Tampilkan postingan dengan label Obsesi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obsesi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Oktober 2015

Selamat Hari Blogger Nasional

Yayy!! Ini rekor terlamaku meninggalkan blog ini, 5 bulan lebih, fantastic! *padahal sungguh ini bukan hal yang patut dibanggakan :P

5 bulan lebih meninggalkan rumahku ini, Jejak Si Miaw, tak terasa hari ini tiba-tiba bertemu dengan Hari Blogger Nasional. Teman-teman blogger banyak yang bersuka-ria merayakan momen ini, walau hanya dengan melempar status di berbagai media sosial. Tapi aku... Hmm... Rasanya aku malu untuk sekedar nyetatus Selamat Hari Blogger Nasional. Apa-apaan kan, wong aku sedang cuti panjang dari dunia blogger. Iya, selama 5 bulan lebih ini aku sama sekali tidak pernah menyentuh rumahku sendiri, apalagi mengunjungi rumah orang lain.

Lagi-lagi, alasannya klasik, seperti yang sudah-sudah, atau seperti alasan kebanyakan blogger, yaitu tidak sempat a.k.a tidak ada waktu a.k.a malas. Intinya itu sih. Adapun alasan lainnya ya itu sih sebagai alasan penunjang aja, hehe..

Aku masih sangat ingat, aku terakhir menulis postingan blog pada tanggal 15 April lalu. Setelah itu, datang berbagai situasi dan kondisi yang membuatku malas ngeblog. 

Pertama, aku sakit pasca imunisasi di usia kehamilanku ke-3 bulan, lumayan lama, lebih dari 2 minggu. Awalnya hanya batuk-pilek biasa. Lama-lama demam, lemas, bahkan diare panjang. Dalam sehari aku bisa BAB -gak normal- minimal 6 kali. Sudah lah sedang demam, tapi harus bolak-balik kamar mandi dan menyentuh air terus, jadi lah demamnya semakin lama.

Kedua, setelah sembuh dari sakit panjang, laptop yang biasa kugunakan ngeblog nge-hang. Sudah diinstal ulang pun tetap saja lemot. Mungkin karena faktor U dan mungkin karena dia sudah lelah diforsir terus untuk Sakola Printing, akhirnya dia ingin diperlakukan secara khusus. Well, akhirnya hanya ada 1 laptop yang bisa digunakan secara aktif, dan laptop itu lebih diprioritaskan untuk operasional Sakola Printing. Laptop pribadiku sendiri tidak bisa digunakan leluasa karena kabel charger-nya sudah rusak, biasa kusebut dia charger senggol-bacok, hahaha... Karena bergeser atau tersenggol sedikit saja, ya sudah, laptopnya mati. Maklum, batre laptopnya sudah lama wafat. Laptopnya juga sudah tua, sudah dari 2009 dia bersamaku, wajar kalau sekarang dia sudah tidak setangguh dulu.

Ketiga, kesibukan mengurus Sakola Printing dan Famysa Batik & Handmade benar-benar mengalihkanku dari dunia ngeblog. Apalagi di Sakola Printing, hari demi hari, pelanggannya makin ramai, orderannya makin numpuk, sedangkan sampai saat ini belum ada karyawan tetap, hanya ada beberapa orang yang biasa dipanggil untuk bantu-bantu pekerjaan fisik. Untuk pekerjaan non fisik (desain, depan laptop) tetap saja masih ditangani aku dan suami. Ternyata sangat tidak mudah mencari karyawan yang mumpuni di kampungku sini. Kampung dasar yaa -___-

Keempat, perutku semakin membesar. Semakin tua usia kandungan, semakin besar perut, tentunya semakin beragam keluhan-keluhan yang datang. Keluhan-keluhan itu yang membuatku semakin melupakan blogku. Bahkan pekerjaan di Sakola Printing dan Famysa pun perlahan-lahan aku kurangi. 

Sekarang, entah kenapa aku ada kemauan untuk menulis postingan ini, hahaha... Alhamdulillah beberapa minggu yang lalu Sakola Printing membeli laptop baru, laptop yang spesifikasinya lebih baik dari laptop-laptop koleksi Sakola Printing lainnya :D Sekarang saja aku menulis sambil selonjoran dan senderan. Ah senangnyaa bisa menulis lagi di laptop tanpa duduk lesehan atau duduk di kursi ala-ala orang kantoran, daan tentunya tanpa repot colok-colok kabel charger... Hihihi...

Oh iya, teman-teman, beberapa hari lagi insya Alloh bayiku akan lahir ke dunia ini :) HPL-nya sih tanggal 30 Oktober besok. Tapi sampai hari ini sepertinya aku masih belum mendapat tanda-tanda mulas akan melahirkan, hehehe... Mohon doanya yaa supaya persalinanku nanti lancar.. Aku dan bayiku diberi kekuatan dan kesehatan, aamiin ^^

Semoga sajaa mulai hari ini aku bisa konsisten ngeblog lagi, bisa ikut meramaikan dunia blogger lagi, bisa ikut lomba-lomba ngeblog lagi, bisa ikut event-event blogger lagi, hihihi... Dan oh iya, semoga jugaa aku bisa merealisasikan wacanaku yang mau membuat blog khusus untuk anakku. Kan biar unyu bin kekinian yaa, hahaha :P

Sudah dulu yaa... bubye :* :*

by. si Famysa, si perut semangka, kaki gajah, gaya pinguin :P

Selasa, 24 Maret 2015

Mimpi-mimpiku

Dalam tugas UAS mata kuliah Kewirausahaan ini, saya hanya akan bercerita. Saya tidak anak menomorinya, karena saya hanya ingin bercerita. Semua jawaban dari keempat pertanyaan akan saya selipkan dalam cerita saya ini.

--0--

Saya percaya pada kekuatan Dream Book. Kurang lebih 3 tahun lalu ketika pertama kalinya motor Honda Scoopy diluncurkan, saya bermimpi bahwa suatu hari nanti saya akan dapat memilikinya atau setidaknya bisa mengendarainya dalam waktu lama. Kemudian saya mengunggah foto motor Scoopy ke dalam daftar mimpi saya di facebook. Kurang lebih dua tahun lalu ketika saya pulang kampung, Bapak saya bilang bahwa beliau membeli motor baru, motor Scoopy, warnanya pink. Bapak menawarkan agar saya saja yang memakai motor Scoopy ketika saya sedang di rumah. Saya gemetar ketika pertama kali mengendarainya. Saya berpikir bahwa ini lah cara Allah mewujudkan mimpi-mimpi saya, bisa melalui perantara orang tua, maupun melalui usaha sendiri atau pun orang lain.
Saya juga mengunggah foto benang rajut, kegiatan menulis buku, baju couple, dan butik batik ke dalam daftar mimpi saya di facebook. Sebenarnya masih banyak foto-foto lain yang saya unggah. Namun di sini saya hanya menyebutkan beberapa foto karena beberapa foto tersebut lah yang sekarang sedang saya usahakan untuk diwujudkan.
Waktu kelas 3 SMA, saya pernah jualan tali rambut rajutan karena saya hobi merajut. Saya unggah foto benang rajut agar menjadi motivasi saya untuk bisa melanjutkannya di sini, di bangku kuliah. Alhamdulillah sedikit demi sedikit, saya sudah mulai merajut lagi dan menawarkan hasil rajutan saya pada teman-teman kuliah. Antusiasme teman-teman cukup memotivasi saya untuk terus merajut dan berusaha. Penghasilannya pun lumayan untuk uang jajan.
Dari SMP, saya bercita-cita menjadi seorang penulis. Bakat menulis ini telah saya sadari sejak kelas 5 SD. Awalnya karena saya hobi membaca majalah dan novel, kemudian saya jadi terampil menulis dengan sendirinya. Dari SD sampai SMA pun, nilai yang paling besar adalah nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia. Padahal saya tidak perlu belajar lagi untuk pelajaran itu. Mengenai majas, puisi, pantun, karya sastra, dll, saya pun dapat dengan mudah memahaminya tanpa perlu mengulangi pelajarannya lagi. Sampai sekarang di bangku kuliah pun, saya merasa sangat beruntung karena saya pandai menulis. Saya mudah mengerti ketika ada tugas makalah, jurnal, penelitian, bahkan hingga seminar konsentrasi saya kemarin pun dipuji dosen penguji. Memang saya melihat, latar belakang seminar konsentrasi saya sangat berbeda dengan teman-teman lainnya. Dan ternyata memang hasil tulisan saya dipuji oleh dosen penguji. Dosen bilang latar belakangnya bagus, sudah sesuai dengan yang seharunya, merunut dari global hingga spesifik.
Saya pun mengunggah foto kegiatan menulis ke dalam daftar mimpi saya. Tanpa sadar, ternyata daftar mimpi saya telah membimbing saya untuk terus produktif menulis, walaupun sekarang masih dalam skala blog. Dari aktivitas blogging, sudah cukup banyak kejuaraan yang saya raih. Baik itu menghasilkan hadiah uang, voucher belanja, kenang-kenangan, tiket Jakarta Fashion Week, maupun buku. Setidaknya saya bisa mendapat nilai lebih dari blogging. Blog saya juga cukup ramai pengunjungnya. Sampai hari ini, kurang lebih sudah ada 30.000 orang yang membaca blog saya. Pengikutnya ada 202 orang. Angka yang tidak sedikit untuk bloger personal. Blog saya: www.bermimpimeraihsukses.blogspot.com. Silahkan dikunjungi! Selain sebagai blogger personal, saya juga merupakan anggota dari Forum Lingkar Pena, sebuah komunitas penulis besar di Inodnesia.
Saya juga memimpikan mempunyai butik batik, kaos couple, dan kerajinan tangan khas Yogyakarta. Sekarang, saya baru mempunyai online shop di FB Syifa Azmy Khoirunnisa (Famysa Collections). Barang yang saya jual di online shop saya adalah kaos merk Caping  (sekarang Jogja United) dan Gepeng Jogja, batik mengambil dari rumah produksinya di Jogja, kerajinan tangan khas Jogja mengambil dari lapak dan pengrajin langsung. Untuk batik, saya juga sudah mulai membuat desain-desain sendiri. Saya juga berperan sebagai model di online shop saya sendiri, karena pelanggan cenderung lebih menyukai barang yang dipakai (ada fotonya) oleh saya. Selain online shop ini, saya juga sudah display kerajinan tangan khas Jogja di toko saudara sepupu saya di Indramayu. Saya berperan sebagai supplier.
Saya bisa melakukan langkah-langkah dalam rangka pencapaian mimpi saya tersebut dengan kelebihan-kelebihan yang saya miliki. Pertama, saya ambisius sehingga saya akan memiliki tekad yang kuat untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan. Kedua, saya pekerja keras sehingga saya tidak suka terlalu banyak bersantai apalagi untuk melakukan hal-hal tidak penting yang hanya menyia-nyaiakan waktu saya. Ketiga, saya serius sehingga saya bisa fokus pada mimpi-mimpi saya. Keempat, saya mandiri sehingga saya bisa bertahan hidup walau tanpa kiriman uang dari orang tua, namun hingga saat ini saya baru bisa bertahan lima bulan tanpa kiriman, lebih dari itu belum pernah. Kelima, saya hemat sehingga saya bisa mempergunakan uang saya untuk modal usaha.
Sejatinya manusia biasa seperti saya, selain memiliki kelebihan pasti juga memiliki kekurangan. Satu hal yang masih menjadi kekurangan mendasar dalam diri saya adalah terkadang susah sekali memanage waktu. Saya masih sering keteteran dan tidak disiplin. Contohnya dalam hal memanage waktu kuliah, upload barang baru, menulis, dan mengurusi barang yang akan dikirim ke toko di Indramayu. Kadang jika ada waktu libur, saya sering menghabiskannya dengan tidur dan istirahat penuh karena saya merasa lelah pada aktivitas hari-hari sebelumnya. Kekurangan saya yang lain adalah egoisme dan individualis. Namun dari kekurangan saya sebagai seorang yang egois dan individualis, saya bisa menjadikannya sebagai kelebihan saya. Bahwa seorang yang egois dan individualis tidak akan terlalu terseret oleh arus buruk. Saya jadikan egois dan individualis saya sebagai suatu hal yang positif yang justru dapat membangun saya menjadi yang terbaik.
Target saya satu tahun ke depan adalah terus mengembangkan usaha yang telah saya miliki. Saya akan mempunyai butik pribadi, baik itu di rumah sendiri atau membeli / sewa ruko. Saya juga akan terus berusaha untuk bisa menjadi desainer pakaian batik yang memiliki brand / merk sendiri.
Benda yang harus saya miliki tahun 2013 adalah handphone Sony Ericsson Xperia android seharga kurang lebih 3 juta rupiah, kamera SLR Sony seharga kurang lebih 5 juta rupiah, dan handycam Sony seharga kurang lebih 5 juta rupiah. Saya memilih benda-benda tersebut karena saya butuh dan saya ingin. Saya membutuhkan hape yang canggih untuk kelangsungan bisnis online saya, juga untuk keperluan kuliah. Saya membutuhkan kamera XLR karena saya adalah seorang model untuk online shop saya sendiri. Tentu saja saya membutuhkan kamera yang kualitasnya lebih canggih daripada kamera digital biasa. Selain itu karena saya juga hobi fotografi. Saya membutuhkan handycam karena saya ingin, karena saya hobi merekam detik-detik kehidupan. Saya memilih merk Sony untuk semua barang tersebut karena saya sudah terlanjur suka pada merk Sony.
Pada tahun 2013 juga, saya harus bisa menerbitkan tulisan saya yang berjudul “Miaw Dungdung” dan kumpulan cerita pendek saya dan ibu saya. Kemudian pada tahun 2014, saya harus bisa menerbitkan novel saya yang berjudul “Asihan Bapa” dan tulisan nonfiksi “Hadiah Untuk Adik”. Seterusnya, saya akan menjadi penulis produktif dengan minimal menerbitkan 2 karya dalam bentuk buku dalam satu tahun. Selain terus aktif blogging.
Tahun 2015 setelah saya lulus kuliah S1, saya akan menikah dengan teman hati saya, Muhammad Iqbal Hendrawan. Bahkan untuk hal yang satu ini, lebih cepat saya rasa lebih baik. Untuk apa menunda kebaikan, bukan? Hanya orang yang bermental pekerja yang takut menikah karena alasan belum bekerja dan belum punya modal nikah.
Setelah menikah, saya ingin pergi bulan madu ke daerah pegunungan, Subang pun masuk ke dalam pilihan bulan madu saya. Saya ingin makan malam dengan suami di atas perahu di tengah danau, di sekitar perahu dihiasi oleh cahaya lilin.
Tahun 2017, saya merencanakan untuk sudah memiliki anak. Jika perempuan, namanya Nur Anbiya Venusyiq Firdhani. Jika laki-laki, namanya Nur Shidqi Marsyiq Firdaus. Syiq di belakang nama Venus dan Mars adalah singkatan dari Syifa dan Iqbal.
Saya tidak ingin membangun rumah di tempat lain, karena saya pikir rumah orang tua pun sudah cukup. Bukan berarti saya tidak ingin lepas dari orang tua, tetapi saya lebih memandangnya dari segi Manajemen Lingkungan. Saya sebagai lulusan administrasi publik tidak ingin menghabisakan lahan Indonesia hanya untuk tempat tinggal pribadi. Toh manusia pun tidak akan selamanya hidup kan? Begitu pun dengan saya maupun orang tua saya. Saya hanya akan merenovasi rumahnya menjadi pinky-purple-green or rainbow house. Saya juga ingin tetap tinggal di rumah di Cipunagara Subang karena saya ingin mendirikan taman baca / sanggar belajar dilengkapi dengan perpustakaan untuk anak-anak / siswa-siswa di sekitar kampung saya. Saya prihatin dengan keadaan pendidikan mereka. Makanya saya ingin tetap di sana untuk memotivasi dan memfasilitasi mereka untuk maju dan bersaing dengan pendidikan.
Tahun 2019, saya harus sudah bisa memiliki mobil Nissan Macra C+C Pink Barbie atau Honda Jazz warna pink. Karena saya hobi travelling, saya ingin mobil ini menemani saya keliling Indonesia, bahkan dunia.
Tahun 2020, ketika anak pertama saya sudah berumur 3 tahun dan saya sudah memiliki cukup modal rohani dan ragawi, saya akan pergi haji bersama suami. Jika orang tua saya belum pergi haji sampai saat saya akan pergi haji, saya juga akan mengajak serta mereka dengan tentunya membiayai segala sesuatunya.
Tahun 2021, saya ingin mendirikan sebuah Cafe Jagung dengan menu andalan jagung bakar sambal setan. Pertama-tama berlokasi di Jogja, kemudian di Semarang dan Subang, hingga terus menjamah seluruh wilayah di Pulan Jawa dan Indonesia. Untuk jagung bakar ini sendiri, saya sedang mengusahakannya dari sekarang dengan cara menjadi pedagang kaki lima (PKL) bersama Iqbal dan temannya di Jogja.
Tahun 2022, saya ingin mendirikan asrama Subang / Jawa Barat di Semarang. Karena hingga saat ini himpunan mahasiswa dan pelajar dari Kabupaten Subang belum terbentuk dengan baik, maka perlu kiranya ada sebuah asrama yang dapat mempersatukan mereka. Tujuannya agar mereka bisa lebih kreatif merumuskan hal-hal positif untuk Kabupaten Subang khususnya, dan untuk Indonesia umumnya.
Mengenai semua mimpi-mimpi saya yang besar ini, terutama mimpi untuk menjadi penulis dan pengusaha, pernah suatu waktu sahabat saya bertanya seperti ini, “memangnya kamu yakin tidak akan bekerja pada orang lain, Syif?”, dengan nada sinis dan seolah meragukan kemampuan saya. Kemudian saya jawab, “mungkin akan. Tapi itu hanya sekedar untuk bentuk pengabdian saya kepada negeri ini, sebagai bentuk berbagi / mempraktekkan ilmu yang telah saya dapatkan selama ini. Bukan untuk bekerja dalam artian mencari uang.”
Kondisi saya saat ini mungkin sama dengan sahabat saya yang bertanya di atas. Kami sama-sama perlu mencari uang tambahan untuk biaya hidup di perantauan karena kiriman dari orang tua sangat terbatas. Namun bedanya, saat ini saya keukeuh dan fokus dengan usaha saya sendiri walaupun tidak ada jaminan nominal uang tiap bulannya. Sedangkan sahabat saya sekarang bekerja part time sebagai pelayan restoran. Saya memilih untuk tidak mencari uang dengan bekerja part time karena saya pikir dengan bekerja tidak sesuai dengan mimpi saya, maka saya hanya akan membuyarkan mimpi-mimpi saya secara perlahan. Saya memilih untuk tetap fokus mengurus online shop, menulis, dan menjadi supplier. Sambil sekali-kali membuat desain baju batik sendiri. Saya memilih jalan ini karena saya yakin bahwa Allah sangat menghargai proses dan kerja keras dari kesungguhan saya akan mimpi-mimpi saya.
Alasan lain mengapa saya tidak memilih untuk bekerja pada orang lain adalah karena background keluarga saya. Sejak SD hingga SMA, orang tua saya tidak pernah sekali pun datang ke acara pembagian raport untuk mengambilkan raport saya. Selalu saja tetangga, om, bibi, bahkan bapak kos (ketika SMA) yang mengambilkannya. Kedua orang tua saya selalu beralasan sibuk bekerja. Mungkin mereka harus profesional dengan tidak boleh meninggalkan pekerjaan barang sebentar demi anaknya. Padahal saya selalu rangking 1 atau masuk 10 besar (SMA). Namun ternyata prestasi itu pun tidak bisa menarik perhatian orang tua saya. Oleh karena itu, saya tidak ingin kelak anak-anak saya merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan karena ibunya adalah seorang pegawai (karyawan). Saya akan jadi manusia independen, saya akan jadi seorang pengusaha yang bisa memberi penghidupan bagi orang lain.
Saya 10 tahun yang akan datang adalah saya yang lebih mahir menulis dan lebih mahir berbisnis. Saya 10 tahun yang akan datang adalah seorang ibu yang memberi perhatian penuh pada anak-anak tanpa terhalang kesibukan kerja. Saya 10 tahun yang akan datang adalah seorang yang lebih terampil dalam berkomunikasi dan bergaul, ramah, menyenangkan banyak orang. Dengan saya 10 tahun yang akan datang, saya akan dapat berbagi banyak ilmu dengan orang lain.
Untuk mencapai semua mimpi saya sepuluh tahun ke depan, saya harus tetap berusaha dengan kelebihan-kelebihan yang saya miliki. Serta meminimalisasi kekurangan saya, atau merubah kekurangan saya menjadi kelebihan saya. Saya harus lebih giat berusaha dan berdoa, serta bersyukur. Saya harus tetap rendah hati, dermawan, dan tetap menanamkan nilai-nilai Islam dalam diri saya. Insya Allah, pasti bisa!!

NB: Tulisan ini adalah tugas UAS (take home) mata kuliah kewirausahaan (semester 6, tahun 2013) yang diampu oleh Bapak Edi Nugroho, S.A.P. Soalnya ada 4, maksimal halaman tugasnya cuma 6 halaman. Jelas itu tidak cukup bagiku, haha :P Aku juga gak tahu teman-teman lain bikin tugasnya seperti apa. Apakah menjawab per nomor atau sama seperti aku model curhat begini :P Yang jelas, ini adalah tugas UAS yang paling bikin aku happy. Serius deh! Gak ada beban banget ngerjainnya.. Malah sambil senyum-senyum sendiri dan semangat menggebu-gebu. Gak nyangka aja ternyata banyak sekali mimpi yang pernah aku tuliskan, sedikit demi sedikit telah terwujud. Meski dengan alur yang agak beda (karena skenario Alloh jelas lebih indah dari rencana manusia :)), tapi tetap berjalan menuju titik yang sama.

Thanks a lot, Mr. Edi.. Bapak akan selalu jadi dosen favoritku sepanjang masa :)
And I promise, Pak.. Someday I will make my dreams happen!! 

by. si Famysa, a dreamer

Sabtu, 14 Maret 2015

Proudly Present: Camilan Mih Anih

Dulu, waktu pertama kali berikrar akan menceburkan diri sepenuhnya ke dalam dunia bisnis, rasa-rasanya aku sendirian, tidak punya teman. Mamah, sangat penuh pertimbangan, ujung-ujungnya ya enggan berbisnis. Bapa, yang padahal orang bisnis, entah kenapa bersikeras melarangku terjun ke dunia bisnis dengan berbagai alasan. Ibank, paling hanya mendengarkan ceritaku saja, tapi dia lebih memilih kerja jadi karyawan daripada bisnis. Kokom, dan teman-teman lainnya, seperti hanya menyimak tapi tidak ikut merasakan gejolaknya. Hmm… Pokoknya aku seperti tersasar sendirian ke dunia yang baru dan penuh tantangan.
ini dia sahabatku, partner bisnisku, Kokom Komariyah
Sekarang, semua keadaan berbalik. Alloh memang Maha Pembolak-balik hati yaa.. Bisa jadi yang tadinya tidak kau sukai, jadi teramat kau sukai, pun sebaliknya :). Mamah, sedikit demi sedikit mulai mendukung bisnisku. Cara kecil yang mamah lakukan adalah memberiku suntikan modal walau tidak seberapa, bahkan memberikan pinjaman. Bapa, walau masih setengah hati, tapi sepertinya Bapa agak berdamai dengan keputusanku ini. Ibank, laki-laki ini berubah 180 derajat. Sekarang semangat dan inovasi bisnisnya hampir menyaingiku :P. Dan satu lagi, sahabat karibku yang satu ini, Kokom, dia juga ikut terjun ke dunia bisnis, 100% nyemplung! Hebat kan?! :D

Kisah berawal dari kehidupan dunia kerja Kokom di kantoran yang mulai tidak nyaman. Yang berkuasa di kantornya sudah mulai main sikut kanan-sikut kiri. Kokom adalah salah seorang karyawan yang kena sikut itu. Padahal, sudah lebih dari 4 tahun Kokom mengabdikan dirinya pada kantor itu. 100% loyal, 100% all out, 100% Kokom lakukan apapun demi kantornya lah ibaratnya. Tapi apa yang terjadi? Akhir November tahun lalu Kokom dengan berat hati memutuskan resign dari kantornya karena alasan tidak nyaman lagi.
Camilan Mih Anih. brand design by Sakola Printing
Detik-detik menjelang hari resignnya, Kokom masih sering curhat padaku. Dia tidak tahu mau apa selanjutnya. Kalau harus kerja lagi, kerja dimana? sedangkan Kokom tidak bisa tinggal jauh dari keluarganya. Kalau pun mau bisnis, bisnis apa? Kokom belum punya gambaran apapun mengenai bisnis. Awal mulanya semua peluang bisnis dia ceritakan padaku. Mulai dari meneruskan MLM, bisnis make up artist, sampai bisnis makanan.

Setelah resmi resign, Kokom baru benar-benar memantapkan idenya. Dia mengambil keputusan untuk berbisnis camilan. Satu hal yang jadi motivasi Kokom berbisnis camilan adalah karena ibunya bisa masak aneka camilan. Waktu itu, Kokom bolak-balik ke rumahku untuk mengirim tester camilannya. Hihihi, ya enak aja sih aku mah dikasih camilan gratisan mulu :P Selanjutnya, Kokom juga banyak berdiskusi denganku dan Ibank untuk desain brand produknya dan konsep bisnisnya.
beberapa produk Camilan Mih Anih. semuanya enyaak!!
Tanpa ba-bi-bu alias tanpa menunggu lama, sahabatku yang satu ini langsung action! Dengan kuantitas produk seadanya, Kokom sudah mulai gencar melakukan pemasaran ke sana-sini. Ke warung-warung, ke Enok, ke rumah makan, ke kosan, ke pabrik-pabrik, ke mini market, hingga kini sudah mulai dipasarkan online.

Sekali ditolak, Kokom langsung bergerak lagi. Dua kali ditolak, Kokom semakin banyak gerak dan bergerilya. Sekarang, luar biasa sekali, produk Kokom sudah menajmur di sekitar kampungnya dan di kalangan teman-temannya. Bahkan, sudah banyak orang yang baru kenal pun pesan online produk Kokom.

Oh iya, hampir lupa.. Nama produk camilannya Kokom adalah “Camilan Mih Anih”. Camilannya bermacam-macam, yaitu rangginang terasi, peyek kacang ijo, peyek kacang tanah, peyek abon, keripik bayam, keripik pisang manis, keripik pisang asin, dan yang terbaru adalah keripik pisang coklat (khas Lampung itu looh). Sekarang reseller Camilan Mih Anih sudah cukup banyak. Pemasarannya sudah makin luas karena terbantu oleh media sosial. Harganya? Murah meriah… Ada harga khusus lagi yang lebih murah meriah untuk reseller. Barangkali teman-teman pembaca semua ada yang berminat bisnis camilan juga, bisa dong jadikan Camilan Mih Anih sebagai supplier. Hehehe…
produk terbaru; keripik pisang coklat. ini juga enyak loh, asli!
Satu poin penting dalam berbisnis yang sudah dibuktikan Kokom adalah semangat. Asal ada semangat, niat yang masih setengah-setengah pasti akan jadi bulat. Asal ada semangat, segala hal yang mulanya kita anggap tidak mungkin, semua akan menjadi mungkin. Asal ada semangat, Alloh pun akan bergerak untuk membantu kita.

Tidak percaya? Yaa, yaa… Kalian tidak akan pernah percaya sebelum membuktikannya sendiri. Sama seperti Kokom. Dulunya dia sangsi pada dunia bisnis. Katanya Kokom lebih memilih jadi karyawan yang aman karena bergaji. Tapi sekarang, setelah ketidaknyamanan di dunia kerja yang dialami Kokom, lalu dia memutuskan untuk berbisnis, yang terjadi adalah mentalnya semakin terbentuk. Semangatnya semakin menyala-nyala, tidak ada matinya seperti api abadi.

Pokoknya kalau mau bisnis mah, bismillah saja, semangat saja! ;)

Suatu hari kita akan buktikan pada dunia ya, Kom, kalau kita memang orang gila yang bisa mewujudkan mimpi-mimpi kita lewat bisnis kita. Hihihi.. Aamiin…

Next project, bismillaah.. Rencananya Famysa Batik & Handmade, Sakola Printing, dan Camilan Mih Anih akan menggelar giveaway di blog ini. Tunggu saja tanggal mainnya yaa :D

Need us?
Famysa Batik & Handmade : 08997185407 / 7d07cfde
Sakola Printing : 089655141507 / 76476992
Camilan Mih Anih : 089675194098 / 7ed16f00

by, si Famysa, tukang dagang :D

Jumat, 13 Maret 2015

Dilema Sakola Printing

Konsep awal Sakola Printing, kenapa dinamakan ‘Sakola’ (bahasa Sunda) yang berarti ‘sekolah’, memang untuk membantu menyediakan akses bagi anak-anak sekolah. Ya, ini memang tujuan utama kami. Karena kami sadar betul, di sini sangat kurang akses untuk anak sekolah mencari dan mengerjakan tugas sekolah. Sedangkan kurikulum sekarang mengharuskan siswa-siswinya mandiri. Tidak ada buku paket dan tidak ada lagi pelajaran TIK. Padahal pada kenyataannya, anak-anak sekolah di sini mayoritas tidak bisa mengoperasikan komputer.

Kurikulum sekarang memang bagus. Tapi… Rasanya tidak cocok diterapkan di sini, di kampung. Harusnya penerapan kurikulum baru itu disertai dengan pemenuhan sarana pendukungnya, seperti komputer, LCD proyektor, laboratorium yang lengkap, dll. Sedangkan di sini, apaa coba? Laboratorium komputer sudah tidak berfungsi. Kata mamahku (mamah adalah guru SMP), komputer-komputer yang mangkrak di laboratorium itu adalah komputer dari jaman aku masih SMP dulu. 8 tahun yang lalu dong. Omaygad! Tidak pernah ada pembaharuan atau servis atau apapun. Bahkan komputer yang hilang dicuri pun diikhlaskan saja. Ckck.. Lalu, LCD proyektor hanya punya 1 unit. Gimana caranya semua guru bisa mengajar dengan presentasi (power point), lha wong LCD proyektornya saja hanya ada 1. Ditambah lagi guru-gurunya juga belum banyak yang bisa mengoperasikan komputer. Cocok deh. Kurikulum baru ini membuat yang tertinggal semakin tertinggal, dan yang sudah canggih jadi semakin canggih. Good!

Berangkat dari fenomena tersebut, aku, Ibank, dan Welly berinisiatif untuk menyediakan tempat rental laptop di Sakola Printing. Tak hanya rental laptop, kami juga menyediakan koneksi internet agar anak-anak bisa terbantu dalam mengerjakan tugas sekolahnya. Kami juga sedikit-sedikit akan mengajari anak-anak yang berkeinginan belajar komputer.

Pada prakteknya, kami kecewa. Anak-anak di sini betul-betul awam dengan laptop. Sudah lah di sekolah tidak ada komputer, tidak diajarkan, tidak ada warnet pula. Warnet terdekat ada di desa sebelah yang lumayan jauh jaraknya dari desa ini. Anak-anak di sini jadi buta teknologi. Bukan lagi gagap, tapi buta.

Empat laptop yang Sakola Printing sediakan, tidak ada anak yang menyentuhnya. Paling hanya 1-2 orang yang bisa mengerjakan tugasnya sendiri. Lainnya, dikerjakan oleh admin. Ulala… Di sini titik dilemanya. Niat Sakola Printing ingin menyediakan akses, eh malah Sakola Printing yang harus mengerjakan tugas-tugas mereka. Dilema memang. Seperti buah simalakama. Kalau kami mengerjakan tugas mereka, sisi idealis kami terusik. Tapi kalau kami tidak mengerjakan tugas mereka, bagaimana mereka bisa menyelesaikan tugas mereka? Untuk tugas yang harus dikumpulkan segera kan tidak mungkin kami privat dulu anaknya tata cara mengoperasikan laptop dan internet. Pasti membutuhkan waktu lama. Apalagi kalau dihadapkan dengan anak yang tidak terlalu cerdas.

Kata mamah, “ya gak apa-apa lah tugasnya dikerjain operatornya juga.. Harapannya emang agar anak membaca tugasnya itu. Gak muluk-muluk pengen anak ngerjain sendiri deh. Kita sama-sama tahu anak-anak di sini gak bisa pakai komputer. Boro-boro anak-anaknya, gurunya saja gak bisa kok. Untuk sekarang dimaklum saja. Siapa tahu ke depannya bisa lebih baik.” Ya, yaa… Benar juga apa kata mamah. Walaupun sisi idealis kami terusik, semoga niat baik ini terbaca sama oleh Alloh. Kasihan juga anak-anak sekolah di sini -yang mayoritas tergolong ekonomi keluarganya kurang mampu- jika harus mengerjakan tugas sekolah 1 lembar warna saja Rp 3.000 di lapak sebelah. Bayangkan saja, bagaimana jika anak seperti Enok yang uang sakunya sehari Rp 2.000, harus ngeprint tugas selembar Rp 3.000. Dari situ juga lah kami tergerak untuk menyediakan tempat ngeprint yang murah.

Banyaknya tugas anak sekolah yang harus dikerjakan oleh admin jujur saja agak mengganggu produktivitas Sakola Printing. Otomatis kami harus mendahulukan anak sekolah sehingga orderan lain dinomor-duakan. Orderan lain harus kami kerjakan di malam hari, atau pagi/siang/sore hari ketika kantor sepi dari anak sekolah.

Sekarang aku kepikiran sebuah ide. Bagaimana kalau Sakola Printing membuka jasa privat komputer gratis? Lalu bagaimana kalau biayanya kami cari dari sponsor? Tempatnya juga pinjam sekolah terdekat yang berbaik hati? Hmm… Adakah yang berminat mensponsori? Hehe.. Jujur saja sih, aku sangat miris dengan buta teknologinya anak-anak sekolah di sini. Pol-polannya mereka paling bisa pakai hp pintar, karena sekarang hp pintar sudah banyak yang pakai di sini. Sedangkan komputer mah, awam banget.

Bismillaaah Yaa Alloh… Semoga cita-cita luhur Sakola Printing setahap demi setahap dapat terwujud. Semoga kami tidak hanya berbisnis untuk memperkaya diri sendiri, tapi juga untuk membantu lebih banyak orang di sekitar kami. Aamiin…

Mohon doa dari teman-teman juga yaa.. Agar kami bisa memberantas buta teknologi di sini.. Syukur-syukur kalau dari privat di Sakola, bisa ditemukan bakat-bakat anak dalam dunia komputer. Yaa walaupun masih berkhayal, siapa tahu Alloh mewujudkan yaa :D

by. si Famysa, tukang ngayal :P

Kamis, 12 Maret 2015

Sadly 28th February

Hari itu benar-benar hari yang menguras emosi dan perasaan. Sedari pagi, emosiku sudah tidak bisa diatur. Waktu itu aku belum melakukan testpack, sudah curiga sih, tapi masih enggan untuk periksa. Hari itu adalah jadwalnya belanja kebutuhan Sakola Printing ke Bandung. Jadwal yang agak dipercepat karena kebetulan hari itu ada meet and greet penulis dan illustrator buku #88LoveLife, Diana Rikasari dan Dinda Puspitasari. Yaa bisa dibilang aku adalah salah satu fansnya Diana Rikasari. Siapa juga sih yang tidak suka padanya? Mompreneur, fashion blogger, dan sekarang punya buku pula. Diana sangat menginspirasi aku. Dan aku akan sangat amat senang jika bisa bertemu langsung dengan orang-orang yang menginspirasiku itu.

Hari itu jadwalnya memang agak padat. Harus belanja kebutuhan Sakola Printing ke tempat A, harus membeli tablet titipan mamah mertua ke tempat B, harus COD-an dengan yang beli batik Famysa di tempat C, harus membeli buku titipan temanku (kebetulan bisa di Gramedia Paris Van Java (PVJ)  tempat meet and greetnya Diana dan Dinda), dan yang paling penting itu harus bisa datang untuk bertemu Diana.

Singkat cerita, usai belanja kebutuhan Sakola Printing di tempat A, aku dan Ibank meluncur ke tempat B. Namanya orang gak hafal jalan, jadi lah kami harus muter-muter dulu untuk sampai di tempat B. Sesampainya di tempat B, dari konter satu ke beberapa konter lainnya, tablet yang diinginkan mamah tidak ada. Jawaban tiap konter sama, tablet itu belum ada, belum sampai ke sini.

Jam di HP sudah menunjukkan pukul 15.00. Tapi Ibank masih keukeuh harus bisa membelikan tablet untuk mamah hari itu juga. Padahal kami sama-sama tahu bahwa tablet pesanan mamah belum ada! Aku sudah bilang pada Ibank lain kali saja kembali lagi ke tempat ini, mungkin 1-2 minggu ke depan tablet itu sudah ada. Eeh Ibank tetap pada pendiriannya, harus hari itu juga beli tabletnya.

Akhirnya, dipilihlah tablet lain, yang spesifikasinya jelas beda dengan yang diinginkan mamah. Hanya ukurannya saja sama, 10 inci. Saat tablet sedang dicek-ricek, jam di HP sudah menunjukkan pukul 16.00. Bibirku sudah makin maju 5 cm alias manyun. Tapi Ibank masih tidak bergeming. Dia malah bilang “sempat kok. Acaranya sampai jam 6 kan? Yang penting bisa ketemu Diana kan?” Higs. Padahal bukan sekedar ingin bertemu. Aku juga ingin mencuri ilmu dari Diana, salah satu wanita hebat yang menginspirasiku. Apakah aku berlebihan?

30 menit kemudian, akhirnya transaksi selesai. Tapi masih ada yang harus dibeli. Tablet case. Sambil asal dan tetap manyun, kami mendatangi satu persatu toko yang menjual phone case. Dan kami baru benar-benar selesai berbelanja tablet sekitar jam 5 kurang 15 menit.

Sudah lah telat, buta arah, macet pula, makin gak karu-karuan deh perasaanku. Aku sedih, aku kesal. Aku merasa tidak diprioritaskan, dianggap sepele, ah pokoknya waktu itu aku merasa sangat tidak penting bagi Ibank. Kalau aku dianggap penting, kenapa Ibank keukeuh mencari tablet yang jelas-jelas belum ada itu? Kupikir beli tablet besok, lusa, minggu depan bahkan kapan pun akan selalu bisa. Sedangkan acaranya Diana, kapan lagi ada di Bandung (kota terdekat dari Subang)?

Di sepanjang perjalanan sambil menembus kemacetan Kota Bandung, aku menangis tak henti-hentinya. Perasaanku sangat mellow, entah kenapa. Kami masih bermacet-macetan padahal sudah jam setengah 6. Dan kami baru benar-benar sampai parkiran luar PVJ jam 6 kurang 5 menit. Saat Ibank belum benar-benar memarkirkan motor, aku sudah berlari menuju PVJ. Sambil terus menangis, sambil memegangi buku #88LoveLife, sambil berusaha tetap fokus agar tidak terpeleset karena jalan becek terguyur gerimis, sambil menahan perut yang sakit, aku terus berlari. Aku mengabaikan Ibank. Aku tidak memedulikan Ibank. Bahkan aku sempat berpikir aku mau ditinggal pulang oleh Ibank juga tidak apa-apa. Aku benar-benar kecewa saat itu. Padahal aku sudah membooking waktunya untuk menemaniku datang ke acaranya Diana pada hari itu, jam 4 sampai jam 6 sore. Tapi apa yang terjadi? Tidak terwujud.

Untuk orang yang baru pertama kali datang ke PVJ seperti aku, sungguh sangat membingungkan. PVJ adalah mall di bawah tanah. Aku kebingungan. Maklum saja di Semarang dan Jogja tempat aku selama ini hangout ke mall tidak ada mall seperti PVJ itu. Sambil terus menyusuri PVJ, aku terus berdoa semoga saja Diana masih ada. Setidaknya masih ada di Gramed walaupun acaranya sudah selesai.

Sampai di Gramed, di sana sepi! Kutanya pramuniaga di sana, katanya acaranya sudah selesai, sudah bubar jam 6 tadi. Aku telat. Semuanya sudah tidak ada. Aku lalu keluar dari Gramed dengan penuh kekecewaan, entah kecewa pada siapa. Aku menangis lagi. Ibank ada bersamaku, ternyata dia mengejarku.

Hari ituu… hari yang amat melankolis bagiku. Tidak pernah sebelumnya aku mempermalukan diriku sendiri dengan menangis meraung-raung di dalam mall. Dilihat begitu banyak orang yang lalu-lalang pun aku tidak peduli. Saat itu aku hanya ingin menangis.

Well, well, butuh waktu berhari-hari untuk aku berdamai dengan Ibank. Dan butuh waktu nyaris 2 minggu untuk aku bisa menuliskannya. Haha… Agak aneh emang yaa cerita kali ini. Jangan di tiru yaa! Gak baik! :P :D

Maaf yaa curhat beginian… Cuma pengen curhat aja sih… Lumayan juga kan buat tabungan tulisan. LOL :P Doaku kali ini, semogaa di lain waktu aku bisa berjodoh dengan Diana Rikasari. Aamiin...
padahal ini buku kado pernikahan. tapi kok aku jadi kecewa sama Ibank karena gagal ketemu penulis buku ini ya. hehehe
by. si Famysa, :)

Rabu, 11 Maret 2015

#ReboNyunda: Resep Teu Resepna Hirup di Lembur

Para kanca sadaya aya nu hirup di lembur sapertos abdi? Kumaha tah raraosanna? Pasti aya resep sareng teu resepna lah nya, da namina ge hirup. Dimana-mana ge pasti sama, bakal aya resepna, bakal aya teu resepna oge.

Ti kapungkur, ti jaman SMA keneh, abdi emang tos kapikiran hoyong netep di lembur wae. Wios abdi teu kenal ka tatanggi, teu hirup di lembur salami sakola mah, asal kin pami tos beres sakolana, abdi hoyong uih ka lembur. Caritana mah hoyong ngawangun lembur. Sapertos jargonna Pa Bibit, mantan Gubernur Jawa Tengah tea geuning, ”balik ndeso, mbangun deso”, nu hartosna uih ka desa, ngawangun desa. Jujur abdi makin kuat kahoyongna yen hiji wanci abdi bakal uih ka lembur ngawangun lembur nyalira saprak maca jargon Pa Bibit eta.

Ayeuna kahoyong abdi tos kalakonan –nuju dilakonan sih langkung pasna mah :D-. Saprak rengse kuliah abdi hirup di lembur. Hmm… Padahal sih kawitna mah hoyongna teh uih ka lemburna kin jaga pami tos rada gagaduhan nanaon. Kawitna mah hoyong ngawangun karir atanapi usaha heula di kota. Harita Semarang atanapi Jogja nu janten kota pilihan abdi kangge ngawangun karir/usaha. Janten iraha bade uih ka lemburna? Kawitna mah hoyongna teh 5 taunan saentos ngawangun karir/usaha di kota, saentos gagaduhan, boh gaduh harta, boh gaduh harti, tah nembe uih ka lembur.

Namina ge manusa nya, ngan ukur tiasa ngarencanakeun, angger wae nu nangtukeun jalan hirup urangna mah Gusti Alloh. Abdi janten langsung netep di lembur deh saprak rengse kuliah S1 di Undip. Sabab abdi sareng Ibank gaduh rencana bade nikah, bade hirup sareng. Tapi Ibankna alim netep heula di kota kusabab mamahna Ibank alim Ibank tebih-tebihan deui netepna. Saur mamahna teh kieu, “bade naon atuh netep teh meuni tebih-tebih teuing, kunaon meuni hoyong di Jawa wae? Padahal mah didieu weh rencangan mamah. Nya pangtebihna di Bandung atuh supados tiasa sering tepang sareng mamah.” Waah nya entos pami alesanna kitu mah abdi ge teu tiasa ngalawan deui. Ibank kan tetep kedah nurut ka mamahna nya, da kedahna kitu pameget mah. Hehe.. Teras ditambih deuih ku pamikiran Ibank kieu, “mun urang ngawangun karir/usaha heula di kota, meureun angger kin pami uih ka lembur teh da urang lembur mah moal arapaleun urang tos gaduh naon, tos tiasa naon. Eta mah sami sareng kin waktosna urang uih ka lembur teh urang kedah ngamimitian deui ngawangun karir/usahana didieu. Nya mending ti ayeuna pokuskeun ngawangun didieu wae. Da urang salami ieu emang teu kenal sasaha di Subang. Mending weh pami ti ayeuna urang ngawangun karir/usaha di Subang, sahenteuna urang bakal kenal ka hiji-dua jalmi teuing mah.”

Ti alit abdi emang budak lembur, budak kampung. Tapi saprak SMP, abdi seueur kagiatan di sakola. Ditambih deuih ti kelas 2 SMP, abdi tos sibuk ka Subang Kota wae kangge pelatihan Jambore Nasional Pramuka taun 2006. Saprak eta, abdi janten seueur hirup di Subang Kota. Di lembur ngan ukur kanggo tempat bobo wungkul, tapi kagiatanna mah seueurna di luar. Pas kelas 3 SMP ge, abdi pernah mondok di Daarut Tauhiid Bandung. Teras SMA-na di Subang Kota, kuliahna di Semarang. Kusabab netep tebih-tebih wae, abdi janten teu aya waktos kangge ngawadul sareng urang lembur, abdi janten teu pati kenal sareng urang lembur.

Resepna hirup di lembur teh… Hargi-hargi kabutuhan poko marirah, kahirupanna sederhana, dahar teu dahar nu penting kumpul lah di lembur mah.. Jalmina resep pataros, resep babantos, acan seueur saingan kangge usaha modern. Ku kahirupanna nu sederhana, abdi janten tara mikiran shopping, hangout, picnic jeung sajabina ciga kapungkur. Abdi janten tiasa langkung hemat didieu. Da batur ge teu aya nu sok balanja ka mal, batur ge tara aya nu carita jalan-jalan kamana, ka acara naon, sagala rupi. Benten ciga basa abdi sakola/kuliah di kota, aya weeh bawaan hoyong nurutan gaya hirupna urang kota. Hoyong ka mal tea, hoyong jajan kuliner tea, hoyong ka tempat itu tea, hoyong ka acara ieu-itu, ah hoyong seueur lah pokona mah. Da jujur weh kahirupan di kota emang menggoda pisan, seueur karesepan pisan.

Salian ti resep hirup di lembur, aya teu resepna oge… Di lembur sesah sinyal, sesah transportasi, sesah akses nanaon, sesah manggihan rencang ngobrol nu seueur pangarti, tatanggi-tatanggi biang gosip, teu aya toko buku deuih, higs.. Benten pisan sareng di kota. Di kota mah nanaon cigana teh aya. Hoyong nanaon gampil milarianna. Seueur komunitas-komunitas nu mangpaat deuih. Sedengkeun di lembur, tong boro di lembur sih, milari nanaon di Subang Kota ge angger sesah. Nu kahiji karaos pisan ku abdi mah ku teu ayana rencang ngobrol nu seueur pangarti sih. Asana teh didieu mah nanaon ku artos, sanes ku otak sareng usaha urang. Didieu mah kitu-kieuna urang ayaa wae nu mandang lepat. Tatanggi A ngagosip, dugi ka tatanggi Z, tereh pisan dugina.

Nyaa kitu lah namina hirup mah moal saterasna seneng, moal seterasna susah nyaa. Nu penting mah urangna tetep hepii weh. Hehehe…

Hayuu urang sami-sami ngaluruskeun niat netep di lembur teh kangge naon.. Urang sami-sami bismillah diniatan uih ka lembur kangge ngawangun lembur. Kumaha-kumahana lembur oge da angger urang seueuran hirup didieu, urang lahir didieu, ameng didieu nuju alit.. Pami sanes urang nu ngawangun lembur nyalira, saha deui? Batur mah can tangtos gaduh pamikiran sapertos urang. Urang weh nu ngartos nu ngamimitian. Omat nya, tong dugi ka hilap ka lembur nyalira! Suksesna urang di luar, aya jasa lembur nu nganteurkeun urang ka luar :)

by. si Famysa, urang lembur :)

Selasa, 10 Maret 2015

Akan Kubeli Rumah Ini

Astaghfirullooh....

Entah dari mana asalnya, masalah di sini, perihal harta dan hidup kami, terus berputar, berulang, tak ada ujungnya. Seperti lingkaran setan. Harusnya ada yang berani memotong lingkaran itu, orang yang terdampak pertama. Tapi, orang itu plin-plan, dia terlalu takut untuk menyandang status jomblo. Alasannya ada saja. Padahal sudah jelas terpampang nyata di depan mata, pasangannya adalah orang gila! Kalau tidak gila, apa lagi? Siapa yang bisa menyayat-nyayat kursi dan kasur, membakar kasur, mencoret-coret tembok, membuang seluruh isi lemari ke comberan, mengobrak-abrik makanan di meja makan, menampar pasangannya, berkata kasar bahkan saru, mengusir aku… Kalau bukan orang gila.

Apa kalian kenal orang gila itu?

Ciri-cirinya sebagai berikut nih yaa aku sebutkan.. Siapa tahu kalian kenal.. Supaya kalian bisa waspada. Pertama, berbagai usaha yang ia lakoni bangkrut. Mau modal kecil sampai modal ratusan juta, semuanya kacau. Kedua, dia selalu dipertemukan dengan orang picik, yang selalu merugikan usahanya, yang selalu meninggalkannya, yang selalu mengkhianatinya, yang tidak jujur kepadanya. Ketiga, dia berperawakan cukup berisi –menuju gemuk-. Padahal awalnya krempeng. Keempat, dia paling ribet urusan makan. Kayak yang uangnya banyak saja bisa beli berbagai makanan enak. Kelima, pakaiannya selalu bermerk, gak ada yang ecek-ecek. Katanya sih dikasih. Ah masa sih? Aku mah teu percaya! Keenam, lagaknya seperti juragan. Ingin ini harus ini, ingin itu harus itu. Biar kelihatan tajir dan berkelas gak gitu caranya, Gan! Ketujuh, omongannya tidak bisa dipegang. Kemarin bilang A, hari ini bilang Z. Gak mau lagi deh aku bertutur kata sama orang gila itu lagi. Kedelapan, katanya dia gila karena sihir, tapi susah banget sholatnya, gak kelihatan upayanya menangkal sihir. Apa iya? Bukannya ruqyah terbaik adalah ruqyah oleh diri sendiri? Ruqyah dari luar mah hanya membantu sedikit, Gan. Elonya sendiri kok gak ada usaha! Well, Awal-awal sih aku masih maklum. Tapi sekarang, ogah! Watak itu mah, sihir+watak jadi deh gila.

Dari awal aku tidak pernah suka sama orang ini. Dari awal aku sudah antipasti, aku sudah menebak bahwa dia orang gila. Bagaimana tidak, dia –orang gila ini- keluar masuk rumah ini seenaknya, menginap seenaknya, makan seenaknya, berhari-hari, dilayani. Ajegileee….. Emang situ siapa?

Aku sempat berontak menolak dengan kabur dari rumah selama lima hari. Tapi sepertinya tidak ada yang mempertimbangkan kekaburanku. Dan semuanya telah terjadi. Yaa, yaa… Hingga akhirnya, hingga detik ini aku tidak pernah tenang dengan kehadirannya.

Sekarang dia nyaris mengusirku lagi, seperti selama dua tahun belakangan. Tapi aku kini sudah agak berani. Aku punya Ibank. Aku punya teman untuk melawan. Aku tidak sudi pergi lagi dari rumah ini. Bukan aku tidak mandiri, bukan aku tidak ingin memiliki istana berdua dengan suamiku, aku hanya tidak ingin orang gila itu mengacaukan rumah ini. Terserah apa kata orang, menyebut aku betah tinggal di rumah kolot walau sudah menikah atau apalah, terserah! Yang penting aku tahu alasannya, dan aku tahu bahwa alasanku ini tidak menyalahi-Nya.

Akan kubeli rumah ini. Agar dia seperti menumpang, agar dia tidak punya alasan lagi untuk sewena-wena terhadapku. Akan kubeli rumah ini. Meskipun aku harus memaksakan diri full bekerja di Famysa dan Sakola Printing, meskipun aku harus sedikit mengesampingkan kesehatan embrio yang ada dalam rahimku. Aku yakin, Alloh yang akan menjaganya jika memang Alloh berkehendak menitipkan amanahnya pada kami. Insya Alloh.. Bismillaah…. Pasti bisa! Selama ini aku bisa! Dan kali ini aku juga pasti bisa!!

Wallahu alam...

Astaghfirulloh.... Banyak-banyak ngelus dada, banyak-banyak doa sama Alloh... :'))

by. si Famysa, sabar....

Kamis, 26 Februari 2015

Semangat Si Enok

Japanese food pertama Enok :D
Namanya Mira Wati, tapi di kampung dia biasa dipanggil Enok –Enok sama seperti Eneng artinya (panggilan) anak perempuan-. Enok masih duduk di bangku kelas 9 SMP di SMP tempat mamahku mengajar, letaknya dekat dari rumah, sekitar 10 menit jalan kaki santai juga sampai. Enok sudah menjadi bagian dari Sakola Printing sejak sekitar dua-tiga minggu pertama Sakola berdiri. Berarti sudah 4 bulanan Enok membantu bisnisku.

Enok adalah tetanggaku. Rumahnya persis di sebelah (serong) kanan rumahku. Segala aktivitas di rumahku bisa terlihat dari rumah Enok, begitu pun sebaliknya. Enok tinggal bersama kedua orang tua dan 3 saudaranya, 1 kakak dan 2 adik. Sebenarnya kakaknya ada 2, tapi kakaknya yang nomor 2 sejak kecil tinggal bersama uwanya di Indramayu. Mamanya Enok bekerja sebagai tukang ojek (mama: bapak dalam bahasa Jawa Cerbonan-Dermayuan), sedangkan emihnya seorang ibu rumah tangga yang nyambi dagang p*p ice pada waktu-waktu tertentu (emih: Ibu dalam bahasa Sunda).

Kata Enok, penghasilan mamanya dari ngojek per hari Rp 30.000. Kalau sedang ramai penumpang mentok Rp 50.000, tidak pernah lebih dari itu. Bayangkan! Rp 900.000 per bulan harus bisa mencukupi kebutuhan 6 orang: 2 orang dewasa, 1 orang usia 18 tahunan, 1 orang usia 15 tahun, 1 orang usia 8 tahun, dan 1 orang usia 1 tahun. Aku saja waktu masih kuliah di Semarang uang Rp 900.000 itu untuk diriku sendiri, lha ini untuk 6 orang -__-

Hebatnya, Enok tidak pernah mengeluh dengan kondisi ekonomi keluarganya. Walaupun tidak pernah punya baju baru, sepatu baru, tas baru seperti anak-anak lainnya, tapi Enok tetap ceria. Enok justru bisa prihatin. Enok dapat membantu meringankan beban orang tuanya dengan sepenuh hati menjadi marketing Sakola Printing. Selain membantu perekonomian orang tua, Enok juga rajin membantu Emihnya masak dan mengasuh adik bungsunya yang masih 1 tahun. Setiap pulang sekolah, Enok pasti setor sekalian main di kantor Sakola Printing sambil membawa serta adiknya. Begitu ashar tiba, Enok pulang untuk membantu Emihnya masak dan beres-beres rumah.

Selain memasarkan produk barang/jasa Sakola Printing, sekarang Enok juga mempunyai barang jualannya sendiri. Enok jualan basreng (baso goreng) dan cilok buatan Emihnya di sekolah. Tiap pagi, Enok membawa 2 jinjingan besar berisi cilok dan basreng. Belum lagi di tasnya juga penuh dengan pesanan teman-temannya di Sakola Printing.
Enok sebenarnya cerdas. Hanya saja anak sekolah di kampungku sini kurang diasah. Beruntungnya aku punya mamah yang melek pendidikan sehingga aku jadi anak yang berbeda di sini, dari segi akademik. Jadi yaa memang nilainya Enok standar saja. Tapi kata mamah, Enok tergolong anak yang cukup rajin. Terbukti dengan tepat waktunya dia mengumpulkan tugas, tidak pernah lalai seperti anak-anak lainnya. Makanya waktu UAS semester kemarin, kupaksa Enok untuk belajar bakda maghrib sampai jam 9 malam di rumahku. Kuajari sebisaku pelajaran-pelajaran yang akan diujiankan esok harinya. Hasilnya, Enok bilang dia bisa mengerjakan soal, walaupun ada yang tidak bisa. Khusus pelajaran Bahasa Indonesia, Enok berhasil meraih nilai lebih dari 80 di raport. Aku tahu karena aku yang menilainya, mamahku kan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hehe..

Selain kupaksa untuk belajar, Enok juga kuajari cara mengoperasikan laptop. Kemarin baru sempat kuajari Microsoft Word. Setiap aku mengajarkan satu poin, Enok bisa cepat menangkap dan mempraktekkannya. Sering kubuat tes kecil untuk Enok. Dan Enok memang bisa. Enok memang anak yang cerdas. Saat anak-anak yang lain ogah-ogahan kutawari belajar laptop gratis karena malu tidak bisa sama sekali, Enok satu-satunya anak yang antusias. Katanya Enok ingin bisa. Enok tidak pernah malu untuk belajar.

Semenjak membantu Sakola Printing, Enok bilang Enok sudah tidak meminta uang jajan lagi pada orang tuanya. Malah Enok yang sering menjajani adiknya ketika mengasuh, kadang kakaknya juga kebagian dari Enok jika kakaknya sedang tidak punya uang. Bahkan jika masih punya uang lebih, biasanya Enok memberikan uang itu pada emihnya, karena menurut Enok emih lah yang paling tahu uang itu harus dibelikan apa, emih kan yang tahu kebutuhan keluarga.

Suatu hari aku dan Ibank mengajak Enok main ke Subang Kota, sambil jualan pin di acara ulang tahun Viking Subang. Enok sangat antusias. Katanya jarang-jarang Enok bisa main jauh, Subang Kota saja masih asing bagi Enok. Pulang jualan, aku dan Ibank mengajak Enok makan di food court Toserba Yogya Grand Subang. Aku memilih menu bento, sekalian mengenalkan Enok pada makanan asing. Hehe..

Sepulang dari Subang Kota, Enok meminta foto-foto yang ada di postingan ini. Katanya mau Enok tunjukkan ke emih dan mamanya. Enok tadi makan makanan aneh, makannya pakai sumpit, padahal bukan sedang makan mie. Hihihi…
Akhir-akhir ini, karena orderan stiker dan pin berkurang, bahkan tidak ada, Enok jadi jarang kebagian jatah besar dari Sakola. Dan tadi siang saat Enok setor, kuberi dia jatah Rp 11.000. Enok bilang “kok banyak, Teh? Gak kelebihan?”. Lalu kujawab, “karena Enok hari ini setornya banyak, jadi dapatnya juga banyak.” Dan Enok tersenyum riang.

Enok banyak bercerita tentang cita-citanya padaku. Enok ingin sekolah terus, bahkan cita-cita khayalannya sih ingin jadi dokter karena Enok agak suka pada pelajaran Biologi. Hehe.. Tapi kadang semangatnya untuk sekolah surut lagi ketika Enok melihat kakaknya. Enok merasa tidak enak jika dia minta disekolahkan lebih dari SMP, karena kakaknya juga hanya disekolahkan sampai SMP.

Aku hanya bisa menyemangati Enok dengan beberapa kisah motivasi. Terselip harapan di benakku, aku ingin minimalnya Enok sekolah di SMK dekat rumah. Sayang kalau Enok tidak lanjut sekolahnya. Enok anak yang cerdas, Enok punya potensi. Aku yakin anak-anak seperti Enok ini jika diasah dan dikembangkan terus potensinya, kelak dia bisa jadi orang hebat. Selalu kukatakan ini pada Enok, “Enok pinter, Enok harus lanjut sekolah. Enok kan bisa cari uang sendiri. Enok pasti bisa bantu orang tua biayai sekolah Enok sendiri. Malah mungkin Enok bisa sekolah terus tanpa minta biaya dari orang tua. Enok harus yakin, Enok pasti bisa sekolah, Enok pasti bisa jadi orang sukses, Enok pasti bisa membanggakan orang tua dan keluarga Enok, Enok bisa jadi panutan buat adik-adik Enok!”

Perjuangan dan senyum syukur Enok mengingatkanku pada hidupku dulu. Saat aku baru benar-benar prihatin pada kondisi ekonomi keluarga dan baru benar-benar merasakan sulitnya mencari uang ketika duduk di bangku kuliah, Enok justru sudah memulainya sekarang saat dia masih kelas 9 SMP! Subhanalloh…

Lancarkan rizki Enok dan keluarga, Yaa Alloh… Lancarkan juga bisnisku, Sakola Printing dan Famysa Batik & Handmade, agar aku bisa membantu lebih banyak Enok-Enok lain. Aamiin…

By. Si Famysa, bismillaah sukses!

Selasa, 24 Februari 2015

Mulai Keteteran (Lagi)

Uh, oh, aku mulai keteteran lagi :O Gimana dong, gimana dong? Pusyiang pala belbi nih *ditimpuk duit :P

Aku mulai kehilangan tenaga untuk menulis di blogku, terhitung sejak kemarin. Memang sih baru 2 hari, tapi bagiku evaluasi 2 hari ini akan sangat berarti untuk ke depannya. Aku tidak mau lagi mengalah pada keadaan, baik fisik maupun batin. Cukup deh dari 2011 sampai 2014 aku terlalu banyak mengabaikan blogku dengan berbagai alasan; kuliah, tugas, organisasi, bisnis, belanja, main, magang, PKL, KKL, KKN, skripsi, wisuda. Halah, banyak banget alasannya! Aku sekarang bukan lagi mahasiswa kok, dan seharusnya aku bisa jauuuh lebih baik dari dulu waktu masih jadi mahasiswa. Apalagi sekarang aku sudah punya suami, apa iya masih mau mengalah pada target yang kubuat sendiri? Padahal targetnya realistis banget, tidak terlalu berlebihan menurutku.

Jauh-jauh hari sebelum aku menikah, aku pernah bertekad untuk serius menulis blog ketika aku sudah jadi seorang istri. 1 hari 1 postingan saja, cukup. Kenapa aku bertekad seperti itu? Pertama, karena aku sudah bulat mengambil keputusan untuk bekerja di rumah (bisnis), ini berarti aku bisa mengatur waktuku sendiri, jadi aku bisa lebih leluasa menulis. Kedua, karena aku tidak pernah mengubur cita-citaku untuk jadi seorang penulis. Cita-cita sejak SMP. Menulis apa? Menulis dimana? Apa saja dan dimana saja. Dan menurutku, sejak aku mengenal dunia blogger, aku langsung jatuh cinta. Kupikir ini lah media yang paling mudah dan efektif untuk aku mewujudkan cita-citaku. Ke depannya entah mau menulis buku atau tidak, biarlah Alloh yang menunjukkan jalan-Nya. Yang penting sekarang aku serius menunjukkan pada Alloh bahwa aku memang senang menulis, dan aku sedang melalui proses untuk menjadi seorang penulis. Penulis blog juga tidak menjadi masalah bagiku, yang penting aku happy dan aku serius menekuninya.

Apa ini berlebihan? Tidak! Sekali lagi kukatakan tidak!
Sekarang aku hanya sedang ingin melatih diriku sendiri. Aku ingin keras pada diriku sendiri. Daripada hidup yang keras padaku, lebih baik aku yang keras padaku sendiri. Aku percaya, insya Alloh jika kita keras pada hidup, maka hidup akan melunak pada kita. :)

Sejak kemarin, aku sudah mulai promosi buku tahunan sekolah (BTS) ke SMA-SMA. Sudah 4 sekolah yang kudatangi, 4 sekolah itu ada di 2 kecamatan berbeda. Aku kembali memposisikan diriku sebagai sales girls, seperti yang sering kulakukan dari SMA dulu. Namun aku menilai kali ini lebih ekstrem. Barang/jasa yang kutawarkan bukan lagi bernilai ratusan ribu rupiah, tapi puluhan juta rupiah. Wow, aku saja masih belum percaya, ternyata aku sudah sampai sejauh ini di dunia bisnis. Aku sudah semakin berani. Tanpa modal pengalaman terlalu expert dan tanpa modal uang bergelimang, aku semakin bersemangat.

Akhirnya, sama seperti dulu-dulu, aku kehabisan tenaga. Aku adalah tipe orang yang doyan tidur. Jujur saja aku tidak bisa langsung beraktivitas setelah subuh. Well, sebenarnya ini buruk, apalagi untuk para pengusaha, bisa-bisa rejekinya dipatuk ayam duluan kan. Tapii… aku memang harus tidur lagi. Aku paling bisa bertahan sampai bacaan Al-Matsurat selesai. Kalau pun aku langsung beraktivitas setelah subuh –misal beres-beres rumah-, nah, aku harus tidur lagi setelah selesai beres-beres. Jika tidak, aku sering blank, tidak fokus, bahkan sering berkunang-kunang seperti anemia. Pernah sih dipaksakan diforsir waktu KKN dan KKL. Hasilnya, aku jadi lelah luar biasa, mataku sering berkedut, kepalaku pusing. Bahkan sepulang KKL ke Bali dan Lombok selama seminggu full aktivitas, aku langsung jatuh sakit 3 hari.

Bukan tidak ingin lebih keras lagi pada diri sendiri, tapi yaa aku mah sadar diri saja. Daripada aku sakit harus berobat, harus ini-itu, lebih baik mencukupi kebutuhan tubuh ini dengan berdamai pada jam kerjanya.

Tadi siang, sepulang promosi yang lokasinya lumayan jauh, aku lelah sekali. Badan panas karena terik matahari, wajah serasa penuh debu walau sudah cuci muka, dan tidur pun jadinya tidak enak. Sekarang aku sudah tidak konsen menulis. Draft sih banyak. Tapi aku blank mau mulai dari mana. Otakku sudah tidak sinkron, mana referensi, mana foto, ceritanya dari mana. Tapi karena aku harus memenuhi target 1 hari 1 postingan, maka aku hanya dapat menuliskan curhatan ini. Semata-mata untuk menjaga konsistensi menulisku, semata-mata untuk memenuhi target yang kubuat sendiri. Yaa walaupun jadinya serba dipepet-pepet. Sebelum menulis ini, aku update FB dulu; membagikan koleksi batik jualanku, lalu membagikan postingan kemarin ke beranda dan grup-grup blogger. Tak apa lah… Semoga ini bernilai proses di mata Alloh. Aamiin…

By. Si Famysa, need a sleep. zzzz

Jumat, 13 Februari 2015

Memberdayakan Warga Kampung dengan Crafting

Keren kali ya kalau ibu-ibu di kampungku sini punya kegiatan yang 'menghasilkan' dari rumah? Supaya mereka tidak hanya menghabiskan waktu untuk ngerumpi dan ngerumpi wae. Kan sering banget tuh kejadian si ibu A musuhan sama si ibu B gara-gara rumpian si ibu C ke ibu D. Halah ribet banget ya urutannya :P Tapi memang begitu lah kenyataannya, tidak bisa dipungkiri. Mungkin teman-teman juga punya realitas seperti ini di tempat tinggalnya. Sejauh ini sih, selama aku menetap menclak-menclok di sana-sini, yang paling aku khawatirkan akan rumpian ibu-ibunya ya di kampungku ini. 

Melihat realitas ibu-ibu rumpi di sini, ingiiiin sekali rasanya aku berbuat sesuatu. Sesuatu yang dapat mengubah kebiasaan rumpi mereka jadi sebuah kebiasaan baru yang bermanfaat dan menghasilkan. Aku sempat berkhayal ingin menjadikan kampungku sebagai kampung andalan tempat singgahnya mahasiswa KKN (kan banyak tuh mahasiswa yang KKN di desaku, tapi tempat singgahnya belum pernah di kampungku). Kupikir sedikitnya jika ada sentuhan dari semangat KKN mahasiswa, ibu-ibu di sini akan tercerahkan. Aku juga sempat mengajak teman-teman KKN-ku main ke sini, kubilang pada mereka "ayo kita KKN lagi di kampungku. Di kampungku cocok banget buat KKN." Tapi apadaya, khayalan ini belum bisa aku wujudkan, dan sepertinya agak sulit.
Khayalan lainnya, aku ingin membuka taman bacaan atau taman belajar di kebun belakang rumahku. Sasarannya adalah anak-anak, tapi tujuan terbesarnya sebenarnya membidik ibu-ibunya. Kalau anaknya tiap hari main sama aku, pasti dong aku bisa membisiki ibu-ibunya tiap kumpulan orang tua per 2 minggu atau perbulan. Tapi... Ada tapinya lagi nih. Aku kok mikir ini agak riskan ya. Bisa-bisa nanti aku yang didemo emak-emak. Weleh, welehh....

Naah terus aku punya satu khayalan lagi. Aku kan bisa merajut. Kubilang aku bisa yaa, bukan aku ahli. Lalu kupikir kenapa aku gak belajar lebih dalam tentang seni merajut, lalu nanti sedikit demi sedikit aku tularkan ilmunya pada ibu-ibu tetangga terdekat dulu. Nanti kalau hasil rajutan yang dibuat ibu-ibu sudah agak layak dipasarkan, aku lah yang akan mencarikan pasarnya, aku yang bertanggung jawab sebagai marketingnya. Kemudian hasilnya akan dibagikan lagi pada ibu-ibu pengrajin. Kan lumayan tuh, selain bisa membuat kerajinan tangan, dapat duit pula.
Tapii.. Banyak banget tapinya ya. Haha :P Aku sendiri saja tidak terlalu sabar untuk merajut. Prosesnya lama, bahan bakunya juga lumayan mahal di sini. Otakku jadi membuat hitung-hitungan singkat, hasilnya adalah: merajut sepertinya akan memakan waktu lama untuk belajar (untuk produksinya juga) dan akan sedikit untung yang diperoleh kalau dibagi-bagi ke banyak orang.

Dan tarrraaaa..... Kayaknya Tante Susindra di sana mendengar rintihan hatiku tentang ibu-ibu rumpi ini yaa? :D Tante Sus mau bagi-bagi tiga paket tutorial bunga. AHA!! Kenapa aku tidak terpikir untuk belajar membuat bunga seperti bunganya Tante Sus sajaa... Sepertinya prosesnya tidak terlalu memakan banyak waktu seperti merajut. Belum lagi aku kadang kram tangan kalau merajut terlalu banyak. Kalau bikin bunga, kayaknya gak akan ada efek samping kramnya -perkiraanku saja sih. Maklum belum pernah bikin bunga dari pita sebelumnya. Hehe-. 
Kalau proses belajarnya cepat dan cara membuatnya lebih mudah dari merajut, kenapa aku tidak mencobanya? Siapa tahu khayalanku terwujud. Khayalan untuk bisa memberdayakan warga kampung sini. Mending kumpul ibu-ibu sambil membuat bunga daripada sambil ngerumpi yang ujung-ujungnya ngegosip, ujung-ujungnya gibah, kan dosa, bu!

Tante Sus, kalau aku menang paket tutorial ini dari Tante, aku pasti akan mencobanya dengan sungguh-sungguh. Aku kan sekarang kerjanya di rumah, jadi ibu rumah tangga. Hihii... Jadi sekarang aku punya waktu untuk mencoba-coba berbagai hal yang bermanfaat. Syukur-syukur kalau ke depannya bisa jadi jalan untuk merealisasikan khayalanku yaa. Aamiin :D
Bagi-bagi paket tutorial bunga pita dari Sweetzee & Susindra Craft. Mau ikutan juga? cek langsung di sini yaa -->> Bagi-bagi Hadiah Paket Tutorial Membuat Bunga Pita
by. si Famysa, sebenarnya suka kerajinan tangan :D

Mijn Vriend