Kali ini aku sepakat dengan apa kata orang mengenai 'ujian menjelang nikah'. Katanya akan ada ujian yang luar biasa menguras emosi jiwa menjelang hari pernikahan. Ujiannya akan terasa berbeda dengan ujian di kala masih pacaran. Ujiannya kalau gak kuat-kuat amat menghadapinya mah bakal bikin pernikahan batal. Benarkah? -tanyaku, dulu-. Dan setelah aku melewati fase pranikah itu, dengan segala kejujuran dan kerendahan hati, aku menyatakan bahwa aku mengalami ujian itu.
Persiapan pernikahanku memang bisa dibilang express. Kira-kira di minggu ketiga bulan November, aku baru membicarakan tentang nikah dengan Bapaku. Entah ada angin apa, tiba-tiba Bapa mengijinkanku menikah, padahal sebelumnya terkesan menunda-nunda, mungkin maksudnya menunggu aku mapan secara finansial dulu. Aku langsung menyahut tawaran Bapa dengan menantang balik, 'oke kalau gitu nikahin Neng aja' --- 'Boleh. Kapan?' --- 'Bulan depan, Desember!' Dan Bapa, skakmat!
Singkat cerita minggu depannya aku langsung meminta jadwal kosong Bapa untuk acara lamaran. Lalu tanggal 13 Desember lamaran sekalian menentukan tanggal pernikahan, dan langsung diputuskan tanggal 26 Desember sebagai hari pernikahannya. Kilat ekspres kan? Ada gak sih yang lebih kilat dari aku? Hhehe... Alhamdulillaaah niat baik kami dilancarkan jalannya oleh Alloh. Alhamdulillaah mimpiku untuk menikah maksimal di usia 23 tahun terwujud di usia 22 tahun :)
Di tengah kesibukan Sakola Printing yang memang sedang ramai-ramainya oleh anak sekolah yang mengerjakan tugas UAS & remedial, kami mencuri-curi waktu untuk mengurus persyaratan nikah. Mulai dari hari Senin tanggal 15 Desember, kami mendatangi KUA untuk menanyakan alur mengurus persyaratannya. Informasi yang kami dapat dari KUA adalah: urus surat pengantar nikah dari desa calon pengantin pria --> urus surat pengantar nikah ke KUA kecamatan tempat tinggal calon pengantin pria --> masukkan surat pengantar nikah calon pengantin pria ke desa calon pengantin wanita --> bawa berkas yang sudah siap ke KUA tempat menikah.
Beres bertanya ke KUA, Ibank langsung ke kantor desa. Tapi, Pak Lurah tidak di tempat. Besoknya, Ibank ke kantor desa lagi. Surat sudah beres. Tapii... Biaya administrasinya sebesar Rp 150.000, setelah lempar tanya ke sana-ke mari antarpetugasnya. Ibank memutuskan akan mengambil surat itu besoknya lagi dengan alasan tidak membawa uang sebanyak itu. Hari Rabu, Ibank ke kantor desa lagi dengan bapaknya, dengan harapan akan dikasih murah kalau datang dengan bapak yang lumayan dikenal di desanya. Namun hasilnya? Apa coba tebak? Jadi Rp 100.000, berkurang Rp 50.000 doang.
Mungkin karena kesal pada pelayanan desa yang kebanyakan pungli, Ibank lantas update status di facebook, isinya kurang lebih pernyataan kekecewaannya, membandingkan antara seharusnya namun pada prakteknya tidak sama seperti yang seharusnya, dengan menyebutkan nama desanya. Maklum lah yaa namanya juga baru kelar Juni kemarin jadi mahasiswa, jadi yaa aura-aura kritis mahasiswanya masih nempel. Haha -Sayangnya status itu sudah dihapus jadi gak bisa aku capture-. Banyak sekali yang berkomentar di status Ibank itu, baik yang menyatakan sepakat, tidak sepakat, maupun yang memberi saran.
Parahnya, kakaknya Ibank berkomentar menjelek-jelekkan desa tersebut dengan menyebutkan nama lurahnya pakai awalan 'si'. Tanpa disangka-sangka, muncul deh komentar yang katanya dia itu anaknya Pak Lurah, dia tidak terima bapaknya dijelek-jelekkan, apalagi di media sosial. Perang dunia deh tuh di statusnya Ibank. Zzzz...
Perang tidak berakhir di status. Orang yang katanya anak Pak Lurah mungkin melaporkan hal ini pada Pak Lurah. Sore harinya, kira-kira setelah maghrib, ada dua orang perwakilan desa Ibank yang datang ke rumahku untuk mengambil surat pengantar nikahnya Ibank. Katanya sih lupa dicopy. Waktu itu aku tidak mengerti apa-apa, aku belum tahu bahwa status itu membawa kericuhan sejauh ini. Kubilang saja pada dua orang itu, surat pengantar nikah sudah masuk ke desaku, sedang diproses. Dua orang itu keukeuh ingin mengambil suratnya, mereka bilang mereka mau ke Pak Amil desaku untuk mengambil lagi surat itu. Hmm... Aku yang belum mengerti iya saja lah, sambil keheranan.
Aku baru tahu permasalahan ini setelah keesokan harinya Ibank cerita padaku. Orang tua Ibank juga memarahi Ibank dan kakaknya. Aku juga sempat kecewa pada Ibank. Kubilang "nanti aja update statusnya kalau urusan kita udah kelar. Kalau gini ceritanya takutnya kita nanti malah dipersulit loh." -dan saat itu aku baru mengerti maksud dua orang perwakilan desa kemarin. bukan mau mengcopy, tapi memang mau menarik lagi surat itu-.
Malam harinya, berbarengan dengan kunjungan mamahku ke rumahnya Ibank, ada orang utusan desa datang ke rumahnya Ibank. Orang itu membawa amplop berisi uang Rp 100.000 (uang bayaran administrasi surat pengantar nikah Ibank). Orang itu menyampaikan bahwa Pak Lurah tidak terima dengan status dan komentar Ibank dan kakaknya. Ibank sekeluarga harus minta maaf secara pribadi pada Pak Lurah jika ingin surat pengantar nikah diberikan lagi. Ulalaa... Gimana gak stres aku, segala ada kejadian begini -__-
Akibat kejadian ini, berkas surat nikah kami jadi lama sampai ke KUA. Sampai saat ini pun, kami sudah seminggu lebih menikah, buku nikah kami belum beres. Padahal kan biasanya pas nikah itu ya langsung tanda tangan buku nikah. Muehehe... Pengantin hebring lah ini mah :P
with my MUA, Mbak Muti |
Oh ya, ada lagi yang sempat jadi masalah terkait urusan pendaftaran nikah. Biaya pendaftaran ke KUA di sini sebesar Rp 1.200.000 (terima beres, semua diurus oleh amil). Katanya sih untuk transportasi, konsumsi, ijin RT/RW, begituan deh. Padahal kata Ibank harusnya cuma Rp 600.000 kalau lokasi nikah di luar KUA, itu sudah termasuk transport, konsumsi, dll (sesuai UU perkawinan -aku gak tau UU nomor berapa tahun kapan. hehe :P-), malah kalau nikah di KUA itu bebas biaya alias gratis.
Well, well, menurutku pribadi sih terserah lah berapa pun juga. Mungkin karena masyarakat di sini sudah terbiasa terima beres, jadinya ya angka segitu sudah lumrah, seolah sudah menjadi kesepakatan bersama. Setelah aku tanya kakak sepupu yang menikah di Cikampek-Karawang Oktober lalu pun, biayanya sama, Rp 1.200.000. Bagaimana di tempat kalian, Cems?
Ujian lain datang lagi, ada kesalahpahaman antara mamah, aku, dan orang tua Ibank. Ditambah Bapaku juga, masa Bapa lupa tanggal pernikahanku. Sekitar H-3, Bapa bertanya tanggal berapa acaranya. Dan H-2, Bapaku masih sibuk perjalanan dinas di Jogja, sedangkan hal-hal yang harus diurus itu banyak. Tenda, kursi, makanan belum pesan, susunan acaranya belum fix, OMG! Ini sungguh pernikahan luar biasa. Hahaha...
Alhamdulillaah Yaa Alloh... Kami bisa melewati berbagai ujian pranikah ini. Semoga ini adalah pertanda baik, semoga ini adalah suatu bentuk kasih sayang-Mu pada kami agar kami senantiasa mengingat-Mu kapanpun, dimanapun. Aamiin :)
NB buat para calon pengantin: Kritis lah di saat yang tepat dan di tempat yang tepat ;) :P
MUA & Bride Gown Set: Salon Jilbab Annisa by Nur Meutia
Photo: Ryan Ardiansyah
Photo Editing: Sakola Printing
by. si Famysa, a wifey ^^
Mahal ya 1,2, dulu aku berapa ya, terima beres juga tapi kynyknya ga nyampe sejuta, jaman dulu siih. Kalo nulis di socmed emang sbaiknya jangan frontal nyebut nama dll, takut kejadian ga enak ky gitu. Tapi akhirnya gimana minta maap ke lurah kah?
BalasHapusjaman sekarang jamane mahal mba. hehe
Hapusakhirnya sekeluarrga minta maaf. dan status pun dihapuss. kapok dia ga lagi2 bikin status begitu. haha
Mau nikah kadang muncul aneka nasihat dari orangtua misalnya jangan pergi jauh2. Jika dilogikakan ya untuk mencegah terjadinya sesuatu yang tak diinginkan misalnya kecelakaan lalu lintas dan lain sebagainya.
BalasHapusSalam hangat dari Surabaya
iya betul juga sih pakde :D
HapusWalah.... seru nian cerita pernikahanmu inih.
BalasHapusLaporin saja pak lurahnya.... memang dia yg salah kok. :p
Tapi itu bener2 pelajaran berharga.
ahaha iya tante.. laporin ke ombudsman sekalian ya :D
Hapusiya tante.. sangat berharga nih :)
Allhamdulilla bisa melewati semua ya
BalasHapusiya tantee, alhamdulillaah :D
Hapushari ini lamaran besoknya nikahan juga ada mbak :D
BalasHapuswoyaa? sesuatu yaah... ekspres banget :D
Hapuscantik dan ganteng foto2nya, sekali lagi selamat menempuh hidup baru ya Syifa
BalasHapusiyaa mba.. makasiiih :* :*
Hapusaduuuh, busyet :O lagian ada2 aja nih Ibank, gtw apa Pak Lurah telinganya dimana2 :P yah semua ada hikmahnya juga
BalasHapusiya noh ada2 aja dia mah -_-
Hapushaha iya tii.. lumayan karena kejadian ini bikin terkenal juga. wkwk
Syifaaaaaaaa aih surprise .... ikut bahagia
BalasHapusSelamat ya ... semoga samara, berkah dunia akhirat
Dan buku nikahnya cepat selesai ya :))
aamiiin yaa Alloh...
Hapusmakasih tantee niar :* :D
Barakallah lakuma smoga samara :)
BalasHapusaamiin yaa Alloh..
Hapusmakasih bu doseen :*
Akhirnya ada juga yang mengikuti jejakku walaupun masih terlambat 2 tahun.....
BalasHapusJika pranikah sudah ada ujian, tunggu aja ujian selanjutnya setelah menikah dan harus kuat, karena ujian itulah orang akan menjadi dewasa dan cerdas serta kreatif. Menikah bukanlah sekedar kamu dan dia melainkan akan semakin banyak yang terlibat dalam kehidupan kalian dan itu harus diterima dengan ihklas.
Sekali lagi selamat, semoga Alloh selalu melimpahkan rahmatNya
Dan terakhir......saya tantang kalian untuk mengejar saya.
siap, siap om!
Hapusmakasiih om.. insya Alloh akan kulaksanakan tantangannya :)
Apapun ujiannya yang penting dapat terlewati, hehehe.
BalasHapusiya mba, alhamdulillah yah terlewati :D
HapusSyifa cantik bingit, eeh itu nnulis status berakibat seperti itu yaa ngerasa serem juga yaa, sampai di tahan berkasnya, wiihhh
BalasHapusaiih jadi GR nih :P makasih mba niar :*
Hapusiya mbaa, hati2 kalo update status nanti ketauan pak lurah. hehe
Eh..........neng geulis Syifa teh nembe nikah. Wilujeng ah ngiring bingah, mugia janten keluargi "samara" salamina, Aamiin YRA
BalasHapusmuhun tantee :D
Hapusaamiin yaa Alloh.. hatur nuhun tante:*
lama ngg mampir di siniii...so happy to hear the good news..selamaat yaaaa...geulis pisaaan si neng :)...insya allah samara..ujiannya ada-ada aja yaaa..tapi saya setuju dengan ibank untuk tetap kritis terutama untuk pungli dan biaya administrasi yang berlebihan seperti itu...Tapi alhamdulillah all ini all lancar yaaa... :)
BalasHapusaamiin.. hatur nuhun mami obii :*
Hapusiya nih mba ada2 aja. tapi alhamdulillah lancar jaya.. hehe :D
Wah hebat berani menantang bapaknya. Skakmat banget tuh ditantang anak sendiri.
BalasHapushehehe iya nih bapaku skakmat :D
Hapus