Tampilkan postingan dengan label XP-rience. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label XP-rience. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Maret 2015

Demi Mamah, Pak Sulaiman Al-Kumayi pun Kudatangi

SEE! Ini draft dari jaman kapan? 12 Januari 2012. Bertahun-tahun yang lalu. Haha :D

Ceritanya sih dulu belum sempat ditulis karena aku mau nampilin foto buku dan tanda tangannya juga. Sedangkan bukunya sudah ada di tangan mamah di Subang, akunya kan di Semarang, dan bukunya belum sempat kufoto. Dulu aku janji tidak akan pernah menghapus draft ini waktu bersih-bersih draft lain yang kuanggap tidak terlalu penting untuk ditulis. Aku janji suatu saat nanti aku akan menuliskan cerita perjuanganku mendapatkan buku ini, walau entah kapan. Dan terbukti deh, baru sekarang aku bisa menuliskannya, setelah tadi kufoto dulu bukunya. :P
Suatu hari, mamah sms aku minta dicarikan buku yang berjudul ‘Anak Luar Nikah’. Mamah bilang penerbit dan penulisnya di Semarang, siapa tahu aku bisa dapatkan buku itu karena aku di Semarang. Soalnya mamah cari di Subang tidak ada. Mamah bilang penulisnya itu penulis favorit mamah, mamah punya koleksi bukunya yang lain. Makanya mamah keukeuh ingin dicarikan buku itu. Disamping memang mamah tergerak baca buku itu karena fenomena MBA di kampungku semakin marak.

Sulaiman Al Kumayi. Kata mamah beliau penulisnya. Aku tanya ke Mbah Gugel, akhirnya nemu FBnya beliau. Langsung aku add friend, tapi belum juga diapprove. Akhirnya aku kepoin biodata beliau di FBnya. Satu informasi penting yang kudapat, beliau adalah dosen di IAIN Walisongo Semarang. Aha! Di sana kan banyak teman-temanku dari FLP Semarang. Aku tanya saja di grup FB FLP Semarang. Lalu ada salah seorang yang menjawab katanya Pak Sulaiman adalah dosennya Kak Azis, ketua FLP Semarang. Tapi Kak Azis tidak juga nongol di grup. Aku sms saja dia. Akhirnya… aku mendapatkan nomor hp Pak Sulaiman dari Kak Azis. Hihiii

Tanpa tunggu lama, langsung kuhubungi nomor hp Pak Sulaiman. Aku sms dulu. Dan alhamdulillaaah, beliau membalas smsku. Baiiiik sekali kata-katanya. Beliau juga memintaku langsung datang saja ke kampusnya besok.

Keesokan harinya, sekitar pukul 9 pagi, aku meluncur ke kampus IAIN Walisongo dengan temanku. Kami naik bus. Sempat nyasar dan berputar-putar dulu di kampus I IAIN Walisongo. Maklum, waktu itu baru pertama kalinya aku mampir ke IAIN Walisongo, jadi tidak tahu kalau kampusnya ada di beberapa tempat. Dari kampus I, aku harus naik bus lagi menuju kampus II (eh apa III ya? Lupa. Haha :P).

Ada pengalaman menggelikan ketika aku dan temanku sampai di sana. Sepanjang jalan kami berjalan kaki mencari ruang dosen fakultas (apa yaa? Lupa juga *hajaar! -_-), banyak yang memperhatikan kami. Banyak juga mahasiswa laki-laki yang sepertinya menggoda kami. Hmm… Aku dan temanku jadi agak risih. Kami jadi bertanya-tanya, apa yang salah pada kami? Oh, apa karena kami berjalan pakai jeans diantara akhwat-akhwat kampus yang pakaiannya jilbaber? Hoho..

Sesampainya di depan ruangan beliau, beliau mempersilakan kami masuk dengan ramahnya. Beliau agak heran, katanya ‘kok ada yang cari-cari buku ini sampai mencari saya?’. Haha.. Kuceritakan saja itu karena amanat mamahku. Lalu beliau bercerita juga, katanya buku itu bukan beliau yang menulis, beliau hanya editornya saja. Kebetulan penulisnya itu adalah mahasiswanya. Ketika beliau baca tesis mahasiswanya tersebut, katanya isinya bagus dan belum banyak yang menulis mengenai tema anak luar nikah ini. Karena beliau seorang penulis, lalu beliau sarankan tesis tersebut untuk dikirimkan ke penerbit saja, siapa tahu bisa jadi buku. Dan eeh, ternyata iya, tesis itu sekarang sudah jadi buku. Keren yaa!

Pak Sulaiman juga banyak bercerita tentang buku-bukunya yang lain. Salah satunya buku yang dimiliki mamahku (tentang Asmaul Husna). Katanya buku tersebut sudah tidak terbit lagi di Indonesia, sekarang terbitnya di Malaysia. Wow! Memang keren sih bukunya. Cuma kalau untuk ukuranku, buku beliau dan buku yang beliau sebagai editornya terlalu berat. Berasa lagi penelitian skripsi lagi deh kalau baca. :P

Beruntuung sekali, aku bisa mendapatkan buku Anak Luar Nikah ini dari Pak Sulaiman. Aku bisa sekalian minta tanda tangannya untuk menyenangkan hati mamah. Hihiii.. Mamah yang ngefans sama karyanya, eh aku yang ketemu sama beliaunya ya. Hehe.. Pak Sulaiman juga memberiku harga murah. Katanya pakai harga untuk beliau saja, bukan harga dari toko buku. Cuma Rp 15.000. Kata beliau, itung-itung itu hadiah buat mamahku. Waaah… Aku senang sekalii…. :D Rasanya bangga gitu.. Bisa melaksanakan amanat mamah, meski harus berjuang mencarinya.

Soal isi bukunya… Aku belum sanggup membacanya.. Aku minta mamah saja yang menjelaskannya padaku :P Mungkin lain kali yaa, kalau tiba-tiba ingin baca tesis, baru aku baca buku itu. LOL

by. si Famysa, :)

Jumat, 06 Maret 2015

Two Stripes

Kangen bangeeet rasanya berhari-hari gak ngeblog, gak update FB Famysa & Sakola, gak laptopan deh pokoknya. Kangen, kangen, kangeeen…..

Akhir-akhir ini memang kondisiku sedang sangat tidak stabil. Puncak-puncaknya adalah waktu hari Sabtu lalu, emosiku benar-benar berada di puncak. Nanti aku ceritakan kisahnya di postingan berikutnya. Hehe…

Sudah sejak minggu lalu, moodku kacau. Aku tidak bisa mengontrol emosi. Sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit manyun, Ibank salah dikit aku ngambeknya banyak. Huaa… Kacau suracau deh.

Masuk di minggu ini, bukan hanya moodku yang kacau, kesehatanku juga sepertinya memburuk. Aku merasa tubuhku semakin hari semakin tidak sehat. Perjalanan ke Kecamatan Purwadadi dari Cipunagara saja capeknya minta ampun. Ditambah lagi setiap malam, sejak malam Senin, tidurku tidak pernah nyenyak. Boro-boro mimpi indah yaa, merem 2 jam saja tidak! Rasa-rasanya tiap jam aku terbangun. Entah kenapa. Susah sekali dijelaskan. Aku ingin bilang karena kedinginan, tidak. Aku ingin bilang karena kepanasan, tidak juga. Huaah…

Karena semakin curiga pada kondisi diriku sendiri, akhirnya waktu hari Rabu kemarin kuberanikan diri untuk minta dibelikan testpack pada Ibank. Mmm.. memang sih aku sudah telat datang bulan beberapa hari. Tapi awalnya kupikir itu karena siklus datang bulanku yang memang beberapa bulan ini sedang kacau. Aku curiga ada sesuatu di perutku karena aku merasa kondisiku yang seperti ini berawal dari perut. Ya, perutku panaaas. Seperti sedang sakit perut karena makan rujak terlalu pedas. Oh, ini bahkan lebih dari itu. Panasnya sepanjang malam.

Sebelumnya, aku berkali-kali membaca-baca artikel tentang ciri-ciri awal kehamilan. Diantara berapa banyak ciri-ciri itu, awalnya yang aku rasakan hanya mood yang tidak seimbang. Lainnya, seperti mual, muntah, pusing, capek, sering mengantuk, dll, aku belum mengalaminya. Namun setelah memasuki minggu ini, baru lah aku merasa mudah capek dan mengantuk.

Kalian tahu apa hasil tesnya? Stripnya dua :D Berarti positif kan yaa.. Hehehe…

Pasca melakukan testpack, tubuhku semakin tidak berdaya. Pokonya dari hari Minggu kemarin, tubuhku sudah tidak kuat diajak beraktivitas. Dan puncaknya memang pada hari Rabu, pertama kalinya aku mengalami mual dan muntah di sore hari Rabu. Bukan morning sickness yaa aku mah, tapi afternoon sickness. Haha.. Gak nanggung-nanggung, aku muntah di kasur dan akibatnya sampai sekarang kasurku masih dijemur -___- Muntahanku banyak sekali, seperti menumpahkan bubur semangkuk. Yang jijik, map yak :P

Kamis subuh, waktu aku sholat subuh dengan Ibank, di rakaat pertama, bahkan bacaan Al-Faatihah saja belum kelar, aku sudah terduduk lemas. Pandanganku gelap, seperti akan pingsan. Seketika aku memutuskan untuk sholat sambil duduk saja. Jujur waktu itu aku tidak khusyuk. Sambil menahan mual dan pusing, aku juga sambil bergumam semoga Ibank memendekkan bacaan sholatnya agar sholat segera selesai. Haha :P Dan iya saja, selesai sholat, aku langsung muntah.

Dua hari kemarin aku sama sekali tidak beraktivitas. Bukan hanya tak sanggup menatap layar laptop, aku juga tak sanggup menyimpan pakaian di lemari. Rentan sekali kondisiku dua hari kemarin.

Baru hari ini aku mulai beraktivitas, walaupun tidak banyak. Aku hanya menyapu rumah dan membantu shooting drama pendek si Enok. Beres-beres jam 5 sore. Dan kalian tahu rasanyaa…. Lemaas sekali. Sambil shooting saja aku sudah tidak bergairah, apalagi jika ada adegan yang diulang-ulang karena pemain salah melulu. Aku lemas karena berdiri terus. Pulang-pulang aku langsung terbaring lemas.

Sekarang aku jadi cepat lapar dan cepat kenyang. Ketika lapar, rasanya ingin makan yang banyaak. Tapi ketika sudah setengah dimakan, kok kayaknya kenyang banget.. Entahlah maunya apa. Aku masih belum bisa beradaptasi dengan kondisiku saat ini. Aku masih butuh banyak penyesuaian. Untungnya Ibank sangat sangat sangat mengerti kondisiku. Alhamdulillaah :)

Buibu, Mbambak di sini boleh dong bagi tips dan triknya waktu hamil sama aku. Pemula nih… Masih sangat butuh banyak belajar dari ahlinya. Hehehe…

*nulis segini saja sudah mual, pusing natap layar lama-lama. Aku mau istirahat dulu yaa :D

By. Si Famysa, bismillaah…

Rabu, 25 Februari 2015

#ReboNyunda: Panen Hileud

Dua minggu katukang, di tangkal Kananga pipireun rorompok abdi seueuuur hileud keketan, seueur pisan. Barudak nu ngeprin di Sakola Printing dugi ka ngetangan eta hileud ti katebihan, mung ukur ngintip ti jendela –maklum da teu wantuneun ningali caket-caket mah. Haha-. Saurna mah aya sekitar 20-an hileudna. Pastina mah duka sabaraha da lieur ngetangna, warna hileudna sami sareng daunna sih. Ieu mah paneun hileud namina euuy :D

WARNING!! Nu jiji ningali hileud mending tong ningali poto-poto di handap ieu, tong neraskeun maca seratan ieu. Haha peace! :P
Eta nu moto hileudna Ibank. Saleresna mah Ibank sieuneun pisan ka hileud. Malah abdi nu teu sieun, abdi malah resep ka hileud. Tibalik nyaa… Aya ge pameget nu kedahna teu sieunan ka hileud, ieu malah istri :P Ibank moto hileudna ge bari pipirindingan jijieun. Haha.. Hadena gaduh kamera SLR lensa tele, janten tiasa moto ti katebihan. Eta moto hileud ge ti jarak kirang langkung 4 meteran, tapi hileudna tiasa kapoto jelas pisan. Hebat emang nya teknologi, nu sieuneun ka hileud jeung sajabina kabantosan. :D
Eh enya, aya carita tentang abdi sareng hileud.
Ti kapungkur, ti SD keneh, abdi resep pisan ka hileud. –aneh emang, batur mah nyebat hileud teh jiji, saur abdi malah lucu, duka atuh kunaon da nu namina resep sih kumaha :D- Saking resepna, pernah nuju kelas 6 SD abdi ngingu hileud di rorompok. Abdi panasaran hoyong terang kumaha prosesna hileud robih janten kupu-kupu. Harita teh abdi ngingu 3 hileud. Hiji warna hideung aya totol koneng di luhurna, ageungna sahandapeun hileud keket nu di poto. Hiji hileud keket nu sapertos di poto. Hiji deuina hileud tangkal palem, warna hejo ngora herang, luhurna aya garis konengan sareng aya tandukan huluna, hileud palem mah alit.
Abdi ngingu hileudna susulumputan, da sieun diseuseulan ku si mamah, sabab mamahna sieuneun pisan ka hileud sih. Haha.. Ku abdi hileud-hileudna diwadahan ka toples, 3 toples nu benten. Luhurna ditutupan ku palastik, tapi dibolongan aralit palastikna, ditojos ku nyere tea geuning, eta supados hileudna tiasa bernapas. Teras di lebet toplesna ku abdi dipasihan batang sareng daun tempat hirupna si hileud. Biasana ku abdi daunna digentos unggal dinten. Kunaon digentos? Sabab kahiji nya pedah seep diemaman ku si hileud, kadua nya supados daunna angger seger sangkan hileudna betah di kandangan. Mmm… saleresna mah karunya sih ngandangan hileud, tapi da ku panasaran tea hoyong ningal kepompong sareng kupu-kupuna. Hehe.. Pami di tangkal mah pan moal tiasa ningali nya. Paling ge tiasa ningali dugi ka janten kepompong wungkul meureun. Da pami tos janten kupu-kupu mah ke na langsung hiber.

Sanaos susulumputan, angger weh lami-lami mah si mamah terangeun abdi ngingu hileud. Bet si mamah ngajerit jijieun. Hahaha… Teras si hileudna piwarang dipiceun. Tapi pedah abdina keukeuh alim miceun eta hileud, janten si mamah ngelehan. Saurna wios tapina disimpenna di luar, di pipireun bumi, teu kenging di lebet bumi komo di tempat nu bakal katingal ku mamah.

Kira-kira 2 minggonan ngingu 3 hileud, hasilna nyaeta:
Hileud hideung berhasil janten kupu-kupu. Kupu-kupuna ge sami hideung aya corak konengan. Saee teh ih pami ningali mah. Hanjakal kapungkur mah can gaduh hp nu aya kameraan nya, teu gaduh potona deh.
Hileud keket ku abdi dikaluarkeun deui, disimpen deui ka tangkal Kananga. Sabab hileud keket mah taina arageung baruleud, sering deuih miceunna. Janten si toples teh pinuh weh ku tai. Mending pami teu bau mah, ieu mah bau. Abdina jiji ongkoh kedah mersihan tai unggal dinten mah. Hehe.. Teras duka kunaon, hileud keketna warnana robih janten semu hideung kitu. Ukuran bandanna ge asa ngaalitan. Abdi kan karunya.. Nya ntos weh si keket mah dikaluarkeun deui. Ditambih deuih si keket mah disimpen di panangan teh sok sesah dileupaskeunna, ngeket pisan. Sapertos lintah meureun tah kitu. Abdina janten rada sieun nyonyoo hileud keket deui dugi ka ayeuna, sieun sesah nyopotkeunna. Paingan namina hileud keket nya.. Da emang ngeket pisan.
Hileud palem ge ku abdi dileupaskeun deui. Sabab pami tos nyonyoo hileud palem di panangan, ke na teh pananganna sok bau. Teras tapak lengkah si hileud palem sok aya ciga sawangan kitu, bodas sagaris. Duka apa ti tapak eta nu bau teh apa timana..
Ayeuna mah abdi tos tara ngingu hileud deui. Nambihan saurang sih nu sieuneun ka hileudna. Boa-boa ke abdi nu dikeroyok ku mamah sareng Ibank. Hahaha :P

Kenging. Si Famysa, hileud lovers :D

Minggu, 22 Februari 2015

Modus Penipuan 'Numpang Transfer'

Tanggal 6 April 2014 lalu, waktu aku mau beli tablet di Ramai Mall Jogja, ada satu pengalaman yang tidak terlupakan sampai sekarang. Niat hati sih ingin langsung menuliskan ceritanya (duluu), tapi apa daya, tahun kemarin tahun paling sepi tulisan di blogku. Wkwk..

Jadi begini ceritanya…

Di ATM Center Ramai Mall, aku mengantri bersama para nasabah lain yang akan bertransaksi di ATM itu. Aku bersama Ibank. Di depan kami, ada seorang ibu yang sepertinya sedang bercakap-cakap dengan seorang laki-laki cungkring bertato. Tak lama, si ibu pun pergi meninggalkan laki-laki itu.
Tiba giliranku masuk ke ATM, aku dicegat oleh laki-laki itu. Tanpa segan laki-laki itu langsung memulai percakapan denganku.

(Ket: L: Laki-laki itu, S: Syifa, I: Ibank)
L: Mbak, mau ambil uang ya?
S: Iya.
L: Mbak, aku boleh minta tolong gak?
S: Minta tolong gimana, Mas?
L: Aku numpang transfer dari ATM Mbak. Ini nanti uangnya aku ganti cash (sambil menyodorkan uang cash Rp 1.000.000). Ada gak, Mbak?
S: Hmm… Ada sih… Tapi bentar ya, Mas, aku cek dulu barangkali belum ada uangnya.
I: Kalau boleh tahu, emang uangnya buat apa ya, Mas?
L: Aku mau transfer ke temanku, Mas.. Kasihan dia habis kemalingan di jalan, dompet sama HPnya hilang.
I: Emang posisi teman Masnya dimana?
L: Dia lagi di Jakarta, Mas.. Kasihan dia nanti gak bisa pulang. Lagian di Jakartanya nanti gimana dia, kan gak punya uang.
I: HPnya hilang kok bisa ngehubungin Mas?
L: Dia nelpon pinjam HP orang lain di sana, Mas. Katanya darurat banget dia minta ditransfer.
I: Oh ya udah kita cek dulu saldonya ya, Mas. Ini tuh lagi nunggu transferan Bapa, gak tahu udah ditransfer apa belum.
L: Oh iya, monggo, Mas..

Di dalam ATM, aku agak gemetaran. Takut. Apalagi uang di ATMku waktu itu cukup banyak.
Aku berdiskusi dengan Ibank…
S: Gimana nih? Dikasih jangan? Beneran gak sih itu orang? Tapi kan uangnya nanti diganti langsung sama dia.
I: Ibank ragu, Syif.. Kan katanya mau transfer ke temannya di Jakarta, temannya kemalingan, dompet dan hapenya hilang. Nah kalau dompetnya hilang, otomatis ATMnya juga hilang dong? Biasanya kan kita nyimpan ATM di dompet. Atau gak di dompet HP kayak Syifa. Terus katanya darurat, ini udah malam, kalau harus ngurus ATM atau ambil uang ke bank sekarang juga kan gak bisa.
S: Hmm… Iya juga yaa… Terus kok dia punya uang Rp 1.000.000 itu? Berarti kalaupun kita transfer, kita kan tetap punya uangnya cash dari dia.

Kami sejenak termenung….
Kemudian…
S: Oooh… Bisa saja uang yang di tangannya itu uang palsu atau uang hasil curian. Dia mau transfer uangnya supaya jejaknya hilang. Ibaratnya money laundry. Jadi kan nomor seri di uang yang dia curi itu berpindah ke tangan kita. Dia malah bersih. Nanti kita yang kena batunya. Atau mungkin uang itu palsu. Nanti kita juga yang kena masalah.
I: Iya bisa jadi. Lagian kalau Ibank atau Syifa yang kena musibah, pasti yang dihubungi pertama kali keluarga kan. Atau kalau Ibank mah ngehubungin Syifa dulu deh karena hafalnya nomor Syifa. Hebat banget ya itu orang, dia mah hafalnya nomor temannya.  
S: Terus sekarang gimana cara keluarnya?
I: Ya udah keluar aja. Kita bilang ke orang itu uangnya gak ada, belum ditransfer.
S: Oke, ayo!

Di luar, orang itu setia menanti kami.
L: Gimana, Mas, Mbak, bisa nggak saya numpang transfer?
S: Maaf, Mas, ATMku gak ada segitu saldonya. Bapaku ternyata belum transfer. Permisi ya, Mas, kami mau masuk dulu.

Di pintu masuk Ramai Mall, kami kembali menoleh ke ATM Center. Orang itu masih di tempatnya, hanya di ATM bank itu, tidak berpindah ke ATM bank sebelahnya. Sepertinya dia masih akan terus mencari mangsa lain.

Satu sisi, aku takut aku yang berburuk sangka pada orang lain yang padahal memang sedang membutuhkan bantuan. Tapi di sisi lain, dia orang asing. Helloww… Aneh banget kan dia berdiri terus di ATM sambil memegang uang Rp 1.000.000-nya tanpa takut ada jambret atau apa lah. Alasannya juga gak masuk akal. Penampilannya pun mencurigakan.

Pokoknya, kita mah waspada saja lah! Jangan mudah percaya pada orang asing, jangan mudah dirayu dan menaruh simpati pada orang asing! Waspadalah, waspadalah… Kejahatan bukan hanya terjadi karena ada niat si pelaku, tapi juga karena ada kesempatan. So, kita sebagai –mungkin- target, jangan sampai memberikan setitik kesempatan pun pada orang-orang jahat untuk melancarkan aksinya.

Dan di dalam Ramai Mall…
S: Lalu aku harus ambil uang dimana? Kan mau beli tabletnya saat ini juga. Kalau balik lagi ke ATM Center Ramai Mall nanti ada orang itu lagi… :(
I: Oh iyaaa….. *tepok jidat

Terpaksa kami berjalan ke luar Ramai Mall lewat pintu depan (Jalan Malioboro) dan mencari ATM terdekat di Jalan Malioboro. Akhirnya nemu deh ATM bank lain. Higs, kena potongan lumayan deh karena bukan di ATM bank sendiri. Ahaha :P

By. Si Famysa, waspada!

Selasa, 10 Februari 2015

Surga di Atas Pantai Kuta

Surga di atas Pantai Kuta; rasanya ungkapan ini tidak berlebihan. Memang ada surga di sana. Surga dunia. Surga bagi penikmat wisaha bahari, surga bagi penikmat tempat romantis, surga bagi penikmat tropisnya pantai Lombok.
Awalnya kukira pemandu wisata keliru menyebutkan "sekarang kita akan menuju Pantai Kuta." Namun ternyata aku yang keliru. Pantai Kuta tidak hanya ada di Bali. Di Lombok pun ada, tepatnya di Desa Kuta, Kecamatan Pajut, Kabupaten Lombok. Pantai Kuta Lombok bahkan berkali-kali lipat jauh lebih indah dari Pantai Kuta Bali. Suasananya benar-benar masih asri. Pantai Kuta terlihat lebih tenang dan lebih hangat. Tidak seperti Pantai Kuta Bali yang ramai dan sesak oleh manusia.
Pasir putih Pantai Kuta berbeda dengan pasir putih di Gili Trawangan. Jika disentuh, seperti bukan pasir, tidak halus seperti pasir biasanya. Melainkan seperti serpihan-serpihan kecil batuan karang. Bulat-bulat kecil seperti mute. Tidak usah takut bermain pasir di Pantai Kuta karena pasir seperti mute itu tidak akan mengotori tangan dan kaki kita. Sekali dikibaskan, pasir itu akan langsung luruh dari tangan kita. Pun jika menempel di kaki, kita cukup mengusapnya saja, pasir seperti mute itu akan berjatuhan. Pasir itu mengingatkanku pada pasir di Pantai Kukup, Gunung Kidul Yogyakarta. Mirip-mirip seperti pasir Pantai Kukup.
Bebatuan yang terhampar di Pantai Kuta bak wahana permainan bagi para pengunjung. Para pengunjung dapat menikmati sensasi berjalan di bebatuan dengan pijatan air Pantai Kuta yang menyapa. Terus berjalan sampai hamparan bebatuan paling ujung, para pengunjung dapat berpose cantik di sana dengan latar belakang laut lepas dan pulau-pulau kecil yang terlihat, kemudian mengabadikannya dengan kamera. Atau sekedar berpose di depan bebatuan yang tinggi. Apapun latar belakangnya, foto pasti terlihat indah.
Ada yang menarik waktu berkunjung ke Pantai Kuta. Anak-anak penjual gelang-gelangan. Mereka menawarkan dagangannya dengan cara yang agak tidak biasa. Bisa dibilang seperti agak mengemis. Bahkan kata-kata penawaran mereka terdengar seperti sarkasme. "Mbak, beli gelangnya, Mbak.. Satu saja.. Buat uang jajan saya." Kemudian jika kita lama tidak merespon atau bahkan menolak, anak-anak itu akan menjawab, "Oh gitu ya.. Jalan-jalannya ke Kuta tapi beli oleh-oleh gelangnya di toko ya." Hmm... Mungkin panasnya cuaca di Lombok mempengaruhi tumbuh kembang mental anak-anak juga ya.
Satu pertanyaan yang ada di benakku, mengapa namanya sama-sama Kuta seperti pantai di Bali? Dengan magnet yang dimiliki Bali, tentu saja orang awam sepertiku akan lebih familiar dengan Pantai Kuta Bali yang sudah tersohor ke mancanegara.

Diluar dari anak-anak penjual gelang-gelangan dan nama yang sama, Pantai Kuta Lombok tetap sangat indah. Keindahannya tidak akan berkurang sedikit pun walaupun ada lebih banyak anak-anak penjual gelang-gelangan itu, atau bahkan ketika tidak ada seorang pun yang tahu bahwa di Lombok juga ada Pantai Kuta. Biarkan Pantai Kuta Lombok tetap menjadi surga. Surga yang hanya akan dikunjungi oleh orang-orang yang bertakdir dengan surga.

NB: artikel ini dan artikel Gili Trawangan; Maldives-nya Indonesia aku tulis untuk lomba Copa de Flores - Adira Faces of Indonesia, setahun yang lalu. alhamdulillah lolos sebagai 24 besar dari ribuan peserta :) 

by. si Famysa, beach lover!

Minggu, 08 Februari 2015

Gili Trawangan; Maldives-nya Indonesia

"Sekarang aku sudah tidak berkeinginan bulan madu ke Maldives. Ternyata di sini juga ada tempat seindah Maldives," ujar temanku ketika kami baru saja sampai di Gili Trawangan, Lombok. Semilirnya angin, hangatnya matahari, birunya laut dan langit, hamparan pasir putih, semua keindahan bahari Indonesia terangkum di sana.
Gili Trawangan terletak di sebelah Barat Laut Lombok. Berjejer cantik dengan dua gili lainnya, yaitu Gili Meno dan Gili Air. Berdasarkan bahasa penduduk setempat,  gili itu sendiri artinya pulau kecil. Jadi kita tidak perlu lagi menambahkan kata 'pulau' di depan Gili Trawangan. Seperti ketika kita menyebutkan Fuji Yama, kita tidak perlu lagi menambahkan kata 'gunung' di depannya. Karena 'yama' berarti gunung dalam bahasa Jepang.
Diantara Gili Meno dan Gili Air, Gili Trawangan merupakan gili yang terbesar. Fasilitas wisata di sana cukup lengkap. Berbagai penginapan dan restoran, tempat ibadah, fasilitas selam, snorkeling, perahu wisata, kapal bermotor antarpulau, semuanya ada. Disediakan juga persewaan sepeda dan cidomo -semacam delman- untuk wisatawan yang ingin berkeliling Gili Trawangan. Sedangkan kendaraan bermotor tidak tersedia di sana, karena tidak diijinkan oleh aturan lokal. 
Berbeda dengan Maldives yang bentuk pulaunya memanjang, Gili Trawangan bentuk pulaunya membentuk sebuah lingkaran. Sehingga jika dilihat dari udara, Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili air terlihat seperti tiga titik bulat yang berjejer cantik di tengah lautan.
Banyak sekali turis asing di Gili Trawangan. Sekilas terlihat lebih banyak turis asing daripada turis lokal di sana. Mereka sekedar berjemur sambil mengobrol santai, bersepeda sambil bersenda-gurau, atau menikmati pemandangan sambil menyantap hidangan di restoran.
Penduduk Gili Trawangan kebanyakan adalah pendatang dari Sulawesi, bukan orang Lombok atau NTB asli. Konon katanya dulunya Gili Trawangan ini dihuni oleh narapidana. Karena penjara waktu itu sedang penuh, maka Gili Trawangan menjadi tempat pembuangan narapidana. Waah, enak sekali ya narapidana jaman dulu, dibuangnya ke Maldives versi Indonesia. Sepertinya semua orang juga mau jika dibuang ke tempat seindah Gili Trawangan. Apalagi jika sudah mempunyai pasangan, serasa bulan madu setiap hari. Tempat seromantis Gili Trawangan, siapa yang tidak ingin ke sana?

NB: artikel ini aku tulis untuk lomba Copa de Flores - Adira Faces of Indonesia, setahun yang lalu. alhamdulillah lolos sebagai 24 besar :)) Sebenarnya ada 2 artikel yang aku kirimkan waktu itu. Satu laginya kapan-kapan nyusul. Hehe

by. si Famysa, traveler wannabe

Rabu, 07 Januari 2015

Just Married; Cerita di Balik Layar

Kali ini aku sepakat dengan apa kata orang mengenai 'ujian menjelang nikah'. Katanya akan ada ujian yang luar biasa menguras emosi jiwa menjelang hari pernikahan. Ujiannya akan terasa berbeda dengan ujian di kala masih pacaran. Ujiannya kalau gak kuat-kuat amat menghadapinya mah bakal bikin pernikahan batal. Benarkah? -tanyaku, dulu-. Dan setelah aku melewati fase pranikah itu, dengan segala kejujuran dan kerendahan hati, aku menyatakan bahwa aku mengalami ujian itu.

Persiapan pernikahanku memang bisa dibilang express. Kira-kira di minggu ketiga bulan November, aku baru membicarakan tentang nikah dengan Bapaku. Entah ada angin apa, tiba-tiba Bapa mengijinkanku menikah, padahal sebelumnya terkesan menunda-nunda, mungkin maksudnya menunggu aku mapan secara finansial dulu. Aku langsung menyahut tawaran Bapa dengan menantang balik, 'oke kalau gitu nikahin Neng aja' --- 'Boleh. Kapan?' --- 'Bulan depan, Desember!' Dan Bapa, skakmat! 
Singkat cerita minggu depannya aku langsung meminta jadwal kosong Bapa untuk acara lamaran. Lalu tanggal 13 Desember lamaran sekalian menentukan tanggal pernikahan, dan langsung diputuskan tanggal 26 Desember sebagai hari pernikahannya. Kilat ekspres kan? Ada gak sih yang lebih kilat dari aku? Hhehe... Alhamdulillaaah niat baik kami dilancarkan jalannya oleh Alloh. Alhamdulillaah mimpiku untuk menikah maksimal di usia 23 tahun terwujud di usia 22 tahun :)
Di tengah kesibukan Sakola Printing yang memang sedang ramai-ramainya oleh anak sekolah yang mengerjakan tugas UAS & remedial, kami mencuri-curi waktu untuk mengurus persyaratan nikah. Mulai dari hari Senin tanggal 15 Desember, kami mendatangi KUA untuk menanyakan alur mengurus persyaratannya. Informasi yang kami dapat dari KUA adalah: urus surat pengantar nikah dari desa calon pengantin pria --> urus surat pengantar nikah ke KUA kecamatan tempat tinggal calon pengantin pria --> masukkan surat pengantar nikah calon pengantin pria ke desa calon pengantin wanita --> bawa berkas yang sudah siap ke KUA tempat menikah. 
Beres bertanya ke KUA, Ibank langsung ke kantor desa. Tapi, Pak Lurah tidak di tempat. Besoknya, Ibank ke kantor desa lagi. Surat sudah beres. Tapii... Biaya administrasinya sebesar Rp 150.000, setelah lempar tanya ke sana-ke mari antarpetugasnya. Ibank memutuskan akan mengambil surat itu besoknya lagi dengan alasan tidak membawa uang sebanyak itu. Hari Rabu, Ibank ke kantor desa lagi dengan bapaknya, dengan harapan akan dikasih murah kalau datang dengan bapak yang lumayan dikenal di desanya. Namun hasilnya? Apa coba tebak? Jadi Rp 100.000, berkurang Rp 50.000 doang.
Mungkin karena kesal pada pelayanan desa yang kebanyakan pungli, Ibank lantas update status di facebook, isinya kurang lebih pernyataan kekecewaannya, membandingkan antara seharusnya namun pada prakteknya tidak sama seperti yang seharusnya, dengan menyebutkan nama desanya. Maklum lah yaa namanya juga baru kelar Juni kemarin jadi mahasiswa, jadi yaa aura-aura kritis mahasiswanya masih nempel. Haha -Sayangnya status itu sudah dihapus jadi gak bisa aku capture-. Banyak sekali yang berkomentar di status Ibank itu, baik yang menyatakan sepakat, tidak sepakat, maupun yang memberi saran. 
Parahnya, kakaknya Ibank berkomentar menjelek-jelekkan desa tersebut dengan menyebutkan nama lurahnya pakai awalan 'si'. Tanpa disangka-sangka, muncul deh komentar yang katanya dia itu anaknya Pak Lurah, dia tidak terima bapaknya dijelek-jelekkan, apalagi di media sosial. Perang dunia deh tuh di statusnya Ibank. Zzzz...
Perang tidak berakhir di status. Orang yang katanya anak Pak Lurah mungkin melaporkan hal ini pada Pak Lurah. Sore harinya, kira-kira setelah maghrib, ada dua orang perwakilan desa Ibank yang datang ke rumahku untuk mengambil surat pengantar nikahnya Ibank. Katanya sih lupa dicopy. Waktu itu aku tidak mengerti apa-apa, aku belum tahu bahwa status itu membawa kericuhan sejauh ini. Kubilang saja pada dua orang itu, surat pengantar nikah sudah masuk ke desaku, sedang diproses. Dua orang itu keukeuh ingin mengambil suratnya, mereka bilang mereka mau ke Pak Amil desaku untuk mengambil lagi surat itu. Hmm... Aku yang belum mengerti iya saja lah, sambil keheranan.
Aku baru tahu permasalahan ini setelah keesokan harinya Ibank cerita padaku. Orang tua Ibank juga memarahi Ibank dan kakaknya. Aku juga sempat kecewa pada Ibank. Kubilang "nanti aja update statusnya kalau urusan kita udah kelar. Kalau gini ceritanya takutnya kita nanti malah dipersulit loh." -dan saat itu aku baru mengerti maksud dua orang perwakilan desa kemarin. bukan mau mengcopy, tapi memang mau menarik lagi surat itu-. 
Malam harinya, berbarengan dengan kunjungan mamahku ke rumahnya Ibank, ada orang utusan desa datang ke rumahnya Ibank. Orang itu membawa amplop berisi uang Rp 100.000 (uang bayaran administrasi surat pengantar nikah Ibank). Orang itu menyampaikan bahwa Pak Lurah tidak terima dengan status dan komentar Ibank dan kakaknya. Ibank sekeluarga harus minta maaf secara pribadi pada Pak Lurah jika ingin surat pengantar nikah diberikan lagi. Ulalaa... Gimana gak stres aku, segala ada kejadian begini -__-
Akibat kejadian ini, berkas surat nikah kami jadi lama sampai ke KUA. Sampai saat ini pun, kami sudah seminggu lebih menikah, buku nikah kami belum beres. Padahal kan biasanya pas nikah itu ya langsung tanda tangan buku nikah. Muehehe... Pengantin hebring lah ini mah :P
with my MUA, Mbak Muti
Oh ya, ada lagi yang sempat jadi masalah terkait urusan pendaftaran nikah. Biaya pendaftaran ke KUA di sini sebesar Rp 1.200.000 (terima beres, semua diurus oleh amil). Katanya sih untuk transportasi, konsumsi, ijin RT/RW, begituan deh. Padahal kata Ibank harusnya cuma Rp 600.000 kalau lokasi nikah di luar KUA, itu sudah termasuk transport, konsumsi, dll (sesuai UU perkawinan -aku gak tau UU nomor berapa tahun kapan. hehe :P-), malah kalau nikah di KUA itu bebas biaya alias gratis. 
Well, well, menurutku pribadi sih terserah lah berapa pun juga. Mungkin karena masyarakat di sini sudah terbiasa terima beres, jadinya ya angka segitu sudah lumrah, seolah sudah menjadi kesepakatan bersama. Setelah aku tanya kakak sepupu yang menikah di Cikampek-Karawang Oktober lalu pun, biayanya sama, Rp 1.200.000. Bagaimana di tempat kalian, Cems?

Ujian lain datang lagi, ada kesalahpahaman antara mamah, aku, dan orang tua Ibank. Ditambah Bapaku juga, masa Bapa lupa tanggal pernikahanku. Sekitar H-3, Bapa bertanya tanggal berapa acaranya. Dan H-2, Bapaku masih sibuk perjalanan dinas di Jogja, sedangkan hal-hal yang harus diurus itu banyak. Tenda, kursi, makanan belum pesan, susunan acaranya belum fixOMG! Ini sungguh pernikahan luar biasa. Hahaha... 

Alhamdulillaah Yaa Alloh... Kami bisa melewati berbagai ujian pranikah ini. Semoga ini adalah pertanda baik, semoga ini adalah suatu bentuk kasih sayang-Mu pada kami agar kami senantiasa mengingat-Mu kapanpun, dimanapun. Aamiin :)
NB buat para calon pengantin: Kritis lah di saat yang tepat dan di tempat yang tepat ;) :P

MUA & Bride Gown Set: Salon Jilbab Annisa by Nur Meutia
Photo Editing: Sakola Printing

by. si Famysa, a wifey ^^

Kamis, 02 Oktober 2014

Interview Management Trainee Shafira Corporation

Beberapa hari yang lalu aku mendapat sms panggilan interview dari Shafira Corporation (ShafCo) untuk posisi Management Trainee for Retail. Lokasi interviewnya di Bandung, tepatnya di Shafira Store Jalan Sulanjana nomor 28, Dago. Karena lokasi interviewnya di Bandung, langsung saja aku konfirmasi bisa hadir. Bandung kan tidak terlalu jauh dari Subang, dan entah kenapa akhir-akhir ini aku sedang jatuh cinta pada suasana Bandung. Mungkin karena sekarang jauh dari Semarang dan Jogja kali ya, jadinya rindu sama kota besar yang penuh dengan inspirasi. Hehe..
selfie sukaesih saat menunggu giliran :D
Shafira ini merupakan gudangnya busana muslim. Zoya juga ada di bawah naungan ShafCo looh... Jujur aku sih baru tahu. Hehe.. Untuk brand Shafira sendiri harganya jauh, jauuuh di atas Zoya. Zoya saja aku belum mampu beli pakai uang sendiri, apalagi Shafira. Haha :P Selain Zoya dan Shafira, ada juga brand baru dari ShafCo, yaitu Encyclo. Sekilas dari pengamatanku siih, perbedaan dari ketiga brand itu ada di klasifikasi target pasarnya. Shafira untuk kalangan atas, Zoya untuk kalangan menengah, dan Encyclo untuk kalangan remaja.
Salah satu alasan kenapa aku drop CV di ShafCo ya karena ShafCo bergerak di bidang fashion. And i know that fashion is my passion. Meskipun aku gak terlalu gila harus ngikutin fashion terkini, tapi aku sangat sangat suka dan jatuh cinta pada fashion. Bahagia gitu rasanya lihat baju-baju bagus, warna-warni, eye catching. Dan eeh ternyata aku dipanggil untuk interview, untuk posisi Management Trainee lagi.. Itu kan program yang buat jadi manajer ituu. Kan keren kalau bisa langsung jadi manajer :D
kursi interview
Saat ini di hatiku ada rasa ingin menaklukannya. Aku ingin mencoba bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang fashion, itung-itung tambah ilmu dalam dunia fashion kan.. Gimana cara desain, produksi, pemasaran, pemotretan, dll. Ah, kayaknya seru.. Apalagi kalau bisa diterapkan ilmunya buat Famysa. Hihihi..
Kemarin antriannya cukup panjang. Aku datang jam 10 pagi, kebagian interviewnya jam 1.30 siang. Hoaam... Pertanyaan yang diajukan cuma dua sih. Pertama disuruh perkenalkan diri secara singkat, sama ditanya alasan kenapa mau kerja di ShafCo. Yang bikin lama itu ya pertanyaan-pertanyaan sekundernya. Seperti misalnya kemarin waktu aku perkenalan, aku menceritakan kegiatan bisnisku, nah langsung ditanya-tanya di situ perihal bisnisnya.
Pertama masuk, disuruh isi formulir, aku yang tadinya biasa saja tiba-tiba nervous. Lama antri, nervousnya hilang. Pas teman-teman (kenalan di sana) satu per satu dipanggil, nervousnya datang lagi. Tapi pas giliran aku dipanggil, alhamdulillah nervousnya hilang sama sekali. Haha... Pengertian banget ya nervousnya :P Tapiii walaupun gak nervous, berhubung aku diberi giliran pertama untuk memperkenalkan diri, aku jadi gak tahu mau ngomong apa, latihan saja gak pernah *jangan ditiru. Alhasil aku perkenalan diri sekenanya saja. Ah pokoknya terkesan terlalu apa adanya. Sama sekali tidak dipersiapkan siih... Lha wong niat awalnya buat uji mental saja, itung-itung mencoba interview kerja itu seperti apa sih. Hehe.. Sekarang siih berharapnya aku lolos ke tahap berikutnya. Semoga saja Dewi Fortuna menghampiri interviewku kemarin :D
Famysa big wish.. pengen punya ruangan kece kayak gini
Oh ya, kemarin itu, saking tidak dipersiapkan sama sekali, aku ke sana hanya bawa diri. Ternyata di sana disuruh isi formulir. Untung saja di tas ada pulpen. Terus juga diminta foto, copy ijazah dan transkrip, sama copy KTP. Hadeeeh... Mentang-mentang di sms panggilannya gak disuruh bawa apa-apa, ya aku benar-benar hanya bawa diri :P
Saran yaa buat teman-teman yang mau interview kerja: latihan interview, bawa pulpen, bawa copy KTP, ijazah, transkrip, foto terbaru, dll (berkas pendukung lainnya juga boleh deh bawa saja, siapa tahu ditanyakan)!!! Jangan sampai seperti aku kemarin yang kepedean hanya bawa diri. Hehehe
Alhamdulillaah Yaa Alloh... Kemarin dapat pengalaman yang luar biasa! Bisa tahu Shafira, bisa tahu rasanya interview kerja, dapat teman baru, bisa promosi Famysa juga... ^-^

By. Si Famysa, calon manajer :D

Rabu, 22 Januari 2014

Wisata Mangrove dan Teluk di Pantai Cirewang

This is it... Subang proudly present: Cirewang Beach :)
wisata mangrove di river trip menuju Pantai Cirewang
Di tengah duka cita pemberitaan media tentang kampung halamanku yang tergerus banjir, ijinkan aku yang berada nun jauh di Semarang sini mempersembahkan salah satu keindahan alam yang dimiliki Subang. Salah satu keindahan alam yang mungkin saat ini tertutup keindahannya oleh luapan air. Pray for Subang, pray for Indonesia... Semoga banjir cepat berlalu.. Semoga segala bencana cepat berlalu.. Aamiin...
Teluk Cidaon
Pantai Cirewang; namanya pertama kali aku baca di salah satu akun twitter yang berisi pemberitaan mengenai Subang. Katanya doi adalah pantai baru. Yaa memang aku juga baru mendengar namanya akhir-akhir ini. Karena setahuku di Subang cuma ada dua pantai, Pantai Pondok Bali dan Pantai Patimban. Dan beberapa waktu yang lalu, tepatnya hari Kamis, 26 Desember tahun lalu -hohoho- aku, IbankWelly, dan Syiha mendadak mendamparkan diri di Pantai Cirewang.
Pantai Cirewang
Jadi ceritanya setelah hunting foto Ki Tambleg di Perum Sang Hyang Seri Ciasem, mengingat hari masih cukup terang, sekitar pukul 14.30-an WIB, tiba-tiba saja di perjalanan pulang terpikirkan untuk main-main dulu. Main kemana? Itu yang kami pikirkan sepanjang perjalanan pulang ketika masih berada di Jalur Pantura. Setelah diskusi singkat, mempertimbangkan ini-itu, akhirnya kami memutuskan untuk main ke Pantai Pondok Bali. Dari Pamanukan, kami banting setir ke kiri jalan, ke arah Pantai Pondok Bali. Sambil meraba-raba jalan, kami terus mendekati Pantai Pondok Bali.
ki-ka: pantai, teluk - hanya dipisahkan oleh daratan kecil
Di perjalanan menuju Pantai Pondok Bali, sekilas aku melihat ada baligho bertuliskan Pantai Cirewang. Tapi awalnya aku tidak bisa membaca dengan jelas apa yang tertulis di baligho itu. Kemudian aku ingat, aku pernah membaca info mengenai pantai baru di dekat Pantai Pondok Bali. Eeh setelah aku menceritakan pantai baru yang aku lupa namanya itu, aku menemukan baligho yang bertuliskan Pantai Cirewang lagi. Kali ini terbaca jelas. Kubilang, "Naah itu tuuh, Pantai Cirewang!" Mobil terus melaju... Hingga akhirnya di suatu pertigaan. Lurus: Pantai Pondok Bali, 4 Km, kanan: Pantai Cirewang, 7 Km.
dermaga Teluk Cidaon
Kami mulai galau. Ke Pantai Pondok Bali sesuai dengan rencana awal atau banting setir ke Pantai Cirewang. Dengan keputusan kilat, akhirnya Pantai Cirewang lah yang kami pilih. Alasannya karena aku tahu bahwa Pantai Cirewang ini adalah pantai baru yang konon katanya belum terjamah, tidak seperti Pantai Pondok Bali yang sudah kotor di sana-sini, tidak terawat. Belok kanan lah kami... Menempuh 7 Km perjalanan selanjutnya. Yang kemudian disuguhi oleh indahnya jalan becek, rusak, setapak, dan berlumpur. Maknyus deh jalannya. Hehehe...
mangrove di Pantai Cirewang
Sesampainya di Kampung Cirewang, kami kebingungan. Pantainya manaa? Selidik punya selidik, ternyata untuk menuju ke pantai harus ditempuh dengan perjalanan menggunakan perahu menyusuri sungai. Pantas saja... Kupikir kami tersasar :D Biaya perahunya Rp 15.000/orang (PP, unlimited time, ditunggu sepuasnya). Lumayan kan, murah biayanya.. Apalagi setelah tahu dengan perahu itu kami akan diajak berwisata mangrove dan wisata teluk. Beuuhh 15.000 itu mah gak ada apa-apanya. Wisata pantai yang unik, harus naik perahu dulu melewati sungai. Belum lagi pemandangan mangrovenya di sepanjang sungai sampai pantai yang memanjakan mata. Sejauh yang pernah kualami, mana ada pengalaman seperti ini di pantai lain... ;)
mangrove di Pantai Cirewang
Sepanjang perjalanan menyusuri sungai, kami disuguhi oleh pemandangan mangrove yang berjejer cantik. Makanya kukatakan ini adalah wisata mangrove. Sungai yang harus kami lalui lumayan panjang. Kami membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit menggunakan perahu untuk sampai ke Pantai Cirewang. Aku jadi dejavu, ingat waktu KKL ke Bali dan Lombok bulan Mei tahun lalu, setiap hari perahu-perahuan mulu, jadinya rada enek sama perahu *eh *oops :P But it was different! Ini adalah pengalaman berbeda di tempat dan waktu yang berbeda. Karena sejatinya manusia memang tidak bisa mengulang sejarah kan ;) Kecuali kalau kamu penganut paham reinkarnasi.
Sungai pun berlalu. Di hadapanku sudah tersaji hamparan air yang luas membentang. Kupikir kami akan berujung di muara, kemudian ke pantai. Ternyata di sana kami dipertemukan dengan teluk. Lucunya, aku dan Welly sempat ketakutan, "dimana inii?" Hahaha... Padahal teluk, bukan laut. Pantas saja airnya tenang :D Teluk itu bernama Teluk Cidaon. Dari teluk, kami mendarat langsung di pasir Pantai Cirewang. Konon pasir pantai itu adalah tanjung yang dulunya belum terbentuk. Dulunya tidak ada daratan itu. Jadi antara pantai dan teluk dulunya bersatu, dulunya mereka adalah laut, bukan pantai dan teluk. Daratan itu mulai terbentuk sejak tahun 2000-an. Waah keren yaa, subhanallah :))
Teluk Cidaon
Oh ya, Pantai Cirewang ini terletak di Kampung Cirewang, Kecamatan Legonkulon, Subang. Jadi sudah bukan termasuk wilayahnya Pamanukan lagi. Pantai Cirewang terletak di antara Pantai Pondok Bali dan Pantai Patimban, yang kesemuanya berada di tiga kecamatan berbeda.

Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di sana karena langit sudah mulai mendung. Dan iya saja, di perjalanan pulang, kami kehujanan, deras sekali. Aku dan Welly bukannya sibuk menyelamatkan diri dari hujan, malah sibuk menyelamatkan kamera. Hahaha :P 
Dadaah Cirewang... Kami harus pulang... See you next time ;)

Jadi... Gimanaa? Apa kabar Pantai Cirewang dan Teluk Cidaon? Semoga kalian diselamatkan dari bencana banjir yang menghampiri. Doakan sama-sama yuuk untuk Subang dan Indonesia....!! Al-Faatihah...  ^^

by. si Famysa, amateur traveller

Jumat, 17 Januari 2014

National Conference on Disability Awareness

See! Ini draf jaman kapan? Hehehe... Bahkan ketika teman-teman blogger berlomba-lomba menuliskan resolusi 2014nya, aku malah sama sekali mengabaikannya. Ucapan happy new year pun cuma kulakukan di twitter :P Tapi bukan berarti aku tidak punya resolusi atau melupakan gegap-gempita tahun baru ya... Aku hanya... Hmm... Bisa dibilang agak sedikit sibuk. Maap, maap :))
Dan sekarang, mumpung masih ada di detik-detik terakhir hari ke-17 di tahun 2014, gak ada salahnya kan kalau aku mengucapkan SELAMAT TAHUN BARUUU 2014!! Semoga segala harap dan mimpi yang belum sempat terwujud di tahun-tahun sebelumnya dapat terwujud di tahun 2014 ini. Dengan begitu berarti kita tergolong ke dalam orang-orang yang beruntung. Aamiiin... ^-^  
Yuk mari kembali ke laptop!
Jadi, tanggal 7-8 Desember 2013 lalu, aku melancong ke Jakarta untuk mengikuti acara ini, NCDA; National Conference on Disability Awareness, bersama Azizah si bocah Priuk. Sebelumnya aku sempat menuliskan cerita perjalanan tersebut di postingan ini --> Lika-liku Anak Gaul Jakarta --> monggo dibaca :)
Latar belakang aku mengikuti acara ini adalah karena ajakan Zizah. Karena mager di Semarang, sedangkan revisian skripsiku mangkrak di meja dosen pembimbing, otomatis aku langsung mengiyakan tawaran Zizah. Alhamdulillahnya formulir pendaftaranku diterima oleh penyelenggara acara. Padahal entah aku suka atau tidak mengenai disabilitas, entah bagaimana acaranya, yang penting aku bisa pergi dari Semarang, pikirku waktu itu. Pun kalau formulirku tidak diterima, aku akan tetap ikut pergi ke Jakarta untuk pulang ke Cikampek. *devil mind, Hahaha... 
Aku masih belum tahu apa yang aku ingin dapatkan dari acara NCDA itu bahkan ketika aku sudah sampai di Jakarta. Aku sama sekali tidak belajar, sama sekali tidak mempersiapkan apapun mengenai acara tersebut. Apa yang akan dibahas dalam konferensi, ikuti saja lah.. Aku berjodoh dengan paralel (diskusi) mengenai pekerjaan pun, ikuti saja lah. Yang penting ilmunya. Aku tidak menggebu-gebu harus bertanya, harus aktif atau apa lah seperti biasanya. Ckckck :P
Begitu jumpa dengan hari pertama acara NCDA di kampus Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI), kesan pertamaku adalah "ini kampus keren bener, acaranya juga pasti bakalan keren". Terlebih lagi karena ada sarapan yang sudah tersaji di meja prasmanan. Eh, jauh-jauh ke Jakarta, ketemunya sama tahu bakso juga. Itu mah makanan khasnya Ungaran Semarang. Hahahaa... but it was delicious tabax i ever ate in Jakarta :D
Sabar Gorky, pendaki
Ini bukan kali pertama aku berinteraksi dengan penyandang disabilitas (pendis). Sebelumnya aku pernah berbaur bersama pendis dalam acara Blogger Nusantara --> Stories Behind the #BN2013 dan dalam acara Writing Super Camp FLP Semarang --> Sahabat Mata. Bahkan nenekku sendiri adalah pendis, kelainan jiwa dan cacat fisik. Hidup bersama nenek yang pendis ternyata belum mampu membuatku benar-benar bisa berbaur dengan pendis. Tetap saja aku merasa ada sekat antara aku dan mereka. Bukan aku underestimate pada pendis, tetapi sebaliknya. Aku merasa aku penuh kekurangan jika bersanding dengan mereka. Ah begitu lah pokoknya, mungkin diantara kalian juga ada yang feeling same with me when you meet them.
Baru di acara NCDA saja aku benar-benar berinteraksi dengan pendis. Suatu pengalaman yang luar biasa bagiku. Suatu kemajuan juga bagiku. Aku belajar banyak hal, dan aku dapat mengetahui banyak hal mengenai pendis di acara NCDA itu. Berdiskusi dengan pendis, berbaur dan berinteraksi dengan pendis, merumuskan suatu kebijakan mengenai pekerjaan pendis, belajar bahasa isyarat bagi tuna rungu, dan banyak lagi. Ternyata suatu keputusan asal ikut daripada gabut ada manfaatnnya juga ya. Hihihi... Thanks to Zizah yang sudah berbagi informasi :*
Ada dua hal menarik yang kucatat. Pertama, pemberitaan mengenai disabilitas dianggap kurang seksi/kurang menjual oleh media. Makanya tidak banyak berita yang mengulas mengenai disabilitas. Padahal sebenarnya disabilitas perlu disuarakan. Karena setiap manusia di negeri ini pasti akan mengalami disabilitas, hanya tinggal menunggu waktu. Tetapi pada realitanya, Indonesia belum bisa ramah terhadap pendis. Di saat negara-negara lain sudah ramah pada pendis, Indonesia kapan? Sedangkan media pun menganggap berita mengenai disabilitas kurang seksi. Pertanyaan lanjutannya adalah; apakah memang kurang seksi atau belum dibuat seksi? Sedangkan media itu sendiri lah yang bisa membuat suatu berita menjadi seksi. Maka tugas kita sebagai blogger/penulis adalah membantu menyuarakan kebutuhan-kebutuhan dan pemberitaan mengenai pendis. 
ki-ka: penerjemah, Ibu Penny (dosen), Ibu Christie (arsitek)
Kedua, pekerjaan maupun fasilitas yang layak untuk pendis berbenturan dengan pemerintah yang masih berorientasi bisnis. Dalam pembangunan apapun, pemerintah pasti lah harus bisa seefektif dan seefisien mungkin. Belum lagi karena praktek KKN dimana-mana. Ini yang menyebabkan pendis agak sedikit diabaikan kebutuhannya. Padahal pada kenyataannya pendis bisa bekerja. Pendis hanya membutuhkan akses yang mudah agar mereka dapat bekerja sebagaimana orang non pendis. Namun karena Indonesia belum sepenuhnya menyadari hal ini, atau mungkin belum menjadikan pembahasan mengenai disabilitas sebagai prioritas, maka tugas pendis adalah terus berusaha dan jangan manja. Non pendis pun harus membantu pendis semaksimal mungkin agar pendis dapat hidup bersama-sama dengan non pendis.
Fina, bocah Malang-melintang :P
Perlu kita ketahui, pendis sebenarnya adalah aset bangsa. Mungkin sama seperti TKI dan TKW sebagai pahlawan devisa, pendis pun dapat berguna lebih dari itu bagi bangsa ini. Tuna netra bukan berarti tidak dapat diandalkan. Tuna netra banyak yang bisa bernyanyi dan bermain alat musik. Tuna daksa juga bukan berarti hanya bisa merepotkan keluarga. Tuna daksa tetap bisa berkarya, banyak sekali tuna daksa yang menjadi seniman terkenal dengan karya seninya yang bernilai tinggi. Dan yaa... begitu pun yang lainnya. Dibalik kekurangan, Tuhan pasti menitipkan kelebihan pada tiap insan, bukan? :)
Aku rasa sekarang bukan saatnya kita memandang pada perbedaan. Melainkan harus bersatu dengan perbedaan untuk menuju kesempurnaan. Aku dan kamu bisa! Kita semua bisa! Mari kita tunjukkan pada dunia bahwa kita sanggup memberi banyak kebermanfaatan bagi lingkungan dan sesama.
kiri: Habibie, pengusaha
motivation notes:
Menerima, mengakui diri punya keterbatasan adalah penting, untuk menyadari kemampuan/kelebihan kita. Pada titik tertentu, tiap orang pasti akan mengalami disabilitas. Ini bukan kutukan, tapi nature. ~Prof. Irwanto~
Kalau sulit atau susah, berarti bisa! It's your jobl to create awareness. Doing nothing means discrimination. ~Indonesia Disabled Care Community (IDCC)~
Sukses itu kita yang tentukan, apapun keadaannya. Liburan itu hadiah untuk kemanusiaan. Sukses itu tentang pola pikir. Bukan hanya bekerja keras, tetapi juga bekerja dengan cerdas ~Artajasa~
Aku bisa karena aku luar biasa! ~Sabar Gorky~
Bermimpi dan terus bermimpi, disabel atau tidak! Jangan terus salahkan Tuhan, tapi terus berkarya! ~Ibu Christie~ 
note:
- foto sebagian nyomot dari FBnya Mbak Maisa Ulfah. thanks a lot, Mbak cantik :) :*
- kamu sadar, peduli, dan mau berbagi bersama penyandang disabilitas? join @idcc_official

by. si Famysa, sadar, peduli & berbagi ;)

Mijn Vriend