajak tak lebih dari sekedar upeti untukmu yang berkuasa
Nyatanya semua uang rakyat kau makan
Nyatanya semua uang rakyat kau masukkan dalam sistem pencernaanmu
Nyatanya uang rakyat keluar di toiletmu yang terbuat dari emas
Nyatanya kau tak tahu malu mengalungkan berlian dari jerih payah serta mimpi dan harapan rakyat yang kau musnahkan

Kau bilang kau terhormat, ya?
Nyatanya kau tak lebih dari sampah!
Bau. Busuk. Kotor. Jijik.
Yang pantas dibuang
Yang pantas dikubur
Yang pantas dibakar ketika nafas belum terlepas dari ragamu

Kau tak lebih dari sampah, hai para Koruptor Terhormat!

by. si Famysa, :)

Sabtu, 05 April 2014

Ingatkah Kawan?

Ingatkah kawan... Dimana pertama kali kita bertemu? Gedung B FISIP ruang 202 kan ya...
Ada Arista, Syifa, Siska, Icha, Ayuni, Vinna, Anita, Arina, Komang, Diaz, Odi, Anjar, Ady.
Lalu di Tony Blank, Pak Kordes memimpin kita berkenalan lagi.
Aku Diaz, Sastra Jepang,
Aku Anita, Adminitrasi Bisnis,
Aku Arista, Sastra Inggris,
Aku Siska, Administrasi Publik,
Aku Icha, Administrasi Publik,
Aku Syifa, Administrasi Publik
Aku Ayuni, Sastra Jepang,
Dan seterusnya...
photo edited by Ayuni
Rapat kedua... Rapat Ketiga... Survey... Macet-macetan... Menyusun LRK... Survey lagi...
Ingatkah kawan... Tanggal berapa kita pelepasan? Tanggal 15 Juli bukan?
Sore harinya, kaki-kaki ini sudah menginjak tanah Pagersari.
Apa perasaanmu kala itu? 
Setiap hariiiii selalu membuka kalender. Menghitung hari... 15, 14, 13, 11, 10, 9, sampai akhirnya tiba saat kita mudik lebaran.
Kita menghadapi anak-anak, menghadapi masyarakat, tarawih bersama, sahur bersama, buka puasa bersama, tidur bersama, kita menjadi guru dadakan, luaaaarrr biasa kesabaran diuji. Terlebih saat belajar merajut dan berhadapan dengan anak SD.
Ingatkah kawan... Sindiran dari kita dari luar adalah Pagersari memang mager!! Selaluuuu telat, selaluuu kesiangan. Tapi memang inilah kita apa adanya. Dengan segala kekurangan dan kelebihan kita. 
Kita bersama bersuka cita, bersama berlelah-lelah, bersama berduka cita. Ada marah, ada sedih, ada letih, ada bahagia, juga ada cinta...
Ingatkah kawan... Kapan kita kembali lagi ke sini setelah lebaran? Tanggal 15 Agustus bukan?
Entah kenapa waktu itu sudah tak ada lagi agenda menghitung kalender, tak ada lagi keluhan tentang makanan. 
Apa sebenarnya yang kita rasakan? Apa itu rasa sebuah keluarga? Apa itu rasa cinta?
Ingatkah kawan... Siapa nama-nama kita. dari mana asal kita, apa yang kita suka dan tidak kita suka.
Ingatkah kawan... Seberapa kuat hati kita menyimpan kenangan ini? Tanya hatimu, tanya hatimu, tanya hatimu...
photo edited by Ayuni
Dimana kita akan meletakkan kita di hati kita? Dimana kita akan bertemu lagi setelah akhir dari KKN ini?
Kita akan sangat merindukan kita...
Saat kesal, saat bernyanyi, saat tertawa terbahak, saat berpijat-pijatan ria, saat menyaksikan ada cinta...
Ingatkah kawan... Meski raga ini berpisah, hati ini akan selalu satu. Biarkan ribuan foto yang memenuhi laptop dan hpmu tetap di sana. Tataplah kita saat kita merindukan kita. Katakanlah kangen di grup whatsapp kita.
Ingatkah kawan... Sedang apa kita pada detik ini? Lalu bagaimana dengan besok? Tentunya kita akan teringat selalu pada tempat ini dan 30 hari ini.
Berjanjilah kawan... Temui kita, temui kenangan kita.
Ingatkah kawan... Apa kabar LPK kita? Apa kabar BBB?
Aku sayang kalian :* :* :*

*musikalisasi puisi malam perpisahan dari Syifa & Diaz

by. si Famysa, with love :*

Minggu, 06 Oktober 2013

18 Tahun Sebuah Bahtera

Perempuan mana yang ingin dinikahi oleh laki-laki yang sudah beristri tanpa sepengetahuannya? Perempuan mana yang tidak sakit hati ketika tiba-tiba ada ibu hamil yang mendatanginya, dan berkata bahwa bayi yang dikandungnya adalah anak suaminya? Perempuan mana yang mau mengakui ‘anak tiri’ dari asal-usul yang menyakitkan seperti itu?

Penasaran? Masih sanggup lanjut membaca tulisan ini? Yang sanggup silahkan diteruskan... Yang tidak sanggup silahkan lambaikan tangan dan angkat bendera putihmu!

23 tahun yang lalu, hari bahagia itu datang. Keluarga, sanak saudara, karib kerabat, semua berkumpul dalam satu tempat. Panasnya wilayah Pantura tak sedikit pun menyurutkan kebahagiaan dari semua yang hadir kala itu. Apalagi bagi pengantin wanita. Ini merupakan pernikahan pertamanya. Berbeda dengan pengantin pria, dia sudah pernah menikah sebelumnya. Ya, perawan dapat duda.
Prosesi pernikahan berlangsung dengan adat Sunda. Sungkeman, siraman, memecahkan kendi, menginjak telur, membasuh kaki suami, rebutan bakakak (ayam panggang utuh, belum dipotong-potong), suap-suapan bakakak, lagu-lagu Sunda, saweran, salam-salaman, dan lain sebagainya. Alangkah indahnya jika kita yang membaca bisa melihat momen itu juga :)

Pengantin wanita hanya ‘kosong’ satu bulan. Tuhan telah menitipkan amanah kepadanya. Alangkah bahagianya pasangan suami-istri itu ketika mengetahui mereka akan menjadi ayah dan ibu.

“Semoga kamu tumbuh menjadi anak yang membanggakan ibu dan ayah, Nak..” seringkali kata-kata ini terucap dari pengantin wanita, sambil ia mengelus perutnya yang belum terlihat seperti sedang mengandung.

Langit gelap. Jalanan Pantura sepi dari kendaraan. Dalam senyap kilat menyayat mega yang sedang mendung. Gelegar mengikuti seolah tak mau kalah berlomba dengan kilat. Rintik perlahan turun. Rintik datang bersama teman-temannya menyerbu bumi. Tidak lagi perlahan, tetapi berlarian, berkejaran tak beraturan. Dan bumi pun basah. Ia tak kuasa membendung rintik. Pasrah...
“Demi Tuhan! Bayi yang saya kandung ini adalah anaknya suami kakak Anda.” Wanita itu menyalak sambil menangis. Suaranya terdengar agak kabur, namun menakutkan.
“Bu, kakak ipar saya bilang bahwa dia sudah bercerai dengan Ibu. Tidak mungkin Ibu mengandung anak kakak ipar saya.” Takut-takut adik pengantin wanita berkata. Dia juga tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Wanita itu cantik, seksi, kulitnya putih bersih, ia seperti keturunan China. Apa benar wanita itu lah mantan istrinya pengantin pria? Pengantin pria tidak ganteng, juga tidak kaya. Orang yang memandang pasti akan sangsi seperti adik pengantin wanita.

aku bisa melihat kepedihannya dalam album itu. "pengantin al-munafiqun", "bagus luarnya saja, dalamnya busuk", "kedok!" 
Oh Dear... Mengapa aku masih saja bertanya.

Pengantin wanita bertahan demi bayi yang ada dalam kandungannya. Percuma minta cerai pun, karena wanita hamil tidak boleh diceraikan.
Dalam diam ia bertahan. Dalam diam ia menyembunyikan perih. Pengantin pria tetap suaminya. Suami yang harus ia percayai. Suami yang akan selalu dibelanya melebihi keluarganya sendiri.

“Kamu adalah obat hati Ibu. Kamu yang membuat Ibu bertahan. Kamu akan menjadi wanita yang sangat tabah, menjadi wanita yang terpilih, menjadi wanita yang baik...” Terselip doa dalam tangisnya ketika pertama kali ia menggendong sosok mungil, bayinya. Doa itu akan selalu hidup selamanya, menemani setiap tumbuh kembang bayinya hingga kelak ia menjadi dewasa dan tiada. Doa itu bersemayam dalam nama bayinya.

Enam tahun kemudian setelah pengantin wanita dan suaminya hijrah ke kecamatan lain...
“Iiiihh anak laki-laki itu kok mirip banget sama anaknya tetangga saya ya... Hidungnya, hitam-hitamnya, matanya, cara jalannya, pemalunya, semuanya deh.. Siapa sih anak itu?” rumpi ibu-ibu di warung.

18 tahun. Seharusnya di usia ini, seorang remaja sudah mulai menginjak dewasa. Dewasa dalam bersikap, bertutur kata, berpikir, dewasa dalam menjalani hidup. Film-film tertentu yang bertanda 18+ pun sudah bisa ditontonnya. Namun sayang, terkadang remaja lepas dari bimbingan dan pengawasan orang tua. Ia bukannya menjadi dewasa, tapi malah berantakan dan hidup tak karuan.
18 tahun. Bahtera yang dari awal memang sudah keropos, lambat-laun ia lapuk. Isinya tidak sepenuhnya hilang. Tetapi menjadi puing berserakan yang mungkin dapat mencelakakan banyak orang.
18 tahun.

Teramat pedih. Dadaku sesak menuliskan ini. :’(

“Ya, anak laki-laki itu memang mirip sekali denganku. Kami bagai pinang dibelah dua.”
“Subhanallah.... Allah memang akan menampakkan apa yang tersembunyi. Percuma dulu pengantin pria mati-matian tidak mengakuinya. Akhirnya rumah tangganya hancur tidak dapat diperbaiki. Tapi kalian tidak lagi bisa dipungkiri. Allah memang Maha Hebat. Dengan kehendak-Nya, dua orang yang berbeda jenis kelamin, berbeda rahim, tapi bisa seperti anak kembar... Dunia pun akan bisa melihat kebenarannya tanpa harus diteriakan,” ujar adik pengantin wanita.
Kisah pernikahan ini diikutsertakan pada Giveaway 10th Wedding Anniversary by Heart of Mine 

Mak Uniek... Semoga kisah ini dapat menjadi pelajaran bagi Mak Uniek khususnya, serta bagi semua pembaca pada umumnya...
Semoga Mak Uniek dan suami TIDAK AKAN mengalami hal menyakitkan seperti ini. Semoga pernikahan kalian selalu langgeng dan penuh barokah. Biarlah hanya maut yang berhak memisahkan kalian. Aamiiin....

By. Si Famysa, gue mewek. Asli.

Kamis, 26 September 2013

Mencintai Dengan Doa

Ini kisah orang terdekatku. Ini kisah sebuah keluarga yang menginspirasiku. Ini kisah lama. Kisah ini masih berlangsung. Dan akan terus berlangsung sampai akhir hayat mereka. Bahkan sampai akhir hayat manusia di bumi.

Sekitar 17 tahun yang lalu, ada sepasang muda-mudi yang mengikat janji suci mereka dalam bahtera pernikahan. Aku ada di sana. Aku turut menyaksikan senyum yang teramat manis dari mempelai wanita. Langkahnya anggun nan menawan. Sesekali ia tersipu malu dibalik kebaya dan kerudung putihnya. Sebentar lagi ia akan menjadi pendamping hidup kekasih hatinya.
Ada kisah lain yang mengawali perjumpaan mereka. Waktu masih duduk di bangku SMA, sang pengantin wanita pernah pacaran dengan teman sebayanya. Namun pacarnya ternyata berhati dua, menduakan sang pengantin wanita dengan temannya sendiri. Sang pengantin wanita tak pernah ambil pusing tentang pacarnya yang berhati dua. Ada pacar, ada juga fans. Sang pengantin wanita juga sempat memiliki fans berat yang selaluuu memberi perhatian padanya. Namun fans hanya sekedar fans, tidak lebih. Karena jelas sang artis memiliki kisahnya sendiri. Selain ada pacar dan fans di sekitar sang pengantin wanita, dia juga sedang dekat dengan seorang pria. Singkat cerita, di akhir kisah, menikahlah sang pengantin wanita dengan seorang pria itu. 

“waktu kami menikah, kami mulai semuanya dari minus, bukan dari nol,” kata sang pengantin wanita.
Pernikahan mereka bisa dibilang nekat. Hanya ridho dan pertolongan Alloh yang bisa membawa mereka sampai pada titik ini, mungkin. Sang pengantin wanita bekerja sebagai buruh pabrik. Sang pengantin pria, dia baru saja lulus sekolah pelayaran. Menjadi lulusan sekolah pelayaran bagi sang pengantin pria bukan sebuah hal yang bisa membuatnya tertawa lebar. Namun tetap saja itu merupakan sebuah prestasi baginya. Prestasi karena dia akhirnya bisa lulus sekolah dengan uang pinjaman dari sana-sini. Ketika menikah, belum bekerja, ada hutang di depan. Apa yang akan terjadi??
Mereka memulai hari mereka sebagai suami-istri seperti pasangan pengantin kebanyakan. Menumpang di rumah orang tua sang pengantin wanita. Meski belum mapan, mereka tetap berencana untuk memiliki anak tanpa menundanya. “anak dulu, atau kerja dulu ya, Pah? Hmm... apa aja dulu yang datang duluan deh ya.. segimana Alloh ngasihnya apa dulu,” kata sang pengantin wanita pada suaminya.
Sang pengantin pria tak henti-hentinya mencari pekerjaan dengan penghasilan yang layak untuk kebutuhan rumah tangga dan mencicil hutang. Penghasilan dari pelayaran dalam negeri waktu itu dirasa tidak cukup untuk memenuhi semuanya. “Mah, Papah berlayar ke Malaysia aja deh ya...” canda sang pengantin pria. “Kalau memang itu jalan yang diberikan Alloh, ya udah, Pah, gak apa-apa Papah pergi jauh juga.”
Paspor, visa, perijinan, dan segala tetek-bengek keperluan berlayar ke luar negeri sudah dilengkapi. Baru saja mereka mencicipi manisnya madu, kini mereka harus terpisah oleh jarak yang terbentang jauh. Sang pengantin wanita mengantar kepergian suaminya demi mencari nafkah. Di Bandara Soekarno-Hatta, ini lah awal segalanya.
--o--
Tergopoh-gopoh sang pengantin wanita menuju rumah tetangganya yang memiliki telepon rumah. Katanya ada kabar dari negeri seberang untuknya, dari suaminya. “Mah, Papah harus pulang dulu. Ada berkas yang belum Papah lengkapi. Papah harus bawa surat keterangan sehat dari tempat asal. Besok Papah pulang, diberikan ijin dua minggu untuk mengurus ini. Diongkosin pulang-pergi juga sama perusahaan. Sudah ya, Mah... wasalamu’alaikum.”
Alloh memberi kemudahan bagi hamba-Nya yang senantiasa berdoa pada-Nya. Mungkin ini jawaban dari kerinduan sang pengantin wanita. Suaminya akan pulang. Alhamdulillah tanpa biaya sepeser pun. Allah memudahkan segalanya.
Dua minggu berlalu. Sang pengantin pria harus kembali lagi ke Negeri Jiran.
Dua bulan berlalu. Sang pengantin wanita memberi kabar gembira pada suaminya. Sambil terisak penuh doa.. “Pah, Mamah hamil...”
Aku takjub mendengar setiap detail kisah ini. Setiap anak di bumi ini memang membawa rizkinya masing-masing. Pada akhirnya kerjaan dapat, anak pun dapat. Mereka semakin hari semakin mapan. Tadinya sang pengantin wanita ingin menamai anak pertamanya “Rizki Ananda”, tapi tidak jadi karena sudah terlanjur diberi nama lain, nama yang sama indahnya dengan Rizki Ananda.

“untung kamu nikahnya sama suamimu yang sekarang ini ya.. bukan sama fansmu dulu, yang dulu tajir tiada tara, sekarang hidupnya gak jelas” ~testimoni seorang kawan sang pengantin wanita terhadap fansnya dulu~
Hutang terbayar, tiga bidadari penyejuk hati, rumah mewah, mobil, motor, gadget, usaha dan pekerjaan, pergi haji, pendidikan anak, piknik keluarga, rohani islam yang semakin kuat, sekarang mereka memiliki semua itu. Dari dua, menjadi lima. Dari dua, bisa merangkul satu, dua, tiga, empat, lima orang, dan banyak lagiii... Karena sejatinya hidup memang untuk berbagi kebahagiaan. Ini lah yang sedang mereka lakukan sepanjang hidup mereka.
Cinta memang bisa mengubah segalanya. Air menjadi api. Pahit terasa manis. Lelah sirna menjadi canda tawa. Batu pun bahkan melunak. Mungkin benar kata ilmu pasti, matematika. Minus (-) dapat menjadi plus (+) ketika minus dikalikan dengan minus ((-)x(-)). Lalu ditambah oleh rumusan cinta, sehingga satu plus (+) bisa berubah menjadi banyaaak sekali plus (+), plus (+), plus (+). 

“seayem-ayemnya rumah tangga terayem yang pernah aku lihat, ternyata dibalik sana tidak seayem luarnya” ~Famysa~
Sang pengantin pria tampaknya mulai jenuh. Pulang bukan membuatnya sumringah. Dia malah terus merenung dan pergi ke masjid lebih sering dari biasanya, hanya untuk menangis. Setiap rumah tangga pasti pernah atau akan melalui fase ini. Ketika jenuh melanda... “Mah, Papah ingin menikah lagi dengan gadis yang masih cantik,” jujur sang pengantin pria pada istrinya. “Papah gak usah nikah lagi. Mamah yang akan menjadi gadis itu.”
Mulai dari belly dance, senam, aerobik, diet makanan, suntik vitamin C, semua dilakukan sang pengantin wanita. Semata-mata demi suaminya yang sedang dilanda kejenuhan. Cukup lama meredakan kejenuhan itu. Hampir satu tahun. Hingga iman dan takwa mengembalikan segalanya. Bahtera yang hampir terbawa gelombang besar bisa menemukan kembali ketenangan laut lepas. Bersama, berlima, mereka melanjutkan perjalanan hidup....

“Rumah tangga kami pernah nyaris di ujung tanduk. Waktu itu aku sudah tidak bisa apa-apa. Aku hanya berdoa, berdoa, dan berdoa. Aku hanya mengajak suamiku untuk istighfar memohon ampun dan berdoa. Jika memang takdir Papah menikah lagi dengan gadis, bisa saja Mamah meninggal lebih dulu, lalu Papah bisa menikah lagi dengan gadis, tidak usah pakai poligami atau bercerai segala,” tutur sang pengantin wanita padaku...

Ini kisah nyata. Mereka adalah orang terdekatku. Mereka adalah keluarga yang sangat aku sayangi. Barakallah untuk keluarga yang senantiasa menginspirasiku ini... :’)
Kisah pernikahan ini diikutsertakan pada Giveaway 10th Wedding Anniversary by Heart of Mine 

barakallah pernikahannya, Mbak Uniek & suami... semoga tetap menjadi keluarga yang samara... semoga langgeng sampai kakek-nenek, biarlah maut menjadi satu-satunya hal yang bisa memisahkan... semoga dari tangan-tangan kalian tumbuh generasi pembela agama dan negara... puokoke sing apik-apik semoga selalu menyertai keluarga Mbak... aamiiin ya Robbal 'aalamiin... :))
doakan juga semoga diriku ini cepat mendapat jodoh yang terbaik ya, Mbak... hihihii :D

By. Si Famysa, :’)

Mijn Vriend