Kamis, 26 September 2013

Mencintai Dengan Doa

Ini kisah orang terdekatku. Ini kisah sebuah keluarga yang menginspirasiku. Ini kisah lama. Kisah ini masih berlangsung. Dan akan terus berlangsung sampai akhir hayat mereka. Bahkan sampai akhir hayat manusia di bumi.

Sekitar 17 tahun yang lalu, ada sepasang muda-mudi yang mengikat janji suci mereka dalam bahtera pernikahan. Aku ada di sana. Aku turut menyaksikan senyum yang teramat manis dari mempelai wanita. Langkahnya anggun nan menawan. Sesekali ia tersipu malu dibalik kebaya dan kerudung putihnya. Sebentar lagi ia akan menjadi pendamping hidup kekasih hatinya.
Ada kisah lain yang mengawali perjumpaan mereka. Waktu masih duduk di bangku SMA, sang pengantin wanita pernah pacaran dengan teman sebayanya. Namun pacarnya ternyata berhati dua, menduakan sang pengantin wanita dengan temannya sendiri. Sang pengantin wanita tak pernah ambil pusing tentang pacarnya yang berhati dua. Ada pacar, ada juga fans. Sang pengantin wanita juga sempat memiliki fans berat yang selaluuu memberi perhatian padanya. Namun fans hanya sekedar fans, tidak lebih. Karena jelas sang artis memiliki kisahnya sendiri. Selain ada pacar dan fans di sekitar sang pengantin wanita, dia juga sedang dekat dengan seorang pria. Singkat cerita, di akhir kisah, menikahlah sang pengantin wanita dengan seorang pria itu. 

“waktu kami menikah, kami mulai semuanya dari minus, bukan dari nol,” kata sang pengantin wanita.
Pernikahan mereka bisa dibilang nekat. Hanya ridho dan pertolongan Alloh yang bisa membawa mereka sampai pada titik ini, mungkin. Sang pengantin wanita bekerja sebagai buruh pabrik. Sang pengantin pria, dia baru saja lulus sekolah pelayaran. Menjadi lulusan sekolah pelayaran bagi sang pengantin pria bukan sebuah hal yang bisa membuatnya tertawa lebar. Namun tetap saja itu merupakan sebuah prestasi baginya. Prestasi karena dia akhirnya bisa lulus sekolah dengan uang pinjaman dari sana-sini. Ketika menikah, belum bekerja, ada hutang di depan. Apa yang akan terjadi??
Mereka memulai hari mereka sebagai suami-istri seperti pasangan pengantin kebanyakan. Menumpang di rumah orang tua sang pengantin wanita. Meski belum mapan, mereka tetap berencana untuk memiliki anak tanpa menundanya. “anak dulu, atau kerja dulu ya, Pah? Hmm... apa aja dulu yang datang duluan deh ya.. segimana Alloh ngasihnya apa dulu,” kata sang pengantin wanita pada suaminya.
Sang pengantin pria tak henti-hentinya mencari pekerjaan dengan penghasilan yang layak untuk kebutuhan rumah tangga dan mencicil hutang. Penghasilan dari pelayaran dalam negeri waktu itu dirasa tidak cukup untuk memenuhi semuanya. “Mah, Papah berlayar ke Malaysia aja deh ya...” canda sang pengantin pria. “Kalau memang itu jalan yang diberikan Alloh, ya udah, Pah, gak apa-apa Papah pergi jauh juga.”
Paspor, visa, perijinan, dan segala tetek-bengek keperluan berlayar ke luar negeri sudah dilengkapi. Baru saja mereka mencicipi manisnya madu, kini mereka harus terpisah oleh jarak yang terbentang jauh. Sang pengantin wanita mengantar kepergian suaminya demi mencari nafkah. Di Bandara Soekarno-Hatta, ini lah awal segalanya.
--o--
Tergopoh-gopoh sang pengantin wanita menuju rumah tetangganya yang memiliki telepon rumah. Katanya ada kabar dari negeri seberang untuknya, dari suaminya. “Mah, Papah harus pulang dulu. Ada berkas yang belum Papah lengkapi. Papah harus bawa surat keterangan sehat dari tempat asal. Besok Papah pulang, diberikan ijin dua minggu untuk mengurus ini. Diongkosin pulang-pergi juga sama perusahaan. Sudah ya, Mah... wasalamu’alaikum.”
Alloh memberi kemudahan bagi hamba-Nya yang senantiasa berdoa pada-Nya. Mungkin ini jawaban dari kerinduan sang pengantin wanita. Suaminya akan pulang. Alhamdulillah tanpa biaya sepeser pun. Allah memudahkan segalanya.
Dua minggu berlalu. Sang pengantin pria harus kembali lagi ke Negeri Jiran.
Dua bulan berlalu. Sang pengantin wanita memberi kabar gembira pada suaminya. Sambil terisak penuh doa.. “Pah, Mamah hamil...”
Aku takjub mendengar setiap detail kisah ini. Setiap anak di bumi ini memang membawa rizkinya masing-masing. Pada akhirnya kerjaan dapat, anak pun dapat. Mereka semakin hari semakin mapan. Tadinya sang pengantin wanita ingin menamai anak pertamanya “Rizki Ananda”, tapi tidak jadi karena sudah terlanjur diberi nama lain, nama yang sama indahnya dengan Rizki Ananda.

“untung kamu nikahnya sama suamimu yang sekarang ini ya.. bukan sama fansmu dulu, yang dulu tajir tiada tara, sekarang hidupnya gak jelas” ~testimoni seorang kawan sang pengantin wanita terhadap fansnya dulu~
Hutang terbayar, tiga bidadari penyejuk hati, rumah mewah, mobil, motor, gadget, usaha dan pekerjaan, pergi haji, pendidikan anak, piknik keluarga, rohani islam yang semakin kuat, sekarang mereka memiliki semua itu. Dari dua, menjadi lima. Dari dua, bisa merangkul satu, dua, tiga, empat, lima orang, dan banyak lagiii... Karena sejatinya hidup memang untuk berbagi kebahagiaan. Ini lah yang sedang mereka lakukan sepanjang hidup mereka.
Cinta memang bisa mengubah segalanya. Air menjadi api. Pahit terasa manis. Lelah sirna menjadi canda tawa. Batu pun bahkan melunak. Mungkin benar kata ilmu pasti, matematika. Minus (-) dapat menjadi plus (+) ketika minus dikalikan dengan minus ((-)x(-)). Lalu ditambah oleh rumusan cinta, sehingga satu plus (+) bisa berubah menjadi banyaaak sekali plus (+), plus (+), plus (+). 

“seayem-ayemnya rumah tangga terayem yang pernah aku lihat, ternyata dibalik sana tidak seayem luarnya” ~Famysa~
Sang pengantin pria tampaknya mulai jenuh. Pulang bukan membuatnya sumringah. Dia malah terus merenung dan pergi ke masjid lebih sering dari biasanya, hanya untuk menangis. Setiap rumah tangga pasti pernah atau akan melalui fase ini. Ketika jenuh melanda... “Mah, Papah ingin menikah lagi dengan gadis yang masih cantik,” jujur sang pengantin pria pada istrinya. “Papah gak usah nikah lagi. Mamah yang akan menjadi gadis itu.”
Mulai dari belly dance, senam, aerobik, diet makanan, suntik vitamin C, semua dilakukan sang pengantin wanita. Semata-mata demi suaminya yang sedang dilanda kejenuhan. Cukup lama meredakan kejenuhan itu. Hampir satu tahun. Hingga iman dan takwa mengembalikan segalanya. Bahtera yang hampir terbawa gelombang besar bisa menemukan kembali ketenangan laut lepas. Bersama, berlima, mereka melanjutkan perjalanan hidup....

“Rumah tangga kami pernah nyaris di ujung tanduk. Waktu itu aku sudah tidak bisa apa-apa. Aku hanya berdoa, berdoa, dan berdoa. Aku hanya mengajak suamiku untuk istighfar memohon ampun dan berdoa. Jika memang takdir Papah menikah lagi dengan gadis, bisa saja Mamah meninggal lebih dulu, lalu Papah bisa menikah lagi dengan gadis, tidak usah pakai poligami atau bercerai segala,” tutur sang pengantin wanita padaku...

Ini kisah nyata. Mereka adalah orang terdekatku. Mereka adalah keluarga yang sangat aku sayangi. Barakallah untuk keluarga yang senantiasa menginspirasiku ini... :’)
Kisah pernikahan ini diikutsertakan pada Giveaway 10th Wedding Anniversary by Heart of Mine 

barakallah pernikahannya, Mbak Uniek & suami... semoga tetap menjadi keluarga yang samara... semoga langgeng sampai kakek-nenek, biarlah maut menjadi satu-satunya hal yang bisa memisahkan... semoga dari tangan-tangan kalian tumbuh generasi pembela agama dan negara... puokoke sing apik-apik semoga selalu menyertai keluarga Mbak... aamiiin ya Robbal 'aalamiin... :))
doakan juga semoga diriku ini cepat mendapat jodoh yang terbaik ya, Mbak... hihihii :D

By. Si Famysa, :’)

19 komentar:

  1. Masya Allah ... cerita ttg orgtua Syifa ? Indahnya ...
    Mudah2an kelak Syifa pun seperti mereka ya

    BalasHapus
  2. bukan tantee... tapi masih keluarga juga, aku deket banget sama keluarga ini :)
    aamiiin yaa Robb...

    BalasHapus
  3. indah ya syifa kisahnya, dan semoga selalu indah kisah dalam keluarga ini, semoga aku juga bisa seperti pengantin wanita itu selalu berdoa dan sabar dalam penghadapi masalah yang datang amin

    BalasHapus
  4. inspirasi!
    thanks for sharing,syifa ;)

    BalasHapus
  5. Tiap orang berkeluarga pasti pernah terjadi masalah ya, ntah itu besar atau kecil. Alhamdulllah dapat dilalui dengan baik ya Syifa. Lah kamu kapan? :p

    BalasHapus
  6. bener gue mrinding membacanya, Tapi kagak bisa dipungkiri mank gitu kok, dan gue seneng banget, dengan testimoni nikah itu memperlancar rezeki. tapi ketika jauh dengan istri itu yg terkadang membuat gue takut untuk cepet2 nikah. gue harus cari kerjaan yang bisa membawa istri, untuk kerjaan gue yg sekarang sepertinya belum bisa lakuin itu, dan gue selalu berdoa untuk itu, amin

    BalasHapus
  7. @Irfan: semoga saja... :D aamiiin....

    @Nophi: iya mba, semoga ya.. :) aamiiin....

    @CLk7: kembali kasih :)

    @mba Rahmi: kapan2 aja deh mba. kalo udah waktunya insya Alloh segera tebar undangan. hihihih :D

    @Rinem: aamiiin.... selamat mempersiapkannya nem! semangat! :)

    BalasHapus
  8. Siapin apa an ya? Mikir keras haha

    BalasHapus
  9. Harus dijadikan inspirasi, bagaimana melalui gelombang besar dan bagaimana melalui tahun ke tahun pernikahan yang diawali dari nol. Saya do'akan yang bercerita segera bertemu belahan hatinya dan segera meminang kalau masih single :)

    Salam dari Bali.

    BalasHapus
  10. @websitemini: aamiin... makasih doanya :)

    @Rinem: mikir lebih keras lagi ayoo :D

    @Pendar Bintang: waaa *cling2 :O aamiiiinn buat doanya :D
    salam balik dari Semarang mba :)

    BalasHapus
  11. Ngeri bacanya, jadi ga tertarik nikah muda :(

    BalasHapus
  12. that's so touched!
    would you mind to follow each other? :)

    Kisses from Hong Kong :*

    www.basic-classic.blogspot.com
    https://www.facebook.com/basicclassic
    www.instagram.com/Andianti_

    BalasHapus
  13. Http://nawayhac.blogspot.com

    BalasHapus
  14. @Ajeng: ya, i wanna be too :* hugs from Indonesia sista :))

    @tante Niar: indah banget tantee :')

    BalasHapus
  15. terima kasih ya Syifa utk partisipasinya :) Juga terima kasih untuk doanya. Maaf belum komenin tulisannya ya, ini baru ngrekap pesera :D Good luck

    BalasHapus
  16. sama2 tantee... aku yg menangnya yaa. hihihi

    BalasHapus

hatur nuhun kana kasumpingannana :) mangga bilih aya kalepatan atanapi aya nu bade dicarioskeun sok di dieu tempatna..

Mijn Vriend