Kamis, 08 Desember 2011

Sebab Ku Kasihi Dia


Oleh: Syifa Azmy Khoirunnisa

Awal bulan November setahun silam di rumah tanteku...
“Sitiiiii......” teriak Enek sangat kencang dan mengkhawatirkan dari kamarnya.
Ternyata Enek terjatuh di kamar mandi ketika hendak buang air kecil.
Tak ada yang bisa mengembalikan luka menjadi suka. Tak ada yang bisa mengembalikan sesal menjadi putusan. Semua telah terjadi. Kini tubuh renta yang acapkali mencoba untuk pergi hanya bisa terbaring kaku di atas kasur merahku. Usahanya untuk terbang mengejar rajawali ternyata sia-sia, karena kini dia tertahan dalam sebuah penjara diri. Bukan... penjara diri bukanlah penjara tempatnya orang-orang kriminal. Penjara diri hanyalah sekat tipis antara dunia nyata dan tidak nyata.
Sempat kusesali mengapa harus kamarku yang dijadikan kamar Enek. Meskipun hanya sementara, tapi tetap saja itu membuat keadaan kamarku berubah. Ahh... tak ada guna. Biarkan saja hatiku yang mencoba berkompromi dengan akalku.
Enek kini entah hidup di dunia mana. Antara dunia nyata dan tidak nyata, adakah dunia itu?
Tawanya kadang mengajakku untuk ikut tersenyum. Lucu memang. Seperti bayi yang tiba-tiba tersenyum ketika bermimpi indah. Kupikir lebih baik dia tenggelam dalam tawa. Setidaknya sedikit tawa itu dapat memperlambat sel-sel sarafnya terputus dan membantu asam lambungnya membaik.
Namun tawanya tak pernah lama. Selepas tawa, seperti datang gemuruh ombak menyapu setiap kecantikan bibir yang merekah indah. Enek kembali bergulat dengan bayangan-bayangan yang ada dalam dunianya. “pergi kamu, Setan! Pergi jauh-jauh dariku. Jangan pernah kau datangi aku lagi. Aku muak padamu. Anjing!”
  Aku malu. Aku benci. Aku prihatin. Malu karena dia adalah nenekku. Benci karena dia menjadi orang yang setengah waras-setengah gila, walau pada kenyataannya prosentase kegilaannya jauh lebih tinggi ketimbang kewarasannya. Prihatin karena dia tak kunjung dijemput Aki untuk hidup kekal bersamanya. Ya.. mati. Aki telah mati. Dan kupikir hanya mati lah yang dapat membebaskan Enek dari belenggu penjara diri.
Rasa benciku mulai menjalar pada ibu dan adikku. Mereka pergi. Apalagi ibuku. Dia sepertinya memang sengaja pergi dan tak pulang hingga malam. Tinggallah aku berdua dengan Enek di rumah. Satu hal yang sangat tidak aku inginkan terjadi.
Dengan sangat amat terpaksa, aku harus memberi Enek makan. Itupun demi melaksanakan perintah ibuku. Aku bingung dengan pesan ibu, ‘tolong beri Enek makan. Makanannya ada di meja.’ Meja manakah yang dimaksud? Asumsiku hanya terpaku pada meja makan tua peninggalan ayahku itu. Kubuka tutup saji, namun tak kulihat apa-apa kecuali goreng pisang yang sudah layu. Inikah makanan Enek? Hanya goreng pisang selama berhari-hari.
Kutengok kamarku yang dipinjam oleh Enek. Tak kudengar lagi Enek mengoceh dengan bayangan-bayangan dalam dunianya. Enek tetap terbaring. Mungkin dia tidur. Lantas aku tak tahu harus kuapakan pisang goreng ini. Sempat aku bergetar dibuatnya. Aku bergetar takut melihat Enek seperti mayat hidup. Kutanya ibu, katanya sediakan saja di sampingnya nanti juga dimakan. Baik, akhirnya dengan tutup hidung aku mendekati Enek. Semakin dekat, uh! Baunya semakin tidak karuan. Antara bau makanan yang sudah membusuk dikerumuti semut, bau Enek yang semakin menua, bau pampers adult tempat Enek mengeluarkan segala isi perutnya. Aku muak, mual, sedih.
Salahkah indera penciumanku jika aku mencium bau tak sedap? Lalu salahkah refleks mulutku yang mengeluh ‘uh bau...’ ketika indera penciumanku mengirim data pada otak dan memutuskan bahwa itu adalah bau. Oh sepertinya selama Enek masih tetap tinggal di sini aku tak akan ada henti-hentinya mengeluh dan mengeluh.
Enek terbangung ketika aku tepat berada di sampingnya untuk menyimpan makanannya. Dia menyadari keberadaanku makanya dia terbangun. Yaa Tuhan, apa yang harus kulakukan? Aku tak mau menyuapinya. Aku hanya ingin membiarkan dia makan sendiri tanpa harus kusuapi.
“Dah.. Odah... Odah bukan?” tanya Enek. Mungkin dia melihat sosok yang mirip dengan Odah –ibuku- namun dia ragu apa benar sosok itu adalah ibuku –anaknya-.
“bukan, Nek. Ibunya kan sedang kerja. Ini Nyai Uni.” Jawabku sekenanya.
“oh iya ya.. Odahnya kan kerja.”
Dia bahkan tidak memperhatikanku. Dia tidak ingat padaku, cucunya yang dulu menjadi cucu emasnya. Dulu Enek bangga kepadaku karena aku selalu ranking satu di kelas. Enek bangga karena aku mewarisi kecerdasannya. Enek merasa tidak sia-sia menyekolahkan ibuku hingga perguruan tinggi, karena aku –cucunya- juga menjadi anak yang cerdas. Aku pun kerap dibawa Enek ke kondangan-kondangan. Dia ingin menunjukkan pada semua teman-temannya bahwa inilah cucu dari anaknya yang berhasil menjadi sarjana. Memang hanya ibuku yang kuliah. Pamanku –kakaknya-, tante dan omku –adiknya- tidak ada yang kuliah. Jadilah aku menjadi cucu emas Enek. Namun kini... satu-satunya yang dia ingat di rumah ini hanyalah ibuku.
Tangisku pun membuncah. Aku tak bisa menahan bulir-bulir itu berjatuhan. Lelah aku memaksa untuk bertarung, pada akhirnya aku memang harus menyerah. Kubiarkan air mataku mengalir perlahan. Melewati pelupuk mataku, pipiku, hidungku, bibirku, dan jatuh..
Aku keluar walau tetap mengintip untuk mengawasi. Kubiarkan Enek menggapai makanannya sendiri. Dengan tangan kirinya dia mengambil satu buah goreng pisang yang tadi kutaruh di sampingnya. Enek terlihat sangat riang ketika melahap segigit demi segigit goreng pisang. Entah apa lagi yang tergambar dalam benaknya sekarang.
Aku masih mengingat hari itu. Hari pertama Enek dipindahkan ke rumahku karena om dan tanteku harus bekerja di luar negeri.
“Sitiiiii........” panggil Enek.
“Sitinya gak ada, Mak. Kan lagi di luar negeri sama suaminya.” Jawab ibuku.
“ooh emang ini Emak dimana?”
“di rumah Odah, di Bandung.”
“Emak kira Emak masih ada di Karawang sama Siti.”
Selesai bertanya, Enek kembali sibuk dengan dunianya. Dia mengobrol entah dengan siapa, entah membicarakan apa, kadang terbahak-bahak, kadang mengumpat, kadang seperti sedang dikejar-kejar ketakutan. Enek sepertinya bahagia dengan dunianya sendiri. Mungkin di sana dia bisa berjalan, bahkan berlari. Mungkin juga di sana dia mempunyai banyak teman yang kini telah mendahului Enek menghadap Yang Maha Kuasa. Tak jarang pikiran ingin masuk ke dunia Enek melintas di depan mataku. Tapi itu tidak mungkin karena dunia kami berbeda. Dunia kami terhalang oleh ruang. Aku nyata, Enek hanya berkhayal.
Ibu pernah memintaku untuk mengelap badan Enek dan menggantikan popoknya. Jelas saja aku menolak. Mengurus bayi mungil yang lucu pun aku tidak mau, apalagi mengurus nenek jompo lumpuh seperti itu.
Kudengar dari luar kamar Enek ketika ibu sedang menyuapinya makan bakso..
Oh ya, awalnya aku heran kenapa ibu memberi Enek makan bakso, bukannya nasi. Ternyata kata ibu, sekarang Enek sudah tidak mau lagi makan nasi. Aku hanya mengangguk-angguk kecil.
“Odah.. si Engkus sih mana? Kok jarang kelihatan.”
Ibu menjawab lirih, “dia lagi sibuk-sibuknya kerja, Mak. Jadinya gak sempat pulang untuk ketemu Emak.”
Enek. Andai dia tahu. Ibu dan Engkus –ayahku- sudah lama berpisah. Ayahku kini telah bahagia bersama yang lain. Aku benci Enek jika sampai Enek melukai perasaan ibuku. Terlebih lagi ketika Enek memanggil adikku dengan nama Mahmud. Mahmud bukan nama adikku, Nek! Dan dia sekarang sudah kelas 1 SMP, bukan bayi lagi. Aku hanya bisa berharap agar Enek bisa segera menghentikan kegilaannya. Dia terlalu terbuai oleh dunianya. Oh dadaku terlalu sesak.
Dan untuk yang kesekian kalinya, lagi-lagi ibu membiarkanku berduaan dengan Enek di rumah. Ibu sok romantis ingin mendekatkan aku dengan Enek. Aku tak suka.
Aku hendak mengambil baju yang ada di lemariku di kamar Enek. Bersamaan dengan suara decit pintu lemari, sayup-sayup kudengar ada suara yang memanggilku. ‘Nyi Uni’. Aku berbalik. Ternyata Enek yang memanggilku. Enek mengingatku. Enek tidak lagi memanggilku Odah.
Mataku berkaca-kaca, tapi aku tidak boleh menangis. Perasaan aneh bercampur takjub dalam hatiku meluap-luap tidak terbendung. Enek sedang mengajakku bicara. Aku harus bisa mengalahkan perlawanan air mataku yang ingin terbebas dari sangkarnya. Aku harus tetap berbicara dengan Enek.
Hanya lima menit aku berbicara dengan Enek sebagai Nyi Uni. Biasanya aku harus berdusta, berpura-pura bahwa aku adalah Odah. Dan aku terlalu muak. Kini setelah tak lebih dari lima menit Enek mengingatku, Enek kembali larut dalam dunianya. Ahh...
Suatu malam ketika aku sedang duduk berdua dengan ibuku.. Hening yang tercipta dibuyarkan oleh umpatan Enek yang semakin keras. “Goblok, Sialan, Bangsaaat!! Pergii... pergiii!!”
“Bu, tidakkah Enek capek mengumpat, menyumpah-serapah setiap hari? Aku saja sampai capek mendengarnya. Bukannya kata dokter juga penyakit Enek menjadi semakin parah karena kesempitan hatinya. Kerjaannya tiap hari saja begitu. Gimana mau sembuh. Sudah lumpuh, maag, terus nanti penyakit apa lagi yang akan muncul coba, Bu.”
Ibuku hanya tersenyum tanpa menjawab dengan satu kata pun.
Tanpa sadar senyuman ibu telah membuatku takut. Yaa Tuhaaan... tidak! Jangan biarkan pikiran buruk yang sesaat melintas di benak ini terjadi. 

by. si Famysa, banyak PR

10 komentar:

  1. Teh, neneknya kenapaaaa? Habis jatuh tulangnya ada yang patah atau gimana? Nenekku juga pernah begitu..

    BalasHapus
  2. ini cerpen kan ya? bagus ya, :D

    BalasHapus
  3. nice story.. 4 jmpol bwt km :)

    BalasHapus
  4. siiip...!
    walaupun agak bingung pada awalny...
    *diriku aja yg emang bingungan...wkwkwawa ;p

    BalasHapus
  5. @Volverhank: iya kak. makasiih :)

    @Cyn: makasiih say :D

    @Wa": ahihii aku jadi ikut bingung BD

    BalasHapus
  6. tata bahasa dan diksinya sudah berkembang, alurnya juga sudah tertata bagus. cuma penalaran cerita yang harus dipertegas lagi,

    ada beberapa paragrap yg harus menekankan isi cerita dan da pula yang mengalir begitu saja mengikuti alurnya... di cerpenmu, semua paragrapnya cenderung datar, jadi pembaca dimanjakan dengan renyahnya cerita, tetapi inti dari isi cerpennya jadi tidak membekas.

    ibarat ingin mengukir meubel, pola dan alurnya harus didesain semekian rupa agar menjadikan meubel itu bernilai seni tinggi, tetapi bila saat dipahatnya kurang "tegas", ukiran itu tidak akan berarti karena tidak jelas apa yang tergambar di sana

    BalasHapus
  7. ini cerpennya emang abis kan ya?
    atau ada sambungan?

    BalasHapus
  8. @kak Adi: oke kak, syukron :) akan kucoba menulis yang lebih baik lagi.

    @kak Clara: abis kak. hehe #sambungin sendiri aja :D

    BalasHapus
  9. @Dokter Sarap: iya gitu.. abis jatuh tulangnya ada yang patah. udah dibenerin ke ahli tulang eh si Eneknya gag mau diem, jadi deh rusak lagi, lumpuh deh. #oops

    @kak Adi: semangaat!! xD

    BalasHapus

hatur nuhun kana kasumpingannana :) mangga bilih aya kalepatan atanapi aya nu bade dicarioskeun sok di dieu tempatna..

Mijn Vriend