Kamis, 15 Desember 2011

Nurse of TeKa

sebelum hari pelaksanaannya sih, aku biasa-biasa saja terhadap Teka (Temu Keakraban) Administrasi Publik 2011. bahkan cenderung cuek karena pada saat detik-detik terakhir persiapan Teka, bentrok sama persiapan LKMI. sebagai sekretaris di LKMI, tentunya pikiranku lebih terkuras ke sana, aku lebih memikirkan bagaimana LKMI akan berlangsung dengan persiapan yang alakadarnya dan kurangnya personil. higs :'(
#1 day
sampai pada waktu pelaksanaan Teka tiba, barulah aku merasa super sibuk. di awal keberangkatan, aku harus membagi-bagikan kresek anti mabok dan antimo pada tiap-tiap PJ bus. huft.. senangnya aku karena setidaknya di bus 2 (tempatku menumpang) tidak ada peserta yang mengeluh penyakit perjalanan. 
sesampainya di Hotel Kartika Wisata, Kopeng, Salatiga, keadaan masih aman terkendali (keadaan = kesehatan peserta maksudnya). hingga malam tiba, ketika itu sedang berlangsung acara pembukaan dan sambutan-sambutan, mulai banyak panitia yang melapor padaku banyak peserta yang sakit. panitia A memberi tahu ada peserta di pojok kiri yang sakit, panitia B memberi tahu ada peserta yang butuh kayu putih, panitia C memberi tahu ada peserta di bagian tengah yang butuh tolak angin. whuaa si aku mulai bingung. kucoba tangani peserta yang sakit satu persatu. ketika aku menghampiri peserta yang tertunduk lesu (sebut saja namanya Linda), kutanya dia kenapa. dia bilang tidak apa-apa. padahal sudah jelas-jelas badannya demam. kutawari dia minum obat. awalnya dia menolak, tapi karena kupaksa akhirnya dia mau. setelah minum obat, dia tetap tidak berkutik di ruangan itu. kupikir lebih baik dia istirahat di kamar daripada tetap di aula tapi tidak bisa fokus, merepotkan teman-temannya, mengganggu suasana peserta lain yang sedang bersuka ria. well, finally i bring her to her room. belum beberapa lama aku mengurusi Linda di kamarnya, aku mendapat laporan bahwa ada peserta yang pingsan karena alergi dingin dan asma. whuaa aku panik #lebayisasi. kutitipkan Linda pada petugas kesehatan yang lain, sedangkan aku meluncur ke tempat si pingsan diamankan (sebut saja namanya Dinda). ooo maan... wajahnya pucat, nafasnya terengah-engah. untungnya dia tidak lupa membawa semprotan asmanya (gak tau namanya maklum). kalau sampai lupa mah beuuh ya bisa-bisa berabe. bagian kesehatan kan tidak menyediakan obat mahal dan pribadi seperti itu (ketahuan kere dananya deh --"). alhamdulillah si Dinda ini lama-lama membaik juga. dia minta dijemput bapaknya pulang. syukurlaah satu tugas berkurang. hehe..
heran sama foto ini kenapa berkali-kali diupload hasilnya tetap rusak? >,<
aku kembali lagi ke aula. di tengah-tengah ramainya aula oleh tawa panitia maupun peserta, tiba-tiba ada peserta yang menyingkir ke pinggir. kuhampiri dia. katanya dia sakit perut. aku belum mengerti dia sakit perut kenapa. kutanya apakah diare, masuk angin, atau sakit karena haid, jawabnya bukan semuanya. dia juga tidak mengerti itu sakit perut karena apa, yang jelas bukan karena beberapa hal yang kusebutkan tadi. dia hanya minta kayu putih, dan selesai deh.
di penghujung acara.. "Syif, ada yang pingsan!" buru-buru kuhampiri peserta yang pingsan tersebut. aku dan petugas kesehatan lainnya, serta dibantu juga oleh panitia non kesehatan agak kesulitan menyadarkan peserta itu dari pingsannya (sebut saja namanya Pipi). Pipi tak kunjung bangun walaupun sudah kami pijat-pijat keras, kami beri kayu putih, kami tampar-tampar pipinya (jahat ya. hho). setelah agak lama, Pipi baru sadar. tapi tingkat kesadarannya hanya satu persekian persen. haduuh... proses menyadarkannya 100% inilah yang agak ribet. dan pokoKnya singkat cerita, sadarlah dia 100%.
acara pada hari pertama berakhir sudah, peserta dan panitia diperbolehkan untuk bercumbu dengan kamarnya masing-masing. dan apa yang terjadi... baru saja aku masuk kamar, ada laporan bahwa peserta di kamar sekian dan sekian ada yang sakit. kudatangi kamar pertama dulu. ternyata yang sakitnya itu ya yang tadi di aula sakit perut gak jelas. tapi dia bilang dia tidak apa-apa dan tidak membutuhkan obat apapun. ok, lalu kutinggalkan saja nomor hapeku agar jika dia kenapa-kenapa tinggal sms saja. satu persatu kamar kudatangi dan kutanyai, "semuanya sehat kaann? apa ada yang sakiit? butuh obaat?". sampai pada kamar peserta perempuan yang terujung, ada yang mengeluh sakit maag. kuberi dia obat maag, dan selesai. aku lanjutkan perjalananku ke kamar laki-laki.
alhamdulillah di kamar laki-laki keadaan aman terkendali. hanya kutemukan peserta yang meminta tolak angin dan plester saja.

#2 day
sebelum senam dimulai, aku mengunjungi Linda dahulu untuk memberinya makan dan minum obat. kaget juga aku ketika sampai kamarnya ternyata di sebelahnya Linda juga terbaring teman lainnya yang sakit. alhamdulillahnya dia (sebut saja namanya Opi) masih kuat untuk bicara, dan Opi bilang dia sudah minta dijemput bapaknya pulang. bagus! dua peserta gugur meninggalkan medan perang.
saat senam (kalau ada yang ngeluh sakit pagi-pagi gini kelewatan deh --"), amaaan. hehe.. selesai senam, kami semua bersiap-siap pergi outbond. outbond pun diawali dengan penanaman pohon berjamaah di Taman Nasional Gunung Merbabu. lalu lanjut dengan outbond menyusuri pos demi pos. aku kebagian bertugas menjaga pos 1 sebagai sinyal hijau bagi panitia yang jaga di basement. nah berhubung di pos 1 ini para peserta harus turun ke sungai melewati turunan yang licin, maka si aku membantu peserta untuk turun dan naik dengan tambang dadung (kecil).
beres sudah di pos 1, kini saatnya aku mengontrol keadaan para peserta ke setiap pos. aku berjalan ditemani Nindy. waktu itu banyak yang mengeluh maagnya kambuh. ya mungkin itu akibat dari jadwal yang molor. seharusnya sudah masuk waktu makan siang, beberapa peserta malah baru beres dari pos 1. jadi deh obat maag laris. selain obat maag, plester pun juga laris. namanya juga outbond, wajar deh kalau banyak yang terluka lecet atau tergores sesuatu.
setelah kupastikan peserta yang masih dalam perjalanan dari pos ke pos dalam keadaan aman terkendali, kuputuskan untuk duluan ke basement. karena jujur aku capek juga mondar-mandir pos. wkwk #tidak baik, tidak untuk ditiru! dan untungnya aku segera ke basement, karena di sana ada peserta yang terluka kakinya. aku dan Ayu pun segera mengobatinya. ketika aku mengobati dan melihat lukanya, aku berkata seperti ini, "untung gak ada darahnya." lalu si peserta yang terluka itu bertanya, "emang kenapa, Kak?" sontak Ayu yang menjawabnya, "dia kan takut darah." bwahaha ketahuan deh kalau aku bukan petugas kesehatan yang profesional :D
setelah semua peserta berkumpul, panitia telah merancang sebuah games istimewa untuk para peserta. tawuran! ya, tawuran boo :D panitia melempari peserta dengan air (dari plastik, botol, gayung, ember, & bak) agar lilin yang dibawa oleh peserta padam sebelum sampai garis finish. nah, efek samping yang timbul dari tawuran ini adalah banyak peserta yang kedinginan. dan itu membuatku harus keliling menawarkan kayu putih. sampai bahkan ada peserta yang demam akibat sudahlah dia sedari tadi berpakaian basah, tawuran pula. hufftt.. kuberilah dia obat penurun demam. parahnya lagi, ada peserta yang terluka cukup ekstrim akibat terkena lemparan bak berisi air dari panitia tadi. telapak tangannya lecet, berdarah sedikit. tangannya merah, ada luka-luka goresan dan memar. dan punggungnya... wow! merah dan memar. jelas aku panik. secara, di kotak obat-obatan tidak tersedia obat untuk luka dalam seperti memar. akhirnya luka di punggungnya hanya kubersihkan saja. kubilang padanya jika nanti masih sakit juga hubungi panitia kesehatan saja. agak gimanaa gitu memang pada saat membersihkan punggungnya yang luka. habis mau gimana lagi, wong tidak ada petugas kesehatan laki-laki. panitia laki-laki lain yang sekiranya dapat dimintai tolong pun tidak ada. hmm... ya sudahlah, daripada anak orang kutelantarkan, lebih baik kuobati saja.
malamnya... aku kembali menjaga Linda yang tak kunjung sembuh dari sakitnya di kamarnya. saat itu aku berpikir, sedih banget di Teka gak bisa lihat pensi. padahal pensi adalah acara yang paling kutunggu-tunggu. higs... mahal-mahal bayar gak bisa nonton pensi :'(. yaa gitu deh kalau sedang galau. tapi ya wajar dong namanya perawat juga manusia. karena saking galaunya dan karena kulihat Linda sedang tertidur pulas, aku memutuskan untuk ikut tidur barang sebentar saja. baru saja aku menutup mata, terdengar bunyi ketukan yang memanggil-manggil namaku. mereka meminta obat. ketukan dan panggilan itu tidak hanya satu atau dua kali saja, mungkin hingga 10 kali atau bahkan lebih. padahal sudah kubilaaang, kotak obat semuanya dibawa Ayu. aku di kamar Linda hanya menjaga Linda dan mengambil obat-obatan Linda saja. whuaa tidur pun tak terlaksana.

#3 day
pagi hari ketika sarapan, sudah ada panggilan meminta pertolongan dari peserta. kuhampiri. kutanya kenapa. dia menunjukkan luka kecil dengan darah kecil pula di jari tangannya. yaelaah gini doang mesti manggil gue --". pikiran seperti itu tak bisa aku tepis. tapi walaupun begitu, aku tetap mengobatinya dengan lembut #dusta! setelah itu aku yang hendak mengantarkan makanan pada Linda dicegah oleh peserta satu kamarnya. mereka bilang Linda sudah baikan, bahkan sekarang saja dia akan ikut sarapan bersama kita di aula. senanglah aku. akhirnya si Linda ini ada kekuatan juga :) tapi.. tapi eiiits... tak berapa lama, ada yang melapor padaku bahwa lagi-lagi ada peserta yang sakit. setelah kulihat, "ini sih Linda." Linda pun harus kembali lagi ke kamarnya. kutanya teman-temannya Linda tadi sempat sarapan tidak. teman-temannya menjawab Linda tetap tidak mau makan (dari hari pertama sakit), dia malah muntah (muntah cairan tubuh). jujur ada rasa kesal dalam hatiku. si Linda ini sakit, anak rantau, tapi dia tidak tahu bagaimana menghadapi dan melawan sakitnya. dia hanya menangis dan mengeluh. dia tidak mau makan, bagaimana bisa minum obat. dia tidak mau makan, bagaimana mungkin ada yang membantu melawan penyakit dalam tubuhnya. mamahku selalu bilang jika aku sakit aku tetap harus makan walaupun rasanya tidak enak, sebab asupan makanan itulah yang akan membantuku melawan penyakitku. kalau tidak makan ya lemas, mana bisa ada tenaga untuk bangkit dari sakit. huh.
Linda terus mengeluh, "dingiiin, Kak... kakinya dingiiin." buseet daah... waktu si Linda bilang kakinya dingin dengan wajah yang amat memprihatinkan, aku langsung berpikir bukannya dicabut nyawa itu dari kaki dulu ya? katanya sih kalau kakinya dingin berarti sudah dekat dengan ajalnya -- aduuh jangan mati di sini dong, nanti aku yang disalahin. bukannya itu pikiran gila!? hahah tapi ya memang itu yang langsung terlintas saking paniknya dan tak tahu harus berbuat apa. sudah dikompres dengan air hangat, sudah digosok-gosok dengan kayu putih, sudah pakai selimut 3, sarung tangan, kaos kaki, jaket, dia tetap kedinginan. alamaaakk... anak orang iniii >,< jalan terakhir yang kami tempuh adalah menuntunnya untuk tetap mengingat Allah dengan berdzikir dan membantunya untuk berpikir positif bahwa dia pasti bisa sembuh.
menurut laporan dokter yang memeriksa Linda, Linda hanya demam biasa. dia cuma capek, kedinginan, bercampur dengan nyeri haid jadi satu. menurut laporan dari teman-temannya, sebelum berangkat Teka Linda memang sedang dalam keadaan sakit. dia sering tidak masuk kuliah. dan kadang saat kuliah pun dia sering terlihat pucat. intinya si Linda ini memang sering sakit-sakitan. aku menyimpulkan bahwa Linda seperti sekarang ini karena faktor jauh dari orang tua. dulu juga pernah ada temanku yang seperti Linda. waktu SMP sehat-sehat saja, eh ketika SMA di rantau dia jadi sakit-sakitan.
ketika Linda sudah bisa tertidur tenang, aku kembali ke aula. tak terasa acara Teka pun berakhir sudah. saatnya pulaaang :D good bye nurse! hehe..
but totally i'm very happy cause i can took a picture in the middle of ILALANG :)

by. si Famysa, masih sakit :(

Selasa, 13 Desember 2011

Dapatkah Bumiku Sehijau Ini?

tanggal 3 Desember lalu, aku beserta kawan-kawan FKMM (Forum Keluarga Mahasiswa Muslim) FISIP Undip melancong ke Limbangan, Kendal. kami ke sana untuk melakukan survey tempat yang akan digunakan untuk acara LKMI (Latihan Kepemimpinan Mahasiswa Islam).
pukul 10 lebih kami mulai bersiap untuk berangkat. kami yang terdiri dari tujuh orang yaitu aku, Zizah, Lia, Mba Ratih, Mas Dhani, dan A Bayu janji bertemu di pom bensin Undip. setelah semuanya berkumpul, berangkatlah kami ke tempat yang dituju. eh tapi sebelum ke Limbangan, kami mampir dulu ke sebuah penginapan di daerah UNNES. dan ternyata memang tempat di penginapan tersebut penuh, jadilah kami melancong ke Limbangan. hehe
sesampainya di Limbangan, setelah sebelumnya sempat menyasar dulu ke sana-ke mari (mencari alamat #eh), kami disuguhi udara yang sejuk, lingkungan yang asri, hijau, tenang, damai, aahh pokoknya adem banget ke hati deh. kami sempat kaget begitu kami sampai dan bertemu dengan bapak (yang punya wilayah, link-nya Mba Ratih), kok banyak anak SMA berkumpul. sedang apakah mereka? bahkan ketika kami mengobrol, mengutarakan maksud kedatangan kami pun, anak-anak SMA itu ikut nimbrung. semakin tanda tanya besar deh.
nah, ternyataa... anak-anak SMA itu adalah anggota dari Morester, tim pecinta alam di Kendal. mereka menawarkan diri untuk membantu jalannya acara kami. barangkali kami butuh pemandu untuk outbond gitu, mereka siap. mereka juga menawarkan melakukan kegiatan penanaman pohon. waah, aku sudah membayangkan seru tuh. apalagi banyak brondongnya. ahihii #alamak keceplosan BD bapaknya cerita bahwa kegiatan Morester sangat positif. sebagai pecinta alam, kerjaan mereka tidak hanya mendaki gunung, lewati lembah saja, tetapi memang benar-benar praktek dan menunjukkan bahwa mereka mencintai alam. kegiatan yang paling sering dilakukan adalah penanaman pohon, menyemai bibit pohon lalu menjualnya, menjaga kebersihan lingkungan, dan tak kalah ketinggalan ya mendaki-daki itu tadi. hmm... ini nih yang namanya pecinta alam. karena jujur aku memang sangat suka dengan alam, aku suka hiking, climbing, rafting, dll, tapi ketika di SMA dulu ada pecinta alam, aku tidak tertarik untuk bergabung ke dalamnya. soalnya yang aku lihat kegiatan mereka ya itu tadi, sekedar berpetualang menaklukkan ganasnya gunung, menjinakkan air, dan lain sebagainya, tetapi mereka tidak peduli tuh dengan lingkungan sekolahnya sendiri. bahkan buang sampah sembarangan. itu sih bukan pecinta alam namanya. --" pokoknya aku baru menemukan pecinta alam yang benar-benar mencintai alam. Morester! :) terlebih lagi, selain pecinta alam, mereka juga multitalenta loh. ada yang jago nari, nyanyi, ngeband, dll. salut dehh!
tak begitu lama berbincang-bincang dengan bapaknya dan Morester, kami langsung diantar ke rumah Pak Kadus (Kadus atau Kadis ya? ah itu deh pokoknya. wkwk) untuk meminta izin memakai wilayahnya sebagai tempat kami dan peserta nanti bermalam dan melaksanakan kegiatan kami. ketika kami duduk, suguhan pun datang. hehe.. teh manis hangat dan kripik singkong. hmm... sesuai dengan dinginnya cuaca di sana. tapiii... sayangnya aku tak bisa memakan kripik singkongnya sepuas hatiku. habis bunyi kunyahannya berisik sih. kan maluu... (tumben punya malu =O)
ada yang membuat kami salut dengan kehidupan di desa yang jauh dari keramaian. mereka sangat memperlakukan tamunya dengan baik dan sopan. bayangkan saja, dari pertama kami datang, sambutannya luar biasa. semua orang menunggu di depan, tidak justru menunggu tamu mengetuk pintu dulu. mereka sangat welcome. berbeda sekali dengan kehidupan di kota. selain cara penyambutan tamu yang luar biasa, mereka juga memiliki prinsip yang luar biasa. mereka tidak butuh untuk menjadi jutawan, dengan bertani dan bisa makan tanpa kesusahan pun sudah cukup bagi mereka. mereka memilih hidup tenang dan damai tanpa neko-neko seperti orang kota. hmm... berasa pengeen gitu tinggal di tempat seperti itu. tapiiii.... di sisi lain si aku juga ingin menikmati gemerlapnya kehidupan kota. hehehe *galauers
sawah yang indah ^^
siapa mau rumahnya di situu??
pemandangan menuju rumah Pak Kadus
masker kite gahoool :D
notes: 
- sayang tidak ada foto Morester >_<
- pemirsa jangan melihat tanggal di bawah kanan foto ya.. itu settingan tanggal di kameranya yang salah --"
- si aku sedang sangat rindu dengan suasana alam. si aku rindu hiking. huk

by. si famysa, is sick

Kamis, 08 Desember 2011

Sebab Ku Kasihi Dia


Oleh: Syifa Azmy Khoirunnisa

Awal bulan November setahun silam di rumah tanteku...
“Sitiiiii......” teriak Enek sangat kencang dan mengkhawatirkan dari kamarnya.
Ternyata Enek terjatuh di kamar mandi ketika hendak buang air kecil.
Tak ada yang bisa mengembalikan luka menjadi suka. Tak ada yang bisa mengembalikan sesal menjadi putusan. Semua telah terjadi. Kini tubuh renta yang acapkali mencoba untuk pergi hanya bisa terbaring kaku di atas kasur merahku. Usahanya untuk terbang mengejar rajawali ternyata sia-sia, karena kini dia tertahan dalam sebuah penjara diri. Bukan... penjara diri bukanlah penjara tempatnya orang-orang kriminal. Penjara diri hanyalah sekat tipis antara dunia nyata dan tidak nyata.
Sempat kusesali mengapa harus kamarku yang dijadikan kamar Enek. Meskipun hanya sementara, tapi tetap saja itu membuat keadaan kamarku berubah. Ahh... tak ada guna. Biarkan saja hatiku yang mencoba berkompromi dengan akalku.
Enek kini entah hidup di dunia mana. Antara dunia nyata dan tidak nyata, adakah dunia itu?
Tawanya kadang mengajakku untuk ikut tersenyum. Lucu memang. Seperti bayi yang tiba-tiba tersenyum ketika bermimpi indah. Kupikir lebih baik dia tenggelam dalam tawa. Setidaknya sedikit tawa itu dapat memperlambat sel-sel sarafnya terputus dan membantu asam lambungnya membaik.
Namun tawanya tak pernah lama. Selepas tawa, seperti datang gemuruh ombak menyapu setiap kecantikan bibir yang merekah indah. Enek kembali bergulat dengan bayangan-bayangan yang ada dalam dunianya. “pergi kamu, Setan! Pergi jauh-jauh dariku. Jangan pernah kau datangi aku lagi. Aku muak padamu. Anjing!”
  Aku malu. Aku benci. Aku prihatin. Malu karena dia adalah nenekku. Benci karena dia menjadi orang yang setengah waras-setengah gila, walau pada kenyataannya prosentase kegilaannya jauh lebih tinggi ketimbang kewarasannya. Prihatin karena dia tak kunjung dijemput Aki untuk hidup kekal bersamanya. Ya.. mati. Aki telah mati. Dan kupikir hanya mati lah yang dapat membebaskan Enek dari belenggu penjara diri.
Rasa benciku mulai menjalar pada ibu dan adikku. Mereka pergi. Apalagi ibuku. Dia sepertinya memang sengaja pergi dan tak pulang hingga malam. Tinggallah aku berdua dengan Enek di rumah. Satu hal yang sangat tidak aku inginkan terjadi.
Dengan sangat amat terpaksa, aku harus memberi Enek makan. Itupun demi melaksanakan perintah ibuku. Aku bingung dengan pesan ibu, ‘tolong beri Enek makan. Makanannya ada di meja.’ Meja manakah yang dimaksud? Asumsiku hanya terpaku pada meja makan tua peninggalan ayahku itu. Kubuka tutup saji, namun tak kulihat apa-apa kecuali goreng pisang yang sudah layu. Inikah makanan Enek? Hanya goreng pisang selama berhari-hari.
Kutengok kamarku yang dipinjam oleh Enek. Tak kudengar lagi Enek mengoceh dengan bayangan-bayangan dalam dunianya. Enek tetap terbaring. Mungkin dia tidur. Lantas aku tak tahu harus kuapakan pisang goreng ini. Sempat aku bergetar dibuatnya. Aku bergetar takut melihat Enek seperti mayat hidup. Kutanya ibu, katanya sediakan saja di sampingnya nanti juga dimakan. Baik, akhirnya dengan tutup hidung aku mendekati Enek. Semakin dekat, uh! Baunya semakin tidak karuan. Antara bau makanan yang sudah membusuk dikerumuti semut, bau Enek yang semakin menua, bau pampers adult tempat Enek mengeluarkan segala isi perutnya. Aku muak, mual, sedih.
Salahkah indera penciumanku jika aku mencium bau tak sedap? Lalu salahkah refleks mulutku yang mengeluh ‘uh bau...’ ketika indera penciumanku mengirim data pada otak dan memutuskan bahwa itu adalah bau. Oh sepertinya selama Enek masih tetap tinggal di sini aku tak akan ada henti-hentinya mengeluh dan mengeluh.
Enek terbangung ketika aku tepat berada di sampingnya untuk menyimpan makanannya. Dia menyadari keberadaanku makanya dia terbangun. Yaa Tuhan, apa yang harus kulakukan? Aku tak mau menyuapinya. Aku hanya ingin membiarkan dia makan sendiri tanpa harus kusuapi.
“Dah.. Odah... Odah bukan?” tanya Enek. Mungkin dia melihat sosok yang mirip dengan Odah –ibuku- namun dia ragu apa benar sosok itu adalah ibuku –anaknya-.
“bukan, Nek. Ibunya kan sedang kerja. Ini Nyai Uni.” Jawabku sekenanya.
“oh iya ya.. Odahnya kan kerja.”
Dia bahkan tidak memperhatikanku. Dia tidak ingat padaku, cucunya yang dulu menjadi cucu emasnya. Dulu Enek bangga kepadaku karena aku selalu ranking satu di kelas. Enek bangga karena aku mewarisi kecerdasannya. Enek merasa tidak sia-sia menyekolahkan ibuku hingga perguruan tinggi, karena aku –cucunya- juga menjadi anak yang cerdas. Aku pun kerap dibawa Enek ke kondangan-kondangan. Dia ingin menunjukkan pada semua teman-temannya bahwa inilah cucu dari anaknya yang berhasil menjadi sarjana. Memang hanya ibuku yang kuliah. Pamanku –kakaknya-, tante dan omku –adiknya- tidak ada yang kuliah. Jadilah aku menjadi cucu emas Enek. Namun kini... satu-satunya yang dia ingat di rumah ini hanyalah ibuku.
Tangisku pun membuncah. Aku tak bisa menahan bulir-bulir itu berjatuhan. Lelah aku memaksa untuk bertarung, pada akhirnya aku memang harus menyerah. Kubiarkan air mataku mengalir perlahan. Melewati pelupuk mataku, pipiku, hidungku, bibirku, dan jatuh..
Aku keluar walau tetap mengintip untuk mengawasi. Kubiarkan Enek menggapai makanannya sendiri. Dengan tangan kirinya dia mengambil satu buah goreng pisang yang tadi kutaruh di sampingnya. Enek terlihat sangat riang ketika melahap segigit demi segigit goreng pisang. Entah apa lagi yang tergambar dalam benaknya sekarang.
Aku masih mengingat hari itu. Hari pertama Enek dipindahkan ke rumahku karena om dan tanteku harus bekerja di luar negeri.
“Sitiiiii........” panggil Enek.
“Sitinya gak ada, Mak. Kan lagi di luar negeri sama suaminya.” Jawab ibuku.
“ooh emang ini Emak dimana?”
“di rumah Odah, di Bandung.”
“Emak kira Emak masih ada di Karawang sama Siti.”
Selesai bertanya, Enek kembali sibuk dengan dunianya. Dia mengobrol entah dengan siapa, entah membicarakan apa, kadang terbahak-bahak, kadang mengumpat, kadang seperti sedang dikejar-kejar ketakutan. Enek sepertinya bahagia dengan dunianya sendiri. Mungkin di sana dia bisa berjalan, bahkan berlari. Mungkin juga di sana dia mempunyai banyak teman yang kini telah mendahului Enek menghadap Yang Maha Kuasa. Tak jarang pikiran ingin masuk ke dunia Enek melintas di depan mataku. Tapi itu tidak mungkin karena dunia kami berbeda. Dunia kami terhalang oleh ruang. Aku nyata, Enek hanya berkhayal.
Ibu pernah memintaku untuk mengelap badan Enek dan menggantikan popoknya. Jelas saja aku menolak. Mengurus bayi mungil yang lucu pun aku tidak mau, apalagi mengurus nenek jompo lumpuh seperti itu.
Kudengar dari luar kamar Enek ketika ibu sedang menyuapinya makan bakso..
Oh ya, awalnya aku heran kenapa ibu memberi Enek makan bakso, bukannya nasi. Ternyata kata ibu, sekarang Enek sudah tidak mau lagi makan nasi. Aku hanya mengangguk-angguk kecil.
“Odah.. si Engkus sih mana? Kok jarang kelihatan.”
Ibu menjawab lirih, “dia lagi sibuk-sibuknya kerja, Mak. Jadinya gak sempat pulang untuk ketemu Emak.”
Enek. Andai dia tahu. Ibu dan Engkus –ayahku- sudah lama berpisah. Ayahku kini telah bahagia bersama yang lain. Aku benci Enek jika sampai Enek melukai perasaan ibuku. Terlebih lagi ketika Enek memanggil adikku dengan nama Mahmud. Mahmud bukan nama adikku, Nek! Dan dia sekarang sudah kelas 1 SMP, bukan bayi lagi. Aku hanya bisa berharap agar Enek bisa segera menghentikan kegilaannya. Dia terlalu terbuai oleh dunianya. Oh dadaku terlalu sesak.
Dan untuk yang kesekian kalinya, lagi-lagi ibu membiarkanku berduaan dengan Enek di rumah. Ibu sok romantis ingin mendekatkan aku dengan Enek. Aku tak suka.
Aku hendak mengambil baju yang ada di lemariku di kamar Enek. Bersamaan dengan suara decit pintu lemari, sayup-sayup kudengar ada suara yang memanggilku. ‘Nyi Uni’. Aku berbalik. Ternyata Enek yang memanggilku. Enek mengingatku. Enek tidak lagi memanggilku Odah.
Mataku berkaca-kaca, tapi aku tidak boleh menangis. Perasaan aneh bercampur takjub dalam hatiku meluap-luap tidak terbendung. Enek sedang mengajakku bicara. Aku harus bisa mengalahkan perlawanan air mataku yang ingin terbebas dari sangkarnya. Aku harus tetap berbicara dengan Enek.
Hanya lima menit aku berbicara dengan Enek sebagai Nyi Uni. Biasanya aku harus berdusta, berpura-pura bahwa aku adalah Odah. Dan aku terlalu muak. Kini setelah tak lebih dari lima menit Enek mengingatku, Enek kembali larut dalam dunianya. Ahh...
Suatu malam ketika aku sedang duduk berdua dengan ibuku.. Hening yang tercipta dibuyarkan oleh umpatan Enek yang semakin keras. “Goblok, Sialan, Bangsaaat!! Pergii... pergiii!!”
“Bu, tidakkah Enek capek mengumpat, menyumpah-serapah setiap hari? Aku saja sampai capek mendengarnya. Bukannya kata dokter juga penyakit Enek menjadi semakin parah karena kesempitan hatinya. Kerjaannya tiap hari saja begitu. Gimana mau sembuh. Sudah lumpuh, maag, terus nanti penyakit apa lagi yang akan muncul coba, Bu.”
Ibuku hanya tersenyum tanpa menjawab dengan satu kata pun.
Tanpa sadar senyuman ibu telah membuatku takut. Yaa Tuhaaan... tidak! Jangan biarkan pikiran buruk yang sesaat melintas di benak ini terjadi. 

by. si Famysa, banyak PR

Senin, 05 Desember 2011

10 Karakter Muslim Idaman

dari kajian mentoring mingguan
  • lurus dan benar akidahnya
  • lurus dan benar ibadahnya
  • akhlak mulia
  • berwawasan luas dan cerdas
  • pandai menjaga waktu
  • manajemen hidupnya teratur
  • memiliki jiwa enterpreneur
  • mampu mengendalikan nafsu
  • bugar, sehat jasmani dan rohani
  • bermanfaat bagi orang lain
semoga diantara kita sedikitnya memiliki tiga sajalah karakter di atas yang benar-benar dapat kita unggulkan.

yakin bahwa Allah selalu bersama kita, maka istiqomah dan berkomitmen lah! jangan sampai kita menjadi bebek yang hanya bisa menjadi pengikut saja. hidup butuh prinsip, coy! 
good luck ;)

by. si Famysa, lagi badmood nulis --"

Minggu, 04 Desember 2011

See You At The Top!

oleh-oleh Emotional Quotient with Bong Chandra (motivator termuda nomor 1 di Asia)

GET YOUR SKILL FOR UNLIMITED SUCCESS!

if you wanna be success, lets check it out!
maaf tanggal kameranya waktu ngambil foto ini salah. bukan 2007, tapi 2011 --"
  • i'm the special one! i'm the great!
berpikiran positif bahwa kita adalah orang spesial, orang hebat. bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk memotivasi kita dan menghadirkan energi positif dalam diri kita. 
ada cerita dalam poin ini tentang seorang anak miskin yang bermimpi ingin berlayar dengan kapal pesiar mewah. setiap hari si anak menabung sedikit demi sedikit dari hasil kerja kerasnya hingga kemudian terkumpul lah uang sejumlah harga tiket kapal pesiar itu. singkat cerita, si anak sudah berada di dalam kapal pesiar yang dia inginkan itu. ketika waktu makan malam tiba, si anak kaget ketika ternyata dia dihadapkan dengan restoran berkelas dan paling bergengsi di kapal tersebut. dia berpikir bahwa makanan dan minuman yang tersedia di sana pastilah sangat mahal harganya, sedangkan dia tidak membawa uang banyak karena uangnya telah habis untuk membeli tiketnya saja. lalu dia menyingkir dari barisan dan dia pun duduk di luar, di pojokan kapal, dan hanya memakan roti gandum yang dibekalnya dan yang mampu dibelinya. setiap waktu makan tiba dia selalu seperti itu. hingga petugas kapal mencurigainya. bagaimana tidak dicurigai, setiap waktu makan dia selalu 'mojok' dengan roti gandumnya. petugas curiga jangan-jangan anak itu adalah penumpang ilegal yang tidak memiliki tiket. kemudian petugas pun menghampirinya dan berkata padanya, "hei, kau, coba tunjukkan tiketmu!" si anak pun memperlihatkan tiketnya pada petugas. lalu petugas bertanya, "kenapa kamu tidak makan bersama yang lain di dalam sana?" si anak menjawab, "aku tidak punya uang banyak untuk membeli makanan-makanan mewah di sana." lalu apakah yang terjadi... si petugas malah tertawa terpingkal-pingkal sambil berkata, "bodoh sekali, kau. coba kau lihat tulisan di belakang tiketmu. harga tiket itu sudah termasuk harga makan selama kau di sini. kau bebas makan sepuasnya di dalam. hahahaaa..."
hikmah yang dapat kita ambil dari cerita di atas yaitu kerja keras tetapi merasa tidak layak tidak aka bisa mencapai sukses! kerja keras di sini dapat diartikan dengan kerja keras yang dilakukan si anak dalam mengumpulkan uang. ketika si anak telah mendapatkan tiket yang diinginkannya, dia tidak merasa layak untuk berada di dalam lingkungan itu (restoran mewah). dia memang miskin, dan dia akan semakin miskin jika dia merasa tidak layak untuk menjadi orang kaya, padahal 'kaya' itu sudah berada di depan matanya. dia tidak bisa mencapai sukses dalam hal menikmati segala layanan dalam kapal pesiar itu.
ada satu lagi cerita dari seorang Bruce Lee. konon dahulu kala ketika ia masih menjadi orang biasa-biasa saja, ketika seluruh saudara-saudaranya membubuhkan tanda tangan di album keluarga mereka, Bruce Lee dengan PDnya tanda tangan sehalaman penuh di halaman album terdepan. saudara-saudaranya pun mengejek, "tanda tangan jelek gitu kok di depan, gede lagi." lalu dengan optimis Bruce Lee berkata, "biar tanda tanganku jelek, suatu hari orang-orang akan banyak mengejar tanda tanganku." dan terbuktilah! Bruce Lee menjadi aktor hebat dan namanya selalu diingat hingga ketiadaannya pun.
satu yang perlu kita ketahui, orang sombong adalah orang yang sesumbar tetapi tidak bisa membuktikan. hanya rasa layak dan percaya diri lah yang dapat membuktikannya.

  • standar hidup yang tinggi
jangan cepat puas dengan apa yang kita dapatkan/miliki sekarang! karena bagus saja tidak cukup (good is not enough). kita harus berani berkata tidak pada yang baik, tetapi harus berkata ya pada yang tepat.
lihatlah Steve Jobs. mulai dari pemilihan nama untuk produk (Apple)nya pun memerlukan waktu yang lama. berbagai saran nama dan logo dari rekan kerjanya tidak ada yang dia terima. bukan karena jelek, bukan karena tidak berkualitas, tidak sesuai, atau apapun, tetapi karena Steve Jobs tidak ingin hanya sekedar baik saja. hingga akhirnya dia menemukan nama Apple dengan logo (asalnya) buah apel, lalu karena dia menganggap masih ada yang kurang, maka jadilah buah apel dengan bekas gigitan. bahkan hingga pemilihan nama 'ipad' pun dia rumuskan matang-matang. ipad 1 ke ipad lainnya pun jarak peluncurannya memakan waktu lumayan lama. tetapi apa hasilnya? laris manis bukan?! itu merupakan buah dari standar hidupnya yang tinggi. ia tidak cepat puas dengan sesuatu yang baik, ia inginkan lebih dari itu jika memang bisa.
seperti itu pula Bong Chandra pada saat menulis bukunya yang pertama (Unlimited Wealth), dia tidak puas hanya dengan satu eksemplar buku. oleh karena itu, dia memberikan bonus CD seminarnya pada buku itu. setelah menambahkan CD, dia masih merasa ada yang kurang. lalu dia pun memberikan tiket seminar seharga jutaan rupiah gratis pada setiap buku. namun dia kembali tidak puas hingga kemudian terpikir untuk menyumbangkan 100% royalti dari bukunya pada panti asuhan. dan lagi-lagi dia merasa kurang sreg juga. dia pun menambahkan gambar-gambar lucu pada bukunya agar menarik untuk dibaca. hmm... setelah ini masih ada saja kekurangannya. hingga pada tahap akhir, jadilah buku tersebut dengan habis dibaca dalam waktu 10 menit/bab.
the enemy of a good life is a great life! hidup ini tidak sekedar good, great, excellent... but get outstanding!

  • perbesar kapasitas/daya tampung
mari kita belajar dari ember 10 liter. suatu saat kita ingin menampung air lebih dari 10 liter. namun jika kita terus mengisi ember 10 liter itu hingga melebihi daya tampungnya, apa yang terjadi? luber kan. yang harus kita lakukan adalah mengganti embernya dengan yang lebih besar daya tampungnya, bukan memaksakan mengisi air hingga luber.
nah begitu juga kita. jika ingin sukses, maka perbesar kapasitas kita. yang awalnya tidak mau belajar, tidak mau mendengarkan saran dari orang lain, sekarang belajarlah dan dengarkan saran dari luar yang membangun kita tentunya. yang awalnya waktu tidurnya lebih banyak dibanding waktu bekerja keras menjalankan misi sukses, sekarang ubahlah menjadi kurangi waktu tidur dan perbanyak jalankan misi sukses. dll pokoknya deh..
sekarang pertanyaannya, gimana sih caranya memperbesar kapasitas kita? jawabannya yaitu ubah prioritas kita dan bangun komunikasi! -seperti sudah disinggung di atas- misalnya nih ya, kita diundang makan malam oleh Bill Gates di rumah makan yang isinya makanan favoritmu semua, apa yang akan kamu pilih? Bill Gatesnya atau makan malamnya? boleh kita memilih makanan favorit kita, tetapi mungkin kita tidak akan mendapatkan ilmu apa-apa dari Bill Gates karena prioritas kita adalah makanan. berbeda jika ketika makan malam berlangsung, kita justru membangun komunikasi dengannya. ajak dia mengobrol kecil-kecilan, bicarakan tentang misi dan visi hidupmu. dari situ akan terjalin suatu komunikasi yang menyenangkan. barangkali dari ngobrol-ngobrol itu kelak kamu diundang makan malam lagi oleh Bill Gates. atau barangkali kelak kamu dijodohkan dengan anak atau saudaranya Bill Gates. hehe... tentunya tawaran-tawaran menarik ke depannya tidak akan kamu dapatkan jika kamu lebih memilih makan dan makan saja.
ingat.. sukses dan kaya bukanlah tujuan, tetapi efek samping dari kapasitas. ubah prioritas kita; dahulukan peluang dari uang!

  • sedikit egois, banyak empati

kenapa kita perlu egois? jawabannya karena mustahil kita bisa menolong orang lain jika kita tidak bisa menolong diri sendiri. begitu juga sukses, aneh banget kan kalau orang malas-malasan mengajak kita untuk sukses. yang ada kita malah akan meragukannya.
contohnya nih bagi yang sudah pernah naik pesawat (cuung siapa yang pernah?? si aku mah belum pernah. hehe). biasanya kan ada banyak instruksi macam-macam ya, seperti pasang sabuk pengaman, pasang oksigen dalam keadaan darurat, memakai parasut (darurat juga), dll -si aku kagak tau lagi xP-. nah instruksi-instruksi itu biasanya juga diikuti perintah 'pasang dahulu pada diri anda, baru pada anak-anak anda'. sekilas sih kok jahat benaaar, masa iya seorang ibu menyelamatkan dirinya dahulu sebelum menyelamatkan anak tercintanya. ckck... ternyata kembali lagi pada kalimat pertama, mungkinkah seorang ibu itu bisa menyelamatkan anaknya sebelum dia sendiri mengamankan dirinya dengan memakai peralatan-peralatan itu? kalaupun si ibu keukeuh mendahulukan anaknya, lalu nanti jika ada apa-apa dengan ibunya, siapa yang akan menolong anaknya. sementara orang lain juga sedang sibuk dengan penyelamatan dirinya masing-masing.
contoh berikutnya. Bong Chandra kecil paling suka jika diajak main oleh temannya yang kaya raya. setiap kali main dengannya, makanan dan cemilan selalu tersedia setiap saat. 30 menit pertama, burger. 30 menit kedua, kentang goreng. 30 menit berikutnya pizza. dan seterusnya masih banyak lagi. Bong kecil dengan senang hati langsung melahap makanan-makanan yang disediakan memang untuk mereka, sedangkan teman yang lainnya banyak yang menolak karena saking manut pada petuah kuno 'jangan seenaknya menerima pemberian dari orang, malu'. padahal saat itu mereka memang sedang kelaparan. so, siapa yang rugi? mereka, kan. bukannya pemberian dari tuan rumah itu halal bagi tamunya. hhoo... dari situ muncullah ide dari Bong kecil. dia membungkus jatah makanan teman-temannya untuk dibawa pulang. setelah dibawa pulang, dia bagi-bagikan deh kepada saudara-saudaranya.
contoh lagiii.... Bong Chandra meminta pihak Gramedia untuk memajang bukunya (Unlimited Wealth) di kasir, karena menurutnya itulah lokasi paling strategis yang akan selalu dikunjungi pembeli. selain di kasir, Bong juga meminta agar bukunya di pajang di deretan recommended dll. tentu kita akan berpikir 'serakah amat nih Bong, tempatnya diambil semua sama dia. nanti gimana nasib penulis lainnya dong kalau Gramed dipenuhi oleh buku Bong di setiap sudut.' nah ternyata eh ternyata, bukunya Bong kan 100% royaltinya akan disumbangkan pada panti asuhan, jadi semakin banyak yang beli, semakin banyak juga dana untuk panti asuhan yang terkumpul kan. hmm...
itulah beberapa contoh sedikit egois untuk banyak empati. sang ibu yang egois tapi nanti bisa empati dengan menolong anaknya atau bahkan menolong orang lainnya juga. Bong kecil yang egois membungkus jatah orang kemudian dapat berempati untuk membagikannya pada saudara-saudaranya. Bong Chandra yang egois mengambil tempat banyak di Gramedia untuk kemudian berempati menyumbangkan royaltinya pada panti asuhan.
maka jadilah penerima yang baik, bukan hanya jadi pemberi yang baik!

  • ask for more!

lo tau gak siiihh.... sebagian besar dari orang-orang kaya Amerika adalah orang yang suka nawar kalau beli barang. tuuh kan mereka saja hobi tawar-tawaran, kok aku tidak ya. hmm... selain suka nawar, mereka juga suka beli barang diskon (ini sih gue banget) dan suka beli barang bekas. ckck... jauh sekali dengan budaya beli-belian orang Indonesia. pantas saja susah kaya. #naudzubillah..
Bong Chandra juga sangat hobi nawar. dia cerita ketika bukunya jadi, dia ingin memasang iklan di Kompas. Bong awalnya bercanda pada pihak Gramedia, "Pak, Kompas kan bekerja sama dengan Gramedia ya. berarti boleh dong saya pasang iklan di sana satu halaman penuh gratis?" --- "sebentar saya tanyakan dulu," jawab pihak Gramedia. dan ternyata jawabannya iya, boleh, gratis. kemudian Bong melakukan tawar-menawar lagi, "Pak, Hotel X kan punyanya Kompas juga. boleh gak kalau saya mengadakan seminar dan bedah buku di sana gratis juga?" jawabannya ternyata tidak boleh pemirsa. hhoo... tapi, Bong mendapat diskon sewa 50%. wow banget kan! dari MBA (Modal Bacot Aja) jadi beruntung besar. itu dia manfaatnya kalau kita mau meminta lebih.

  • change should become must!

kenal Sylvester Stallone kan? -aku gak kenal. hihii- dahulu ketika namanya belum dikenal, dia sangat terobsesi ingin jadi aktor. dia rajin ikut audisi kesana-kemari walaupun hasilnya nihil. hingga suatu waktu ketika dia sedang sangat putus asa akibat selalu ditolak, dia menonton pertandingan tinju di tempatnya langsung. di sana dia melihat seorang petinju tangguh melawan pendatang baru yang levelnya jauh di bawah petinju tangguh itu. meskipun ketakutan, pendatang baru itu bertekad untuk tetap berdiri walaupun dia kalah. dan terbukti.. ronde 1, pendatang baru dipukul jatuh oleh si tangguh, dalam hitungan kurang dari 10 si pendatang baru kembali berdiri. ronde 2 juga seperti itu. ronde 3, ronde 4 hingga ronde 15 (terakhir) yang dilakukan si pendatang baru hanyalah bertahan untuk tetap berdiri walaupun tetap pada akhirnya dia lah yang kalah. pada awal-awal pertandingan, penonton banyak yang mengelu-elukan si tangguh, tapi pada ronde 10 dan seterusnya, tepuk tangan dan dukungan penonton berpindah pada si pendatang baru. bahkan saat penobatan juara, ketika disebut juara satunya adalah si tangguh, penonton biasa saja. dan ketika si pendatang baru disebut sebagai juara dua, tepuk tangan penonton begitu membahana.
Syl belajar dari kisah itu. masa dia putus asa hanya karena ditolak audisi. itu belum seberapa dibanding si petinju pendatang baru yang harus babak belur dihajar si tangguh. akhirnya Syl bangkit. dia berpikir bahwa dia harus membuat sesuatu yang dapat mengantarkannya menjadi aktor. lalu dia buatlah naskah film Rocky. setelah naskahnya selesai dia buat, dia datang lagi ke tampat audisi. tapi bukan untuk ikut audisi melainkan untuk memberikan naskahnya pada produser film. setelah dibaca produser, produser pun tertarik. lalu Syl ditawari 35000 dolar untuk naskah tersebut. Syl senang bukan kepalang. dia menyalami produser dan bertanya, "jadi kapan saya mulai syuting?". produser terkaget-kaget dengan pertanyaan Syl. dia menjawab, "saya hanya membeli naskahmu, tapi tidak untuk diperankan olehmu. saya akan mencari bintang yang lebih berbakat memerankan peran ini." Syl kecewa. diambilnya lagi naskahnya. beberapa minggu berlalu. tiba-tiba datang telpon dari produser yang menyatakan bahwa dia akan menambah bayarannya 2 kali lipat dari harga semula. Syl pun dengan berbunga-bunga datang lagi ke produser. lagi-lagi dia bertanya, "jadi kapan saya mulai syuting?" dan jawabannya sama seperti di awal. Syl tidak diinginkan memerankan naskahnya sendiri. Syl menolak lagi. dia pulang. minggu-minggu berikutnya Syl kembali mendapat tawaran dari produser untuk membeli naskahnya, bahkan harganya sampai mencapai ratusan ribu dolar. Syl tetap tidak mau menerima sebesar apapun jumlah yang ditawarkan produser jika bukan dia pemeran utamanya. dia hanya bercita-cita menjadi aktor, bukan sebagai penulis naskah. hingga suatu hari produser kembali menelpon, Syl sudah terlalu hafal dengan suaranya. tanpa menunggu produser berbicara lebih banyak lagi, Syl berkata dengan tegas, "saya atau bukan aktornya?" tiada pilihan lain bagi produser selain mengiyakan Syl untuk jadi aktornya karena saking jatuh cintanya produser pada naskah itu. namun penawaran kembali ke harga awal, 35000 dolar. Syl menerima dengan sangat senang. karena tujuan dia bukanlah uang, tetapi cita-citanya (aktor). dari memperjuangkan cita-citanya ini, Syl tetap bisa mendapatkan uang. filmnya laku keras dan meraup untung besar.
mulai sekarang mari kita bersikap seperti Syl. ubah 'seharusnya saya kaya' menjadi 'saya harus kaya!'. eh tapi ingat ya, kalau ingin keukeuh seperti Syl, syarat dan ketentuan berlaku. hehe..

  • jatah sukses
Tuhan tidak membenci orang malas. tapi Tuhan mengizinkan orang rajin untuk mengambil jatah orang malas.
Lucky hate static, but love dinamic!
jaga jatah sukses anda, jangan sampai diambil oleh orang lain.
silahkan pilih, bayar harga sekarang atau nanti?!
ketika kita punya impian, lakukan dengan cepat sebelum pesimisme muncul.
kerjakan hal yang kata orang mustahil. lakukan apa yang tidak orang lain lakukan. jangan ikut mayoritas.
jangan batasi impianmu dengan pendapat orang lain.
tentang arus secara positif, karena hidup memang harus melawan arus.
sejarah hanya ditulis oleh pemenang.

itu dia wejangan dari Bong Chandra. sayangnya aku tidak mendapat kesempatan untuk bertanya. hukhuk.. padahal sudah mengangkat tangan bahkan sampai berdiri loncat-loncat agar terlihat. hhh.... bukan waktu untuk saya mungkin ya.. tapi.. tapiii... senangnya aku bisa bertemu dengan Bong, berhasil mengambil fotonya (padahal dilarang foto-foto loh.. hihii... si aku kan minta panitia yang motoinnya pakai kameraku. mengaplikasikan ask for more gitu deh :D), terus juga si aku bisa melihat Bong dari dekat dan bersalaman dengannya, dapat tanda tangannya pula. yaa sedikit kecewa sih soalnya bukan di bukuku, tapi di bukunya Khas. tak apalah.. yang penting saya mendapat kebanggaan lebih karena saya yang mengejarnya ;D

by. si Famysa, reporter

Mijn Vriend