Tampilkan postingan dengan label Kulawargi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kulawargi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 April 2015

Miss The Past

Hello, April… How are you?

Tiga hari pertama di bulan April ini, kondisi badanku gak karuan. Aku kedinginan sepanjang hari, padahal cuaca sedang hot-hotnya bukan? Menjelang duhur, aku semakin kedinginan. Tepat jam 12 siang, bukannya siap-siap sholat duhur, aku malah pergi ke kamar, berbaring dibalut selimut. Rasanya dingin sekali. Aku seperti orang sakit. Hanya saja hanya dingin dan mual yang aku rasakan, tidak ada keluhan lain seperti pusing atau demam seperti yang biasanya menyerang orang sakit. Entah kenapa, aku juga gak tahu. Yang jelas, kedinginanku semakin menjadi kalau aku keramas. Sejak diserang kedinginan itu, sekarang aku jadi jarang keramas deh, agak parno sih, haha..

Lalu tiga hari berikutnya, setelah tidak kedinginan lagi, aku pergi-pergian setiap hari. Waktu di rumah, di depan laptop jadi berkurang deh, makanya gak ada postingan selama 6 hari belakangan ini *alibi :P.

Di tiga hari pertama bulan April, aku semakin susah makan, bahkan berlanjut sampai sekarang. Makan ini gak enak, itu gak enak. Padahal intensitas ‘kelaparan’ semakin bertambah. Lapar sedikit saja, tapi tidak ada makanan yang bisa kumakan, aku bisa langsung lemas. Badanku seperti bergetar. Yaa seperti orang kelewat makan biasanya. Bedanya, serangan itu bisa datang sebelum jam 12 siang. Kalau aku sedang normal mah serangan itu paling-paling datang jam 3-an.

Yang kuinginkan saat susah makan akut di tiga hari pertama di bulan April ini adalah rujak buah-buahan masam. Oh sampai saat ini aku selalu membayangkan bisa ngerujak manga muda. Enak kali yaa… Sayangnya kehamilanku tidak bertepatan dengan musim manga, huhu.. Tak ada mangga, belimbing pun jadi deh. Alhamdulillah pohon belimbing di kebun belakang rumah sedang berbuah lebat. Tiap hari aku jadi bisa makan yang masam.

Di tiga hari pertama di bulan April ini, selain kondisiku yang kacau, hatiku juga jadi sangat mellow. Tiba-tiba waktu ngerujak sama Ibank, aku teringat masa-masa sulit yang keluargaku lalui dulu. Tiba-tiba aku cerita pada  Ibank…

Dulu aku setiap hari ikut Bapa mengantar kue ke beberapa rumah sekecamatan ini. Waktu itu ada program –dari kecamatan, kalau tidak salah- bagi-bagi kue sehat ke beberapa keluarga terpilih. Keluarga terpilih itu adalah keluarga yang memiliki anak kecil, namun kurang mampu. Jadi lah ada bagi-bagi kue sehat ini sebagai pengganti jajan anak-anak mereka. Kuenya tiap hari beda-beda. Yang kuingat beberapa diantaranya adalah bolu kukus, buras/arem-arem, lemper, bakpao, kue naga, kue putri ayu, risoles. Semuanya enak-enak, semuanya besar-besar ukurannya, semuanya dibuat high quality, gak ngasal.

Setiap hari aku, Mamah, dan Bapa membungkus kue-kue itu. Rumah kami selalu penuh oleh kue. Aku juga jadi bisa makan kue-kue enak itu setiap hari, kalau ada sisa, atau kalau ada rumah tujuan yang kosong (penghuninya tidak di rumah). Motor Bapa, depan, belakang, penuh oleh kue-kue itu. Aku biasanya duduk di depan, berdesakan dengan kresek besar berisi kue. Entah ke desa mana saja kami pergi, aku tidak ingat. Yang kuingat hanya jaauuuuh sekali… Panas… Berdebu… Masuk ke kebun tebu… Melewati banyak sawah dan jalanan jelek. Ah. Kadang aku merengek capek pada Bapa. Tapi entah kenapa Bapa selalu membawaku pergi setiap aku ingin ikut, padahal aku sering mengeluh, hehe.. Awal-awal perjalanan, aku masih bisa turun dari motor, ikut Bapa mengetuk pintu rumah ke pintu rumah. Kadang ada juga penghuni satu atau dua rumah yang mengajak Bapa mengobrol dulu, menyuguhi kami makanan dan minuman. Aku senang ketika aku bertemu dengan makanan dan minuman, tapi aku juga tidak senang karena jika Bapa mengobrol dulu, biasanya kami akan pulang larut. Tapi di tengah perjalanan, apalagi menjelang akhir, aku sudah tidak mood, aku akan tetap duduk di motor dan menyuruh Bapa cepat-cepat, jangan mengobrol dulu, haha..

Aku ingat sekali.. Saat aku mengeluh capek dan lapar pada Bapa, Bapa berhenti di warung dan membelikanku air mineral. Padahal aku kan lapar, aku ingin makan, ingin jajan, bukan ingin minum. Tak jarang aku ngambek pada Bapa, hehe.. Tapi seingatku Bapa tidak pernah memarahiku.

Tanpa sadar, aku pun menangis sambil ngerujak. Mellow banget yaa :(

Jujur, aku sangat merindukan masa-masa itu. Masa-masa dimana Bapa dan Mamah saling menguatkan walau kondisi ekonomi kami pas-pasan, bahkan mungkin kekurangan. Masa-masa dimana kami selalu bersama setiap hari. Masa-masa dimana Bapa selalu menjadi Bapa yang rendah hati, Bapa yang tidak banyak omong, Bapa yang mengajarkanku banyak hal. Aku rindu semuanya. Jika dulu aku tahu ternyata kekayaan hanya akan memisahkan kami, aku pasti akan lebih memilih tetap seperti dulu. Hidup serba kekurangan, tapi tidak kekurangan kasih sayang dari kedua orang tua. Dan seandainya aku bisa melakukan pertukaran, aku ingin menukar masa sekarang dengan masa laluku. Aku ingin orang tuaku bersama kembali. Dengan begitu, tidak akan ada masalah demi masalah yang datang silih berganti akibat perceraian mereka.

Tiga hari pertama di bulan April ini, aku teringat pada dua buah CD berisi foto-fotoku waktu pesantren di Daarut Tauhiid. Aku ingat, di CD itu ada foto waktu aku diwisuda. Aku, Mamah, Bapa, adikku, Aa Gym, dan Teh Ninih; ya, aku ingat ada foto ini! Itu berarti hanya di CD itu lah aku punya foto lengkap bersama keluargaku. Karena pasca bercerai, Mamah membuang semua foto Bapa, aku jadi tidak punya lagi foto masa kecil bersama Mamah dan Bapa, higs..

Aku terus mencari CD itu. Seisi rumah kuobrak-abrik demi mencari CD itu. Tapiii… Hasilnya nihil. Aku lupa dimana menyimpannya. Memang sudah lama sekali aku tidak pernah membuka CD itu. Kapan terakhir kalinya saja aku sudah lupa. Higs.. Dimana yaa? Adakah yang bisa membantuku? Aku sangat berharap bisa menemukan CD itu :’(

by. si Famysa, rindu...

Rabu, 25 Maret 2015

Syifa's Graduation

ki-ka: adikku; Maulana, Mamang Aca, Ghina, Bibi Wiwin, aku, Emih, Sri, Mamang Amin. jangan tanya orang tuaku yang mana. karena mereka gak ada di acara ini :)
Tanggal 4 Agustus 2014 lalu, aku resmi diwisuda sebagai Sarjana Administrasi Publik Universitas Diponegoro. Cieee.... swit, swiiittt :P Bangga? Ya jelas bangga dong. Gak ada salahnya kan bangga pada prestasi diri sendiri. Walaupun hanya sebatas jadi sarjana, tapi tetap ini patut disyukuri :)
best make up & hijab style from Mbak Muti
Rasanya baru kemarin tes UM I Undip di Tennis Indoor Senayan, berangkat dini hari, nyampe sana pas subuh, ngantuk-ngantuk, tetap harus fokus pada soal yang seabreg. Setelah dinyatakan diterima (sebelum kelulusan SMA), aku masih ingat bagaimana bahagianya. Saat teman-teman lain masih mencoba daftar ke sana-sini, aku malah sudah diterima oleh PTN favoritku, PTN incaranku, bahkan sebelum lulus. Rasanya sudah plong deh :)
aku urutan ke-6 IPK-nya, sejurusan yang lulus hari itu.
Rasanya baru kemarin pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Semarang. Diantar Bapa dan adikku untuk verifikasi calon mahasiswa baru, naik kereta Harina eksekutif, kata Bapa sekalian cobain rasanya kereta eksekutif, hihi.. Tempat pertama di Undip yang kukenal waktu verifikasi adalah Gedung Prof. Soedarto. Karena waktu antriannya panjang dan cukup menguras tenaga, akhirnya beres verifikasi, kami langsung pulang naik bus seadanya. Dan benar-benar seadanya, bus ekonomi, sampai Bapa pun kesal karena ngetemnya, haha.. 
teman-teman Administrasi Publik Undip angkatan 2010
Awal-awal kuliah, aku agak kesulitan mencerna mata kuliahnya. Aku harus belajar esktra, lebih rajin dari biasanya. Waktu SMA aku jurusan IPA, dan di Administrasi Publik aku benar-benar banting setir, total semuanya pelajaran IPS :P OMG, pusing deh awal-awal mah. Apalagi sama mata kuliah Pengantar Ilmu Politik dan Pengantar Ilmu Ekonomi. Dapat nilai B juga sudah syukur :P Tapi lama-lama, setelah menginjak tahun kedua di dunia sosial, aku sudah mulai bisa berdamai dan menikmati arusnya :)
Tian, Isna, aku; 3 dari 7 teman main yang wisuda barengan.
Selama kuliah dan tinggal di Semarang, banyak sekali pelajaran hidup yang kudapatkan. Mulai dari mencicipi dunia MLM, jualan buku, jualan batik, tas handmade, jualan tali rambut rajut, belajar bahasa Jawa, hingga menemukan komunitas-komunitas menulis yang membantuku mengasah kemampuan menulisku. Tak hanya itu, selama kuliah, aku juga banyak mengikuti acara kampus dan luar kampus, seminar, talkshow, mulai dari yang berbayar hingga yang gratisan. Terutama yang paling sering sih yang gratisan ya, apalagi kalau gratisan terus dikasih duit. Wkwk :P
with my personal photographer, waktu belum jadi suami :P
Jogja. Tempat ini menjadi rumah singgahku yang kedua setelah Semarang. Awalnya memang karena Ibank aku ke Jogja. Lama-lama, aku justru bertemu banyak teman di sana. Di Jogja juga ada Rini, sahabat Jamnasku -tahun 2006 lalu-, kami dipertemukan lagi di Jogja :') Aku banyak menemukan hal baru dengan Rini. Aku menemukan partner bisnis batikku juga dengan Rini. Semenjak menemukan 'hidup' di Jogja, aku jadi sering ke sana, paling telat 3 bulan pasti aku ke sana. Karena aku butuh Jogja juga, aku jadi memilih Jogja sebagai tempat magangku. Alhamdulillahnya instansi yang kuincar menerima lamaran magangku, hihi.. Selain magang, selama skripsian juga aku tinggal di Turi, Sleman, Jogja, di rumahnya Mbak Dian. Penelitiannya di Magelang sih, tapi tinggalnya di Turi karena Turi lumayan dekat dengan Magelang, 30 menit - 1 jam motoran juga sampai.
with Rini, my partner in crime :D
Sedihnya, waktu wisudaku, Mamah tidak bisa datang. Bapa datang di wisuda univeritas. Kalau yang di foto-foto ini wisuda fakultas. Aku sengaja memilih Emih, Bibi, dan Mamang saja yang datang ke wisuda fakultas, karena menurut informasi dari kakak kelas, wisuda fakultas lebih sakral, lebih untuk keluarga. Ya, daripada Bapa yang datang, lebih baik Emih. Jadi waktu itu dibagi 2 kloter. Kloter pertama (wisuda fakultas) Emih dan rombongan, kloter kedua (wisuda universitas) Bapa dan rombongan. Kenapa aku lebih memilih Emih yang menghadiri momen sakral ini? Yaa daripada aku sedih ingat Bapa dan Mamah tidak lagi bersama, hehe.. Lagian aku kan pernah janji pada diriku sendiri, mau membanggakan Emih di hari wisudaku, seperti yang pernah kutulis di sini --> Emih; More Than Just A Grandma.
best photo ever by Ibank! sayang itu tali toganya gundul, out of check -_-
Yeah, finally aku bisa nulis cerita ini setelah diendapkan sekian lama dalam draft di hati, hehe.. Ceritanya lagi kangen banget sama dunia kuliah. Ceritanya gak sabar ingin lanjut kuliah lagi, ingin merantau lagi, ingin merasakan aroma kota lain lagi, ah pokoknya ingin berpetualang dan menimba ilmu lebih banyak lagi. Bismillah semoga Alloh membukakan jalan-Nya. Aamiin... :)

Eh, jadi inget deh, bulan Maret tahun lalu aku masih sibuk garap skripsi, masih sering tinggal di rumah Mbak Dian. Sekarang, Maret tahun ini, aku sudah bukan mahasiswa Undip lagi ternyata yaa.. Di belakang namaku sudah ada gelarnya, Syifa Azmy Khoirunnisa, S.A.P. Ahaha :D

Waktu begitu cepat berlalu... Betapa banyak lengahnya aku... :') 

by. si Famysa, kangen kuliah :')

Selasa, 17 Maret 2015

Demi Mamah, Pak Sulaiman Al-Kumayi pun Kudatangi

SEE! Ini draft dari jaman kapan? 12 Januari 2012. Bertahun-tahun yang lalu. Haha :D

Ceritanya sih dulu belum sempat ditulis karena aku mau nampilin foto buku dan tanda tangannya juga. Sedangkan bukunya sudah ada di tangan mamah di Subang, akunya kan di Semarang, dan bukunya belum sempat kufoto. Dulu aku janji tidak akan pernah menghapus draft ini waktu bersih-bersih draft lain yang kuanggap tidak terlalu penting untuk ditulis. Aku janji suatu saat nanti aku akan menuliskan cerita perjuanganku mendapatkan buku ini, walau entah kapan. Dan terbukti deh, baru sekarang aku bisa menuliskannya, setelah tadi kufoto dulu bukunya. :P
Suatu hari, mamah sms aku minta dicarikan buku yang berjudul ‘Anak Luar Nikah’. Mamah bilang penerbit dan penulisnya di Semarang, siapa tahu aku bisa dapatkan buku itu karena aku di Semarang. Soalnya mamah cari di Subang tidak ada. Mamah bilang penulisnya itu penulis favorit mamah, mamah punya koleksi bukunya yang lain. Makanya mamah keukeuh ingin dicarikan buku itu. Disamping memang mamah tergerak baca buku itu karena fenomena MBA di kampungku semakin marak.

Sulaiman Al Kumayi. Kata mamah beliau penulisnya. Aku tanya ke Mbah Gugel, akhirnya nemu FBnya beliau. Langsung aku add friend, tapi belum juga diapprove. Akhirnya aku kepoin biodata beliau di FBnya. Satu informasi penting yang kudapat, beliau adalah dosen di IAIN Walisongo Semarang. Aha! Di sana kan banyak teman-temanku dari FLP Semarang. Aku tanya saja di grup FB FLP Semarang. Lalu ada salah seorang yang menjawab katanya Pak Sulaiman adalah dosennya Kak Azis, ketua FLP Semarang. Tapi Kak Azis tidak juga nongol di grup. Aku sms saja dia. Akhirnya… aku mendapatkan nomor hp Pak Sulaiman dari Kak Azis. Hihiii

Tanpa tunggu lama, langsung kuhubungi nomor hp Pak Sulaiman. Aku sms dulu. Dan alhamdulillaaah, beliau membalas smsku. Baiiiik sekali kata-katanya. Beliau juga memintaku langsung datang saja ke kampusnya besok.

Keesokan harinya, sekitar pukul 9 pagi, aku meluncur ke kampus IAIN Walisongo dengan temanku. Kami naik bus. Sempat nyasar dan berputar-putar dulu di kampus I IAIN Walisongo. Maklum, waktu itu baru pertama kalinya aku mampir ke IAIN Walisongo, jadi tidak tahu kalau kampusnya ada di beberapa tempat. Dari kampus I, aku harus naik bus lagi menuju kampus II (eh apa III ya? Lupa. Haha :P).

Ada pengalaman menggelikan ketika aku dan temanku sampai di sana. Sepanjang jalan kami berjalan kaki mencari ruang dosen fakultas (apa yaa? Lupa juga *hajaar! -_-), banyak yang memperhatikan kami. Banyak juga mahasiswa laki-laki yang sepertinya menggoda kami. Hmm… Aku dan temanku jadi agak risih. Kami jadi bertanya-tanya, apa yang salah pada kami? Oh, apa karena kami berjalan pakai jeans diantara akhwat-akhwat kampus yang pakaiannya jilbaber? Hoho..

Sesampainya di depan ruangan beliau, beliau mempersilakan kami masuk dengan ramahnya. Beliau agak heran, katanya ‘kok ada yang cari-cari buku ini sampai mencari saya?’. Haha.. Kuceritakan saja itu karena amanat mamahku. Lalu beliau bercerita juga, katanya buku itu bukan beliau yang menulis, beliau hanya editornya saja. Kebetulan penulisnya itu adalah mahasiswanya. Ketika beliau baca tesis mahasiswanya tersebut, katanya isinya bagus dan belum banyak yang menulis mengenai tema anak luar nikah ini. Karena beliau seorang penulis, lalu beliau sarankan tesis tersebut untuk dikirimkan ke penerbit saja, siapa tahu bisa jadi buku. Dan eeh, ternyata iya, tesis itu sekarang sudah jadi buku. Keren yaa!

Pak Sulaiman juga banyak bercerita tentang buku-bukunya yang lain. Salah satunya buku yang dimiliki mamahku (tentang Asmaul Husna). Katanya buku tersebut sudah tidak terbit lagi di Indonesia, sekarang terbitnya di Malaysia. Wow! Memang keren sih bukunya. Cuma kalau untuk ukuranku, buku beliau dan buku yang beliau sebagai editornya terlalu berat. Berasa lagi penelitian skripsi lagi deh kalau baca. :P

Beruntuung sekali, aku bisa mendapatkan buku Anak Luar Nikah ini dari Pak Sulaiman. Aku bisa sekalian minta tanda tangannya untuk menyenangkan hati mamah. Hihiii.. Mamah yang ngefans sama karyanya, eh aku yang ketemu sama beliaunya ya. Hehe.. Pak Sulaiman juga memberiku harga murah. Katanya pakai harga untuk beliau saja, bukan harga dari toko buku. Cuma Rp 15.000. Kata beliau, itung-itung itu hadiah buat mamahku. Waaah… Aku senang sekalii…. :D Rasanya bangga gitu.. Bisa melaksanakan amanat mamah, meski harus berjuang mencarinya.

Soal isi bukunya… Aku belum sanggup membacanya.. Aku minta mamah saja yang menjelaskannya padaku :P Mungkin lain kali yaa, kalau tiba-tiba ingin baca tesis, baru aku baca buku itu. LOL

by. si Famysa, :)

Kamis, 19 Februari 2015

Hidayah Datang Kapan Saja

Dua hari yang lalu, aku dan Ibank main ke rumah Emih. Sesampainya di sana, aku disambut oleh dua sepupuku yang sedang duduk di teras depan. Kemudian Emih keluar, dan tak lama bibi datang. Lalu aku bertanya pada bibi, “mamang kemana, Bi?” dan kata bibi, “Tuh ada di dalam rumah. Mamang kemarin mah abis ikut pesantren kilat 3 hari, Neng.” Tak lama mamang pun keluar karena bibi memanggil.
Seperti biasa, mamang selalu antusias kalau aku main ke sana sama Ibank. Entah kenapa, sejak sebelum menikah, bahkan belum ada wacana untuk menikah pun, mamang seperti menemukan klik jika mengobrol dengan Ibank. Malah kata Ibank, mamang pernah curhat seputar masa bujangnya sampai pagi, sampai Ibank tak kuat menanggapi karena mengantuk waktu rame-rame menginap di kontrakanku semalam sebelum aku wisuda. Haha…

Ada yang beda dari obrolan dengan mamang kemarin… Mamang yang biasanya berbicara –selalu- perihal duniawi, entah itu kapusing hirup, atau keluh-kesah, atau hutang, atau apa lah yang duniawi-duniawi, tapi kemarin tidak lagi membicarakan hal itu. Mamang kemarin banyaaak sekali cerita pengalaman pesantren kilatnya. Dan ajaibnya, mamang benar-benar mempraktekkan ilmu yang didapatnya dari pesantren kilat. Kupikir mamang berubah 180 derajat!

“Mamang kemarin pesantren 3 hari Cuma bayar Rp 30.000 doang. Itung-itung ganti uang makan sehari Rp 10.000. ya memang sih makannya alakadarnya, makan bareng-bareng di atas nampan. Sarapannya aja cuma minum kopi segelas untuk 4 orang. Awalnya emang berat karena biasanya di rumah sarapan sampai kenyang. Tapi pas hari kedua, mamang sudah mulai bisa membiasakan diri. Ya mau gimana lagi, emang adanya itu makanannya. Tapi anehnya mamang sama jamaah lainnya bisa kuat loh. Emang benar ya, makan itu sekedar ambil fungsinya aja, jangan sama nafsu. Kalau kita cuma ambil fungsinya aja dijamin cepat kenyang deh. Nih mamang udah buktiin. Sekarang mamang gak pernah ngomel lagi kalau bibi belum nyiapin sarapan sebelum mamang berangkat ke sawah. Mamang minum kopi aja juga udah cukup kenyang.”

“Enak banget pesantren kemarin. Kita (jamaah) dibekam dan diruqyah gratis. Ilmu yang diajarkan juga sederhana, gak neko-neko, gak menyesatkan kita. Intinya mah cuma ngajak sholat yang benar sama ibadah-ibadah sunnah lainnya. Pulang dari sana mamang benar-benar ngerasain kalau sholat itu memang kebutuhan. Sekarang rasanya gak enak kalau gak sholat. Malah pengennya kalau lagi gak ada kerjaan, daripada diam di rumah, paling-paling nonton TV, mending ke masjid sholat sunnah kek, atau dzikir. Jamaah yang lain juga sama kayak mamang loh, Neng, bawaannya tuh pengen ibadaaah terus. Malah ada loh tukang mabok dan judi yang jadi rajin ibadah, dia tobat sama mabok dan judinya. Mamang seumur-umur baru lihat dia sholat ya pas di pesantren kemarin. Dulunya mah boro-boro, lebih-lebih dari mamang lalainya deh.”

“Mamang pulang dari pesantren tuh ngerasa enaaak banget hati sama pikirannya. Berasa nge-blank gitu. Kosong aja semuanya, kayak kembali ke awal lagi. Badan juga terasa ringan. Ibadah juga berasa nikmat banget. Biasanya sholat karena terpaksa sambil ogah-ogahan, sekarang jadi gak pengen ketinggalan sholat, kalau bisa ya di masjid terus berjamaah.”

“Ternyata emang ilmu kehidupan yang susah mah. Neng sama Ibank sekolah tinggi-tinggi juga belum tentu ngerti ilmu kehidupan. Pendidikan tinggi gak ngejamin orang itu punya ilmu kehidupan. Mamang juga baru ngerasain sekarang. Ternyata enak banget ya hidup kalau selalu dekat sama Alloh mah. Apa-apa doa aja ke Alloh, kita mah gak usah terlalu ambil pusing, yang penting usahanya tetap dijalani.

Suami-istri kalau makan baiknya sepiring berdua, itu untuk menyatukan hati. Mamang juga sekarang makannya sepiring berdua aja sama bibi. Terus ikutin cara duduk makannya Rasul (kaki kanan lututnya ditekuk sampai bertemu dada) deh, ternyata memang posisi duduk seperti itu bikin cepat kenyang loh. Mamang gak ngerti secara medisnya mah gimana, tapi mamang udah ngerasain sendiri. Kalau makan pakai tangan kanan, kalau pakai tangan kiri itu sama aja kayak kita gak makan. Malah ustad-ustad di pesantren kemarin mah bela-belain ngebuang timun yang satu sisinya dipegang oleh tangan kiri waktu memotong. Mereka ngajarin kita motong timun sama teman, satu orang pegang satu sisi timun, satu orang lagi pegang sisi lainnya, jadi kan kepegang sama tangan kanan semua tuh.”

“Mamang dulu biasanya kalau di sawah lihat ulat di padi tuh ngomel-ngomel, tapi sekarang mah belajar buat ikhlas, ‘ah ya biarin deh, berarti bukan rejeki kita, itu rejekinya ulat, ulat juga kan pengen makan”.

Kalau mau usahanya lancar jangan lupa sama sholat dhuha… Senjatanya orang-orang bisnis justru lewat sholat dhuha itu.”

Di perjalanan pulang, aku tak henti-hentinya berdecak kagum atas perubahan mamang. Aku dan Ibank jadi termotivasi untuk bisa lebih banyak belajar dan belajar lagi tentang agama, untuk berusaha memaksimalkan ibadah, untuk menyeimbangkan waktu antara dunia dan akhirat..

Ternyata, hidayah memang bisa datang kapan saja. Hidayah tak kenal waktu, tak kenal usia. Namun yang perlu digarisbawahi, hidayah sebagian besar datang hanya bagi mereka yang ada usaha untuk menjemputnya. Contohnya mamang yang usaha menjemput hidayah dengan mengikuti pesantren kilat :)

Mamang yang awam, yang tinggal di kampung (lebih kampung dari kampungku), jauh dari akses menuntut ilmu aja bisa berubah menjadi lebih baik, dan berniat untuk terus menjadi lebih baik, kenapa aku gak bisa? Kenapa kita gak bisa? Sebuah kisah kan ada untuk dipetik hikmahnya. Iya kan, iya kan? :D

Oh ya, bibi juga cerita, katanya mamang sekarang meminta bibi untuk berhijab. Hihihi… Semoga segera terwujud. Semoga keluargaku, keluarga kita semua senantiasa didekatkan dengan hidayah-Nya yaa.. aamiin…
para sepupu; para bocah korban kamera depan :P
By. Si Famysa, senang ^^

Sabtu, 10 Januari 2015

Honey Family Moon Trip

Hello, Mblo, selamat malam mingguan! :D *belagu yee Syifa mentang-mentang udah punya pacar (halal) :P --- yee biariin... pan ceritanye ngomporin biar temen-temen pade nikah mude juge kayak kite. bhahaha
look at the photo! payungnya gak karuan bentuknya -_-
Sehari setelah 'sah', kami pergi piknik ke Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu, Subang-Jawa Barat. Kenapa cepat-cepat piknik, padahal baru saja kemarin nikah, kan pasti masih ada tamu yang datang tuh? Karenaa... Niatnya piknik itu memang mau mengajak Mbak Muti plesiran di Subang. Masa Mbak Muti jauh-jauh dari Semarang buat dandanin aku, akunya gak menyuguhkan Subang pada Mbak Muti :). Sebelum Mbak Muti balik ke Semarang, sebelum Mbak Muti masuk kuliah lagi, mumpung masih libur, jadi deh hari Sabtu kami langsung cusss plesiran. Oh ya, FYI nih ya, Mbak Muti yang kemarin jadi MUA nikahan aku itu masih mahasiswa semester 5 di jurusan peternakan Undip looh.. Iya, semester 5! Tapi S-2. Rada-rada gak nyambung memang, kuliah di bidang A, keahlian di bidang Z. Ya sama kayak aku ini :P :D Kali saja ada yang mau kenalan sama Mbak Muti, nih aku kasih link FBnya lagi --> Nur Meutia <-- dan ini link FPnya --> Salon Jilbab Annisa <--.
foto ini berhasil bikin iri teman-teman yang belum menikah. haha peacee :D
Pagi itu, perasaanku agak aneh, agak risih, tiba-tiba saja ada laki-laki yang tinggal serumah denganku. Ya, belum tidur sekamar saja sudah merasa aneh. Haha -selama ada Mbak Muti, aku tidur dengan Mbak Muti, Ibank tidur dengan adikku :P-. Ah pokoknya aneh deh. Canggung kali ya... Walaupun dari SMP Ibank itu teman main bareng, tapi yaa ini mah posisinya sudah jadi suamiku. Jadi yaa tetap saja canggung, tetap saja tidak bisa disamakan dengan ketika jadi teman main :D.
Untungnya ada kakak sepupuku, Ace datang. Ace yang memang tidak hadir di acara akad nikah kami karena bekerja, menyempatkan datang pada hari Sabtu. Katanya subuh-subuh sudah start dari Cikampek. Hasilnya, pagi-pagi sudah nongol di pintu rumah deh. Lumayaan... Jadi bisa mencairkan suasana, rasa canggungku lumayan berkurang. Hehe..
Setelah sarapan dan bersiap diri, sekitar jam 11 kami berangkat dari rumah menuju Tangkuban Parahu. Sebenarnya kami bertujuh, berdelapan dengan supir. Ada aku, Ibank, Mbak Muti, Ace, A Ryan, Teh Nenden, dan baby Resty. Tapi di lokasi, A Ryan beserta istri dan anaknya malah memisahkan diri. Katanya sih mau ke tempat saudaranya Teh Nenden yang punya lapak di Tangkuban Parahu. Eeh sampai akhir malah pisah terus. Jadi gak ada foto bertujuh deh.
Ada yang menarik dalam perjalanan kami. Ketika kami memasuki wilayah kecamatan Ciater, hujan deras turun. Memang sih cuaca sudah mendung ketika kami masih di rumah juga. Sebelum Ciater pun, gerimis sudah mulai turun, langit selalu gelap. Kami pun galau dibuatnya. Yakin mau ke tempat outdoor di tengah cuaca begini? Kalau sampai di sana hujan tetap deras gimana? Mau berteduh dimana? Ah pokoknya berbagai pertanyaan yang membuat galau muncul. Sampai akhirnya muncul ide dariku untuk berganti tujuan, ke Capolaga! Supaya bisa berteduh dulu di rumah orang tua Teh Nenden yang memang dekat sekali dengan Capolaga. Ide itu muncul ketika kami sudah sampai perempatan Ciater. Ke kiri ke Pemandian Air Panas Ciater, lurus ke Tangkuban Parahu, kanan ke Capolaga. Jelas dong aku mendadak dangdut bilang ke supir belok kanan. Entah lah itu pak supir menyalakan sein tidak. Untung saja sedang agak macet, jadi tidak terlalu membahayakan. Hhoho *jangan ditiru.
Di jalan menuju Capolaga, muncul lagi ide untuk meneruskan rencana semula ke Tangkuban Parahu. Ada yang bilang, masa iya mau hujan terus, kalaupun hujan masa iya gak ada tempat berteduh, setidaknya sampaikan dulu langkah kita di sana, sudah di sana ya gimana di sana saja, mau diam berteduh saja kek, mau hujan-hujanan kek. And theen, mendadak dangdut kami belok kiri (ada jalan menuju jalan utama Ciater). Surprise! Di tugu pertigaan menuju jalan utama, ada mobil yang menabrak tugu, barusan! Kata pak supir, untung kita tadi belok kanan, kalau kita tetap lurus, bisa saja kita jadi penyebab mobil itu menabrak tugu, atau mungkin kita yang tabrakan dengan mobil itu. Aku jadi berkata, "alhamdulillah ya tadi Alloh ngasih kita galau dulu, ternyata mau ada musibah di depan kita. Ajaib memang ya Alloh itu :)". 
dikerjain sama cowok-cowok ini. disuruh fotoin aku sama Mbak Muti, malah fotoin payung & selfie -______-
Jalan menuju Tangkuban Parahu dari gapura masuk sampai lokasi maceeett banget. Maklum deh waktu itu hari Sabtu bertepatan dengan libur panjang natal dan liburan anak sekolah. Maju tak gentar lah! Macet pun hajar!
Di sepanjang jalan sambil macet-macetan, banyak sekali yang menjual jas hujan plastik warna-warni yang biasanya sekali pakai robek itu. Hoho.. Kami penasaran berapa yaa harganya. Biasanya kan cuma Rp 3.000 sampai R 5.000. Kalau mereka jual di sini Rp 10.000, wuiiih banyak sekali untungnya. Dan surpriseee! Sesampainya kami di lokasi, kami jadi tahu, ternyata harganya Rp 12.000, pemirsa. Gak tanggung-tanggung ya. Haha... Panen rejeki deh mereka :D Ace jadi terpikir untuk buka lapak 'ojek payung', karena kebetulan kami punya 4 payung; 1 payung pengantin (yang bahkan baru dibuka bungkus kadonya di mobil :|), 3 payung tersedia di mobil pinjaman kami. Alhamdulillah ya, yang punya mobil pengertian sekali. Hihii
hasil foto setelah ngomelin cowok-cowok
Hujan tidak terlalu deras. Kami bisa jalan-jalan ke sana-ke mari dengan berpayung ria. Tapi yaa tetap saja tidak bisa luwes, dinginnya itu loh yang membekukan langkah kami. Bandrek saja gak berarti apa-apa. Gak rekomen deh ya piknik ke Tangkuban Parahu di tengah hujan. Foto-foto juga jadi gak bebas, tangannya kaku sih. Hehe.. Payung pengantinku juga rusak karena terkena angin dari Kawah Ratu. Itu pas kami baru mau foto-foto di dekat pagar Kawah Ratu yang dekat tulisan Gunung Tangkuban Parahu, anginnya tiba-tiba wuuussh kencang banget. Payungku sampai terbalik. Jadi bengkok deh besinya, dan payungnya jadi lepek. Huhuu.. 
ki-ka: Ace, Mbak Muti, Ibank, aku
Besok harinya, aku update status di BBM begini 'payung pengantin rusak diterjang angin Kawah Ratu'. Lalu kapan hari, aku lupa, aku baca kabar Kawah Gunung Gunung Tangkuban Parahu aktif lagi. Dan kemarin, temanku, Aulia bilang sekarang status Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu waspada. 
Pantas saja waktu itu anginnya besar sekali ya. Bukan cuma payungku saja sih yang terbalik. Pengunjung lain juga banyak yang payungnya terbalik saat mereka mendekati pagar Kawah Ratu. Padahal di tempat yang agak jauh dengan pagar kawah, anginnya biasa saja, tapi begitu mendekati pagar, wuusssh anginnya swear deh menghempaskan cakrawala. 

Alhamdulillah Yaa Alloh, kami diberi kesempatan ke sana sebelum dia aktif. Semoga sekarang dia sudah tidur lagi ya. Aamiin :)    

by. si Famysa, a happy wifey :)

Minggu, 04 Januari 2015

Our Wedding; Our Happy Day

Hello, Januari.. Hello, teman-teman... Selamat tahun baru... Semoga semangatmu semakin terbarukan! :)
Btw apa kabar nih, cems? Ada yang kangen gak sih sama aku? Ada yang kangen gak sih sama postingan blogku? Hhehe
Lama gak nongol di sini, tiba-tiba hari ini aku mau kasih kabar gembira kalau aku sudah jadi istrinya suamiku. Bahaha... *ya iya laah, masa istrinya omku :P
Hari Jumat, tanggal 26 Desember tahun lalu (alias tahun 2014), pukul 10.22 WIB, saya Syifa Azmy Khoirunnisa resmi menjadi seorang istri dari sahabat saya sendiri, Muhammad Iqbal Hendrawan (Ibank). Kalian kaget mendengar kabar bahwa aku sudah menikah? Sama, aku juga kaget. Hahaha... Berasa mimpi, berasa banyak tanda tanya, berasa pengen mesem-mesem sendiri. Hehe.. Ternyata, aku sudah besar ya, sudah punya suami sekarang mah, bobonya gak sendiri lagi sekarang mah. :P
melati sama bunganya palsu. maklum MUAnya jauh dari Semarang. kalo bawa yang asli keburu layu pas hari H :P
Banyak yang bilang malam sebelum hari ijab-qobul diucap kamu gak akan bisa tidur nyenyak karena jantung yang berdebar kencang akibat dag-dig-dug-ser. Aku jadi teringat waktu kakak sepupuku mau nikah, malam harinya dia masih sms-an denganku sampai menjelang jam 1 dini hari. Bahkan waktu aku bangun subuh, ternyata kakak sepupuku sms lagi sekitar jam 3 dini hari, katanya "Neng, aa gak bisa bobooo. Deg-degaaan...." Lalu temanku juga kirim bbm, dia nanya gini, "Fa, gimana kondisi hatimu sekarang? *emot nyengir*" Kujawab, "biasa aja." Hmm... Jujur ya, ya memang biasa saja, kalaupun aku gak bisa tidur, itu karena khawatir sama Mbak Muti (MUA nikahanku) yang jatuh sakit akibat buslag, persiapan yang belum beres, ditambah panitia yang check sound speaker pakai lagu sakitnya tuh di sini pas banget di depan kamarku (kebayang kan berisiknya gimana? -__-). Ah pokoknya sampai saat ini belum ada yang bisa mengalahkan dag-dig-dug-ser-nya dan gak bisa tidurnya sebelum sidang skripsi deh. Hahaha...
Terus, banyak yang bilang juga kalau calon pengantin itu harus dipingit, gak boleh kemana-mana, gak boleh ngerjain apa-apa, pokoknya diam di rumah saja, merawat diri, mempersiapkan diri. Beuuh, itu tidak berlaku untukku. Saya mah calon panganten setrong atuh.. H-1, subuh-subuh aku dan si Aa menjemput Mbak Muti di Pusakaratu-Subang. Sesampainya di rumah, aku nyiapin suguhan buat tukang yang pasang tenda. Siangnya, aku menjemput mamah di pasar lalu belanja lagi. Lalu disuruh beli air mineral gelas, lalu disuruh beli rokok. Malamnya, disuruh masak air panas buat suguhan lagi, disuruh cari alas meja, disuruh-suruuuh terus. Belum lagi rada-rada kesal karena kamera pinjaman Sakola Printing malah dipinjamkan lagi ke orang lain, dan malah aku yang disalahkan karena tidak menjelaskan detail blablabla. Sampai cemberut lah ini muka. Cius deh -__- Ini calon pengantin apa babu?, gumamku dalam hati. Maklum deh kalau jauh sama keluarga & sahabat mah gini nih. Semoga pengalamanku ini tidak terjadi pada kalian yaa :D *yang belum atau mau nikah.
Pagi itu aku bangun sebelum adzan subuh. Aku mandi, solat, dan sarapan subuh-subuh :P Mbak Muti masih tidur (karena memang sedang libur solat). Mau aku bangunkan, gak tega. Kalau gak dibangunkan, takut kesiangan dandannya. Huft.. Akhirnya kutunggu saja. Dan akhirnya Mbak Muti bangun jam 5 lebih. Kemudian mulai meriasku sekitar jam setengah 6. Mendekati jam 7 keluargaku dari Gantar & Bongas-Indramayu, Patokbeusi-Subang, dan Cikampek-Karawang mulai berdatangan. Aku mulai nervous karena banyak yang mengintipku sedang dirias. :P
my Timeless yang kini anggotanya nambah 1; Bima Putra Ramdhani (Aziz' son)
Satu per satu teman-teman dekatku juga datang. Pertama Opi yang kemudian jadi asisten Mbak Muti merias, lalu Siska yang berkelana dari Jakarta demi aku *terharuu :'), lalu Lina dengan ibunya, lalu Kokom yang katanya mau lihat aku dirias malah kesiangan datang :|, lalu aku dapat kabar dari Siska bahwa Semarang Genk sudah sampai masjid lokasi akad nikah, katanya bau habis perjalanan jauh, mau pada mandi dulu. Haha.. Lalu selesai aku dirias, aku melihat ke luar dari jendela kamarku, di sana ada cowok-cowok Timeless. Uuuu.... Sumpah aku terharuuu :'))) Karena bagiku, kehadiran segelintir sahabat dan teman dekat lebih dari cukup daripada kehadiran ratusan orang jauh. :)
with Mbak Muti, my fave MUA in this world :D
Dari dulu, aku membayangkan pernikahanku akan berbeda dari pernikahan biasanya di sini. Yang biasanya pakai kebaya putih-jas putih, aku pakainya gaun putih-jas hitam ala-ala gaya modern tapi tetap islami. Yang biasanya calon pengantin wanita dikeluarkan pada saat seserahan, yang biasanya pengantin pria dan wanita disandingkan pada saat akan ijab-qobul, aku inginnya aku tetap ditahan di dalam, dan dikeluarkan ketika sudah sah nanti. Tapiii... Ada yang gagal total. Entah kenapa MC malah jadi nurut sama sesepuh yang sedang memberi sambutan. Bapak sesepuh memanggilku untuk keluar, dan akhirnya MC memintaku untuk keluar. Bah, padahal sebelumnya susunan acara sudah fix, aku tidak akan keluar saat seserahan, hanya mamah yang akan keluar mewakiliku untuk menyatakan penerimaan. Kalau begini, untuk apa aku disembunyikan lagi? Ya sudah lah, aku pergi ke masjid barengan dengan rombongan pengantin pria saja.
Semarang Genk
Di masjid, saat yang lain merapat ke depan mendekati pengantin pria, aku tetap diam di shaf belakang. Satu mimpiku gagal terwujud, kini saatnya aku mewujudkan mimpiku untuk tidak duduk bersandingan dengan pengantin pria sebelum kata sah terucap dari para saksi yang hadir. Sekalian uji nyali Ibank kan. Hahaha :P *Agak aneh ya, hari nikahan juga masiiiihh saja memikirkan mimpinya sendiri. Syifaaaa :P :P
Sakola Printing Owners; ki-ka: Welly, Ibank, Syifa, Syiha
Ketika acara akan segera dimulai, sahabatku, Kokom bertanya padaku, "Neng, deg-degan gak?", dengan santai kujawab, "Nggak. Belum mungkin, Kom." Kokom membalas lagi, "Kokom mah deg-degan loh, Neng.." Lalu saat pembacaan ayat suci Al-Quran berlangsung, Kokom bertanya lagi, "Neng, masih belum deg-degan?", kujawab dengan jawaban yang sama, "Belum, Kom." Kokom membalas lagi, "Iiiihh Kokom mah makin deg-degan. Masa Neng gak deg-degan sih? (lalu memegang tanganku) Tuuh tangannya dingin gini ah, pasti nervous kaan.." Dalam hati kubilang maksa amet, Kom minta Syifa bilang deg-degan. Haha :P. Kujawab, "Syifa kan emang tangannya dingin aja, Kom, emang begini. Kom lupa ya?" --- "Eh, iya ya... Duuh ini segala pakai acara ngaji dulu. Kan lamaa... Jadi makin deg-degan." --- "Hahaa yang mau nikah sebenarnya Syifa atau Kokom sih? :D" Dan saat Bapa & Ibank simulasi ijab qobul, saat itu lah darahku mulai berdesir naik dengan cepat. OMG, gue nervouuooss! Ini mimpi bukaaan?? Tapii... Ada banyak orang yang dengan kompak bilang "sah!" Alhamdulillaaah... *saat itu lah air mataku tiba-tiba menetes. Aku sudah jadi istri dari laki-laki yang berani memintaku pada kedua orang tuaku :')))))
itu adikku, bukan pacar keduaku. hhahaa :P
Selesai segala rangkaian acara, Ibank juga cerita, katanya Welly keluar masjid saat ijab-qobul akan dimulai, katanya Welly gak kuat menyaksikannya, Welly takut nangis karena terharu. Hihihii... Lalu ketika aku akan berganti baju, datang Mbak Dian sekeluarga. Mbak Dian yang kukenal saat magang dulu sudah kuanggap seperti kakak kandungku sendiri. Alhamdulillaaah Yaa Alloh.... Ada sahabat-sahabat yang begituu dekat, bahkan seperti lebih dari keluarga kami sendiri...
hanya ini satu-satunya foto keluarga yang rada bagus, lainnya gak pada KoBe (kontrol beungeut) -__-
Well, lemme tell you all, kemarin itu hanya akad nikah saja.. Acaranya juga sangat sederhana, hanya dihadiri keluarga dan teman dekat saja. Jadii maaf yaa kalau tidak sebar-sebar undangan khusus. Insya Alloh nanti resepsinya menyusul jika ada rejeki lebih. Aamiiin :) :) :)

NB: 
Terima kasiiihh buat teman-teman yang sudah repot-repot meluangkan waktunya untuk hadir di acara akad nikah kami, terima kasiiihh buat kadonya, terima kasih buat segala doa-doa terbaiknya untuk kami... 
Spesial buat Mas Hafid & Mas Doma, terima kasiiih masih inget sama Syifa, terima kasih masih anggap Syifa adik kalian, terima kasih buat amplopnya. hihihii...
Pokoknya terima kasiiih yang tak terkira buat semua-mua-muanyaaa. We Love You All :* :*

by. si Famysa, Ibank's wife ^^

Minggu, 06 Oktober 2013

18 Tahun Sebuah Bahtera

Perempuan mana yang ingin dinikahi oleh laki-laki yang sudah beristri tanpa sepengetahuannya? Perempuan mana yang tidak sakit hati ketika tiba-tiba ada ibu hamil yang mendatanginya, dan berkata bahwa bayi yang dikandungnya adalah anak suaminya? Perempuan mana yang mau mengakui ‘anak tiri’ dari asal-usul yang menyakitkan seperti itu?

Penasaran? Masih sanggup lanjut membaca tulisan ini? Yang sanggup silahkan diteruskan... Yang tidak sanggup silahkan lambaikan tangan dan angkat bendera putihmu!

23 tahun yang lalu, hari bahagia itu datang. Keluarga, sanak saudara, karib kerabat, semua berkumpul dalam satu tempat. Panasnya wilayah Pantura tak sedikit pun menyurutkan kebahagiaan dari semua yang hadir kala itu. Apalagi bagi pengantin wanita. Ini merupakan pernikahan pertamanya. Berbeda dengan pengantin pria, dia sudah pernah menikah sebelumnya. Ya, perawan dapat duda.
Prosesi pernikahan berlangsung dengan adat Sunda. Sungkeman, siraman, memecahkan kendi, menginjak telur, membasuh kaki suami, rebutan bakakak (ayam panggang utuh, belum dipotong-potong), suap-suapan bakakak, lagu-lagu Sunda, saweran, salam-salaman, dan lain sebagainya. Alangkah indahnya jika kita yang membaca bisa melihat momen itu juga :)

Pengantin wanita hanya ‘kosong’ satu bulan. Tuhan telah menitipkan amanah kepadanya. Alangkah bahagianya pasangan suami-istri itu ketika mengetahui mereka akan menjadi ayah dan ibu.

“Semoga kamu tumbuh menjadi anak yang membanggakan ibu dan ayah, Nak..” seringkali kata-kata ini terucap dari pengantin wanita, sambil ia mengelus perutnya yang belum terlihat seperti sedang mengandung.

Langit gelap. Jalanan Pantura sepi dari kendaraan. Dalam senyap kilat menyayat mega yang sedang mendung. Gelegar mengikuti seolah tak mau kalah berlomba dengan kilat. Rintik perlahan turun. Rintik datang bersama teman-temannya menyerbu bumi. Tidak lagi perlahan, tetapi berlarian, berkejaran tak beraturan. Dan bumi pun basah. Ia tak kuasa membendung rintik. Pasrah...
“Demi Tuhan! Bayi yang saya kandung ini adalah anaknya suami kakak Anda.” Wanita itu menyalak sambil menangis. Suaranya terdengar agak kabur, namun menakutkan.
“Bu, kakak ipar saya bilang bahwa dia sudah bercerai dengan Ibu. Tidak mungkin Ibu mengandung anak kakak ipar saya.” Takut-takut adik pengantin wanita berkata. Dia juga tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Wanita itu cantik, seksi, kulitnya putih bersih, ia seperti keturunan China. Apa benar wanita itu lah mantan istrinya pengantin pria? Pengantin pria tidak ganteng, juga tidak kaya. Orang yang memandang pasti akan sangsi seperti adik pengantin wanita.

aku bisa melihat kepedihannya dalam album itu. "pengantin al-munafiqun", "bagus luarnya saja, dalamnya busuk", "kedok!" 
Oh Dear... Mengapa aku masih saja bertanya.

Pengantin wanita bertahan demi bayi yang ada dalam kandungannya. Percuma minta cerai pun, karena wanita hamil tidak boleh diceraikan.
Dalam diam ia bertahan. Dalam diam ia menyembunyikan perih. Pengantin pria tetap suaminya. Suami yang harus ia percayai. Suami yang akan selalu dibelanya melebihi keluarganya sendiri.

“Kamu adalah obat hati Ibu. Kamu yang membuat Ibu bertahan. Kamu akan menjadi wanita yang sangat tabah, menjadi wanita yang terpilih, menjadi wanita yang baik...” Terselip doa dalam tangisnya ketika pertama kali ia menggendong sosok mungil, bayinya. Doa itu akan selalu hidup selamanya, menemani setiap tumbuh kembang bayinya hingga kelak ia menjadi dewasa dan tiada. Doa itu bersemayam dalam nama bayinya.

Enam tahun kemudian setelah pengantin wanita dan suaminya hijrah ke kecamatan lain...
“Iiiihh anak laki-laki itu kok mirip banget sama anaknya tetangga saya ya... Hidungnya, hitam-hitamnya, matanya, cara jalannya, pemalunya, semuanya deh.. Siapa sih anak itu?” rumpi ibu-ibu di warung.

18 tahun. Seharusnya di usia ini, seorang remaja sudah mulai menginjak dewasa. Dewasa dalam bersikap, bertutur kata, berpikir, dewasa dalam menjalani hidup. Film-film tertentu yang bertanda 18+ pun sudah bisa ditontonnya. Namun sayang, terkadang remaja lepas dari bimbingan dan pengawasan orang tua. Ia bukannya menjadi dewasa, tapi malah berantakan dan hidup tak karuan.
18 tahun. Bahtera yang dari awal memang sudah keropos, lambat-laun ia lapuk. Isinya tidak sepenuhnya hilang. Tetapi menjadi puing berserakan yang mungkin dapat mencelakakan banyak orang.
18 tahun.

Teramat pedih. Dadaku sesak menuliskan ini. :’(

“Ya, anak laki-laki itu memang mirip sekali denganku. Kami bagai pinang dibelah dua.”
“Subhanallah.... Allah memang akan menampakkan apa yang tersembunyi. Percuma dulu pengantin pria mati-matian tidak mengakuinya. Akhirnya rumah tangganya hancur tidak dapat diperbaiki. Tapi kalian tidak lagi bisa dipungkiri. Allah memang Maha Hebat. Dengan kehendak-Nya, dua orang yang berbeda jenis kelamin, berbeda rahim, tapi bisa seperti anak kembar... Dunia pun akan bisa melihat kebenarannya tanpa harus diteriakan,” ujar adik pengantin wanita.
Kisah pernikahan ini diikutsertakan pada Giveaway 10th Wedding Anniversary by Heart of Mine 

Mak Uniek... Semoga kisah ini dapat menjadi pelajaran bagi Mak Uniek khususnya, serta bagi semua pembaca pada umumnya...
Semoga Mak Uniek dan suami TIDAK AKAN mengalami hal menyakitkan seperti ini. Semoga pernikahan kalian selalu langgeng dan penuh barokah. Biarlah hanya maut yang berhak memisahkan kalian. Aamiiin....

By. Si Famysa, gue mewek. Asli.

Selasa, 01 Oktober 2013

Family Time; Jak-Japan Matsuri at Monas

Dari hari pertama datang, Bibi sudah menanyakan hal ini padaku. “Teh, Minggu jalan-jalan yuk... Tapi kemana? Ibi mau nganterin baju buat Zahra (anak pertama Bibi, kelas 3 SMP) ke pesantren. Abis itu kita bisa jalan-jalan. Kemana yaa enaknya?”
Aku jawab sekenanya, niatnya sih cuma bercanda. “Ke Monas yuk, Bi. Lagi ada Festival Jepang di sana.”
Eeh Bibinya malah mengiyakan. “Waah boleh tuh, Teh. Hayuu aja... Searah juga kan sama pesantren. Abis dari Cikarang kita langsung ke Jakarta.”
Wihiii... ekspresiku antara senang dan emoticon segaris -_-. Kalau tahu jawabannya bakal ‘hayu aja kemanapun’, aku bakal bilang ke Bandung aja deh.. Perasaanku lagi kangen sama Bandung. Padahal ada apa dan siapa yaa di sana. Hehee... 
Baru hari Jumat aku menginjakkan kaki di Ibukota, sekedar untuk transit. Hari Minggunya aku justru kembali lagi menyapa Ibukota. Hello, Jakarta... :)
Kami berangkat dari rumah jam 8 pagi. Setelah mobil melaju sekitar 20 menitan, Bibi baru ingat STNK mobil dan obat batuk Haura tertinggal di rumah. Putar balik deh. “Untung sopirnya Ace. Kalau orang lain mah gak enak kan pas ada hal-hal kayak gini tuh,” kata Bibi. Ace hanya nyengir, dikiit..
Kami berangkat lagi dari rumah untuk yang kedua kalinya sekitar jam 9 pagi. Mampir dulu ke tempat perbelanjaan untuk belanja stok toko Bibi. Kami baru sampai pesantren ketika hari sudah masuk waktu dzuhur. 
Oh ya, kami ke sana berlima. Aku, Bibi, Khansa & Haura (Bibi’s daughters), dan Ace (sepupu, anaknya Uwa). Sayangnya kami tidak bisa mengajak Zahra. Jangankan mengajak, bertemu pun tidak bisa. Para santri sedang tidak boleh dijenguk sampai bulan Oktober. Keluarga hanya diperbolehkan menitip barang untuk santri. Karena tidak bisa bertemu Zahra, akhirnya kami langsung menuju Jakarta. Waktu menunjukkan sekitar jam 2 siang ketika kami keluar dari gerbang pesantren.  
Monas hari itu dipenuhi manusia. Ya iya lah.. kan lagi ada festival.. Semakin mendekati Monas, suasana Jepang sudah mulai terasa. Banyak orang berlalu-lalang membawa kipas dari festival, memakai ikat kepala berbendera Jepang, memakai kimono, pokoknya terlihat asesoris-asesoris berbau Jepang menempel pada orang-orang itu. Hmm... sepertinya di dalam sana menyenangkan :)
Sesampainya di Monas, kami makan dan solat ashar dulu. Setelah itu baru deh kami masuk ke festival.
Aku, Bibi, dan Haura duluan mengantri tiket. Sedangkan Ace menemani Khansa yang ingin bermain motor-motoran dulu di halaman depan Monas. Harga tiket masuknya Rp 25.000,-/orang, dapat kenang-kenangan kipas. Heu.. jadi ini tho kipas yang dari tadi dibawa orang-orang tuuh..
Jak-Japan Matsuri 2013, Japan Festival in Jakarta
Closing Event at Monas. Sun, 8 Sep 2013, 11:00 – 21:00

Tulisan di tiket masuknya seperti itu. Memang waktu kami ke sana bertepatan dengan penutupan/hari terakhir festivalnya. Makanya rame banget. Apalagi itu hari Minggu. Semua orang tumpah ruah lah di sana.

Menurut kamus Diaz (nanya Diaz :P), matsuri (Bahasa Jepang) itu artinya festival, pesta, atau keramaian. Event ini mungkin diadakan setiap tahun kali ya.. Soalnya bertepatan dengan peringatan hubungan persahabatan Indonesia dan Jepang (kemarin peringatan ke-55 tahun). Di tiketnya ada tulisan gini juga “5elalu Ber5ama, Indonesia-Jepang”. Maaf yaa aku kurang tahu mengenai event ini... Teman-teman yang lebih tahu monggo share di kolom komentar yaa :D
Sumpek dan gerah. Itu kesan pertamaku begitu masuk area festival. Di sana buanyaaak sekali orang. Aku terserang dilema. Antara penasaran ingin mengelilingi semua stand dan pegal karena menggendong Haura dengan memakai sandal berhak 3 cm. Ampuuun dijeeh :O
Kami hanya sempat mendatangi stand-stand produk elektronik Jepang, stand travel wisata ke Jepang, dan stand popok bayi (tadinya bibi mau beli. Pas tanya harganya, eeh SPGnya bilang ‘gratis’, ini memang untuk dibagikan ke orang tua yang membawa babynya. “Hihihi... jadi malu,” kata Bibi :D). Banyak stand makanan yang hanya kami lewati begitu saja. Eh tapi Khansa sempat mendatangi stand yang menjual minuman, karena memang dia kehausan. Dari kejauhan, minumannya terlihat menggoda, warnanya hijau kecoklatan, dingin, sepertinya segar sekali di tenggorokan. Khansa membeli 3 gelas. Aku, Khansa, dan Ace dengan semangat meminumnya. Srupuuutt.... “Teh, gak enak iih minumannya. Dikira tuh enak, manis, atau asem. Eeh malah pahit. Buat Teteh aja ah niih..” Aku lupa. Hari itu kan kami sedang berada di tengah budaya Jepang. Jelas saja green teanya pahit. Memangnya green tea ala Indonesia yang pakai gula -_-
Giliran ketemu stand makanan Jepang yang gratisan aja... baru deh kami tertarik. Bibi yang paling semangat. “Teh ayo masuk ke sini, Teh.. Ngantri... Pengen nyobain kayak gimana sih jajanan Jepang.” Hahaha... Kami rela mengantri hanya demi sesuap makanan Jepang gratisan (nama makanannya apaa, aku lupaa). Padahal yang gak gratis banyak berjajar di stand, tinggal dipilih :P
Karena sudah capek, kami akhirnya memutuskan untuk segera keluar dari area festival. Di perjalanan menuju pencarian pintu keluar, Bibi menemukan stand makanan khas Betawi. Bibi membeli kerak telor, selendang mayang, dan bir ala Indonesia (berbahan jahe). “Ini kita ke Festival Jepang tapi kok belinya makanan khas Jakarta ya..” candaku – “hahahaa iya yaa... Ngaco!” kami berlima tertawa semua. Memang ngaco sih. Ada-ada ajaa yaa -_- :P
Setelah keluar dari area festival, Bibi membeli kacang dan kaos bergambar Monas untuk Khansa dan Haura. Lalu kami juga berfoto berlima dulu menggunakan jasa foto sekali jadi. Foto sudah jadi. Waktu maghrib pun memanggil. Sebelum pulang kami solat maghrib plus isya dulu, supaya tenang dalam perjalanan. 
Kami makan malam di rest area tol. Pizza Hut menjadi tempat yang kami pilih. Setelah kenyang makan semangkuk salad dan satu iris pizza, ditambah capucino, perutku dipaksa untuk menampung satu iris pizza lagi. Whuaa.... Bukan aku saja sih.. Ace dan Bibi juga bernasib sama. Aku harus menghabiskan pizza sisa Khansa, Bibi menghabiskan pizza sisa Haura, dan Ace menghabiskan satu iris pizza utuh. Hahaha... Ace memang luar biasa kalau soal makan :P Walhasil kami bertiga kekenyangan....

Yaa begini lah kelakuanku dan keluargaku kalau sudah berkumpul dan jalan-jalan. Bagaimana dengan kalian dan keluarga? :)

Perjalanan pulang selalu terasa lebih melelahkan daripada perjalanan berangkat. Tapi memang begitulah suatu perjalanan. Walaupun lelah, namun banyak hal yang kita dapat. Banyak pelajaran dan pengalaman dari setiap perjalanan hidup manusia :) ~Famysa~

note: aku baru tahu kalau di acara penutupan hari itu menghadirkan Agnes Monica dan JKT 48, dari twitternya +AGNEZ MO, sewaktu perjalanan berangkat. whuaa coba tahunya dari kapan hari... mungkin aku tidak akan pergi ke festival bersama keluarga. huhuhu... next time kita pasti ketemu ya, Kak Nez :)

By. Si Famysa, love my family so much :*

Mijn Vriend