Selasa, 30 September 2014

Welcome Back!

Ulala, gimana sih keadaan rumahmu kalau kamu tinggalkan selama tiga bulan tanpa ada yang merawat? Sebenarnya kamu tiap hari lewat depan rumahmu siih, tapi kamu cuma nyapuin teras depannya doang, sedangkan ini sedang musim kekeringan, debu-debu jelas lah beterbangan sesuka hati ke rumahmu. Kasihan yaa rumahnya... 
Dan yap! Itu lah yang terjadi pada rumah mayaku. Realy, aku baru banget buka blog ini pagi ini. Bersih-bersih komentar yang menunggu moderasi, bersih-bersih spam yang bejibun, periksa draft. Hmm... Berantakan sekali. Kasihan..
Dari bulan Juli tidak ada satu pun postingan yang numpang lewat di sini. what a lazy me! Gak tahu lah kenapa kok aku sok sibuk banget ya. Sibuk sidang, revisi, pendaftaran wisuda, idul fitri, persiapan wisuda, dan how a busy month, August! Sampai akhirnya dua minggu awal di bulan September aku sakit-sakitan. Kata dokter sih karena kecapekan. Dipaksakan keluar sebentar saja besoknya langsung drop lagi. Akhirnya mamah greget ke aku, mamah bilang "udah istirahat aja! Tidur, tidur! Sakit kok maunya keluar-keluar aja, makannya yang pedas, yang asam aja. Ya gak sembuh-sembuh." Hahaha... 
Lalu apa yang terjadi setelah aku sehat? Yaa, bisa ditebak lah.. Main, main, dan maiiin. Seminggu sekali aku pasti ke luar kota. Dalam 3 minggu September ini saja aku sudah bolak-balik Subang-Semarang, dua kali Subang-Bandung, Subang-Cirebon, belum lagi acara-acara main di sekitaran Subang. Wleee :P Namanya juga pengangguran terselubung ya. Ceritanya ke luar kota ikutan job fair, tapi sebenarnya itu cuma modus supaya bisa menghirup udara luar. *jangan ditiru :P

Mungkin ada yang bertanya, mungkin yaaa :P Kenapa hari ini aku tiba-tiba ngeblog lagi? 
Sudah sejak lamaaa aku meniatkan diri untuk fokus bisnis dan nulis ketika aku sudah lulus kuliah. Tapi kenyataannya aku berat sebelah. Aku terlalu mementingkan bisnisku. Online tiap hari siih... facebookan, twitteran, instagraman, ngepath tiap hari. Tapi blog? Susah buka blog di tab :( Boro-boro posting, mau baca saja selalu jadi hang si tab nya. Mau online di laptop, ribeeet. Si Pinky harus selalu makan setiap dia diajak kerja, alias kudu sambil ngecash terus, baterainya sudah gak ada. Tambah lagi terminalnya cuma satu colokan yang berfungsi. Huaaah! Terlalu banyak alasan dan menyalahkan sekitar ya. Hehehe... Padahal malas mah ngaku saja malas! :P
Well, satu alasan utama kenapa pagi ini aku kembali ngeblog adalah... Kemarin sore aku disentak oleh kalimat mamahku. "....ya habis subuh jangan tidur lagi. Pagi itu kan waktu yang berkah. Tadinya malaikat mau kasih rejeki ke Neng, eeeh Neng nya masih tidur, ya sudah malaikatnya balik lagi, gak jadi deh ngasih rejekinya. Makanya ada istilah nanti rejekinya dipatok ayam tuh ya karena itu.." Dan mulai pagi ini sepertinya aku tidak akan tidur setelah subuh lagi. Hoaaam.... Mengapa jam tubuhku kacau ya? Tidur malam, bangun siang melulu. Bad habbit yang gak kerasa bad karena dibiasakan nih. -___-
Mamah juga memaksaku untuk selalu membuka blog setiap hari untuk mengecek komentar masuk dari para siswa. Ada-ada saja ya, tulisanku dijadikan bahan ajar u__u Untuk pelajaran Bahasa Indonesia kan ada kompetensi memberi komentar pada suatu karya. Nah, tulisanku itu yang dijadikan bahan yang akan dikomentari oleh siswa. Alhasil bejibuuun sama komen-komen yang nyenengin semua. Salut sama siswa-siswanya mamah deh! Malu dong masa mereka komentar yang bagus-bagus, tapi kok aku tidak menulis-menulis lagi di sini. Hehehe... Habisnya agak salah juga sih memberi judul postingan terdahulu (postingan yang jadi bahan ajar) dengan judul Catatan Akhir Mahasiswa Super, jadinya benar 'catatan akhir' deh, sampai akhirnya pagi ini aku tergerak untuk menyeimbangkan waktuku untuk bisnis dan nulis lagi :) Terima kasih yaa adik-adik semua... Kalian juga menginspirasi kakak untuk terus menambah tulisan di blog ini lagi...

Oh ya, nanti aku mau launching Seller Partner Famysa looh :D Tunggu tayangnya yaa.... bubye.... ^^

by. si Famysa, lazy girl yang mau jadi diligent girl

Senin, 02 Juni 2014

In Front of Chocolate Eiffel

Berawal dari iseng, hari Jumat, 30 Mei kemarin akhirnya sampai juga kaki-kaki mungil ini di Paragon Mall Semarang. Niat awalnya sih mau nemuin teman SMA yang lagi liburan di Semarang. Eeh tapi gak jadi karena si temannya bilang gini, "kalian kalau mau ke sini bawain makanan ya.. kita lapar, di sini gak ada yang jual makanan." Gubraks! Sisi jahat aku dan Khaslinda berkata 'ya udah gak usah jadi nemuinnya ah. kita hangout aja ke Paragon.' Hahaha... :P
Ide untuk hangout ke Paragon tiba-tiba saja terpikir karena aku ingat ada pameran coklat cookies di sana. Agak-agak penasaran seperti apa, makanya kuhasut Khaslinda dan Ayu untuk ke Paragon. Hehe.. Ekspektasi pertama aku dan Ayu mengenai pameran itu mungkin sama seperti pameran semacam kue sebelumnya. Dulu hanya aku dan adikku, Ulfah yang melihat. Ceritanya pernah kutulis di postingan ini -> Garden Cupcake.
Penyelenggara pameran chocolate cookies ini sepertinya sama dengan penyelenggara Garden Cupcake dua tahun lalu, yaitu Fortune. Nama acaranya juga sepertinya sama. Dulu jelas-jelas terpotret olehku, nama acaranya Fortune Baking Festival. Tapi kemarin aku tidak sempat memotret lebih banyak, karena acara sudah akan segera usai. Hanya saja di belakang background 'The Stiries of 10000 Chocolate Cookies' terlihat ada logo bertuliskan FBF 2014. FBF mungkin singkatan dari Fortune Baking Festival. Hehehe banyak mungkin dan sepertinya nih ah. Payah :P Hampura sim kuring nyaa :D  
by. si Famysa, :)

Minggu, 01 Juni 2014

Catatan Akhir Mahasiswa Super

Aku bukan mahasiswa yang hanya mengandalkan uang kiriman dari orang tua. Tanggal muda maupun tanggal tua sama saja bagiku, sama-sama harus selalu kerja keras. Beruntung aku punya tabungan yang cukup untuk modal hidup ketika orang tua tidak bisa memberi kiriman selama lima bulan. 
Aku sempat merasakan kerasnya dunia Multi Level Marketing (MLM). Senang rasanya mendapatkan uang dengan nominal yang cukup besar dari hasil jerih payah sendiri, bekerja di bawah tekanan dari pagi sampai malam, lumayan untuk nombok kekurangan biayaku.
Aku bukan mahasiswa yang mau apa tinggal bilang pada orang tua. Walaupun mungkin orang tuaku akan mati-matian mengusahakannya, tapi aku tidak sekurang ajar itu. Aku bukan mahasiswa yang dua kali ganti laptop selama kuliah. Cukup laptopku, PinkQ saja yang menemaniku. PinkQ kusebut legendaris karena dia adalah laptop tertua dan terawet diantara laptop teman-temanku. Meski sudah sakit-sakitan, tapi PinkQ masih bisa kuajak menghasilkan uang.
Aku bukan mahasiswa yang berkali-kali minta pada orang tua untuk ganti hp atau gadget lainnya demi mengikuti tren, demi tidak diledeki kudet, demi eksis di sana-sini. Karena kamera digital, hp android, kamera SLR, dan tablet yang kumiliki saat ini adalah hasil jerih payahku berjualan batik online, serta untuk mendukung kelangsungan bisnis onlineku juga. Kupikir untuk apa hp atau tablet yang canggih kalau sekedar untuk mengikuti tren, untuk bermain games, untuk mengakses yang tidak penting. Untuk apa kamera keren kalau sekedar demi kesenangan semata. 
Aku bukan mahasiswa yang kerjaannya santai, 'kupu-kupu' alias kuliah-pulang-kuliah-pulang, tanpa secuil prestasi pun diluar kuliah. Apalagi menonton film sampai pagi, mati-matian menghafal lirik lagu dan selebriti, nongkrong di sana-sini, buang uang sana-sini. Aku mempunyai target. Betapa sia-sianya waktuku selama empat tahun kuliah jika hanya dipenuhi oleh lagu-lagu dan film-film.
Aku bukan mahasiswa yang kebanyakan uang. Di saat orang lain berkali-kali berganti tas, aku justru tetap setia dengan tas-tasku sejak jaman sekolah dulu. Toh tas-tasku masih bagus dan bisa dipakai. Tidak perlu lah mengikuti keinginan dan memuaskan rasa bosan terus. Buku tulis saja aku cuma beli satu kali, itu pun paroan dengan temanku. Binder dari jaman SMP masih kupergunakan. 
Aku bukan mahasiswa yang fashionable, yang bisa berganti baju baru atau sepatu baru terus. Sepatu putihku yang buluk setia menemani langkahku. Pakaian-pakaianku sebagian besar adalah peninggalan dari jaman sekolah dulu. Bahkan pakaian dari jaman SD saja masih ada yang terpakai.
Aku bukan mahasiswa yang bisa jajan seenaknya. Mau eskrim tinggal beli, mau coklat tinggal beli, mau cemilan apapun tinggal beli. Hanya ketika stres tugas dan skripsi saja aku bisa jajan semaunya. Selebihnya, sering-sering tahan iman, tahan godaan. Masih banyak hal lain yang lebih penting, masa depanku lebih penting daripada nafsuku pada jajanan.
Aku bukan mahasiswa yang tiap minggu bisa menengok kampung halamanku. Aku mahasiswa rantau. Bahkan pulang pun bagiku bukan sekedar melepas rindu, tapi harus mendapatkan ilmu dan pemasukan rupiah baru dari hasil daganganku.
Aku bukan mahasiswa yang mempunyai serentet kisah SD yang indah untuk diceritakan pada teman-teman. Uang jajanku paling besar selama SD adalah Rp 500, itupun dengan catatan kalau tidak sarapan di rumah. Kalau sudah sarapan di rumah, kadang diberi Rp 200, atau tidak sama sekali. Karena Rp 200 pun sering habis oleh mereka para pembullyku. Namun senang sekali rasanya ketika aku bisa mengumpulkan tabungan sebanyak Rp 200.000 saat kelas 2 SD dari uang jajan Rp 200ku plus tambahan angpau dari kakek dan nenekku. Wow!
Aku mahasiswa kampungan. Ya, aku berasal dari kampung. Banyak tempat gaul dan apapun yang gaul-gaul yang aku tidak tahu. Tapi sepertinya sekarang anak kampung ini sudah agak maju. Minimalnya beli gadget saja tidak usah minta pada orang tua.
Aku bukan mahasiswa yang berasal dari keluarga kaya raya atau keluarga harmonis. Mungkin ketidakharmonisan yang membuat keluargaku seperti tidak kaya raya, padahal mereka mempunyai segudang simpanan harta. Aku bukan mahasiswa yang fokus kuliah, berbisnis, dan berkarya tanpa masalah keluarga. Justru masalah-masalah keluargaku itu yang memicuku semakin giat bekerja keras. Namun apakah harus mereka yang berada dalam kedamaian keluarga merasakan masalah keluarga dahulu agar semangat juangnya terpicu? Menurutku ini bukan solusi. Hanya saja ini kerap dijadikan alasan bagi mereka yang malas bekerja keras.
Aku bukan mahasiswa biasa saja, karena aku adalah mahasiswa luar biasa! Aku tidak akan merasakan menjadi pengangguran, karena pada detik ini pun aku sudah mempunyai kesibukan yang menghasilkan pundi-pundi rupiah. Aku hanya seorang mahasiswa yang tiada henti memotivasi diri bahwa aku adalah seorang pebisnis, penulis, pembelajar, dan pengabdi :)
And whats the next? Aku ingin terus berbisnis, aku ingin terus menulis, aku ingin kuliah S-2, aku ingin menikah, dan aku ingin berbagi dan terus berbagi hingga tutup usia nanti.... Aamiin...
Bukan perjuangan namanya jika segala sesuatunya berjalan dengan mudah. Karena bagiku perjuangan adalah usaha menembus batas ketidakmungkinan, usaha yang penuh dengan halang rintang, usaha yang bisa membuat kita menggapai bintang-gemintang.
Ada tujuan, ada usaha. Ada tujuan, tanpa usaha, mustahil tujuan dapat tercapai. Berharap ada keajaiban pun tak berhak. Karena keajaiban hanya diperuntukkan bagi mereka yang berusaha sekuat tenaga. 
by. si Famysa, mahasiswa super!  

Sabtu, 31 Mei 2014

Pinter Kodek

Ada yang tahu atau pernah dengar istilah 'pinter kodek'? Orang Sunda harusnya tahu loh yaa... Karena ini istilah bahasa Sunda :)
Sederhananya, pinter kodek itu adalah sebutan bagi orang yang curang. Lebih luasnya, pinter kodek itu adalah sebutan bagi orang yang bersikap "habis manis sepah dibuang" pada orang lain, atau bersikap "kacang lupa pada kulitnya" pada orang yang telah berjasa padanya, atau ingin senang sendiri tapi melupakan kesenangan orang lain, atau ingin berbagi sedih dengan orang lain tapi giliran senang dia tidak berbagi, atau ingin untung sendiri tapi merugikan orang lain, atau... apa lagi ya? Hmm... Silakan tafsirkan saja sendiri lebih luas. Intinya pinter kodek itu sifat curang, baik sedikit maupun banyak, dalam hal apapun.
Pinter kodek tidak sama dengan pelit. Banyak orang yang pinter kodek baik hati dan suka memberi. Namun dalam beberapa hal yang sekiranya bermanfaat dan penting bagi orang lain, dia kadang menyimpan untuk dirinya sendiri, dia tidak mau membaginya dengan orang lain, walaupun dengan teman dekatnya sendiri. Orang yang pinter kodek tidak selalu merugikan secara lahir, tapi bisa juga merugikan secara bathin. Kerennya suka bikin sakit hati.
Sayangnya, tidak semua orang pinter kodek sadar bahwa dirinya adalah orang yang seperti itu. Dia woles saja dengan watadosnya seolah tidak terjadi apa-apa, seolah semua baik-baik saja. Padahal jauh di sebrang sana mungkin saja ada orang lain yang sedang terlukai hati atau fisik karenanya. Ya iya lah ya.. Mana ada maling mengaku maling. Kalau maling jujur semua nanti penjara penuh *oops :P Dan mungkin saja aku atau kalian yang baca juga adalah orang yang pinter kodek, baik sedikit atau banyak kadarnya -memangnya emas ada kadarnya. zzzz-
Aku jadi ingat beberapa waktu yang lalu saat sedang penelitian skripsi.. Aku sedang menunggu narasumberku. Kemudian ada seorang bapak yang menghampiriku. Beliau mengajakku mengobrol, katanya kasihan melihatku menunggu sendirian, makanya beliau ingin menemaniku. Ketika cerita dari Utara sampai Selatan, di tengah-tengah beliau bertanya seperti ini padaku, "Mbak Syifa pernah ngalamin hal gak enak gak selama temenan sama teman-teman di kuliahan?" Kubilang "Nggak tuh, Pak. Selama ini saya baik-baik saja dengan teman-teman." Lalu beliau berkata lagi, "Ooh berarti belum ngerasain ya.. Hati-hati aja, Mbak, nanti juga Mbak bakal ngerasain gimana rasanya dikhianati sama teman. Di depan bilang A, padahal hatinya Z. Sudah dibantu banyak, tapi malah Mbak Syifa dilupain." Dan dengan santai kubilang, "Iya, Pak."
Ternyata apa yang dikatakan bapak tersebut benar adanya... Siapapun pasti bakal mengalaminya. Aku, kamu, kita, akan berkesempatan dekat dengan orang pinter kodek.
Waspadalah! Kalau bertemu dengan orang pinter kodek, jauhilah! Kita boleh kok pilih-pilih teman. Masa iya kita mau berteman dengan penjagal manusia, kan seram. Bisa-bisa kita yang dimutilasi. Masa iya kita tetap berbisnis dengan orang yang sudah mencurangi kita. Kan itu bodoh namanya. Pokoknya, say no to pinter kodek! *loh
*Berbagi kesulitan itu mudah, menerima bantuan itu mudah. Yang susah adalah berbagi kebahagiaan dan memberi bantuan setelah kita berkeluh kesah pada orang lain setelah kita menerima jasa orang lain.
*Bantuan kecil yang berarti besar seharusnya dapat mengikat kita untuk berusaha membalas jasa. Namun pada kenyataannya, bantuan kecil tak lebih diingat daripada kesalahan kecil. Memang, 'forgive is not forget', tapi perlu diingat, 'helper must be reminder'.
*Orang baik bertebaran dimana-mana, orang sok baik juga ada, bahkan orang jahat sekalipun bisa berpura-pura baik. Namun baik saja tidak cukup. Dunia ini butuh empati!
*Jika definisi sahabat adalah dia yang berbagi suka maupun duka denganmu, tak peduli apapun keadaannya, maka siapakah sahabatmu? Adakah sahabatmu? Karena ternyata tidak semua teman adalah sahabat.
*Semuanya adalah quotes ala my self yang kutulis di Path Syifa Azmy Khoirunnisa, bukan quotes colongan loh yaa :P

by. si Famysa, semoga jauh dari 'pinter kodek'

Kamis, 29 Mei 2014

Menanti Eksekusi 'Scriptsweet'

Banyak cerita yang tertunda untuk kutuliskan karena kesibukanku pada skripsi. Mungkin tidak terlalu sibuk sampai-sampai seharian mengarjakan skripsi, hanya saja aku butuh memfokuskan diri untuk mengerjakan satu hal. Aku bukan tipe orang yang bisa mengerjakan berbagai hal sekaligus dalam satu waktu, jika ingin mencapai efektivitas, apalagi kalau dikejar deadline. Kecuali jika pekerjaannya santai dan menyenangkan, dalam artian pekerjaan itu aku suka, baru aku bisa mengerjakannya. Dalam hal skripsi ini, bukan berarti tidak suka atau tidak menyenangkan. Hanya saja ada beberapa faktor yang menimbulkan hal-hal tidak menyenangkan. Ya, yaa buat yang sudah melalui tahap skripsi ini pasti tahu laah apa yang kumaksud faktor itu. 
Aku tidak terlalu rajin dalam mengerjakan skripsi. Tapi aku juga tidak malas-malasan. Aku justru memiliki target kapan harus menyelesaikan skripsi. Meski pada akhirnya tetap ngaret karena lamanya penantian eksekusi. Ya sudah lah woles saja sekarang mah.. Hidup bukan hanya untuk skripsi, bukan? Hehehe... Aku juga bisa melakukan banyak hal lain yang bermanfaat karena sekarang woles pada skripsi. Aku tidak terlalu gencar mengejar-ngejar dosen. Kupikir untuk apa? Toh kalau memang dosen sudah bisa ditemui atau mengoreksi, pasti dosen akan segera mengoreksi kok. Freak banget kalau aku ngebet cepat di-ACC dan lulus. Mau apa sih? Nanti aku bisnis tidak akan menggunakan ijazah S1-ku kok :P
Well, well, jangan diteruskan baca ini deh mendingan. Takut bikin mumet kepala. Hahaha...
Eh, tadinya aku sudah melupakan draf ini loh. Baru satu paragraf di atas (awal), tadinya mau kuhapus saja drafnya. Namun adaaa saja hal-hal yang mengingatkanku lagi pada kegalauan skripsi. Salah satunya beberapa waktu yang lalu ada temanku yang curhat dia dimarahi dosen hanya karena sms minta waktu bimbingan. Halaah aku sih sudah biasa dimarahi kalau sms beliau. Awalnya memang agak mengerikan, takut dosennya sentimen atau apa lah. Tapi ternyata 'kalem aja, lanjut terus tuh :D'. Malah sekarang skripsiku sudah di-ACC oleh beliau yang aku takutkan akan sentimen padaku gara-gara smsku. Tinggal tunggu satu dosen lagi nih. Mohon doanya yaa, teman-teman :))
ini isi sms balasan dari beliau karena aku agak 'protes'. lucu ya, masa iya hari gini disamain sama jamannya dulu. hehehe *peaceee!
by. si Famysa, maunya rajin ngeblog lagii :D

Mijn Vriend