Tampilkan postingan dengan label Tips Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Curhat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 April 2015

Cara Menanggapi Curhatan Orang Lain

Jadi, aku gak suka sama orang yang kalau curhat total banget, pakai nangis segala, eh giliran aku curhat ekspresinya datar. Atau orang yang kalau kita lagi ngomongin tentang dia, kerjaannya, kisah masa lalunya, hatinya, dll, itu bisa curhat sampai malam, eh tapi giliran aku curhat, dia nanggapin sambil lalu, sambil main hp pula. Jleb deh. Sakitnya tuh di sini :(

Kayaknya aku ini tipe orang yang sering dicurhatin orang lain. Entah itu sama teman biasa, teman dekat, sahabat, keluarga, tetangga, bahkan orang yang baru ketemu di bis pun tak jarang suka pada curhat ke aku. Hmm, apakah aku ini punya wajah seorang psikolog? Atau kenapa ya? Kok banyak yang buang keluh-kesahnya ke aku? Kan katanya, kata banyak teman, aku ini judes, jutek, gak asyik. Tapi tetep aja jadi tempat curhatnya mereka. Kumaha sih, haha..

Mungkin teman-teman pembaca juga ada yang kayak aku, jadi ‘tempat sampah’ banyak orang, heuu.. Nah, biasanya nih, apa yang teman-teman rasakan kalau kita ‘si tempat sampah’ gak dianggap waktu curhat ke orang lain? Apa lebih memilih diam, memendam sendiri, lalu curhatnya di blog kayak aku? Atau gimana?

Yaa, gara-gara pengalaman sendiri, aku jadi kepikiran pengen nulis tentang ini. Walaupun tidak terlalu berguna, setidaknya bisa saling mengingatkan lah yaa tentang cara menanggapi curhatan orang lain :D Ini mah berdasarkan pengalaman pribadi aja, gak ada cuplikan dari mbah gugel, dari buku, apalagi dari kuliahan :P

Bayangkan kita sebagai dia (yang curhat)
Buat aku si penyuka bacaan fiksi, aku demen banget bayangin apa yang sedang aku baca seolah-olah nyata dan sedang kualami sendiri. Cara ini juga yang sering aku gunakan kalau lagi dengerin curhatan orang, ngebayangin. Gak jarang aku juga tanya detailnya, misal posisi tempat yang dia ceritakan, tokoh A, B, C yang dia ceritakan, dll. Itu supaya aku gak salah ngebayangin, supaya sedikitnya aku bisa menangkap ceritanya, jadi kan gak akan ‘jaka sembung bawa golok, gak nyambung g*bl*k’. Dengan cara ini, pasti deh kita akan ikut terbawa curhatannya.

Fokus sama dia, hindari gadget dan hal-hal lain yang mengganggu
Ini nih! Sering banget aku nemuin teman yang kalau aku lagi curhat, dianya asyik sms-an mulu sama pacar, dianya asyik maenin hp barunya, dianya asyik nonton K-drama favoritnya. Mending kalau akunya gak diperhatikan gara-gara dianya emang lagi sibuk kerja, cari duit, garap tugas/skripsi, oke lah kalau begitu mah. Lah, kalau aku dicuekin gara-gara hal yang gak terlalu penting, yang masih bisa di-replay, kan sebel. Apalagi kalau ingat waktu dia curhat dan kita selalu fokus sama curhatannya. Sisi ikhlas di hati ini jadi dipertanyakan besar, hahah.

Upayakan antusias, atur nada bicara
Coba bayangin, kita nangis depan dia, dia datar aja. Kita meluapkan kekesalan depan dia, dia datar aja. Kita cerita bahagiaaa, dia datar aja. Jadi, dia itu manusia apa tembok ya? Wkwk.. Kita mah jangan laah jadi kayak di ‘dia’ begitu. Padahal kan orang curhat sama kita itu untuk minta perhatian kita. Lha kalau kitanya gak antusias, atau sedikitnya pura-pura antusias lah ya, pasti deh orang itu bakal nyesel. Kalau kata orang Sunda mah, hanas aing carita ka sia. Gampangnya gini deh, misal dia cerita sedih, ya kita nada bicaranya rendah, seolah ikut sedih. Misal dia cerita bahagia banget, ya kita coba ikutan sumringah juga nada bicaranya.

Dengarkan dulu dia!
Biasanya, orang curhat itu ya karena emang cuma pengen curhat, cuma pengen cerita, gak pengen nerima saran, gak pengen nerima omongan orang. Kita sebagai ‘tempat sampah’ ya ada baiknya dengerin aja dulu curhatan dia sampai kelar. Baru kalau udah kelar kita boleh ngomong. Itu pun kalau respon dianya baik (nerima omongan), kalau kita ngomong, dia kayak pasang tameng (ngejawab mulu, nyangkal mulu) berarti itu mah cuma ingin didengarkan, ingin ada teman yang bisa mengerti dia.

Berikan wejangan yang sekiranya pas
Pernah aku (belum lama ini) ada masalah, aku curhat ke si A, gak taunya si A nyeritain masalahku ke orang terdekatnya (sebut aja si B). Pas aku dan si A main ke tempat si B, si B nanya kenapa aku udah 2 minggu lebih gak main ke tempatnya. Aku jawab aku kalau lagi ada masalah, lagi ada yang dipikirin, gak suka kemana-mana, maunya di rumah aja, menyendiri. Eh dengan gampangnya si B ngomong gini ‘ah kalau saya mah ada masalah enaknya pergi, main, kemana aja.’ Dan gak lama setelah ngomong gitu ke aku, si B curhat ke aku tentang masalah tetangganya, lalu bilang ‘si anu sekarang jarang keluar rumah, badannya juga kurusan, lagi ada masalah sih ya,’ dengan mimic keibaannya. Kan sedihh… Giliran aku curhat dianggap enteng, dibilang ‘ah itu mah bukan masalah’. Higs.. Kita mah jangan begitu ya teman-teman.. Cobalah berikan perkataan yang pas dengan situasinya. Atau kalau gak bisa ngomong, daripada salah ngomong, mending diam aja lah, cukup pasang mimik ikut merasakan aja.

Berikan sentuhan/pelukan kalau perlu
Biasanya sih cewek yang yang suka peluk-pelukan, hihihih… Senjata pamungkas kalau kita kehabisan kata-kata, ya bisa dengan pelukan ini. Misal dianya lagi sedih, curhat ke kita, kita peluk deh. Pun kalau dianya lagi bahagia, curhat ke kita, kita peluk juga tuh, ucapin selamat atau apa gitu. Katanya kan berbagi kesedihan akan mengurangi kesedihan, berbagi kebahagiaan akan menambah kebahagiaan :)

Kalau belum bisa empati, belajar lah untuk simpati
Intinya, nanggepin orang curhat itu… Kalau belum bisa ikut menanggung bebannya (empati), yaa sedikitnya belajar ikut merasakan (simpati) dulu deh. Merasakan senangnya atau sedihnya.

Naah, gimanaa? Gak ada salahnya kan dicoba.. Kita yang sering jadi ‘tempat sampah’ pasti banyak rejeki looh, ahaha *ayat sesat :P, tapi gapapa, buat motivasi aja, hehe..

Mangga barangkali ada tambahan lain, cems… ^^ 

by. si Famysa, tempat sampah :P

Mijn Vriend