Selasa, 27 Oktober 2015

Selamat Hari Blogger Nasional

Yayy!! Ini rekor terlamaku meninggalkan blog ini, 5 bulan lebih, fantastic! *padahal sungguh ini bukan hal yang patut dibanggakan :P

5 bulan lebih meninggalkan rumahku ini, Jejak Si Miaw, tak terasa hari ini tiba-tiba bertemu dengan Hari Blogger Nasional. Teman-teman blogger banyak yang bersuka-ria merayakan momen ini, walau hanya dengan melempar status di berbagai media sosial. Tapi aku... Hmm... Rasanya aku malu untuk sekedar nyetatus Selamat Hari Blogger Nasional. Apa-apaan kan, wong aku sedang cuti panjang dari dunia blogger. Iya, selama 5 bulan lebih ini aku sama sekali tidak pernah menyentuh rumahku sendiri, apalagi mengunjungi rumah orang lain.

Lagi-lagi, alasannya klasik, seperti yang sudah-sudah, atau seperti alasan kebanyakan blogger, yaitu tidak sempat a.k.a tidak ada waktu a.k.a malas. Intinya itu sih. Adapun alasan lainnya ya itu sih sebagai alasan penunjang aja, hehe..

Aku masih sangat ingat, aku terakhir menulis postingan blog pada tanggal 15 April lalu. Setelah itu, datang berbagai situasi dan kondisi yang membuatku malas ngeblog. 

Pertama, aku sakit pasca imunisasi di usia kehamilanku ke-3 bulan, lumayan lama, lebih dari 2 minggu. Awalnya hanya batuk-pilek biasa. Lama-lama demam, lemas, bahkan diare panjang. Dalam sehari aku bisa BAB -gak normal- minimal 6 kali. Sudah lah sedang demam, tapi harus bolak-balik kamar mandi dan menyentuh air terus, jadi lah demamnya semakin lama.

Kedua, setelah sembuh dari sakit panjang, laptop yang biasa kugunakan ngeblog nge-hang. Sudah diinstal ulang pun tetap saja lemot. Mungkin karena faktor U dan mungkin karena dia sudah lelah diforsir terus untuk Sakola Printing, akhirnya dia ingin diperlakukan secara khusus. Well, akhirnya hanya ada 1 laptop yang bisa digunakan secara aktif, dan laptop itu lebih diprioritaskan untuk operasional Sakola Printing. Laptop pribadiku sendiri tidak bisa digunakan leluasa karena kabel charger-nya sudah rusak, biasa kusebut dia charger senggol-bacok, hahaha... Karena bergeser atau tersenggol sedikit saja, ya sudah, laptopnya mati. Maklum, batre laptopnya sudah lama wafat. Laptopnya juga sudah tua, sudah dari 2009 dia bersamaku, wajar kalau sekarang dia sudah tidak setangguh dulu.

Ketiga, kesibukan mengurus Sakola Printing dan Famysa Batik & Handmade benar-benar mengalihkanku dari dunia ngeblog. Apalagi di Sakola Printing, hari demi hari, pelanggannya makin ramai, orderannya makin numpuk, sedangkan sampai saat ini belum ada karyawan tetap, hanya ada beberapa orang yang biasa dipanggil untuk bantu-bantu pekerjaan fisik. Untuk pekerjaan non fisik (desain, depan laptop) tetap saja masih ditangani aku dan suami. Ternyata sangat tidak mudah mencari karyawan yang mumpuni di kampungku sini. Kampung dasar yaa -___-

Keempat, perutku semakin membesar. Semakin tua usia kandungan, semakin besar perut, tentunya semakin beragam keluhan-keluhan yang datang. Keluhan-keluhan itu yang membuatku semakin melupakan blogku. Bahkan pekerjaan di Sakola Printing dan Famysa pun perlahan-lahan aku kurangi. 

Sekarang, entah kenapa aku ada kemauan untuk menulis postingan ini, hahaha... Alhamdulillah beberapa minggu yang lalu Sakola Printing membeli laptop baru, laptop yang spesifikasinya lebih baik dari laptop-laptop koleksi Sakola Printing lainnya :D Sekarang saja aku menulis sambil selonjoran dan senderan. Ah senangnyaa bisa menulis lagi di laptop tanpa duduk lesehan atau duduk di kursi ala-ala orang kantoran, daan tentunya tanpa repot colok-colok kabel charger... Hihihi...

Oh iya, teman-teman, beberapa hari lagi insya Alloh bayiku akan lahir ke dunia ini :) HPL-nya sih tanggal 30 Oktober besok. Tapi sampai hari ini sepertinya aku masih belum mendapat tanda-tanda mulas akan melahirkan, hehehe... Mohon doanya yaa supaya persalinanku nanti lancar.. Aku dan bayiku diberi kekuatan dan kesehatan, aamiin ^^

Semoga sajaa mulai hari ini aku bisa konsisten ngeblog lagi, bisa ikut meramaikan dunia blogger lagi, bisa ikut lomba-lomba ngeblog lagi, bisa ikut event-event blogger lagi, hihihi... Dan oh iya, semoga jugaa aku bisa merealisasikan wacanaku yang mau membuat blog khusus untuk anakku. Kan biar unyu bin kekinian yaa, hahaha :P

Sudah dulu yaa... bubye :* :*

by. si Famysa, si perut semangka, kaki gajah, gaya pinguin :P

Rabu, 15 April 2015

Nyamannya Berkendara Dengan Vario 125 eSP

“Beneran, Fa, dari Semarang pulang ke Subang bawa motor? Hebat bangeet... Jagoan ih!”

Yuhuu... Selalu begitu respon yang kudapat dari teman-temanku setelah mereka tahu aku pulang bawa motor. Sebenarnya bukan aku yang bawa. Aku sih tinggal bonceng doang. Yang bawa mah Ibank, sahabat yang sekarang jadi suamiku :D

Aku mulai berani pulang-pergi Subang-Semarang pakai motor sejak liburan kuliah semester pertama. Niatnya supaya irit ongkos dan supaya di rumah ada kendaraan sendiri. Akhirnya, jadi ketagihan deh pulang-pergi pakai motor.

Kalau kata teman-teman aku dan Ibank yang jagoan, sebenarnya itu tidak 100% benar. Jagoan yang sebenarnya adalah motorku, si BePink (Beat jadul) dan si Beureum (Vario 125 eSP edisi pertama). Selama 3,5 tahun pulang-pergi Semarang-Subang, aku lebih banyak menghabiskan perjalanan bersama si BePink. Baru di bulan-bulan terakhir kuliah saja aku membawa si Beureum. Apakah ada bedanya? Tentu saja, ya, banyak malah! Bedanya, Vario 125 eSP lebih nyaman dari Beat jadul atau tidak? Tentu saja lebih nyaman dong!
Sejak jaman baheula, sejak aku masih SD, Bapaku selalu memakai Honda. Dari jamannya Honda Legenda, Astrea, motor dinasnya pun Honda Win, hingga kini Honda sudah mengeluarkan motor dengan teknologi pintar, Bapa selalu setia dengan Honda. Bisa dibilang Bapa adalah pecinta motor Honda. Semua motor yang pernah dimiliki Bapa adalah Honda. Akibatnya, aku jadi ketularan cinta Honda juga deh. Beberapa motor Honda yang pernah kujajal sejak aku bisa mengendarai motor adalah: Beat edisi kedua, Vario edisi pertama, Vario CBS, Scoopy dan Spacy edisi pertama, hingga motorku sekarang, Vario 125 eSP edisi pertama. Sempat juga mencoba motor New Beat eSP kepunyaan sepupu. Ya, semuanya motor matic, karena aku hanya bisa mengendarai matic :P

Waktu masih motoran jarak jauh pakai Beat, satu kelemahannya yang paling terasa adalah cepat sakit punggung dan sakit pantat. Akibatnya, badan pun akhirnya pegal-pegal. Minimal sehari setelah menempuh perjalanan jauh, aku harus istirahat total untuk menghilangkan pegal-pegal di badan. Mungkin karena ukuran jok Beat yang mungil jadinya mudah terasa sakit. Selain itu, ukuran bagasi Beat yang juga mungil agak menyulitkanku membawa banyak barang. Di bagasi hanya bisa memuat jas hujan, sedangkan barang lainnya jadi harus disimpan di depan semua. But, si Beat ini cocok banget buat pengendara motor pemula. Ukurannya yang mungil dan beratnya yang ringan sangat membantu para pemula, seperti aku dulu :D Kalau pengendara pemula jaman sekarang sih lebih enak lagi ya, sekarang kan Beatnya sudah dilengkapi dengan teknologi pintar eSP. Bawanya makin mantap tuh, tarikan dan desainnya juga makin oke! Aku sudah coba loh! Lewat jalan berlubang menuju rumahku tidak terasa, joknya empuk sih, tarikannya ngageleser kalau kata orang Sunda bilang mah :)
Dulu, motor Vario dengan motor Beat itu lebih irit motor Beat. Makanya saat ditawari bertukar motor oleh Bapa (dengan Vario 125 eSP), aku agak mikir dua kali. Aku kan memilih pulang-pergi Subang-Semarang pakai motor agar irit. Lah kalau pakai Vario lebih ngorot? Hmm..

Ternyata eh ternyataa.... Setelah dicoba, aku dan Ibank terkejut. Saat perjalanan pulang dari Semarang ke Subang, kami baru ngeuh bahwa ternyata kami hanya isi bensin dua kali Rp 25.000. Jadi, sejalan Semarang-Subang hanya menghabiskan biaya Rp 50.000 (sebelum harga BBM naik) saja. Sesampainya di rumah, bensinnya masih ada 3-4 strip lagi! Uwow! Padahal biasanya waktu pakai Beat, kami menghabiskan biaya bensin sebesar Rp 60.000 (sebelum harga BBM naik), dan sampai rumah sudah skarat di zona merah bensinnya.

Selain pemakaian bahan bakar yang lebih irit, perbedaan lain yang terasa (seperti sudah kuceritakan sedikit di atas) adalah aku tidak lagi gampang pegal, sakit punggung/pantat seperti waktu pakai Beat. Bagasinya yang luas (helm in) juga sangat berguna untuk menampung banyak barang. Tasku kan jadi lebih ringan, barang di bagian depan juga tidak kepenuhan. Dengan kelebihan si Beureum ini, waktu perjalanan Semarang-Subang  jadi lebih singkat 1-1,5 jam dari biasanya karena kami tidak lagi banyak beristirahat akibat pegal. Kami berhenti/istirahat hanya ketika makan dan sholat saja. Sesampainya di rumah, tidak ada istilah motor leg lagi deh. Perjalanan jauhku jadi makin nyaman dengan si Beureum, Vario 125 eSP.
Dulu, aku pernah pinjam motor Bibi (bukan Honda) dari Cikampek hendak pulang ke Subang. Waktu itu aku hanya mengantongi uang Rp 50.000. Di tengah perjalanan, aku sudah ketar-ketir karena bensin sudah mau habis lagi. Uang Rp 30.000 pun habis sejalan hanya untuk bensin (sebelum harga BBM naik). Padahal kalau pakai Honda matic Rp 30.000 – Rp 40.000 (setelah harga BBM naik) itu sudah bisa pulang-pergi Cikampek-Subang. Hoaah, motor matic lain bisa bikin kantong mahasiswa jebol -_-

Sekarang Km si Beureum (Vario 125 eSP) menunjukan angka 45057,8 Km. Dalam waktu kurang dari 2 tahun, walaupun sudah menempuh jarak sejauh itu, performa si Beureum tetap yahud. Yang berbeda hanya bodynya yang sudah tergores sana-sini (korban parkiran umum -_-). Mau tahu si Beureum sudah membawaku kemana saja? Mari sama-sama baca kelanjutan blog post ini ^^

Jogja – Semarang, +/- 124 Km
Semarang - Subang, +/- 433 Km
Subang – Bandung, +/- 51 Km
Subang – Cirebon, +/- 118 Km
Subang – Cikampek, +/- 60 Km
Belum lagi perjalanan dalam kota (antar kecamatan) yang tak jarang jalannya rusak parah atau menanjak dan berkelok.

Oh ya, saking iritnya si Beureum nih ya, sekarang aku jarang sekali isi bensin. Setiap suami belanja ke Bandung, biasanya ia isi bensin Rp 30.000 (setelah harga BBM naik) ketika berangkat. Pulang dari Bandung, tanki bensin masih terisi lebih dari setengahnya. Dan setengahnya itu bisa bertahan sampai seminggu kalau hanya kami pakai ke kecamatan sebelah setiap harinya. Benar-benar deh eSP, si teknologi pintar karya Honda ini sangat membantu penghematan dalam keluarga, hihihi.

Usut punya usut, setelah aku kepoin website welovehonda.com, eSP adalah singkatan dari Enchanced Smart Power, yaitu peningkatan daya tahan, halus, serta lebih bertenaga. Tiga kelebihan utama dari teknologi pintar eSP ini (yang semua orang pasti merasakannya) yaitu ekonomis, ramah lingkungan, dan performa tinggi. Matic yang sekarang sudah ditanamkan eSP di dalamnya diantaranya Vario 125 seperti si Beureum ini, Vario 150 (lagi mupeng ~~), all new Beat, dan all new PCX. Dan beritanya sih, mulai tahun 2015 ini teknologi pintar eSP akan diaplikasikan pada semua motor matic Honda. Kabar gembira tambahan: tidak akan ada kenaikan harga pula! Duileeh enak banget ya... Aku jadi membayangkan Scoopy si unyu-unyu pakai eSP, bakal makin yahud deh tuh! *ngiler :P

Well, sebenarnya masih ada 10 keunggulan lain dari eSP. Tapi tidak bisa aku tuliskan di sini karena aku sendiri tidak terlalu mengerti dengan berbagai nama/sebutan permesinan. Yang jelas, tiga kelebihan utama eSP (ekonomis, ramah lingkungan, performa tinggi) ini sangat-sangat-sangat aku rasakan. *teman-teman pembaca blog bisa kepo sendiri di website welovehonda.com yaa kalau ingin tahu tentang eSP selengkapnya.
Thanks ya, Honda ^^

Gimanaa... Masih ragu buat beralih ke Matic Honda dengan teknologi pintar eSP-nya? ;)

Jumat, 10 April 2015

Cara Menanggapi Curhatan Orang Lain

Jadi, aku gak suka sama orang yang kalau curhat total banget, pakai nangis segala, eh giliran aku curhat ekspresinya datar. Atau orang yang kalau kita lagi ngomongin tentang dia, kerjaannya, kisah masa lalunya, hatinya, dll, itu bisa curhat sampai malam, eh tapi giliran aku curhat, dia nanggapin sambil lalu, sambil main hp pula. Jleb deh. Sakitnya tuh di sini :(

Kayaknya aku ini tipe orang yang sering dicurhatin orang lain. Entah itu sama teman biasa, teman dekat, sahabat, keluarga, tetangga, bahkan orang yang baru ketemu di bis pun tak jarang suka pada curhat ke aku. Hmm, apakah aku ini punya wajah seorang psikolog? Atau kenapa ya? Kok banyak yang buang keluh-kesahnya ke aku? Kan katanya, kata banyak teman, aku ini judes, jutek, gak asyik. Tapi tetep aja jadi tempat curhatnya mereka. Kumaha sih, haha..

Mungkin teman-teman pembaca juga ada yang kayak aku, jadi ‘tempat sampah’ banyak orang, heuu.. Nah, biasanya nih, apa yang teman-teman rasakan kalau kita ‘si tempat sampah’ gak dianggap waktu curhat ke orang lain? Apa lebih memilih diam, memendam sendiri, lalu curhatnya di blog kayak aku? Atau gimana?

Yaa, gara-gara pengalaman sendiri, aku jadi kepikiran pengen nulis tentang ini. Walaupun tidak terlalu berguna, setidaknya bisa saling mengingatkan lah yaa tentang cara menanggapi curhatan orang lain :D Ini mah berdasarkan pengalaman pribadi aja, gak ada cuplikan dari mbah gugel, dari buku, apalagi dari kuliahan :P

Bayangkan kita sebagai dia (yang curhat)
Buat aku si penyuka bacaan fiksi, aku demen banget bayangin apa yang sedang aku baca seolah-olah nyata dan sedang kualami sendiri. Cara ini juga yang sering aku gunakan kalau lagi dengerin curhatan orang, ngebayangin. Gak jarang aku juga tanya detailnya, misal posisi tempat yang dia ceritakan, tokoh A, B, C yang dia ceritakan, dll. Itu supaya aku gak salah ngebayangin, supaya sedikitnya aku bisa menangkap ceritanya, jadi kan gak akan ‘jaka sembung bawa golok, gak nyambung g*bl*k’. Dengan cara ini, pasti deh kita akan ikut terbawa curhatannya.

Fokus sama dia, hindari gadget dan hal-hal lain yang mengganggu
Ini nih! Sering banget aku nemuin teman yang kalau aku lagi curhat, dianya asyik sms-an mulu sama pacar, dianya asyik maenin hp barunya, dianya asyik nonton K-drama favoritnya. Mending kalau akunya gak diperhatikan gara-gara dianya emang lagi sibuk kerja, cari duit, garap tugas/skripsi, oke lah kalau begitu mah. Lah, kalau aku dicuekin gara-gara hal yang gak terlalu penting, yang masih bisa di-replay, kan sebel. Apalagi kalau ingat waktu dia curhat dan kita selalu fokus sama curhatannya. Sisi ikhlas di hati ini jadi dipertanyakan besar, hahah.

Upayakan antusias, atur nada bicara
Coba bayangin, kita nangis depan dia, dia datar aja. Kita meluapkan kekesalan depan dia, dia datar aja. Kita cerita bahagiaaa, dia datar aja. Jadi, dia itu manusia apa tembok ya? Wkwk.. Kita mah jangan laah jadi kayak di ‘dia’ begitu. Padahal kan orang curhat sama kita itu untuk minta perhatian kita. Lha kalau kitanya gak antusias, atau sedikitnya pura-pura antusias lah ya, pasti deh orang itu bakal nyesel. Kalau kata orang Sunda mah, hanas aing carita ka sia. Gampangnya gini deh, misal dia cerita sedih, ya kita nada bicaranya rendah, seolah ikut sedih. Misal dia cerita bahagia banget, ya kita coba ikutan sumringah juga nada bicaranya.

Dengarkan dulu dia!
Biasanya, orang curhat itu ya karena emang cuma pengen curhat, cuma pengen cerita, gak pengen nerima saran, gak pengen nerima omongan orang. Kita sebagai ‘tempat sampah’ ya ada baiknya dengerin aja dulu curhatan dia sampai kelar. Baru kalau udah kelar kita boleh ngomong. Itu pun kalau respon dianya baik (nerima omongan), kalau kita ngomong, dia kayak pasang tameng (ngejawab mulu, nyangkal mulu) berarti itu mah cuma ingin didengarkan, ingin ada teman yang bisa mengerti dia.

Berikan wejangan yang sekiranya pas
Pernah aku (belum lama ini) ada masalah, aku curhat ke si A, gak taunya si A nyeritain masalahku ke orang terdekatnya (sebut aja si B). Pas aku dan si A main ke tempat si B, si B nanya kenapa aku udah 2 minggu lebih gak main ke tempatnya. Aku jawab aku kalau lagi ada masalah, lagi ada yang dipikirin, gak suka kemana-mana, maunya di rumah aja, menyendiri. Eh dengan gampangnya si B ngomong gini ‘ah kalau saya mah ada masalah enaknya pergi, main, kemana aja.’ Dan gak lama setelah ngomong gitu ke aku, si B curhat ke aku tentang masalah tetangganya, lalu bilang ‘si anu sekarang jarang keluar rumah, badannya juga kurusan, lagi ada masalah sih ya,’ dengan mimic keibaannya. Kan sedihh… Giliran aku curhat dianggap enteng, dibilang ‘ah itu mah bukan masalah’. Higs.. Kita mah jangan begitu ya teman-teman.. Cobalah berikan perkataan yang pas dengan situasinya. Atau kalau gak bisa ngomong, daripada salah ngomong, mending diam aja lah, cukup pasang mimik ikut merasakan aja.

Berikan sentuhan/pelukan kalau perlu
Biasanya sih cewek yang yang suka peluk-pelukan, hihihih… Senjata pamungkas kalau kita kehabisan kata-kata, ya bisa dengan pelukan ini. Misal dianya lagi sedih, curhat ke kita, kita peluk deh. Pun kalau dianya lagi bahagia, curhat ke kita, kita peluk juga tuh, ucapin selamat atau apa gitu. Katanya kan berbagi kesedihan akan mengurangi kesedihan, berbagi kebahagiaan akan menambah kebahagiaan :)

Kalau belum bisa empati, belajar lah untuk simpati
Intinya, nanggepin orang curhat itu… Kalau belum bisa ikut menanggung bebannya (empati), yaa sedikitnya belajar ikut merasakan (simpati) dulu deh. Merasakan senangnya atau sedihnya.

Naah, gimanaa? Gak ada salahnya kan dicoba.. Kita yang sering jadi ‘tempat sampah’ pasti banyak rejeki looh, ahaha *ayat sesat :P, tapi gapapa, buat motivasi aja, hehe..

Mangga barangkali ada tambahan lain, cems… ^^ 

by. si Famysa, tempat sampah :P

Rabu, 08 April 2015

#ReboNyunda: Hobi Aneh; Nyabutan Bulu Soca

Saha didieu nu gaduh hobi aneh cuung! Naon hobi anehna? :D

Pami abdi mah, hobi anehna nyaeta sok nyabutan bulu soca. Duka timana ngawitanna, ti iraha, abdi teu emut. Abdi ngan emut hobi ieu tos mulai ti nuju abdi kelas 5 SD keneh. Tiasa emutna teh gara-gara harita nuju ngobrol sareng wali kelas di bangku handapeun tatangkalan payuneun kelas, si ibu wali kelas nyarios kieu bari reuwas ningalikeun soca abdi, “Neng Syifa ari eta bulu socana kunaon? Naha teu ayaan sapalih kitu. Idiih malahan gundul ieu mah, Neng..” Lah, abdi kan heran nya.. Maenya ah bulu soca abdi gundul sapalih. Tapi pas abdi ngarampa soca teras ngaca, eeh enya geuning bulu soca abdi teu ayaan. Hahaa..

Abdi teras nyarita ka si ibu yen abdi sok nyabutan bulu soca wae. Pami socana arateul, pasti kedah nyabutan bulu soca. Pami teu dicabutan, hayoh weeh arateulna moal ical. Abdi janten diseuseulan deh ku si ibu :P Ku si ibu dicariosan bla bla bla, abdina teu emut deui cariosanna, hehe..

Kadieukeunna, ti saprak sadar sok nyabutan bulu soca gara-gara ibu wali kelas, abdi masiiih wae sok nyabutan bulu soca. Kelas 6, kelas 1 dugi kelas 3 SMP, kelas 1 dugi kelas 3 SMA, salami kuliah, malahan dugi ayeuna, abdi masih ngagaduhan hobi aneh nyabutan bulu soca ieu. Tuda ge teu raoseun, soca teh arateul pami bulu socana teu dicabutan. Janten weh bulu soca abdi tara leres, aya nu panjang, aya nu pondok, aya nu leubeut, aya nu carang. Pami ibarat waos tea mah sapertos waos gingsul.

Rekor bulu soca abdi nu dicabutan pangseueurna pernah dugi ka 37 helai (sawaktos, sasoca wungkul). Canggih kan? Haha :P Abdi kadang sok mikir geuningan bulu soca abdi ayeuna mah tara seep deui sapertos nuju kelas 5 SD kapungkur nya. Hebat lah produksi bulu socana, cabut hiji tumbuh sarebu cigana mah nya :P Ngan nya eta tea, bulu soca abdi janten gingsul sareng jegreg ka payun, teu aya lentik-lentikna deui.

Pernah nuju kuliah, duka pas semester sabaraha mah, abdi bade diliput ku mahasiswa nu nuju milarian bahan tulisan nu temana hobi aneh. Abdi diusulkeun ku rencangan abdi ka mahasiswa nu bade ngaliput eta. Saurna mah anjeunna (mahasiswa eta) resepeun ka hobi aneh abdi, haha.. Tapina tapina… Duka atuh nya kamana nu bade ngaliputna teh. Teu cios weh ujung-ujungna mah *siandelo! :P

Upami para kanca sadaya sih naon hobi anehna? :D

by. si Famysa, rada seueul euy --

Selasa, 07 April 2015

Miss The Past

Hello, April… How are you?

Tiga hari pertama di bulan April ini, kondisi badanku gak karuan. Aku kedinginan sepanjang hari, padahal cuaca sedang hot-hotnya bukan? Menjelang duhur, aku semakin kedinginan. Tepat jam 12 siang, bukannya siap-siap sholat duhur, aku malah pergi ke kamar, berbaring dibalut selimut. Rasanya dingin sekali. Aku seperti orang sakit. Hanya saja hanya dingin dan mual yang aku rasakan, tidak ada keluhan lain seperti pusing atau demam seperti yang biasanya menyerang orang sakit. Entah kenapa, aku juga gak tahu. Yang jelas, kedinginanku semakin menjadi kalau aku keramas. Sejak diserang kedinginan itu, sekarang aku jadi jarang keramas deh, agak parno sih, haha..

Lalu tiga hari berikutnya, setelah tidak kedinginan lagi, aku pergi-pergian setiap hari. Waktu di rumah, di depan laptop jadi berkurang deh, makanya gak ada postingan selama 6 hari belakangan ini *alibi :P.

Di tiga hari pertama bulan April, aku semakin susah makan, bahkan berlanjut sampai sekarang. Makan ini gak enak, itu gak enak. Padahal intensitas ‘kelaparan’ semakin bertambah. Lapar sedikit saja, tapi tidak ada makanan yang bisa kumakan, aku bisa langsung lemas. Badanku seperti bergetar. Yaa seperti orang kelewat makan biasanya. Bedanya, serangan itu bisa datang sebelum jam 12 siang. Kalau aku sedang normal mah serangan itu paling-paling datang jam 3-an.

Yang kuinginkan saat susah makan akut di tiga hari pertama di bulan April ini adalah rujak buah-buahan masam. Oh sampai saat ini aku selalu membayangkan bisa ngerujak manga muda. Enak kali yaa… Sayangnya kehamilanku tidak bertepatan dengan musim manga, huhu.. Tak ada mangga, belimbing pun jadi deh. Alhamdulillah pohon belimbing di kebun belakang rumah sedang berbuah lebat. Tiap hari aku jadi bisa makan yang masam.

Di tiga hari pertama di bulan April ini, selain kondisiku yang kacau, hatiku juga jadi sangat mellow. Tiba-tiba waktu ngerujak sama Ibank, aku teringat masa-masa sulit yang keluargaku lalui dulu. Tiba-tiba aku cerita pada  Ibank…

Dulu aku setiap hari ikut Bapa mengantar kue ke beberapa rumah sekecamatan ini. Waktu itu ada program –dari kecamatan, kalau tidak salah- bagi-bagi kue sehat ke beberapa keluarga terpilih. Keluarga terpilih itu adalah keluarga yang memiliki anak kecil, namun kurang mampu. Jadi lah ada bagi-bagi kue sehat ini sebagai pengganti jajan anak-anak mereka. Kuenya tiap hari beda-beda. Yang kuingat beberapa diantaranya adalah bolu kukus, buras/arem-arem, lemper, bakpao, kue naga, kue putri ayu, risoles. Semuanya enak-enak, semuanya besar-besar ukurannya, semuanya dibuat high quality, gak ngasal.

Setiap hari aku, Mamah, dan Bapa membungkus kue-kue itu. Rumah kami selalu penuh oleh kue. Aku juga jadi bisa makan kue-kue enak itu setiap hari, kalau ada sisa, atau kalau ada rumah tujuan yang kosong (penghuninya tidak di rumah). Motor Bapa, depan, belakang, penuh oleh kue-kue itu. Aku biasanya duduk di depan, berdesakan dengan kresek besar berisi kue. Entah ke desa mana saja kami pergi, aku tidak ingat. Yang kuingat hanya jaauuuuh sekali… Panas… Berdebu… Masuk ke kebun tebu… Melewati banyak sawah dan jalanan jelek. Ah. Kadang aku merengek capek pada Bapa. Tapi entah kenapa Bapa selalu membawaku pergi setiap aku ingin ikut, padahal aku sering mengeluh, hehe.. Awal-awal perjalanan, aku masih bisa turun dari motor, ikut Bapa mengetuk pintu rumah ke pintu rumah. Kadang ada juga penghuni satu atau dua rumah yang mengajak Bapa mengobrol dulu, menyuguhi kami makanan dan minuman. Aku senang ketika aku bertemu dengan makanan dan minuman, tapi aku juga tidak senang karena jika Bapa mengobrol dulu, biasanya kami akan pulang larut. Tapi di tengah perjalanan, apalagi menjelang akhir, aku sudah tidak mood, aku akan tetap duduk di motor dan menyuruh Bapa cepat-cepat, jangan mengobrol dulu, haha..

Aku ingat sekali.. Saat aku mengeluh capek dan lapar pada Bapa, Bapa berhenti di warung dan membelikanku air mineral. Padahal aku kan lapar, aku ingin makan, ingin jajan, bukan ingin minum. Tak jarang aku ngambek pada Bapa, hehe.. Tapi seingatku Bapa tidak pernah memarahiku.

Tanpa sadar, aku pun menangis sambil ngerujak. Mellow banget yaa :(

Jujur, aku sangat merindukan masa-masa itu. Masa-masa dimana Bapa dan Mamah saling menguatkan walau kondisi ekonomi kami pas-pasan, bahkan mungkin kekurangan. Masa-masa dimana kami selalu bersama setiap hari. Masa-masa dimana Bapa selalu menjadi Bapa yang rendah hati, Bapa yang tidak banyak omong, Bapa yang mengajarkanku banyak hal. Aku rindu semuanya. Jika dulu aku tahu ternyata kekayaan hanya akan memisahkan kami, aku pasti akan lebih memilih tetap seperti dulu. Hidup serba kekurangan, tapi tidak kekurangan kasih sayang dari kedua orang tua. Dan seandainya aku bisa melakukan pertukaran, aku ingin menukar masa sekarang dengan masa laluku. Aku ingin orang tuaku bersama kembali. Dengan begitu, tidak akan ada masalah demi masalah yang datang silih berganti akibat perceraian mereka.

Tiga hari pertama di bulan April ini, aku teringat pada dua buah CD berisi foto-fotoku waktu pesantren di Daarut Tauhiid. Aku ingat, di CD itu ada foto waktu aku diwisuda. Aku, Mamah, Bapa, adikku, Aa Gym, dan Teh Ninih; ya, aku ingat ada foto ini! Itu berarti hanya di CD itu lah aku punya foto lengkap bersama keluargaku. Karena pasca bercerai, Mamah membuang semua foto Bapa, aku jadi tidak punya lagi foto masa kecil bersama Mamah dan Bapa, higs..

Aku terus mencari CD itu. Seisi rumah kuobrak-abrik demi mencari CD itu. Tapiii… Hasilnya nihil. Aku lupa dimana menyimpannya. Memang sudah lama sekali aku tidak pernah membuka CD itu. Kapan terakhir kalinya saja aku sudah lupa. Higs.. Dimana yaa? Adakah yang bisa membantuku? Aku sangat berharap bisa menemukan CD itu :’(

by. si Famysa, rindu...

Selasa, 31 Maret 2015

Kembali Memoderasi Komentar

Dulu, saat awal punya blog ini, aku tidak tahu ada moderasi komentar. Boro-boro moderasi komentar sih, kolom komentar di setiap postingannya saja aku tidak tahu, ternyata di blog bisa saling komentar seperti di media sosial lainnya juga aku waktu itu belum tahu, wkwk... Saat ada orang-orang yang komen di blogku, aku terkejut. Waah kok bisa sih ada yang baca blogku sampai komentar pula, haha.. Padahal waktu awal ngeblog aku cuma ingin menulis, menulis apa saja, anggap saja blog adalah diary yang tidak menghabiskan biaya beli dan menghabiskan tempat untuk menyimpan diary-diary tersebut. Dulu aku sama sekali tidak pernah mempublikasikan postinganku di media sosial lainnya, apalagi gabung di komunitas blog, nggaa :D

Lalu setelah aku paham bagaimana caranya komen-komenan di blog, aku mulai sering mengunjungi blog orang lain. Dulu aku hanya mencari-cari blog yang menarik dengan cara searching di Google. Kalau menarik, aku akan komentar di sana. Selanjutnya, aku juga mulai mengerti caranya follow-followan blog. Dari situ, aku mulai rutin membaca blog-blog menarik tersebut.

Hingga suatu hari, ada yang komentar di blogku, dia menawariku gabung di suatu komunitas blogger. Aku penasaran, maka gabung lah aku ke komunitas itu di grup facebooknya. Dan sejak aku gabung dengan komunitas blogger, aku semakin sering komen-komenan dengan teman blogger lain.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak aku menulis di blog, muncul deh tuh komentar berbahasa Inggris, sepertinya memang dari luar negeri. Awalnya aku senang. Ya jelas senang lah ya, namanya juga masih awam di dunia per-blog-an, dikiranya bener aja gitu yang komen itu emang mau temenan sama aku kayak teman-teman blogger di Indonesia lainnya, kan girang bin bangga punya teman blog dari luar negeri, ahaha :D Tapi lama-lamaa, kok yo makin banyak mereka –orang luar- yang komentar di blogku, di postingan manaa aku sudah lupa, yang jelas itu di postingan lawas semua. Bahkan semakin hari, yang komentar itu anonim, buanyaak... Belum lagi web-web jamu-jamuan yang rutin komentar juga di blogku. Kebanyakan, hampir 90% deh, mereka itu komennya gak nyambung dengan isi postingan yang kutulis. Kan nyesek ya..

Aku jadi mikir, apa mereka ini spammer seperti email-email yang masuk ke kotak spam? Maklum waktu itu aku masih belum mengerti. Aku tidak tahu bahwa di dunia blog juga ada komentar-komentar spam seperti email spam. Hmm... Akhirnya setelah banyak baca sana-sini, aku mendapat pencerahan. Mereka itu memang spammer. Aku juga jadi mereparasi blogku agar komentarnya bisa dimoderasi terlebih dahulu sebelum tampil di postingan. Ini terinspirasi dari banyak teman blogger yang setiap kali aku komentar di blog postnya, pasti ada tulisan begini ‘komentar akan terlihat setelah disetujui’, atau ‘komentar ada akan dimoderasi terlebih dahulu sebelum terlihat’. Jadi ikutan deh, hihih..

Lumayan lama aku mengaktifkan moderasi komentar di blogku. Komentar-komentar bernada spam akan langsung kuhapus. Dan ternyata, komentar-komentar spam itu semakin banyak datang saat aku tidak pernah menyentuh blogku. Banyaaak sekali.. Bisa sampai puluhan (setiap kali aku mengecek dasbor blog). Tapi untung lah aku mengaktifkan moderasi komentar. Setidaknya walaupun blognya tidak update, teman-teman pembaca atau yang mau komen tidak risih melihat banyak komentar spam di postingan blogku.

Di tahun ini, aku mulai aktif ngeblog lagi. Terhitung sejak Januari lalu, blogku hampir setiap hari update. Walupun tidak menulis postingan, setiap harinya aku pasti membuka blogku untuk sekedar menampilkan komentar yang dimoderasi. Laluu, ada seorang teman blogger yang menyarankanku untuk tidak mengaktifkan moderasi komentarnya. Katanya itu agak menyulitkan dan kurang memuaskan bagi yang komennya. Katanya alangkah lebih baik kalau komentarnya langsung tampil saja. Hmm... Aku rada pikir-pikir. Hingga akhirnya aku pun luluh. Aku menonaktifkan moderasi komentar. Aku pikir begini, ah sekarang blognya selalu update ini, kan gak akan ada komentar spam yang masuk kalau blognya selalu update (itu menurut sebuah artikel yang aku baca).

Sepertinya baru satu bulanan ini aku menonaktifkan moderasi komentar di blogku. Iya gak sih? Hehe.. Dan kalian tahuu? Akhir-akhir ini (sekitar semingguan ini), ada beberapa komentar spam yang masuk ke blogku lagiii... OMG! Bisa saja yaa para spammer itu mencuri-curi kesempatan komentar di blog kita. Padahal blogku setiap hari update. Kok bisa blogku kebobolan spammer lagi? Harusnya update seperti apa sih agar spammer tidak lagi menghampiri? Apa harus setiap saat update? Ckck.. Ternyata spammer itu bisa datang kapan saja. Seperti sampah. Walaupun bukan kita yang membuang sampah sembarangan, tapi tak jarang kita kena dampaknya.

Untuk memproteksi blogku dari para spammer tersayang, maka mulai detik ini aku akan mengaktifkan moderasi komentar lagi. Agar para spammer tidak bisa muncul seenaknya, agar para spammer bosan komen di blogku. Kan repot juga kalau harus menghapus komen-komen spam yang sudah muncul di postingan ya.. Lebih enak kalau masuk ke kotak moderasi, tinggal tandai, hapus deh.

Jika ada teman-teman yang keberatan, it’s ok! Kalian tidak komen di blogku lagi juga gak apa-apa kok :P Lebaynya, daripada spammer ikutan nongol, lebih baik tidak ada yang komentar sekalian deh. Bukan kenapa-napa, risih saja lihatnya. Aku juga tukang dagang kok, aku juga tukang promosi kok, tapi ya gak pakai cara nyepam juga kaleee!! Media jualan dan media promosi kan banyak. Kalau gak mampu pakai media yang berbayar, yang gratisan juga banyak kok. Halal, beretika, gak usah pakai nyepam di rumah orang yaa.. :) ^^

Ya sudah, segini saja curhatnya. Selamat berakhir Maret, teman-temaan.... ;)    

by. si Famysa, bye spammer!

Senin, 30 Maret 2015

Cinta Buta

Cinta buta, adakah?

Kata orang semua cinta itu buta. Kata orang, orang yang sedang saling jatuh cinta itu serasa dunia hanya milik berdua, yang lain hanya numpang. Kata orang, orang yang sedang jatuh cinta itu tak tahu benar, tak tahu salah, bahkan tai kucing pun rasanya seperti coklat.

Bagaimana dengan aku?

Aku bukan anak baik. Aku bukan gadis soleha. Aku bukan anak penurut. Aku tergolong ke dalam remaja pada umumnya, remaja bebas, remaja tak tahu aturan. Pacaran, pedekate sana-sini, tepe-tepe kiri-kanan, selingkuhin pacar, putus nyambung, gonta-ganti pacar. Yaa seperti itu lah. Pergaulanku ternyata sangat membentukku.

Aku mengenal cinta monyet sejak kelas 2 SD. Wow! Ternyata bukan anak jaman sekarang saja sih yang sudah mulai cinta-cintaan dari bangku merah-putih, aku anak jaman dulu pun sudah cinta-cintaan dari kelas 2 SD. Haha.. Tapi yaa mungkin beda kadarnya kali ya. Kalau dulu hanya sekedar salam-salaman, sekarang sudah mulai jalan barengan. Kalau dulu hanya sekedar surat-suratan, sekarang sudah mulai telponan atau smsan tiap malam.

Waktu terus berlalu, aku sudah jadi anak SMP. Selama SD sampai SMP kelas 8, aku tidak pernah benar-benar terikat oleh pacar atau kerennya disebut ‘jadian’. Walaupun nakal, aku tetap memegang prinsip tidak mau pacaran (lebih tepatnya tidak mau ada status kali ya :P). Aku ingin bebas, aku ingin berteman dengan laki-laki manapun tanpa status pacar. Saat teman-teman yang lain satu per satu sudah punya pacar ketika kelas 7 SMP, aku masih enggan dan tetap pada prinsipku.

Tiba di kelas 9 SMP, aku terperangkap oleh ‘jebakan’ permintaan teman-teman. Ceritanya aku sedang mengikuti perkemahan Pramuka tingkat kecamatan, ada salah seorang kakak panitia yang killer naksir padaku, dia selalu mendekatiku. Kata teman-teman, supaya kakak itu tidak killer pada regu kami, lebih baik aku terima saja dia jadi pacarku. Selebihnya, setelah perkemahan usai, terserah aku, mau putus atau lanjut kalau memang nyaman. Dan yaa, aku menyerah. Akhirnya dia menjadi pacar pertamaku. Hanya satu bulan kami pacaran. Aku menggantungkannya karena aku jatuh cinta pada laki-laki lain, haha..

Dari pacar 1 ke pacar lainnya, aku tidak pernah menganggap mereka serius. Aku tidak pernah mau diajak jalan, tidak pernah mau diapelin, tidak pernah mau diberi hadiah apapun. Aku akan menjadi sangat risih ketika mereka melanggar aturanku. Langsung saja kuputuskan mereka jika ada yang merajuk ingin malam mingguan atau apa lah. Idiiih aku sih ogah.. Aku masih belum mengerti kenapa teman-temanku tidak punya rasa risih sama sekali ya..

Ketika aku terbentur pada satu masalah –ketidakharmonisan kedua orang tuaku-, tepat ketika itu Ibank datang menawarkan diri jadi pacarku. Aku dan Ibank berteman baik sejak SMP, gosip bahwa kami pacaran juga sudah banyak beredar di antara teman-teman. Tapi sebenarnya kami baru benar-benar jadi pacar saat kami kelas XI SMA. Saat itu aku tidak lagi terpikir untuk memanfaatkan Ibank seperti aku memanfaatkan pacar-pacarku yang lain. Aku hanya merasa bahagia karena ada seorang teman berbagi disaat aku terjatuh. Dan benar saja, mungkin ini lah jalan-Nya. Pasca perceraian kedua orang tuaku, masalah demi masalah berikutnya datang. Aku merasa tidak lagi menjadi remaja bebas. Aku merasa menjadi remaja tertekan, remaja murung, remaja yang tidak beruntung.

Seiring berjalannya waktu, seiring masalah demi masalah yang pangkalnya adalah perceraian kedua orang tuaku, Ibank selalu ada buatku. Walaupun kami tidak satu sekolah SMA & satu kampus kuliah, tapi dia selalu ada waktu untuk mendengarkanku, untuk membantuku. Kukatakan aku benar-benar jatuh cinta padanya. Tanpa ada niat memanfaatkan, tanpa memandang kekayaan, tanpa memandang kepintaran, tanpa memandang apapun seperti dulu. Aku hanya memandangnya sebagai dia apa adanya, dia seutuhnya yang selalu menemaniku saat senang maupun susah.

Lantas, bagaimana jika orang tuaku tidak mengijinkan kami menikah? Tentunya karena alasan yang benar. Dengan berat hati, aku tidak akan melawan orang tuaku. Sungguh. Aku tidak akan memaksa harus menikah dengan Ibank. Aku masih punya pikiran waras, bahwa orang tuaku, keluargaku, sabahatku, itu jauh lebih penting, jauh lebih berharga daripada Ibank yang belum tentu dia jodohku. Aku belum gila walaupun aku cinta.

Pun jika ternyata Ibank tidak setia, Ibank meninggalkanku, Ibank menjauhkanku dari keluargaku, apalagi Ibank sampai menyakitiku, jelas aku akan meninggalkannya tanpa jejak! Aku masih waras. Aku masih punya hati nurani. Aku masih punya otak untuk berpikir yang baik dan benar. Untuk apa mempertahankan laki-laki yang sudah jelas tampak keburukannya, bukan?

Bagiku, apa yang kata orang disebut cinta buta adalah cinta yang tidak dilandasi iman secuil pun, cinta yang tidak menghadirkan hati dan otak dalam setiap perjalanannya, cinta yang hanya dilandasi nafsu, entah itu nafsu ingin memiliki, nafsu karena takut jomblo atau apapun sejenisnya. Cinta buta hanya akan berujung menyakiti masing-masing, bahkan menyakiti orang lain.

Lihat pasangan yang MBA! Mereka adalah contoh cinta buta. Akhirnya, siapa yang tersakiti? Banyak orang, kan. Mulai dari mereka sendiri, orang tua, bahkan semua orang yang mengasihi mereka. Lalu lihat pasangan yang rela bunuh diri mengatasnamakan cinta! Mereka sendiri yang paling sakit, sakit menanggung dosa yang tak lagi bisa diampuni. Lihat pasangan yang berbeda agama tapi memaksakan diri untuk bersama! Lihat pasangan yang sampai hati menelantarkan anak-anaknya demi cinta yang baru! Lihat pasangan yang sampai hati menyakiti pasangan resminya demi cinta yang baru! Lihat pasangan yang rela memberikan APAPUN, dari mulai harta sampai jiwa dan raga, tanpa memikirkan keluarganya! *banyak ngelus dada, Yaa Alloh… Alhamdulillah aku dijauhkan dari cinta yang seperti itu.

Sekali lagi kukatakan, secinta-cintanya aku pada Ibank yang kini sudah menjadi suamiku, aku tidak akan buta dalam mencintainya.  

Semoga aku, keluargaku, sahabat-sahabatku, serta teman-teman pembaca semua terhindar dari yang namanya cinta buta… Semoga –jika ada- keluarga kita, orang terdekat kita yang sedang terjerat cinta buta segera dibebaskan dari jeratannya… Semoga tidak ada lagi orang yang kita sayangi menjadi korban, menjadi orang yang tersakiti akibat cinta buta… Semoga juga tulisan ini sedikit bisa memberikan manfaat… Aamiin…

by. si Famysa, a lover :)

Sabtu, 28 Maret 2015

Dieng Plateau; Surga di Atas Awan

Surga di atas awan; istilah ini identik dengan keindahan di puncak gunung, identik dengan kegiatan mendaki gunung, ketika sudah bercapek-capek ria mendaki, ketika sudah berada di puncaknya, di sana lah surganya. Tapi kini tidak lagi! Surga di atas awan bukan hanya milik para pendaki, yang benar-benar mendaki dengan berjalan kaki. Surga di atas awan kini bisa kita datangi, tanpa harus mendaki dengan kaki. Surga di atas awan itu bisa dikunjungi oleh ibu hamil, bahkan manula sekalipun. Dimanakah surga di atas awan itu?

DIENG PLATEAU (dataran tinggi Dieng); ini lah surga di atas awan itu! Surga yang bukan hanya milik para pendaki.

Tiga hari lagi setelah hari ini, tepat satu tahun yang lalu, aku dan teman-teman melakukan perjalanan ke Dieng Plateau. Hari itu kami berangkat kesiangan, pukul 10.30 WIB, dari rumah kontrakanku di Semarang. Sebenarnya agak berat untuk berangkat, makanya kami jadi kesiangan karena. Tapi karena sudah direncanakan jauh-jauh hari, apalagi teman-teman dari Subang sengaja jauh-jauh ke Semarang, jadi lah kami berangkat. Dengan berbekal cemilan dan sebagian dari kami masih car-leg Subang-Semarang, demi menikmati hidup, Dieng Plateau telah menjadi tujuan!

Jalur berangkat yang kami pilih adalah via Kabupaten Kendal. Lengkapnya Semarang-Kendal-Temanggung-Wonosobo/Banjarnegara-Dieng. Alasan kami memilih jalur ini adalah karena salah seorang dari kami ada yang pernah ke Dieng melalui jalur ini. Kami pikir setidaknya dia bisa jadi penunjuk jalan.

Dari Semarang, ada dua jalur menuju Kendal, yaitu via tol yang keluar di Ngaliyan atau via Kecamatan Gunung Pati. Kami memilih via tol untuk menghindari jalan jelek dan sepi di daerah Gunung Pati. Setelah keluar tol, kami melaju ke arah Selatan. Semakin mendekati perbatasan Kabupaten Kendal, ternyata jalannya semakin jelek dan berlubang. Tiba waktu duhur, kami masih ada di daerah Kecamatan Patean-Kendal. Kami sholat dan makan siang dulu di sana.

Memasuki perbatasan Kabupaten Temanggung, teman kami yang kami anggap penunjuk jalan lupa harus belok dimana. Kami jadi harus meminta bantuan pada GPS. Beruntung GPS masih bisa menyala di tengah kawasan yang sepertinya blacklist, hehe.. Kami pun terus mengikuti petunjuk dari GPS yang bisa bicara itu. Dia bilang belok kiri, kanan, kami menurut saja. Masuk jalan yang super kecil, naik-turun pun, kami hanya bisa menurut padanya.

Akhirnya…. Ketika guide GPS menyuruh kami belok kanan, kami bahagia bukan kepalang karena kami bertemu dengan jalan raya, jalan utama menuju Dieng Plateau. Kami sudah tinggal mengikuti jalan utama saja, GPS pun kami matikan.

Sepanjang perjalanan, semakin mendekati kawasan Dieng Plateau, alam menyajikan begitu banyak keindahannya. Posisi kami semakin tinggi. Jalanan menuju Dieng Plateau naik dan terus naik, berbelak-belok. Bagi teman-teman yang punya penyakit mabuk perjalanan, sepertinya harus sedia selusin kantong kresek *peace :P. Tapi sungguh, bagi teman-teman yang dapat menikmati keindahan alamnya, segala penat di hati dan pikiran akan hilang! Teman-teman tahu? Di sana, di perjalanan menuju Dieng Plateau, semakin kita berada di atas, ketika kita melihat ke bawah, kita akan merasa seperti berada di atas awan. Di bawah kita terhampar kabut-kabut putih yang menyejukkan. Di samping kanan dan kiri kita terhampar luas hijaunya alam. Ah, ini benar-benar perjalanan menikmati hidup.
Setibanya kami di gapura Kawasan Dieng Plateau, kami sudah tidak sabar ingin menikmati indahnya wisata Dieng. Namun, ada yang membuat kami harus bersabar dahulu. Kami terjebak macet selama 2 jam. Well, beruntungnya karena macet tersebut, kami jadi bisa keluar dari mobil untuk menghirup udara Dieng. Kami juga bisa berjalan-jalan di sekitarnya, bisa foto-foto juga. Anggap saja itu sebagai sambutan selamat datang dari Dieng, hihi..

Kurang lebih pukul 16.00 WIB, akhirnya kami sampai di area wisata Dieng. Hari sudah sangat sore, tidak mungkin kami langsung kembali ke Semarang. Kondisi teman kami sang supir juga capek. Akhirnya, yang tadinya kami tidak berencana bermalam di Dieng terpaksa harus bermalam di sana. Yaa, suatu keterpaksaan yang menyenangkan. Kami jadi bisa lebih lama menikmati hidup. Kapan lagi coba bisa ke Dieng bersama teman-teman dekat, hehe.. Walaupun tidak membawa banyak uang dan baju ganti :P

Dengan informasi yang kami peroleh dari penjaga loket tiket, kami mendapatkan home stay seharga Rp 400.000/malam. Harganya mentok, tidak bisa ditawar lagi. Kami lebih memilih home stay daripada kamar penginapan yang harga per malamnya Rp 150.000, kamarnya kecil. Sedangkan untuk tiket terusan wisata Dieng (Candi Arjuna+Kawah Sikidang) adalah seharga Rp 25.000. Penjaga loket bilang, tiket terusan itu juga bisa berlaku untuk Telaga Warna, kita hanya tinggal membayar Rp 3.000 saja, dari harga normal weekday Rp 7.500.

Dieng Plateau merupakan kawasan dataran tinggi yang masuk ke dalam dua kabupaten, yaitu Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara. Letaknya berada di sebelah Barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, sehingga kedua gunung itu dapat terlihat di sepanjang perjalanan Dieng sampai Temanggung. Dieng adalah kawasan vulkanik aktif dan dapat dikatakan sebagai gunung api raksasa dengan beberapa kepundan kawah. Tidak salah jika banyak wisata pendakian gunung di sekitar Dieng, karena Dieng adalah gunung api raksasa dengan beberapa puncak gunung.

Tempat pertama yang kami kunjungi sore itu adalah Telaga Warna. Konon katanya telaga ini warnanya bisa berubah-ubah, makanya dinamai Telaga Warna. Namun yang paling umum kita dapati ya warna hijau. Seperti waktu kami ke sana, warnanya hanya hijau, tidak ada warna lain. Dan pemandangannya subhanalloh luar biasa… Mata kami sungguh dimanjakan.

Selain Telaga Warna, ada banyak telaga lainnya di sekitarnya. Ada sih penunjuk jalannya, namun ketika kami susuri jalan itu, kami terbentur oleh jalanan yang becek. Sepertinya telaga lain di sekitar Telaga Warna belum mendapat perawatan yang baik, tidak seperti Telaga Warna. Jika kalian nekat mendekati telaga lainnya, silakan saja. Berani kotor kan baik ya, hehe..

Selepas menikmati keindahan Telaga Warna, kami langsung pulang ke home stay. Tidak ada acara nongkrong atau ngerumpi malam, apalagi begadang. Kami sudah terlalu capek. Kami semua langsung tidur setelah sholat isya. Bahkan kami yang rencananya ingin ikut pemandu wisata menyaksikan sunrise dari desa tertinggi Dieng, mendadak melupakan rencana itu. Hahaha… Habisnya berangkatnya jam 3 pagi. Jelas kami masih mengantuk. Kami hanya berjalan-jalan di sekitar home stay selepas sholat subuh, hingga akhirnya kaki kami sampai di Kawah Sikidang. Lumayan, olahraga pagi di tempat dingin tidak terasa capek, hihi..

Di perjalanan menuju Kawah Sikidang, kami menemukan Candi Bima. Kami foto-foto sebentar di sana, lalu melanjutkan langkah kami. Mendekati area Kawah Sikidang, kami melihat ada pipa panjang sekali. Di pipa itu terbaca uap panas. Dan memang ada uap yang mengepul keluar dari pipa yang sepertinya sedikit bocor. Kami melewati pipa itu, dan tak lama, di depan kami adalah Kawah Sikidang. Dari jauh, kami sudah bisa mencium bau belerang. Seperti belerang pada umumnya, bau kentut. Hahaa… Siapa hayoo yang kentut pagi-pagii?? :D
Puas berjalan-jalan di sekitar Kawah Sikidang, sempat kami naik mini bukit di sana juga, kami bergegas pulang ke home stay agar bisa segera mengunjungi tempat berikutnya: Candi Arjuna. Di perjalanan pulang dari Kawah Sikidang menuju home stay, kami bisa melihat pohon papaya carica khas Dieng. Pohonnya mini, buahnya lucu. Hihiii… Seperti miniatur pohon papaya normal.

Sesampainya di home stay, kami disuguhi sarapan teh hangat dan gorengan oleh pemilik home stay. Hmm… Enaknya… Hangat-hangat di tengah dinginnya Dieng, benar-benar menikmati hidup :). Kami juga jajan sosis bakar dan es warna-warni dari pedagang yang lewat di sekitar home stay. Jajanan anak kecil. Hihi… Dan rasanya makan es di tengah dinginnya Dieng ituuu, brrrr makin dingin!

Sayangnya, kami tidak bisa berlama-lama di home stay. Kami harus bersegera siap-siap pulang ke Semarang. Masih ada destinasi wisata lain di Semarang yang ingin kami kunjungi, dan juga kami mengantisipasi jika terjebak macet lagi. Lebih baik pulang lebih awal daripada sampai Semarang kemalaman. Kasihan teman kami sang supir satu-satunya, yang tidak ada gantinya.

Sebelum benar-benar meninggalkan Dieng, kami mengunjungi Candi Arjuna dulu. Walaupun hanya sebentar, walaupun rasanya tidak puas, tapi kami anggap perjalanan ini cukup memanjakan kami. Kami bisa menikmati hidup, menikmati masa muda, menikmati indahnya alam Indonesia.

Lalu bagaimana jika aku mendapatkan tiket wisata ke Bali gratis? Apalagi bisa berdua dengan suamiku.. Waah… Sepertinya catatan perjalanannya akan lebih mengasyikan daripada ini. Semoga Tiket.com dan nulisbuku.com berbaik hati memberikan tiketnya padaku, hihi… Aamiin… ^^
Jurnal ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Jurnal Perjalanan dari Tiket.com dan nulisbuku.com #MenikmatiHidup #TiketBaliGratis 

Kamis, 26 Maret 2015

Blog Sakola Printing

Silakan dikunjungi!! :) :) :)


Sakola Printing merupakan sebuah usaha yang dikelola oleh profesional muda yang penuh dengan semangat dan memiliki kreativitas dalam dunia percetakan.
Sakola Printing”?!? Dalam bahasa sunda kata "Sakola" mempunyai arti Sekolah, maknanya adalah sekolah itu tempat belajar, tempatnya anak-anak dan remaja pelajar yang mempunyai semangat untuk terus belajar, dan semangat untuk terus berkreativitas, di sekolah juga kita bisa bertemu dengan teman-teman sebaya, bisa berorganisasi, tempatnya menuntut ilmu, dan lain-lain. Maksud dari itu semua adalah bahwa kami Sakola Printing mempunyai semangat dan kreativitas yang tinggi sebagaimana layaknya anak-anak sekolah. hehehe.. :D

Dengan nama Sakola sendiri kami ingin memberi kesan bahwa kami adalah pemuda kreatif asli Sunda, dan dipadukan dengan kata Printing (bahasa inggris) yang dalam bahasa Indonesia artinya percetakan. Jadi, Sakola Printing adalah sebuah wadah bagi siapa saja untuk dapat menumpahkan segala kreativitasnya dalam dunia seni desain grafis, dunia fotografi, dunia percetakan, dan kami selaku pengelola ingin menjadi fasilitator untuk itu semua.

Apa saja yang bisa dilakukan Sakola Printing???

Sesuai yang sudah kami informasikan, Sakola Printing menekuni dunia percetakan yang penuh akan kreativitas.
Ini yang bisa dilakukan Sakola Printing :
1.    Desain Logo/brand/dll
2.    Jasa Fotografi
3.    Editing Foto
4.    Pin dan Gantungan Kunci
5.    Press Mug
6.    Stiker
7.    Kartu Nama/Kartu Ucapan/Brosur
8.    Kalender
9.    Buku Tahunan Sekolah

Dalam hal ini, Sakola Printing juga selalu ingin mengedepankan kualitas dan pelayanan yang terbaik.

Office:
Sakurip Desa Tanjung RT 07/03
Kecamatan Cipunagara Kabupaten Subang
Jawa Barat 41257
(Depan SMKN 1 Cipunagara)

Email:
sakolaprinting@gmail.com

Contact:
089655141507
pin 76476992

Facebook:

NB: Blog sakolaprinting.blogspot.com ini Ibank yang buat. Ibank juga yang mengisinya. Dia terpaksa jadi belajar nulis, terpaksa belajar ngeblog. Haha.. Tulisan yang aku copas dari blog Sakola ini juga semuanya Ibank yang nulis, tanpa campur tanganku sama sekali. Mmm hanya saja memang di postingan ini aku sedikit menyunting kata-katanya, sedikiiiit :P
Kenapa kami buat blog? Karena kami pikir untuk membuat website harus benar-benar dikelola dengan baik. Kan sayang ya kalau website berbayar dikelola seadanya. Makanya kami buat blog dulu saja. Sekalian Ibanknya belajar dulu katanya. Insya Alloh kalau sudah punya SDM yang mumpuni untuk mengelola website, baru kami akan membuatnya. Sedikit demi sedikit lah yaa... Lama-lama juga akan jadi bukit kan. Hihii

by. si Famysa, :)

Lupa Hari

Aduuuh, kemarin kacau banget deh rasanya. Saking kacaunya, aku sampai lupa kalau kemarin hari Rabu. Entah kenapa di alam bawah sadarku, kemarin itu hari Kamis, dan besok (hari ini) adalah Jumat. Tapi kok pas mau tidur, pas sudah selesai nulis blog, aku tiba-tiba ingat kemarin itu hari Rabu. Haha...

Jadi deh Rabu kemarin gak nulis postingan #ReboNyunda. Hhh... Dasar lupa... -_-

Sudah mah akunya lupa hari, eh pas aku tanya Ibank gini, "Ke Bandungnya hari Jumat? Besok dong?", dan Ibank jawabnya, "Iya, besok." Yaa aku jadi gak curiga kalau aku sedang lupa hari. Kenapa Ibank gak jawab lusa? Atau jangan-jangan dianya juga lupa hari sama kayak aku. Haha... 

Biasanya penyakit lupa hari ini diderita oleh orang yang kerjanya di rumah ya, atau oleh orang yang kebanyakan liburan. Kalau pegawai kantoran, anak sekolah, mahasiswa sih kayaknya gak bakalan lupa hari. Eh kecuali mahasiswa yang libur semesterannya lamaa, kadang suka lupa hari juga tuh *aku itu sih :P. 

Semogaa kemarin adalah terakhir kalinya aku lupa hari.. 

Gawat juga ternyata kalau lupa hari. Lupa hari Rabu, jadi gak nulis postingan #ReboNyunda. Jangan-jangan kalau lupa hari Jumat, aku jadi lupa juga setrikain baju kokonya Ibank buat Jumatan :P

Yaa sudah lah... Mari kita akhiri.. :D

by. si Famysa, kapok lupa hari 

Rabu, 25 Maret 2015

Syifa's Graduation

ki-ka: adikku; Maulana, Mamang Aca, Ghina, Bibi Wiwin, aku, Emih, Sri, Mamang Amin. jangan tanya orang tuaku yang mana. karena mereka gak ada di acara ini :)
Tanggal 4 Agustus 2014 lalu, aku resmi diwisuda sebagai Sarjana Administrasi Publik Universitas Diponegoro. Cieee.... swit, swiiittt :P Bangga? Ya jelas bangga dong. Gak ada salahnya kan bangga pada prestasi diri sendiri. Walaupun hanya sebatas jadi sarjana, tapi tetap ini patut disyukuri :)
best make up & hijab style from Mbak Muti
Rasanya baru kemarin tes UM I Undip di Tennis Indoor Senayan, berangkat dini hari, nyampe sana pas subuh, ngantuk-ngantuk, tetap harus fokus pada soal yang seabreg. Setelah dinyatakan diterima (sebelum kelulusan SMA), aku masih ingat bagaimana bahagianya. Saat teman-teman lain masih mencoba daftar ke sana-sini, aku malah sudah diterima oleh PTN favoritku, PTN incaranku, bahkan sebelum lulus. Rasanya sudah plong deh :)
aku urutan ke-6 IPK-nya, sejurusan yang lulus hari itu.
Rasanya baru kemarin pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Semarang. Diantar Bapa dan adikku untuk verifikasi calon mahasiswa baru, naik kereta Harina eksekutif, kata Bapa sekalian cobain rasanya kereta eksekutif, hihi.. Tempat pertama di Undip yang kukenal waktu verifikasi adalah Gedung Prof. Soedarto. Karena waktu antriannya panjang dan cukup menguras tenaga, akhirnya beres verifikasi, kami langsung pulang naik bus seadanya. Dan benar-benar seadanya, bus ekonomi, sampai Bapa pun kesal karena ngetemnya, haha.. 
teman-teman Administrasi Publik Undip angkatan 2010
Awal-awal kuliah, aku agak kesulitan mencerna mata kuliahnya. Aku harus belajar esktra, lebih rajin dari biasanya. Waktu SMA aku jurusan IPA, dan di Administrasi Publik aku benar-benar banting setir, total semuanya pelajaran IPS :P OMG, pusing deh awal-awal mah. Apalagi sama mata kuliah Pengantar Ilmu Politik dan Pengantar Ilmu Ekonomi. Dapat nilai B juga sudah syukur :P Tapi lama-lama, setelah menginjak tahun kedua di dunia sosial, aku sudah mulai bisa berdamai dan menikmati arusnya :)
Tian, Isna, aku; 3 dari 7 teman main yang wisuda barengan.
Selama kuliah dan tinggal di Semarang, banyak sekali pelajaran hidup yang kudapatkan. Mulai dari mencicipi dunia MLM, jualan buku, jualan batik, tas handmade, jualan tali rambut rajut, belajar bahasa Jawa, hingga menemukan komunitas-komunitas menulis yang membantuku mengasah kemampuan menulisku. Tak hanya itu, selama kuliah, aku juga banyak mengikuti acara kampus dan luar kampus, seminar, talkshow, mulai dari yang berbayar hingga yang gratisan. Terutama yang paling sering sih yang gratisan ya, apalagi kalau gratisan terus dikasih duit. Wkwk :P
with my personal photographer, waktu belum jadi suami :P
Jogja. Tempat ini menjadi rumah singgahku yang kedua setelah Semarang. Awalnya memang karena Ibank aku ke Jogja. Lama-lama, aku justru bertemu banyak teman di sana. Di Jogja juga ada Rini, sahabat Jamnasku -tahun 2006 lalu-, kami dipertemukan lagi di Jogja :') Aku banyak menemukan hal baru dengan Rini. Aku menemukan partner bisnis batikku juga dengan Rini. Semenjak menemukan 'hidup' di Jogja, aku jadi sering ke sana, paling telat 3 bulan pasti aku ke sana. Karena aku butuh Jogja juga, aku jadi memilih Jogja sebagai tempat magangku. Alhamdulillahnya instansi yang kuincar menerima lamaran magangku, hihi.. Selain magang, selama skripsian juga aku tinggal di Turi, Sleman, Jogja, di rumahnya Mbak Dian. Penelitiannya di Magelang sih, tapi tinggalnya di Turi karena Turi lumayan dekat dengan Magelang, 30 menit - 1 jam motoran juga sampai.
with Rini, my partner in crime :D
Sedihnya, waktu wisudaku, Mamah tidak bisa datang. Bapa datang di wisuda univeritas. Kalau yang di foto-foto ini wisuda fakultas. Aku sengaja memilih Emih, Bibi, dan Mamang saja yang datang ke wisuda fakultas, karena menurut informasi dari kakak kelas, wisuda fakultas lebih sakral, lebih untuk keluarga. Ya, daripada Bapa yang datang, lebih baik Emih. Jadi waktu itu dibagi 2 kloter. Kloter pertama (wisuda fakultas) Emih dan rombongan, kloter kedua (wisuda universitas) Bapa dan rombongan. Kenapa aku lebih memilih Emih yang menghadiri momen sakral ini? Yaa daripada aku sedih ingat Bapa dan Mamah tidak lagi bersama, hehe.. Lagian aku kan pernah janji pada diriku sendiri, mau membanggakan Emih di hari wisudaku, seperti yang pernah kutulis di sini --> Emih; More Than Just A Grandma.
best photo ever by Ibank! sayang itu tali toganya gundul, out of check -_-
Yeah, finally aku bisa nulis cerita ini setelah diendapkan sekian lama dalam draft di hati, hehe.. Ceritanya lagi kangen banget sama dunia kuliah. Ceritanya gak sabar ingin lanjut kuliah lagi, ingin merantau lagi, ingin merasakan aroma kota lain lagi, ah pokoknya ingin berpetualang dan menimba ilmu lebih banyak lagi. Bismillah semoga Alloh membukakan jalan-Nya. Aamiin... :)

Eh, jadi inget deh, bulan Maret tahun lalu aku masih sibuk garap skripsi, masih sering tinggal di rumah Mbak Dian. Sekarang, Maret tahun ini, aku sudah bukan mahasiswa Undip lagi ternyata yaa.. Di belakang namaku sudah ada gelarnya, Syifa Azmy Khoirunnisa, S.A.P. Ahaha :D

Waktu begitu cepat berlalu... Betapa banyak lengahnya aku... :') 

by. si Famysa, kangen kuliah :')

Mijn Vriend