Senin, 25 November 2013

Sehari Tanpa Gadget, Just Being My Self!

Sepakat dengan sohibul GA, Mbak Iyha. Menurutku gadget ituu yaa seperti yang Mbak Iyha sebutkan, barang elektronik praktis yang dipakai sehari-hari kayak laptop, hp, tablet, kapsul, puyer, pil *loh kok mbleber kemana-mana ya. Muehehe...
Gadget yang aku punya (alhamdulillah) baru ada laptop dan hp, lainnya insya Alloh nanti menyusul sesuai kebutuhan. Dua doiku ini kerjaannya nempeeel terus sama aku, dimana pun aku berada. Apalagi hp, kadang ke kamar mandi pun ikut *oops. Kalau laptop, kadang doi aku tinggal kalau aku bepergian jauh, kan kasihan kalau doi harus kena benturan-benturan selama di perjalanan. Rasanya berpisah dengan laptopku ituu... haduuh ingin cepat-cepat pulang saja lah. Gak ada laptop sama dengan aku libur menulis dan libur update my online shop. Huhu...
Kadang aku mikir *bisa mikir tho? :P, kenapa aku sekarang kecanduan gadget banget ya.. Padahal hidupku 8 tahun silam tidak mengenal gadget tuh. Dan aku baik-baik saja, bahkan sangat amat baik. Mamah dan bapaku yang LDR-an juga baik-baik saja tanpa ada komunikasi lewat hp. Tapi sekarang, jaman sudah sangat berubah. Gak ada hp berasa mati kutu! Hp ini nih gadget yang pertama kalinya bikin aku candu. Kupikir lebih baik ketinggalan dompet daripada ketinggalan hp. Parah kan... -_- Apalagi semenjak aku merintis usaha online shop, gak bisa internetan itu rasanyaa seperti separuh jiwaku pergi. Kalau laptop atau hpku bermasalah, beuuuh kalang kabutnya gak ketulungan.
pict from here
“Saya tidak suka mengajar menggunakan komputer. Saya lebih suka pakai OHP. Kenapa? Karena saya ingin mahasiswa menulis dan memperhatikan dosen ketika mengajar. Power point, komputer, dan internet hanya membuat mahasiswa malas belajar. Di kelas kerjaannya mengobrol, pikirnya gampang tinggal minta power pointnya saja. Diberi tugas, saya suruh cari buku di perpustakaan malah cari sumber dari internet, enak sih yaa tinggal copy paste,ujar Pak Rengga, dosen Perbandingan Administrasi Negara.
“Buat apa ikut-ikutan pakai hp mahal. Hp menurut saya yang penting bisa sms dan telpon. Sayang kalau hp mahal tapi gak bisa ngehasilin apa-apa. Nih saya pakai hp jadul, tapi pemasukan tetap ngalir minimal Rp 1,3 M perbulan,” ujar Pak Fathur, dosen Kewirausahaan.
Yaa kira-kira begitu kata-katanya. Makjleb!

Sejak mendengar pemaparan kedua dosen di atas mengenai gadget, aku jadi ikut terprovokasi. Untuk apa punya gadget kalau sekedar untuk keren-kerenan doang? Untuk apa punya gadget kalau tidak bisa menghasilkan apa-apa (uang maupun karya)? Untuk apa repot-repot mengikuti perkembangan gadget terbaru? Semuanya hanya bikin pusing tujuh keliling. Lebih baik punya sesuai kebutuhan saja, bukan sesuai keinginan. Lebih baik modal yang ada untuk usaha dulu, baru nanti bisa membeli gadget dari hasil usahanya. Bukan sebaliknya.

Di rumah bapaku susaah sekali sinyal. Sedangkan aku menggunakan operator seluler yang terkenal tidak ada sinyal kalau di pelosok. Walhasil aku tidak bisa internetan di hp maupun laptop (aku menggunakan modem dari hp). Boro-boro internetan, sms saja tidak bisa.
Untuk mengantisipasi hal itu, aku selalu membawa buku kemana pun aku pergi. Ketika gadgetku mati kutu, buku lah yang menjadi teman setiaku. Baca buku seharian di kamar, atau di bawah semilirnya angin di pinggir sawah, tanpa ada gangguan gadget, rasanya seperti menemukan ketenangan tersendiri.
Kalau ada gadget, kerjaanku pastiiii ngoprek gadget mulu. Tapi jika tanpa gadget, aku bisa menghabiskan waktu dengan hal lain yang kusuka dan hampir kulupakan. Aku bisa mengobrol dengan keluarga, bermain dengan adik kecil, atau belajar bareng adik-adikku. Mengajari adik yang SMP mengisi soal yang rumit, curhat-curhatan seputar sekolahnya dan kuliahku, berbincang tentang mimpi-mimpi kami, berbincang mengenai hobi yang kami sukai. Mengajari adik yang masih TK mengerjakan PR, menggambar, mewarnai kartun, mengajarinya membaca. Ahh rasanya sungguh lebih-lebih-lebih bahagia daripada sekedar bergadget ria.
Ternyata, tanpa gadget pun aku tetap bisa bahagia ^^


By. Si Famysa, gadget addicted

12 komentar:

  1. bener banget mba, gadget bikin kita punya dunia sendiri dan jadi sulit berinteraksi sama oranglain .
    tapi gak bisa sehari tanpa gadget huhu

    BalasHapus
  2. baru sekali aku merasakan sehari tanpa gadget

    BalasHapus
  3. gadgetnya sejatinya hanya berfungsi sebagai penunjang, bukan hal yang primer..

    mungkin kuncinya adalah kita harus tau kapan memakai gadget dan kapan kita tidak harus memakainya... jadi life balance nya bisa terjaga

    BalasHapus
  4. ga ada gadged = kosong.
    heheh,,

    BalasHapus
  5. @mom Lid: aku sih lumayan sering tante kalo lagi di kampung. Hihih

    @bang Todi: yup setuju banget bang :)

    @mba Hana: nyaris begitu aku juga mba. Heuu

    BalasHapus
  6. Halo mbak Syifa,
    Juri berkunjung ^_^

    BalasHapus
  7. halo juga mba :(
    monggo monggo.. catet aku sbeagai pemenang ya mba. ngeheheh :D

    BalasHapus
  8. betullll seratus,, buat apa punya gadget canggih2 kalo gak bisa menghasilkan apa2 dari gadget kita,, :)

    trims yaa udah ikutan,, juri udah datang mencatat ya.. :)

    BalasHapus
  9. waah kalo aku gabisa sehari tanpa gadget. gak diangkat aja telponnya sekali, si mamake uda marah2 :|

    BalasHapus
  10. hihihi sama sih mba.. cuma kan ini seandainya :D

    BalasHapus

hatur nuhun kana kasumpingannana :) mangga bilih aya kalepatan atanapi aya nu bade dicarioskeun sok di dieu tempatna..

Mijn Vriend