Kamis, 26 Januari 2012

Flamboyanku Tumbang

siang tadi ketika sedang menonton berita di TV, aku dikagetkan oleh suara benda besar yang terjatuh. ketika kulihat ternyata pohon flamboyan di depan rumahku tumbang. suaranya benar-benar membuatku takut. untungnya flamboyanku tumbang ke arah atap rumah bagian depan, bukan ke arah jalan. jadi si flamboyannya tertahan oleh atap, tidak langsung jatuh ke tanah. hufth.. astaghfirullaah... aku sempat berpikir bagaimana jika flamboyan itu jatuh ke arah jalan, atau jatuh ke arah tanaman hias lainnya. jelas akan banyak sekali tanaman yang terluka. atau kalaupun jatuh ke arah jalan, setidaknya akan mengganggu orang-orang yang akan melewati jalan. benar-benar alhamdulillah ya... 
waktu pohon flamboyanku tumbang, berita yang kulihat di TV adalah berita mengenai pohon tumbang di Jakarta yang menewaskan sopir bajaj, serta berita peringatan seputar kondisi angin di wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat yang memang sedang mengkhawatirkan. warga diminta untuk siaga terhadap kondisi angin tersebut, terutama bagi wilayah jabodetabek dan Jawa Barat. anginnya sedang sangat kencang akibat angin dari Pantai Selatan Pulau Jawa. selain menumbangkan pohon-pohon, angin juga bisa berubah wujud menjadi angin puting beliung, angin puyuh, dan angin-angin berbahaya lainnya. 
sangat amat kebetulan sekali bukan.. tumbangnya flamboyanku pas dengan berita tersebut. jadinya kan semakin takut. waktu itu pikiranku jelas saja sedang takut akan ancaman angin itu, eeehh.... malah datang beneran dan menumbangkan flamboyanku. huhuuu...
sebenarnya sih tadi siang anginnya tidak terlalu besar. tapi mungkin karena kondisi akar flamboyanku yang sudah tidak kuat lagi akibat setiap hari diguyur hujan dan didatangi angin, ditambah dengan rimbunnya daun flamboyan, maka tumbanglah ia. terpaksa flamboyanku harus dimutilasi total. higs.. aku turut merasakan kepedihanmu, oh flamboyanku... :'(

ada yang lucu perihal tumbangnya flamboyanku. 
tadi sore, Mak Resih yang tinggal di kampung seberang datang ke rumah. dia mendapat kabar bahwa mamahku tertimpa pohon flamboyan yang tumbang, dan sekarang punggungnya terluka. oo maan... kabar burung seburung-burungnya dari mana itu?? aku dan mamah hanya menanggapinya dengan tertawa dan memperlihatkan kondisi mamah yang sehat wal afiat.
sebelum Mak Resih datang, ketika aku sedang di kamar, aku memang mendengar ada salah seorang warga yang berteriak, "mana... mana... kenapaa ini... ada apaa?? katanya Bu Anah tertimpa pohon tumbang. gimana sekarang keadaannya? Buuu... Buuuu.... (memanggil-manggil mamahku dari luar rumah)"
lucu ya.. sangat lucu.. 
begitulah tren gosip pada warga kampungku, mayoritas orang di sini memang seperti itu semua. *eiitss tapi aku tidak yoo... heheh..* hal yang seperti itu dianggap candaan belaka, padahal si penyebar gosip tidak pernah tahu apa akibat dari candaannya itu. yaa... memang ada plus and minusnya juga sih. gimana kita menyikapinya saja deh. hmm... 
mungkin salah satu plus dari tren gosip ini dapat aku rasakan ketika banyak orang yang menjengukku ketika kecelakaan motor minggu lalu. semua orang seketika jadi tahu bahwa aku mengalami kecelakaan. tapi ada minusnya juga... semua orang jadi saling berlomba mengeluarkan suara tentang pengobatan apa yang paling mujarab untuk lukaku. tahu sendiri lah orang kampung kalau sudah bicara seperti apa. nyablak abiiiiss.... bikin rumah berisik. orang sakit kan butuh istirahat, ini malah diributin. huhu
btw.. aku jadi bingung harus memposisikan diri bagaimana di tengah warga kampung ini, sedangkan jiwaku ngota #plaaak blagu lu! ahahaa... ~eh tapi bener sumpah bingung... sama sekali gak ada maksud menyombongkan diri atau apapun. aku memang benar-benar bingung, merasa tidak memiliki jati diri~

note:
teman-teman semua yang ada di wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat, waspada sama angin yaa... ini kata BMG loh. hehe

ini ceritaku hari ini. bagaimana dengan ceritamu?

by. si Famysa, bingung 

Selasa, 24 Januari 2012

My Sweet17

jika ditanya ulang tahun ke berapa yang paling berkesan, pasti bakal aku jawab '17!' bukan karena angka 17nya itu. tapi memang karena segala kejutan yang ada di dalamnya. gimana gak paling berkesan, orang-orang di sekitarku bahkan sudah memberiku kejutan dari tanggal 7 Maret. padahal ulang tahunnya kan tanggal 9 Maret.

sepulang sekolah, hari Sabtu, tanggal 7 Maret, aku diberi kejutan yang sangat-sangat-sangat tidak akan terlupakan oleh teman-teman Dewan Ambalan Ganpadma. entah berapa puluh tamparan yang aku dapat, entah wajahku sudah berubah menjadi lautan coklat seperti apakah, whuaa pokoknya sakitnya tamparan-tamparan itu masih terasa sampai sekarang #lebay. caranya seperti ini, "eh sekarang ada tradisi baru di DA. salamannya pakai tangan kiri. yuk cobain yuuk!" aku menurut. kuulurkan tangan kiriku dan kujabat tangan si kakak. ternyataaa... PLAAAK!! tangan kanan si kakak mendarat tepat di pipiku, langsung saja diikuti yang lain. beuhh. kurang asyeeemm... suasana pun riuh dengan ucapan 'selamat ulang tahuuun, Syifaaa.....' ~thank u so much, dear.. :)~

hari Minggu, tanggal 8 Maret, aku merayakan prasweet17ku dengan mengajak sahabat-sahabatku ke Ciater Highland Resort (CHR). 
hari Senin, tanggal 9 Maret, kebetulan waktu itu bertepatan dengan tanggal merah, ini lah puncak dari segala kejutan yang menguras air mata. hukhuk >_<
pagi-pagi benar, Ibank, my someone special sudah nongol di depan rumah. aku tidak heran, tidak terkejut, tidak merasa ada keanehan apapun karena memang dari kemarin-kemarin aku meminta dia untuk datang dan menemaniku seharian di rumah selama tanggal 9 Maret itu. hingga kemudian Kokom, temanku yang memang menginap di rumahku sepulang dari CHR kemarin meminjam motor Ibank dan memintaku untuk mengantarnya pulang untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di rumah yang amat dia butuhkan. aku sempat bertanya, "kenapa harus aku yang mengantar Kokom? kenapa gak Ibank, Mila, atau Teh Tuti saja?" jawaban dari Kokom adalah, "Neng tahu sendiri kan mamah Kokom percaya sama Neng. jadi kalau Neng yang nganternya, Kokom bakal diizinin balik lagi ke rumah Neng. tapi kalau Teh Tuti atau Mila yang nganternya mungkin Kokom gak akan diizinin pergi lagi. terus kalau Ibank yang nganternya, nanti Neng cemburu. jadi ya mending Neng saja yang nganter Kokom pulang. sebentar ini kok." dan Kokom pun berhasil meyakinkanku. great! aku pun pergi bersama Kokom ke rumahnya. sesampainya di rumah Kokom, janjinya hanya akan sebentar, pada kenyataannya lamaa sekali. mungkin sengaja dilama-lamakan untuk sesuatu hal yang aku belum tahu apa itu. akhirnya setelah sekitar 1 jam di rumah Kokom, kami balik lagi ke rumahku. 
sesampainya di rumah, aku mengucap salam. tapi tidak kudengar satu pun ada yang menjawab salamku. bahkan kulihat rumahku sepi. pada kemana orang-orang?? lalu aku membuka pintu kamarku, daaannn.... tarrraaa...... ini lah yang terjadi.....
aku dilempari potongan-potongan kertas, aku dihadang oleh Ibank yang membawa sepiring kue tart, aku sampai tak bisa menghitung berapa kata ucapan selamat ulang tahun dari mereka.
lihat kerudungku! penuh dengan taburan potongan kertas dari Teh Tuti dan Mila
kamarku sudah disulap menjadi seperti ini dalam waktu 1 jam saja
tahukah apa yang aku pikirkan pertama kali ketika mendapat semua kejutan itu? aku berkata, "heey gak modaaal, itu kan kue tart ultah dan balon-balonkuuu...." ahahaa... ya, memang kue tart itu punyaku. aku membelinya kemarin sepulang dari CHR untuk persediaan cemilan di rumah. aku juga sengaja membeli balon kemarin sekedar untuk lucu-lucuan saja, mumpung sedang ulang tahun jadi gak akan diomelin mamah. hehe.. apa daya semuanya sudah disulap oleh teman-temanku :D
ekspresi saat menerima kejutan pertama dari teman-temanku, 'kue tart' :D
aku langsung mencari mamahku untuk tiup lilin bersamanya. berhubung mamahku sedang di luar mengurusi sesuatu, maka teman-teman pun ikut turun tangan.
tiuuup liliiiin sama mamah!
setelah tiup lilin, potong-potong, suap-suapan dan makan-makan kue dilanjutkan di kamarku. dan ternyata kejutan tak berhenti sampai di situ. tiba-tiba saja Ibank menghampiriku dengan membawa sebungkus kado yang sangat cantik. kertas kadonya saja bergambar kucing dan bernuansa ungu, sangat sesuai dengan kesukaanku.
nangis bombay :'(
yang membuat aku menitikkan air mata saat menerima kado itu bukan karena kadonya, tetapi aku takjub dengan cara mereka mempersiapkan semuanya untukku. aku bahkan tidak melihat Ibank membawa kado ketika datang pagi tadi. dan ternyata memang si kado itu sudah berada di rumahku dari kemarin-kemarin, dititipkan dan disembunyikan dengan rapi oleh Teh Tuti di kamarnya.
hanya bisa menangis untuk mengekspresikan segala rasa yang ada dalam dada.
ini dia isinya... boneka beruang pink I Love U. so sweeett! :D
kado dari Ibank sudah dibuka, berdatanganlah kado-kado lainnya dari Mila dan Teh Tuti. semuanya bernuansa pink dan merah. owh i very like it so much...!
dompet dan pin I Love Pink dari Mila
gantungan Love Red dari Teh Tuti
aku tidak tahu harus berkata-kata apa. aku hanya bisa menangis dan menangis hari itu. tangis haru, tangis bahagia, tangis penuh syukur karena aku dikelilingi oleh orang-orang yang amat menyayangiku sampai-sampai mereka susah payah mempersiapkan semua kejutan ulang tahun untukku.
aku baru mengetahui semuanya hari itu. satu persatu dari mereka membongkar segala hal di balik kejutannya. mulai dari kepura-puraan Kokom memintaku untuk mengantarnya pulang, rapinya persembunyian kado,  salah kirim sms tak-tik padaku yang berhasil dihapus oleh Teh Tuti, pembelian kado dari Ibank yang tidak aku ketahui, hingga saat ke CHR kemarin ternyata beberapa hari sebelumnya Ibank dan Teh Tuti nekat ke kantor bapakku di Indramayu untuk memintanya datang di hari ulang tahunku. yaa walaupun tetap saja bapak tidak bisa datang. tetapi aku sudah sangat senang dengan semua perjuangan yang mereka lakukan untukku. memang aku sempat curiga karena di hape Ibank ada foto kantor bapakku. dari mana dia punya foto kantor bapak coba? ahahaa... but totally it was very suprised me! 
seumur hidup mungkin ulang tahun ke 17 ini yang paling berkesan dalam hidupku. 3 hari berturut-turut mendapat kejutan. satu hari penuh dibuat nangis. pokoknya i love it deh!

note:
semua kado dan kertas kadonya masih tersimpan dan terawat rapi hingga saat ini :)

tidak ada hal yang paling membahagiakan di dunia ini, selain kamu dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangimu, dan tentunya kamu pun menyayanginya :)
postingan ini diikutsertakan dalam lomba posting di dBlogger

by. si Famysa, :)

Jumat, 20 Januari 2012

Panggil Dia Kakak!


Oleh: Syifa Azmy Khoirunnisa

“Gung, sini... salam dulu sama Kakakmu.” Kata Nenek di tengah pelajaran IPS yang sedang berlangsung. Ya, Nenekku merangkap sebagai guruku di Sekolah Dasar. Bahkan Nenek adalah wali kelasku di kelas 4.
Aku maju dengan langkah enggan menghampiri orang yang Nenek sebut sebagai kakak. Kucium tangannya, juga kucium tangan laki-laki yang ada di sampingnya. Laki-laki itu adalah suaminya kakak.
-o-
Kini aku menyadari betul apa kesalahan terbesarmu. Aku... aku lah kesalahan terbesarmu. Dan aku begitu salah hingga aku tak pantas memiliki seorang ibu. Aku begitu salah hingga cap keturunan narapidana melekat padaku. Aku juga begitu salah karena aku lebih memilih tinggal di tengah-tengah tumpukan sampah yang menggunung. Semua kesalahanku aku anggap lebih baik daripada aku harus menerima kehadiranmu.
Kau mau memberiku apa lagi? Setelah sepetak tanah, sebongkah rumah, sebuah motor, mobil, harta melimpah, jaminan hidup dari asuransi. Apa lagiii? Dulu aku masih bodoh, aku begitu polos sehingga mau saja menerima semua pemberianmu sebagai penyumpal mulutku. Sungguh aku menyesal karena baru menyadarinya kini.
-o-
“Dian! Jangan pernah kau datangi lagi si pemulung itu. Ayah dan ibu sampai kapan pun tidak akan merestui hubungan kalian.”
“Tapi, Bu.. aku sangat mencintainya. Dan dia juga sangat mencintaiku. Aku akan hidup bahagia jika bersamanya, Bu. Tolong restuilah hubungan kami.. izinkan kami menikah.”
“Tidak! Lebih baik kau pergi dari kehidupan Ibu dan Ayah jika kau tetap ingin hidup bersama pemulung yang tidak memiliki masa depan itu.”
“Baik, Bu. Aku rasa aku akan memilih untuk pergi.”
“Kau boleh kembali ketika kau sudah tidak bersama pemulung itu lagi, Nak.”
“Terima kasih, Yah.. Tapi aku akan selalu bersamanya. Maafkan aku.”
-o-
Dengan atau tanpa restu kedua orang tuanya, Dian tetap bersikukuh untuk menikah dengan Hadi. Mereka kawin lari! Setelah itu mereka tinggal di rumah susun milik Hadi, di tengah lingkungan kumuh pemulung.
-o-
Sekilas info:
Sekawanan perampok mini market 24 jam berhasil diciduk oleh tim kepolisian daerah Bandung Barat. Mereka terdiri dari 5 orang. 2 diantaranya wanita, dan 3 diantaranya pria. Identitas perampok tersebut dapat diketahui dengan mudah setelah polisi menggeledah barang curian mereka, menggeledah barang bawaan lainnya, hingga ditemukannya KTP dari salah satu perampok. Satu orang diketahui identitasnya, tentunya dia membongkar identitas rekan-rekannya juga karena tidak mau malu sendirian. Dan berikut identitas para perampok itu agar pemirsa mengetahui dan dapat berantisipasi.
Klik!
TV dimatikan.
-o-
“Mas, kenapa kamu tega melakukan ini padaku?”
“Maafkan aku, Dian. Aku terpaksa melakukannya. Aku sudah tidak tahu lagi harus memberimu dan calon bayi kita makan dari mana. Sedangkan aku hanya seorang pemulung. Kau tahu sendiri bagaimana susahnya kita. Apalagi sebentar lagi dia akan terlahir ke dunia. Aku semakin bingung. Aku terpaksa merampok. Maafkan aku karena aku telah membohongimu, aku berpura-pura bekerja pada temanku padahal aku melakukan pekerjaan tercela. Maafkan aku, Istriku...”
“Aku akan menunggumu. Meskipun tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Aku akan setia menunggumu pulang, Mas..”
Tidak ada lagi kata yang terucap dari seberang. Hadi justru meninggalkan Dian tanpa mengucap kata perpisahan sedikit pun. Keduanya menangis. Dian pun tahu jika sebenarnya Hadi, laki-laki, perampok, pemulung yang dicintainya menangis ketika dia membalikkan badan dan pergi meninggalkan Dian seorang diri di ruang jenguk tahanan.
-o-
“Mama... Mamaa... Papa kapan puyangnya, Ma?”
“Sebentar lagi, Agung sayaang... lebih baik Agung sekarang tidur siang yuk! Nanti kalau Papa pulang mama kasih tahu, nanti Agung mama bangunkan deh.”
“Aciik.. aciiiik.... benelan ya, Maa...”
Agung kecil tidur dengan pulasnya. Agung tak pernah tahu bahwasannya Dian, ibunya selalu menangis di kala Agung sedang tertidur. Sudah tiga tahun lebih berlalu. Bahkan nyaris empat tahun Hadi tak kunjung datang. Dian tersiksa oleh perasaan rindunya pada Hadi. Semenjak pertemuannya dulu di ruang jenguk tahanan, Dian tidak pernah bertemu lagi dengan Hadi karena Hadi selalu menolak kunjungan Dian. Ketika itu Dian datang hanya untuk mengabari dan memperlihatkan bayi mungil buah cinta mereka yang sudah lahir ke dunia. Namun Hadi menolak. Dian datang lagi ketika Hadi berulang tahun, Hadi tetap menolak. Begitu pun seterusnya. Entah itu hari ulang tahun Dian, hari ulang tahun pernikahan mereka, hari ulang tahun si kecil Agung, Hadi selalu menolak tanpa alasan dan tanpa sepatah kata pun.
Lama-lama Dian sadar. Hidupnya berada dalam kehampaan. Hanya Agung, putra semata wayangnya yang dapat dia peluk di kala sepi melanda. Hanya Agung juga yang selalu mengisi hari-harinya di tengah rumah susun kumuh pemberian Hadi.
Dian sangat terpukul. Dian kecewa. Tubuhnya kini mengurus, sangat kurus. Wajahnya tak lagi secantik dulu. Yang tampak dari sinar bola matanya kini hanya tatapan sayu, pandangan kosong akan masa depan.
-o-
Bersimpuh Dian di hadapan kedua orang tua yang telah tiga tahun lebih dia tinggalkan, tanpa kabar, tanpa berita. Wajah Dian dibanjiri air mata. Sedangkan Agung yang masih kecil tidak mengerti mengapa ibunya menangis, juga tidak tahu siapa yang ada di hadapannya sekarang.
“Dia meninggalkanku, Yah.. dan kini aku kembali. Aku sudah tidak bersamanya lagi.”
“Kau pantas menerimanya, Dian. Karena kau telah mendurhakai kedua orang tuamu sendiri demi si pemulung itu. Dan apa kau sadar, bocah ingusan yang kau bawa ini sengaja ditinggalkan si pemulung untuk menambah berat beban hidupmu. Tapi syukurlah kini kau kembali. Walaupun Ayah dan Ibu tidak akan menerimamu secara serta-merta.”
“Katakan aku harus melakukan apa agar aku dapat kembali bersama kalian, Yah.. Bu.. Aku sudah tidak kuat hidup di tengah harapan semu, dan bahkan harapan itu kini benar-benar melebur bersamaan dengan menghilangnya Hadi dari hidupku. Aku akan mematuhi segala titahmu, Yah.. Bu.. Ampuni aku.”
“Tinggalkan bocah ini bersama kami di sini. Pergilah kau ke kota untuk melanjutkan sekolahmu. Dengan begitu kau akan kami ampuni.”
-o-
Hari ini Dian diwisuda oleh Sekolah Pariwisata Aryati, Bandung. Segera setelahnya Dian langsung ditempatkan dinas di pelayaran dalam negeri PT Hegar sebagai operator di kantor.
Tak lama berselang, datanglah seorang polisi berpangkat Ajun Komisaris Polisi ke dalam kehidupan Dian. Dan cinta yang telah lama dikubur Dian dalam-dalam kini mulai merekah kembali. Tetapi bukan lagi kepada Hadi, melainkan pada Nugroho.
-o-
“Agung sayaang... hari ini mereka akan menikah. Dan Nenek minta sama Agung mulai hari ini Agung panggil dia Kakak ya.. jangan panggil Mama lagi. Nanti Nenek belikan coklat kesukaan Agung kalau Agung mau nurut kata-kata Nenek.”
“Iya, Nek.. Agung mau coklat. Agung sekarang mau manggil Mama, Kakak..”
“Pintarnya cucu Nenek...”
-o-
“Aku ingin tinggal dengan Papa!”
“Agung! Jangan bandel kamu ya.. tetap tinggal di sini sama Mama dan Papa Nugroho. Kamu tidak sepantasnya tinggal bersama ayah kandungmu di tengah tumpukan sampah itu. Sekarang papamu adalah dia, Papa Nugroho. Bukan si pemulung dan si perampok itu.”
“Biarkan aku pergi!”
-o-
Satu lagi kesalahan terbesarmu, Ma.. Kau mengaku perawan sewaktu polisi itu melamarmu. Aku harus mengaku sebagai adikmu. Aku harus memanggilmu kakak. Kau membayarku dengan tanah itu, dengan rumah itu, dengan setumpuk uang itu. Aku tidak membutuhkan itu semua. Yang kubutuhkan hanya cinta.
Kini kau mengaku pada suamimu bahwa sebenarnya aku ini anakmu, bukan adikmu. Tapi semuanya sudah terlambat. Aku memilih hidup dengan papaku. Ambil lagi semua harta benda yang telah kau berikan padaku. Bila perlu kau bisa menjual semuanya agar kau bisa menghapus jejakku. Aku benci kau, Ma..
-o-
“Dian, maafkan aku. Aku menghindar karena aku malu. Aku telah mengecewakanmu. Aku telah membawamu ke dalam derita yang seharusnya hanya aku sendiri yang merasakannya. Aku malu karena tidak bisa menjadi laki-laki terbaik bagimu. Aku malu karena aku miskin, aku hanya pemulung, aku perampok, aku narapidana. Aku malu. Aku sengaja menjauh darimu, dari anak kita agar kau kembali pada orang tuamu. Semoga kini kau bahagia dengannya, Dian... Aku akan tetap mencintaimu hingga akhir hayatku.” Lirih Hadi dalam hati sembari menatap Dian yang sedang tertawa dengan suaminya dari kejauhan...
Hadi dan Agung pun kembali mengerjakan tugas mereka. Memulung sampah.

by. si Famysa, deg2an buka perban ><

Kamis, 19 Januari 2012

Si Cengeng Termehek-mehek

ini nih beberapa foto yang menurutku (menurutku loh yaa.. dan semoga menurutmu juga. hehe) paling ajaib dalam hidupku yang nyaris 20 tahun ini. kenapa aku bilang foto-foto di bawah ini ajaib? karena entah siapa yang ngambil foto ini aku gak sadar. tahu-tahu ada di camera album hapeku aja. tuuh kaan.. dari asal-usul kemunculannya saja sudah ajaib, tiba-tiba ada :P. hmm... aku sih curiganya sama si someone specialku, soalnya dia yang bareng sama aku pas peristiwa ini. 
fotonya jelek... iyaa...! jelek banget malah. jadi ketahuan deh sama cem-cemans semua tampang jelek aku kayak gimana. hihii... si aku yang biasanya berfoto dengan tampang 'eksyen', berpose sebagus mungkin, bahkan dandan serapih mungkin, lihat foto-foto yang diambil dengan cara mencuri-curi ini yaa jelas saja dapat dikategorikan ke dalam foto ajaib sepanjang sejarah hidupku. ehehe #lebay deh boo..
monggo langsung dilihat sendiri saja foto-fotonya... tapi sebelumnya WARNING!! jangan berisik yaa... keep silent please.. soalnya kalau dibocorin sama orang lain bisa-bisa merusak pasaranku nih. #wew :P
ssssuuuttt.... jangan bilang siapa-siapa yaa :D
tompelnya banyak juga, Neng :D
tuh tompelnya warna merah. ajaib kan? :D
jelek banget sumpah >_< takjub aku melihatnya juga :P
hayoo siapa yang tahu tompelku terbuat dari apaaa?? :D #gak penting :P

sekilas cerita dibalik foto-foto di atas:
jadi itu tuh ceritanya si aku mau berangkat ke Semarang buat verifikasi ke Undip besok harinya. kemarin-kemarin sih si bapake sudah bilang siap akan mengantarkanku. jadilah aku santai kan. eehh tapi tiba-tiba sore itu si bapake bilang gak bisa ngenter gituu... pokoknya waktu itu aku merasa sangat dilempar ke kanan-kiri deh. maklum waktu itu kan belum pernah ke Semarang. jadinya galau, jadinya nangis meraung-raung di depan rumah. kuenceeeeng banget! si someone specialku yang memang waktu itu sedang main di rumahku sampai membekap mulutku dan berkata, "ih sudah-sudah nangisnya.. malu tahu! nanti disangkanya aku macem-macemin kamuu..." lalu datanglah mamah dan si teteh yang kos di rumahku. mereka malah mentertawakanku dan mengejekku. mereka juga bercanda dengan menyalah-nyalahkan si doi. si aku kan jadi serba salah. lanjut nangis atau ketawa nih?? gajebo deh jadi setengah nangis setengah ketawa. tambah ditertawakan lah aku oleh semuanya. bwahahaa...

eh, Emak-emak Cebong... gak ada larangan buat sekalian promosi kaan?? #nyengir evil
coba perhatikan kaos yang aku pakai di foto-foto di atas! itu si aku pakai kaos oblong Jogja -Gareng- looh :D bagi yang mau monggo bisa kunjungi Famysa Collections ;) dan monggo obrak-abrik sendiri saja albumnya yaa... hihihi..

pilih fotoku sebagai foto terAJAIB yaa, Maak... nanti tak kasih cium deh, Mak.. mmuaach :* :D

sekian dan tararengkyuuu.... ^o^

"Syifa Azz berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng soes-Jeng Dewi-Jeng Nia, disponsori oleh Jeng Anggie, Desa Boneka, dan Kios 108"

by. si Famysa, :D

Rabu, 18 Januari 2012

Sepedahan

daripada bete mengingat kameraku rusak, mending posting foto lama saja. hehehe..
foto ini diambil sebelum insiden jatuhnya Isna dan Zizah dari sepeda. post terdahulu mengenai insiden tersebut bisa dilihat di sini.

foto-foto di bawah ini menceritakan tentang aku, Isna, Zizah, payung, dan juga sepeda.
selamat menikmatiiii.... :)
Syifa yang dititipi payung oleh Isna kaget melihat Isna tiba-tiba datang dengan membawa sepeda biru yang cute abizz...
setelah Syifa merengek ingin ikut bersepeda, Isna pun memperbolehkannya. 
foto duluuu sebelum mulai sepedahaan...
Isna memberikan kemudi pada Syifa, sedangkan Isna sendiri memilih dibonceng saja. dan dengan senang hati Syifa menerimanya.
karena merasa payung pink itu menyulitkan mereka bersepeda, Isna si empunya payung pun berniat memasukkannya ke tas saja agar tidak menyulitkan lagi.
payung sudah dimasukkan. tiba saatnya bersepedaa...
narsis tetap wajiiib :D
keesokan harinya.. di tempat yang sama.. dan dengan mengenakan baju yang sama pula. terkisahlah pertemuan antara Syifa dan Azizah yang akan membeberkan semuanya. hehe..
mereka terkaget-kaget melihat apa yang dibawa oleh masing-masing mereka.
saking kagetnya.. Zizah jadi tidak bisa menguasai sepeda, dan akhirnya terjatuhlah dia. lalu Syifa pun menolongnya.
akibat kaget dan kecelakaan tadi, Syifa dan Zizah pun jadi berteman. :)
sekian dan terima kasiiiih ^o^
fakta tambahan:
- foto-foto di atas diambil pada hari yang sama, sepulang mentoring dari kampus.
- Syifa mencuri payung Isna --> wow jelas sekali itu tidak benaaar!! :D
- sebenarnya waktu itu kami berempat, ditambah Ayu. berhubung Ayu sedang membeli jus, jadinya kami foto-foto bertiga saja deh. hehe

yuu mariii yang punya sepeda segera keluarkan sepedanya.. ganti motor dan mobilmu dengan sepeda biar lebih sehat, bebas polusi, dan hemat BBM.. ayo cepat, bersepedaa!! sebelum kakimu tidak bisa mengayuh sepeda sepertiku ini. hehehe.. dengan bersepeda dijamin kalau kamu memang mencintai alam dan ingin menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk bumi kita tercinta ;D

by. si Famysa, masih cenut-cenut kakinya :)

Mijn Vriend