Kamis, 28 Juli 2011

Me and Scout (part 1)

kali ini aku hanya ingin bercerita. aku sedang amat merindukan sahabat-sahabatku. aku hanya sedang merasa aku kehilangan satu yang amat kucintai ini. aku cinta Pramuka, dari dulu, sekarang, dan seterusnya. mungkin karena dari SD aku terbiasa hidup di tengah-tengah Pramuka, terlebih mamahku adalah pembina Pramuka SMP, jadilah aku begini ini. aku merasa bahwa Pramuka adalah hidupku. aku senang ketika bersamanya, dan aku sedih ketika aku harus memutuskan untuk meninggalkannya. namun walaupun begitu, Pramuka akan tetap mengalir dalam deras aliran darahku #metafora ngook... biarlah.. karena memang begitulah adanya.
aku tidak akan bercerita apa itu Pramuka. aku juga tidak akan bercerita sejarah dan seluk-beluk Pramuka lainnya. aku hanya ingin mencurahkan isi hatiku bahwa betapa aku bangga dapat menjadi bagian dari Praja Muda Karana Indonesia.
pertama kali aku belajar berorganisasi adalah di Pramuka. pertama kali aku belajar menjadi seorang pemimpin juga adalah di Pramuka. Syifa kecil memandu Pramuka penggalang SD, oohh aku jadi ingin menangis jika mengingat semua kenangan tentang Pramuka. aku belajar masak di Pramuka (bukan di rumah), aku berani bernyanyi, berakting hanya karena Pramuka. aku berani gila jika itu untuk Pramuka. aku berani menantang tebing tinggi karena Pramuka. aku berhasil meraih puncak gunung karena Pramuka. aku dapat merasakan nikmat dan senangnya meraih prestasi, memegang piala juara karena Pramuka. lebih dari itu, aku telah menemukan jati diriku berkat Pramuka. Pramuka juga lah yang pertama kalinya telah membawaku ke dalam prestasi nasional. yaa... memang hanya Jambore Nasional (2006 silam). tapi aku amat bangga.... aku bangga karena aku dapat mengalahkan para calon peserta lainnya, aku bangga karena saat itulah aku pergi jauh dari kedua orang tua dalam waktu 10 hari untuk pertama kalinya. aku bangga karena aku dapat menjadi mandiri karenanya. #higs asli nangis nih :'(
aku punya teman banyak. aku berani bicara. aku belajar bersikap tegas. aku belajar tidak cengeng. aku bolos sekolah pun semua karena Pramuka. hehe
mungkin kalian heran kok aku segitunya ya sama yang namanya Pramuka. tapi ya memang beginilah aku dengan segala watak dan kesenanganku. bahkan dulu pacarku saja tidak akan berani menggangguku dan aku pun akan lupa padanya pada saat aku sedang bersama Pramuka. betapa pun jahatnya aku kini karena aku tidak memiliki NTA (nomor tanda anggota), artinya aku bukan lagi anggota Pramuka, tapi sungguh Pramuka ada di dalam diriku. Pramuka seolah telah mendarah daging. aku hanya ingin mengungkapkan terima kasih pada Pramuka, aku cinta Pramuka selamanya :))


by. Famysa love scout :)

Selasa, 26 Juli 2011

Di Angkot (Lagi)

---hanya ingin berbagi cerita kejadian semalam selama aku berada di dalam angkot Ngesrep menuju Sirojudin, Bakso Kebon tepatnya---

hening menjalar...

sekawanan laki-laki (6 orang) memandangi temanku yang sedang menyeruput segelas teh poci terus. tiba-tiba... "kenapa? mau?", temanku berkata demikian pada sekawanan laki-laki itu.
#glek, asli pengen senyum tapi malu. jadilah aku salah tingkah dengan terus memandang ke luar angkot.
lalu mungkin sekawanan laki-laki itu menjawab "gak mau" atau semacamnya (karena aku memandang keluar, jadi gak melihat aksi mereka, hanya mendengar saja). temanku berkata lagi, "abisnya dari tadi ngeliatin mulu."
#whahaha pengen ketawa banget deh. bagaimakah perasaan temanku kala itu? heu.. tadinya aku berniat untuk ikut campur. tapi akhirnya kuurungkan niatku karena -apa-apaan ngeladenin cowok-cowok jahil kayak gitu-
akhirnya terjadilah percakapan kecil antara temanku dan sekawanan laki-laki itu. T = Temanku, L = sekawanan laki-laki.
L: Mbak, dari mana, Mbak?
T: dari depan.
L: (sambil tertawa) hahahaa... dari depan, belakang. hahaha....
T: iyaa... aku dari depan mau ke belakang.
L: oh gitu ya, Mbak. eh, Mbak, namanya siapa?
T: siapa yaaa? (ogah-ogahan)
L: (tertawa lagi) ya itu siapa... Mbak yang punya nama.
T: gak tau ah, gak punya nama.
L: ah gak usah jaim gitu deh, Mbak.
T: (diam, kesal)
L: (yang lain mengompori juru bicara untuk meminta nomor hape) kalau nomor hapenya, Mbak?
T: gak punya hape.
L: (lagi-lagi tertawa) masa sih, Mbak gak punya hape. kalau itu yang di sebelahnya sih. (maksudnya aku)
T: dia juga gak punya hape.
#sakit perut sumpah :D :D antara menahan tawa tetapi ingin tertawa menggelegar, menggigit bibir tetapi harus sebisa mungkin terlihat tidak peduli. ahahaaa...
L: Mbak turun dimana?
T: itu di depan.
L: (ngomong bahasa Jawa, gak ngerti apa)
T: apa sih gak ngerti bahasa Jawa. Indonesia aja napa.
L: oalaahh gak ngerti Jawa tho, Mbak. emang asli mana, Mbak?
T: Lampung.
#jauh amat dari Subang jadi Lampung :D
L: (kompak) hahh... kampung?
T: iiiiihhh..... Lampung.... Lampung.....
L: Lampung mana, Mbak?
T: ya Lampung, Bandar Lampung.
L: oohh... tak kira kampung.
#aku makin gak kuat menahan tawa. akhirnya keberanikan diri untuk membuka mulut. "Khas, dimana sih Bakso Kebonnya?" temanku jawab, "itu di depan. eh... ehh..." tiba-tiba... "KIRIIIII PAAAAAKK!! SEBEL AH DIAJAKIN NGOMONG MULU SIH JADI KELEWAT DEH." -> dengan wajah brutal ngambek pada sekawanan laki-laki. turunlah kita, dan entah apa reaksi sekawanan laki-laki itu.

di luar...
hahahahahha.......... (aku tertawa lepas sambil memukul-mukul temanku, padahal temanku masih tetap cemberut).habis lucu sih...
katanya sih waktu di dalam angkot juga ibu-ibu di depannya terus tersenyum-senyum simpul dan tertawa kecil (menertawakannya dan sekawanan laki-laki itu)

#syukurlah itu bukan aku :D

awas yaa.... cowok-cowok.... adegan di atas jangan ditiru!! *yang kayak gitu tuh bikin kesel bin sebel.. image laki-laki yang seperti di atas itu juga bakalan jadi jelek. dicap jahil lah, suka godain cewek lah. lebih baik diam jaga mulut dan sikapmu daripada menyakiti dan membuat risih orang lain ;)

by. si Famysa ceria :D

Senin, 25 Juli 2011

Poetry Hujan: The Lost Rain

datang dan pergi
datang
dan pergi lagi
pergi....
tak jua kunjung datang
sebenarnya apa gerangan yang menahanmu untuk kembali memelukku?
untuk mendekapku dalam balutan hangatmu?
apakah karena sepoi dunia?
atau sebab gelora dalam bola itu?
atau...
karena memang kau tak ingin lagi menemani tidurku?
menyelimutiku dengan cita dan cinta?

tatapmu kini dingin
gesek belaimu kini kaku
tak tahukah kau di sana ada pucuk daun yang merindumu, wahai hujan
sadarkah, Tuan hujan?
ingatkah, Tuan hujan?
saat canda kita dibalut hangatnya malam
bermesraan ketika awan sedang berarak mengabu warnanya
saling membelai berpacu dengan aroma coklat bumi kita
kita tertawa lepas, lepaaaass....
namun
pudar kini rintikmu
pesonamu kian lama kian terkikis
kemana pergimu selama ini, hujan?
kau tahu
pucuk merindumu
laksana malam yang selalu berdampingan dengan siang
bak dewa yang selalu dikelilingi para dewi
seperti kumbang yang bercinta dengan bunga
bagaikan aku...
pucuk yang selalu mengharapmu
hujan

Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh  

Sabtu, 23 Juli 2011

.:: Katalog Kaos 'Caping' Jogja Terbaru ::.

harga: Rp 35.000,- (couple Rp 70.000,- sepasang)
ukuran: S, M, L, XL
warna: hitam & putih
bahan: katun
pesan sms Syifa di no. 08997185407
KATALOG 1
KATALOG 2
KATALOG 3
KATALOG 4
 Nu barade marangga dipesen... :)
Yang mau silahkan dipesan... :)
dengan format:
NAMA, NO. KATALOG, NO. GAMBAR, WARNA, UKURAN
contoh:
AZMY, KATALOG 3, GAMBAR 9, PUTIH, M

-- TERIMA KASIH --

Jumat, 22 Juli 2011

Proudly Present... Situ Saradan :)

akhirnya kesampaian juga foto-foto di Situ Saradan pas pulang ke kampung halaman kemarin. hihiii senangnyaa...
Situ Saradan ini ada di desa Saradan, kecamatan Pagaden, kabupaten Subang, Jawa Barat. :)
penduduk setempat masih belum banyak yang mengetahui keberadaan situ yang satu ini. mungkin ada yang pernah melewatinya, tapi tidak tahu bahwa itu adalah Situ Saradan. mungkin ada juga yang hanya tahu nama, tapi tidak tahu dimana lokasinya. padahal lokasinya ada di pinggir jalan raya Pagaden loh. jika dari arah Subang maka situ ini akan terlihat di sebelah kiri jalan, jika dari arah Pamanukan maka situ ini akan terlihat di sebelah kanan jalan.
situnya sendiri lumayan luas. di sekelilingnya diselimuti oleh hamparan sawah. di dekat situ ini juga ada kebun (entah milik siapa) dan ada warung es buah yang rasa es buahnya mantap. hmm... *jadi ngiler. bagi pengunjung yang mau ke lokasi bisa memarkir kendaraannya di depan warung es buah. lalu berjalan kaki sedikit melewati kebun, dan sampailah kita di Situ Saradan.
memang sih Situ Saradan bukan tempat wisata. tapi ya lumayan lah untuk pencuci mata dan penghilang penat. karena pemandangannya bagus, asri, dan alami. di sana kita bisa melihat orang-orang yang sedang memancing ikan. ada yang duduk-duduk di pinggiran situ, ada juga yang memancing di tengah situ dengan geteknya. hmm.... waktu ke sana aku berpikir... andai getek-getek itu dikomersialkan untuk para pengunjung yang datang, pasti aku cobain deh. secara, belum pernah naik getek gitu loh. hehe.. semogaa kelak Situ Saradan menjadi salah satu aset wisata kebangaan kabupaten Subang. aamiinn...
langsung saja deh di bawah ini akan kutunjukkan foto-fotonya.. ^^
sore hari, bulan sudah mulai terlihat
memandang bulan yang sukar digapai
memeluk pohon = cinta alam *weks
saatnya bergaya ehehee
Situ Saradan, Subang
by. si Famysa, pecinta alam :)

Mijn Vriend